STUDI MOBILISASI TENAGA PENELITI LIPI
KERANGKA BERPIKIR
Guna mengidentifikasi kompetensi dan kinerja peneliti LIPI yang merupakan salah satu dari tujuan studi, maka studi ini akan menggunakan pendekatan Avital dan Collopy (2001), tetapi disesuaikan dengan karakteristik LIPI sebagai objek penelitian yang merupakan lembaga penelitian murni atau
seluruh indikator yang terdapat pada pendekatan studi evaluatif dan ekplanatif seperti yang dikemukakan oleh Avital dan Collopy (2001).
Dalam penelitian ini, kompetensi para peneliti LIPI akan diidentifikasi melalui tingkat pendidikan, jabatan fungsional, dan bidang kepakarannya. Guna memperdalam analisa, maka identifikasi terhadap kompetensi peneliti juga dilakukan dengan mengidentifikasi kinerja peneliti LIPI melalui variabel yang telah dikembangkan oleh Avital dan Collopy (2001) yaitu hasil riset dan pengaruhnya. Hasil riset peneliti LIPI akan diidentifikasi melalui jumlah publikasi ilmiah internasional maupun nasional. Data jumlah publikasi ilmiah internasional baik dalam publikasi jurnal internasional dan conference paper diperoleh melalui SCOPUS. Sedangkan untuk menjaring data publikasi nasional, penelitian ini menggunakan data pada Googleschoolar yang telah memperhitungkan publikasi ilmiah internasional dan nasional. Sementara itu, variabel pengaruh dari hasil penelitian diindikasikan dari jumlah sitasi dari publikasi yang dihasilkan oleh peneliti. Data sitasi ini pun diperoleh dari SCOPUS dan Googleschoolar.
Guna memperdalam analisa, studi ini menggunakan analisis kluster. Pada studi ini, analisis kluster digunakan dalam mengidentifikasi kelompok-kelompok peneliti berdasarkan pada kinerja dan banyaknya kegiatan penelitian yang dilakukan. Kemudian hasil analisis kluster ini dintepretasikan berdasarkan kompetensi peneliti seperti tingkat pendidikan dan jabatan fungsional.
METODE
Guna mencapai tujuan akhir yang ingin dicapai, penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan seperti yang diperlihatkan Gambar 1. Uraian dari setiap tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Pemetaan distribusi kompetensi peneliti dan beban kerja
Tahap ini ditujukan untuk menjawab dua pertanyaan pertama penelitian ini. Untuk pemetaan kompetensi peneliti diperlukan adanya data berupa tingkat pendidikan, jabatan fungsional, serta bidang kepakaran para peneliti. Data tersebut diperoleh melalui penelusuran database di Biro Kepegawaian LIPI. Kompetensi peneliti LIPI juga akan diidentifikasi melalui kinerjanya dalam melakukan kegiatan penelitian. Analisis kinerja ini akan menggunakan konsep Avital dan Collopy (2001) dimana kinerja diidentifikasi melalui jumlah publikasi dan sitasi. Data tersebut diperoleh melalui Scopus dan Googleshoolars.
Pada tahap pemetaan beban kerja peneliti, data yang dibutuhkan berupa data kegiatan-kegiatan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Pada tahap pemetaan beban kerja peneliti ini menggunakan data sekunder dari Biro Kepegawaian dan BPK LIPI berupa data umum mengenai jumlah peneliti serta berbagai kegiatan penelitian yang diikutinya (baik DIPA, Kompetitif, maupun Iptekda) serta posisinya dalam tim penelitian.
Guna memperdalam analisa maka pemetaan terhadap kompetensi dan beban kerja dilengkapi dengan analisis kluster. Analisis ini ditujukan untuk
mengidentifikasi kelompok-kelompok peneliti LIPI berdasarkan kompetensi dan beban kerjanya.
Tahap 2: Analisis tabulasi silang (cross tab) antara kompetensi peneliti dengan beban kerja
Tahap kedua ini akan fokus untuk menganalisis apakah beban kerja para peneliti LIPI telah sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Analisis cross tab yang dilakukan akan menggunakan data yang telah diperoleh pada tahap pertama khususnya hasil analisis kluster pada kompetensi dan beban kerja peneliti.
TAHAP 1 Pemetaan distribusi beban kerja peneliti
TAHAP 1 Pemetaan kompetensi
peneliti
TAHAP 2
Analisis Cross Tab antara kompetensi peneliti dengan beban kerjanya
TAHAP 3
Identifikasi alokasi pendanaan riset
Penelusuran database Penelusuran database
Hasil dari Tahap 1
Hasil dari tahap 1 dan 2, serta FGD
HASIL
Rekomendasi kebijakan mobilisasi peneliti: terkait dengan penentuan beban kerja dan alokasi
pendanaan riset bagi peneliti
Gambar 1 . Alur Kerja Penelitian
Tahap 3: Identifikasi alokasi pendanaan riset
Tahap terakhir ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan ketiga dari studi ini. Pada tahap ini akan dilakukan identifikasi terhadap alokasi pendanaan yang sesuai untuk kegiatan penelitian dan para penelitinya. Identifikasi akan dilakukan melalui FGD dengan para peneliti senior yang tergolong unggul dalam bidangnya. FGD akan bersumber pada data yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya.
Dengan melakukan tiga tahapan penelitian tersebut, maka diharapkan penelitian ini akan menghasilkan rekomendasi berupa kebijakan mobilisasi para peneliti khususnya yang terkait dengan pengaturan beban kerja serta alokasi pendanaan untuk kegiatan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kompetensi Peneliti LIPI
Guna memetakan kompetensi peneliti di LIPI maka dilakukan identifikasi terhadap tingkat pendidikan, jabatan fungsional, dan bidang kepakaran yang dimiliki oleh setiap peneliti. Selain itu, kompetensi yang dimiliki oleh peneliti LIPI juga diidentifikasi melalui kinerjanya di bidang peneitian yang dinilai dari jumlah publikasi dan sitasi. Data yang berkaitan dengan kompetensi peneliti di LIPI diperoleh dari Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI, dengan jumlah peneliti sebesar 1249 orang.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa hampir sebagian besar peneliti di LIPI didominasi oleh peneliti yang berpendidikan S1 sebesar 47,32%, kemudian S2 sebesar 33,47% dan sisanya S3 sebesar 19,22%. Identifikasi pada tingkat kedeputian juga menunjukkan hasil yang serupa bahwa peneliti di setiap kedeputian didominasi oleh peneliti yang berpendidikan S1. Kondisi tersebut tidak terjadi hanya pada Kedeputian IPSK dimana peneliti didominasi oleh peneliti berpendidikan S2. Jika dilihat dari jenjang fungsionalnya, sebagian besar peneliti LIPI merupakan peneliti madya (32%), kemudian diikuti dengan peneliti pertama (26%), peneliti muda (25%), dan yang terendah adalah peneliti utama (17%). Sementara itu, hasil identifikasi terhadap kepakaran peneliti LIPI menunjukkan terdapat 126 kepakaran. Lima besar kepakaran yang digeluti peneliti LIPI meliputi kepakaran oseanografi/oseanologi (9,85%) yang hanya berada di kedeputian IPK; kepakaran botani (6,41%) berada di kedeputian IPH; kepakaran teknik interdisiplin (6,24%) berada di kedeputian IPT dan Jasil; kepakaran mikrobiologi (4,56%) berada di kedeputian IPK, IPH dan IPT; dan kepakaran ekologi dan evolusi (3,76%) berada di kedeputian IPK, IPH dan IPT.
Selanjutnya, kinerja peneliti LIPI diidentifikasi melalui jumlah publikasi dan sitasinya yang tercatat di SCOPUS dan Googleshoolars. Jika data SCOPUS hanya mencatat publikasi dan sitasi dari jurnal dan converence paper di tingkat internasional, data Googleschoolars juga mencakup data publikasi dan sitasi dari publikasi nasional. Data SCOPUS menunjukkan bahwa dari 1249 peneliti LIPI terdapat 244 peneliti atau 19,54% yang tercatat memiliki publikasi di jurnal ilmiah internasional. Sementara itu, yang tercatat memiliki sitasi dari publikasi yang dihasilkan sebanyak 202 peneliti atau 16,17%. Sementara itu, data publikasi dan sitasi conference paper yang tercatat di SCOPUS juga menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda bahwa hanya sebagian kecil peneliti LIPI yang mempunyai publikasi pada conference paper di tingkat internasional. Data SCOPUS menunjukkan bahwa dari 1249 peneliti LIPI, hanya 38 atau 3,04% yang tercatat memiliki publikasi dalam bentuk international conference paper. Sedangkan yang pubikasinya dalam conference paper disitasi hanya sebanyak 19 peneliti atau 1.52%. Identifikasi dengan menggunakan data publikasi dan sitasi yang tercatat pada SCOPUS dan
Googleschoolar memperlihatkan bahwa peneliti dari kedeputian IPH merupakan peneliti paling produktif dalam menghasilkan publikasi dan sitasi. Sedangkan pada tingkat unit kerja, hasil identifikasi menunjukkan bahwa Pusat Penelitian Bioteknologi menjadi unit kerja yang penelitinya paling produktif dalam menghasilkan publikasi dan sitasi.
Guna memperdalam hasil pemetaan kompetensi peneliti LIPI, maka dilakukan analisis kluster terhadap kinerja peneliti LIPI. Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok peneliti yang tergolong berkinerja baik. Seperti sebelumnya, variabel kinerja yang digunakan dalam melakukan analisis kluster ini adalah publikasi dan sitasi yang tercatat di data SCOPUS dan Googleschoolar. Dengan demikian, kelompok peneliti yang berkinerja baik berarti adalah kelompok peneliti dengan publikasi dan sitasi yang tergolong banyak. Analisis kluster yang dilakukan dengan membentuk empat kluster peneliti mengidentifikasi kinerja peneliti LIPI seperti yang diperlihatkan Tabel 1.
Tabel 1. Kluster Kinerja Peneliti LIPI
Kluster 1 Kluster 2 Kluster 3 Kluster 4 Karakteristik kluster Peneliti dengan output sedang: hanya cukup baik pada publikasi jurnal internasional (data Scopus) dan publikasi yang tercatat di googleschoolar Peneliti dengan output rendah: publikasi dan sitasi baik internasional maupun nasional rendah Peneliti dengan output tergolong tinggi terutama pada publikasi dan sitasi pada internasional conference (data SCOPUS) Peneliti dengan output sangat tinggi terutama pada publikasi dan sitasi jurnal internasional (data SCOPUS) serta publikasi dan sitasi berdasarkan data googleschoolar Jumlah peneliti 88 (7.04%) 1129 (90.39%) 21 (1.68%) 11 (0.88%)
Analisis kluster terhadap kinerja peneliti (publikasi dan sitasi) yang diperlihatkan Tabel 1 menunjukkan bahwa peneliti yang tergolong memiliki publikasi dan sitasi yang tinggi (kluster 3 dan 4) hanya sebesar 2.56% dari 1249 peneliti. Sedangkan sebagian besar peneliti (90.39%) LIPI mempunyai publikasi dan sitasi yang rendah.
Beban Kerja Peneliti LIPI
Pemetaan terhadap beban kerja peneliti dilakukan dengan mengidentifikasi keikutsertaan peneliti dalam kegiatan DIPA, Kompetitif, dan Iptekda. Identifikasi
Perencanaan dan Keuangan LIPI. Identifikasi terhadap keikutsertaan peneliti di berbagai kegiatan penelitian ini dilakukan dalam periode waktu tahun 2009. Selanjutnya pemetaan beban kerja dilengkapi dengan analisis kluster yang ditujukan untuk mengidentifikasi kelompok peneliti berdasarkan keikutsertaannya pada kegiatan penelitian. Analisis kluster ini dilakukan untuk periode waktu dua tahun terakhir yaitu tahun 2008 dan 2009.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat sekitar 8,31% peneliti yang melakukan dua atau lebih kegiatan penelitian DIPA sekaligus. Unit-unit kerja yang penelitinya cenderung banyak melakukan kegiatan penelitian DIPA secara rangkap adalah UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumberdaya Manusia Oseanografi, Pusat Penelitian Kependudukan, dan Pusat Penelitian Sumberdaya Regional. Pada ketiga unit kerja tersebut, paling sedikit terdapat 20% dari penelitinya yang melakukan kegiatan penelitian DIPA lebih dari satu kegiatan. Hasil identifikasi juga menunjukkan bahwa sebagian besar peneliti yang melakukan kegiatan penelitian DIPA lebih dari satu sebagian besar merupakan peneliti berpendidikan S2 dan mempunyai jabatan fungsional peneliti madya. Peneliti utama yang melakukan kegiatan penelitian DIPA secara rangkap juga tergolong banyak yaitu sebesar 23% (urutan nomor dua terbesar). Kondisi ini mengindikasikan bahwa peneliti-peneliti yang melakukan kegiatan penelitian DIPA lebih dari satu kegiatan merupakan peneliti-peneliti yang tergolong senior dengan tingkat jabatan fungsional yang sudah tinggi.
Sementara itu, identifikasi terhadap peneliti yang melakukan kegiatan penelitian kompetitif menunjukkan bahwa terdapat 3.91% peneliti yang melakukan kegiatan penelitian lebih dari satu. Namun jika dilihat dari keseluruhan peneliti di setiap unit kerja, hanya sebagian kecil (tidak lebih dari 15%) yang penelitinya memiliki kegiatan penelitian kompetitif lebih dari satu. Berbeda dengan yang terjadi di penelitian DIPA, pada penelitian kompetitif, sebagian besar peneliti yang melakukan kegiatan lebih dari satu merupakan peneliti berpendidikan S3 dan mempunyai jabatan fungsional peneliti muda. Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah sedikitnya peneliti utama yang melakukan kegiatan penelitian Kompetitif lebih dari satu. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di kegiatan DIPA dimana 23% peneliti yang melakukan kegiatan DIPA lebih dari satu merupakan peneliti utama. Sedangkan pada kegiatan kompetitif, dari semua peneliti yang melakukan kegiatan rangkap pada penelitian Kompetitif hanya 8% yang merupakan peneliti utama. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah penelitian kompetitif yang seharusnya lebih membutuhkan keahlian khusus, para peneliti yang melakukan kegiatan rangkap justru bukan berasal dari jenjang fungsional tertinggi.
Selanjutnya untuk memperdalam analisa, dilakukan identifikasi terhadap peneliti-peneliti yang memiliki beban kerja lebih dari dua kegiatan sekaligus baik dari kegiatan DIPA, Kompetitif, maupun Iptekda. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat 4,40% peneliti yang memiliki beban kerja lebih dari dua kegiatan penelitian sekaligus. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dari total jumlah peneliti di setiap unit kerja, tidak lebih dari 10% peneliti yang memiliki beban kerja lebih dari dua kegiatan penelitian sekaligus, kecuali pada UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumberdaya Manusia Oseanografi. Pada unit kerja
tersebut, 40% dari penelitinya memiliki kegiatan penelitian lebih dari dua. Hasil identifikasi juga menunjukkan bahwa peneliti yang memiliki beban kerja tinggi (lebih dari dua kegiatan penelitian) didominasi oleh para peneliti yang berpendidikan S3 dan berjenjang fungsional peneliti madya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peneliti yang memiliki beban kerja tinggi adalah peneliti senior (peneliti dengan jenjang pendidikan dan fungsional yang tinggi).
Guna memetakan beban kerja para peneliti LIPI, maka dilakukan juga identifikasi terhadap para peneliti LIPI yang tidak mengikuti kegiatan penelitian apapun baik DIPA, Kompetitif maupun Iptekda. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat 31% peneliti LIPI yang tidak terlibat dari kegiatan penelitian. Hasil identifikasi memperlihatkan bahwa banyak unit kerja yang para penelitinya tidak terlibat dalam kegiatan penelitian. Persentase peneliti yang tidak terlibat kegiatan penelitian di setiap unit kerjanya juga tergolong tinggi dimana mayoritas di atas angka 20%. Bahkan pada UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karang Sambung, UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya "Eka Karya" Bali , UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, dan UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi, Bencana Liwa, Lampung Barat LIPI separuh atau lebih penelitinya tidak terlibat dalam kegiatan penelitian baik DIPA, Kompetitif maupun Iptekda. Sementara itu, hasil identifikasi juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh (52%) peneliti yang tidak terlibat dalam kegiatan penelitian merupakan peneliti berpendidikan S1. Sedangkan bila dilihat dari jabatan fungsionalnya, komposisi peneliti yang tidak terlibat dalam kegiatan penelitian mempunyai komposisi yang hampir sama antara peneliti pertama, peneliti muda, peneliti madya, dan peneliti utama. Namun demikian, hasil identifikasi menunjukkan bahwa mayoritas peneliti yang tidak terlibat dalam penelitian merupakan peneliti pertama. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peneliti-peneliti yunior yaitu peneliti dengan jenjang pendidikan dan fungsional yang lebih rendah merupakan peneliti yang cenderung tidak terlibat dalam kegiatan penelitian.
Beban kerja peneliti LIPI juga diidentifikasi melalui mobilitas peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian. Mobilitas peneliti ini diidentifikasi melalui keikutsertaannya dalam kegiatan penelitian di unit kerja lain. Pada kegiatan penelitian di LIPI, keikutsertaan seorang peneliti di kegiatan penelitian unit kerja lain hanya dimungkinkan pada skema kegiatan penelitian Kompetitif dan Iptekda yang mengakomodasi terjadinya penelitian lintas unit kerja. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat 39 peneliti yang melakukan penelitian lintas unit kerja pada kegiatan Kompetitif. Peneliti pada unit kerja Pusat Penelitian Kimia, Pusal Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, serta Pusat Penelitian Ekonomi merupakan unit kerja dengan jumlah peneliti yang melakukan penelitian lintas unit kerja terbanyak. Hasil identifikasi juga menunjukkan bahwa pada kegiatan Iptekda tahun 2009 hanya terdapat 9 peneliti yang melakukan kegiatan lintas unit kerja. Kesembilan peneliti tersebut berasal dari tiga unit kerja yaitu UPT LKBL Bitung, UPT LKBL Ambon, dan Pusat Penelitian KIM.
Guna melengkapi pemetaan terhadap beban kerja peneliti LIPI, maka dilakukan analisa kluster yang ditujukan untuk mengidentifikasi
kelompok-menggunakan variabel jumlah kegiatan penelitian (DIPA, Kompetitif, dan Iptekda) yang diikuti serta jumlah kegiatan penelitian dengan posisi sebagai koordinator. Sayangnya, hanya 613 peneliti atau 49.01% yang datanya tersedia untuk dilakukan analisis kluster. Analisis kluster yang dilakukan dengan membentuk empat kluster peneliti yang diperlihatkan Tabel 2.
Tabel 2. Kluster Beban Kerja Peneliti LIPI
Kluster 1 Kluster 2 Kluster 3 Kluster 4 N/A Karakteristik kluster Peneliti yang aktif dalam kegiatan penelitian DIPA (baik sebagai koordinator maupun anggota) dan sebagai koordinator Iptekda Peneltii yang kurang aktif terlibat dalam kegiatan penelitian (sedikit aktif hanya dalam kegiatan Iptekda) Peneliti yang kurang aktif terlibat dalam kegiatan penelitian (sedikit aktif hanya dalam kegiatan DIPA) Peneliti yang aktif dalam kegiatan penelitian kompetitif (baik sebagai koordinator maupun anggota) Data tidak tersedia Jumlah peneliti 111 (8.89%) 214 (17.13%) 238 (19.05%) 50 (4.00%) 636 (50.92%)
Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar peneliti LIPI (452 peneliti atau 36.19%) tergolong tidak banyak terlibat dalam kegiatan penelitian (kluster 2 dan 3). Sementara itu, peneliti yang tergolong aktif dalam kegiatan DIPA dan Iptekda (kluster 1) sebanyak 111 peneliti atau 8.89%. Sedangkan yang tergolong aktif dalam kegiatan Kompetitif (kluster 4) sebanyak 50 peneliti atau 4%.
Setelah melakukan pemetaan terhadap kompetensi dan beban kerja para peneliti LIPI, maka langkah penting selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan tabulasi silang antara kedua variabel tersebut yang didasari pada hasil analisis kluster yang telah dilakukan. Langkah ini menjadi penting sebagai bagian dari evaluasi terhadap para peneliti LIPI, apakah para peneliti yang telah banyak mengikuti kegiatan memeliki kompetensi yang lebih tinggi yang dapat dilihat dari kinerjanya yang baik. Hasil analisis tabulasi silang yang diperlihatkan Tabel 2 menunjukkan beberapa hal yang cukup menarik untuk diperhatikan. Pertama, meskipun para peneliti yang tergolong kurang atau bahkan tidak aktif dalam melakukan kegiatan penelitian (kluster 2 dan 3) berkontribusi paling besar terhadap kelompok peneliti yang berkinerja buruk atau mempunyai publikasi dan sitasi yang rendah (kluster 2), namun data juga menunjukkan bahwa peneliti yang aktif dalam kegiatan penelitian (kluster 1 dan 4) juga banyak berkontribusi terhadap kelompok peneliti berkinerja buruk (kluster 2). Artinya, banyak peneliti
peneliti yang aktif dalam kegiatan penelitian ternyata tidak mampu menghasilkan cukup banyak publikasi dan sitasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tabel 3. Tabulasi Silang Antara Kinerja dengan Beban Kerja Peneliti LIPI
kluster 1 (output sedang) kluster 2 (Output rendah) kluster 3 (output tinggi) kluster 4 (output sangat tinggi) Total kluster 1
(aktif DIPA dan Iptekda)
0.64% 8.25% 0.00% 0.00% 8.89%
kluster 2
(sedikit aktif dalam Iptekda)
1.20% 15.45% 0.40% 0.08% 17.13%
kluster 3
(sedikit aktif dalam DIPA)
1.12% 17.61% 0.16% 0.16% 19.06%
kluster 4
(aktif kompetitif)
0.40% 3.20% 0.40% 0.00% 4.00%
data tidak tersedia 3.68% 45.88% 0.72% 0.64% 50.92%
Total 7.05% 90.39% 1.68% 0.88% 100.00%
Hal kedua yang juga cukup menarik untuk diperhatikan adalah kelompok peneliti berkinerja baik (kluster 3 dan 4) dengan publikasi dan sitasi yang banyak justru merupakan peneliti yang tergolong kurang aktif dalam keikutsertaaanya di kegiatan penelitian baik DIPA, Kompetitif, maupun Iptekda (kluster 2 dan 3). Artinya, para peneliti yang berkinerja baik tersebut mampu menghasilkan publikasi dan sitasi yang banyak hanya dari sedikit kegiatan penelitian yang diikutinya.
Alokasi Pendanaan Kegiatan Penelitian LIPI
Pendanaan yang bersumber dari internal LIPI diperoleh dari anggaran DIPA yang besarnya terus meningkat dari tahun ke tahun, walaupun dengan porsi peningkatan yang tidak besar, yaitu sekitar 5 sampai 10% per tahun. Anggaran dari DIPA ini digunakan untuk membiayai kegiatan penelitian yang dapat dikelompokan menjadi program penelitian tematik, program penelitian kompetitif, program Iptekda, dan program penugasan khusus. Terkait dengan alokasi
jumlah kegiatan penelitian tematik di masing-masing satker sangat bervariasi. Variasi ini terlihat terutama antara satker eselon II (Puslit) dengan jumlah kegiatan penelitian yang banyak dan satker eselon III (UPT) dengan jumlah kegiatan penelitian yang jauh lebih sedikit. Variasi ini terutama sangat ditentukan oleh jumlah peneliti yang tersedia di masing-masing satker dan ukuran organisasi, disamping adanya kebijakan satker dengan berbagai tujuan. Antara lain adalah adanya kebijakan satker yang bertujuan untuk pemerataan, efektifitas sasaran penelitian dan tujuan percepatan peningkatan jenjang fungsional peneliti. Variasi juga tampak jelas jika dilihat dari jumlah pendanaan rata per kegiatan, rata-rata dana per peneliti dan rentangnya. Rata-rata-rata jumlah dana per kegiatan penelitian sangat bervariasi hampir sepuluh kali lipat, yaitu antara Rp. 32.555.333 sampai Rp. 310.948.333. Demikian juga variasi rata-rata dana per peneliti yang berkisar antara Rp. 6.666.667 sampai Rp. 62.189.667. Variasi jumlah pendanaan penelitian tematik juga terjadi antar satker dalam satu kedeputian.
Sementara itu, untuk pengalokasian dana penelitian kompetitif LIPI dan program iptekda dilakukan melalui metode seleksi yang kompetitif, sehingga hanya satker tertentu saja yang dapat lolos seleksi dan memperoleh dana penelitian dalam program ini. Pada tahun 2009, terdapat sekitar 24 satker, dengan perbandingan 18 dari eselon II (puslit) dan 6 dari eselon III (UPT dan Balai Besar), yang memperoleh dana program kompetitif. Dengan demikian beban kerja para peneliti di 24 satker tersebut menjadi bertambah, terutama untuk tiga puslit dengan jumlah kegiatan kompetitif lebih dari 10 kegiatan, yaitu Puslit Bioteknologi (14 kegiatan), Biologi dan Fisika masing-masing 13 kegiatan. Jika dibandingkan dengan alokasi pendanaan kegiatan penelitian tematik, variasi rata-rata anggaran untuk setiap kegiatan penelitian program kompetitif ini tidak terlalu besar. Variasi mencolok terjadi antara penelitian dengan topik sosial yang dilakukan PAPPIPTEK dan PSDR dengan topik penelitian teknologi yang dilakukan satker-satker di bawah Kedeputian IPH, IPK, IPT dan Jasil. Walaupun demikian, topik penelitian sosial lainnya yang dilakukan Puslit Politik, Ekonomi dan PMB mempunyai rata-rata anggaran yang hampir sama dengan topik penelitian teknologi. Jadi sebenarnya tidak cukup bukti untuk menyatakan adanya perbedaan jumlah nominal pendanaan antara penelitian kelompok sosial dengan kelompok teknologi. Sementara itu, jumlah pendanaan setiap kegiatan pada program iptekda lebih bervariatif dibandingkan program kompetitif, yaitu antara Rp. 121.059.260 sampai Rp.355.000.000. Seperti halnya pada program kompetitif, sebagian besar pelaksana program iptekda juga berasal dari puslit dibandingkan UPT/Balai Besar. Jumlah kegiatannya per puslit juga lebih sedikit dibandingkan program kompetitif dengan jumlah kegiatan terbanyak ada di UPT. BPPTK sebanyak 5 kegiatan. Selain itu, dua puslit pelaksana kegiatan terbanyak pada kegiatan kompetitif, yaitu Puslit Bioteknologi dan Biologi juga menjadi puslit dengan pelaksana terbanyak kedua dalam program iptekda.
Adanya fakta bahwa jumlah alokasi dana untuk setiap kegiatan penelitian tematik, output yang dihasilkan dan struktur tim penelitian sangat bervariatif antar satker, menyebabkan munculnya ide untuk membuat standar pendanaan dan struktur tim penelitian di LIPI yang ideal. Namun ternyata ide ini sulit untuk direalisasikan. Hasil diskusi terfokus (FGD) dengan para PME di lima kedeputian
menyimpulkan sulit untuk membuat standarisasi tersebut. Walaupun dalam diskusi tersebut telah dicoba membedakan antara penelitian lapangan yang menjadi ciri penelitian IPSK, penelitian laboratorium (Puslit fisika, kimia, dll) dan