D. Posisi Aktor Media
5. Pengaturan Isi Siaran
5. Pengaturan Isi Siaran
Ungkapan pengaturan persentase isi siaran memang mengesankan adanya pembatasan terhadap materi yang boleh ditayangkan di media televisi. Sebab salah satu ciri adanya kebebasan informasi, memang tidak adanya batasan‐batasan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disiarkan. Tetapi ketika batasan tersebut tidak mengatur isinya, tetapi mengatur produksi asalnya maka yang muncul adalah perbedaan cara menyikapinya.
Bagi Kelompok Industri, apapun muatan batasannya, penghaturan isi siaran tetap dianggap mengganggu kebebasan berkomunikasi, kebebasan berekspresi dan kebebasan mendapatkan informasi yang dikehendakinya. Secara ekstrim, bahkan dikatakan bentuk indoktrinasi yang sistematis. Seperti dikatakan sebelumnya, Kelompok Industri menganggap UU 32/2002 bersifat represif dan Negara terlalu banyaki ikut campur dalam mengatur dunia penyiaran. Jangkauan siaran yang bersifat nasional hanya dimiliki oleh RRI‐TVRI (yang kemudian diformat menjadi LPP) dan LPB. Sedangkan LPS dan LPK, jangkauan siarannya dibatasi. RRI‐TVRI sebagai LPP, yang sumber dananya berasal dari anggaran Negara, tetapi masih diperbolehkan mengambil slot iklan, yang sebenarnya menjadi ranah LPS. Isi siarannya pun masih diatur harus berasal dari dalam negeri. Dengan demikian, jika Pemerintah mampu memanfaatkan sistem penyiaran yang menguntungkan RRI‐TVRI dunia penyiaran tersebut, maka terdapat potensi untuk terjadinya regimentasi informasi.
Oleh karena itu, isu tentang isi siaran kemudian berkembang dalam wacana dalam bentuk sebagai komoditas, pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan sarana integrasi nasional. Bagi Kelompok Industri, tidak bisa dipungkiri bahwa program acara adalah senjata untuk meraih iklan. Sedangkan biaya produksi yang paling rendah untuk mendapatkan program acara adalah membeli program yang berasal dari luar negeri. Sementara biaya produksi dalam negeri, biayanya jauh lebih besar. Oleh karena
itu, ketika TV siaran selama 24 jam maka setidaknya 14 jam adalah acara dalam negeri.
Sehingga biaya produksi selama sebulan menjadi lebih tinggi. Sebagai gambaran selama acara bulan Ramadhan, biaya produksi naik sekitar 10%, sehingga mencapai Rp 40‐50 miliar per bulannya. (GATRA, Edisi 1 Beredar Jumat 14 November 2003).
Gambar IV.5 Perbandingan Isu Pengaturan Isi Siaran para Aktor Media dan MK
Industri Negara Masyarakat
Pengaturan isi siaran merupakan pemaksaan yang sistematis menghalangi masyarakat penyiaran untuk menyampaikan informasi kepada publik serta menghalangi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dari lembaga penyiaran.
Langkah indoktrinasi. Di era keterbukaan dan globalisasi ini perkembangan informasi sangat pesat sehingga eksistensi informasi tidak mengenal batas, ruang dan waktu di setiap Negara untuk menyampaikan suatu informasi kepada publik di seluruh dunia.
Iklan rokok sudah banyak batasannya, usaha yang sah, menjadi tumpuhan petani dan buruh, serta pajaknya membantu pembangunan dan kegiatan masyarakat
Tujuan pengaturan minimal 60%
program acara berasal dari dalam negeri adalah pertumbuhan produksi mata acara yang berasal dari dalam
negeri sehingga dapat
menumbuhkan kreativitas berekspresi dan memperluas lapangan kerja, disamping mengurangi ketergantungan terhadap dominasi program‐program siaran luar negeri,
Iklan rokok sudah diatur, dan masih sebagai usaha yang sah yang boleh mempromosikan
Tujuan pengaturan isi yang ditujukan semata‐mata untuk kepentingan publik untuk meningkatkan produktifitas masyarakat dan integrasi dan kohesifitas social, masih diperlukan
Meminta Iklan rokok di lembaga penyiaran dilarang, karena kandungan rokok terdiri dari bahan zat adiktif yang jelas‐jelas dilarang diiklankan di TV.
Sedang bagi Kelompok Negara, program acara yang diproduksi berasal dalam negeri, minimal 60% akan meningkatkan produktifitas sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Disamping juga akan mengurangi ketergantungan terhadap produksi program luar negeri. Argumentasi yang dibangun Kelompok Negara bermuara pada satu hal, program acara adalah barang produksi. Barang produksi yang diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Jika setiap satu jam biaya produksinya rata‐ratanya adalah Rp 150 juta, dan dalam sehari (60%) minimal 14 jam siaran, maka sebulan omset produksi program acara dalam negeri adalah Rp 63 miliar untuk satu lembaga media penyiaran. Maka nilai yang sangat besar untuk
membangun kesejahteraan, setidaknya mendorong peningkatan produksi ekonomi dan menambah pekerjaan angkatan kerja. Artinya pertumbuhan lembaga penyiaran telah mendorong dinamika perkembangan ekonomi industry lain yang terkait dengan industry penyiaran.
Di samping dengan alasan yang sama, seperti tersebut di atas, Kelompok Masyarakat menggaris bawahi bahwa dengan meningkatkan produksi dalam negeri juga akan meningkatkan kohesifitas dan integrasi di masyarakat. Sebab nilai‐nilai yang disajikan oleh program acara yang di produksi dalam negeri adalah nilai‐nilai yang dikenal dan menjadi pengalaman empiris masyarakat dalam kehidupan sehari‐harinya.
Dengan demikian meningkatnya jumlah program acara yang familiar dengan kehidupan masyarakat, berarti juga mengurangi tayangan yang berasal dari luar negeri yang tata nilai dan gaya hidupnya tidak pernah dialami oleh masyarakat. Sehingga menjadikan masyarakat terasing dengan tontonan tersebut.
Akan tetapi, sekarang mengalami pergeseran pertumbuhan produksi program TV sejak awal berdirinya industry TV di Indonesia sampai sekarang mengalami perkembangan yang tidak sama. Di awal‐awal pertumbuhannya, awal tahun 1990, industri TV begitu tergantung terhadap program acara yang berasal dari luar negeri.
Rata‐rata TV hanya mampu menyuguhkan produksinya sendiri sejumlah 10% dari seluruh total jam siarannya. Pada saat itu juga, acara yang memperoleh minat terbesar dari masyarakat adalah program acara yang berasal dari luar. Padahal jika dibandingkan, biaya pembelian program acara TV luar adalah Rp 5,6 juta per episode, sedangkan biaya produksi sinetron local mencapai mencapai Rp 40 juta rupiah (produksi untuk tahun 1990‐an) untuk masing‐masing durasi 60 menit (Tempo, 6‐12 April 1991). Sedangkan dalam pertumbuhan akhir‐akhir ini, produksi program acara dalam negeri mendapat sambutan dari pemirsa, dan sudah menggeser popularitas produksi program acara dari luar negeri.
Dengan demikian, meskipun pada saat gugatan tersebut dilayangkan, komposisi produksi dalam negeri belum mampu menggeser dominasi popularitas produksi program acara dari luar negeri, dan belum mempunyai daya tarik yang besar dari
pemirsa, tetapi perkembangan sekarang sudah berbalik. Produksi dalam negeri telah menggeser popularitas dan perolehan rating produksi program acara yang berasal dari asing. Meskipun biayanya tetap lebih mahal, dibandingkan dengan biaya produksi luar negeri, tapi dari perhitungan bisnis memberikan keuntungan yang besar.
(http://indonesiatvguide.blogspot.com/2009/02/reality‐show‐rajai‐layar‐kaca.html).
Artinya keputusan MK, membenarkan adanya pembedaan karakter, fungsi dan peran setiap lembaga penyiaran, sejauh pembedaan itu untuk melindungi kebebasan orang lain dan melindungi masyarakat. Begitu pula masalah gugatan iklan rokok.
Meskipun kandungannya terdapat zat adiktif yang dalam UU 32/2002 tertera tidak boleh diiklankan, dan di pasal yang lain menyatakan Iklan rokok tidak boleh memperagakan wujud rokok dan orang yang sedang merokok. Artinya semangat UU ini adalah memperbolehkan rokok melakukan promosi dengan iklannya, meskipun dalam persyaratannya banyak sekali dan tergolong sangat ketat. Jadi pertimbangan sebagai usaha yang sah dan tidak dilarang, adalah awal pemahaman bahwa segala sesuatu yang sah, yang tidak dilarang berarti bisa melakukan segala sesuatu untuk memperoleh kehidupannya. Termasuk memasang iklan, untuk kasus rokok.
Kondisi demikian itu adalah sesuatu hal yang menjadi perhatian dalam general public interest (GPI), terutama mempunyai nilai kebijakan untuk social welfare, yang oleh Cuilenburg dan d’Haenens harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan nasional sistem penyiaran. Yaitu akan meningkatkan integrasi dan kohesifitas sosial melalui kebijakannya, baik dalam hal kemampuan akses yang adil bagi masyarakat dan peningkatan kesejahteraan yang bersifat materiil mapun mental. Untuk kasus rokok RoM yang dipilih MK RI cenderung mengikuti mekanisme pasar, yaitu mendasarkan segala sesuatu yang sah boleh melakukan usaha pengembangan. Meskipun posisi kandungan zat dan medisnya sebenarnya sama dengan minuman keras, sebagai usaha yang sah dan boleh diperjualbelikan, tetapi minuman keras tidak boleh diiklankan.
Dengan demikian, relasi aktor‐aktor lebih kuat, daripada relasi aktor‐sistem. Artinya setiap aktor media diberi keleluasaan untuk mengatur tindakan dalam batas yang dibuat oleh sistem.
Dengan demikian, konstruksi bangunan pemikiran para aktor media yang sejak awalnya berada dalam posisi yang berbeda menunjukkan bahwa dalam proses deliberasi yang dilakukan melalui wilayah peradilan atau hukum, terjadi proses akomodasi yang di dasarkan atas azas legalitas, azas manfaat dan azas keadilan.
Dinamika pergulatan aktor, dalam proses deliberasi yang selama ini telah terjadi, yaitu mulai dalam adu konstestasi dalam wacana publik melalui diskusi yang melelahkan, proses lobi, dialog, adu argumentasi di lembaga politik DPR RI, dan akhirnya ke proses negosiasi dan deliberasi memasuki ranah hukum, yaitu uji materi di MA untuk peraturan pemerintah dan MK untuk UU 32/2002.
Kepentingan pemikiran aktor media memang mempunyai perbedaan yang tajam satu sama lain, dan tidak selalu dalam posisi yang sama ketika berhadapam dalam topik kasus‐kasus tertentu.