• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit bercak daun tersebar luas dipertanaman kacang tanah. Hasil kegiatan pemuliaan untuk mendapatkan kacang tanah tahan penyakit bercak daun diketahui bahwa sifat tahan berasosiasi dengan daya hasil rendah (Norden et al. 1982). Dengan demikian program pemuliaan untuk memperoleh genotipe berdaya hasil tinggi, genotipe yang tahan terhadap penyakit bercak daun selalu akan tereliminasi. Akibatnya semua varietas kacang tanah yang dibudidayakan secara luas rentan terhadap kedua jenis patogen bercak daun (Porter et al.1982). Hal ini dapat dicapai dengan perbaikan potensi hasil dan perbaikan daya adaptasi atau ketahanan tanaman agar lebih sesuai dengan lingkungan target. Daya hasil yang stabil dapat diperoleh jika varietas yang dikembangkan juga memiliki ketahanan terhadap penyakit (Chahal dan Gosal 2002).

Pengujian galur-galur kacang tanah tahan penyakit bercak daun pada kondisi multi lingkungan telah dilakukan. Beberapa tahapan penelitian yang dilakukan adalah keragaan karakter agronomi, stabilitas hasil dan analisis lintas karakter kuantitatif. Percobaan terhadap keragaan karakter agronomi menunjukkan bahwa hasil analisis ragam gabungan terhadap interaksi genotipe dan lingkungan memberikan pengaruh yang sangat nyata adalah karakter persentase panjang batang utama berdaun hijau, bobot brangkasan dan bobot biji kering. Hal ini menunjukkan adanya keragaman dari karakter yang diamati.

Rata-rata total tertinggi keragaan masing-masing karakter pada empat lingkungan uji adalah karakter tinggi tanaman oleh Sima (61.14 cm) dan rataan tertinggi dicapai di lingkungan Bogor (95.39 cm). Rata-rata total jumlah cabang dan jumlah polong isi oleh GWS-134A berturut-turut yaitu 4.82 dan 19.40. Lingkungan Kuningan menunjukkan rata-rata jumlah cabang tertinggi yaitu 5.00 dan lingkungan Sukabumi menunjukkan rata-rata jumlah polong isi tertinggi yaitu 27.80. Total rata-rata persentase panjang batang utama berdaun hijau oleh GWS- 18A (18.73%) dan rataan tertinggi dicapai di lingkungan Kuningan (46.37%). Total rata-rata bobot brangkasan oleh GWS-73D (82.57 gram) dan rataan tertinggi dicapai di lingkungan Kuningan (138.73 gram). Total rata-rata bobot polong kering, jumlah polong total, bobot polong total, bobot polong isi, dan bobot biji

tanaman oleh GWS-110A1 berturut-turut yaitu 256.75 gram, 22.27, 18.51 gram, 16.94 gram, dan 12.18 gram. Rata-rata bobot polong kering (362.00 gram) dan jumlah polong total (28.67) tertinggi dicapai di lingkungan Sukabumi. Rata-rata bobot polong total (26.13 gram), bobot polong isi (20.93 gram) dan bobot biji tanaman (16.43 gram) tertinggi dicapai di lingkungan Sukabumi. Total rata-rata jumlah polong isi tertinggi oleh GWS-134A (19.40) dan rata-rata tertinggi dicapai di lingkungan Sukabumi (27.80). Total rata-rata bobot seratus biji tertinggi oleh GWS-73D (47.33 gram) dan rata-rata tertinggi dicapai di lingkungan Kuningan (52.00 gram). Total rata-rata indeks masak biji kulit tertinggi oleh GWS-39D (2.60) dan rata-rata tertinggi dicapai di lingkungan Sukabumi (2.97). Total rata- rata bobot biji kering tertinggi oleh Gajah (186.76 gram) dan rata-rata tertinggi dicapai di lingkungan Sukabumi (380.33 gram).

Produktivitas biji kering tertinggi ditunjukkan oleh varietas Gajah sebesar 1.88 ton.ha-1, dan terendah oleh varietas Jerapah yaitu 1.20 ton.ha-1. Galur-galur yang diuji menunjukkan produktivitas biji kering berkisar 1.22 hingga 1.78 ton.ha-1. Hal ini menunjukkan bahwa galur-galur harapan kacang tanah memiliki potensi hasil yang cukup baik yang ditunjukkan oleh produktivitas kacang tanah yang sebanding dengan varietas unggul. Genotipe GWS-39D, GWS-72A, GWS- 74A1, GWS-110A1, GWS-110A2 GWS-134A dan GWS-138A memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari produktivitas nasional sebesar 1.35 ton.ha-1 (BPS 2013). Hal ini menunjukkan bahwa genotipe-genotipe tersebut dapat direkomondasikan untuk peningkatan hasil kacang tanah.

Stabilitas hasil pada tanaman kacang-kacangan dapat ditingkatkan dengan memperbaiki toleransi tanaman terhadap cekaman lingkungan fisik (kekeringan, genangan, penaungan, rawan hara) dan toleransi terhadap serangan hama atau penyakit penyakit utama. Stabilitas varietas sebagai ragam hasil disuatu lokasi sepanjang waktu, dan adaptasi varietas adalah ragam hasil lintas lokasi sepanjang waktu (Evenson et al. 1978). Stabilitas dan adaptabilitas mempunyai hubungan yang erat jika pengaruh interaksi genotipe dan lingkungan untuk hasil lebih disebabkan oleh peubah-peubah lingkungan yang tidak dapat diramalkan seperti curah hujan, intensitas radiasi surya, dan suhu dari pada peubah yang dapat diramalkan seperti jenis tanah (Byth et al. 1981). Allard dan Bradshaw (1964) mengemukakan bahwa penyebab stabilitas hasil belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga disebabkan oleh adanya mekanisme penyangga individu dan populasi.

Pecobaan stabilitas menggunakan metode analisis Finlay & Wilkinson (1963), Eberhart & Russell (1966) dan metode AMMI (Gauch 1988). Genotipe GWS-18A1, GWS-39D, GWS-73D, GWS-74A1, GWS-110A1, GWS-110A2, GWS-134A, GWS-134D dan GWS-138A merupakan genotipe stabil yang dinyatakan dalam metode Finlay-Wilkinson dan Elberhar-Russell. Genotipe GWS-110A1, GWS-110A2 dan GWS-134A merupakan genotipe stabil dan berdaya adaptasi tinggi. Ketiga genotipe tersebut menurut metode AMMI merupakan genotipe-genotipe yang spesifik lingkungan tertentu. Genotipe GWS- 110A1 spesifik lingkungan Bogor, GWS-110A2 spesifik lingkungan Sukabumi dan GWS-134A spesifik lingkungan Kuningan. Genotipe GWS-73D dan GWS- 138A merupakan genotipe-genotipe yang stabil menurut metode Finlay & Wilkinson (1963), Eberhart & Russell (1966) dan metode AMMI (Gauch 1988). Pemilihan metode analisis stabilitas yang efektif dalam penelitian galur-galur

harapan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) tahan penyakit bercak daun rakitan IPB dalam penelitian ini adalah metode AMMI (Additive Main Effect Multiplicative Interaction). Metode AMMI dapat menjelaskan interaksi genotipe dan lingkungan yang menginterpretasikan dalam bentuk Biplot AMMI. Biplot AMMI meringkas pola hubungan antar genotipe, antar lingkungan dan antar genotipe dan lingkungan. Biplot AMMI menyajikan pola tebaran titik-titik genotipe dengan kedudukan relatifnya pada lingkungan secara simultan dan membaginya kedalam genotipe stabil dan genotipe spesifik lingkungan dalam model Biplot.

Keeratan hubungan antara karakter daya hasil dengan karakter lain yang mempengaruhi daya hasil dapat diduga dengan menghitung nilai koefisien korelasi antara kedua karakter. Kelemahan analisis korelasi adalah sering menimbulkan salah penafsiran karena adanya efek multikolinearitas antar karakter. Hal ini disebabkan karena antar komponen-komponen hasil saling berkorelasi dan pengaruh tidak langsung melalui komponen hasil dapat lebih berperan dari pada pengaruh langsung. Dengan analisis lintas (path analisys) masalah ini dapat diatasi, karena masing-masing sifat yang dikorelasikan dengan hasil dapat diurai menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung. Analisis lintas merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan kriteria seleksi. Guna melakukan seleksi secara tidak langsung maka karakter yang digunakan sebagai kriteria seleksi berkorelasi positif dengan karakter yang akan diseleksi.

Hasil korelasi dan analisi lintas menunjukkan bahwa karakter bobot polong isi, bobot biji tanaman dan bobot polong kering merupakan karakter yang mempunyai nilai pengaruh langsung yang positif dan bertanda sama. Dengan demikian karakter-karakter tersebut dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi galur- galur harapan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) rakitan IPB. Diagram lintas menjelaskan bahwa model analisis lintas mampu menjelaskan total keragaman dalan bobot biji kering sebesar 0.96 atau 96%. Pengaruh sisaan yang tidak dapat dijelaskan oleh model adalah 0.04 atau 4%.

Interaksi genotipe dan lingkungan ditunjukkan oleh keragaan hasil yang tidak konsisten dari lokasi ke lokasi dan dari musim ke musim. Dengan demikian peringkat keunggulan suatu genotipe berubah dengan berubahnya lingkungan sehingga menimbulkan kesulitan didalam pemilihan varietas unggul. Hasil keragaan dapat pula diketahui jenis genotipe dan lingkungan yang memberikan hasil yang tinggi untuk pemilihan genotipe-genotipe yang berdaya hasil dan beradaptasi pada suatu lingkungan. Upaya dalam pemilihan varietas unggul dapat diuji sejumlah galur pada banyak contoh lingkungan dan dilakukan analisis interaksi genotipe dan lingkungan (GxL). Dengan metode stabilitas suatu genotipe akan berdiferensiasi kedalam genotipe stabil atau spesifik lokasi (Kasno 2006). Kemampuan adaptasi dan stabilitas dari calon varietas merupakan syarat dalam pelepasan suatu varietas di Indonesia (Syukur et al. 2012). Uji multi lingkungan merupakan salah satu tahapan dari rangkaian kegiatan proses pembentukan varietas unggul baru. Tujuan utama pengujian pada tahap ini adalah untuk menilai tingkat stabilitas hasil calon varietas terpilih yang dilakukan pada berbagai agroekosistem (Adisarwanto et al. 2000). Pendekatan analisi lintas mampu menjelaskan pengaruh dari komponen tumbuh dan komponen hasil terhadap hasil dan memecah koefisien korelasi menjadi pengaruh langsung dan

pengaruh tidak langsung sehingga hubungan kausal di antara karakter yang dikorelasikan dapa diketahui (Ambarwati dan Murti 2001).

Luas panen kacang tanah Tahun 2013 mencapai 519 056 ha menghasilkan produksi sebesar 701 680 ton. Produktivitas kacang tanah nasional yang diperoleh sebesar 1.35 ton.ha-1 polong kering (BPS 2013). Di tingkat penelitian produktivitas kacang tanah dapat mencapai 2.0ton.ha-1 polong kering (Koesrini et al. 2006). Kondisi ini dinilai produktivitas nasional masih sangat rendah sehingga pemerintah masih melakukan impor untuk mencukupi kebutuhan kacang tanah nasional. Pemulia Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB melakukan upaya peningkatan dan perbaikan potensi hasil kacang tanah dengan merakit galur-galur yang diharapkan memiliki potensi hasil yang tinggi, tahan penyakit, stabil dan beradaptasi luas. Hasil penelitian terhadap galur-galur harapan kacang tanah rakitan IPB menunjukkan produktivitas biji kering kacang tanah yang tinggi dibandingkan denga varietas nasional yang digunakan sebagai pembanding (Jerapah, Gajah, Zebra dan Sima). Hal ini membuktikan bahwa galur-galur tersebut memiliki potensi hasil yang tinggi dan dapat dilepas sebagai varietas yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan produksi kacang tanah nasional.