• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAHAN PENYAKIT BERCAK DAUN RAKITAN IPB

3.3 Hasil dan Pembahasan

3.3.1 Keragaan Karakter Kuantitatif Kacang Tanah

Analisis varian (anova) adalah suatu metode untuk menguraikan keragaman total data menjadi komponen-komponen yang mengukur berbagai sumber keragaman. Analisis data gabungan beberapa lingkungan atau analisis data percobaan lingkungan ganda (multi-environmental trials, MET) merupakan suatu prosedur analisis yang menggabungkan gugus data dari beberapa lingkungan percobaan, sehingga cakupan analisis menjadi lebih luas dan dugaan ragam yang diperoleh semakin presisi melalui penambahan faktor peubah percobaan yang berasal dari lingkungan (De Lacy et al. 1996).

Tabel 3.3 Hasil analisis ragam gabungan pengaruh genotipe, lingkungan dan interaksi genotipe dan lingkungan terhadap karakter kuantitatif kacang tanah

No Karakter kuantitatif

Kuadrat tengah Koefisien

keragaman (%) Genotipe (G) Lingkungan (L) Interaksi G x L 1 Tinggi tanaman (cm) 206.1207** 12360.1859** 62.8909 13.67 2 Jumlah cabang 0.3474 2.5083** 0.2650 12.44 3

Persentase panjang batang

utama berdaun hijau 22.4888 4788.1743** 42.4809** 28.76

4 Bobot brangkasan (gram) 555.8975 23171.5791** 653.6458** 25.66

5

Jumlah polong total per

tanaman 40.0397** 1190.2337** 18.5116 21.15

6 Jumlah polong isi per tanaman 42.0669** 990.7983** 13.8045 23.40

7 Bobot polong total per tanaman 15.2544 1879.9498** 17.5038 23.76

8 Bobot polong isi per tanaman 16.4667 1076.7920** 17.5673 25.80

9 Bobot biji per tanaman 12.2947 601.4240** 11.5874 30.07

10 Bobot seratus biji (gram) 108.4136** 1335.8657** 34.2935 12.45

11 Indeks masak biji kulit 0.3823 4.3411** 0.1614 22.66

12 Bobot polong kering per m2 3988.9140 394513.2930** 3588.1950 30.00

13 Bobot biji kering per m2 5521.6125** 210742.8013** 4495.2669** 31.93

Keterangan : ** berpengaruh nyata pada α 0.01

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terdapat berpengaruh sangat nyata diantara genotipe, lingkungan dan interaksi antara genotipe dan lingkungan (Tabel 3.3). Hal ini menunjukkan adanya keragaman dari karakter yang diamati. Interaksi antara genotipe dan lingkungan berpengaruh sangat nyata hanya pada karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau, bobot brangkasan dan bobot biji kering. Pada penelitian ini rata-rata koefisien keragaman berkisar dari 12.44% pada karakter jumlah cabang sampai 31.93% pada karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau. Tingginya koefisien keragaman pada karakter tersebut diduga karena perbedaan lingkungan.

Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman kacang tanah yang ditanam pada empat lingkungan uji berkisar antara 44.84 cm sampai 61.14 cm (Tabel 3.4). Tanaman tertinggi ditunjukkan oleh varietas Sima dan terendah ditunjukkan oleh varietas Zebra. Terdapat perbedaan nyata antara tinggi tanaman Sima dengan genotipe lainnya. Tinggi tanaman tertinggi Sima dicapai di Bogor yaitu 95.39 cm dan terendah di Sumedang yaitu 38.04 cm. Tinggi tanaman tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan berturut-turut yaitu Sima (95.39) dan Jerapah (60.17 cm); GWS-74A1 (38.43 cm) dan GWS-18A1 (21.19 cm); Sima (56.99 cm) dan Zebra (35.93 cm) serta Sima (54.13 cm) dan GWS-72A (39.40 cm).

Tabel 3.4 Tinggi tanaman (cm) empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (cm) ... 1 GWS-18A1 69.07bc 21.19a 52.21ab 44.53b 46.75bcd 2 GWS-39D 72.51 bc 28.17a 55.16 ab 42.20b 49.51bcd 3 GWS-72A 68.29 bc 25.39a 54.65ab 39.40b 46.93bcd 4 GWS-73D 69.39 bc 22.57a 50.11 ab 40.73b 45.70cd 5 GWS-74A1 73.24 bc 38.43a 52.77 ab 46.20b 52.66b 6 GWS-110A1 73.31 bc 30.41a 51.77 ab 42.33b 49.45bcd 7 GWS-110A2 74.89b 29.73a 50.36 ab 41.40b 49.10bcd 8 GWS-134A 72.57bc 32.99a 52.23 ab 45.80b 50.90bcd 9 GWS-134D 75.573b 30.77 a 55.11 ab 44.93b 51.60bc 10 GWS-138A 68.95bc 35.73 a 51.21 ab 42.47b 49.59bcd 11 Gajah 64.36bc 31.28 a 46.83b 41.13b 45.90cd 12 Jerapah 60.17c 29.82 a 53.19 ab 43.13b 46.58bcd 13 Zebra 65.67bc 35.09 a 35.93c 42.67b 44.84d 14 Sima 95.39a 38.04 a 56.99a 54.13a 61.14a Rataan lingkungan 71.67A 30.69D 51.32B 43.65C

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Perbedaan ini diduga oleh respon pertumbuhan genotipe pada berbagai kondisi lingkungan penanaman. Tanaman kacang tanah akan tumbuh baik pada tanah-tanah dengan bahan organik, pH berkisar 6.5 – 7.0, suhu tanah untuk perkecambahan 20 – 30 oC, untuk pertumbuhan ginofor 30 – 34 oC dan untuk fase generatif optimum 24 – 27 oC. Suhu udara optimum 24oC - 27oC, total curah hujan optimum sepanjang periode pertumbuhan sampai panen adalah 300 – 500 mm dan dapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 500 – 1500 mdp (Adisarwanto 2008). Kondisi beberapa petak diduga memiliki tingkat kemasam yang cukup tinggi ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang kerdil dan daun berwarna kuning. Gupta (1997) menyatakan bahwa, tanah masam menginduksi ketidaknormalan pada sistem akar kemudian mengurangi atau menghambat pertumbuhan.

Jumlah Cabang

Tabel 3.5 menunjukkan bahwa jumlah cabang kacang tanah yang ditanam pada empat lingkungan uji berkisar 4.20 - 4.82. Jumlah cabang tertinggi di tunjukkan oleh genotipe GWS-134A. Jumlah cabang terendah ditunjukkan oleh genotipe GWS-18A1. Jumlah cabang tertinggi GWS-134A dicapai di Kuningan yaitu 5.00 dan terendah di Sumedang dan Bogor yaitu 4.67. Jumlah cabang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Sukabumi masing-masing yaitu GWS-134A (4.67) dan GWS-138A - Zebra

(3.93); GWS-110A2 (4.67) - GWS-134A dan GWS-73D – Sima (3.80); Jerapah (5.70) dan Zebra (4.20) serta Sima (5.40) dan GWS-18A1 (3.53).

Tabel 3.5 Jumlah cabang empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

1 GWS-18A1 4.40abc 4.40a 4.47a 3.53b 4.20 2 GWS-39D 4.33abc 3.87a 4.73a 4.73ab 4.42 3 GWS-72A 4.47ab 4.00a 4.67a 4.60ab 4.43 4 GWS-73D 4.53ab 3.80a 4.73a 4.27ab 4.33 5 GWS-74A1 4.33abc 4.53a 4.67a 5.00ab 4.63 6 GWS-110A1 4.40abc 4.13a 4.67a 4.67ab 4.47 7 GWS-110A2 4.33abc 4.67a 4.67a 4.60ab 4.57 8 GWS-134A 4.67a 4.67a 4.93a 5.00ab 4.82 9 GWS-134D 4.27abc 4.33a 4.53a 4.67ab 4.45 10 GWS-138A 3.93c 4.27a 4.27a 4.47ab 4.23 11 Gajah 4.53ab 4.00a 4.93a 4.87ab 4.58 12 Jerapah 4.33abc 4.07a 5.07a 4.87ab 4.58 13 Zebra 3.93c 3.93a 4.20a 4.80ab 4.28 14 Sima 4.07bc 3.80a 4.47a 5.40a 4.37 Rataan lingkungan 4.32B 4.18B 4.64A 4.68A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Jumlah cabang dihitung dari banyaknya cabang yang dapat dihasilkan oleh tanaman selain batang utama tanaman kacang tanah. Peningkatan jumlah cabang berasosiasi dengan peningkatan daya hasil terhadap polong dan biji lebih banyak, karena bunga dan polong kacang tanah lebih banyak berkembang dari cabang sekunder bagian bawah (Riduan & Sudarsono 2005). Yudiwanti dan Ghani (2002) menyatakan bahwa pengaruh jumlah cabang terhadap daya hasil akan lebih ditentukan oleh jumlah cabang produktif dan persentase bunga yang membentuk polong.

Persentase Panjang Batang Utama Berdaun Hijau

Karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau yang diuji berkisar 14.16 - 18.73%. Persentase panjang batang utama berdaun hijau tertinggi itunjukkan oleh varietas GWS-18A1 dan terendah oleh GWS-110A1. Persentase panjang batang utama berdaun hijau tertinggi GWS-118A1 dicapai di Kuningan yaitu 46.37% dan terendah di Bogor serta Kuningan yaitu 7.53%. Persentase batang utama berdaun hijau tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-134D (10.43%) dan GWS-39D - Sima (6.42%); Sima (19.92%) dan GWS-73D (12.05%); Zebra (18.01%) dan Gajah (7.39%) serta GWS-18A1 (46.37%) dan GWS-110A1 (22.24%).

Tabel 3.6 Persentase panjang batang utama berdaun hijau empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (%)... 1 GWS-18A1 7.53ab 12.94a 8.09bc 46.37a 18.73 2 GWS-39D 6.42b 14.00a 9.84bc 29.58bc 14.96 3 GWS-72A 7.11ab 16.94a 8.03bc 31.09bc 15.79 4 GWS-73D 9.16ab 12.05a 12.27b 25.64bc 14.78 5 GWS-74A1 7.10ab 14.95a 10.11bc 35.69ab 16.96 6 GWS-110A1 7.56ab 16.46a 10.39bc 22.24bc 14.16 7 GWS-110A2 6.69b 17.82a 8.79bc 35.12abc 17.10 8 GWS-134A 8.96ab 16.68a 10.51bc 25.96bc 15.53 9 GWS-134D 10.43a 14.42a 8.63bc 29.14bc 15.66 10 GWS-138A 7.30ab 12.28a 11.67bc 30.83bc 15.52 11 Gajah 6.63b 12.58a 7.39c 32.35bc 14.74 12 Jerapah 6.41b 16.99a 8.81bc 32.45bc 16.16 13 Zebra 8.40ab 18.06a 18.01a 26.62bc 17.77 14 Sima 6.42b 19.92a 9.19bc 36.13ab 17.91 Rataan lingkungan 7.58C 15.43A 10.12B 31.37A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Persentase panjang batang utama bebas penyakit bercak daun merupakan peubah yang diajukan untuk menilai secara kuantitatif tingkat ketahanan genotipe kacang tanah terhadap bercak daun. Perbedaan persentase panjang batang utama berdaun hijau diduga karena perbedaan lingkungan uji (ketinggian tempat, suhu dan curah hujan) menyebabkan perbedaan ketahanan tanaman terhadap penyakit bercak daun. Rendahnya persentase panjang batang utama berdaun hijau, diduga kondisi lingkungan pada saat pengujian dapat meningkatkan perkembangan penyakit bercak daun. Bogor dan Kuningan memiliki perbedaan lingkungan tumbuh namun pada saat pengujian curah hujan di Bogor relatif tinggi sehingga tanah menjadi lembab. Faktor lingkungan mendukung perkembangan penyakit bercak daun sehingga mempercepat proses infeksi dan perkembangan penyakit bercak daun pada kacang tanah (Semangun 1991).

Karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau prospektif diterapkan sebagai peubah tingkat ketahanan visual di lapangan. Peubah ini praktis diterapkan di lapangan dan obyektivitasnya mudah dijaga. (Yudiwanti et al. 2008). Pengukuran persentase panjang batang utama berdaun hijau dilakukan pada saat panen dimana batang dan daun tanaman masih terlihat hijau selama periode penyerangan penyakit bercak daun. Hal ini menunjukkan ketahanan tanaman tersebut terhadap penyakit bercak daun. Genotipe yang digolongkan tahan terhadap penyakit bercak daun, dan warna daun tersebut hijau tua menunjukkan kandungan klorofilnya yang tinggi (Kusumo 1996). Kandungan klorofil tinggi umumnya diikuti oleh kandungan karotenoid tinggi yang berperan

sebagai fotoprotektif apparatus fotosintesis terhadap kerusakan akibat aktivitas klorofil pada saat intensitas cahaya tinggi (Young 1991). Patogen bercak daun menghasilkan toksin berupa pigmen yang disebut cercosporin. Karotenoid dapat mengurangi efek toksisitas dari toksin cercosporin terhadap sel (Daub & Payne 1989). Kandungan karotenoid yang tinggi dalam daun yang lebih hijau diduga berperan dalam meningkatkan ketahanan tanaman kacang tanah terhadap penyakit bercak daun (Yudiwanti et al. 2007). Banyaknya daun yang masih hijau pada batang utama selama periode serangan penyakit bercak daun diharapkan dapat meningkatkan hasil. Daun-daun pada batang utama merupakan penyuplai utama asimilat untuk pengisian polong/biji, sedangkan daun-daun yang tumbuh pada cabang merupakan penyuplai asimilat untuk kebutuhan sink-sink lain selain biji (Purnamawati 2012).

Bobot Brangkasan

Tabel 3.7 Bobot brangkasan empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (g.tanaman-1) ... 1 GWS-18A1 47.93ab 33.33a 74.00ab 104.33abcde 64.90 2 GWS-39D 50.13ab 37.20ab 82.4ab 84.07cde 63.45 3 GWS-72A 61.00ab 30.47a 80.47ab 104.93abcde 69.22 4 GWS-73D 73.27a 28.73a 89.53a 138.73a 82.57 5 GWS-74A1 55.07ab 55.93ab 67.00ab 81.77cde 64.94 6 GWS-110A1 65.67ab 53.00ab 91.33a 72.97de 70.74 7 GWS-110A2 46.33b 48.07ab 56.27b 107.80abcd 64.62 8 GWS-134A 53.27ab 64.27ab 96.87a 68.40e 70.70 9 GWS-134D 55.53ab 49.53ab 85.27ab 101.67bcde 73.00 10 GWS-138A 43.40b 52.93ab 83.60ab 132.67ab 78.00 11 Gajah 44.87b 38.27ab 67.00ab 96.27cde 61.06 12 Jerapah 39.40b 45.07ab 77.00ab 86.53cde 62.00 13 Zebra 56.87ab 77.87a 75.93ab 81.93cde 73.15 14 Sima 56.33ab 55.80ab 96.33a 111.40abc 79.97 Rataan lingkungan 53.50C 47.89C 80.21B 98.10A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Serangan patogen bercak daun yang berakibat defoliasi bahkan keringnya tajuk tanaman, tercermin pada sangat beragamnya bobot brangkasan basah antar genotipe yang diuji (Yudiwanti et al 2008). Tabel 3.7 menunjukkan bahwa bobot brangkasan tanaman kacang tanah pada empat lingkungan berkisar 61.06 - 82.57 gram. Bobot brangkasan tertinggi ditunjukkan oleh genotipe GWS-73D namun tidak berbeda nyata dengan Sima yaitu 79.97 gram. Varietas Gajah menunjukkan bobot brangkasan terendah yaitu 61.06 gram tidak berbeda nyata dengan Jerapah

yaitu 62.00 gram. Bobot brangkasan GWS-73D tertinggi dicapai di Kuningan yaitu 138.73 gram dan terendah di Sumedang yaitu 28.73 gram. Bobot brangkasan tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-73D (72.27 gram) dan Jerapah (39.40 gram); Zebra (77.87 gram) dan GWS-73D (28.73 gram); GWS-134A (96.86 gram) dan GWS-110A2 (56.27 gram) serta GWS-73D (138.73 gram) dan GWS- 134A (68.40 gram).

Jumlah Polong Total

Tabel 3.8 menunjukkan jumlah polong total yang diuji berkisar 16.00 - 22.27. GWS-110A1 merupakan genotipe dengan jumlah polong tertinggi dibandingkan semua genotipe yang diuji namun tidak berbeda nyata dengan GWS-134A (22.13) dan GWS-18A1 (20.90). Tinggi jumlah polong total GWS- 110A1 dicapai di Sumedang (28.67) dan terendah di Bogor (15.33). Jumlah polong total terendah adalah Jerapah yaitu 16.00. Jumlah polong total yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-18A1 (15.87) dan Sima (10.33); Zebra (21.40) dan GWS-73D (9.73); GWS-134A (30.53) dan Zebra (20.00) serta Kuningan GWS-110A1 (27.07) dan Jerapah (16.47).

Tabel 3.8 Jumlah polong total empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (per tanaman) ...

1 GWS-18A1 15.87a 16.67a 26.87abc 24.20a 20.90ab 2 GWS-39D 13.60ab 14.73a 23.67abc 22.47a 18.62abcd 3 GWS-72A 14.33ab 10.07a 25.47abc 23.53a 18.35abcd 4 GWS-73D 14.93ab 9.73a 26.47abc 21.20ab 18.08bcd 5 GWS-74A1 13.00ab 16.93a 21.73bc 26.40a 19.52abcd 6 GWS-110A1 15.33a 18.00a 28.67ab 27.07a 22.27a 7 GWS-110A2 15.20ab 17.00a 23.60abc 24.60a 20.10abc 8 GWS-134A 15.46a 17.87a 30.53a 24.67a 22.13a 9 GWS-134D 11.40ab 19.00a 24.87abc 25.47a 20.18abc 10 GWS-138A 14.67ab 19.60a 23.60abc 23.53a 20.35abc 11 Gajah 14.87ab 17.27a 25.87abc 22.33a 20.08abc 12 Jerapah 11.73ab 15.47a 20.33c 16.47ab 16.00d 13 Zebra 14.53ab 21.40a 20.00c 23.13a 19.77abcd 14 Sima 10.33b 9.93a 23.33abc 22.73a 16.58cd Rataan lingkungan 13.95C 15.97B 24.64A 23.41A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

Polong terbentuk dari jumlah cabang produktif dan persentase bunga yang membentuk polong. Dari seluruh bunga yang terbentuk hanya sekitar 10 - 20% yang akan membentuk polong (Adisarwanto 2008). Keefisienan pembungaan pada kacang tanah berkisar 11.29% - 17.11% yang membentuk polong. Polong tersebut biasanya dari bunga yang terbentuk pada periode awal (Trustinah et al. 1987). Jumlah polong total yang terbentuk tergantung dari jumlah ginofor yang dapat menembus tanah, bunga yang tumbuh pada ruas-ruas berikutnya akan membentuk ginofor tertentu yang tidak bisa menembus tanah sehingga gagal membentuk polong. Kondisi tanah yang gembur akan membantu masuknya ginofor kedalam tanah dan pembentukan palong yang baik (Shorter and Patanothai 1995).

Dalam kaitannya dengan penyakit bercak daun, karakter jumlah polong total merupakan karakter yang mencerminkan potensi genetik kacang tanah terhadap penyakit bercak daun. Hal ini karena penyakit bercak daun berkembang pada pertanaman setelah polong terbentuk. Oleh karena itu, pengaruh penyakit ini terhadap pengurangan hasil lebih diakibatkan oleh pengaruhnya terhadap pengurangan kemampuan tanaman dalam pengisian polong, bukan terhadap pengurangan jumlah polong. Di lain pihak, karena polong terbentuk sebelum penyakit berkembang pada tanaman, maka jumlahnya kurang dipengaruhi oleh serangan patogen. Oleh karena itu, karakter jumlah polong total lebih mencerminkan potensi genetik daya hasil genotipe kacang tanah berkaitan dengan penyakit bercak daun (Yudiwanti et al.1998).

Jumlah Polong Isi

Jumlah polong isi dari keempat lingkungan yang diuji berkisar 13.42 - 19.40. GWS-134A menunjukkan jumlah polong isi tertinggi namun tidak berbeda nyata dengan GWS-110A1 yaitu (19.35). Varietas Jerapah menunjukkan jumlah polong isi terendah. Jumlah polong isi tertinggi GWS-134A dicapai di Sukabumi (27.80) dan terendah di Bogor (12.93). Jumlah polong isi yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing- masing adalah GWS-18A1 (14.27) dan Sima (7.87); GWS-138A (16.80) dan Sima (8.33); GWS-134A (27.80) dan Zebra (15.47) serta GWS-74A1 (23.33) dan Jerapah (14.80).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur-galur yang diuji memiliki jumlah polong isi yang lebih tinggi dari varietas pembanding. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh tipe genotipe kacang tanah. Polong terbentuk dari jumlah cabang produktif dan persentase bunga yang membentuk polong (Adisarwanto 2008). Polong yang terbentuk umumnya lebih rendah dari jumlah bunga yang dihasilkan. Hal ini disebabkan adanya gangguan yang terjadi pada saat pembentukan polong. Pada kacang tanah tipe tegak, bunga produktif yang membentuk polong hanya terjadi 3 sampai 4 ruas dari tiap batang dan cabang tanaman (Boote 1982).

Tabel 3.9 Jumlah polong isi empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (per tanaman) ...

1 GWS-18A1 14.27a 15.13a 24.93ab 21.67a 19.00ab 2 GWS-39D 10.00ab 12.60a 21.20abcd 19.33ab 15.78abc 3 GWS-72A 12.13ab 8.47a 22.53abcd 21.00a 16.03abc 4 GWS-73D 12.00ab 8.93a 23.20abc 17.80ab 15.48bc 5 GWS-74A1 11.67ab 13.47a 18.13bcd 23.33a 16.65abc 6 GWS-110A1 13.67a 16.13a 25.27ab 22.33a 19.35a 7 GWS-110A2 12.93a 15.60a 20.60abcd 21.87a 17.75ab 8 GWS-134A 12.93a 15.60a 27.80a 21.27a 19.40a 9 GWS-134D 9.60ab 15.87a 20.73abcd 21.27a 16.87abc 10 GWS-138A 12.47ab 16.80a 20.87abcd 19.80ab 17.48ab 11 Gajah 13.00a 14.13a 22.93abcd 19.60ab 17.42ab 12 Jerapah 9.67ab 12.20a 17.00dc 14.80b 13.42c 13 Zebra 11.47ab 15.33a 15.47d 20.60a 15.72abc 14 Sima 7.87b 8.33a 20.13bcd 18.33ab 13.67c Rataan lingkungan 11.69C 13.47B 21.48A 20.21A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Bobot Polong Total

Bobot polong total pada Tabel 3.10 menunjukkan kisaran antara 13.71 - 18.51gram. GWS-110A1 menunjukkan bobot polong total tertinggi dan terendah ditunjukkan oleh Jerapah. Bobot polong total teringgi GWS-110A1 terdapat pada lingkungan Kuningan yaitu 26.13 gram dan terendah di lingkungan Bogor yaitu 13.47 gram. Bobot polong total yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-110A1 (13.47 gram) dan GWS-39D (9.46 gram); GWS-110A1 (13.52 gram) dan GWS- 72A (6.42 gram); GWS-39D (26.83 gram) dan GWS-110A2 (14.86 gram) serta GWS-74A1 (27.13 gram) dan Jerapah (18.60 gram).

Perbedaan bobot polong total dipengaruhi oleh persentase bunga yang membentuk polong (11.29 - 17.11%). Polong tersebut biasanya berasal dari bunga yang terbentuk pada periode awal, periode pengisian lebih panjang dan daya saing yang lebih besar dibandingkan polong-polong berikutnya (Trustinah et al. 1987). Duncan et al. (1978) mengatakan bahwa, bila pertumbuhan polong telah mencapai ukuran cukup untuk pengisian maka polong akan elastis. Lamanya periode pengisian polong berhubungan dengan dengan kapasitas polong dan pertumbuhan ovule (bakal buah). Kasno et al. (1987) menambahkan bahwa, karakter bobot polong memiliki keragaman yang disebabkan oleh faktor-faktor bukan genetik. Hal ini mensyaratkan besarnya pengaruh faktor lingkungan terhadap karakter tersebut.

Tabel 3.10 Bobot polong total empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (gram) ...

1 GWS-18A1 11.76ab 10.43a 21.68abc 25.47a 17.33 2 GWS-39D 9.46b 8.63a 26.83a 23.13ab 17.01 3 GWS-72A 12.13ab 6.42a 21.66abc 24.80a 16.25 4 GWS-73D 11.65ab 8.77a 20.94abc 21.60ab 15.74 5 GWS-74A1 10.52ab 12.23a 14.95c 27.13a 16.21 6 GWS-110A1 13.47a 13.52a 20.93abc 26.13a 18.51 7 GWS-110A2 10.71ab 11.51a 14.86c 25.67a 15.69 8 GWS-134A 9.75ab 12.97a 23.97abc 25.07a 17.94 9 GWS-134D 9.97ab 10.83a 18.50abc 25.07a 16.09 10 GWS-138A 10.21ab 13.21a 18.74abc 23.60ab 16.44 11 Gajah 11.53ab 11.30a 20.48abc 23.40ab 16.68 12 Jerapah 9.80ab 10.08a 16.37bc 18.60b 13.71 13 Zebra 10.39ab 12.34a 18.90abc 24.40a 16.51 14 Sima 10.81ab 9.530a 24.77ab 22.13ab 16.81 Rataan lingkungan 10.87C 10.84C 20.26B 24.01A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Bobot Polong Isi

Tabel 3.11 menunjukkan rata-rata bobot polong isi berkisar antara 12.04 - 16.94 gram. Bobot polong isi tertinggi pada genotipe GWS-110A1 dan terendah pada Jerapah. Bobot polong isi tertinggi GWS-110A1 dicapai di Kuningan yaitu 20.93 gram dan terendah di Bogor 11.85 gram. Bobot polong isi yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-110A1 (11.85 gram) dan GWS-39D (8.78 gram); GWS-110A1 (14.69 gram) dan GWS-72A (6.21 gram); GWS-39D (26.37 gram) dan GWS-74A1 (14.45 gram) serta GWS-74A1 (21.93 gram) dan Jerapah (13.40 gram).

Rendahnya bobot polong isi disebabkan pada saat proses pengisian polong, biji tidak terbentuk secara sempurna karena kekurangan asimilat dan pertumbuhan vegetatif masih berlangsung yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan tumbuh. Apabila kegiatan fotosintesis dapat tetap dipertahankan tinggi selama periode pengisian biji maka akan sangat menguntungkan karena kebutuhan biji akan dapat terpenuhi (Purnamawati et al. 2010).

Tabel 3.11 Bobot polong isi empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (gram) ... 1 GWS-18A1 11.50a 10.21a 21.27ab 20.27a 15.81 2 GWS-39D 8.78a 8.38a 26.37a 17.93ab 15.37 3 GWS-72A 11.83a 6.21a 21.18ab 19.60a 14.71 4 GWS-73D 11.00a 8.57a 20.43ab 16.40ab 14.10 5 GWS-74A1 10.03a 11.86a 14.45b 21.93a 14.57 6 GWS-110A1 11.85a 14.69a 20.29ab 20.93a 16.94 7 GWS-110A2 10.25a 12.05a 14.70b 20.47a 14.37 8 GWS-134A 9.89a 12.62a 23.63ab 20.43a 16.64 9 GWS-134D 9.59a 10.45a 17.93ab 19.87a 14.46 10 GWS-138A 9.90a 12.85a 18.37ab 18.40ab 14.88 11 Gajah 11.33a 11.01a 20.21ab 18.20ab 15.19 12 Jerapah 9.40a 9.55a 15.79b 13.40b 12.04 13 Zebra 10.44a 11.94a 17.78ab 19.20a 14.84 14 Sima 10.28a 9.14a 24.10ab 16.93ab 15.11 Rataan lingkungan 10.43B 10.68B 19.75A 18.85A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Bobot Biji Per Tanaman

Tabel 3.12 menunjukkan rata-rata bobot biji berkisar 8.08 - 12.18 gram. Genotipe GWS-110A1 menunjukkan rataan tertinggi dan terendah ditunjukkan oleh Jerapah. Tingginya bobot biji tanaman GWS-110A1 dicapai di Kuningan yaitu 16.43 gram dan terendah dicapai di Bogor yaitu 8.27 gram. Bobot biji tanaman yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah GWS-110A1 (8.27 gram) dan Jerapah (6.29 gram); GWS-110A1 (9.84 gram) dan GWS-72A (4.37 gram); GWS-39D (20.32 gram) dan GWS-74A1 (9.60 gram) serta GWS-74A1 (17.43 gram) dan Jerapah (8.90 rgam).

Tingginya bobot biji tanaman pada genotipe GWS-110A1erat kaitannya dengan karakter-karakter pendukung seperti tingginya bobot polong total, bobot polong isi, jumlah polong total dan jumlah polong isi. Hal ini diduga source yang tersedia masih mampu dalam mencukupi kebutuhan fotosintat untuk pengisian polong sehingga terjadi peningkatan bobot biji. Bobot biji dipengaruhi oleh gen- gen yang berhubungan dengan karakter yang berperan terhadap stabilitas produksi seperti ketahanan terhadap cekaman lingkungan atau ketahanan terhadap penyakit. Pengembangan varietas berdaya hasil tinggi pada kondisi terdapat serangan penyakit selalu melibatkan gen-gen resistensi (Yudiwanti et al. 2007).

Tabel 3.12 Bobot biji tanaman empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (gram) ... 1 GWS-18A1 8.23a 7.74a 13.84ab 15.77a 11.40 2 GWS-39D 6.37a 6.01a 20.32a 13.43ab 11.54 3 GWS-72A 8.16a 4.37a 14.51ab 15.10a 10.53 4 GWS-73D 7.19a 6.41a 13.19ab 11.90ab 9.67 5 GWS-74A1 7.13a 8.45a 9.60b 17.43a 10.65 6 GWS-110A1 8.27a 9.84a 14.19ab 16.43a 12.18 7 GWS-110A2 7.32a 8.35a 10.12b 15.97a 10.44 8 GWS-134A 6.65a 9.14a 15.93ab 15.93a 11.91 9 GWS-134D 6.67a 7.24a 12.10ab 15.37a 10.34 10 GWS-138A 6.72a 9.06a 11.83ab 13.90ab 10.38 11 Gajah 7.95a 8.15a 14.16ab 13.70ab 10.99 12 Jerapah 6.29a 6.54a 10.60b 8.90b 8.08 13 Zebra 7.36a 8.80a 12.31ab 14.70a 10.79 14 Sima 7.07a 5.59a 16.03ab 12.43ab 10.28 Rataan lingkungan 7.24B 7.55B 13.48A 14.35A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Bobot Seratus Biji

Tabel 3.13 menunjukkan bahwa rata-rata bobot seratus biji berkisar 36.45 - 47.33 gram. Bobot seratus biji tertinggi ditunjukkan oleh genotipe GWS-73D dan terendah ditunjukkan oleh genotipe GWS-18A1. GWS-73D tertinggi dicapai di lingkungan Kuningan yaitu 52.00 gram dan terendah di Sumedang yaitu 40.19 gram. Bobot seratus biji genotipe GWS-73D tidak berbeda nyata dengan varietas Jerapah 46.25 gram. Bobot seratus biji yang tertinggi dan terendah untuk lingkungan Bogor, Sumedang, Sukabumi dan Kuningan masing-masing adalah Sima (46.76 gram) dan GWS-110A2 (35.25 gram); GWS-73D (40.19 gram) dan GWS-18A1 (23.02 gram); Sima (51.69 gram) dan GWS-110A2 (40.91 gram) serta GWS-134A (54.00 gram) dan GWS-18A1 (39.33 gram).

Berat biji berkaitan dengan banyak sedikitnya cadangan makanan yang dapat tersimpan (Ishag 1970). Penomena ini menginformasikan bahwa tiap genotipe memiliki kebutuhan dan daya simpan cadangan makanan yang berbeda antara genotipe satu dengan yang lain. Rossem dan Bolhuis (1984) menyatakan bahwa kebutuhan dan kemampuan tiap biji dalam menyimpang cadangan makanan selalu berbeda, sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan dalam proses perkecambahan.

Yudiwanti dan Ghani (2002) menyatakan bahwa karakter bobot 100 biji dapat digunakan untuk menduga ukuran biji. Semakin besar bobot 100 biji maka ukuran benihnya semakin besar dan berkontribusi pada hasil yang tinggi (Utomo et al. 2005). Ukuran benih kacang tanah tergolong medium jika memiliki bobot

100 butir benih sebesar 31-38 gram (Yudiwanti & Ghani 2002). Genotipe- genotipe yang diuji umumnya memiliki ukuran biji yang besar, kecuali genotipe GWS-18A1 yang memiliki ukuran medium yaitu 36.45 gram.

Tabel 3.13 Bobot seratus biji empat belas genotipe kacang tanah pada empat lingkungan

No Genotipe Lingkungan Rataan

genotipe Bogor Sumedang Sukabumi Kuningan

... (gram) ...

1 GWS-18A1 37.11bc 23.02a 46.33a 39.33c 36.45cdef 2 GWS-39D 37.97abc 33.12a 48.16a 40.67bc 39.98cdef 3 GWS-72A 42.35abc 38.64a 44.99a 40.67bc 41.66bcde 4 GWS-73D 46.45ab 40.19a 50.69 52.00a 47.33a 5 GWS-74A1 37.52abc 39.25a 41.96a 50.67ab 42.35bcde 6 GWS-110A1 39.09abc 33.83a 46.22a 49.67abc 42.20bcde 7 GWS-110A2 35.25c 33.62a 40.91a 45.00abc 38.69cdef 8 GWS-134A 44.62abc 33.38a 47.24a 54.00a 44.81abc 9 GWS-134D 42.37abc 35.12a 48.79a 49.00abc 43.82abcd 10 GWS-138A 38.59abc 36.62a 44.62a 52.67a 43.12abcde 11 Gajah 40.58abc 37.34a 46.05a 49.00abc 43.24abcde 12 Jerapah 45.27ab 36.67a 49.40a 53.67a 46.25ab 13 Zebra 37.20bc 36.08a 43.48a 40.33bc 39.27cdef 14 Sima 46.76a 34.66a 51.69a 44.33abc 44.36abc Rataan lingkungan 40.79B 35.11C 46.47A 47.21A

Keterangan : Angka dalam tiap kolom lingkungan dan rataan genotipe, serta pada baris rataan lingkungan yang diikuti oleh huruf non kapital (kolom) atau kapital (baris) yang

sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada α 0.05

Indeks Masak Biji Kulit