dalam pengambilan kebijakan. Begitu juga representasi kelompok dan partai politik telah berubah menjadi diwakili oleh individu‐individu13. Dengan demikian bisa dikatakan, proses munculnya nilai lokalisasi ini adalah respon terhadap gelombang globalisasi dan liberalisasi social, ekonomi dan politik.
B. Relasi Aktor Media dalam Sistem Penyiaran
Selain itu, terintegrasinya konsep GPI, RoM dan model relasi aktor media di dalam konstruksi kebijakan nasional sistem penyiaran akan memberikan jaminan terbangunan sistem penyiaran yang demokratis. Model pertanggungjawaban media (RoM) dalam mekanisme pasar, menurut Bardoel dan d’Haenes (2004) akan memberikan hak yang sama dan tidak mengikat, kepada setiap aktor media dalam memunculkan wacana, perdebatan atau mendialogkan tentang perbedaan untuk menghasilkan suatu opini publik. Model mekanisme ini juga menjamin sistem yang dibangun dan berlangsung sangat fleksibel, adaptif dan responsive untuk memenuhi dan melayani kepentingan struktur masyarakat yang beragam (McQuail, 2000), disamping yang utama mengejar profit (Croteau dan Hoynes, 2000). Menurut Meyer dan Hinchmann (2002) para pendukung pasar bebas mengasumsikan bahwa tingkat kompetisi yang bebas, akan melahirkan program acara dan korporasi penyiaran yang
sebagaimana dikatakan Ambardi (Ambardi, Kuskrido; Politik dan Proses Kartelisasi, Gramedia, Jakarta, 2009) menunjukkan adanya
kemungkinan kepentingan bersama politik, yang posisinya tidak sangat otonom dalam beberapa kebijakan. Apalagi warisan rezim Orde Baru, yang mengembangkan hubungan patron klien, belumlah lepas sepenuhnya.
13 Dalam kasanah teori Demokrasi, kesamaan hak diantara warga yang diwujudkan di dalam partisipasi “one man, one vote, one value” di masukkan ke dalam kelompok teori liberal individualism, yang berbeda dengan teori pluralist political democracy yang menjadikan keterlibatan dan kepentingan individu di representasikan ke dalam kelompok kepentingan atau partai politik. Pitkin membangun konsepsi tentang representasi dalam tiga konsepsi yaitu representasi simbolik, representasi deskriptif dan representasi substantive. Media massa dan kelompok kepentingan bisa merepresentasikan secara simbolik karena tingkat penerimaaan untuk mewakili masyarakat cukup tinggi. Organisasi massa, kelompok kesukuan, kelompok wilayah bisa merepresentasikan secara deskriptif karena mempunyai kemiripan yang tinggi dengan masyarakat yang diwakilinya. Sedang representasi substantive menganggap kelompok yang bisa memperjuangkan dan mengadvokasi kepentingan masyarakat seperti LSM atau lembaga advokasi bisa menjadi representasi perjuangan kepentingan masyarakat (lihat Erawan, Ketut Putra, The Politics of Intstitusional Design in Indonesia: Substantiating Territorial and Women Representation in the New Package of Political Laws Debates, A Preliminary Report Paper Submitted At the NUFU Research Projects Meeting In Kuala Lumpur Malaysia, 30 November – 4 December 2007).
terbaik. Sebab hanya lembaga penyiaran yang mampu menyajikan program yang terbaik saja yang akan disukai masyarakat dan terus bisa eksis dan sehat bisnisnya. Korporasi yang sehat itulah yang mampu mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi nasional meningkat dan akan membawa kesejahteraan individu dan masyarakat.
Model dengan mekanisme pasar yang terlihat bersifat demokratis dan otonom ini, menyimpan persoalan serius. Yaitu (1) menjadikan warga sebagai obyek konsumerisme yang sifatnya yang dinamis, sehingga lembaga penyiaran lebih leluasa berupaya mengejar rating yang tinggi, degan menabrak aturan yang ada.14 Sebagaimana tergambar di dalam laporan tahunan KPI tahun 2008 (Sendjaja dkk, 2009), pelanggaran dilakukan berulang‐ulang, karena tidak ada sangsi yang membuat jera pelaku penyiaran.
Kondisi tersebut tidak lepas dari asumsi kesejahteraan yang dibayangkan melalui mekanisme pasar ini. Tingkat kompetisi dilakukan dengan inovasi pelayanan ke masyarakat sebagai konsumen dalam upaya peningkatan nilai jual barang produksinya yang akan berimbas kepada peningkatan pendapatan corporate dan kesejahteraan pekerja pendukung acaranya15. Bahkan struktur ekonomi nasional dan masyarakat juga akan mengalami kenaikan, jika banyak corporate bisa memenangkan persaingan dalam berkompetisi.16 (2) warga yang terlayani adalah warga yang mempunyai potensi ekonomi tinggi, sehingga kelompok warga yang potensi ekonominya rendah dan wilayah geografis terpencil terancam tidak terlayani oleh lembaga penyiaran, yang berarti tidak terlibat dalam publicsphere untuk proses aktif pertukaran ide. Jadi singkatnya
14 Surat peringatan dari KPI kepada stasiun penyiaran yang dianggap menyimpang tidak menjadikan jera dan takut untuk melakukan pelanggaran lagi. Bahkan jika direkapitulasi, jumlah surat peringatan yang diberikan kepada stasiun TV, setiap lembaga penyiaran mengantongi puluhan setiap tahunnya. Program acara “Empat Mata” sudah berkali‐kali diperingatkan, sampai akhirnya dihentikan sementara penayangannya oleh KPI. Tapi toh tetap muncul dengan judul yang sedikit berbeda “Bukan Empat Mata” dengan format, desain program dan isi serta jam tayang yang nyaris sama. Artinya “Empat Mata” berhasil dihentikan, tapi “Bukan Empat Mata” juga tayang dan di biarkan. Surat keberatan yang dilakukan oleh masyarakat yang di tahun 2008 mencapai 3085 aduan, yang disampaikan kepada KPI pun tidak semuanya mampu menghentikan atau memaksa untuk mengubah format, desain program dan isi yang menjadikan keberatan masyarakat. Terbukti sejumlah program siaran atau sebuah lembaga penyiaran mendapat peringatan lebih dari 1 kali dari KPI. (lihat Sendjaja, Sasa Juarsah dkk, LAPORAN TAHUNAN 2008 KPI, KPI, Jakarta, Maret 2009)
15 Gambaran peningkatan kesejahteraan dan kesuksesan program acara TV, bisa dilihat dari perjalanan Thukul Arwana dan “Empat Mata”.
Thukul sekali tampil di di “Empat Mata” dapat honor Rp 30 juta. Kontrak yang di tandatangani adalah 260 episode. Bahkan ketika “Empat Mata”
dilarang tayang setelah berkali‐kali mendapat peringatan dari KPI, dan kemudain mengubah menjadi “Bukan Empat Mata” honor Thukul malah menjadi naik. (baca di www.andriewongso.com/success story/Thukul Dan www.inilah.com). Ini adalah gambaran logika industry, bahwa yang controversial, yang melawan dan yang menjadi masyarakat penasaran, malah memperoleh apresiasi honor yang tinggi. “Empat Mata” dilarang tayang ketika menyiarkan adegan yang antisocial, mempertotonkan adegan makan binatang mentah
16 Dalam pandangan Marxian, kondisi dialektik yang tidak seimbang akan menjadikan eksploatasi pekerja, yang dalam bahasa Moscow disebut dengan komodifikasi pekerja. Yaitu mendayagunakan pekerja untuk efisiensi produksi dengan sekali produksi bisa melayani lebih dari satu lembaga penyiaran atau media massa. (lihat Moscow,Vincent., ibid) dan Croteau, David dan Hoynes, William; CORPORATE MEDIA THE PUBLIC INTEREST; Pine Forges Press, Thousand Oak, 2001)
mekanisme pasar akan mengancam kepentingan public interest (Croteau dan Hoynes, 2000). (3) Kondisi tersebut, bisa lebih parah terutama menurut McChesney (2004), ketika terjadi aliansi kepentingan korporasi industri media dan politisi untuk memperluas pengaruh kekuasaan dan wilayah marketnya, sehingga kepentingan publik dalam konteks public interest bukan menjadi prioritas.17 Asumsi kebebasan kompetisi dan kebebasan ekspresi akan memberikan keuntungan bagi pertumbuhan kapital dan penguatan demokrasi, pada dasarnya akhirnya menjadikan munculnya arus informasi dan ide yang tidak seimbang antara industri media besar dengan yang kecil atau lokal, sehingga malah melahirkan hegemoni, baik secara kapital maupun isi media (Croteau &
Hoynes, 2001) yang akhirnya merusak iklim demokrasi dan kebebasan ekspresi yang sehat.
Sedangkan Mekanisme politik, dalam pandangan Bardoel dan d’Haenes (2004), merupakan mekanisme pertanggungjawaban media yang di dasarkan kepada nilai normatif yang tertuang di dalam hukum dan peraturan. Nilai‐nilai yang ingin dikembangkan dalam penataan dan pengaturan perilaku media akan secara jelas digambarkan dalam hukum dan peraturan (McQuail, 2000). Artinya memberikan kewenangan kepada kekuasaan politik untuk terlibat di dalam pengaturan media, dengan menciptakan hierarki dalam pengorganisasiannya, serta melalui proses administrasi birokrasi di dalam pengelolaan dan pengawasannya. Bahkan memungkinkan penggunaan kewenangan dan kekuatan yang dimilikinya untuk memaksa keterlibatannya di dalam pengelolaan sistem penyiarannya untuk mencapai keadilan social.
Persoalannya, sebagaimana dikatakan oleh Mahfoed dan Ambardi sebelumnya, pertanggungjawaban media melalui mekanisme politik, sangat tergantung oleh konfigurasi dan konstelasi politik, yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara
17 Meskipun untuk konteks Indonesia serta Negara yang tingkat kesejahteraan dan tersedianya infrastruktur tidak merata, terbukanya peluang untuk akses serta terjadinya proses pertukaran ide yang adil dan fair, terkendala oleh gap yang tinggi terhadap ketidakmerataan kapasitas ekonomi dan social setiap warga. Bahkan karena aliran modal mengikuti peluang pasar potensial, seringkali mengakibatkan media tidak memberikan pelayanan kepada kelompok masyarakat yang minoritas, terpencil dan tidak mempunyai daya beli yang mencukupi, karena secara ekonomi di nilai tidak memadai (lihat Moscow, Vincent; THE POLITICAL ECONOMI OF COMMUNICATION : Rethingking and Renewal, SAGE Pub, New Delhi, 1996). Lihat juga pemilihan kota‐kota yang dijadikan sampel dalam proses penyusunan rating sebuah program acara, selalu kota‐
kota yang secara ekonomi mempunyai omset dan tingkat konsumerisme yang tinggi, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makasar, Semarang, Jogja dan lain‐lain. Yang jelas tidak mewakili profil struktur demografi penduduk Indonesia, yang sebagian besar ada do daerah suburban atau desa. Sehingga pelayanan program acara hanya diorientasikan kepada kelompok masyarakat perkotaan saja.
politik.18 Dengan demikian pemegang kekuasaan mempunyai domain kendali yang lebih kuat terhadap medianya. Struktur politik bisa memainkan struktur media tersebut.19 Proses itu adalah upaya kekuasaan politik untuk mempertahankan dan memperluas wilayah kewenangannya, dan menumpuk modal yang bersifat sosial politik maupun finansial (Meyer dan Hinchman, 2002). Sehingga posisi aktor media, mempunyai ketergantungan yang besar dengan sistem atau struktur yang berkuasa, terlebih di dalam model demokrasi as a marketplace (Meyer&Hincman, 2002; McChesney, 2004).
Selain itu proses demokratisasi, melalui mekanisme politik ini tidak bisa memberikan jaminan kebebasan yang luas. Kelembagaan, mekanisme dan proses yang menunjukkan kesan berjalannya prinsip‐prinsip demokrasi bisa ditunjukkan, tetapi tidak memasuki hal substantif. Meyer dan Hinchman (2004) menyebutkan fenomena
“issueless politics” atau dengan mengarahkan prioritas isu skenario kekuasaan, dan
“placebo politics”, atau menyajikan informasi melalui “media event” yang terekayasa, adalah upaya pencitraan bahwa kekuasaan politik dalam pertanggungjawabannya kepada polity telah melakukan proses politik yang demokratis dalam membuat sebuah kebijakan, sehingga diperoleh legitimasi.
18 Apa yang disebut pertanggungjawaban secara politik, berarti mengikuti bagaimana model dan sistem Negara tersebut dikelola secara sah dan legal. Dalam pandangan Siebert dkk (dalam Siebert dkk, THE FOUR OF PRESS THEORY) salah satu perbedaannya adalah kepada siapa pertanggungjawaban perilaku media tersebut harus diorientasikan dan seberapa besar intervensi Negara dalam pengelolaan media. Teori Libertarian kepada perlindungan hak‐hak individu dan intervensi Negara rendah, Teori Otoritarian kepada Pemimpin yang berkuasa dan intervensi Negara tinggi, Teori Komunis kepada pemerintah yang representasinya adalah partai komunis dan intervensi Negara sangat tinggi, sedangkan teori social responsibility keseimbangan menjaga hak‐hak social dan hak‐hak individu, dengan meminimalkan intervensi negara.
Pengembangann empat teori pers tersebut, yang dibuat oleh Hallin dan Mancini (Nord, S Lord; Media, Politics and Market :Swedish Media between politics and market; Mid Sweden Univ. Swedia, 2008) ketika meneliti sistem media di Eropa dan Amerika, menemukan perbedaan peran Negara dalam pengelolaan media, dan membaginya ke dalam tiga model, yaitu : polarized pluralist yang melihat intervensi negara tinggi, begitu juga yang terjadi dalam model democratic corporatist, sedangkan dalam model liberal intervensi Negara sangat rendah.
19 Menurut Eric Louw (The Media and Political Process, SAGE Pub, London, 2005) elemen penting dalam proses politik adalah proses pembuatan keputusan, perjuangan untuk memperoleh akses menguntungkan dalam pembuatan keputusan, legitimasi dan penguatan isu.
Dalam bentuk Negara apapun, politisi dan pengambil kebijakan perlu dengan media massa, berkaitan dengan “image making” dan “decision making”. Sehingga proses pengambilan kebijakan, pelaksanaannya memerlukan proses negosiasi yang panjang dan waktu yang tidak singkat.
Thomas Meyer dengan Lew Hinchman (Media Demokrasi : How The media Colonized politic, Poliry Press, Cambridge, 2002) memberikan gambarang tentang proses politik yang harus diambil menurut model demokrasi yang dianutnya. Negara yang mengadopsi model demokrasi as a marketplace, atau as a participatory, atau as a civil society mempunyai focus perhatian terhadap dimensi politik sebagai polity (struktur dan kultur), Policy (deal yang diperoleh dari banyak kepentingan) dan political process (proses perjuangan untuk dialog, negosiasi, deliberasi dan mencapai consensus), hanya saja pembedanya kepada luasnya ruang publik yang disediakan untuk membangun dialog, deliberasi dan konsensus. Pada proses politik tersebut maka posisi media sangat penting. Dalam model demokrasi marketplace media sering berkolaborasi dengan politik untuk mencapai tujuan masing‐masing : pertumbuhan kekuasaan dan capital. (lebih lanjut bisa baca McChesney, Robert W; THE PROBLEM OF THE MEDIA, US Communications Politics In The 21st Century, Mountly Review Press, New York, 2004 dan Bourdieu, Piere;
JURNALISME TELEVISI; Yayasan Kalamakara dan AKINDO, Yogyakarta, 2002 yang memberikan gambaran tentang bertemunya kepentingan media dan kepentingan politik). Dalam model partisipasi, mediasi dilakukan secara kelembagaan sehingga posisi media sering bersifat subordinasi, seperti yang terjadi pada Italia dengan fenomena Berlusconi yang menjadikan media sebagai alat politiknya melakukan tekanan dan bargaining; sedangkan model masyarakat sipil, mediasi dilakukan oleh masyarakat secara individual maupun terwakiili dalam kelompok masyarakat. Posisi media menjadi bagian proses politik sebagai lembaga intermediasi.
Model lainnya diperagakan oleh China, sebagai Negara yang otoriter tapi menggunakan model mekanisme pasar dalam upaya mengendalikan perilaku media massa. Dengan mengubah konsep represif politis menjadi represif ekonomis, yaitu tidak lagi menerapkan kebijakan yang kaku untuk propaganda politiknya, dan memberikan keleluasaan kreatifitas kelompok aktor media professional dan pemilik media untuk menyajikan materis publisitas politiknya agar mudah diterima dan dalam kemasan popular.20 Reward yang diberikan pemerintah berupa pemberian subsidi, pemasangan iklan, dan pemberian bonus bagi kelompok professional. Fenomena ini dalam bahasa Eric Louw (2005) telah memunculkan kelompok professional pembuat hype, yaitu :
“…has come to encode the notion that hype maker are aware they creating publicity that is somehow ‘false’. A ‘bluff’. Or a ‘con‐job’.”
Legitimasi lain untuk meraih keberhasilan sebuah kekuasaan politik adalah tercapainya kesejahteraan masyarakatnya dalam konsep ecomonic welfare. Kompetisi yang diciptakan hanya terjadi diantara aktor media yang dalam pandangan kekuasaan politik bisa membantu untuk meningkatkan kemajuan, inovasi, kesejahteraan pekerja dan masyarakatnya. Aktor‐aktor tersebut tidak lain adalah klien dari kekuasaan dan bukan aktor yang secara politik berseberangan dengan kekuasaan politik.21
Dengan demikian responsibility of media melalui mekanisme politik menempatkan posisi public interest mempunyai kecenderungan untuk terjadi bias hanya sampai tingkatan simbolik saja. Keberagaman, akses, dan representasi adalah wilayah yang rawan untuk terjadinya diskursus dan konstruksi dalam frame kekuasaan, sehingga
20 Model pertanggungjawaban di China, yang semula menggunakan model mekanisme politik yang hirarkis, birokratis, kontrak dan budget dirubah mengikuti model mekanisme pasar. Meskipun demikian, esensi mekanisme politik untuk mampu melakukan kontrol tidak hilang sama sekali. Menurut Ashley Esaray (2005) dengan mengubah responsibility of media dari mengikuti mekanisme politik ke mekanisme pasar, tidak berarti pemerintah China kehilangan control terhadap media, karena logika represif kekuasaan dan diganti dengan represi ekonomi, elit partai local sebagai pengelola untuk kemudian menjadi penguasa lokal diganti menjadi kelompok professional yang bisa memberikan informasi kebijakan partai China yang lebih popular dengan konsekuensi reward pemberian subsidi negara atau pemasangan iklan kepada lembaga media dan peningkatan kesejahteraan tenaga profesional sesuai popularitas program acaranya. Sehingga fungsi sosialisasi program dan propaganda tetap bisa dijalankan dengan mekanisme pasar. Lihat Esaray, Asley; Cornering the market : State Strategies for controlling China’s Commercial Media, dalam ASIAN PERSPECTIVE, Vol. 29, No 4, 2005
21 Untuk mendapatkan gambaran bagaimana hubungan antara kekuasaan politik dan pengusaha yang kemudian bersama‐sama menyusun program‐program social, dengan muara untuk memperkuat legitimasi kekuasaan politik dan memelihara kehidupan pengusaha yang mnajdi klien dan dalam hubungan patron‐client bisa dibaca dalam Mochtar Mas’oed (Struktur dan Ekonomi Politik Orde baru) dan Yahya Muhaimin.
Dan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana kekuasaan politik mengendalikan media melalui kebijakan ekonomi politiknya, baca Daniel Dhakidaen (economic‐politik)
dalam relasi aktor dan struktur hanya muncul dalam kesadaran saja, tanpa diikuti dengan tindakan yang kongkret. Implikasinya adalah social welfare dan economic welfare hanya terpenuhi secara simbolik, sedangkan political welfare hanyalah pentas untuk kontestasi kekuasaan saja.
Sedangkan dalam mekanisme publik, menurut Bardoel dan d’Haenes, konsep responsibility of media melalui mekanisme publik pada dasarnya mendudukan semua aktor media berada dalam posisi yang sama, tidak ada hirarki dan subordinasi, karena setiap aktor posisinya sangat otonom. Nilai yang menjadi ikatan dalam pola relasi tersebut adalah prinsip kesukarelaan dan komitmen yang di bangun oleh aktor media dari tanggungjawabnya dalam membangun sistem dan struktur yang dikehendaki bersama. Sehingga mekanisme yang digunakan untuk menjadi landasan bertindak adalah diskusi dan dialog. Prinsip utama berjalannya mekanisme publik ini adalah adanya keterbukaan, saling mendengarkan, saling merespon dan membangun sebuah struktur yang fungsinya untuk melakukan mediasi jika muncul persoalan diantara tindakan para aktor media.
Dengan demikian mekanisme publik mempunyai ciri yang menonjol, yaitu aktor media bertindak sangat otonom. Sistem dan struktur di bangun oleh para aktor media mengikuti kebutuhan dan kepentingan publik. Sedangkan hubungan aktor media dengan sistem dan struktur bersifat dualitas, yaitu saling mempengaruhi dan tidak menciptakan ketergantungan satu dengan yang lainnya. Posisi yang otonom, tidak dipengaruhi oleh sistem dan struktur, menjadikan diskusi dan dialog yang terbuka merupakan ajang untuk saling menegosiasikan kebutuhan dan kepentingan. Hubungan kompleks yang melibatkan seluruh aktor media tersebut, tidak akan efektif mampu menghasilkan kesepakatan yang mudah dan cepat. Bahkan pola interaksinya cenderung selalu kompleks, sehingga perlu di bangun sebuah struktur baru, yang fungsinya memediasi kebutuhan dan kepentingan para aktor tersebut.
Dengan demikian mekanisme publik membutuhkan keiklasan kekuatan modal dan kekuasaan untuk diatur agar tercipta keseimbangan akses masyarakat kepada
media untuk lancarnya pertukaran ide yang sehat. Hal yang tentunya sangat tidak mudah, sebagaimana tergambar di dalam mekanisme pasar dan politik di atas.
Sementara itu, model pertnggungjawaban media melalui mekanisme professional adalah adanya sebuah lingkungan yang memberikan delegasi untuk bertindak otonom dan independen dari masing‐masing aktor media. Menurut Bardoel dan d’Haenes, sistem ini dibangun mengikuti kaidah entitas profesionalisme masing‐
masing aktor, yaitu dengan terbentuknya sebuah fatsoen atau conduct dan kode etik professional yang di buat oleh komunitas professional itu sendiri. Dengan demikian akan terbentuk standar nilai, perilaku dan tindakan yang diorientasikan untuk menghasilkan kinerja yang bisa dipertanggungjawabkan dalam kaidah professional. Yaitu sikap dan perilaku professional, yang menurut Ashadi Siregar (1994) harus memenuhi kaidah metode kerja, orientasi lembaga, kelayakan informasi, kelayakan materi dan tanggungjawab etis.
Pembelajaran bersama diantara para aktor media adalah cara relasi yang dibangun oleh model pertanggungjawaban media melalui mekanisme professional.
Dengan pembelajaran bersama, berarti posisi diantara para aktor media tidak ada yang mendominasi dan kedudukannya sederajat. Persoalan yang muncul dalam relasi antar aktor media diselesaikan melalui mekanismenya kode etik masing‐masing aktor media.
Jika persoalan yang muncul adalah diantara aktor media yang memiliki kode etik berbeda, maka akan diselesaikan dengan membentuk struktur baru yang mengakomodasi nilai profesional para aktor tersebut. Dengan demikian sumber rekrutmen berasal dari dalam, bukan diambil dari luar seperti struktur ombudsman.
Pada posisi peran aktor media di dalam sistem atau struktur, maka nampak bahwa aktor media yang melakukan relasi tersebut menyusun sistem dan kemudian juga membentuk strukturnya. Sehingga peran dominan aktor media nampak dalam bangunan sistem dan strukturnya. Tetapi di dalam perjalanannya kemudian, yang terjadi tidak saja saling mempengaruhi tindakan, tetapi juga saling bergantung. Kode etik mengendalikan tindakan aktor, tetapi aktor media di dalam proses relasinya juga melakukan penyesuaian‐penyesuaian kode etik, sesuai dengan perkembangan relasinya.
Proses itu menunjukkan karakteristik dualitas dan konsep tindakan kehidupan dunia yang lebih substantif dari Habermas, yang mengasumsikan tindakan komunikasi sebagai basis teoritis dan pertumbuhan sistem sosial berawal dari proses di setiap lembaga di masyarakat yang akan tumbuh sendiri dengan menguatkan dan mengembangkan ciri‐ciri strukturalnya sendiri.