I. PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Studi ini melakukan estimasi tentang kerugian negara akibat penebangan liar dan dampak kerusakan hutan kawasan CAPC terhadap tingkat kesejahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat. Obyek penelitian dalam studi ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan CAPC yang mengalami bencana dan kerusakan harta benda, selain itu fasilitas sarana dan prasana yang disediakan pemerintah yakni bangunan, infrastruktur jalan dan lain sebagainya. Asumsi yang dipakai pada penelitian ini adalah masyarakat yang
mengalami bencana adalah masyarakat yang juga melakukan penebangan liar di kawasan Cycloops.
Studi ini juga merumuskan upaya-upaya yang dapat dilaksanakan oleh seluruh stakeholder yang berhubungan dengan pengelolaan kawasan hutan CAPC termasuk masyarakat yang mendiami kawasan CAPC dan masyarakat yang terkena dampak kerusakan, dalam mengatasi masalah kerusakan kawasan CAPC dan mengembangkan model pengembangan yang baik dan berkelanjutan.
Ada beberapa batasan dalam studi ini yakni: pertama, studi ini hanya memperkirakan kerugian negara akibat penebangan liar yang terjadi di kawasan CAPC sampai pada tahun 2007, kedua, studi hanya memperkirakan dampak kerugian akibat banjir dan tanah longsor yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan CAPC pada tahun 2007. Ketiga, dari jumlah penduduk 5.000 orang atau sekitar 1.000 KK, jumlah sampel yang diambil untuk mengetahui dampak erosi/longsor terhadap kerugian masyarakat dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 KK yang yang berasal dari Distrik Sentani. Keempat, studi ini tidak menganalisis dampak ekonomi kerusakan kawasan CAPC yang dirasakan masyarakat di luar lokasi penelitian dan juga tidak menghitung unit ekonomi yang terkena dampak, tetapi tidak berada dalam kawasan lokasi penelitian. Kelima, masyarakat yang mengalami bencana adalah masyarakat yang melakukan kerusakan (penebangan liar, pembangunan rumah, konversi lahan dan sebagainya).
2.1. Penilaian Ekonomi Dampak Kerusakan Hutan
Hutan sebagai suatu ekosistem memberikan manfaat langsung dan tidak langsung. Menurut Gregory (1972), hutan selain berfungsi sebagai kawasan produksi yang berperan dalam produksi kayu dan produk hasil hutan non kayu yang memiliki fungsi sosial ekonomi bagi masyarakat, juga berfungsi sebagai pelindung tanah, air, iklim, sumber plasma nuftah, dan biodiversitas.
Menurut Barbier (1995), kehilangan keanekaragaman hayati memberikan konsekuensi hilangnya nilai ekonomi potensial dari hutan seperti: produk hutan non kayu, bahan genetik untuk industri farmasi, bioteknologi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta jenis-jenis kayu yang tidak dipasarkan.
Dampak tidak langsung erosi/longsor adalah hilangnya jasa-jasa lingkungan hutan yang menyebabkan hilangnya manfaat dari sumberdaya hutan sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang seharusnya dapat diperoleh. Pengelolaan lingkungan dapat dicapai dengan menerapkan ekonomi lingkungan sebagai instrumen yang mengatur alokasi sumberdaya secara rasional (Steer, 1996).
Kebijakan mengurangi suatu dampak lingkungan akan dipengaruhi oleh perhitungan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencegah (preventif) atau memperbaiki dan manfaat yang akan diperoleh kemudian (Spash, 1997). Preventif dipahami sebagai perlakuan pencegahan sebelum terjadinya dampak (ex-ante) sedangkan perbaikan merupakan perlakuan setelah dampak terjadi (ex-post).
Penilaian manfaat lingkungan secara ekonomis dengan sangat kecil atau sangat besar harus ditinggalkan dan barang dan jasa lingkungan harus dinilai keuntungannya secara finansial (Barbier, 1995).
Pengambilan kebijakan apakah preventif atau perbaikan harus dibuat terutama untuk melihat besarnya investasi yang dikeluarkan untuk tindakan preventif maupun biaya untuk memperbaiki dampak yang sudah terjadi (Barrett dan Segerson, 1997). Permasalahan utama dalam program perlindungan lingkungan, termasuk pengelolaan hutan CAPC adalah bahwa keuntungan dari program pengelolaan hutan CAPC seperti fungsi hidrologis dan ekologis tidak mempunyai nilai ekonomi atau nilai pasar langsung.
Aplikasi ekonomi lingkungan dalam pengambilan kebijakan bagi perlindungan dan perbaikan lingkungan termasuk pengelolaan hutan CAPC mempunyai beberapa permasalahan, seperti identifikasi dan kuantifikasi dampak lingkungan, valuasi keuntungan, biaya lingkungan.
Valuasi ekonomi manfaat lingkungan dan sumberdaya alam sangat diperlukan bagi pengambilan kebijakan dan analisis ekonomi suatu aktivitas proyek. Dalam valuasi dampak, faktor yang perlu diperhatikan adalah determinasi dampak fisik dan valuasi dampak dalam aspek moneter. Penilaian dampak secara moneter didasarkan pada penilaian ahli akan dampak fisik dan keterkaitannya, karena dampak dapat menyebabkan perubahan produktivitas maupun perubahan kualitas lingkungan. Para ahli ekonomi telah mengembangkan metode valuasi untuk mengukur keuntungan dari pengelolaan lingkungan terutama yang tidak mempunyai nilai pasar. Penilaian ini bisa menggunakan nilai dari pasar pengganti.
Menurut Duerr (1960), penilaian sumberdaya hutan atas dasar manfaat terdapat dua kategori yaitu: pendekatan nilai barang atau jasa yang memiliki nilai pasar (marketed) dan yang tidak atau belum memiliki nilai pasar (non market).
Nilai dari barang dan jasa lingkungan dapat dikategorikan menjadi (i) nilai yang digunakan (use value) dan (ii) nilai yang tidak dimanfaatkan (non-use value) (Tabel 1).
Tabel 1 Beberapa Teknik Untuk Valuasi Dampak Lingkungan atau Barang dan Jasa Lingkungan.
Keterangan Pasar Konvensional Pasar Pengganti d. Biaya Penggantian e. Proyek Bayangan
a. Travel Cost
Sumber: Munasinghe, (1993).
Pendekatan valuasi dampak mengukur manfaat lingkungan yang tidak mempunyai pasar atau harga yang jelas. Teknik dan cara yang beragam memerlukan pendekatan yang jelas agar tidak terjadi penghitungan ulang (double
counting). Metode yang digunakan antara lain: CVM (contingent valuation method) yang didasarkan kepada pasar yang dibuat atau pasar hipotetik. Pada pendekatan ini, responden akan ditanya seberapa besar mereka berkeinginan untuk membayar jasa dan barang lingkungan untuk kenyamanan (misalnya untuk tidak terjadi banjir). Konsep dasar dalam valuasi manfaat dan biaya dampak lingkungan adalah didasarkan kepada kemauan membayar (willingness to pay) dari masyarakat untuk barang dan jasa lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan harga sebenarnya maupun harga bayangan sehingga distorsi yang disebabkan kebijakan pemerintah dan ketidaksempurnaan pasar dapat diminimalkan.
2.2. Hutan di Indonesia
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 1 ayat 2 memberikan definisi hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan yang berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.
Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Sedangkan tipe hutan di Indonesia oleh Indriyanto (2005) dibagi 2 (dua) kelompok besar. Kelompok pertama adalah hutan yang dipengaruhi iklim (temperatur, kelembaban udara, intensitas cahaya dan angin) disebut ”formasi klimatis” terdiri atas: 1) hutan hujan tropika (tropical rain forest), 2) hutan musim (monsoon atau deciduous forest), 3) hutan gambut (peat forest). Kelompok kedua
adalah hutan yang dipengaruhi oleh keadaan tanah (sifat fisika, kimia, sifat biologi dan kelembaban) disebut ”formasi edaphis” terdiri atas 1) hutan rawa (swamp forest); 2) hutan payau (mangrove forest); 3) hutan pantai (coastel forest).
Menurut Soerianegara dan Indrawan (2005) bahwa formasi hutan dipengaruhi oleh faktor edafis dan perbedaan vegetasi yang terdiri dari: hutan payau, hutan rawa, hutan pantai, hutan gambut, hutan kerangas, hutan hujan tropika dan hutan musim. Hutan hujan tropika dibedakan menjadi 3 (tiga) zona yaitu: hutan hujan bawah (2-1000m dpl), hujan tengah (1000-3000m dpl) dan hutan hujan atas (3000-4000m dpl). Sedangkan hutan musim dibagi menjadi 2 (dua) zona yaitu: hutan musim bawah (2-1000m dpl) dan hutan musim tengah atas (1000-4000m dpl). Secara umum di Indonesia hutan hujan tropika dibagi tiga zona menurut tinggi di permukaan laut, yaitu 1) zona hutan hujan bawah ketinggian 0-1000m dpl; 2) zona hutan hujan tengah ketinggian 1000-3000 m dpl;
3) zona hutan hujan atas ketinggian 3300-4100m dpl (Indriyanto, 2005).
2.3. Kawasan Konservasi Cagar Alam
Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.
Muntasib (2003) menjelaskan bahwa kegiatan yang diperbolehkan di cagar alam hanyalah kegiatan-kegiatan untuk penelitian dan pengembangan, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan kegiatan lain yang menunjang budidaya.
Selain itu kegiatan lain seperti rekreasi, pengelolaan yang intensif (campur tangan manusia) tidak diperkenankan karena akan merubah perkembangan alami dari kawasan itu.
Prinsip pengelolaan cagar alam adalah alam dibiarkan berkembang secara alami, tetapi juga tidak diganggu serta tidak diperbolehkan memberikan perlakuan apapun kecuali mencatatnya (Muntasib, 2003). Sasaran pengelolaan Cagar Alam antara lain adalah: 1) melindungi flora dan fauna, 2) habitat terbina dan tidak terganggu, 3) plasma nuftah dimanfaatkan untuk riset (penelitian dan pendidikan),
4) plasma nuftah dimanfaatkan secara lestari melalui upaya budidaya oleh masyarakat di daerah, 5) penyangga untuk meningkatkan kesejahteraan.
Menurut Alikodra, (2001) pengelolaan kawasan konservasi adalah serangkaian upaya penetapan, pemanfaatan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan konservasi. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai (1) kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan (2) berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan (UU No. 5 Tahun 1990 Pasal 15).
2.4. Akses Masyarakat Adat Terhadap Hutan Konservasi
Salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai kepentingan terhadap sumberdaya lahan termasuk kawasan konservasi adalah masyarakat adat. Istilah masyarakat hukum adat sendiri diambil dari keputusan ilmu hukum adat, khususnya setelah penemuan van Vollenhoven tentang hak ulayat (beschikkingsrecht) yang dikatakan hanya dimiliki oleh komunitas yang disebut sebagai masyarakat hukum adat.
Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang teratur, bersifat tetap, mempunyai kekuasaan sendiri, dan mempunyai kekayaan sendiri baik berupa benda yang terlihat maupun tidak terlihat (Haar 1995 dalam Malik et al.
2003).
Klaim kepemilikan terhadap suatu kawasan yang terkategori communally owned resources terkait erat dengan sistem komunitas (tenure system) setempat.
Adat-istiadat yang berlaku dalam suatu komunitas masyarakat. Karena itu klaim penguasaan terhadap suatu ”tanah ulayat” biasanya dikukuhkan oleh suatu aturan hukum dan adat-istiadat yang berlaku di masyarakat (Malik et. al, 2003).
Status kawasan konservasi, seringkali bertentangan dengan masyarakat adat yang telah lama melakukan aktivitas pada kawasan-kawasan tersebut. Klaim kepemilikan lahan-lahan masyarakat sudah berlangsung secara turun temurun dalam kawasan-kawasan yang dilindungi. Status-status kawasan konservasi seringkali menjadi sebuah klaim politik yang tidak memberikan ruang kepada
masyarakat, sehingga banyak terjadi konflik sosial antara masyarakat dan pemerintah atau pihak lain.
Malik et al. (2003) menyatakan bahwa agar tidak terjadi konflik vertikal antara pemerintah dan masyarakat adat (pemilik ulayat) maka hal yang harus dilakukan adalah memberikan ruang kepada masyarakat untuk dapat melakukan kegiatan penghidupan sebagaimana yang mereka lakukan. Namun demikian, pemberian ruang tersebut perlu diatur dengan aturan adat dan peraturan pemerintah (atau pemerintah daerah) yang disepakati bersama untuk diberlakukan pada kawasan-kawasan konservasi.
Sedangkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah proses komunikasi dua arah yang terus-menerus dibangun untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara penuh atas proses pengelolaan kawasan konservasi (Canter 1977 dalam Malik et. al, 2003).
Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat mereduksi kemungkinan munculnya konflik, karena menghasilkan tingkat penerimaan keputusan yang lebih besar pada masyarakat (Koesnadi, 1990). Sejalan dengan Canter dan Koesnadi, Santoso menyebutkan bahwa intinya terdapat empat manfaat lain dari peran serta masyarakat antara lain:
1. Sebagai proses pembuatan kebijakan, karena masyarakat sebagai kelompok yang berpotensi menanggung konsekuensi dari suatu kebijakan memiliki hak untuk dikonsultasikan (rights to consult).
2. Sebagai suatu strategi, dimana melalui peran serta masyarakat suatu kebijakan pemerintah akan mendapat dukungan dari masyarakat, sehingga keputusan tersebut memiliki kredibilitas (credible).
3. Peran serta masyarakat sebagai alat komunikasi bagi pemerintah untuk mendapatkan masukan dan informasi dalam pengambilan keputusan yang responsif.
4. Peran serta masyarakat dalam penyelesaian sengketa atau konflik, didayagunakan sebagai suatu cara untuk mengurangi atau meredakan konflik.
2.5. Kerusakan Hutan Konservasi
Pengalih-fungsian atau konversi hutan menjadi peruntukan lain menyebabkan hilangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air.
Penutupan hutan yang berkurang menyebabkan tingginya aliran permukaan yang membawa butiran-butiran tanah (erosi). Erosi mengalir ke sungai dan menjadi sedimen. Keberadaan sedimen pada badan air tidak hanya mengakibatkan pendangkalan sungai tetapi juga peningkatan kekeruhan perairan yang selanjutnya menghambat penetrasi cahaya dan transfer oksigen dari atmostfer ke perairan, juga menghambat daya lihat organik akuatik. Sedimen juga menyebabkan hilangnya tempat memijah yang sesuai bagi ikan.
2.6. Dampak Kerusakan hutan
Salah satu dampak kerusakan hutan yakni berupa terjadinya erosi. Dampak erosi tanah di tapak (on-site) merupakan dampak yang dapat terlihat langsung kepada pengelola lahan yaitu berupa penurunan produktivitas. Hal ini berdampak pada kehilangan produksi, peningkatan penggunaan pupuk dan kehilangan lapisan olah tanah yang akhirnya mengakibatkan timbulnya tanah kritis.
Dampak erosi tanah di luar lahan pertanian (off site) merupakan dampak yang sangat besar pengaruhnya. Sedimen hasil erosi tanah dan kontaminan yang terbawa bersama sedimen dapat menimbulkan kerugian dan biaya yang sangat besar dalam kehidupan. Bentuk dampak off site antara lain adalah: (i) Pelumpuran dan pendangkalan waduk; (ii) Tertimbunnya lahan pertanian dan bangunan; (iii) memburuknya kualitas air dan (iv) kerugian ekosistem perairan (Arsyad, 1989).
Pembangunan pertanian dengan intensifikasi pertanian menyebabkan terjadinya peningkatan pencemaran lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida yang cukup besar. Bahan pupuk dan pestisida ini tidak terserap di dalam tanah atau seluruhnya diangkut tanaman melainkan ada yang larut di dalam aliran permukaan. Bahan ini menjadi sumber polusi setelah memasuki badan air dan dikenal dengan non-point source pollution (NPSP). Dampak non-point source pollution ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu (i) dampak yang terjadi pada badan air (in stream impact) dan (ii) dampak di luar badan air (off stream impact). Gambar 1 menyajikan dampak on site dan off site dari erosi tanah.
Banyak dampak yang terjadi dapat diamati pada badan-badan air yang ada seperti sungai, danau, atau waduk, sehingga dampak yang ditimbulkan disebut dampak instream. Sedangkan dampak yang lain dapat terjadi sebelum partikel-partikel tanah tersebut mencapai badan-badan air atau sesudahnya seperti dijumpai pada kejadian banjir, penggunaan air untuk kebutuhan domestik, irigasi, atau yang lain. Dampak yang ditimbulkan disebut sebagai dampak off-stream.
Gambar 1 Dampak On Site dan Off Site dari Erosi Tanah
Barbier (1995) mengatakan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati memberikan konsekuensi hilangnya nilai ekonomi potensial dari hutan seperti:
produk hutan non kayu, bahan genetik untuk industri farmasi, bioteknologi, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Erosi/longsor juga menyebabkan dampak tidak langsung terhadap jasa keberadaan hutan untuk turisme dan rekreasi serta pendidikan, juga mempunyai dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat melalui perlindungan DAS, pengaturan iklim dan penyedia karbon. Dengan demikian longsor/erosi tanah hutan menyebabkan hilangnya manfaat dari sumberdaya hutan sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang seharusnya dapat diperoleh.
Erosi Tanah
On Site Effect Off Site Effect (sedimen dan kontaminan)
Penurunan kapasitas produksi
In Stream Impact 1. Cadangan air 2. Rekreasi 3. Kualitas air 4. Biologi 5. Kesehatan
Off Stream Impact 1. Banjir
2. Penjernihan air 3. Penyediaan air
minum, industri
2.7. Penelitian Terdahulu yang Terkait dengan Penelitian ini
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya hutan yang sifatnya non-use value dapat dinilai nilai ekonomi totalnya dengan menggunakan pendekatan penilaian ekonomi. Menurut Pearce dan Moran (1994), penilaian manfaat langsung menurut harga pasar atau produktivitas terhadap sumberdaya hutan seperti nilai kayu, buah dan lateks yaitu sekitar US$ 6.280/hektar atau Rp 13,627/hektar (IDR = Rp 2.170).
Penelitian lain sebagaimana dikemukakan dalam Pearce dan Moran (1994), antara lain Watson (1988) menduga produksi hutan di Malaysia sebesar US$
2.455/hektar atau Rp 413.367.940/hektar (IDR = Rp 1.629) dibanding US$
217/hektar (Rp 367.164/hektar) untuk pertanian intensif. Kramer et. al (1993) menduga nilai kayu bakar kebutuhan rumah tangga sekitar Taman Nasional Mantadia di Madagaskar sebesar US$ 39/tahun atau Rp 81.744/tahun (IDR = Rp 2.096).
Hasil penelitian lain yang dikemukakan dalam Pearce dan Moran (1994) yaitu penilaian total ekonomi hutan di Meksiko dengan luas 51,5 juta hektar (Pearce dan Watfor, 1993) terdiri atas nilai manfaat untuk wisata US$ 31,2 juta atau Rp 67 milyar (IDR = Rp 2.960), nilai karbon (C) sebesar US$ 3.788,3 juta (Rp 7,9 trilyun). Sementara Ruitenbeek (1989) dalam Pearce dan Moran (1994) dengan pendekatan net present value (NPV) menduga nilai manfaat hutan Korup di Kamerun yaitu perlindungan banjir US$ 23/hektar atau Rp 39.606/hektar (IDR
= Rp 1.722), pengendali erosi US$ 8/hektar (Rp 13.776/hektar), tanaman obat US$ 7/hektar (Rp 12.054). Menurut Swanson (1996) dalam Pearce dan Moran (1994), proyeksi pendugaan kehilangan biodiversitas dari beberapa hasil penelitian terdahulu adalah sangat besar, yang ditunjukkan bahwa pada tingkat tertentu kehilangan hutan sebesar 5% sampai 9% akan menyebabkan kehilangan biodiversitas sebesar 15% sampai 50%.
Hasil studi yang dilakukan oleh Kramer dan Mercer (1997) dalam Pearce dan Moran (1994) dalam dengan menggunakan contingent valuation method di Amerika Serikat terhadap perlindungan hutan hujan tropik, hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata responden bersedia membayar US$ 21-US$ 31 per rumah tangga
atau sekitar Rp 62.055-Rp 91.605 (IDR = Rp 2.955) untuk melindungi 5% hutan hujan tropik.
Penelitian secara makro nilai kerugian ekonomi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 1997/1998 dengan memperkirakan luas kebakaran 5 juta hektar yang dilakukan oleh EEPSEA bekerjasama dengan WWF Indonesia diperkirakan sebesar US$ 4.469,5 juta atau sekitar Rp 11 trilyun (IDR= Rp 2.500), meliputi kerugian yang dialami oleh Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Thailand. Metode perhitungan yang digunakan antara lain: pendekatan produksi, nilai pasar, biaya kerusakan tanaman, pendapatan yang hilang, dose respons, biaya pengobatan akibat pendududk sakit dan transfer benefit. Dari hasil penelitian ini diketahui pula besarnya kerugian ekonomi Indonesia sehubungan dengan kebakaran dan asap yang dialami pada periode Agustus – Desember 1997 sebesar US$ 3.799,9 juta (85%) atau sekitar Rp 9.4 trilyun. Sedang negara lain sebesar US$ 669,6 juta (15%) atau setara dengan Rp 1.6 trilyun.
Hasil penelitian Sihite (2001) dengan menggunakan nilai pasar atau produktivitas menunjukkan Manfaat total di on site diperoleh dari produktivitas lahan dan untuk DAS Besai diperoleh Rp 233.268.880.000. Nilai ini sangat ditentukan oleh harga kopi yang cukup baik. Biaya yang ditimbulkan dari pola penggunaan lahan ini di on-site Rp 97.624.326.885 dan merupakan biaya input produksi dan kehilangan pendapatan akibat erosi.
Penelitian ini hanya menganalisis dampak erosi/longsor hutan CAPC Tahun 2007 terhadap kerugian masyarakat. Fokus pada masalah ekonomi atau kesejahteraan masyarakat yang meliputi: penurunan produksi pertanian atau perkebunan, penurunan kesehatan dan penurunan kawasan perlindungan.
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Pendekatan Analisis Kerugian Ekonomi Negara
Pendekatan ini mengacu pada perubahan ekologi hutan Cycloops akibat penebangan liar sehingga menyebabkan kayu-kayu mengalami kerusakan, pertumbuhan populasi kayu tidak berjalan dengan baik serta berkurangnya jumlah populasi kayu.
Pendekatan ini menghitung nilai ekonomi kayu yang rusak dan hilang (jenis, ukuran, harga) yakni kayu yang terdapat pada hutan produksi. Kerusakan dan kehilangan kayu tersebut selanjutnya dikalkulasikan ke dalam nilai mata uang.
Hasil dari kalkulasi tersebut maka menghasilkan suatu angka sebagai representasi kerugian ekonomi kerusakan dan hilangnya kayu di hutan Cycloops.
Langkah selanjutnya yakni menghitung jumlah penerimaan negara yang hilang dari hasil hutan produksi berupa Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) setiap tahunnya, yang diadopsi terhadap hutan Cycloops.
3.1.2. Pendekatan Analisis Perubahan Produktivitas
Pendekatan ini mengacu pada perubahan produktivitas dalam sistem produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan. Pada umumnya teknik ini diterapkan untuk menduga perbedaan produksi output sebelum dan sesudah dampak dari suatu aktivitas maupun intervensi pengelolaan.
Metode ini menghitung dari sisi kerugian (apa yang hilang) akibat suatu tindakan. Pendekatan ini menjadi dasar bagi pembayaran kompensasi bagi property yang semestinya dibeli oleh pemerintah untuk tujuan seperti membangun jalan tol, bandara, instalasi militer dan lain-lain. Misalnya suatu wilayah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, diperlukan biaya kompensasi bagi petani atau pemilik lahan yang merelakan tanahnya dipergunakan untuk tujuan pembangunan yang ramah lingkungan misalnya: cagar alam, hutan lindung dan lain- lain.
3.1.3. Pendekatan Analisis Cost of Illness
Metode Biaya Pengobatan (cost of Illness), digunakan untuk memperkirakan biaya morbiditas akibat perubahan yang menyebabkan orang menderita sakit.
Total biaya dihitung baik secara langsung maupun tidak langsung. Biaya langsung, yaitu mengukur biaya yang harus disediakan untuk perlakukan penderita lain meliputi: a) perawatan pada rumah sakit, b) perawatan selama penyembuhan, c) pelayanan kesehatan yang lain, dan d) obat-obatan.
Biaya tidak langsung mengukur nilai kehilangan produktivitas akibat seseorang menderita sakit. Biaya tidak langsung diukur melalui penggandaan upah oleh kehilangan waktu karena tidak bekerja. Taksiran biaya tidak termasuk rasa sakit yang diderita dan biaya penderitaannya sendiri. Umumnya digunakan untuk menilai dampak polusi udara terhadap morbiditas.
3.1.4. Pendekatan Deskriptif Kualitatif
Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian tentang dampak erosi/longsor hutan CAPC terhadap kerugian yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di Distrik Sentani pada bidang sosial dan lingkungan. Tujuannya adalah untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi aktual dari obyek yang diteliti.
3.1.5. Pendekatan Nilai Ekonomi Total (TEV)
Konsep pengukuran nilai ekonomi sumberdaya, secara tradisional nilai terjadi didasarkan pada interaksi antara manusia sebagai subjek dan obyek (Pearce dan Moran, 1994; Turner, Pearce dan Bateman, 1994). Setiap individu memiliki sejumlah nilai yang dikatakan sebagai nilai penguasaan yang merupakan basis preferensi individu. Pada akhirnya nilai obyek ditentukan oleh bermacam-macam nilai yang dinyatakan (assigned value) oleh individu (Pearce dan Turner, 1990).
TEV = UV + NUV UV = DUV + IUV + OV NUV = XV + BV
Sehingga :
TEV = (DUV + IUV + BV) + (XV + BV)
Keterangan :
TEV = Total Economic Value (total nilai ekonomi) UV = Use Value (nilai penggunaan)
NUV = Non Use Value (nilai instrinsik)
DUV = Direct Use Value (nilai penggunaan langsung) IUV = Indirect Use Value (nilai penggunaan tak langsung) OV = Option Value (nilai pilihan)
XV = Existence Value (nilai keberadaan) BV = Bequest Value (nilai warisan/kebangaan)
XV = Existence Value (nilai keberadaan) BV = Bequest Value (nilai warisan/kebangaan)