BAB II AFDEELING SIBOLGA SEBELUM TAHUN 1906
2.2 Penduduk
Sebelumnya sudah dikatakan bahwa yang membuka perkampungan di Sibolga ini adalah Rombongan orang Batak dari pedalaman Silindung yang dimana Silindung merupakan salah satu daerah pedalaman Tapanoeli yang didiami oleh orang Batak Toba, namun Sibolga Teluk Tapian Nauli memang sudah banyak didatangi oleh orang dari pedalaman wilayah Sibolga seperti orang Aceh serta orang-orang dari pesisir Pariaman dan Tiku33, mereka datang hanya untuk berdagang hasil komoditi dari daerahnya dan membawa pulang hasil dari daerah itu atau yang ditukarkan pada saat berdagang di Sibolga dan tidak menetap.
Gusti Asnan dalam bukunya “Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”menjelaskan bahwa beberapa tanjung dan teluk yang terkenal memainkan peran penting dalam kegiatan ekonomi, dimana teluk biasa dijadikan sebagai pelabuhan laut.34 Salah satunya adalah pelabuhan Sibolga yang berfungsi sebagai kota transit barang perdagangan yang berada di teluk, menjadikannya sangat begitu beruntung, jadi tidaklah mengherankan kalau wilayah Sibolga ini banyak di kunjungi
33 Sahat Simatupang, Op Cit, hal 4,
34 Gusti Asnan. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta : Ombak. 2007, hal 25
oleh orang-orang dari pedalaman dan dari pesisir lainnya serta penduduk dari kawasan lain melakukan urbanisasi ke Sibolga sangat besar. Berbagai kelompok etnis seperti yang disebutkan sebelumnya seperti Toba, Aceh, Tiku, Pariaman bahkan etnis Nias, Angkola, Mandailing, bahkan Cina35 yang datang sebagai pedagang telah menambah kepadatan penduduk di Sibolga, hingga kedatangan Belanda ke Afdeeling Sibolga, perpindahan atau datangnya penduduk baru dari luar daerah Sibolga juga didukung karena pada tahun 1850 sudah ada jalan dari Sibolga ke Barus dan Singkel sehingga orang-orang Aceh, orang Nias yang melepaskan diri dari perbudakan, orang-orang Cina dari Penang serta orang-orang Angkola yang pindah karena tidak amannya situasi di daerah asalnya samasa perang Padri.36
Minimnya data mengenai penduduk Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1906, maka tidak ada data khusus mengenai berapa banyak jumlah penduduk di Afdeeling Sibolga baik penduduk asing maupun penduduk pribumi. Dalam laporan yang dituliskan oleh Resident Tapanoeli P.T.H Couperus menjelaskan bahwa Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1851 jumlah peduduknya lebih banyak dari tahun pada 185137 hal ini dikarenakan wilayah Sibolga yang masih belum banyak dihuni, dijelaskan juga jalan menuju Sibolga ini hanya bisa digunakan oleh pejalan kaki dengan rute jalan yang sangat curam dengan pendakian dan penurunan yang sangat melelahkan bagi
35 Anonim. Sejarah Perkembangan Pemerintahan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Medan : Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Tanpa Tahun Terbit, hal 130
36Ibid, hal 64
37 P.Th Couperus. De Residentie Tapanoeli (Sumtra’s Weskust) In 1852. Amsterdam : Koninklijk Instituut. 1852, hal 19
orang-orang yang datang ke Sibolga38. Namun Sibolga sebagai ibu kota Keresidenan Tapanoeli sehingga hal itu mempengaruhi jumlah penduduk Afdeeling Sibolga, maka dapat dilihat jumlah penduduk Tapanoeli pada tahun 1851 pada tabel berikut :
Tabel 1
Jumlah Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1851
Penduduk
Amsterdam: Koninklijk Instituut. 1852, hal 19
38Ibid, hal 16
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penduduk asli jumlahnya lebih banyak dari penduduk Eropa, dalam hal ini orang-orang Eropa masih sedikit dibandingkan juga dengan etnis Cina. Etnis Cina adalah salah satu etnis yang paling populer, dikatakan populer karena disetiap wilayah yang ada di wilayah Nusantara bahkan dunia, pasti dihuni oleh Etnis Cina. Etnis Cina terkenal karena keuletannya dalam perdagangan. Sama hal nya di Afdeeling Sibolga Etnis Cina datang sebagai pedagang.
Dari data diatas jumlah penduduk Cina sebanyak 244 jiwa. Namun Seiring perkembangan etnis Cina dalam wilayah Sibolga, mereka sangat dekat dengan Pemerintahan Kolonial Belanda, hal ini menjadi sangat menonjol dikalangan penduduk pribumi. Kedekatan orang-orang Cina dengan Belanda sering kali membuat penduduk pribumi merasa iri, tak jarang juga pemerintahan Belanda mengistimewakan penduduk Cina dengan mendapatkan kemudahan fasilitas perdagangan dan terlebih lagi orang-orang Cina turut ikut campur dalam menggurusi masalah pajak masyarakat orang-orang. Bertolak belakang dengan orang-orang Cina, orang-orang pribumi sering mendapat kesulitan dari pemerintahan Hindia Belanda.
Kemudian karena perlakuan berbeda yang diberikan itu, memancing amarah penduduk pribumi sehingga pada tahun 1865 terjadi peristiwa terbakarnya dan rusaknya rumah-rumah orang Cina39 sehingga mengakibatkan terusirnya penduduk Cina dari Sibolga dan orang-orang Cina melarikan diri ke daerah Sumatera Westkust dan Sumatera Timur. Dengan itu Pemerintahan Kolonial Belanda menangkap orang-orang pribumi yang bersifat brutal.
39 Lihat Sahat Simatupang, Op.Cit, hal 38
Pembakaran dan kerusakan rumah orang-orang Cina di Sibolga yang terjadi pada tahun 1865 menghabiskan seluruh rumah orang-orang Cina, dan terlihat pada tahun 1890 belum ada pembangunan kembali rumah-rumah orang Cina, dan masih terlihat sepi dan tanah kosong beserta bekas puing-puing kebakaran. (Lihat Gambar 1 Lampiran I).
Ada lagi laporan dari J. Block, pada tahun 1857 penduduk Keresidenan Tapanoeli etnis Batak, Minangkabau, Aceh, Jawa, Bugis, Cina, Arab, dan Eropa.
Mereka tersebar di setiap Afdeeling, baik di pedalaman maupun di pesisir dan Pulau Nias. Umumnya sebagian besar diantara mereka tinggal di bandar Sibolga, baik sebagai pedagang maupun sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Mereka selalu menjaga hubungan baik dengan penduduk pedalaman dan pada suatu saat mencari barang dagangan ke sana. Pembagian penduduk Tapanoeli berdasarkan tempat tinggal dapat diperhatikan tabel berikut :40
40 J. Block. “ Algemeen Administratief Verslag van de Residentie Tapanoelie over het Jaar 1857, A Eerste Afdeeling Gewestelijk Bestur”. Arsip, Sumatra’s Weatkust, hal.5.
Tabel 2.
Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1856 Menurut Tempat Tinggal
Wilayah Tempat Tinggal Jumlah Penduduk
Sibolga 8.402 jiwa
Natal 4.956 jiwa
Mandailing dan Angkola 64.934 jiwa
Barus 4.379 jiwa
Singkel 2.101 jiwa
Gunungsitoli 12.602 jiwa
Lagundi 7.474 jiwa
Total penduduk Tapanoeli Tahun 1856 104.484 jiwa Sumber : J. Block. “Algemeen Administratief Verslag van de Residentie Tapanoeliover het Jaar 1857, A Eerste Afdeeling Gewestelijk Bestur”. Arsip, Sumatra’s Westkust”, hal.5.
Dari tabel diatas terlihat bahwa penduduk yang berada di wilayah Sibolga pada masa pemerintahan Residen J. Block sebanyak 8.402 jiwa
Seiring perkembangannya, penduduk yang berada di Afdeeling Sibolga ini sangat beranekaragam suku etnis yang saling mengadakan interaksi, saling berhubungan baik dalam hal perdagangan maupun hubungan perkawinan. Pada tahun 1880 menjadi awal dimana kebudayaan yang akan berkembang dan menjadi dominan dalam perjalanan sejarah kebudayaan Sibolga, yaitu pada periode ini putra dari Kuria Sibolga menikah dengan putri Datuk Pasar yang diantara kedua pihak berbeda ada
istiadatnya. Kepala kuria adalah etnis Batak yang sudah beragama Islam sedangkan Datuk Pasar menganut adat Melayu Minangkabau. Atas pemufakatan keluarga kedua belah pihak diadakan suatu kesepakatan baru dengan melahirkan adat yang disebut Adat Sumando Kebudayaan Pesisir.41