• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Analisis Hirarki Proses (AHP)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.7 Pendekatan Analisis Hirarki Proses (AHP)

Empiris Valuatif Normatif

Adakah dan akankah (fakta) Apa manfaatnya (nilai) Apa yang harus dipebuat (aksi)

Deskriptif dan Prediktif Valuatif

Preskriptif Sumber : Dunn, 2003.

3.1.7. Pendekatan Analisis Hirarki Proses (AHP)

Analisis hirarki proses (AHP) atau yang juga dikenal dengan istilah proses hirarki analitik (PHA) atau analisis jenjang keputusan (AJK), pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970. AHP didesain untuk menangkap secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu, melalui prosedur yang didesain untuk sampai pada suatu skala preferensi di antara berbagai sel alternatif.

AHP merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat suatu model permasalahan yang tidak mempunyai suatu struktur, dan biasanya diterapkan untuk masalah yang terukur (kualitatif), maupun masalah-masalah yang memerlukan pendapat (judgement) maupun pada situasi yang kompleks atau masalah yang tidak terstruktur, pada situasi dimana data, informasi statistik sangat minim atau tidak ada sama sekali dan hanya bersifat kualitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman maupun intuisi.

AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambilan keputusan berusaha memahami kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan.

Selain itu AHP juga digunakan pada pengambilan keputusan untuk banyak kriteria, perencanaan, alokasi sumberdaya dan penentu (Saaty, 1991).

AHP dapat dikaitkan dengan pengelolaan sumberdaya alam dapat diterapkan pada ”analisis manfaat biaya” yaitu suatu alat tradisional untuk pengalokasian sumberdaya (Saaty, 1991). Penerapan AHP pada analisis manfaat/biaya (B/C) (Tabel 3).

Tabel 3 Manfaat dan Kerugian (Biaya) dalam Pengelolaan Sumberdaya Lahan (SDL) pada CAPC

No. Pengelolaan

SDL CAPC Manfaat Biaya (Kerugian)

1. Ekonomi a. Mata pencaharian masyarakat b. Sumber Pendapatan daerah

a. Memerlukan fasilitas pendukung

b. Biaya operasional dan pemeliharaan

2. Lingkungan a. Biodiversity b. Hidrologi

c. Penyerapan tenaga kerja

a. Biaya sosial b. Perubahan budaya/

gaya hidup

c. Kecemburuan sosial Sumber: Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, 2005.

Menerapkan AHP pada analisis manfaat/biaya (B/C) dapat memperbaiki alat pengambilan keputusan tradisional tersebut yaitu dengan cara menstruktur persoalan manfaat dan biaya dalam suatu hirarki analisis, mengkuantifikasi faktor tidak dapat diukur (intangible) dan elemen-elemen non ekonomi yang sejauh ini belum terintegrasi secara efektif dalam pengambilan keputusan.

Dalam penyelesaiaan permasalahan dengan AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain:

1. Dekomposisi, setelah didefinisikan maka dilakukan dekomposisi yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Untuk mendapatkan hasil yang akurat maka, dilakukan pemecahan unsur-unsur tersebut sampai tidak dapat dipecahkan lagi sehingga didapat beberapa tingkatan dari persoalan tadi.

2. Comparative Judgement, prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil dari penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk perbandingan berpasangan (pairwise comparation).

3. Syntheses of Priority, dari setiap matrik pairwise comperation kemudian dicari eigen vektornya untuk mendapat prioritas lokal. Karena matrik pairwise

comparation terdapat suatu tingkat maka untuk mendapat prioritas global, harus dilakukan sintesis diantara prioritas lokal. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki. Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relatif menurut prosedur sintesis dinamakan priority setting.

4. Logical Consistency, konsistensi memiliki dua makna, pertama, bahwa obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keragaman dan relevansinya. Kedua, adalah tingkat hubungan antara obyek-obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

5. Pendekatan AHP menggunakan skala Saaty (1991) mulai dari bobot 1 sampai 9. Nilai bobot 1 menggambarkan sama penting (untuk atribut yang sama skalanya selalu diberi nilai bobotnya 1), sedangkan nilai 9 menggambarkan kasus atribut yang ”penting absolut”, penting dibandingkan dengan lainnya.

Menurut Suryadi (2000) /dalam/ Sahwan (2002), kelebihan AHP dibandingkan dengan yang lainnya adalah:

1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, pada sub kriteria yang paling dalam.

2. Memperhitungkan validasi sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.

3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitifitas pengambilan keputusan

4. Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi obyektif dan multi kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dalam setiap elemen dalam hirarki.

Tahap paling penting dari AHP adalah penilaian pasangan (judgement) antara faktor pada suatu tingkat hirarki. Penilaian ini dilanjutkan untuk memberikan bobot numerik atau verbal berdasarkan perbandingan berpasangan antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya. Selanjutnya melakukan analisis untuk menentukan faktor mana yang paling tinggi atau paling rendah peranannya terhadap level atas dimana faktor tersebut berada. Penilaian diperoleh melalui partisipan yang akan mengevaluasi setiap himpunan faktor secara berpasangan satu dengan yang menyatakan kepentingan faktor tersebut pada tingkat yang lebih tinggi pada hirarki yang dibentuk.

Keberhasilan penggunaan AHP tergantung pada penggunaan hirarki yang tepat dan problem yang tidak terukur sampai pada pengambilan keputusan, karena AHP mampu mengkonversi faktor-faktor yang tidak dapat diukur (intangible) dalam aturan yang biasa dibandingkan. Untuk mengisi perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen lain, maka dapat digunakan pembobotan berdasarkan skala AHP yang disampaikan oleh Saaty (1991) disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Skala Banding Secara Berpasangan Model Saaty Intensitas

Kepentingan Definisi Penjelasan

1. Kedua elemen yang dibandingkan sama pentingnya (equal)

Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar pada sifat itu

3. Elemen yang sedikit lebih penting dibanding elemen yang lain (moderate)

Pengalaman dan pertimbangan sedikit mendukung satu elemen yang lainnya

5. Elemen yang satu sangat penting dibanding elemen lainnya (strong)

Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat mendukung satu elemen atas elemen yang lainnya

7. Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen lainnya (very strong)

Satu elemen dengan kuat mendukung, dominansi mendukung tingkat penegasan tinggi yang mungkin menguat

9. Satu elemen mutlak lebih penting dibandingkan elemen lainnya (extreme)

Yang satu atas yang lainnya memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan

2,4,6,8 Apabila ragu-ragu diantara kedua elemen yang diperbandingkan didekati dengan nilai yang berdekatan

Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan

1/(-9) Jika untuk aktivitas i mendapat suatu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikan bila dibandingkan dengan i.

Sumber: Saaty, (1991).

Pendekatan AHP dalam Kerangka Manfaat Biaya

Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dalam fungsi awalnya ditetapkan untuk melindungi berbagai biodiversity yang sangat tinggi, sumber air bagi penduduk Jayapura serta menjadi laboratorium alam untuk pengembangan pendidikan. Namun demikian dalam implementasi terjadi tumpang tindih kebijakan antara pihak pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaannya, sehingga terlihat terjadi benturan aturan antara aturan positif dan aturan adat.

Analisis manfaat biaya (AMB) merupakan metode praktis dalam menganalisis sumberdaya dengan beberapa tujuan, antara lain:

1. Pengambilan keputusan dalam suatu kegiatan

2. Penilaian kegiatan paling produktif dengan rasio manfaat/biaya yang tinggi 3. Memaksimumkan total benefit dalam berbagai masalah

4. Peninjauan kembali keadaan set proyek pada saat untuk melakukan kemungkinan eliminasi atau relokasi sumberdaya.

Menurut Saaty (1991), ada beberapa konsep dari AHP dalam kerangka manfaat biaya yaitu:

1. AHP berada pada analisis AMB yang konvensional, karena AHP mampu mengkonversi faktor-faktor yang terukur kedalam aturan yang bisa dimungkinkan untuk perbandingan dan evaluasi.

2. AHP juga dapat digunakan untuk memecahkan dalam pengambilan keputusan manfaat/biaya yang kompleks dan pengalokasian yang melibatkan sumberdaya dan aktivitas campuran.

3. Tujuan AHP dalam pengalokasian sumbedaya adalah untuk menangani kriteria yang berkaitan dengan evaluasi manfaat dari berbagai alternatif, dan untuk menangani kriteria yang berkaitan dengan biaya.