• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka dan Definisi Konsep

Dalam dokumen HEROE POERWADI NIM : 08/275192/PSP/03368 (Halaman 35-0)

F. Kerangka dan Definisi Konsep 

Pada  bagian  ini  akan  dijelaskan  tentang  kerangka  dan  definisi  konsep,  yang  diturunkan  dari  kerangka  pemikiran  di  atas.  Tujuannya  adalah  agar  diperoleh  acuan  untuk memahami teks yang ada dalam proses penelitian ini sebagaimana frame yang  digunakan  untuk  melihat  persoalan  dari  penelitian  kualitatif,  agar  bisa  menjelaskan  maksud penelitian ini. 

Sebagaimana  kerangka  berpikir  di  atas,  bahwa  penelitian  kualitatif  ini  akan  mengkaji  naskah‐naskah  proses  gugatan  yudicial  review  tentang    UU  32/2002  dari 

tahun  2003‐2009,  dengan  kerangka  berpikir  analisis  kebijakan  Dunn  untuk  memperoleh  latar  belakang  konstruksi  pemikiran  aktor  media;  kemudian  menggunakan  GPI  Cuilenburg  dan  McQuail,  serta  RoM  Bardoel  dan  d’Haenens  untuk  melihat  orientasi  dan  pemikiran  aktor  media;  kemudian  menggunakan  teori  aktor‐

sistem dan teori CRT dan pertukaran simbolik untuk menjelaskan relasi yang dibangun  dalam konstruksi pemikirannya. 

Dengan  frame  atau  kerangka  berpikir  seperti  itu,  kemudian  nantinya  bisa  didapatkan  peta  pemikiran  aktor  media  yang  dihimpun  dari  sejumlah  berkas  dan  naskah  yang  digunakan  aktor  media  untuk  mendesakkan  domain  konstruksi  berpikirnya.  Selain  itu  juga  akan  diperoleh  perbedaan  yang  bermakna  diantara  para  aktor media tersebut. 

Adapun Definisi konsep tersebut adalah sebagai berikut : 

1. Definisi permasalahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan  yang  bisa  dipahami  peneliti  sebagai  cara  pandang  aktor  media  melihat  permasalahan  sistem  penyiaran  atau  latar  belakang  permasalahan  tersebut  dilihat sebagai apa dan dalam konteks apa dan tujuan apa yang ingin dicapai? 

2. Standpoint  statement  yang  dimaksud  dalam  penelitian  ini  adalah  ungkapan  yang  bisa  dipahami  peneliti  sebagai  inti  pernyataan  aktor  media  setelah  melihat permasalahan secara keseluruhan, dalam bentuk tawaran dan upaya  mengatasi permasalahan. 

3. Pilihan sumber legitimasi atau rasionalisasi standpoint yang dimaksud dalam  penelitian  ini  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  argumentasi  dan referensi atau rujukan yang dijadikan acuan aktor media tersebut dalam  memperkuat pernyataan, tawaran atau penyelesaian masalah tersebut. 

4. Isu Utama aktor media yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ungkapan  yang  bisa  dipahami  peneliti  sebagai  kata  atau  kalimat  atau  ungkapan  yang  digunakan  oleh  aktor  media  untuk  mewakili  atau  sebagai  simbolisasi  pernyataannya. 

5. Ideal  Destination  Aktor  Media  yang  dimaksud  dalam  penelitian  ini  adalah  ungkapan  yang  bisa  dipahami  peneliti  sebagai  ungkapan  aktor  media  untuk  mendefinisikan  poin‐poin  yang  dianggap  penting  yang  digunakan  untuk  menjabarkan  standpoint‐nya.  Dalam  ekspresi  aktor  media  tersebut,  setiap  ungkapan  akan  coba  dimasukkan  dalam  kategorisasi  yang  relevan  dengan  responsibilitynya,  yaitu  terhadap  market,  politik,  public  dan  professional  (yang ukurannya dijelaskan dalam penjelasan definisi konsepsional dibawah  nanti).  

Dalam  hal  ini,  ekspresi  aktor  media  tersebut  dikategorisasikan  ke  dalam  definisi konsep sebagai berikut : 

a).  Political  welfare  yang  dimaksud  dalam  penelitian  ini  adalah  ungkapan  yang  bisa  dipahami  oleh  peneliti  sebagai  upaya  proses  demokratisasi  yang  dilakukan  dalam  pandangan  aktor  media  untuk  menjamin  kebebasan  ekspresi  dan  komunikasi,  persamaan  dan  partisipasi  serta  adanya  jaminan  terhadap  akses  dan  isi  komunikasi  agar  tercipta  kesetaraan  diantara  warga  dan menjamin terjadinya pertukaran dan penyampaian ide secara baik. 

1). Kebebasan  yang dimaksud dalam penelitian ini adalah adanya ungkapan  yang  dipahami  peneliti  tentang  bagaimana  kebebasan  itu  dikelola  dan  bagaimana  seharusnya  dijalankan.  Dalam  hal  ini  menyangkut  pandangan  terhadap : 

(a).  Sensorship  dalam  penelitian  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  upaya  bagaimana  pandangan  aktor  media  dalam  hal  melihat  sebuah  tayangan  yang  dianggap  layak  untuk  ditayangkan.  Apa  ukuran  dan  siapa  yang  harus  melakukan  sensor  kelayakan tayang ? 

(b).  kewajiban  ralat  berita  dalam  penelitian  ini  adalah  ungkapan  yang  dipahami peneliti sebagai suatu pandangan aktor media terhadap sebuah  kerja  jurnalistik  yang  sudah  ditayangkan,  akan  tetapi  memperoleh  keberatan  dari  narasumber  atau  masyarakat  atau  ada  kekeliruan  dalam 

proses produksi berita. Bagaimana proses pembetulannya dan siapa yang  mengatur ? 

(c).  perijinan  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  terhadap  perlu  (tidak)nya  perijinan  bagi  lembaga  penyiaran.  Dan  bagaimana  serta  siapa  yang mengeluarkan perijinan ? 

(d).  kewenangan  regulator  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang  adanya  lembaga  yang  menjadi  regulator  dan  kewenangan  yang  harus  dimiliki.  Dalam  hal  ini  menyangkut  siapakah  yang  menjadi  regulator  dan  seberapa jauh kewenangan regulator tersebut ? 

2).  Keleluasaan  Akses  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  terhadap  sejauhmana  jangkauan  lembaga  media  dalam  memberi  akses  kepada  masyarakat.  Perlukah  pembatasan  audience,  pembatasan  pancaran  dan  bagaimana pelayanan terhadap kelompok masyarakat ? 

3).  Diversity  dalam  penelitian  ini  yang  dikamsud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  terhadap  keberagaman  masyarakat  yang  menjadi  audience  dan  bagaimana  pengelolaan  pelayanan  lembaga penyiaran terhadap keberagaman masyarakat tersebut ? 

4).  Informasi  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang makna informasi  dan  bagaimana  proses  penyampaian  pertukaran  informasi  diantara  masyarakat dan dengan lembaga penyiaran ? 

5).  Kontrol/akuntabilitas  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  tentang  bagaimana dan siapa yang mengawasi proses pertukaran atau penyampaian  informasi  atau  pesan,  atau  bagaimana  lembaga  penyiaran  mempertanggungjawabkan isi siarannya ? 

b).  Economical  Welfare  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  untuk  membangun  masyarakat informasi yang mempunyai kemampuan untuk menjamin (secara  minimal) ketersediaan infrastruktur komunikasi, yang efisien, yang memberi  kesejahteraan pekerja, dan memberikan profit sehingga terjadi interkoneksi  yang memperkuat produksi nasional serta terciptanya efisiensi market. 

Dalam  hal  ini,  tingkat  ukuran  kesejahteraan ekonomi  yang  dimaksud  diukur  dengan :  

1).  Kepemilikan  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  tentang  bagaimana  pendangan  aktor  media  tentang  pengaturan kepemilikan lembaga penyiaran yang efisien tetapi memperkuat  produksi nasional dan tercipta pasar yang efisien. Apakah kepemilikan diberi  kebebasan,  ada  pembatasan,  atau  ada  pemerataan  dan  keberagaman  kepemilikan atau adanya jaminan independensi ? 

2). Iklan dan Sumber pembiayaan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  tentang  bagaimana  pandangan  aktor  media terhadap persoalan sumber pembiayaan lembaga penyiaran ? apakah  di  bebaskan  mencari  investor  dan  iklan,  atau  perlu  ada  penyertaan  pemerintah, atau penyertaan masyarakat dalam bentuk iuran, atau sumber‐

sumber apapun yang tidak mengikat ? 

3).  Derajat  kompetisi  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media tentang bagaimana  yang  disebut  dengan  derajat  kompetisi  antar  lembaga  penyiaran  tersebut. 

Apakah  kompetisi  secara  bebas,  atau  representasi  secara  ideologis,  atau  representasi  komunitas  ataukah  atas  dasar  kemampuan  penyampaian  kualitas pesan dan informasi ? 

4).  Development  dan  kesejahteraan  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai    pandangan  aktor  media  tentang  bagaimana  lembaga  penyiaran  yang  disebut  mendorong 

pembangunan  dan  kesejahteraan  nasional  tersebut.  Apakah  ukurannya  berdasarkan  pertumbuhan  ekonomi  nasional  yang  tinggi  dan  terciptanya  iklim  berusaha  yang  kompetitif  dan  terbuka,    terciptanya  keadilan  social. 

Ataukah  membesarnya  potensi  modal  social,  ataukah  terciptanya  iklim  demokratisasi yang semakin baik ? 

c).  Social  Welfare  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami peneliti sebagai pandangan aktor media untuk memperkuat kohesi  social  dan  terciptanya  tatanan  social  yang  berbasis  nasional,  regional,  local,  etnis  dan  bahasa;  baik  dalam  bentuk  dorongan  memajukan  nilai‐nilai  yang  kohesif  maupun  mencegah  masuknya  nilai‐nilai  yang  merusak  kohesi  social  tersebut. 

Dalam hal ini, ukuran yang digunakan adalah : 

1).  Akses  Ketersedian  pilihan  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan yang dipahami peneliti sebagai upaya bagaimana pandangan aktor  media terhadap ketersediaan pilihan informasi dan saluran bagi masyarakat  untuk mengakses media sesuai dengan nilai‐nilai yang dikembangkannya  2). Penguatan identity dalam penelitian ini yang dimaksud adalah ungkapan  yang dipahami peneliti sebagai ukuran pandangan aktor media terhadap apa  yang disebut dengan identitas social di masyarakat ? identitas manakah yang  harus diperkuat ? dan bagaimana prose interaksi itu seharusnya terjadi. 

3).  Kohesi  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  upaya  untuk  memahami  bagaimana  pandangan  aktor  media  memberikan  pelayanan  kepada  masyarakat  yang  memperkuat  kohesi  social;  atas  dasar  minat,  tujuan  nasional,  kesukarelaan  ataukah  sebuah proses pembelajaran bersama 

d). Responsibility of media to market dalam penelitian ini yang dimaksud adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  yang  melihat  bahwa  pertanggungjawaban media dilakukan melalui prinsip‐prinsip kompetisi yang  dilakukan  melalui  perusahaan,  didasarkan  pada  supply  dan  demand  yang 

menghasilkan  suatu  market  share  yang  diperoleh  melalui  riset  pasar.  Efek  yang  ditimbulkan  dari  mekanisme  market  ini  adalah  tercapainya  pertumbuhan  ekonomi  dan  perilaku  media  yang  lebih  fleksibel,  sehingga  sering  atau  lebih  banyak  terjebak  mengikuti  kecenderungan  pasar  atau  mainstream saja.   

e).  Responsibility  of  media  to  politic  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  yang  melihat  pertanggungjawaban  media,  yang  prosesnya  sangat  mengikuti  hirarki dan birokrasi, karena sumber tindakannya berasal dari aturan hukum  dan  regulasi,  maka  kewenangan  dan  kekuatan  paksa  bisa  digunakan  untuk  mendorong  keterlibatan  pihak  lain.  Instrument  yang  digunakan  untuk  menjalankan  mekanisme  adalah  kegiatan  dan  budget,  kontrak,  dan  laporan  tahunan. Efek dalam mekanisme politik ini adalah terciptanya keadilan social,  tetapi sangat lambat dan mudah dikendalikan oleh pemilik kekuatan politik.  

f). Responsibility of media to public adalah pandangan aktor media yang melihat  pertanggungjawaban  media  dilakukan  dengan  prinsip  kesukarelaan  melalui  asosiasi  atau  pressure  group,  sedangkan  proses  yang  digunakan  adalah  diskusi  dan  dialog,  sehingga  jelas  keterikatan  yang  bisa  diharapkan  untuk  menunjukkan responsibitility‐nya hanyalah komitmen. Maka instrument yang  bisa digunakan untuk mengawasi adalah keterbukaan, hearing dan feedback,  serta adanya seseorang yang bertugas menjadi ombudsman.  

g).  Responsibility  of  media  to  proffesional  dalam  penelitian  ini  yang  dimaksud  adalah  ungkapan  yang  dipahami  peneliti  sebagai  pandangan  aktor  media  yang melihat pertanggungjawaban medianya dilakukan menggunakan prinsip  kaidah  profesional  dan  etika  profesi,  perilaku  dibatasi  oleh  self‐regulation  yang di buat komunitas professional, pendidikan dan pelatihan serta review  dari  komunitasnya.  Instrument  yang  digunakan  untuk  menjalankan  adalah  ketentuan dan peraturan yang termuat di dalam kode etik, keputusan dewan 

kehormatan  profesi  dan  sebagainya.  Efek  yang  ditimbulkan  adalah  independensi lebih kuat, tapi representatifnya sangat lemah. 

   G. METODOLOGI 

1. Subyek Penelitian 

Penelitian  kualitatif  mengenai  pemetaan  dan  rekonstruksi  pemikiran  para  aktor  media  di  Indonesia  dalam  kasus  gugatan  UU  32/2002  di  Mahkamah  Konstitusi  pada  dasarnya  adalah  upaya  untuk  memetakan  pemikiran  aktor  media  terhadap  konstruksi  system penyiaran yang diinginkan dan dipahami oleh para aktor media. Sehingga proses  gugatan yudicial review terhadap UU 32/2002 yang terjadi di Mahkamah Konstitusi pada  nomer  perkara  No  :  005/PUU‐I/2003,  No  :  030/PUU‐IV/2006,    031/SKLN‐IV/2006,  dan  No  :  6/PUU‐VII/2009,  merupakan  teks  yang  dikaji  untuk  melihat  konstruksi  pemikiran  yang  menjadi  dasar  untuk  melakukan  pemetaan  pemikiran  aktor  media  tentang  konstruksi terhadap sistem penyiaran yang dipahami dan dikehendaki aktor media. 

Dalam  proses  guggatan  tersebut,  ada  sejumlah  aktor  yang  terlibat,  yaitu  Ikatan  Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI), PRSSNI, PPPI, ATVSI, Persatuan Sulih Suara Indonesia  (PERSUSI),  dan  Komunitas  Televisi,  yang  tergabung  jadi  satu  dan  aktif  pada  perkara  gugatan  No  :  005/PUU‐I/2003.  Sedangkan  perkara  No  :  030/PUU‐IV/2006  dan  No  :  031/SKLN‐IV/2006 adalah materi gugatan yang dilakukan oleh KPI kepada Presiden c/q  Menkominfo.  Sedangkan  dari  kelompok  masyarakat  sebagai  penikmat  juga  melakukan  gugatan dengan perkara No : 6/PUU‐VII/2009 yang dilakukan bersama‐sama dalamsatu  posisi  oleh  Komisi  Nasional  Perlindungan  Anak  (KNPA),  Lembaga  Perlindungan  Anak  (LPA) Jawa Barat, anak‐anak Alfie Sekar Nadia (13) dan Faza Ibnu Ubaydillah (17). 

Aktor  media  tersebut  diatas  adalah  kelompok  atau  perorangan  atau  lembaga  atau bagian masyarakat yang berkepentingan dalam proses komunikasi melalui media. 

Atau  setidaknya  sejalan  dengan  kerangka  pandangan  Bardoel  dan  d’Haenens  (2004)  tentang aktor media, yaitu meliputi organisasi media, perusahaan media, warga, badan  pengawas  dan komisi.  

Dalam  penelitian  ini,  aktor‐aktor  politik  tersebut  dikelompokkan  berdasarkan  posisi yang berbeda di dalam proses persidangan dalam gugatan bersangkutan, yaitu : 

a. Kelompok  Industri  :  Industri  TV  national  beserta  pendukungnya  (yang  meliputi IJTI, PRSSNI, P3I, ATVSI, Persusi, Komite Televisi dan ahli) 

b. Kelompok  Negara  :  yaitu  pengampu  UU  32/2002,  yaitu  Pemerintah,  DPR  RI  dan ahli dan MK 

c. Kelompok Masyarakat : yaitu KPI, IMLPC, KPA, KNPA, ahli 

Tetapi  dalam  konteks  untuk  mengungkap  apa  yang  terjadi  disebaliknya,  maka  proses  untuk  mengkonstruksikan  pemikiran  dan  posisi  para  aktor  media,  maka  konstruksi  tersebut  diatas  bisa  lebih  luas  lagi.  Terutama  untuk  melihat  pemikiran  dan  posisi  IJTI,  PERSUSI  dan  Komunitas  Televisi,  atau  posisi  para  saksi  ahli  yang  dihadirkan  aktor media. 

 

2. Otentifikasi Penelitian 

Sejauh  yang  diketahui  peneliti,  topik  subyek  dan  materi  penelitian  ini  belum  pernah  dilakukan.  Wahjuni  (2009)  dalam  disertasinya  melakukan  penelitian  terhadap  UU  32/2002  dengan  menitikberatkan  pada  bagaimana  isu  strategis  system  penyiaran  diperjuangkan,  dan  dilihat  siapa  yang  konstruksinya  lebih  dominan.  Aktor  media  di  dalam  penelitian  ini  direpresentasikan  dalam  struktur  yang  menjalankan  kebijakan  tersebut,  dengan  menggunakan  indikator  teori  normative  seperti  security,  freedom,  equality, social responsibility dan accountability dengan frame ide, lembaga dan materi  kebijakan.  

Sedangkan  Bimo  Nugroho  (2006)  melakukan  penelitian  tentang  lembaga  penyiaran  dalam  perspektif  KPI.  Sebagai  salah  seorang  komisioner  di  KPI,  Bimo  melakukan  penelitian  secara  partisipatif  dengan  metode  action  research  terutama  dengan  melihat  semua  dokumen‐dokumen  yang  dimiliki  KPI  dan  semua  kegiatan  KPI  yang  dipergunakan  untuk  menyusun  Rancangan  Peraturan  Pemerintah  (RPP)  sebagai  pelaksanaan UU 32/2002. Penyusunan RPP tersebut, dilihatnya sebagai arena kontestasi  Negara,  Industry  dan  Masyarakat  sipil  dalam  upaya  untuk  menyusun  konstruksi 

dominan. Aktor yang diidentifikasikan adalah Negara dan industri di satu pihak dengan  KPI di pihak lainnya. 9 

Pada  penelitian  Wahyuni  melihat  konstruksi  UU  32/2002  dalam  perspektif  isu  dan kelembagaan serta siapa yang dominan. Sedangkan Bimo melihat arena konstestasi  yang  dilakukan  dalam  penyusunan  rancangan  peraturan  pemerintah.  Sedangkan  penelitian yang akan dikerjakan ini, adalah melihat UU 32/2002 sebagai arena kontestasi  konstruksi  pemikiran  aktor  media  dalam  system  broadcasting  di  Indonesia  yang  diidealkan,  terutama  yang  terlihat  dalam  persidangan  MK  RI.  Sehingga  penelitian  ini,  tidak  melihat  UU  32/2002  dalam  konteks  isu,  struktur,  dan  konstruksi  dominannya  sistem  penyiaran  di  Indonesia  sebagaimana  sudah  dikaji  Wahyuni.  Penelitian  ini,  juga  tidak  melihat  pertarungan  representasi  Negara,  industry  serta  representasi  publik,  di  dalam  proses  pembuatan  rancangan  peraturan  pemerintah,  sebagaimana  sudah  dikaji  secara kritis oleh Bimo. 

Jadi  ada  perbedaan  dalam  penelitian  yang  akan  dilakukan  saat  ini.  Fokus  perhatiannya  adalah  melakukan  rekonstruksi  pemikiran  system  penyiaran  dari  para  aktor  media  yang  tertuang  dalam  proses  gugatan  yang  di  lakukan  di  Mahkamah  Konsitusi  terhadap  UU  No  32/2002  tentang  penyiaran  dalam  kurun  waktu  2003‐2009. 

Oleh  karena  itu,  arena  konstestasi  digunakan  untuk  mempertegas  adanya  perbedaan  sekaligus  menunjukkan  konsistensi  posisi  pemikiran  aktor  media  terhadap  system  penyiaran  yang  ingin  diwujudkan.  Sehingga  dalam  proses  kontestasi  tersebut  bisa  terlacak  posisi  aktor  media  dalam  relasinya  dengan  aktor  media  lain  maupun  dengan  system yang tercipta dari relasi yang dibangunnya. 

 

3. Metode Penelitian 

Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah  metode  penelitian  isi  kualitatif.  

Dalam  penelitian  ini  teks  yang  dihadirkan  oleh  para  aktor  media  dalam  proses  persidangan  yudicial  review  di  MK  RI,  merupakan  subyek  penelitian,  yang  dikelompokkan  dalam  kategorisasi  sesuai  topic  yang  bisa  digunakan  untuk  melakukan        

9 Penelitian tentang UU Penyiaran juga pernah dilakukan oleh Henri Subiyakto, untuk disertasinya di Unaair  Surabaya. 

analisis  data.  Bahan  datanya  meliputi  berkas  gugatan  hak  uji  materiil,  risalah  persidangan, dan berkas keputusan MK RI. 

Dengan  menggunakan  metode  kualitatif  verifikatif,  menurut  Neuman  (1997)  dan Bungin (2009) maka proses dilakukan secara induksi, yang masih terbuka terhadap  teori,  pengetahuan  tentang  data  dan  tidak  mengharuskan  peneliti  menggunakan  kacamata kuda.  

Landasan  teoritiknya  mengacu  pada  pandangan  konstruktivis‐kritis,  yang  mencoba  mengungkap  dan  mengkontruksikan  makna  yang  ada  di  balik  yang  Nampak. 

Sedangkan    untuk  pengayaan  terhadap  perspektif  untuk  menguji  realitas,  maka  digunakan  metode  triangulasi.  Sumber  data,  peneliti  dan  teori,  secara  epistemologis  terjadi keterlibatan interaksi sebagai aktivis yang memposisikan pada advokasi terhadap  responsibility of media melalui mekanisme publik. Sehingga secara akademis masih bisa  diphamai dalam paradigma kritis. 

  4. Paradigma  

Paradigm  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  konstruksi  kritis.  Hal  itu  dilakukan karena pemikiran aktor media tidak bisa dilepaskan dari pandangan ideologis  dan posisi strukturalnya sesuai kepentingan yang melatarbelakanginya, tetapi juga tidak  bisa  dilepaskan  dengan  posisi  dan  kedudukan  secara  politik,  ekonomi  dan  social  yang  saling mempengaruhi. 

Secara ontologis, realitas subyek penelitian yang dihadapi dalam penelitian ini  dipandang  sebagai  bukan  ekspresi  yang  sepenuhnya  mencerminkan  kondisi  yang  sebenarnya  dari  aktor  media.  Melainkan  ekspresi  taktis  yang  menyimpan  maksud‐

maksud  tertentu  di  belakangnya.  Sehingga  tindakan  gugatan  dan  ekspresi  penolakan  dan argumentasinya terhadap pasal‐pasal yang dipermasalahkan, layak untuk diteleusuri  lebih  dalam  lagi,  untuk  bisa  melihat  apa  yang  ada  di  sebalik  tindakan  yudicial  review  tersebut. Memang realitas subyek penelitian, sejujurnya sebenarnya juga menunjukkan  makna‐makna  yang  perlu  diinterpretasikan  posisinya.  Sehingga  proses  pemetaan  dan  rekonstruksi  pemikiran aktor  media  tidak  hanya  berwujud bangunan  konstruksi,  tetapi 

juga  melihat  secara  kritis  terhadap  makna  yang  bisa  diinterpretasikan.  Oleh  karena  itulah,  maka  paradigm  konstruktivis  tetap  digunakan  untuk  membantu  proses  interpretasi terhadap sebaran realitas yang ada. 

 Dalam  posisi  demikian  itu,  maka  upaya  penelitian  ini  adalah  untuk  memahami  dan  merekonstruksikan  pemikiran  aktor  media,  tetapi  juga  melakukan  pensikapan  secara  kritis  sehingga  terbentuk  transformasi  untuk  melakukan  emansipasi  dan  pembelaan,  untuk  memunculkan  tata  nilai  yang  revisionistik  dan  nyata  dialami  di  masyarakat (Guba dan Lincoln, 2009). 10 

  

5. Desain penelitian dan Kerangka Analisis 

Sebagaimana dikatakan Lawrence Neuman (1997) bahwa analisis data kualitatif  dalam tipe idealnya dilakukan dengan melakukan kontras data dan analogi data, untuk  memperoleh  ketajaman  analisis11,  sehingga  bisa  didapatkan  penggambaran  perbedaan  pemikiran  dari  aktor  media.  Dengan  proses  tersebut  diharapkan  akan  memudahkan  untuk  melakukan  pemetaan  dan  rekonstruksi  pemikiran  aktor  media  terhadap  sistem  penyiaran yang diperdebatkan dalam proses persidangan. 

Oleh  karena  itu  posisi  general  public  interest  (GPI)  digunakan  sebagai  ukuran  pembanding  idealnya  sebuah  kebijakan  nasional  tentang  sistem  penyiaran  dipakai  disejajarkan  untuk  melihat  posisi  pemikiran  aktor  media  secara  utuh  tentang  sistem  penyiaran  yang  diidealkan.  Sedangkan  responsibility  of  media,  di  jadikan  model  untuk  mengkontraskan  pemikiran  diantara  para  aktor  media  sehingga  bisa  dibedakan  secara  jelas konstruksi utuh pemikiran para aktor media tersebut. 

Adapun tahapan yang dilakukan adalah; pertama, teks dan narasi yang terdapat  dalam  berkas  proses  persidangan  tersebut  dikelompokkan  berdasarkan  pemikiran  dari  kelompok  aktor  media  yang  menjadi  subyek  penelitian.  Dalam  penelitian  ini        

10 Persandingan nilai ideologis dan emansipatoris dalam paradigm kritis dengan nilai social dan adaptif dalam paradigm konstruktivis, seringkali  sulit untuk diketemukan, meskipun bukan berarti tidak bisa bertemu. Aktor media dengan aktor media, serta kemudian aktor media dengan  sistem,  dalam  melakukan  relasi  selalu  mencari  titik  yang  bisa  diakomodasi.  Proses  akomodasi  itulah  yang  harus  dipahami  secara  kritis  dan  konstruktivis. 

11 Newman sebelumnya menguraikan tentang sejumlah model kerangka analisis data, yaitu successive approximation, the illustrative method,  analytic comparison, dan domain analysis. Tetapi kemudian menawar analisis dengan ideal types. Lihat Neuman, LawrenceW; Social Research  Methods: Qualitative and Quantitative approaches 3rd.ed, Allyn and Bacon, Boston, 1997.  

pengelompokam  aktor  medianya  adalah  Kelompok  Industry,  Kelompok  Negara,  dan  Kelompok Masyarakat.  

Kedua,  serpihan  pemikiran  para  aktor  media  tersebut  kemudian  di  dekati  menurut  pengkategorisasian  atau  klasisfikasi,  penemuan  ciri‐ciri  umum  kerangka  konsep,  seperti  tersebut  diatas.  Untuk  selanjut  dilakukan  proses  kontras  dan  analogi  pemikirannya,  sehingga  diperoleh  sebaran  pemikiran  menurut  sistimatika  kerangka  konsepnya  tersebut.  Proses  ini  akan  dihasilkan  kerangka  pemikiran  utuh  aktor  media  berdasarkan  standpoint‐statemen  dan  general  public  interes  serta  responsibility  of   media  dengan  menggunakan  analisis  interpretatif  dan  analisis  kritis.  Untuk  membantu  mengkonstruksikan  hal  tersebut,  sebelumnya  serpihakpemikiran  tersebut  dikonstruksikan  dalam  isu  kebebasan,  badan  regulasi,  kompetitif‐inivatif‐kesejateraan,  akses‐identifitas‐integrasi sosial 

Ketiga,  Kemudian  dilakukan  konstruksi  pemikiran  aktor  media  untuk  menghasilkan  peta  pemikirannya,  kemudian  di  lakukan  perbandingan  sehingga  ditemukan  kontras  pemikiran.  Upaya  membandingkan  dan  mengkontraskan  pemikiran  tersebut  dilakukan  dengan  analisis  silang  yang  mempertemukan  perbedaan  pemikiran  aktor media terhadap poin‐poin kategoris yang bermakna. Sehingga kemudian dilakukan  upaya deliberasi, dengan menggunakan ruang relasi dan negosiasi yang tersedia. 

  Keempat, dilakukan upaya untuk membuat kesimpulan terhadap temuan yang  muncul  dari  pemetaan  pemikiran  aktor  media  dan  perbandingan  secara  kontras,  terutama untuk menghasilkan orientasi RoM dan proses relasi aktor‐sistemnya,.  

Pada  setiap  tahapan  tersebut  analisis  interpretaif  dan  kritis  selalu  digunakan  untuk melakukan upaya transformasi serta pengujian dan pengayaan terhadap temuan  dilakukan secara triangulasi.  

Proses analisis tersebut, seperti tertuang di dalam tabel berikut ini : 

Proses analisis tersebut, seperti tertuang di dalam tabel berikut ini : 

Dalam dokumen HEROE POERWADI NIM : 08/275192/PSP/03368 (Halaman 35-0)