• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen TESIS. Oleh : KIKI YUDI SAPUTRA (Halaman 15-23)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah Sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang strategis dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Terwujudnya keadaan sehat merupakan keinginan semua pihak, tidak hanya manusia sebagai individu, tetapi juga oleh keluarga, kelompok maupun masyarakat luas.

Sebagaimana Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pada pasal 1 ayat (1) dinyatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Paradigma baru pelayanan kesehatan mensyaratkan rumah sakit memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai kebutuhan dan keinginan pasien dengan tetap mengacu kode etik profesi dan medis. Dalam perkembangan tehnologi yang pesat dan persaingan yang semakin ketat, maka rumah sakit dituntut untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan. Untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan, terlebih dahulu harus diketahui apakah pelayanan yang telah diberikan kepada pasien/pelanggan selama ini telah sesuai dengan harapan pasien/pelanggan atau belum (Rachmadi, 2008).

Tenaga medis merupakan salah satu ciri dari rumah sakit yang membedakan antara rumah sakit dengan fasilitas pelayanan lainnya. Kontribusi pelayanan medis

oleh dokter di rumah sakit cukup besar dan sangat menentukan serta dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain jenis pelayanan terutama pelayanan rawat inap, keuangan, pemasaran, etika dan hukum maupun administrasi dan manajemen rumah sakit itu sendiri (Levinton et al., 2011).

Dokter sebagai tenaga medis seharusnya mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Hal ini sangat penting diperhatikan, karena selain berkaitan dengan kepuasaan pasien juga berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan jiwa pasien. Oleh karena itu rumah sakit dan dokter yang bekerja di dalamnya dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang profesional, bermutu, sesuai dengan standar yang sudah ditentukan.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera (2005), mendapatkan bahwa alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri antara lain keyakinan akan kemampuan dokter untuk mengatasi penyakit/masalah yang diderita oleh pasien, tingkat kepercayaan pasien akan akurasi diagnosis yang diberikan dokter luar negeri, transparansi hasil diagnosis yang disampaikan oleh tenaga medis pada pasiennya, adanya kebutuhan atas pelayanan prima, dan sugesti bila berobat di luar negeri akan lebih cepat sembuh (Haryanto, 2009).

Menurut Nadesul (2008) fenomena banyaknya pasien Indonesia yang memilih berobat di luar negeri disebabkan pasien merasa tidak puas dengan pelayanan dan perhatian yang diberikan dokter spesialis. Komunikasi yang belum efektif dan waktu komunikasi yang terbatas antara dokter-pasien merupakan faktor penyebab utama ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan dokter.

Manajemen rumah sakit sebagai suatu organisasi harus berupaya untuk meningkatkan kinerja pegawainya. Pada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) (2006) disebutkan bahwa penyelenggaraan praktik kedokteran yang merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian dan kewenangan secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, lisensi serta pembinaan pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan praktik kedokteran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Sutrisno (2010) menyatakan kinerja seseorang diharapkan dapat berfungsi dan berprilaku sesuai dengan tugas yang telah dibebankan kepadanya.

Setiap harapan mengenai bagaimana seseorang harus berperilaku dalam melaksanakan tugas, berarti menunjukkan suatu peran dalam organisasi. Suatu organisasi, baik organisasi pemerintah maupun organisasi privat dalam mencapai tujuan yang ditetapkan harus melalui sarana dalam bentuk organisasi yang digerakkan oleh sekelompok orang yang berperan aktif sebagai pelaku (actors) dalam upaya mencapai tujuan lembaga atau organisasi yang bersangkutan. Tercapainya tujuan organisasi hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang terdapat pada organisasi tersebut. Dalam hal ini sebenarnya terdapat hubungan yang erat antara kinerja perorangan (individual performance) dengan kinerja organisasi. Bila kinerja karyawan baik maka kemungkinan besar kinerja perusahaan atau organisasi juga baik.

Untuk meningkatkan kinerja organisasi rumah sakit, mutlak harus dibuat dan diinformasikan secara jelas struktur organisasi kepada semua pegawai. Struktur organisasi tersebut bertujuan untuk menjelaskan garis wewenang/tanggung jawab, membantu menjelaskan arti dan status dari bermacam–macam unit organisasi serta memperbaiki hubungan yang ada.

Salah satu bagian struktur organisasi yang mempunyai tugas meningkatkan mutu pelayanan medik di rumah sakit adalah komite medik. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 496/MENKES/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit dan Keputusan Menteri Kesahatan RI Nomor 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis di Rumah Sakit menyatakan bahwa komite medik merupakan wadah profesional medis yang bertugas melakukan monitoring dan evaluasi mutu pelayanan medis. Tugas-tugas lainnya adalah menyusun standar prosedur operasional, menyusun indikator mutu pelayanan medis dan melaksanakan audit medis supaya kinerja rumah sakit dapat dipantau dan untuk meningkatkan kualitas pelayanan medik di masa mendatang.

Sutrisno (2010) menyatakan pada kondisi sekarang ini diperlukan instrumen penilaian kinerja alternatif di dalam menilai kinerja tenaga medis. Instrumen penilaian kinerja mainstream yang digunakan selama ini tampaknya tidak menjawab permasalahan yang ada, kinerja tenaga medis terutama di rumah sakit sehingga selalu menjadi sorotan tajam di berbagai media.

Menurut Cokroaminoto (2007) ada 3 hal yang memengaruhi unsur penilaian

pengukuran kinerja menurut Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 139/KEP/K.MAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan Angka Kreditnya dan Nomor 141/KEP/K.MAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter Gigi dan Angka Kreditnya. Melalui metode ini, penilaian prestasi kerja PNS secara sistemik menggabungkan antara penilaian Sasaran Kerja Pegawai Negeri Sipil (SKP) dengan penilaian perilaku kerja. Penilaian prestasi kerja terdiri dari dua unsur yaitu SKP dan perilaku kerja dengan bobot penilaian unsur SKP sebesar 60% dan perilaku kerja sebesar 40%. Dokter speslialis yang diteliti dalam penelitian adalah dokter spesialis fungsional yang memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada pasien.

Pengukuran kinerja tenaga medis/dokter dapat memakai standar evaluasi bersandar pada job description yaitu apa yang diterapkan sebagai kewajiban, kewenangan dan hak dokter spesialis dalam naskah MOU (Memorandum of Understanding). Dapat diterangkan bahwa dokter spesialis fungsional dipekerjakan terutama untuk pelayanan spesialistik medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh. Mereka dituntut memiliki sejumlah jam kerja minimal, ketepatan waktu hadir terutama bila ada emergency, ketaatan pengisian rekam medik, ketaatan meresepkan obat generik, melaksanakan pekerjaan sesuai dengan standar prosedur kerja rumah sakit (termasuk peraturan pemerintah yang diwajibkan untuk tenaga medis secara nasional) serta keaktifan berpartisipasi dalam manajemen non profesi. Penurunan kinerja pelayanan dokter spesialis dapat dinyatakan melalui pelanggaran norma-norma kesepakatan dalam MOU antara lain ketaatan disiplin kerja dan kesiapan

mereka melakukan pelayanan manajemen rumah sakit sekalipun bukan domain pelayanan spesialistik masing-masing dokter spesialis.

Banyak faktor yang memengaruhi kinerja dokter. Menurut (Ilyas, 2012) bahwa kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah karakteristik pribadi (umur, sex, pengalaman, gaya komunikasi), motivasi, pendapatan dan gaji, keluarga, organisasi, supervisi dan pengembangan karir

Hasil penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian adalah dari Edy (2013) yang mengkaji pengaruh modal sosial dan budaya organisasi terhadap kinerja tenaga medis di RSUD Kabupaten Kepulauan Talaud. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa modal sosial dan budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja tenaga medis.

Penelitian Listyadewi tahun 2014 yang mengkaji hubungan faktor motivasi dan disiplin dengan kinerja tenaga kesehatan di Badan Rumah Sakit Umum Tabanan.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh hasil indeks jajak pendapat terhadap pasien rawat inap yang menunjukkan bahwa masih terdapat adanya ketidakpuasan pasien akan layanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Penelitian menggunakan metode analisis univariat dan bivariat diperoleh hasil bahwa tenaga kesehatan yang mempunyai kinerja tinggi 75,3% dan kinerja rendah 24,7%, serta ada hubungan bermakna antara motivasi dan disiplin dengan kinerja tenaga kesehatan.

Penelitian serupa pernah dilakukan di Rumah Sakit Haji Medan oleh Hendra (2013) menyimpulkan terdapat pengaruh motivasi intrinsik terhadap kinerja dokter

dominan memengaruhi kinerja dokter. Disarankan kepada pimpinan manajemen rumah sakit dalam mengambil kebijakan tentang kompensasi sebaiknya lebih berhati-hati dan mengoptimalkan kondisi kerja dokter seperti promosi jabatan yang variatif sehingga menimbulkan lingkungan kerja yang lebih kondusif serta mengoptimalkan fungsi pengawasan oleh komite medik yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja dokter

Peneliti melihat kedua penelitian yang sebelumnya sebagaimana diuraikan di atas berdasarkan jenis datanya menggunakan metode pendekatan kuantitatif untuk melihat faktor yang memengaruhi kinerja atau yang berhubungan dengan kinerja tenaga medis (dokter). Perbedaan penelitian ini adalah menambah variabel prediktor (independen) yaitu individu seperti umur, jenis kelamin, pengalaman, orientasi mediko-sosoal dan gaya komunikasi. Namun objek penelitian tetap sama yaitu tenaga medis (dokter umum, dokter gigi dan dokter spesialis) di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Pemerintah Aceh Banda Aceh.

Rumah sakit yang menjadi lokasi penelitian ini adalah salah satu rumah sakit kelas B khusus dengan 110 tempat tidur. Berdasarkan laporan BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh tahun 2014 diketahui jumlah tenaga medis sebanyak 39 orang dengan rincian 29 orang dokter umum, 3 orang dokter gigi, dan 2 orang dokter spesialis Obgyn, 1 orang dokter spesialis Bedah, 3 orang dokter spesialis Anak, dan 1 orang dokter spesialis Rehabilitasi Medis. BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh terus melakukan pembenahan dan pengembangan ke arah yang lebih baik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan diantaranya dengan program penempatan

tenaga kesehatan sesuai kebutuhan dan program pelatihan. Juga pengembangan program sistem informasi dan program alat kesehatan.

Kondisi kualitas pelayanan kesehatan BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh dapat dilihat dari pengelolaan efisiensi tempat tidur yaitu dari nilai BOR (Bed Occupancy Rate) tahun 2011 BOR mencapai 83,90%, tahun 2012 mencapai 78,57%, tahun 2013 mencapai 69,4%, dan tahun 2014 dengan BOR 66,1% (BOR ideal 60-86%). Dilihat dari nilai BOR yang cenderung terjadi penurunan pada periode 2011-2014, maka dapat dikatakan bahwa kinerja BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh cenderung menurun. Kondisi ini dapat disebabkan masyarakat lebih memilih berobat ke klinik/balai pengobatan dan puskesmas yang mudah dijangkau dari tempat tinggalnya.

Informasi lain yang ditemukan terkait kinerja dokter di BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh berdasarkan hasil persepsi pasien berdasarkan kotak saran diperoleh dari 18 surat yang masuk ditemukan sebanyak 66,7% (12 orang pasien) menyatakan keluhan tentang pelayanan medis, seperti keberadaan dokter, keterlambatan kunjungan dokter, dan komunikasi dengan pasien kurang efektif dan 6 orang (33,3%) menyatakan pelayanan sudah baik tetapi perlu ditingkatkan lagi.

Informasi lanjutan yang diperoleh dari hasil wawancara informal kepada 8 orang pasien yang sedang dirawat inap di rumah sakit ini saat dilakukannya survey pendahuluan, diketahui 6 orang pasien merasa kurang puas atas kinerja tenaga medis diantaranya adalah keterlambatan kunjungan atau dokter tidak tepat waktu dalam pemeriksaan, waktu penyampaian informasi tentang kesehatan terbatas, dan responsif

dokter dalam berkomunikasi kurang efektif (BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh, 2014).

Berdasarkan beberapa fenomena dan informasi keluhan pasien tentang kinerja tenaga medis di BLUD RSIA Pemerintah Banda Aceh, maka dilakukan penelitian tentang Pengaruh Karakteristik Individu dan Motivasi terhadap Kinerja Tenaga Medis di BLUD RSIA Pemerintah Aceh Banda Aceh.

Dalam dokumen TESIS. Oleh : KIKI YUDI SAPUTRA (Halaman 15-23)

Dokumen terkait