• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi15, dan teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya 16.

Burhan Ashshofa berpendapat bahwa suatu teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, defenisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan antar konsep17.

15

J. J. J. M. Wuisman, dengan penyunting M. Hisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, Fakultas Ekonomi Universita Indonesia, Jakarta,1996, hal. 203.

16Ibid

Sedangkan Snelbecker mendefenisikan teori sebagai seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat diamati dan fungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati 18.

Dari pengertian tersebut di atas, maka dapat diambil suatu pengertian perihal

Kerangka Teori, yaitu bahwa kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang

menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis 19 .

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu hukum untuk menemukan hukum baru diperlukan adanya suatu penelitian lebih lanjut terhadap objek yang akan diteliti. Dan, di dalam melakukan penelitian tersebut, Penulis harus berpedoman pada metodologi, imajinasi sosial, dan teori yang dipakai sebagai dasar dari penelitian yang akan dilakukan.

Fungsi teori di dalam penelitian tesis ini adalah untuk memberikan arahan/petunjuk dan menjelaskan hal yang akan diteliti, sehingga oleh karena penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, maka kerangka teori ini diarahkan secara khas ilmu hukum, dan secara khusus pada masalah Perjanjian Kredit sebagai dasar dari timbulnya Kuasa Menjual objek jaminan tersebut.

17

Burhan Ashshof, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hal. 19. 18

Snelbecker, dikutip dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Jakarta, 1990, hal. 103.

19

Teori juga memiliki fungsi untuk dapat memahami bahwa pemberian Kuasa Menjual objek jaminan dalam perjanjian kredit sebagai kaidah hukum telah ditentukan dan diatur pula di dalam peraturan perundang-undangan (khususnya KUH Perdata).

Dalam penelitian yang dilakukan Penulis kali ini, kerangka teori yang dipakai oleh Penulis adalah:

a. Teori Mandat, Menurut teori mandat pelaksanaan penjualan yang dilakukan oleh kreditur dalam hal wanprestasi berdasarkan kuasa menjual terdapat unsur perwakilan, oleh karenanya kreditur di dalam melakukan penjualan adalah bertindak mewakili dan selaku kuasa dari Debitur/pemilik jaminan.

b. Teori Eksekusi yang disederhanakan, menurut teori eksekusi yang disederhanakan dalam pelaksanaan penjualan yang dilakukan oleh kreditur tidak terdapat unsur perwakilan, melainkan kreditur bertindak guna memperoleh haknya sendiri, bukan untuk kepentingan debitur, bahkan dalam hal ini bertentangan dengan kepentingan debitur. 20

Dari kerangka teori ini dapat diambil suatu pengertian bahwa sebagaimana peraturan perundang-undangan Perbankan (Pasal 12A Undang-Undang Nomor 10/1998 tentang Perbankan) menyatakan bahwa di dalam perjanjian kredit disertakan Kuasa Menjual objek jaminan, maka Penulis ingin mencari tahu lebih dalam lagi bagaimana aspek-aspek Kuasa menjual, fungsi serta peranan maupun hal lainnya dari Kuasa menjual tersebut.

Hubungan kerangka teori tersebut di dalam penulisan penelitian ini adalah bahwa dengan semakin pesat dan kompleksnya perkembangan masyarakat, mengakibatkan terjadinya perubahan pola pikir, gaya hidup, serta perkembangan

20

Komar Andasasmita, Notaris II, Contoh akta Otentik dan Penjelasannya, Ikatan Notaris Indonesia, Daerah Jawa Barat, 1990, hal. 482.

zaman yang semakin pesat, sehingga mengakibatkan perubahan hukum yang dibuat oleh Penguasa atau Pemimpin Negara (Pemerintah), termasuk salah satunya adalah peraturan perundang-undangan tentang Perbankan, khususnya Kuasa menjual objek jaminan dalam kaitannya terhadap perjanjian kredit yang sering terjadi di dalam masyarakat dalam dunia perbankan.

Sehingga Penulis ingin menjabarkan lebih lanjut lagi perihal Kuasa Menjual tersebut dalam kaitannya dengan perjanjian kredit ditinjau dari kedua kerangka teori tersebut di atas.

2. Konsepsi

Konsepsi dalam bahasa Latin memiliki arti hal yang dimengerti. Sehingga konsepsi adalah merupakan salah satu bagian terpenting dari teori, dimana peranan konsepsi di dalam penelitian adalah agar dapat menghubungkan suatu teori dan observasi, antara abstraksi dan realita atau kenyataan. Konsep adalah suatu konstruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis.21

Konsep juga diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus, yang disebut dengan defenisi operasional. Pentingnya defenisi operasional ini adalah untuk menghindarkan perbedaan

21

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tujuan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal. 7.

pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Selain itu, dipergunakan juga untuk memberikan pegangan pada proses penelitian ini.22

Oleh sebab itu, agar dapat menjawab permasalahan di dalam penelitian ini haruslah didefinisikan beberapa konsep dasar, agar dapat diperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan dari penelitian ini dilakukan. Suatu konsep atau kerangka konsepsionil adalah merupakan suatu pengarah, pedoman, pembatasan pengertian secara konkret dari kerangka teori, dimana kerangka teori masih bersifat abstrak, dan konsep ini masih sangat diperlukan oleh Peneliti nantinya selama proses penelitian berlangsung.

Adapun konsepsi dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut : pengertian dari Eksistensi, Kuasa Menjual, Objek Jaminan, dan juga pengertian Perjanjian Kredit.

Eksistensi23 menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti “keberadaan,

kemampuan bertahan, dapat menahan”.

Kuasa menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya mampu.24

Kuasa (Voltmacht) merupakan tindakan hukum sepihak yang memberi wewenang kepada penerima kuasa untuk mewakili pemberi kuasa guna kepentingan pemberi

22

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hal. 3. 23

Dani K, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (dilengkapi dengan Ejaan Yang Disempurnakan), Putra Harsa, Surabaya, 2002, hal. 99.

24

Bambang Marjihanto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Terbit Terang, Surabaya, 1999, hal. 219.

kuasa dalam melakukan suatu tindakan hukum tertentu (HR 24 Juni 1983 N7 1939-337). 25

Menurut ketentuan Pasal 1792 KUH Perdata, yang isinya adalah “Pemberian Kuasa adalah suatu perjanjian dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang yang lain, yang menerimanya, untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan.”

Berdasarkan pasal diatas, bahwa unsur-unsur dari pemberian kuasa adalah sebagai berikut :

1. Adanya persetujuan

2. Memberikan kuasa kepada penerima kuasa

3. Atas nama pemberi kuasa menyelenggarakan suatu urusan

Pengertian lebih lengkap dari Pasal 1792 KUH Perdata tentang Pemberian Kuasa: pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dimana seseorang memberi kekuasaan atau wewenang (lastgeving) kepada seorang lain yang menerimanya (voltmacht/Lasthebber) untuk dan atas namanya (Lastgever) menyelenggarakan suatu urusan.26

Menjual menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah menukarkan barang atau sesuatu dengan uang, dan sebagainya.27

25

Herlien Budiono, Larangan Kuasa Mutlak-Majalah Projustitia, Nomor 17, Maret, 1982. 26

I.G. Rai Widjaya, Merancang Suatu Kontrak, Megapoin, Jakarta, 2003, hal. 85. 27Ibid,

Kuasa Menjual adalah kekuasaan yang diberikan pada seseorang untuk mampu atau dapat menyelenggarakan urusan si pemberi kuasa dalam hal menukarkan barang atau sesuatu lainnya dengan uang dan lain sebagainya.

Secara lengkap, pengertian Kuasa Menjual adalah suatu kemampuan dengan hak substitusi (hak yang dapat digantikan) yang diberikan oleh Debitur (pemilik jaminan) kepada Kreditur apabila Debitur wanprestasi untuk menjual benda jaminan yang telah diserahkan oleh Debitur (pemilik jaminan) kepada Kreditur dengan harga dan syarat yang dianggap baik oleh Kreditur, hasil penjualan mana digunakan untuk menutupi hutang Debitur.

Objek, menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah hal, perkara atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.28

Jaminan, menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah menanggung tentang segala sesuatu. 29

Jaminan adalah menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum.

Objek Jaminan adalah suatu hal pokok yang menanggung segala sesuatu. 30

Secara lengkap Objek Jaminan memiliki pengertian yaitu sesuatu benda milik Debitur atau pihak ketiga yang dijadikan jaminan untuk pelunasan hutang Debitur kepada Kreditur. 28Ibid, hal. 254. 29Ibid, hal. 161. 30

Perjanjian, menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perkataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat. 31

Pengertian Kredit dapat kita lihat dengan sangat jelas dalam dasar hukumnya, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nmor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang mana isinya sebagai berikut :

“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.”

Pengertian lain Kredit, diungkapkan O.P. Simorangkir, sebagai berikut : Pemberian prestasi (misalnya uang, barang) dengan balasan prestasi (kontra-prestasi) akan terjadi pada waktu mendatang. Dewasa ini kehidupan ekonomi modern adalah prestasi uang, maka transaksi kredit menyangkut uang sebagai alat kredit yang menjadi pembahasan. Kredit berfungsi koperatif antara si pemberi kredit dan si penerima kredit atau antara Kreditur dengan Debitur. Mereka menarik keuntungan dan saling menanggung resiko. Singkatnya kredit dalam arti luas didasarkan atas komponen-komponen kepercayaan, resiko dan pertukaran ekonomi di masa-masa mendatang.) 32

Hutang-Piutang, menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah suatu yang harus dibayar.33

Perjanjian hutang-piutang adalah pernyataan kesanggupan untuk berbuat sesuatu yaitu membayarkan sesuai pernyataan.

31

Op.Cit, hal. 162. 32

O. P. Simorangkir, Seluk Beluk Bank Komersil, Aksara Persada, Jakarta, 1986, Cetakan Kelima, hal. 91.

33Ibid

Perjanjian Kredit pengertiannya secara lengkap adalah perjanjian yang dibuat antara Debitur dan Kreditur (bank maupun non bank) yang merupakan perjanjian pinjam meminjam uang, dan Debitur setelah jangka waktu tertentu diwajibkan untuk mengembalikan uang pinjaman beserta dengan bunganya.

Jadi, pengertian yang lengkap dari Eksistensi Pemberian Kuasa Menjual Objek Jaminan di dalam Perjanjian Kredit yaitu keberadaan dari pemberian suatu kemampuan dengan hak substitusi yang diberikan oleh Debitur (pemilik jaminan) kepada Kreditur untuk dapat menjual benda milik Debitur/pihak ketiga yang dijadikan sebagai objek jaminan untuk pelunasan kredit/hutang Debitur kepada Kreditur, apabila Debitur wanprestasi atau karena sebab lain yang menyebabkan Debitur tidak mampu untuk membayar hutangnya tersebut sebagaimana seharusnya telah diperjanjikan, di dalam perjanjian kredit atau pinjam meminjam uang yang dilakukan oleh Debitur kepada Kreditur.

G. Metode Penelitian