• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Operasional

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.2 Kerangka Operasional

Sumberdaya hutan adalah salah satu jenis sumberdaya yang banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pembangunan ekonomi nasional dan daerah. Akan tetapi tidak semua jenis hutan yang dapat dimanfaatkan, salah satu contoh yakni hutan cagar alam adalah jenis hutan yang dilestarikan atau dijaga keberadaannya agar tetap lestari.

Peningkatan pertumbuhan penduduk, selain sebagai modal dasar pembangunan nasional namun di sisi lain justru menimbulkan peningkatan kebutuhan lahan, kayu untuk perumahan. Selain itu akibat tekanan pembangunan ekonomi daerah mengakibatkan kebutuhan lahan untuk kegiatan pertanian/perladangan, pertambangan golongan C dan infrastruktur semakin meningkat.

Fenomena ini mengakibatkan banyaknya kegiatan penebangan liar yang dilakukan oleh masyarakat setempat, sehingga konversi lahan pada wilayah CAPC menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari. Menurut data Dinas Kehutanan

dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura tahun 2008 kawasan CAPC yang telah dirambah sebesar 9.374 hektar. Akibat dari penebangan liar, Cycloop mengalami longsor, sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar, baik secara ekonomi yang terdiri dari: penurunan pendapatan dan kesejahteraan), dan non ekonomi yakni: kerusakan fisik dan penurunan tutupan.

Longsornya kawasan CAPC menyebabkan terjadinya penurunan produksi hasil pertanian, perkebunan antara lain: a) kerugian finansial dalam bentuk kerusakan tanaman dan menurunnya produktivitas tanaman, b) kerugian non finansial yaitu menurunnya fungsi tanaman sebagai penyerap dan pelepas karbon, serta sebagai pengendali erosi. Kerugian yang terjadi pada lahan perkebunan dan tanaman pangan termasuk nilai manfaat yang dapat dikonsumsi atau diproduksi langsung sehingga dikategorikan sebagai kerugian nilai manfaat (use value).

Longsor hutan CAPC juga menyebabkan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat, dan masyarakat setempat mengalami sakit seperti: diare, penyakit kulit dan lain sebagainya. Selain itu juga menyebabkan penurunan kawasan perlindungan, daerah-daerah yang termasuk dalam daerah konservasi mengalami kerusakan.

Besarnya kerugian finansial dan non finansial akibat longsor/erosi kawasan hutan CAPC terhadap sumberdaya hutan dan lahan pertanian dan perkebunan masyarakat, maka perlu dilakukan penilaian ekonomi total kerugian lingkungan dari setiap sumberdaya yang terkena dampak, baik yang dapat dimanfaatkan (use value) maupun yang tidak dimanfaatkan (non use value).

Perlu adanya solusi kebijakan untuk mengatasi masalah penebangan liar, konversi lahan, pembangunan rumah di atas gunung. Solusi tersebut dengan melibatkan semua stakeholder yang terkait dengan kawasan hutan CAPC yakni:

lembaga masyarakat adat dan non adat Sentani, Wamena, suku pendatang, pihak pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dengan pelibatan semua stakeholder tersebut diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan kawasan hutan CAPC yang baik dan berkesinambungan (Gambar 2):

Gambar 2 Bagan Alir Penelitian Penilaian Ekonomi Kerusakan Lingkungan Akibat Banjir/Longsor Hutan CAPC Penebangan Liar (Illegal Logging) dan

Kerusakan Kawasan Hutan Cagar Alam Pegunungan Cycloop 1. Kerusakan Fisik hutan; 2. Penurunan Tutupan

Dampak Ekonomi : a. Kerugian Negara b. Penurunan Pendapatan c. Penurunan Kesejahteraan Dampak Sosial

Nilai Ekonomi Total (TEV) Akibat Penebangan Liar dan Nilai Ekonomi Total (TEV) Dampak Kerusakan Hutan CAPC

Alternatif Kebijakan Meminimalkan Dampak Kerusakan CAPC (AHP) Biaya

Pencemaran kekeringan Erosi Kehilangan

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tiga kelurahan (Kelurahan Hinekombe, Kelurahan Sentani Kota, dan Kelurahan Dobonsolo) sekitar kawasan CAPC di Distrik Sentani Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dan dilaksanakan pada bulan Februari 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data hasil wawancara tentang penurunan pendapatan masyarakat dan penurunan kesejahteraan masyarakat yang meliputi penurunan produksi hasil pertanian dan perkebunan, jumlah pengeluaran masyarakat untuk berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit, penurunan manfaat perlindungan, pandangan tentang keberadaan CAPC dan data persepsi yang dibutuhkan. Data Primer bersumber dari masyarakat setempat yang mendiami kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Pemerintah, Stakeholder, Swasta dan LSM yang bergerak di bidang konservasi sumberdaya alam dan lingkungan, dengan metode wawancara maupun kuesioner.

Data sekunder berasal dari laporan statistik, laporan penelitian, laporan tahunan, maupun data lain berupa tulisan, tabel, diagram, grafik, gambar dan informasi lainnya yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah, lembaga swasta, maupun pihak lain yang terkait dengan penelitian ini. Data sekunder yang dikumpulkan berupa gambaran umum wilayah Kabupaten Jayapura terdiri dari iklim, topografi, geologi, hidrologi, vegetasi, flora dan fauna, sistem pemerintahan, penyebaran penduduk, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan lain sebagainya.

4.3. Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan CAPC yang merasakan dampak langsung akibat longsor/erosi hutan CAPC pada bulan Maret tahun 2007 yakni pada Distrik Sentani. Jumlah

populasi yang mendiami kawasan CAPC adalah sebanyak 5.000 orang atau sebanyak 1.000 Kepala Keluarga (KK dasar penentuan sampel yakni dengan metode Sampel Acak Distratifikasi (stratified random sampling) yakni :

1. Melakukan stratifikasi dan memilih penduduk secara langsung yang terkena dampak longsor/erosi berdasarkan jenis pekerjaan (petani, pegawai negeri, TNI/ABRI, pengusaha atau pegawai swasta, pengumpul pasir, pedagang), terutama penduduk terdekat yang berada pada lokasi longsor.

2. Menentukan jumlah sampel atau responden penduduk minimal 10% atau sekitar 100 KK di Distrik Sentani. Sampel berdasarkan keragaman pekerjaan dan homogenitas dampak yang ditimbulkan oleh erosi/longsor (lama tidak kerja, jenis penyakit, jenis usaha, dampaknya pada kesehatan).

Metode sampel/responden dalam pengambilan kebijakan yakni metode purposive sampling dengan pertimbangan bahwa responden adalah pelaku (individu atau lembaga) yang mempengaruhi pengambilan kebijakan, baik langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan kawasan Cycloops (CAPC).

Responden terdiri dari tujuh orang yang dianggap mewakili stakeholder yaitu pejabat atau staf yang menguasai permasalahan yang berasal dari beberapa instansi/lembaga, antara lain: Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Balai Pengelolaan Konservasi Sumberdaya alam (BKSDA), Pakar Perguruan Tinggi, Tokoh Masyarakat atau Tokoh Adat, LSM Lokal Bidang Lingkungan Hidup, LSM Internasional Bidang Lingkungan Hidup, dan Swasta (Pengusaha).

4.4. Metode Analisa Data

Analisa kerugian ekonomi yang dirasakan oleh pemerintah, masyarakat akibat longsornya kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloops.

4.4.1. Analisa Kerugian Ekonomi Negara Akibat Penebangan Liar.

Perhitungan kerugian ekonomi negara akibat penebangan liar didasarkan pada nilai potensi kehilangan kayu akibat penebangan liar yang dilakukan oleh masyarakat, dan juga berdasarkan jumlah penerimaan negara

yang disetor ke pemerintah daerah yakni berupa Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH).

4.4.2. Analisa Tingkat Penurunan Produksi Pertanian dengan memakai Pendekatan Perubahan Produktivitas

Perhitungan manfaat ekonomi kawasan konservasi pegunungan Cycloops dapat dilakukan, dengan cara menghitung perubahan produktivitas kawasan tersebut (Fauzi dan Anna, 2005). Pendekatan nilai pasar atau produktivitas, untuk menilai dampak penurunan produksi tanaman pertanian dan perkebunan rakyat :

{ }

1 1

( ) )

n n i j

PHPT PHPTBij PHPTSij LTPij HPTij

=ΣΣ

= =

− × ×

Dimana:

PHPT = Nilai kerugian turunnya hasil panen tanaman pertanian dan perkebunan (Rp)

PHPTBij = Jumlah hasil panen tanaman pertanian/perkebunan ke-i per hektar sebelum erosi, di lokasi j (kg/ha)

PHPTSij = Jumlah hasil panen tanaman pertanian/perkebunan ke-i per hektar setelah erosi, di lokasi j (kg/ha)

LTPij = Luas tanaman pertanian/perkebunan ke-i sekarang, di lokasi j (ha)

HPTij = Harga produksi tanaman pertanian/perkebunan ke-i sekarang, di lokasi j (Rp/kg)

i = Jenis tanaman pertanian dan perkebunan

j = Areal perkebunan dan pertanian di kawasan hutan CAPC.

4.4.3. Analisa Dampak Kerusakan Hutan Kawasan CAPC Terhadap Tingkat Kesehatan dengan Memakai Pendekatan Biaya Pengobatan (Cost of Illness).

Pendekatan ini digunakan untuk memperkirakan biaya morbiditas akibat perubahan yang menyebabkan orang menderita sakit. Total biaya dihitung

baik secara langsung maupun tidak langsung. Biaya langsung yaitu mengukur biaya yang harus disediakan untuk perlakuan penderita lain meliputi: biaya berobat di puskesmas atau rumah sakit, biaya perawatan selama penyembuhan, biaya obat-obatan, atau biaya pelayanan kesehatan lainnya.

4.4.4. Analisa Dampak Sosial Yang Dirasakan Masyarakat di Distrik Sentani Sebagai Dampak Dari Erosi/Longsor Hutan CAPC dengan Menggunakan Pendekatan Deskriptif-Kualitatif.

Analisa deskriptif-kualitatif mengacu pada Miles dan Huberman (1992) yaitu dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

4.4.5. Analisa Nilai Penurunan Kawasan Perlindungan dengan Memakai Pendekatan Transfer Benefit

Perhitungan nilai manfaat untuk penurunan kawasan perlindungan didasarkan kepada pendekatan transfer benefit. Nilai transfer benefit konservasi biodiversity untuk vegetasi hutan di Indonesia sebesar US$

300/km2/tahun (konversi US$ 1= Rp 2500), menurut EEPSEA dan WWF (1998) dalam Glover dan Timothy (1999). Notasi perhitungan nilai pilihan konservasi biodiversity sebagai berikut :

1

( )

n

j j

j

N P K B N K B L A

=

=

×

Dimana :

NPKB = Nilai manfaat pilihan konservasi biodiversity (Rp)

NKBj = Nilai konservasi biodiversity/km2/tahun di lokasi longsor-j (Rp/km2/tahun)

LAj = Luas areal longsor ke-j (km2) j = (Hutan CAPC).

4.4.6. Analisa Total Economic Value (TEV)

Nilai ekonomi total (NET) dampak kerusakan hutan CAPC diformulasikan sebagai berikut :

N E T = M L

Dimana:

ML = Manfaat langsung

Pendekatan yang digunakan untuk menghitung nilai ekonomi total hutan CAPC adalah dengan menggunakan Metode Perubahan Produktivitas, Cost of Illness, dan Deskriptif Kualitatif (Gambar 3).

Gambar 3 Teknik Pendekatan Perhitungan Nilai Ekonomi Total

4.4.7. Analisa Analisis Hirarki Proses (AHP) Prinsip Dekomposisi :

a. Digunakan untuk menstrukturkan permasalahan yang kompleks menjadi hirarki dari klaster/level, sub-klaster/sub-level dan seterusnya.

b. Hirarki: suatu tipe penggambaran khusus suatu sistem, yang didasarkan atas asumsi bahwa entitas sistem yang telah diidentifikasi dapat dikelompokkan menjadi himpunan yang terpisah.

c. Digunakan untuk menjelaskan bagaimana perubahan prioritas pada level yang lebih tinggi mempengaruhi prioritas dari elemen dibawahnya.

T E V

USE VALUE

COST OF ILLNESS PERUBAHAN

PRODUKTIVITAS

TRANSFER BENEFIT

DESKRIPTIF KUALITATIF

Metode Pendekatan Analisis Hirarki Proses (AHP) dalam mengatasi kerusakan hutan CAPC dideskripsikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Analisis Hirarki Proses (AHP) dalam Mengatasi Kerusakan Hutan CAPC.

Gunung Cycloops merupakan kawasan konservasi cagar alam yang terdapat di Kabupaten Jayapura. Fungsi dan manfaat kawasan Cycloops sangat penting bagi kehidupan masyarakat serta untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan di Kota Sentani Kabupaten Jayapura. Oleh karena itu pengelolaannya harus dilaksanakan sebaik mungkin. Faktanya pengelolaan-pengelolaan kawasan Cycloops belum maksimal, masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat dan adat belum sepenuhnya dilibatkan secara aktif. Di satu sisi pemerintah mengaku telah bekerja sesuai program dan kegiatan dan di sisi lain masyarakat juga merasa bekerja sesuai keinginannya. Dampak dari kurangnya komunikasi dan kerjasama tersebut mengakibatkan pengelolaan Cycloops kurang berkesinambungan.

Masalah

Mengatasi Kerusakan Hutan CAPC

Lembaga

Selain akibat kurangnya komunikasi dan kerjasama dalam pelaksanaan program, kerusakan Cycloops juga terjadi sebagai akibat dari kegiatan penebangan, konversi lahan menjadi lahan pertanian, pembangunan rumah, pengambilan bahan galian C, dan pembakaran serta aktivitas lain yang merusak.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh masyarakat pendatang dari Wamena, Paniai, Puncak Jaya, dan suku di luar papua. Akibatnya pada tahun 2007 terjadi tanah longsor dan banjir yang menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat Kota Sentani dan juga kerusakan ekologi Cycloops itu sendiri.

Untuk mengatasi masalah kerusakan hutan Cycloops adalah merupakan tugas dan tanggungjawab bersama semua pihak. Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab karena merupakan pengelola dan penanggungjawab program-program pengembangan dan pelestarian kawasan Cycloops.

Untuk keberlanjutan program pemerintah, diperlukan dukungan dari seluruh stakeholder, yang terdiri dari Lembaga Masyarakat Adat (LMA) sebagai pemilik hak ulayat, masyarakat sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk menjaga dan melestarikannya, akademisi dan LSM Lingkungan sebagai pihak yang memberikan masukan dan ide-ide dalam pengelolaan Cycloops, serta pihak swasta sebagai pihak yang harus turut menjaga kelestarian.

Pendekatan program dan kebijakan yang dilakukan yakni berupa Kebijakan Hutan Lestari dan ramah Lingkungan, Kebijakan Pencegahan Konflik Pengelolaan, dan Kebijakan Pengembangan Ekonomi, Sosial dan Budaya. Ketiga pendekatan kebijakan tersebut diwujudkan dalam Kebijakan Pencegahan Kerusakan Hutan yakni berupa pengembangan lembaga-lembaga ekonomi yang berada di wilayah Cycloops. Lembaga ekonomi tersebut berupa koperasi, unit usaha kecil, dan lembaga-lembaga pendidikan dan keterampilan.

Kebijakan pemberdayaan masyarakat hutan yakni berupa pemberian hewan ternak, pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat, sehingga tidak bergantung lagi terhadap lingkungan.

Kebijakan penguatan lembaga masyarakat adat dilakukan dengan melibatkan LMA secara penuh dalam pengelolaan Cycloops, yang berarti pengakuan akan keberadaan LMA. Kebijakan penegakan hukum bagi masyarakat yang melanggar

dan merusak lingkungan Cycloops harus ditegakkan dengan memberikan sanksi yang tepat baik sanksi adat maupun sanksi hukum.

Kebijakan pengembangan hutan wisata/pendidikan yakni dengan mengembangkan dan mengemas Gunung Cycloops sebagai daya tarik bagi masyarakat lokal dan luar sebagai tempat wisata alam. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan membangun sarana dan prasarana yang mendukung sebagai tempat wisata. Selain itu semua kawasan Cycloops dapat dikembangkan sebagai tempat pendidikan baik untuk pengambilan data untuk penulisan tugas akhir, penelitian, pengembangan ilmu dan lainnya yang dapat mendukung dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan kemajuan pendidikan di Papua dan dunia.

Tujuan dari penerapan model ini yakni sebagai upaya mencegah kerusakan hutan CAPC, menumbuhkan kawasan hutan CAPC yang lestari, merumuskan alternatif kebijakan pengelolaan CAPC yang ramah lingkungan, serta mencegah terjadinya konflik pengelolaan CAPC antara masyarakat, swasta dan pemerintah.

(Tabel 5).

Tujuan Alat Analisis

Jenis Sumber Keterangan

1. Mendeskripsikan kerusakan hutan CAPC yang dirasakan oleh masyarakat.

a. Metode Deskriptif Kualitatif

Data Primer dan Sekunder tentang: tingkat kerusakan hutan CAPC, serta dampak yang dirasakan oleh

a. Metode Stratified Random Sampling b. Jumlah sampel 10%

dari jumlah penduduk 1.000 KK yakni sebanyak 100 KK 2. Untuk memperkirakan

dampak penebangan liar terhadap kerugian negara dan dampak kerusakan hutan CAPC terhadap

kesejahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat.

a. Analisis Kerugian Ekonomi Negara b. Metode Perubahan

Produktivitas c. Cost of Illnes d. Transfer Benefit e. TEV

Data Sekunder tentang kehilangan kayu dan iuran PSDH dan DR, dan Data Primer dan Sekunder tentang: Penurunan

a. Metode Stratified Random Sampling b. Jumlah sampel 10%

dari jumlah penduduk 1.000 KK yakni sebanyak 100 KK

3. Merumuskan tindakan untuk mengatasi masalah kerusakan kawasan CAPC dan

merekomendasikan pengembangan kawasan CAPC yang baik agar dapat mengurangi kerusakan

a. Metode Purposive Sampling

c. Jumlah sampel sebanyak 7 orang.

V. GAMBARAN UMUM LOKASI

5.1. Keadaan Umum Wilayah Penelitian 5.1.1. Sejarah Kawasan Cycloop

Seorang ilmuwan yakni Louis Antoine de Bogenville pada tahun 1768, melakukan ekspedisi dan menemukan 2 (dua) puncak gunung yang dinamai ”les deux Cycloops”, dalam bahasa Yunani artinya raksasa buas yang sedang tidur, menyeramkan dan hanya memiliki satu mata dan gigi yang runcing. Cycloops memiliki dua perbedaan masif, sehingga keberadaan flora dan fauna berbeda. Di sebelah Barat disebut Cycloops dan sebelah Timur disebut Bougainville.

Cycloops membentang memanjang antara Teluk Tanah Merah di sebelah Barat dan Teluk Yos Sudarso (Teluk Humbolt) sebelah Timur. Pada bagian Utara Pegunungan Cycloops terletak Samudera Pasifik, sedangkan bagian Selatan berbatasan dengan Danau Sentani (Urville, Cesar, 1830).

Pegunungan Cycloops ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan SK Menteri Pertanian RI Nomor: 56/Kpts/Um/10/I/1978 yang meliputi kawasan seluas 22.500 ha. Serta diperkuat oleh SK Menteri Kehutanan Nomor 365/Kpts-II/1987 tentang penegasan kembali kawasan Pegunungan Cycloops sebagai Kawasan Cagar Alam.

5.1.2. Letak Geografis

Kawasan CA Cycloops terletak pada elevasi antara 0–1880 meter di atas permukaan laut (dpl), dan terletak pada koordinat geografis 02º26’15”- 02º34’40”

LS dan 145º24’30”- 145º43’15” BT membentang dari sebelah Timur Kota Jayapura ke arah barat hingga berakhir di dataran rendah berawa-rawa, sungai dan danau di lembah Mamberamo-Foja. Selain itu kawasan Cycloops memiliki tata batas temu gelang sepanjang 103,48 km dengan jumlah pal batas sebanyak 1368 pal. Secara administratif CA. Cycloops termasuk dalam wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura (PKBI Papua, 2003).

5.2. Potensi Cagar Alam Pegunungan Cycloops 5.2.1. Iklim

Cagar Alam Cycloops terletak di wilayah iklim tropis yang terus menerus lembab. Curah hujan bulanan rata-rata di Stasiun Sentani dan Stasiun Jayapura dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir adalah sebesar 164,6 mm. Curah hujan tertinggi tercatat sebesar 233,3 mm pada bulan April dan terendah sebesar 94,1 mm pada bulan September. Perbedaan antara musim penghujan dengan musim kemarau, serta musim angin barat dengan musim angin timur relatif tidak nyata, hal itu disebabkan oleh hujan turun hampir sepanjang tahun. Jumlah hari hujan rata-rata tahunan tercatat sebesar 188 hari. Musim barat berlangsung antara bulan November hingga Desember. Suhu udara bulanan rata-rata adalah sebesar 27,5º C, kelembaban udara rata-rata bulanan tercatat sebesar 82,3%. Musim penghujan yang bertiup dari Barat Laut menurunkan hujan sepanjang Pantai Utara Papua, selama musim ini gelombang laut semakin besar dan menghantam pantai membentuk rona pantai baru. Selain itu musim ini juga mengakibatkan tanah longsor, akibat curah hujan yang tinggi (BMG Jayapura, 2003).

5.2.2. Geology dan Hidrogeologi

Struktur geologis pegunungan ini ditentukan oleh posisinya terhadap sentuhan (contact zone) dua lempengan litosfir besar, lempengan kontinen Australia dan lempengan samudera pasifik. Pegunungan Cycloops terdiri dari batuan metamorfosik (malihan), batuan basa, dan batuan ultrabasa. Batuan ultrabasa terdiri dari harzburgit, serpentinit, piroksenit, dan dunit, mineral tama olivin, terubah menjadi sefiolit dan antigorit dan puioroksen. Batuan ultrabasik ini tersebar luas di bagian timur Cycloops. Batugamping dan biomikrit, berlapis baik-jelek yang terletak di bagian Tenggara kawasan Cycloops.

Kawasan Cycloops merupakan daerah resapan (recharge area) bagi air tanah, struktur kekar pada batuan ultrabasa dan batu gamping membentuk rongga yang dapat dialiri air. Air tanah mengalir melalui rongga-rongga tersebut ke kawasan yang lebih rendah yang berfungsi sebagai daerah resapan dan bermanfaat bagi penyediaan air bersih penduduk Jayapura dan sekitarnya.

Di kawasan Cycloops terdapat beberapa sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh PDAM Jayapura, antara lain Intake Buper, Kampwolker, Siborogonyi, Entrop, Kloofkamp, APO dan Angkasa. Pegunungan Cycloops merupakan hulu dari sekitar tiga puluh sungai besar dan kecil, beberapa diantaranya adalah sungai Sumbergoni, APO, Acai, Anafre dan Pos Tujuh, Sungai Acai, APO dan Sumbergoni, sungai-sungai yang melintasi Distrik Sentani bermuara di Danau Sentani.

Kondisi hidrologi kawasan Cycloops secara rinci belum diketahui dengan pasti, berdasarkan peta sungai di kawasan Cycloops, mengalir ke utara menuju Samudera Pasifik dan ke Selatan menuju Danau Sentani. Sungai-sungai di kawasan ini banyak yang hilang masuk ke dalam tanah kemudian muncul kembali di tempat tertentu. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sistem hidrogeologi setempat yang umumnya melintasi batuan dengan sistem rekahan (Baker 1955, dalam Royen, 1963).

5.2.3. Flora dan Fauna

Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloops terdiri dari vegetasi: hutan primer, hutan sekunder, padang rumput, rawa dan tanah tergenang dan hutan ultrabasik. Pada ketinggian lebih dari 600 meter dpl terdapat jenis flora, seperti Castanopsis Acuminatisima, Lithocarpus, Quercus sp.

Pada ketinggian 800 meter (dpl) ditumbuhi lumut (moss) pada batang pohon, cabang-cabang bahkan pada daun. Jenis Pohon di hutan sekunder ini termasuk Artocarpus sp, Deplachea glabra, Octomeles sumatrana dan sebagainya. Pada ketinggian lebih dari 1.000m dpl, ditumbuhi Lithocarpus, Notofagus, dan berbagai jenis anggrek. Di atas 1.200m dpl hutan Lithocarpus sp digantikan oleh Notofagus flaviramea (Farid, Suer S, Yance DF, 2001).

Keberadaan berbagai jenis flora di Cycloops merupakan faktor yang penting bagi kelangsungan hidup fauna di kawasan tersebut, dengan jenis burung yang dilindungi, jenis endemik Papua, jenis endemik Indonesia, jenis burung pengunjung (winter visitor). Jenis burung yang dilindungi adalah Cenderawasih, Kasuari, Rangkong, kelompok Merpati, Mambruk, Kakatua Raja atau Hitam, Nuri

Merah kepala hitam, burung-burung Betet (Parrot). Berikut jenis flora di Papua yang dikelompokkan menurut status:

a) Tumbuhan Endemik adalah sagu (Metroxylon sp), meliputi sagu berduri dan sagu tak berduri, Matoa dengan tingkat penyebaran yang sangat luas.

b) Tumbuhan Eksotik adalah Eceng Gondok yang terdapat di Danau Sentani di Selatan Kawasan Cycloops.

c) Antropogenik adalah berupa kirinyuh (Chromolaena odorata) yang berasal dari Amerika. Kirinyuh dijumpai di kaki pegunungan Cycloops dan dikawatirkan akan menjadi tumbuhan pesaing bagi jenis asli di Cycloops.

Selain itu di CAPC juga memiliki kekayaan fauna yang sangat banyak.

Hasil penelitian dan penemuan World Wild Found (WWF) dan Conservation International (CI) di kawasan Cycloops memiliki jenis fauna seperti: 278 jenis Burung, 86 jenis Mamalia (WWF, 1984), 141 jenis Reptil, 53 jenis Katak 271 jenis Kupu-Kupu, 33 jenis Ikan Air Tawar (CI, 2000), dan 195 jenis Ikan Laut (CI, 2000). Penelitian tahun 2000 oleh CI ditemukan jenis Tumbuhan terbaru sebanyak 127 jenis, 90 jenis Burung, 8 jenis Mamalia termasuk dalam kelompok Kelalawar (3 Jenis), Possum, dan Tikus. Sedangkan Herpetofauna sebanyak 26 jenis Reptil (Kadal, Ular, Penyu) dan 8 jenis Kodok. Jenis Ikan Air Tawar sebanyak 34 jenis, Serangga (Kupu-kupu) sebanyak 66 jenis Kupu-Kupu Siang (Farid M, Suer S, Yance DF, 2001).

5.2.4. Potensi Bahan Tambang dan Sumberdaya Mineral

Potensi bahan galian di kawasan Cycloops belum teridentifikasi secara pasti. Pada beberapa lokasi memiliki bahan galian golongan C untuk bahan bangunan. Batuan di kawasan Cycloops tersusun oleh batuan metamorf dan batuan beku yang kuat untuk dijadikan bahan bangunan. Terdapat sebanyak 7

perusahaan yang bergerak di bidang hasil tambang galian Golongan C di Kabupaten Jayapura. Diantara perusahaan tersebut belum memiliki izin dari

Gubernur dan rekomendasi Bupati Kabupaten Jayapura. Luas perkiraan produksi tambang Golongan C (Tabel 6).

Tabel 6 Luas Perkiraan Produksi Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Kabupaten Jayapura

No. Lokasi Luas (Ha) Produksi (M3) Keterangan

1 Sentani Timur 23,73 76.507 -

2 Sentani 0,024 3.000 -

3 Sentani Barat 11,25 23.194 -

4 Kemtuk 2,5 1.400 -

5 Nimboran 1,5 391 -

6 Nimbokrang 1,3 4.080 -

Jumlah 40.304 108.572

Sumber: Dinas Perindakop Kabupaten Jayapura, 2006 .

Dari tabel di atas menunjukkan luas bahan galian Golongan C terluas di Distrik Sentani Timur 23,73 hektar dengan produksi 76.507m3, diikuti Distrik

Dari tabel di atas menunjukkan luas bahan galian Golongan C terluas di Distrik Sentani Timur 23,73 hektar dengan produksi 76.507m3, diikuti Distrik