F. Kerangka dan Definisi Konsep
Pada bagian ini akan dijelaskan tentang kerangka dan definisi konsep, yang diturunkan dari kerangka pemikiran di atas. Tujuannya adalah agar diperoleh acuan untuk memahami teks yang ada dalam proses penelitian ini sebagaimana frame yang digunakan untuk melihat persoalan dari penelitian kualitatif, agar bisa menjelaskan maksud penelitian ini.
Sebagaimana kerangka berpikir di atas, bahwa penelitian kualitatif ini akan mengkaji naskah‐naskah proses gugatan yudicial review tentang UU 32/2002 dari
tahun 2003‐2009, dengan kerangka berpikir analisis kebijakan Dunn untuk memperoleh latar belakang konstruksi pemikiran aktor media; kemudian menggunakan GPI Cuilenburg dan McQuail, serta RoM Bardoel dan d’Haenens untuk melihat orientasi dan pemikiran aktor media; kemudian menggunakan teori aktor‐
sistem dan teori CRT dan pertukaran simbolik untuk menjelaskan relasi yang dibangun dalam konstruksi pemikirannya.
Dengan frame atau kerangka berpikir seperti itu, kemudian nantinya bisa didapatkan peta pemikiran aktor media yang dihimpun dari sejumlah berkas dan naskah yang digunakan aktor media untuk mendesakkan domain konstruksi berpikirnya. Selain itu juga akan diperoleh perbedaan yang bermakna diantara para aktor media tersebut.
Adapun Definisi konsep tersebut adalah sebagai berikut :
1. Definisi permasalahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang bisa dipahami peneliti sebagai cara pandang aktor media melihat permasalahan sistem penyiaran atau latar belakang permasalahan tersebut dilihat sebagai apa dan dalam konteks apa dan tujuan apa yang ingin dicapai?
2. Standpoint statement yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang bisa dipahami peneliti sebagai inti pernyataan aktor media setelah melihat permasalahan secara keseluruhan, dalam bentuk tawaran dan upaya mengatasi permasalahan.
3. Pilihan sumber legitimasi atau rasionalisasi standpoint yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai argumentasi dan referensi atau rujukan yang dijadikan acuan aktor media tersebut dalam memperkuat pernyataan, tawaran atau penyelesaian masalah tersebut.
4. Isu Utama aktor media yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang bisa dipahami peneliti sebagai kata atau kalimat atau ungkapan yang digunakan oleh aktor media untuk mewakili atau sebagai simbolisasi pernyataannya.
5. Ideal Destination Aktor Media yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang bisa dipahami peneliti sebagai ungkapan aktor media untuk mendefinisikan poin‐poin yang dianggap penting yang digunakan untuk menjabarkan standpoint‐nya. Dalam ekspresi aktor media tersebut, setiap ungkapan akan coba dimasukkan dalam kategorisasi yang relevan dengan responsibilitynya, yaitu terhadap market, politik, public dan professional (yang ukurannya dijelaskan dalam penjelasan definisi konsepsional dibawah nanti).
Dalam hal ini, ekspresi aktor media tersebut dikategorisasikan ke dalam definisi konsep sebagai berikut :
a). Political welfare yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan yang bisa dipahami oleh peneliti sebagai upaya proses demokratisasi yang dilakukan dalam pandangan aktor media untuk menjamin kebebasan ekspresi dan komunikasi, persamaan dan partisipasi serta adanya jaminan terhadap akses dan isi komunikasi agar tercipta kesetaraan diantara warga dan menjamin terjadinya pertukaran dan penyampaian ide secara baik.
1). Kebebasan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah adanya ungkapan yang dipahami peneliti tentang bagaimana kebebasan itu dikelola dan bagaimana seharusnya dijalankan. Dalam hal ini menyangkut pandangan terhadap :
(a). Sensorship dalam penelitian yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai upaya bagaimana pandangan aktor media dalam hal melihat sebuah tayangan yang dianggap layak untuk ditayangkan. Apa ukuran dan siapa yang harus melakukan sensor kelayakan tayang ?
(b). kewajiban ralat berita dalam penelitian ini adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai suatu pandangan aktor media terhadap sebuah kerja jurnalistik yang sudah ditayangkan, akan tetapi memperoleh keberatan dari narasumber atau masyarakat atau ada kekeliruan dalam
proses produksi berita. Bagaimana proses pembetulannya dan siapa yang mengatur ?
(c). perijinan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media terhadap perlu (tidak)nya perijinan bagi lembaga penyiaran. Dan bagaimana serta siapa yang mengeluarkan perijinan ?
(d). kewenangan regulator dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang adanya lembaga yang menjadi regulator dan kewenangan yang harus dimiliki. Dalam hal ini menyangkut siapakah yang menjadi regulator dan seberapa jauh kewenangan regulator tersebut ?
2). Keleluasaan Akses dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media terhadap sejauhmana jangkauan lembaga media dalam memberi akses kepada masyarakat. Perlukah pembatasan audience, pembatasan pancaran dan bagaimana pelayanan terhadap kelompok masyarakat ?
3). Diversity dalam penelitian ini yang dikamsud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media terhadap keberagaman masyarakat yang menjadi audience dan bagaimana pengelolaan pelayanan lembaga penyiaran terhadap keberagaman masyarakat tersebut ?
4). Informasi dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang makna informasi dan bagaimana proses penyampaian pertukaran informasi diantara masyarakat dan dengan lembaga penyiaran ?
5). Kontrol/akuntabilitas dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang bagaimana dan siapa yang mengawasi proses pertukaran atau penyampaian informasi atau pesan, atau bagaimana lembaga penyiaran mempertanggungjawabkan isi siarannya ?
b). Economical Welfare dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media untuk membangun masyarakat informasi yang mempunyai kemampuan untuk menjamin (secara minimal) ketersediaan infrastruktur komunikasi, yang efisien, yang memberi kesejahteraan pekerja, dan memberikan profit sehingga terjadi interkoneksi yang memperkuat produksi nasional serta terciptanya efisiensi market.
Dalam hal ini, tingkat ukuran kesejahteraan ekonomi yang dimaksud diukur dengan :
1). Kepemilikan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti tentang bagaimana pendangan aktor media tentang pengaturan kepemilikan lembaga penyiaran yang efisien tetapi memperkuat produksi nasional dan tercipta pasar yang efisien. Apakah kepemilikan diberi kebebasan, ada pembatasan, atau ada pemerataan dan keberagaman kepemilikan atau adanya jaminan independensi ?
2). Iklan dan Sumber pembiayaan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti tentang bagaimana pandangan aktor media terhadap persoalan sumber pembiayaan lembaga penyiaran ? apakah di bebaskan mencari investor dan iklan, atau perlu ada penyertaan pemerintah, atau penyertaan masyarakat dalam bentuk iuran, atau sumber‐
sumber apapun yang tidak mengikat ?
3). Derajat kompetisi dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang bagaimana yang disebut dengan derajat kompetisi antar lembaga penyiaran tersebut.
Apakah kompetisi secara bebas, atau representasi secara ideologis, atau representasi komunitas ataukah atas dasar kemampuan penyampaian kualitas pesan dan informasi ?
4). Development dan kesejahteraan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang bagaimana lembaga penyiaran yang disebut mendorong
pembangunan dan kesejahteraan nasional tersebut. Apakah ukurannya berdasarkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi dan terciptanya iklim berusaha yang kompetitif dan terbuka, terciptanya keadilan social.
Ataukah membesarnya potensi modal social, ataukah terciptanya iklim demokratisasi yang semakin baik ?
c). Social Welfare dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media untuk memperkuat kohesi social dan terciptanya tatanan social yang berbasis nasional, regional, local, etnis dan bahasa; baik dalam bentuk dorongan memajukan nilai‐nilai yang kohesif maupun mencegah masuknya nilai‐nilai yang merusak kohesi social tersebut.
Dalam hal ini, ukuran yang digunakan adalah :
1). Akses Ketersedian pilihan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai upaya bagaimana pandangan aktor media terhadap ketersediaan pilihan informasi dan saluran bagi masyarakat untuk mengakses media sesuai dengan nilai‐nilai yang dikembangkannya 2). Penguatan identity dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai ukuran pandangan aktor media terhadap apa yang disebut dengan identitas social di masyarakat ? identitas manakah yang harus diperkuat ? dan bagaimana prose interaksi itu seharusnya terjadi.
3). Kohesi dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai upaya untuk memahami bagaimana pandangan aktor media memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memperkuat kohesi social; atas dasar minat, tujuan nasional, kesukarelaan ataukah sebuah proses pembelajaran bersama
d). Responsibility of media to market dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan yang melihat bahwa pertanggungjawaban media dilakukan melalui prinsip‐prinsip kompetisi yang dilakukan melalui perusahaan, didasarkan pada supply dan demand yang
menghasilkan suatu market share yang diperoleh melalui riset pasar. Efek yang ditimbulkan dari mekanisme market ini adalah tercapainya pertumbuhan ekonomi dan perilaku media yang lebih fleksibel, sehingga sering atau lebih banyak terjebak mengikuti kecenderungan pasar atau mainstream saja.
e). Responsibility of media to politic dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media yang melihat pertanggungjawaban media, yang prosesnya sangat mengikuti hirarki dan birokrasi, karena sumber tindakannya berasal dari aturan hukum dan regulasi, maka kewenangan dan kekuatan paksa bisa digunakan untuk mendorong keterlibatan pihak lain. Instrument yang digunakan untuk menjalankan mekanisme adalah kegiatan dan budget, kontrak, dan laporan tahunan. Efek dalam mekanisme politik ini adalah terciptanya keadilan social, tetapi sangat lambat dan mudah dikendalikan oleh pemilik kekuatan politik.
f). Responsibility of media to public adalah pandangan aktor media yang melihat pertanggungjawaban media dilakukan dengan prinsip kesukarelaan melalui asosiasi atau pressure group, sedangkan proses yang digunakan adalah diskusi dan dialog, sehingga jelas keterikatan yang bisa diharapkan untuk menunjukkan responsibitility‐nya hanyalah komitmen. Maka instrument yang bisa digunakan untuk mengawasi adalah keterbukaan, hearing dan feedback, serta adanya seseorang yang bertugas menjadi ombudsman.
g). Responsibility of media to proffesional dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media yang melihat pertanggungjawaban medianya dilakukan menggunakan prinsip kaidah profesional dan etika profesi, perilaku dibatasi oleh self‐regulation yang di buat komunitas professional, pendidikan dan pelatihan serta review dari komunitasnya. Instrument yang digunakan untuk menjalankan adalah ketentuan dan peraturan yang termuat di dalam kode etik, keputusan dewan
kehormatan profesi dan sebagainya. Efek yang ditimbulkan adalah independensi lebih kuat, tapi representatifnya sangat lemah.
G. METODOLOGI
1. Subyek Penelitian
Penelitian kualitatif mengenai pemetaan dan rekonstruksi pemikiran para aktor media di Indonesia dalam kasus gugatan UU 32/2002 di Mahkamah Konstitusi pada dasarnya adalah upaya untuk memetakan pemikiran aktor media terhadap konstruksi system penyiaran yang diinginkan dan dipahami oleh para aktor media. Sehingga proses gugatan yudicial review terhadap UU 32/2002 yang terjadi di Mahkamah Konstitusi pada nomer perkara No : 005/PUU‐I/2003, No : 030/PUU‐IV/2006, 031/SKLN‐IV/2006, dan No : 6/PUU‐VII/2009, merupakan teks yang dikaji untuk melihat konstruksi pemikiran yang menjadi dasar untuk melakukan pemetaan pemikiran aktor media tentang konstruksi terhadap sistem penyiaran yang dipahami dan dikehendaki aktor media.
Dalam proses guggatan tersebut, ada sejumlah aktor yang terlibat, yaitu Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI), PRSSNI, PPPI, ATVSI, Persatuan Sulih Suara Indonesia (PERSUSI), dan Komunitas Televisi, yang tergabung jadi satu dan aktif pada perkara gugatan No : 005/PUU‐I/2003. Sedangkan perkara No : 030/PUU‐IV/2006 dan No : 031/SKLN‐IV/2006 adalah materi gugatan yang dilakukan oleh KPI kepada Presiden c/q Menkominfo. Sedangkan dari kelompok masyarakat sebagai penikmat juga melakukan gugatan dengan perkara No : 6/PUU‐VII/2009 yang dilakukan bersama‐sama dalamsatu posisi oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat, anak‐anak Alfie Sekar Nadia (13) dan Faza Ibnu Ubaydillah (17).
Aktor media tersebut diatas adalah kelompok atau perorangan atau lembaga atau bagian masyarakat yang berkepentingan dalam proses komunikasi melalui media.
Atau setidaknya sejalan dengan kerangka pandangan Bardoel dan d’Haenens (2004) tentang aktor media, yaitu meliputi organisasi media, perusahaan media, warga, badan pengawas dan komisi.
Dalam penelitian ini, aktor‐aktor politik tersebut dikelompokkan berdasarkan posisi yang berbeda di dalam proses persidangan dalam gugatan bersangkutan, yaitu :
a. Kelompok Industri : Industri TV national beserta pendukungnya (yang meliputi IJTI, PRSSNI, P3I, ATVSI, Persusi, Komite Televisi dan ahli)
b. Kelompok Negara : yaitu pengampu UU 32/2002, yaitu Pemerintah, DPR RI dan ahli dan MK
c. Kelompok Masyarakat : yaitu KPI, IMLPC, KPA, KNPA, ahli
Tetapi dalam konteks untuk mengungkap apa yang terjadi disebaliknya, maka proses untuk mengkonstruksikan pemikiran dan posisi para aktor media, maka konstruksi tersebut diatas bisa lebih luas lagi. Terutama untuk melihat pemikiran dan posisi IJTI, PERSUSI dan Komunitas Televisi, atau posisi para saksi ahli yang dihadirkan aktor media.
2. Otentifikasi Penelitian
Sejauh yang diketahui peneliti, topik subyek dan materi penelitian ini belum pernah dilakukan. Wahjuni (2009) dalam disertasinya melakukan penelitian terhadap UU 32/2002 dengan menitikberatkan pada bagaimana isu strategis system penyiaran diperjuangkan, dan dilihat siapa yang konstruksinya lebih dominan. Aktor media di dalam penelitian ini direpresentasikan dalam struktur yang menjalankan kebijakan tersebut, dengan menggunakan indikator teori normative seperti security, freedom, equality, social responsibility dan accountability dengan frame ide, lembaga dan materi kebijakan.
Sedangkan Bimo Nugroho (2006) melakukan penelitian tentang lembaga penyiaran dalam perspektif KPI. Sebagai salah seorang komisioner di KPI, Bimo melakukan penelitian secara partisipatif dengan metode action research terutama dengan melihat semua dokumen‐dokumen yang dimiliki KPI dan semua kegiatan KPI yang dipergunakan untuk menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai pelaksanaan UU 32/2002. Penyusunan RPP tersebut, dilihatnya sebagai arena kontestasi Negara, Industry dan Masyarakat sipil dalam upaya untuk menyusun konstruksi
dominan. Aktor yang diidentifikasikan adalah Negara dan industri di satu pihak dengan KPI di pihak lainnya. 9
Pada penelitian Wahyuni melihat konstruksi UU 32/2002 dalam perspektif isu dan kelembagaan serta siapa yang dominan. Sedangkan Bimo melihat arena konstestasi yang dilakukan dalam penyusunan rancangan peraturan pemerintah. Sedangkan penelitian yang akan dikerjakan ini, adalah melihat UU 32/2002 sebagai arena kontestasi konstruksi pemikiran aktor media dalam system broadcasting di Indonesia yang diidealkan, terutama yang terlihat dalam persidangan MK RI. Sehingga penelitian ini, tidak melihat UU 32/2002 dalam konteks isu, struktur, dan konstruksi dominannya sistem penyiaran di Indonesia sebagaimana sudah dikaji Wahyuni. Penelitian ini, juga tidak melihat pertarungan representasi Negara, industry serta representasi publik, di dalam proses pembuatan rancangan peraturan pemerintah, sebagaimana sudah dikaji secara kritis oleh Bimo.
Jadi ada perbedaan dalam penelitian yang akan dilakukan saat ini. Fokus perhatiannya adalah melakukan rekonstruksi pemikiran system penyiaran dari para aktor media yang tertuang dalam proses gugatan yang di lakukan di Mahkamah Konsitusi terhadap UU No 32/2002 tentang penyiaran dalam kurun waktu 2003‐2009.
Oleh karena itu, arena konstestasi digunakan untuk mempertegas adanya perbedaan sekaligus menunjukkan konsistensi posisi pemikiran aktor media terhadap system penyiaran yang ingin diwujudkan. Sehingga dalam proses kontestasi tersebut bisa terlacak posisi aktor media dalam relasinya dengan aktor media lain maupun dengan system yang tercipta dari relasi yang dibangunnya.
3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian isi kualitatif.
Dalam penelitian ini teks yang dihadirkan oleh para aktor media dalam proses persidangan yudicial review di MK RI, merupakan subyek penelitian, yang dikelompokkan dalam kategorisasi sesuai topic yang bisa digunakan untuk melakukan
9 Penelitian tentang UU Penyiaran juga pernah dilakukan oleh Henri Subiyakto, untuk disertasinya di Unaair Surabaya.
analisis data. Bahan datanya meliputi berkas gugatan hak uji materiil, risalah persidangan, dan berkas keputusan MK RI.
Dengan menggunakan metode kualitatif verifikatif, menurut Neuman (1997) dan Bungin (2009) maka proses dilakukan secara induksi, yang masih terbuka terhadap teori, pengetahuan tentang data dan tidak mengharuskan peneliti menggunakan kacamata kuda.
Landasan teoritiknya mengacu pada pandangan konstruktivis‐kritis, yang mencoba mengungkap dan mengkontruksikan makna yang ada di balik yang Nampak.
Sedangkan untuk pengayaan terhadap perspektif untuk menguji realitas, maka digunakan metode triangulasi. Sumber data, peneliti dan teori, secara epistemologis terjadi keterlibatan interaksi sebagai aktivis yang memposisikan pada advokasi terhadap responsibility of media melalui mekanisme publik. Sehingga secara akademis masih bisa diphamai dalam paradigma kritis.
4. Paradigma
Paradigm yang digunakan dalam penelitian ini adalah konstruksi kritis. Hal itu dilakukan karena pemikiran aktor media tidak bisa dilepaskan dari pandangan ideologis dan posisi strukturalnya sesuai kepentingan yang melatarbelakanginya, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dengan posisi dan kedudukan secara politik, ekonomi dan social yang saling mempengaruhi.
Secara ontologis, realitas subyek penelitian yang dihadapi dalam penelitian ini dipandang sebagai bukan ekspresi yang sepenuhnya mencerminkan kondisi yang sebenarnya dari aktor media. Melainkan ekspresi taktis yang menyimpan maksud‐
maksud tertentu di belakangnya. Sehingga tindakan gugatan dan ekspresi penolakan dan argumentasinya terhadap pasal‐pasal yang dipermasalahkan, layak untuk diteleusuri lebih dalam lagi, untuk bisa melihat apa yang ada di sebalik tindakan yudicial review tersebut. Memang realitas subyek penelitian, sejujurnya sebenarnya juga menunjukkan makna‐makna yang perlu diinterpretasikan posisinya. Sehingga proses pemetaan dan rekonstruksi pemikiran aktor media tidak hanya berwujud bangunan konstruksi, tetapi
juga melihat secara kritis terhadap makna yang bisa diinterpretasikan. Oleh karena itulah, maka paradigm konstruktivis tetap digunakan untuk membantu proses interpretasi terhadap sebaran realitas yang ada.
Dalam posisi demikian itu, maka upaya penelitian ini adalah untuk memahami dan merekonstruksikan pemikiran aktor media, tetapi juga melakukan pensikapan secara kritis sehingga terbentuk transformasi untuk melakukan emansipasi dan pembelaan, untuk memunculkan tata nilai yang revisionistik dan nyata dialami di masyarakat (Guba dan Lincoln, 2009). 10
5. Desain penelitian dan Kerangka Analisis
Sebagaimana dikatakan Lawrence Neuman (1997) bahwa analisis data kualitatif dalam tipe idealnya dilakukan dengan melakukan kontras data dan analogi data, untuk memperoleh ketajaman analisis11, sehingga bisa didapatkan penggambaran perbedaan pemikiran dari aktor media. Dengan proses tersebut diharapkan akan memudahkan untuk melakukan pemetaan dan rekonstruksi pemikiran aktor media terhadap sistem penyiaran yang diperdebatkan dalam proses persidangan.
Oleh karena itu posisi general public interest (GPI) digunakan sebagai ukuran pembanding idealnya sebuah kebijakan nasional tentang sistem penyiaran dipakai disejajarkan untuk melihat posisi pemikiran aktor media secara utuh tentang sistem penyiaran yang diidealkan. Sedangkan responsibility of media, di jadikan model untuk mengkontraskan pemikiran diantara para aktor media sehingga bisa dibedakan secara jelas konstruksi utuh pemikiran para aktor media tersebut.
Adapun tahapan yang dilakukan adalah; pertama, teks dan narasi yang terdapat dalam berkas proses persidangan tersebut dikelompokkan berdasarkan pemikiran dari kelompok aktor media yang menjadi subyek penelitian. Dalam penelitian ini
10 Persandingan nilai ideologis dan emansipatoris dalam paradigm kritis dengan nilai social dan adaptif dalam paradigm konstruktivis, seringkali sulit untuk diketemukan, meskipun bukan berarti tidak bisa bertemu. Aktor media dengan aktor media, serta kemudian aktor media dengan sistem, dalam melakukan relasi selalu mencari titik yang bisa diakomodasi. Proses akomodasi itulah yang harus dipahami secara kritis dan konstruktivis.
11 Newman sebelumnya menguraikan tentang sejumlah model kerangka analisis data, yaitu successive approximation, the illustrative method, analytic comparison, dan domain analysis. Tetapi kemudian menawar analisis dengan ideal types. Lihat Neuman, LawrenceW; Social Research Methods: Qualitative and Quantitative approaches 3rd.ed, Allyn and Bacon, Boston, 1997.
pengelompokam aktor medianya adalah Kelompok Industry, Kelompok Negara, dan Kelompok Masyarakat.
Kedua, serpihan pemikiran para aktor media tersebut kemudian di dekati menurut pengkategorisasian atau klasisfikasi, penemuan ciri‐ciri umum kerangka konsep, seperti tersebut diatas. Untuk selanjut dilakukan proses kontras dan analogi pemikirannya, sehingga diperoleh sebaran pemikiran menurut sistimatika kerangka konsepnya tersebut. Proses ini akan dihasilkan kerangka pemikiran utuh aktor media berdasarkan standpoint‐statemen dan general public interes serta responsibility of media dengan menggunakan analisis interpretatif dan analisis kritis. Untuk membantu mengkonstruksikan hal tersebut, sebelumnya serpihakpemikiran tersebut dikonstruksikan dalam isu kebebasan, badan regulasi, kompetitif‐inivatif‐kesejateraan, akses‐identifitas‐integrasi sosial
Ketiga, Kemudian dilakukan konstruksi pemikiran aktor media untuk menghasilkan peta pemikirannya, kemudian di lakukan perbandingan sehingga ditemukan kontras pemikiran. Upaya membandingkan dan mengkontraskan pemikiran tersebut dilakukan dengan analisis silang yang mempertemukan perbedaan pemikiran aktor media terhadap poin‐poin kategoris yang bermakna. Sehingga kemudian dilakukan upaya deliberasi, dengan menggunakan ruang relasi dan negosiasi yang tersedia.
Keempat, dilakukan upaya untuk membuat kesimpulan terhadap temuan yang muncul dari pemetaan pemikiran aktor media dan perbandingan secara kontras, terutama untuk menghasilkan orientasi RoM dan proses relasi aktor‐sistemnya,.
Pada setiap tahapan tersebut analisis interpretaif dan kritis selalu digunakan untuk melakukan upaya transformasi serta pengujian dan pengayaan terhadap temuan dilakukan secara triangulasi.
Proses analisis tersebut, seperti tertuang di dalam tabel berikut ini :
Proses analisis tersebut, seperti tertuang di dalam tabel berikut ini :