• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesehatan

Dalam dokumen AFDEELING SIBOLGA TAHUN (Halaman 110-114)

BAB IV KONDISI AFDEELING SIBOLGA SELAMA TAHUN 1906-

4.4 Infrastruktur

4.4.4 Kesehatan

Sibolga yang dibangun diatas rawadan tumbuhan bakau, dimana hampir semua wilayah Afdeeling Sibolga adalah bekas rawa yang ditimbun oleh tanah.

Kondisi seperti ini yang mengakibatkan sibolga mengalami masalah kesehatan dikemudian hari hingga memakan korban jiwa. Akibat Sibolga adalah daerah rawa yang ditimbul, kemudian Sibolga dikenal sebagai sarang nyamuk malaria. Penyakit malaria ini menjadi momok dalam kondisi kesehatan penduduk baik pejabat di Afdeeling Sibolga. Masalah penyakit malaria ini berlangsung cukup lama hingga petengahan abad ke-20.100 Penyakit malaria ini pun bukan hanya sekedar penyakit karena penyakit ini mampu menyebabkan kematian. Banyak orang yang sakit dan yang mati akubat terkena gigitan nyamuk malaria, awalnya membuat seseorang demam, dan semakin tinggi suhu badan dan mengakibatkan kematian. Akibatnya banyak pejabat dan penduduk yang meninggal. Ketika itu banyak para pedagang yang mengurungkan niatnya untuk berdagang ke Sibolga karena kuatir akan terkena penyakit malaria.101

100 Muhammad Nur. Op.Cit, hal 135

101 Koloniaal Verslag van 1918. “C. Tapanoeli, Mededeelingen Staatkundingen en Algemeen Aard”. Zitiing 1918-1919. Gedrukt ter Algemeene Landsdrukkerij, hal. 14.

Dalam Tahun 1912 orang yang meninggal dunia di Sibolgalebih dari 79 %, serta pada tahun 1917 jatuh korban sebanyak 65 orang dewasa dan 183anak.102 Selanjutnya pihak pemerintahan mulai menanggulangi penyakit malaria ini dengan membersihkan berbagai tempat yang menjadi sarang nyamuk serta menyuarakan dan memberi arahan kepada penduduk untuk menjaga kebersihan dan memastikan tidak ada air yang bergenang dan tetap mengalir. Sejak saat itu korban kematian mengalami penurunan setiap tahunnya dilihat dari hitungan persen, dapat dilihat sebagai berikut:103

 Tahun 1913 yang mati ada 52.2 %

 Tahun 1914 yang mati ada 42.4 %

 Tahun 1915 yang mati ada 32.4 %

 Tahun 1917 yang mati ada 35 %

 Tahun 1918 yang mati ada 22.5 %

Pada tahun yang sama juga terjadi penyakit gangguan pernapasan/limpa pada anak-anak yang berada di distrik-distrik, hal ini juga disebabkan karena pada tahun ini juga curah hujan yang ada di wilayah Afdeeling Sibolga cukup tinggi, dan lagi karena kondisi kesehatan yang kurang baik oleh keberadaan nyamuk malaria di kawasan ini. Berikut di bawah ini adalah tabel dari tahun 1913 dan akhir 1917 sampai awal 1918 dilakukan penelitian limpa pada anak-anak, sebagai berikut:

102 Departemen van Binnenlands Bestuur. “Tapanoeli”, Algemeen Verslag Tapanoeli Over 1917-23 Maart 1918. Hoofdstuk C, hal.3.

103 N. J. Spijkman. Soewaktoe Kemenangan Pekerdjaan Pemeliharaan Kesehatan di Sibolga.

Sri Poestaka. Juli 1919, hal 31

Tabel 17.

Jumlah Persentase Anak-Anak Yang Positif Terkena Limpa Pada Tahun 1913-1918

Nama Kampong Jumlah yang Positif /Tahun

1913 (Dr.Volgel) Desember 1917 dan Januari 1918 (Dr. Scharp de Visser)

Hoeta Passer Sibolga 98 % 50 %

Hoeta Sibolga Hilir 66 % 25 %

Hoeta Barangan 30 % 10 %

Hoeta Aek Doras 15 % 10 %

Sumber:Burgerlijke Openbare Werken. Assaineering van Sibolga. 1919.Weltervreden : H.G Nieuwenhuis Architect van Den Waterstaat

Dari tabel diatas bisa dilihat bahwa persentase jumlah anak-anak yang terkena gangguan pernapasan dari tahun 1913 sampai 1918 terus mengalami penurunan. Dan dalam periode 1913 itu ditangani oleh seorang Dokter bernama Dr. Volgel, dan pada periode 1917 dan 1918 ditangani oleh Dr. Scharp de Visser.

Melihat dampak dari peristiwa penyakit malaria ini, dari jumlah penduduk yang meninggal dunia, keadaan kesehatan penduduk dan pemerintahan Belanda yang tidak baik serta dampak bagi orang-orang yang ingin datang dan singgah ke Sibolga mengalami penurunan dan bahkan mempengaruhi tingkat perekonomian. Maka pemerintahan Kolonial Belanda memberikan beberapa upaya.

Seorang ahli malaria Belanda yang bernama Schuffner, membuat rancang bangun kota Sibolga, yang sesuai dengan upaya mencegah timbulnya penyakit malaria dengan membuat susunan kota dengan sistem Assenering dan Drainering (Lihat Gambar 12 Lampiran XII) sedemikian rupa sehingg dapat mencegah terjadinya tempat perkembangbiakan nyamuk malaria. Bentuk kota yang memanjang dari utara ke selatan dibelah oleh jalan-jalan, baik secara melintang maupun membujur. Jalan dibangun membujur dari pantai ke arah timur, seperti dari Simare-mare ke arah timur hingga sampai di perbatasan kota dekat tebing bukit. Jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan dibangun sejajar dengan garis pantai dan memotong jalan yang membujur dari pantai ke timur. Hasil perpotongan jalan-jalan tersebut membentuk tanah-tanah petak untuk tempat pemukiman penduduk.

Setiap jalan memiliki parit di samping kiri dan kanannya, sehingga air hujan dengan mudah dialirkan ke laut.

Dalam pertimbangan peanggulangan serta pencegahan nyamuk malaria, pemerintahan Kolonial Belanda ingin membuat parit dan selokan pembuangan air(Lihat Gambar 13 Lampiran XIII) langsung menuju laut di Afdeeling Sibolga.

Sebelum membangun parit itu pemerintah Belanda bersama seorang insiyur dari BOW melakukan investigasi lokasi terlebih dahulu. Kemudian dengan persetujuan pemerintahan dengan Besluit Maret 1913 dana yang dibutuhkansebesar f 5000.

Namun seiring pembangunan dengan bersamaan akibat pasang surut air laut yang terjadi dua kali sehari, jumlah dana untuk pembangunan ditambahkan dengan besluit 25 Juli 1913 sebesar f 25.000 dan ditambahkan terus perbaikan selanjutnya pada

besluit 29 Desember1915 No. 51 ditambah lagi sebesar f25.000. Diperkirakan total pengeluaran untuk pembangunan parit sebesar f 440.000.104

Dari data yang diperoleh mengenai kondisi kesehatan Sibolga pada tahun-tahun wabah penyakit malaria tersebut terlihat berangsur-angsur mengalami penurunan jumlah kematian. Pada tahun 1937 dicatat dalam laporan akhir tahunan jumlah kelahiran dan kematian untuk Afdeeling Sibolga dengan total jumlah 35.050 jiwa dengan rincian sebagai berikut :105

 Jumlah total kelahiran 793 = 22,6 %

 Jumlah total kematian 516 = 14,7 %

Dari data diatas terlihat jumlah kematian yang lebih kecil dari angka kelahiran. Ini menandakan bahwa penduduk Sibolga bertambah dari jumlah kelahiran sebanyak 277 jiwa dari perbandingan jumlah kematian dan kelahiran. Untuk Rumah sakit di Sibolga (Lihat Gambar 14 Lampiran XIV) sendiri belum dapat diketahui kapan mulai berdiri, namun dari data yang diperoleh pada tahun 1936 sudah ada rumah sakit di Sibolga.

Dalam dokumen AFDEELING SIBOLGA TAHUN (Halaman 110-114)

Dokumen terkait