BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Kerangka Konsep Penelitian
Kinerja tenaga medis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Ilyas (2012) antara lain karakteristik pribadi (umur, sex, pengalaman, gaya komunikasi), motivasi, pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karir. Menurut Mangkunegara (2009), motivasi merupakan dorongan yang dari pimpinan dan karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan organisasi. Ilyas (2012) menyatakan motivasi merupakan dorongan atau keinginan yang dapat diberikan rumah sakit dalam meningkatkan kinerja seperti pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karir. Semakin tinggi motivasi yang ada pada tenaga medis, maka kinerja tenaga medis akan semakin baik. Berdasarkan uraian landasan teori di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut.
Variabel Bebas Variabel Terikat
Karakteristik Individu:
1. Umur
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Kinerja tenaga medis di RSIA Pemerintah
Aceh Motivasi :
1. Pendapatan dan gaji 1. Keluarga
2. Organisasi 3. Supervisi
4. Pengembangan karir
Jenis penelitian adalah survei dengan pendekatan cross sectional yaitu untuk mengetahui pengaruh karakteristik dan motivasi terhadap kinerja petugas medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di BLUD RSIA Pemerintah Aceh, yaitu sebuah rumah sakit Kelas B. Alasan pemilihan lokasi penelitian, karena rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit pemerintah khusus untuk ibu dan anak yang nilai BORnya cenderung menurun pada periode 2011-2014 (83,90% tahun 2011, 78,57% tahun 2012, 69,4% tahun 2013 dan 66,1% tahun 2014) yang diduga dipengaruhi oleh kinerja tenaga medis.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian diawali dari proses pembuatan proposal yang dimulai sejak bulan Februari 2015. Proses pengumpulan data akan dilakukan dari bulan Juli 2015.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga medis bekerja di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh sebanyak 39 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian atau seluruh populasi yang akan diteliti (Arikunto, 2010). Sampel penelitian adalah seluruh tenaga medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh yaitu 39 orang (total populasi). Adapun jumlah sampel penelitian berdasarkan profesi tenaga medis pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Jumlah Sampel Berdasarkan Profesi di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh Tahun 2015
Dokter Tempat Tugas Jumlah
1. Dokter spesialis 2. Dokter umum 3. Dokter gigi
BLUD RSIA Pemerintah Aceh BLUD RSIA Pemerintah Aceh BLUD RSIA Pemerintah Aceh
7 29 3
Jumlah 39
3.4 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapakan data
(Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis pengumpulan data yang terdiri dari data primer diperoleh menggunakan daftar
pertanyaan (questionnaire) yang diberikan kepada tenaga medis yang telah dipersiapkan berupa pertanyaan karakteristik dan motivasi serta kinerja tenaga medis.
Data sekunder diperoleh dari studi dokumentasi yang diperoleh dari bagian administrasi BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda berupa data cetak yang berupa aturan-aturan, laporan kegiatan dan data yang relevan dengan penelitian ini.
3.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas
Instrumen penelitian berupa kuesioner motivasi dan kinerja dokter untuk pengumpulan data primer.
1. Uji validitas
Untuk mengetahui validitas suatu instrumen (dalam kuesioner) dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor r-hitung masing-masing pertanyaan dalam suatu variabel. Teknik korelasi yang digunakan adalah Pearson Product Moment Correlation, dengan kriteria apabila nilai r-hitung > r-tabel maka pertanyaan dapat diasumikan valid. Sebaliknya apabila r-hitung < r-tabel maka pertanyaan diasumikan tidak valid.
1. Uji reliabilitas
Uji reliabilitas diukur dengan menggunakan Alpha Cronbach untuk mengetahui konsistensi internal antar variabel dalam instrumen. Dengan kata lain, uji reliabilitas akan mengindikasikan apakah instrumen-instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini layak dan berkaitan atau tidak berkaitan. Pengambilan keputusan jika nilai Alpha Cronbach mendekati 1, maka hal ini menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan sudah sangat baik (reliable) atau jawaban responden akan cenderung sama walaupun diberikan kepada responden tersebut dalam bentuk pertanyaan yang berbeda (konsisten), sedangkan jika berada di atas 0,8 adalah baik, tetapi bila berada di bawah nilai 0.6 tidak baik atau tidak reliabel (Riduwan, 2008).
Hasil uji validitas dan reliabilitas terhadap 30 dokter di Rumah Sakit Umum Muexara Banda Aceh dilakukan pada bulan Mei 2015 diperoleh hasil bahwa nilai
Demkian juga nilai alpha cronbach hitung diperoleh lebih besar dari 0,8, maka data diasumsikan reliabel (Lampiran).
3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Bebas (X)
1. Karakteristik
Karakteristik adalah suatu atau kondisi. Variabel karakteristik diukur berdasarkan umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial, dan gaya komunikasi.
a. Umur adalah lamanya hidup tenaga medis yang diukur sejak lahir sampai diadakan penelitian.
b. Jenis kelamin adalah perbedaan gender yang dapat dilihat dari penampilan tenaga medis.
c. Pengalaman adalah segala sesuatu yang pernah dilakukan terkait aktivitas selama bekerja sebagai tenaga medis dalam perawatan medis.
d. Orientasi mediko sosial adalah kesopanan dan keramahan kepada pasien dan keluarga dalam melakukan perawatan dan kesembuhan penyakit pasien.
e. Gaya komunikasi adalah cara berkomunikasi dokter terhadap teman se profesi dan pimpinan yang memengaruhi kinerja.
2. Motivasi
Motivasi adalah kebutuhan dan keinginan yang terdapat dalam diri tenaga medis sebagai pendorong perilaku berkaitan dengan kinerjanya. Variabel karakteristik
diukur berdasarkan pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karier.
a. Pendapatan dan gaji adalah jumlah penghasilan yang diterima sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya.
b. Keluarga adalah peran keluarga terhadap dorongan atau dukungan keluarga dalam meningkatkan kinerja dokter.
c. Organisasi adalah iklim organisasi di rumah sakit yang memungkinkan dalam meningkatkan kinerja dokter.
d. Supervisi adalah segala sesuatu yang dilakukan pimpinan dalam memberikan perhatian, bimbingan atau evaluasi yang diberikan atau dilakukan pimpinan dalam meningkatkan kinerja dokter.
e. Pengembangan karier adalah kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diberikan dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan kesehatan.
3.5.2 Variabel Terikat (Y)
Kinerja tenaga medis adalah hasil kerja yang ditunjukkan petugas kesehatan dalam pelaksanaan rutinitas tugas berdasarkan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan perilaku kerja yang dinilai oleh Kepala Bidang Pelayanan Medis BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh.
3.6 Metode Pengukuran
Metode pengukuran yang digunakan untuk variabel bebas yaitu karakteristik dan motivasi serta kinerja petugas medis adalah menggunakan skala nominal dan
ordinal. Untuk pengukuran variabel terikat yaitu kinerja tenaga medis berdasarkan skala ordinal. Penyusunan pertanyaan kinerja tenaga medis dengan menggunakan alternatif jawaban ya dan tidak.
Tabel 3.2 Pengukuran Variabel Penelitian Variabel c. Pengalaman 5 Sangat setuju
Setuju
Tabel 3.2 (Lanjutan) b.Keluarga 5 Sangat setuju
Setuju
(5-8) c. Organisasi 5 Sangat setuju
Setuju
d.Suvervisi 5 Sangat setuju Setuju
3.7. Metode Analisis Data 1. Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menjelaskan dan mengambarkan seluruh variabel bebas yaitu karakteristik dan motivasi (pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karier) serta variabel terikat yaitu kinerja tenaga medis dalam bentuk distribusi tabel frekuensi.
2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dimaksudkan untuk menganalisis hubungan atau keadaan variabel bebas yaitu variabel karakteristik (umur, jenis kelamin,
pengalaman, orientasi mediko sosial, gaya kepemimpinan) dan motivasi (pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karier) dengan variabel terikat yaitu kinerja petugas medis dengan menggunakan uji statistik person korelasi dengan taraf kepercayaan 95%.
3. Analisa Multivariat
Untuk mengetahui pengaruh variabel independen dan variabel dependen secara bersama-sama dan untuk melihat variabel yang paling dominan dari variabel independen digunakan teknik uji regresi linier berganda. Model regresi linier berganda yaitu :
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8 + b9X9 + b10X10+ e
Keterangan :
Y = Kinerja tenaga medis a = Konstanta
b = Koefisien regresi linier berganda
X1 = Umur X5 = Gaya komunikasi
X2 = Jenis kelamin X6 = Pendapatan
X3 = Pengalaman X7 = Keluarga
X4 = Orientasi mediko sosial X8 = Organisasi X5 = Gaya komunikasi X9 = Supervisi
X6 = Pendapatan X10 = Pengembangan karir e = Error (tingkat kesalahan) yaitu 0,05 (95%).
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Deskripsi BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh 4.1.1. Visi dan Misi
1. Visi Rumah Sakit
Terwujudnya BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak sebagai pusat rujukan yang terkemuka untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pemerintah Aceh.
2. Misi Rumah Sakit
Misi dari BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak yaitu :
a. Mengembangkan pelayanan prima di bidang ibu dan anak yang profesional, berkualitas, bertanggung jawab dan berkeadilan.
b. Membangun sumber daya manusia rumah sakit yang profesional, akurat dan mempunyai integritas tinggi dalam memberikan pelayanan.
c. Meningkatkan peran BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak dalam pengembangan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan dengan memperhatikan etika kedokteran, fungsi-fungsi sosial yang berlandaskan syariat islam.
d. Melaksanakan proses pendidikan yang menunjang pelayanan kesehatan prima berdasarkan standar nasional dan internasional.
e. Melaksanakan penelitian yang mengarah pada pengembangan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran dan pelayanan rumah sakit.
f. Mewujudkan sistem manajemen yang efektif, efisien dan transparan.
4.1.2 Struktur Organisasi
Struktur Organisasi BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak sebagai berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
4.2. Analisis Univariat 4.2.1 Identitas Responden
Hasil penelitian tentang indentitas responden yang terdiri dari umur, jenis kelamin, status dokter, lama kerja dan jumlah pasien yang ditangani berdasarkan usia diperoleh hasil beragam. Sebagaimana pada tabel 4.1, diketahui distribusi identitas responden berdasarkan umur, sebanyak 27 orang (69,2%) responden berada pada rentang umur 20 sampai 40 tahun dan selebihnya sebanyak 12 orang (30,8%) berada pada rentang umur 41 tahun sampai 60 tahun. Responden sebanyak 26 orang (66,7%) adalah perempuan dan selebihnya sebanyak 13 orang (33,3%) laki-laki.
Responden berstatus dokter umum sebanyak 29 orang (74,4%), sebanyak 7 orang (17,9%) adalah dokter spesialis dan selebihnya sebanyak 3 orang (7,7%) adalah dokter gigi. Berdasarkan lama bekerja, sebanyak 30 orang (76,9%) sudah bekerja di RSIA Pemerintah Aceh selama 1 sampai 5 tahun dan selebihnya sebanyak 9 orang (23,1%) selama 6 sampai 10 tahun.
Responden mempunyai jumlah pasien yang ditangani sebanyak 15 orang (38,5%) menangani pasien antara 1-5 orang per hari, sebanyak 19 orang (48,7%) menangani pasien antara 6-10 orang per hari, dan selebihnya sebanyak 5 orang (12,8%) menangani pasien antara 11-15 orang per hari.
Tabel 4.1. Distribusi Identitas Responden
1. Umur
20-40 tahun 27 69,2
41-60 tahun 12 30,8
2. Jenis Kelamin
Perempuan 26 66,7
Laki-laki 13 33,3
3. Status Dokter
Dokter Umum 29 74,4
Dokter Spesialis 7 17,9
Dokter Gigi 3 7,7
4. Lama Bekerja
1-5 tahun 30 76,9
6-10 tahun 9 23,1
5. Jumlah Pasien
1-5 orang 15 38,5
6-10 orang 19 48,7
11-15 orang 5 12,8
4.2.2. Karakteristik Individu Responden
Hasil penelitian tentang karakteristik individu responden yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pengalaman orientasi mediko sosial dan gaya komunikasi diperoleh hasil beragam. Untuk distribusi karakteristik umur dan jenis kelamin responden sudah disajikan pada tabel identitas responden, sedangkan untuk distribusi pengalaman, orientasi mediko sosial dan gaya komunikasi responden sebagaimana disajikan berikut ini.
1. Pengalaman
Sebagaimana pada tabel 4.2, diketahui distribusi pengalaman responden lebih banyak memiliki pengalaman yang dikategorikan baik sebanyak 19 orang (48,7%) dan lebih sedikit berpengalaman sangat baik sebanyak 3 orang (j7,7%).
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pengalaman
No. Pengalaman Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 3 7,7
2. Baik 19 48,7
3. Tidak Baik 17 43,6
Total 39 100,0
2. Orientasi Mediko Sosial
Sebagaimana pada tabel 4.3, diketahui distribusi orientasi mediko sosial lebih banyak memiliki orientasi mediko sosial yang dikategorikan baik sebanyak 17 orang (43,6%) responden dan lebih sedikit orientasi mediko sosial sangat baik dan tidak baik masing-masing frekuensi sebanyak 11 orang (28,2%).
Tabel 4.3. Distribusi Orientasi Mediko Sosial
No. Orientasi Mediko Sosial Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 11 28,2
2. Baik 17 43,6
3. Tidak Baik 11 28,2
Total 39 100,0
3. Gaya Komunikasi
Sebagaimana pada tabel 4.4, diketahui distribusi gaya komunikasi lebih banyak yang dikategorikan baik sebanyak 23 orang (59%) dan lebih sedikit dikategorikan tidak baik sebanyak 6 orang (15,4%).
No. Gaya Komunikasi Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 10 25,6
2. Baik 23 59,0
3. Tidak Baik 6 15,4
Total 39 100,0
4.2.3. Motivasi Responden
Pengukuran motivasi responden berdasarkan aspek pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi, dan pengembangan karir sebagaimana disajikan berikut ini.
1. Pendapatan dan Gaji
Sebagaimana pada tabel 4.5, diketahui distribusi pendapatan dan gaji lebih banyak dikategorikan tidak baik sebanyak 23 orang (59,0%) dan lebih sedikit dikategorikan sangat baik sebanyak 2 orang (5,1%).
Tabel 4.5. Distribusi Pendapatan dan Gaji
No. Pendapatan dan Gaji Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 2 5,1
2. Baik 14 35,9
3. Tidak Baik 23 59,0
Total 39 100,0
2. Dukugan Keluarga
Pada tabel 4.6, diketahui distribusi keluarga lebih banyak dikategorikan baik sebanyak 20 orang (51,3%) dan lebih sedikit dikategorikan sangat baik sebanyak 9 orang (23,1%).
Tabel 4.6. Distribusi Keluarga
No. Keluarga Jumlah (n) Persentase (%)
Pada tabel 4.7, diketahui distribusi organisasi (RSIA Pemerintah Aceh) lebih banyak dikategorikan tidak baik sebanyak 12 orang (30,8%) dan lebih sedikit dikategorikan sangat baik sebanyak 11 orang (28,2%).
Tabel 4.7. Distribusi Organisasi
No. Organisasi Jumlah (n) Persentase (%)
Pada tabel 4.8, diketahui distribusi supervisi dari manajemen RSIA Pemerintah Aceh lebih banyak dikategorikan tidak baik sebanyak 16 orang (41%) dan lebih sedikit dikategorikan sangat baik sebanyak 8 orang (20,5%).
Tabel 4.8. Distribusi Supervisi
No. Supervisi Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 8 20,5
2. Baik 15 38,5
3. Tidak Baik 16 41,0
Total 39 100,0
5. Pengembangan Karir
Pada tabel 4.9, diketahui distribusi pengembangan karir di RSIA Pemerintah Aceh lebih banyak dikategorikan tidak baik sebanyak 17 orang (43,6%) dan lebih sedikit dikategorikan sangat baik sebanyak 9 orang (23,1%).
Tabel 4.9. Distribusi Pengembangan Karir
No. Pengembangan Karir Jumlah (n) Persentase (%)
1. Sangat Baik 9 23,1
2. Baik 13 33,3
3. Tidak Baik 17 43,6
Total 39 100,0
4.2.4. Kinerja Dokter
Hasil penelitian tentang kinerja dokter sebagaimana tabel 4.10 diketahui bahwa sebanyak 20 orang (51,3%) responden memiliki kinerja yang dikategorikan baik dan selebihnya sebanyak 19 orang (48,7%) dikategorikan baik.
Tabel 4.10. Distribusi Kinerja Tenaga Medis
No. Kinerja Tenaga Medis Jumlah (n) Persentase (%)
1. Baik 20 51,3
2. Tidak baik 19 48,7
Total 39 100,0
4.3. Analisis Bivariat
4.3.1 Karakteristik Individu dengan Kinerja Dokter
Untuk mengetahui hubungan antar variabel penelitian maka dijelaskan melalui uji statistik product moment antara variabel karakteristik individu (umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial dan gaya komunikasi) dan variabel motivasi (gaya komunikasi, keluarga, organisasi, pengembangan karir)
dengan variabel dependen yaitu kinerja tenaga medis disajikan dalam tabel silang berikut.
Tabel 4.11 Hubungan Umur, Jenis Kelamin, Pengalaman, Orientasi Mediko Sosial, Gaya Komunikasi, Gaya Komunikasi, Keluarga, Organisasi, dan
Pengembangan Karir dengan Kinerja Tenaga Medis
Variabel N Pearson Correlation p value
Umur 39 -0,284 0,079
Hasil uji statistik product moment diperoleh bahwa dari 10 variabel penelitian yang diteliti ada 4 variabel yang berhubungan dengan kinerja tenaga medis yaitu pengalaman, pendapatan, organisasi dan pengembangan karir, karena nilai p lebih kecil dari 0,05. Variabel umur, jenis kelamin, orientasi mediko sosial, keluarga, dan supervisi tidak berhubungan dengan kinerja tenaga medis karena nilai p lebih besar dari 0,05.
4.4 Analisis Multivariat
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh dalam model regresi pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.11 di bawah ini.
the Estimate Durbin-Watson
1 0,805(a) 0,647 0,553 1,81068 2,146
a Predictors: (Constant), P. Karier, JK, Umur, Orientasi Mediko Sosial, Pengalaman, Suvervisi, Komunikasi, Organisasi, Keluarga, Pendapatan
b Dependent Variable: Kinerja
Tabel 4.11 di atas diperoleh nilai koefisien korelasi (R) yaitu 0,805 dan koefisien korelasi determinasi (R Square) sebesar 0,647 yang berarti 64,7% variasi variabel pengembangan karir, jenis kelamin, umur, orientasi mediko sosial, pengalaman, suvervisi, komunikasi, organisasi, keluarga, pendapatan (variabel bebas) mampu menjelaskan variabel terikat yaitu kinerja tenaga medis di RSIA Pemerintah Aceh, Aceh. Sisanya sebesar 35,3% dipengaruhi variabel yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
1. Uji Simultan (Uji F)
Uji serentak atau uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen (umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial, gaya komunikasi, pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi, pengembangan karir) yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (kinerja tenaga medis). Pengaruh umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial, gaya komunikasi, pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi, pengembangan karir terhadap kinerja tenaga medis dapat dilihat pada Tabel 4.12. berikut :
Tabel 4.12 Hasil Uji Serentak (Uji F) ANOVA(b)
a Predictors: (Constant), P. Karier, JK, Umur, Orientasi Mediko Sosial, Pengalaman, Suvervisi, Komunikasi, Organisasi, Keluarga, Pendapatan
b Dependent Variable: Kinerja
Secara serentak bahwa umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial, gaya komunikasi, pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi, dan pengembangan karir berpengaruh terhadap kinerja tenaga medis di RSIA Pemerintah Aceh dengan nilai p =0,001 lebih kecil dari 0,05.
2. Uji Parsial (Uji t)
Pengujian secara parsial pada masing-masing variabel independen dimaksudkan untuk mengetahui apakah secara individual variabel umur, jenis
keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karir mempunyai pengaruh nyata atau tidak terhadap kinerja tenaga medis di RSIA Pemerintah Aceh. Pengujian secara parsial dilakukan dengan uji t.
Tabel 4.13 diperoleh bahwa secara parsial ada pengaruh pengalaman, pendapatan dan gaji, organisasi dan pengembangan karir terhadap kinerja tenaga medis di RSIA Pemerintah Aceh karena nilai probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Koefisien pengalaman 0,298, berarti setiap peningkatan pengalaman akan mengakibatkan peningkatan kinerja tenaga medis sebesar 0,298. Koefisien pendapatan dan gaji sebesar 0,316, berarti setiap peningkatan pendapatan akan mengakibatkan peningkatan kinerja tenaga medis sebesar 0,316. Koefisien organisasi sebesar 0,322, berarti setiap peningkatan organisasi akan mengakibatkan peningkatan kinerja tenaga medis sebesar 0,322. Koefisien pengembangan karier sebesar 0,296, berarti setiap peningkatan pengembangan karir akan mengakibatkan peningkatan kinerja tenaga medis sebesar 0,296. Berdasarkan nilai koefisien B bahwa variabel organisasi lebih besar nilai koefisiennya dari variabel lainnya, berarti variabel organisasi lebih dominan memengauhi. Persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Tabel 13. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial
Coefficients (a)
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std,
Error Beta
1 (Constant) 12,670 4,965 2,552 0,016
Umur -1,506 0,711 -0,260 -2,017 0,053
Jenis kelamin 0,453 0,630 0,080 0,719 0,478
Pengalaman 0,298 0,138 0,322 2,475 0,020
Orientasi Mediko
Sosial 0,176 0,113 0,177 1,562 0,130
Komunikasi -0,176 0,152 -0,143 -1,163 0,255
Pendapatan 0,316 0,149 0,318 2,560 0,009
Keluarga -0,021 0,153 -0,019 -0,136 0,893
Organisasi 0,322 0,110 0,325 2,927 0,007
Suvervisi 0,146 0,165 0,102 0,881 0,386
Pengembangan
Karier 0,296 0,122 0,313 2,431 0,022
a Dependent Variable : Kinerja
BAB 5
PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Kinerja Tenaga Medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh
Pengukuran karakteristik individu dalam penelitian ini berdasarkan umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko sosial dan gaya komunikasi. Hasil analisis multivariat diperoleh variabel yang berhubungan dengan kinerja tenaga medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh adalah pengalaman karena nilai p<0,05. Variabel umur, jenis kelamin, orientasi mediko sosial dan gaya komunikasi tidak berhubungan dengan kinerja Tenaga kesehatan medis karena nilai p > 0,05.
5.1.1. Pengaruh Umur terhadap Kinerja Tenaga Medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh
Umur seseorang dapat memengaruhi kinerjanya dalam bekerja. Semakin tua umur seseorang, semakin banyak pengalaman dan keterampilan yang diperolehnya.
Pada penelitian ini menunjukkan tenaga medis berumur 20 sampai 40 tahun memiliki kinerja yang baik dan tenaga medis berumur 41-60 orang memiliki kinerja tidak baik.
Pendapat Teteki (2002) menyatakan bahwa dokter yang berumur di atas rata-rata lebih banyak yang mempunyai kinerja yang kurang dibandingkan yang kinerjanya baik, serta uji statistik menunjukkan variabel umur mempunyai hubungan negatif dengan kinerja, artinya bertambahnya umur dokter akan semakin rendah kinerjanya.
Hasil uji regresi linier berganda diperoleh bahwa tidak ada pengaruh umur terhadap kinerja tenaga medis (p=0,053>0,05). Berbeda dengan penelitian Ginting (2010), bahwa variabel umur berpengaruh terhadap kinerja dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di RSUP H. Adam Malik Medan (p<0.05), dengan nilai koefisien bersifat negatif, artinya semakin bertambah umur dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan yang melakukan pelayanan menyebabkan kinerjanya dalam pelayanan kesehatan semakin rendah.
Pengaruh faktor umur dengan kinerja menurut Robbin (2001), dihubungkan dengan keterampilan seseorang terutama: kecepatan, kecekatan, kekuatan dan koordinasi kerja. Makin tua usia seseorang maka keterampilannya akan menurun.
Sedangkan menurut Wood (2001), bahwa ada 4 kunci transisi perkembangan kepribadian individu yang mengikuti pertambahan umur seseorang dan dihubungkan dengan dampak pekerjaan atau karier seseorang dalam organisasi, yaitu : transisi usia tigapuluhan (28-33 tahun), transisi usia pertengahan (40-45 tahun), transisi usia limapuluhan (50-55 tahun) dan transisi lanjut usia (60-65 tahun), dimana karier seseorang dalam organisasi akan menurun pada transisi usia limapuluhan.
Mengacu kepada konsep transisi perkembangan kepribadian individu yang disebutkan di atas, maka keberadaan tenaga medis juga mengikuti konsep tersebut.
Kinerja optimal tenaga medis pada usia produktif (20-40 tahun) dan berangsur akan mengalami penurunan pada usia di atas 41 tahun. Maka dari itu, semakin bertambah usia, maka akan semakin bertambah pengalaman, tetapi kemampuan untuk
melakukan aktivitas akan semakin menurun disebabkan terjadi penurunan daya tahan tubuh.
5.1.2. Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Kinerja Tenaga Medis
Jenis kelamin tenaga medis dapat memengaruhi kinerja mereka dalam meningkaktan performance rumah sakit Hasil uji regresi linier berganda diperoleh bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap kinerja tenaga medis (p=0,478>0,05). Berbeda dengan penelitian Ginting (2010), berdasarkan hasil uji regresi berganda diketahui bahwa variabel jenis kelamin berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di RSUP H. Adam Malik Medan (p<0.05). Dokter yang berjenis kelamin laki-laki umumnya mempunyai kinerja yang lebih baik dibandingkan dokter jenis kelamin perempuan.
Pendapat Whiting dan Wrught (2001), jika di lingkungan pekerjaan terjadi masalah, pegawai laki-laki mungkin akan merasa lebih tertantang untuk menghadapinya bukan menghindarinya. Perilaku tenaga medis perempuan akan lebih cenderung untuk menghindari konsekuensi konflik dibandingkan perilaku tenaga medis laki-laki. Tetapi dalam banyak situasi perempuan lebih banyak melakukan kerjasama dibandingkan laki-laki. Jika ada risiko yang timbul, maka laki-laki cenderung lebih banyak membantu dibandingkan perempuan. Pandangan lainnya mengatakan, bahwa perbedaan kinerja, perilaku, dan pola bekerja antara laki-laki dan perempuan tidak dapat digeneralisasi pada semua laki-laki atau perempuan.
Penelitian Samekto (1999) menemukan bahwa terdapat kesetaraan antara akuntan laki-laki dan perempuan dalam bekerja menyangkut terutama menyangkut motivasi, komitmen organisasi, komitmen kerja dan kemampuan kerja. Perbedaan yang ada lebih disebabkan karena masalah faktor-faktor psiko-logis personal-individu. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa persyaratan jenis kelamin tertentu tidak boleh didasarkan pada dogma bahwa jenis kelamin tertentu lebih baik hasilnya dari pada yang lain terkait kinerjanya, tetapi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan lain yang lebih rasional. Dalam konteks ini, mungkin teori kontingensi
Penelitian Samekto (1999) menemukan bahwa terdapat kesetaraan antara akuntan laki-laki dan perempuan dalam bekerja menyangkut terutama menyangkut motivasi, komitmen organisasi, komitmen kerja dan kemampuan kerja. Perbedaan yang ada lebih disebabkan karena masalah faktor-faktor psiko-logis personal-individu. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa persyaratan jenis kelamin tertentu tidak boleh didasarkan pada dogma bahwa jenis kelamin tertentu lebih baik hasilnya dari pada yang lain terkait kinerjanya, tetapi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan lain yang lebih rasional. Dalam konteks ini, mungkin teori kontingensi