OBJEK JAMINAN KREDIT DALAM PERJANJIAN KREDIT
C. Peranan Kuasa Menjual Objek Jaminan Dalam Perjanjian Kredit
Kuasa menjual objek jaminan di dalam perjanjian kredit pada dasarnya ternyata memiliki peranan yang sangat penting. Sangat penting bagi kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian, juga bagi pihak ketiga yang kadangkala diikutsertakan dalam perjanjian mereka (biasanya pihak ketiga dalam hal ini terlibat karena pihak ketiga tersebut mau memberikan aset miliknya untuk dijadikan jaminan atas kredit yang diajukan oleh nasabah Debitur dengan sukarela, sehingga dengan sendirinya ia menjadi turut terikat juga didalam Perjanjian Kredit tersebut).
Peranan tersebut terutama bagi kepentingan Debitur maupun kepentingan pihak ketiga yang turut serta dalam perjanjian kredit antara Debitur dan Kreditur, selaku pemilik barang yang dijadikan sebagai objek jaminan dalam perjanjian kredit di antara mereka.
Hal tersebut di atas diungkapkan dengan lengkap di dalam Penjelasan Pasal 12 A ayat (1) sub b dari Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang isinya sebagai berikut :
(1) Pembelian agunan oleh Bank melalui pelelangan dimaksudkan untuk membantu Bank agar dapat mempercepat penyelesaian kewajiban nasabah Debiturnya. Dalam hal Bank sebagai pembeli agunan nasabah Debiturnya, statusnya adalah sama dengan pembeli bukan bank lainnya.
Bank dimungkinkan membeli agunan di luar pelelangan dimaksudkan agar dapat mempercepat penyelesaian kewajiban nasabah Debiturnya.
Bank tidak diperbolehkan memiliki agunan yang dibelinya dan secepat-cepatnya harus dijual kembali agar hasil penjualan agunan dapat segera dimanfaatkan oleh Bank.
Dari pasal di atas, dapat kita ketahui bahwa Bank dimungkinkan untuk membeli agunan di luar pelelangan, dengan maksud untuk mempercepat penyelesaian kewajiban nasabah Debiturnya. Sehingga dalam hal ini, proses pembelian agunan tersebut dilakukan Bank semata-mata hanya untuk kepentingan nasabah Debiturnya.
Hal tersebut dilakukan oleh Bank sebagai Kreditur adalah demi menjaga kepentingan Debitur sendiri, karena biasanya sangat banyak kerugian yang akan diperoleh Debitur apabila penjualan objek jaminan dalam hal Debitur wanprestasi, atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya untuk membayar hutang atau kreditnya kepada Kreditur dengan berbagai alasan tertentu, dilakukan melalui proses pelelangan umum.
Adapun beberapa kelemahan penjualan barang jaminan melalui pelelangan umum adalah :
1. Proses pelelangan yang umumnya rumit, bertele-tele dan sangat membingungkan karena banyak tahap yang harus dilalui, yang menyita banyak perhatian, waktu, tenaga dan biaya.
2. Campur tangan Pengadilan menyebabkan proses pelelangan berjalan sangat rumit dengan banyak dokumen yang harus diurus untuk dapat terlaksananya proses pelelangan umum ini.
3. Memerlukan campur tangan aparat hukum (misal TNI/Polri yang harus diikutsertakan dalam proses pelelangan untuk menjaga agar suasana pelelangan tetap stabil dan kondusif, serta untuk mencegah hal-hal lain yang tidak diinginkan).
4. Memerlukan tenaga profesional lainnya; misalnya Pengacara untuk mewakili secara hukum para pihak.
5. Memerlukan peran serta Pejabat Negara yaitu Notaris untuk melihat dan menjadi saksi secara langsung bahwa proses pelelangan dapat dinyatakan sah (disahkan) secara hukum.
6. Sering terjadi spekulasi atau tindakan lainnya yang dapat merugikan Debitur, dari para peserta lelang itu sendiri, yang saling bekerja sama untuk menjatuhkan harga barang jaminan, ketika terjadinya proses tawar-menawar.
7. Harga barang jaminan tersebut biasanya berada di bawah harga pasar, sehingga hasil penjualan barang jaminan yang diterima oleh Debitur lebih sedikit daripada hasil penjualan yang seharusnya diterima lewat penjualan secara biasa, yang mengakibatkan pihak Debitur merasa dirugikan.
8. Hasil penjualan lelang tersebut masih harus juga dipotong/dikurangi dengan biaya-biaya lelang serta biaya lain yang harus ditanggung oleh Debitur sendiri. 9. Debitur pemilik agunan (barang jaminan) dapat saja sewaktu-waktu pada saat
terjadinya eksekusi barang jaminan oleh kantor lelang, mengajukan gugatan atas tindakan kantor lelang tersebut, karena kantor lelang tersebut melakukan eksekusi jaminan tanpa fiat eksekusi dari pengadilan.
10.Debitur pemilik agunan yang pada saat dilakukannya pengosongan dan eksekusi barang jaminan, menduduki barang jaminan tersebut, ternyata melakukan perlawanan dan menolak dilakukannya pengosongan dan eksekusi tersebut. 11.Dan lain sebagainya.
Dari hal tersebut di atas, maka dapatlah kita ketahui bahwa ternyata penjualan barang jaminan yang dilakukan melalui pelelangan umum ternyata lebih banyak merugikan pihak Debitur, sehingga dalam hal ini Kreditur yang baik dapat bertindak aktif melakukan penawaran terlebih dahulu kepada Debiturnya agar Debitur pemilik barang jaminan/agunan bersedia untuk menjual barang jaminan milik mereka di luar dari pelelangan umum untuk melunasi hutang atau kreditnya tersebut.
Dengan demikian Kuasa Menjual memiliki peranan yang sangat penting, terutama untuk kepentingan Debitur itu sendiri, yaitu untuk menjaga kepentingan Debitur terhadap Kreditur yaitu agar objek/barang jaminan milik Debitur atau milik pihak ketiga yang turut serta ke dalam perjanjian mereka dapat dijual oleh Kreditur di luar dari pelelangan umum.
Tujuan dari tindakan tersebut dilakukan oleh Kreditur yaitu bahwa agar jangan sampai Debitur merasa dirugikan dalam hal penjualan objek jaminan melalui pelelangan umum dengan Surat Kuasa Menjual tersebutlah yang dapat menyelamatkan kepentingan Debitur, agar jangan sampai ia dirugikan terlalu banyak, walaupun Kreditur sendiri tidak memperoleh keuntungan apa-apa dari Kuasa Menjual tersebut, namun setidaknya Kuasa Menjual yang diberikan Debitur pada Kreditur tersebut, Kreditur dapat menjual barang jaminan tersebut tidak melalui pelelangan
umum, melainkan melalui penjualan biasa dengan harga yang sesuai dengan harga pasar untuk kemudian dipakai melunasi kredit tersebut serta biaya lainnya yang timbul kemudian mengembalikan sisa dari penjualan barang jaminan tersebut kepada Debitur.
Proses tersebut diatas, dapat menjadikan kedua belah pihak menjadi merasa nyaman untuk saling bekerja sama, sehingga hubungan intern diantara keduanya dapat saja menjadi semakin erat, dan bukan tidak mungkin sejak saat itu akan terbina hubungan kerja sama yang baik dan saling menguntungkan bagi keduanya untuk jangka panjang ke depannya.
Hal tersebut, terutama ketika Debitur merasa kepentingannya dilindungi oleh Kreditur, ketika asset atau hartanya yang telah dijadikan objek jaminan kredit tersebut telah diselamatkan oleh Kreditur untuk tidak dijual jauh di bawah harga pasar melalui pelelangan umum yang dapat merugikan dirinya.
Dari keterangan di atas, maka dapat kita ketahui beberapa keuntungan yang diperoleh apabila penjualan barang objek jaminan dilakukan diluar dari pelelangan umum, antara lain :
1. Penjualan barang jaminan lebih praktis karena dilakukan hanya menurut tata cara penjualan barang jaminan dengan cara biasa, yang memenuhi syarat-syarat jual-beli yang biasa sebagaimana diatur lewat undang-undang, yaitu Pasal 1457 KUH Perdata, yang isinya sebagai berikut “Jual-beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah diperjanjikan”. Jadi,
penjualan barang objek jaminan tersebut tidak memerlukan proses yang merumitkan, bertele-tele dan tidak memakan banyak waktu serta tenaga, sebagaimana bila dilakukan melalui proses pelelangan umum, yang umumnya melelahkan karena banyak tahap yang harus dilalui oleh para pihak sebelum maupun setelah proses pelelangan dilaksanakan.
2. Tata cara penjualan barang jaminan lebih fleksibel karena tata caranya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi para pihak yang bersangkutan (tidak bersifat kaku atau formil sebagaimana layaknya yang terjadi pada proses pelelangan umum). .
3. Tidak memerlukan campur tangan lembaga Pengadilan, sebagaimana penjualan melalui pelelangan umum, yang memerlukan surat izin lelang, surat eksekusi, maupun dokumen lainnya yang harus diurus lewat lembaga Pengadilan, sebagai syarat agar proses pelelangan dapat dilaksanakan.
4. Harga barang jaminan yang diagunkan tersebut masih tinggi dan cenderung stabil karena harganya masih dapat disesuaikan dengan harga standar yang berlaku di pasaran.
5. Spekulasi harga dapat dicegah, karena para pihak yang berhubungan hanyalah antara penjual (dalam hal ini Bank, berdasarkan surat kuasa menjual yang diterimanya dari Debitur) dan pembeli (pihak ketiga yang ingin membeli barang jaminan/agunan tersebut), tidak ada campur tangan pihak ketiga diluar dari para pihak yang bersangkutan, yang cenderung ingin mengambil keuntungan sepihak sebagaimana yang biasa terjadi dalam pelaksanaan proses pelelangan umum.
6. Biaya yang timbul atas penjualan objek jaminan tersebut dapat ditekan seminimal mungkin sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan dana untuk biaya-biaya tak terduga sebagaimana bila penjualan dilakukan melalui pelelangan umum.
Adapun biaya-biaya yang pada umumnya timbul dan harus ditanggung oleh pihak Debitur, apabila penjualan benda/barang jaminan dilakukan melalui proses pelelangan umum, antara lain :
1. Biaya pengurusan izin, dokumen atau hal lainnya ke lembaga Pengadilan setempat, (biasanya hal ini dilakukan sebelum proses pelelangan dilaksanakan). 2. Biaya pendaftaran lelang.
3. Biaya pembuatan iklan di surat kabar setempat atas pemberitahuan akan diadakannya pelelangan umum.
4. Biaya proses pelaksanaan pelelangan. 5. Honor untuk pejabat lelang.
6. Honor untuk Notaris sebagai pejabat yang akan menjadi saksi selama proses pelelangan umum berlangsung, sekaligus akan mensahkan hasil keputusan lelang.
7. Biaya pegawai pelelangan.
8. Biaya pengeksekusian barang jaminan.
9. Biaya gudang atas penyimpanan barang jaminan yang akan dilelang.
10. Biaya perawatan barang jaminan yang akan dilelang (untuk benda bergerak, misalnya mobil, sepeda motor, dan lainnya biasanya barang tersebut
ditata/dirawat dan dibuat sebaik mungkin untuk menarik hati atau minat pembeli pada saat proses pelelangan dilaksanakan nantinya).
11. Biaya untuk tenaga keamanan dalam hal pengamanan selama proses lelang berlangsung (biasanya dalam proses pelelangan aparat keamanan baik anggota TNI maupun anggota Polri dapat diikutsertakan untuk menjaga agar suasana tetap kondusif, berjalan lancar dan aman serta mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sedini mungkin).
12. Serta biaya lainnya.
BAB IV
KEBERADAAN KUASA MENJUAL OBJEK JAMINAN KREDIT