• Tidak ada hasil yang ditemukan

AFDEELING SIBOLGA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AFDEELING SIBOLGA TAHUN"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

AFDEELING SIBOLGA TAHUN 1906-1942

Skripsi Sarjana Dikerjakan

O L E H

NAMA : MARSELINA MEGA DEWI NIM : 160706031

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga memiliki kekuatan dan dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Afdeeling Sibolga Tahun 1906-1942”.

Selama proses penelitian dan penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan yang penulis alami namun, berkat bantuan dan dorongan serta arahan dari berbagai pihak terutama dari pembimbing skripsi dan staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah FIB USU. Serta tidak lupa pula banyak pengalaman berharga yang penulis dapatkan selama proses penulisan skripsi ini.

Penulis merasa bahagia dan bangga atas penulisan skripsi ini. Tetapi penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dalam skripsi ini. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya bagi para pembaca.

Medan, 5 Januari 2021 Penulis,

Marselina Mega Dewi NIM. 160706031

(7)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis sadari penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa doa, dukungan, dorongan semangat baik moril dan materil dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang berjasa dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai Dosen Penasihat Akademik yang telah membimbing penulis selama kuliah di Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU. Terima kasih kepada para Wakil Dekan beserta seluruh staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Terimakasih atas segala arahan dan motivasi dan ilmu yang bapak berikan kepada sayas selama masa perkuliahan.

3. Ibu Dra. Nina Karina, M.SP., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagai dosen pembimbing skripsi penulis. Terimakasih atas segala arahan, bantuan, semangat dan waktu luang yang ibu berikan. Segala pemikiran yang ibu kemukakan penulis jadikan inspirasi dan motivasi dalam penulisan skripsi ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

(8)

4. Seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan penulis banyak ilmu pengetahuan, pengalaman, serta wawasan. Juga kepada staf administrasi Program Studi Ilmu Sejarah, Bang Ampera yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan persoalan administrasi selama masa perkuliahan.

5. Kepada ibu Habsari yang telah membantu penulis selama penelitian di Arsip Nasional Republik Indonesia serta para pegawai ANRI yang membantu dalam penelusuran data arsip. Tak lupa juga kepada pimpinan dan pegawai Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Yang telah memberikan data dan pelayanan selama melakukan penelitian.

6. Terkhusus penulis ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis yang sangat penulis sayangi dan hormati, Bapak Edison Mendrofa dan Mama Amaria yang selalu mencurahkan semangat dan kasih sayangnya kepada penulis. Gelar Sarjana ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua penulis. Terimakasih sebesar-besarnya atas doa yang tidak pernah putus untuk penulis, dorongan dan motivasi baik moril dan materil selama penulis megemban pendidikan, sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Terimakasih juga penulis ucapkan kepada kedua adik penulis Agus Dermawan Mendrofa dan Agustus Miswan Mendrofa atas semangat yang diberikan.

(9)

7. Terimakasih juga kepada Keluarga Besar Mendrofa, kakek Aroziduhu Mendrofa, nenek Idama Zebua dan yang lainnya serta kelurga besar yang berada di Lampung, kakek Askari (Alm), Nenek Masaini, Om Hayun (Alm) dan lainnya. Yang telah memberikan dukungan dan segala hal yang telah diberikan kepada penulis.

8. Kepada sahabat-sahabat terkasih penulis, Marasutan Pulungan, Ayuna Adha Tanjung, Dicky Hendardi Girsang, Muhammad Ibrahim, Mahzar Lutfi Lubis, Widya Ummairoh, Nurma Sari, M. Soultan Raliby (Buyung), Arkini Sabrina, Falen Dina, Ita Servina, Agung Khatami, Dendi Reza Juliansya Siregar, Miftah Nugraha Nasution, Ermanto Nainggolan, Muhammad Fazli, Juli Aryanti, Agung Simanjuntak, semoga hal yang dilewati bersama tetap terjaga dan terjalin. Terimakasih juga kepada seluruh teman-teman Ilmu Sejarah Stambuk 2016 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu atas pengalaman selama perkuliahan.

9. Sahabat penulis sedari SMA yang selalu mendukung dan menyemangati penulis, Arveni Nasution, Selly Mairona Hutabarat, Nurfajriah, Rahma, Edo Adma, Didik Hia dan Patricia.

10. Kepada Bang Handoko S.S, MA, Bang M. Aziz Lubis, S.S, serta Bang Kiki Maulana Affandi, S.S, atas segala bantuan sepanjang proses penelitian skripsi ini.

(10)

Akhirnya untuk semua yang membantu baik secara langsung maupun tidak dalam penulisan skripsi ini penulis ucapkan terimakasih. Semoga kebaikan dan bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Medan, 05 Januari 2021 Penulis,

Marselina Mega Dewi NIM. 160706031

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMAKASIH... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR ISTILAH ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1.4 Tinjauan Pustaka ... 6

1.5 Metode Penelitian ... 10

BAB II AFDEELING SIBOLGA SEBELUM TAHUN 1906 2.1 Wilayah ... 16

2.2 Penduduk ... 23

2.3 Pemerintahan ... 29

(12)

BAB III LATAR BELAKANG SIBOLGA DIJADIKAN AFDEELING TAHUN 1906

3.1 Adanya Pelabuhan Sibolga ... 36

3.2 Pintu Masuk, Pengawasan Wilayah ... 43

3.3 Terbentuknya Keresidenan Tapanoeli ... 45

BAB IV KONDISI AFDEELING SIBOLGA SELAMA TAHUN 1906- 1942 4.1 Wilayah ... 50

4.2 Penduduk ... 64

4.3 Pemerintahan ... 72

4.4 Infrastruktur ... 78

4.4.1 Pembangunan Jalan ... 78

4.4.2 Pelabuhan ... 83

4.4.3 Fasilitas Pendidikan ... 89

4.4.4 Kesehatan ... 92

4.4.5 Pasar ... 96

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 99

5.2 Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 104 LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jumlah Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1851 ... 25

Tabel 2. Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1856 Menurut Tempat Tinggal ... 28

Tabel 3. Nilai Barang Masuk dan Keluar Dari Pelabuhan Sibolga Tahun 1846-1870 ... 40

Tabel 4. Nilai Barang Masuk dan Keluar Dari Pelabuhan Sibolga Tahun 1846-1870 ... 42

Tabel 5. Jumlah Pasukan Militer di Sibolga Tahun 1848-1860 ... 44

Tabel 6. Kampung Afdeeling Sibolga Tahun 1935 ... 56

Tabel 7. Jumlah Pemilik Kebun Karet Rakyat Pada 1937 ... 61

Tabel 8. Onderneming Di Afdeeling Sibolga tahun 1938 ... 63

Tabel 9. Jumlah Orang Pribumi Berdasarkan Etnis (asal daerah) di Afdeling Sibolga Tahun 1930 ... 68

Tabel 10. Daftar Jumlah Penduduk Pribumi Berdasarkan Agama Tahun 1930 ... ... 69

Tabel 11. Daftar Nama-nama Assistent Resident dan Controleur di Afdeeling Sibolga tahun 1906-1942 ... 76

Tabel 12. Jumlah Gaji Pegawai di Afdeeling Sibolga tahun 1906 ... 77

Tabel 13 Trayek Mobil ATOS Pada Tahun 1920 ... 81

Tabel 14 Nilai Import Melalui Pelabuhan Sibolga ... 85

Tabel 15 Nilai Eksport Melalui Pelabuhan Sibolga ... 86

Tabel 16. Jumlah kapal yang keluar masuk dari Pelabuhan Sibolga ... 88

(14)

Tabel 17. Jumlah Persentase Anak-Anak Yang Positif Terkena Limpa Pada Tahun 1913-1918 ... 94 Tabel 18. Daftar Harian Pasar di Afdeeling Sibolga pada tahun 1917 ... 97

(15)

DAFTAR ISTILAH

Afdeeling : Wilayah administrasi setingkat kabupaten Assistent Resident : Kepala pemerintahan suatu Afdeeling Controleur : Kepala pemerintahan suatu onderafdeeling Bouw : Ukuran luas tanah, dengan 1 Bouw = 7.0965 m² Datuk Pasar : Pemungut Pajak

Decentralisatie Wet : Undang-undang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1903

Resident : Kepala Pemimpin suatu Keresidenan

Wijmeesters : Pengganti sebutan Datuk Pasar pada tahun 1915 Onderafdeeling : Wilayah setingkat kecamatan

Demang : Pegawai yang diangkat oleh Pemerintah Kolonial, biasanya adalah sebelumnya menjadi Kuria

Kuria : Sebutan untuk Raja yang dihapuskan gelar Raja nya dan bertugas mengatur adat

Staatsblad : Peraturan perundang-undangan pemerintahan Kolonial.

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Gambar 1 : Kerusakan perkampungan Cina pasca kebakaran Tahun 1890

Lampiran II. Gambar 2 : Peta Afdeeling Sibolga Tahun 1935

Lampiran III. Gambir 3 : Peta Onderneming Afdeeling Sibolga tahun 1935 Lampiran IV. Gambar 4 : Perkampungan Cina di Sibolga Pada Tahun 1920 Lampiran V. Gambar 5 : Kantor Cabang administrasi Afdeeling Sibolga tahun

1936

Lampiran VI. Gambar 6 : Jembatan Batang Toroe Jalan Sibolga-Padang Sidempoean

Lampiran VII. Gambar 7 : Penggunaan Kano Sebagai Transportasi Di Sorkam Lampiran VIII. Gambar 8 : Terowongan dijalan antara Taroetoeng dan Sibolga Lampiran IX. Gambar 9 : Goa Belanda, Jalan Sibolga-Taroetoeng

Lampiran X. Gambar 10 : Gudang Niaga di Pelabuhan Sibolga Lampiran XI. Gambar 11 : Peta Pelabuhan Sibolga

Lampiran XII. Gambar 12 : Pembuatan parit disamping kiri kanan jalan 1913 Lampiran XIII. Gambar 13 : Parit yang selesai dibangun mengalir langsung ke laut Lampiran XIV. Gambar 14 : Rumah Sakit Sibolga

Lampiran XV. Gambar 15 : Suasana pasar kotabaringin tahun 1917

Lampiran XVI : Surat Keputusan Pemisahan Tapanoeli dari wilayah Sumatra’s Westkust

(17)

Lampiran XVII : Keputusan Pemerintah Mengenai Penetapan Keresidenan Tapanoeli Sebagai Wilayah yang Mandiri, dan Afdeeling Sibolga sebagai Ibukota Keresidenan Lampiran XVIII : Kantor Resident di Sibolga

Lampiran XIX : Rumah Ibadah di Sibolga Lampiran XX : Rumah Masyarakat Eropa

Lampiran XXI : Kantor Perusahaan Dagang Sumatera Kalimantan (Borsumij) di Sibolga

(18)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Afdeeling Sibolga tahun 1906-1942. Penelitian ini merupakan kajian sejarah pemerintahan pada masa Kolonial Belanda di Keresidenan Tapanoeli. Dalam penelitiannya, skripsi ini menggunakan metode sejarah yang akan dijelaskan secara deskriptif dengan periode peristiwa sejarah. Adapun tahapan dalam penelitian serta penulisan skripsi ini dimulai dengan Heuristik (pencarian data) pendukung mengenai Afdeeling Sibolga ke berbagai lembaga dan perpustakaan, misalnya Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Tengku Lukman Sinar, dan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, serta juga mengunjungi situs arsip online, seperti Delpher dan Tropen Museum. Selanjutnya tahapan Verifikasi (Kritik) yaknikritik ekstren dan intern untuk menemukan fakta-fakta yang sesuai. Kemudian fakta-fakta tersebut diinterpretasi sehingga diperoleh fakta yang objektif yang akan dituangkan kembali dalam tahapan historiografi (penulisan kembali).

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai pemerintahan wilayah Sibolga pada masa Kolonial Belanda. Dijelaskan sebelumnya Sibolga adalah sebuah Bandar pulau poncan ketek yaitu pusat pemerintahan Raja setempat yaitu Ompu Horinjom Hutagalung. Hingga pemerintahan Kolonial Belanda berhasil menaklukkan wilayah Sibolga dengan memindahkan pusat pemerintahan dari Pulau Poncan Ketek ke Sibolga dan membentuk wilayah otonomi yaitu Afdeeling setingkat dengan Kabupaten saat ini.

Berdirinya Afdeeling Sibolga sebagai wilayah otonomi Kolonial Belanda merupakan sebagai pintu gerbang menguasai wilayah pedalaman dan sekitarnya.

Dengan dibentuknya Keresidenan Tapanoeli dan Sibolga sebagai ibukotanya serta didukung oleh Pelabuhan yang semakin berkembang aktivitas eksport-importnya semakin membuat Afdeeling Sibolga berkembang kearah baik. Dengan untuk melancarakan penguasaan ke wilayah pedalaman, Pemerintah Kolonial Belanda merasa perlu melakukan reorganisasi pemerintahan dengan menyatukan atau membentuk wilayah otonomi baru yang berada di wilayah Afdeeling Sibolga.

Kata kunci : Afdeeling, Sibolga, Pemerintahan, Keresidenan Tapanoeli, Pelabuhan.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sibolga1 merupakan suatu bandar kecil yang terletak di Teluk Tapian Nauli, yang berada di seberang Pulau Poncan Ketek. Di Pulau Poncan ini tempat pertama kali Raja Sibolga yaitu Ompu Hurinjom Hutagalung yang bertahta.2 Sebelumnya Kota Sibolga belum ada dan merupakan rawa-rawa besar tempat ikan cati boga-boga3 .Jauh sebelum datangnya kolonial Belanda di daerah pesisir ini, Kota Sibolga sudah memiliki sistem pemerintahan sendiri. Kota Sibolga dahulunya sebuah kota yang juga dipimpin oleh raja-raja4 sama seperti kota-kota di Nusantara yang mana penyebutan Raja disini diberikan oleh penduduk setempat karena telah membuka sebuah kampung yaitu kampung Sibolga.

1 Penyebutan nama Sibolga, diceritakan bahwa pada awalnya Ompu Datu Hurinjom yang membuka perkampungan Simaninggir, mempunyai postur tubuh yang besar. Dalam orang Batak tabu menyebutkan nama orang secara langsung apalagi orang tersebut lebih tua, maka untuk menyebutkan nama kampung yang dibuka oleh Ompu Datu Hurinjom disebutkan kata “Sibalgai” yang artinya kampung untuk orang yang tinggi besar. Dalam penyebutan asal Kata Sibolga memang banyak versi, adalagi istilah “Bolga-bolga”, yaitu nama sejenis “Balga Nai” yang berarti untuk menunjukkan arah luasnya lautan. Orang Batak biasanya menggunakan kata “bidang”untuk menggambarkan sesuatu yang luas, bukan kata balga yang berarti besar.

2 Syawal Pasaribu. Bunga Rampai Pesisir Kota Sibolga. Sibolga : Pemerintah Kota Sibolga.

2014, hal. 3

3 Boga-boga sejenis hewan yang hidup di rawa-rawa Sibolga, yang dalam bahasa Batak artinya adalah lompat-lompat. Saat itu, Sibolga belum dikenal sebagai sebuah tempat pemukiman dan hanya tempat lintas tukang pikul garam, yang oleh masyarakat batak pada saat itu menyebutnya dengan istilah “Parlanja Sira‟ (Perdagangan Garam).

4 Menurut catatan Belanda, Sibolga didirikan kira-kira 1700 M oleh seorang yang bernama Raja Luka Hutagalung Gelar Tuanku Dorong (turunan ke XI dari marga Hutagalung klan

Datu Sorga dan cucu dari ompu Hurinjom Hutagalung) berasal dari Silindung. Borunya bermarga Simatupang dan hula-hulanya bermarga Pasaribu. Lihat : Tim Penyusun. Mengenal adat dan Budaya Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga. Sumut: Forkala. 2010, hal. 49

(20)

Sejak Kota Sibolga ditetapkan menjadi Ibukota keresidenan Tapanoeli pada tahun 1842 5 yang merupakan bagian Gouvernement van Sumatra’s Westkust yang dimana dibagi atas 7 Afdeeling6 yang satu diantaranya adalah Afdeeling Sibolga.

Afdeeling Sibolga yang dipimpin oleh seorang Assistent Resident yang berkedudukan di Sibolga. Oleh karena Sibolga juga merupakan pusat ibukota dari Keresidenan Tapanoeli maka Resident juga berkedudukan di Afdeeling Sibolga. Berdasarkan Staatsblad No. 31 Afdeeling Sibolga dibagi atas 2 Onder-Afdeeling yaitu: Onder- Afdeeling Sibolga dan Onder-Afdeeling Batang Toru dan berdasarkan Staatsbald No.

53 Tahun 1873 wilayah Afdeeling Sibolga diperluas pula meliputi Onder-Afdeeling Barus, Singkil dan Nias.7

Sibolga dijadikan sebagai Afdeeling karena wilayah Sibolga yang letaknya lebih strategis yang dimana dikelilingi oleh daerah-daerah pedalaman yang mempermudah Pemerintah Kolonial Belanda dalam menguasai daerah-daerah pedalaman sekaligus dalam mengawasi kegiatan baik itu pemerintahan, politik, ekonomi dan perdagangan maka dengan ini Sibolga juga dijadikan sebagai Ibukota Keresidenan Tapanoeli berdasarkan Staatsblad 1905 No. 418 Resident Tapanoeli

5 Sibolga sejak saat itu terus-menerus menjadi ibu kota kecuali terhenti sebentar antar tahun 1885-1906 (kira-kitra 20 tahun) dimana waktu itu Padang Sidempuan yang menjadi Resident Tapanoeli. D i tahun 1906 Keresidenan Tapanoeli dipindahkan kembali ke Sibolga.

6 7 Afdeeling itu adalah Afdeeling Singkil, Afdeeling Barus, Afdeeling Sibolga, Afdeeling Angkolayyyling Mandailing, Afdeeling Natal, Afdeeling Nias.

7 Tim Pengumpulan, Penelitian Data dan Penulisan Sejarah Pemerintahan Departemen Dalam Negeri Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, Sejarah Perkembangan Pemerintahan Departemen Dalam Negeri di Propinsi Daerah Tingkat I Sumatra Utara (Masa Pemerintahan/ Pendudukan Kolonial Belanda dan Jepang). Medan : Fasa USU. 1991, hal 259

(21)

resmi dipisahkan dari Provinsi Sumatra Barat dan menurut Staatsblad tahun 1906 No.

496, maka Tapanoeli berdiri sendiri dan ibu kota ke Sibolga.8

Afdeeling Sibolga juga didukung oleh peranan dari pelabuhan Sibolga yang merupakan pelabuhan terbesar di daerah Tapanoeli. Di dunia perdagangan, Sibolga berfungsi sebagai kota transit barang-barang perdagangan hampir dari seluruh kawasan Tapanoeli untuk dikirim ke kawasan lainnya, bahkan keluar negeri9. Perkembangan wilayah perkebunan di wilayah pedalaman Tapanoeli terkhusus Tapanoeli Selatan. Kawasan Batang Toroe yang merupakan wilayah penghasil komoditi karet, yang mempengaruhi kegiatan eksport importnya di Pelabuhan Sibolga semakin meningkat.10

Pada tahun 1912, populasi penduduk di kawasan Afdeeling Sibolga mengalami penurunan secara drastis. Hal ini disebabkan karena perkembangan wilayah Sumatera Timur sebagai wilayah ekonomi. Berkembangnya Sumatera Timur sebagai wilayah perkebunan mengakibatkan banyak pedagang yang pindah karena pusat perdagangan di Sumatera Timur lebih maju. Hal ini juga mengakibatkan penduduk Sibolga banyak yang berpindah ke Sumatera Timur. Selain itu

8 Tengku Lukman Sinar, Sumatera Utara Dibawah Kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda (s/d awal abad ke XX). Jilid III . Medan : Lingkungan USU, hal. 61

9 Ibid hal. 241

10 Kota Sibolga yang dibangun di atas rawa dan tumbuhan bakau menjadi penyebab Sibolga terkenal sebagai sarang nyamuk malaria, sehingga kota ini dijuluki “kota malaria”. Penyakit malaria ini meresahkan siapapun yang ingin datang ke kota Sibolga dan juga meresahkan penduduk dan pemerintahan Hindia Belandadi Sibolga. Hal ini lah yang mengurungkan niat banyak para peagang untuk berdagang ke Sibolga. Lihat: Muhammad Nur. Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera Pada Abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. 2015. Padang: Balai Pelestarian Budaya Sumatera Barat, hal. 135

(22)

berkurangnya penduduk di Sibolga juga disebabkan karena penyakit malaria yang yang ada di Sibolga.

Penurunan penduduk Afdeeling Sibolga bukan berarti mempengaruhi perkembangannya sebagai wilayah administratif. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan infrakstruktur di Sibolga. Sejak akhir tahun 1915, perkembangan infrakstruktur terus terjadi seperti pembangunan selokan, pembangunan jalan penghubung antara Sibolga dengan wilayah pedalaman dan pembangunan infrakstruktur lainnya.11 Hal unik lainnya yang dapat dilihat dari Afdeeling Sibolga ini adalah Afdeeling Sibolga dalam perjalanannya sering berganti nama seperti Afdeeling Si Boga, Afdeeling Siboga, Afdeeling Beneden Tapanoeli, hingga pernah turun menjadi onderafdeeling Sibolga en Omelannden dan kembali lagi menjadi Afdeeling Sibolga. Akan tetapi demikian Sibolga bertahan sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda tahun 1942 tetap menjadi Afdeeling Sibolga.

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini akan diberi judul “Afdeeling Sibolga Tahun 1906-1942”. Tulisan mengenai Afdeeling Sibolga ini sangat menarik

untuk diteliti karena belum ada secara spesifik menulis mengenai Afdeeling Sibolga dalam pemerintahannya. Adapun karya lain yang menyinggung mengenai Pemerintahan Sibolga adalah berupa buku yang ditulis oleh Muhammad Nur dengan judul “Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera Pada Abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20” yang hanya secara sekilas menyinggung mengenai

11Burgerlijke Oprnbare Werken. Assaineering van Sibolga. 1919.Weltervreden : H.G Nieuwenhuis Architect van Den Waterstaat, hal. 5

(23)

Afdeeling Sibolga dalam Keresidenan Tapanoeli. Penelitian ini akan mencakup mengenai bagaimana Perkembangan Afdeeling Sibolga hingga perannya sebagai bandar dalam Keresidenan Tapanoeli.

Penetapan tahun 1906 sebagai awal penelitian adalah, karena pada tahun tersebut Sibolga ditetapkan sebagai Ibukota Keresidenan Tapanoeli sudah berdiri sendiri dan telah keluar dari Sumatra Barat. Pada tahun ini juga terjadi pasang surut dalam pemerintahan Sibolga, mulai dari penurunan jumlah penduduk yang berpengaruh pada perekonomian Afdeeling Sibolga. Batas akhir penelitian pada tahun 1942 adalah karena pada tahun tersebut merupakan berakhirnya masa kependudukan Kolonial Belanda khususnya di Keresidenan Tapanoeli dan masuklah pemerintahan Jepang yang dimana mengubah sistem pemerintahan yang ada di Keresidenan Tapanoeli yang salah satunya penamaan wilayah-wilayah administratif.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan hal yang paling mendasar yang akan memuat dengan jelas apa bahasan yang akan dilakukan dalam penelitian. Dengan kata lain, rumusan masalah itu untuk mempermudah penulis untuk menemukan garis besar tulisan yang akan diselesaikan. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Afdeeling Sibolgasebelum tahun 1906 ?

2. Apa latar belakang Sibolga dijadikan Afdeeling pada tahun 1906 ? 3. Bagaimana kondisi Afdeeling Sibolga selama tahun 1906-1942 ?

(24)

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang penting bagi semua orang, bukan hanya bagi peneliti namun bagi masyarakat umum. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan bagaimana Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1906 ?

2. Menjelaskan apa latar belakang Sibolga dijadikan Afdeeling pada tahun 1906

?

3. Menjelaskan bagaimana kondisi Afdeeling Sibolga selama tahun 1906-1942 ? Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memberikan rujukan baru dalam penelitian sejarah khususnya mengenai Pemerintahan Kota Sibolga untuk dijadikan sebagai sumber penelitian berikutnya

2. Memberikan penegtahuan baru kepada masyarakat mengenai perkembangan pemerintahan kota Sibolga

3. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi gambaran untuk Pemerintahan Kota Sibolga saat ini dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam perkembangan Kota Sibolga.

1.4. Tinjauan Pustaka

Belum banyak tulisan yang membahas mengenai sejarah Pemerintahan di Sibolga. Hanya ada beberapa buku saja yang menyinggung mengenai sejarah

(25)

pemerintahan kota Sibolga, bahkan belum ada buku yang secara fokus membahas perjalanan pemerintahan Kota Sibolga pada masa Kolonial Belanda. Dalam penelitian ini penulis menggunakan buku-buku dalam pengumpulan sumber yang akan menyinggung tentang pemerintahan kota Sibolga. Ada buku karya A. Hamid Panggabean dalam Bunga Rampai Tapian Nauli, membahas tentang kondisi Tapian Nauli yang ditaklukkan oleh Belanda menjadi pusat Keresidenan Tapanoeli dan disamping itu menjadikan Sibolga pemerintahan Afdeeling Sibolga.

H. T. Luckman Sinar, Dkk dalamMengenal adat dan Budaya Pesisir Tapanuli Tengah Sibolga (2010). Menjelaskan bagaimana sejarah adat dan budaya pesisir Sibolga dalam perkembanganya lewat perdagangan sehingga bertambahnya keankeragaman etnis yang menetap di pinggir pantai barat ini. Hal ini juga tidak lepas dari perkawinan campur yang terjadi diantara penduduk setempat dengan masyarakat pendatang yang merupakan cikal bakal lahirnya adat pesisir Sibolga yang disebut adat Sumando12.

Tengku Luckman Sinar dalam Sumatera Utara Dibawah Kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda (s/d awal abad ke XX) (tanpa tahun terbit). Menjelaskan bagaimana kondisi Sumatera Utara dalam pemerintahan Kolonial Belanda pada awal abad ke 20 dan dijelaskan berkembangnya Sumatera Timur saat itu sebagai daerah Perkebunan. Buku ini akan penulis jadikan sebagai referensi dalam penulisan skripsi

12 Sumando sendiri berasal dari bahasa Batak artinya cantik dan sesuai, secara mendalam mengandung makna besan berbesanan. Pengertian adat sumando mencakup tata cara adat pernikahan di daerah Pesisir Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga antara lain; dari tahap merisik sampai kepada acara saling kunjungan kepada keluarga kedua belah pihak. Lihat Syawal Pasaribu, Op Cit. hal 24.

(26)

lebih lanjut terkhusus dalam perkembangan Afdeeling Sibolga pada masa Kolonial Belanda.

Gusti Asnan dalam Pemerintahan Sumatera Barat: Dari VOC Hingga Reformasi (2006). Membahas mengenai awal keberadaan VOC di Sumatera Barat. Di dalam buku ini juga membahas bagaimana perkembangan wilayah-wilayah administratif dalam Pemerintahan Sumatera Barat yang dimana Keresidenan Tapanoeli menjadi salah satu wilayah di bawah Pemerintahan Sumatera Barat hingga terjadinya reorganisasi dan kelurnya Keresidenan Tapanoeli dari Sumatera Barat.

Buku ini sangat berguna dalam menunjang penelitian penulis dalam BAB II, yaitu kondisi Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1906 yaitu sebelum terjadinya reorganisasi yang merubah sistem Pemerintahan di Sumatera Barat yaitu keluranya Keresidenan Tapanoeli dari Sumatera Barat sehingga mempengaruhi juga perkembangan Keresidenan Tapanoeli untuk selanjutnya.

Tim Pengumpulan Penelitian Data dan Penulisan Sejarah Pemerintahan Departemen Dalam Negeri Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara dalam Sejarah Perkembangan Pemerintahan Departemen Dalam Negeri di Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara (Masa Pemerintahan Pendudukan Kolonial dan Jepang) (1991).

Menjelaskan bagaimana pemerintahan Sumatera utara yang dulunya meliputi wilayah Sumatera Timur dan juga Tapanoeli. Dijelaskan wilayah yang termasuk dalam Keresidenan Tapanuli salah satunya adalah Afdeeling Sibolga yang dijadikan sebagai Ibukota. Buku ini akan penulis gunakan sebagai referensi dalam proses perkembangan Afdeeling Sibolga pada tahun 1906-1942, karena dalam buku ini juga

(27)

dijelaskan bagaimana berkurangnya penduduk yang ada di Sibolga sangat mempengaruhi aktifitas ekonomi di Sibolga.

H.A. Hamid Panggabean dkk dalam Bunga Rampai Tapian Nauli : Sibolga.

Buku ini membahas mengenai sejarah masyarakat Sibolga mulai dari sejarah masa sebelum masuknya Kolonial Belanda, kemudian dalam masa perjuangan melawan penjajahan dan menyambut kemerdekaan. Buku ini juga menjelaskan bagaimana lahirnya adat pesisir Sibolga yaitu adat Sumando yang mana adat tersebut merupakan adat yang tercipta dari berbagai macam suku etnis yang ada di Sibolga. Adat Sumando sendiri adalah adat yang bernafaskan agama islam.

Budhisantoso. Studi Pertumbuhan Dan Pemudaran Kota Pelabuhan Kasus Barus Dan Si Bolga. Buku ini membahas mengenai perkembangan penduduk Sibolga, gambaran umum kota, dan sosial budaya masyarakat Sibolga. Perubahan kota Sibolga sebagai kota pelabuhan menjadi pusat pemerintahan.

Muhammad Nur dalam Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera Pada Abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 (2015). Membahas bagaimana Sibolga sebagai Bandar dagang. Dijelaskan perjalanan bandar Sibolga sebagai pusat perdagangan yang selalu di kunjungi oleh perahu dan kapal dagang pemerintahan Hindia Belanda dan orang Eropa lainnya seperti pedagang Gujarat dan Arab selain pedagang sesama penduduk sepanjang pantai barat, hingga akhirnya awal abad ke- 20 terjadi penurunan dalam kegiatan dagang daerah Sibolga terutama sebagai bandar ekspor impor yang dipengaruhi dengan semakin canggihnya teknologi dalam pelabuhan belawan dan perkembangan Perkebunan di Sumatera Timur. Buku ini berguna dalam menunjang

(28)

sumber dalam penulisan perkembangan aktifitas dagang ekspor impor di pelabuhan Sibolga yang merupakan salah satu alasan dijadikan Sibolga sebagai daerah Pemerintahan. Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana pengaruh pembentukan Sibolga sebagai daerah pemerintahan yang dulunya adalah daerah rawa menyebabkan masalah kesehatan pada masyarakat Sibolga.

1.5. Metode Penelitian

Dalam penulisan penelitian sangat penting dalam menggunakan metode penelitian. Metode peneliaan adalah langkah ilmiah dalam memperoleh sebuah data dengan tujuan mendapatkan fakta-fakta yang membuktikan kebenaran dalam setiap peristiwa. Langkah ilmiah tersebut harus berpedoman pada suatu ilmu penegetahuan.

Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah. Metode sejarah sendiri merupakan proses pengujian dan menganalisis secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan sejarah13. Metode sejarah yang umumnya digunakan dalam Ilmu Sejarah ada empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi yang menjadi langkah dalam penulisan sejarah.14

Tahapan pertama adalah heuristik. Heuristik merupakan pengumpulan sumber-sumber yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Metode yang dilakukan oleh heuristik ini adalah studi arsip dan studi pustaka. Studi arsip dilakukan mengingat bahwa peneletian yang dilakukandalam periode masa kolonial yang

13 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosanto, Jakarta: UI Press, 1985, hlm. 39.

14 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003, hlm 19

(29)

memerlukan arsip sebagai sumber primer yang tentunya sesuai dengan penelitian penulis yaitu Afdeeling Sibolga. Dalam studi arsip ini penulis telah mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta Selatan, adapun penelitian arsip ini peneliti laksanakan selama satu bulan terhitung dari tanggal 12 Februari 2020 sampai dengan tanggal 13 Maret 2020 yang merupakan pengalaman pertama yang dilakukan oleh peneliti. Pada kunjungan ke Jakarta penulis tidak sendiri, disini penulis bersama dengan teman lainnya yang juga sedang melakukan penelitian. Pada minggu pertama pencaraian data di ANRI penulis mengalami kesulitan dalam pencarian arsip-arsip karena arsip yang ada di ANRI tersebut berupa bundel-bundel yang harus dipinjam dari peminjaman Arsip terlebih dahulu yang dapat dilihat dari katalog arsip. Akan tetapi dengan adanya pelayanan pegawai ANRI dalam menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan mencari arsip penulis dapat mengejar ketertinggalan dalma pencarian data. Para pegawai arsip terkhusus kepala bidang pelayanan arsip Ibu Habsari menjelaskan sangat baik dan jelas mengenai arsip, mulai dari arsip-arsip terkait, peminjaman dan penggandaan arsip. Dalam studi Arsip ini pertama penulis melihat katalog Algemeene Secretarie yang merupakan daftar arsip-arsip pemerintahan yang dikeluarkan oleh Sekretariat Gubernur Jendral Hindia Belanda. Bisa penulis kata bahwa pencarian data arsip ini seperti menyusun puzzle yang ditemukan satu-persatu dan saling terkait dengan data selanjutnya. Dari Algemeene Secretarie ini penulis mendaptkan Algemeene Secretarie Grote Bundel ter Zijden Grote Agenda 1891-1942. Kemudian penulis juga menemukan arsip seri Binnenlandsch Bestuur, yang merupakan arsip-arsip tentang desentralisasi wilayah

(30)

pemerintahan. Dari Binnenlandsch Bestuur ini penulis menemukan Memorie van Overgave Betreffende De Residentie Tapanoeli 7 October 1929-22 Februari 1935.

Serta penulis menemukan Burgerlijke Openbare Werken yang bersi tentang pembangunan infrastruktur.

Sebelum melanjutkan pencarian data arsip, penulis membaca Enyclopedia van Nederlandsch Indie, yang merupakan rangkuman secara singkat mengenai wilayah di Afdeeling Sibolga, hal ini saya lakukan untuk memudahkan saya dalam menemukan data arsip selanjutnya. Penulis kemudian menemukan lagi Memorie van Overgave(MvO) van den Controleur van Sibolga en Ommelanden yang terdapat di MvO 1 E Reel 26, MvO ini merupakan laporan serah terima jabatan pada pejabat sebelumnya yang habis masa jabatannya. Biasanya MvO ini ditulis oleh Assistent Resident atau Controleur. Penulis juga menemukan Kolonial Verslag dalam bentuk microfilm.

Arsip terakhir yang penulis temukan di ANRI adalah Staatsblad van Nederlandsch Indie yang merupakan peraturan perundang-undangan pemerintah Hindia Belanda, berisi mengenai pasal-pasal dan ketentuan yang disahkan oleh Gubernur Jendral. Dari Staatsblad ini ada peraturan pendukung Pemerintah yaitu Bijblad op het Staatsblad van Nederlansch Indie. Kemudian segala peraturan pemerintah ini saling terkait dan akhirnya di catat pada laporan pemerintahan pusat yaitu Regeering Almanak (RA). Dalam RA ini ada dua seri yang pertama RA Grondgebied en Bevolking Inrichting van Het Bestuur van Nederlandsch-Indie en Bijlagen yang berisi tentang perubahan strukur organisasi wilayah, dan RA Tweede

(31)

Gedeelte Kalender en Personalia yang berisi mengenai daftar personel dan jabatan yang diemban dalam suatu wilayah pemerintahan.

Selanjutnya data-data yang penulis dapatkan dari ANRI kemudian digandakan dalam bentuk fotocopyan dan ada juga dalam bentuk softfile atau dalam bentuk CD.

Untuk menunjang data yang didapatkan penulis juga mengunjungi situs arsip digital seperti Delpher, Digital Collections Universiteit Leiden, dan Tropen Museum.

Selain studi arsip, penulis juga melakukan studi pustaka. Studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah sumber tertulis , yakni berupa buku-buku, skripsi, tesis, jurnal, dan beberapa karya ilmiah lainnya yang berkaitan dengan topik penelitian. Maka dalam pengumpulan studi pustaka ini penulis telah mengunjungi beberapa perpustakaan seperti, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, disini penulis menemukan laporan Residentie Tapanoeli P. TH Couperus, dan berupa surat kabar berupa Majalah Sri Poetaka. Penulis juga sempat mengunjungi Perpustakaan Museum Nasional, pada perpustaakn ini banyak data berupa buku yaitu Tijdschrift van het Nederlandsch Aardrijkskundigr Genootschap (TNAG) yang berisi tentang penjelasan Topografi wilayah Hindia Belanda seperti kondisi tanah, batas wilayah, iklim dan cuaca serta jenis komoditi. Dalam Perpustakaan Museum Nasional ini saya tidak menumakan data mengenai Afdeeling Sibolga.

Selain Perpustakaan di Jakarta, penulis juga mengunjungi perpustakaan lain seperti Perpustakaan Universitas Sumatra Utara, Perpustakaan Daerah Kota Sibolga, dan Perpustakaan Tengku Luckam Sinar. Dalam pencarian data setelah kembali dari Jakarta penulis mendapatkan kendala karena musibah pendemi Covid-19, penulis

(32)

harus karantina mandiri selama 14 hari. Dan setelahnya juga karena musibah tersebut banyak instansi pemerintahan tutup seperti perpustakaan dan bahkan Universitas Sumatera Utara tidak beroperasi.

Setelah sumber terkumpul, tahap selanjutnya yang penulis lakukan adalah kritik sumber. Sumber yang telah didapatkan selanjutnya akan di kritik secara internal dan eksternal untuk memperoleh sumber yang objektif yang telah diuji dan diverifikasi kebenarannya. Kritik internal akan menguji kebenaran dari isi sumber yang telah ditemukan, sedangkan kritik eksternal tahapan dimana penulis akan memilih sumber-sumber mana yang akan sesuai dengan topik penelitian serta menganalisis keaslian dengan mengamati tulisan, kertas, stempel dan tanda tangan.

Tahap selanjutnya adalah Interpretasi. Dimana dalam tahap ini menafsirkan data-data yang telah diuji dan diverifikasi sebelumnya, kemudian menghubungkan fakta-fakta dalam bentuk konsep yang disusun berdasarkan analisis terhadap sumber sejarah yang diperoleh seehingga mendapatkan fakta yang objektif. Setelahnya fakta- fakta yang ada tersebut disusun dan disatukan dalam menghasilkan kesimpulan.15

Tahap terakhir yang harus dilakukan adalah Penulisan Sejarah atau historiografi. Dalam tahap ini adalah proses dalam menuliskan hasil penelitian secara kronologis dalam bentuk tulisan yang menggambarkan dan menjelaskan secara jelas dan ilmiah mengenai Afdeeling Sibolga.

15 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hlm 99

(33)

BAB II

AFDEELING SIBOLGA SEBELUM TAHUN 1906

Dalam bab ini, akan menjelaskan bagaimana kondisi Sibolga sebelum tahun 1906. Sibolga merupakan salah satu wilayah yang berada di pesisir barat pulau Sumatera yaitu Teluk Tapian Nauli. Sibolga sendiri awalnya sebuah kampung yang dibuka oleh Ompu Hurinjom Hutagalung yang berasal dari daerah Silindung16 pada abad ke-17, Ompu Hurinjom Hutagalung ini adalah sebagai Raja17 karena telah membuka kampung Sibolga dan terbentuklah suata Kerajaan Sibolga yang bersifat tradisional. Sekitar pada tahun 1842 Pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat Keresidenan Tapanoeli yang semulanya di Airbangis pindah ke Sibolga sebagai ibukota, hal ini dilakukan oleh Belanda untuk mempermudah dalam pengawasan daerah Tapanoeli lainnya.18 Kemudian untuk memperkuat posisi Belanda dalam menguasai daerah-daerah pedalaman Tapanoeli dibentuklah pada tahun itu juga

16 Silindung merupakan salah satu daerah pedalaman Tapanoeli yang didiami oleh orang Batak Toba. Penduduk Silindung pada umumnya hidup dari pertanian, dan mengalami tantangan hidup yang cukup keras. Untuk menghindari kesulitan hidup mereka mencari tempat baru yang cocok untuk tempat pemukiman. Lihat Muhammad Nur. Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera Pada Abad ke- 19 sampai pertengahan abad ke-20. 2015. Padang: Balai Pelestarian Budaya Sumatera Barat, hal. 129

17 Sebutan Raja ini diberikan oleh penduduk setempat karena Ompu Hurinjom Hutagalung yang membuka kampung Sibolga (1700) dalam prosesnya pengangkatan atau pemberian gelar Raja yang diangkat sendiri oleh rakyat dalam Kerajaan Sibolga ini berbeda dengan bentuk Kerajaan yang ada di Nusantara, yang mana Kerajaan Sibolga terbentuk berdasarkan teritorial. Hal yang dapat dilihat berbeda dari kebanyakan Kerajaan di Nusantara dengan Kerajaan Sibolga adalah tidak memiliki Istana kerajaan yang khusus. Raja bertempat tinggal di rumah Raja yang tidak berbeda dengan rumah orang kebanyakan yang tinggal di daerah pesisir Sibolga yang berbentuk panggung dengan hiasan ornamen khas pesisir pantai. Hal ini lah yang menyebabkan tidak ditemukannya peningglan istana Raja Sibolga.

Hanya ada rumah peninggalan raja yang kini telah direnovasi bergaya modern. Rumah bekas raja Sibolga itu kini sebagian ditempati keluarga besar Alm Laksamana (Purn) Ombun Bahder Hutagalung sebagai salah seorang ahli waris. Tepatnya di jalan Dr. F. Lumban Tobing No. 28A Sibolga. Lihat Sahat Simatupang. Pasang Surut Kerajaan Sibolga Tempo Doeloe. 2014. Sibolga: Tanpa Penerbit, hal 5

18 Muhammad Nur. Op cit hal 233

(34)

Afdeeling Sibolga oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang berada dalam pengawasan Sumatera Weskust. Hingga dalam perjalanannya Afdeeling Sibolga keluar dari pengawasan Sumatera Westkust dan berdiri sendiri pada tahun 1906 sampai pada tahun 1942.

2.1 Wilayah

Sibolga yang awalnya adalah sebuah kampung yang disebut sebagai kampung Sibolga atau Huta Si Balga19 yang kemudian dalam perkembangannya menjadi bentuk Kerajaan yang memiliki batas wilayah kekuasaan.20 Teluk Tapian Nauli tepatya Pulau Poncan Ketek, sekitar 3 mil (+ 4, 5 km) dari daratan Sibolga sekarang ini. Di perkirakan Pulau Poncan Ketek yang menghadap ke arah pantai barat Pulau Sumatera merupakan pusat perdagangan.21 Perkampungan Sibolga yang sudah ada sekarang ini dibangun di atas dataran berupa rawa sepanjang 1.400 m dan lebar 700 m, berada di muara aliran gunung sungai Aek Doras22 yang langsung bermuara ke laut. Daratan di sepanjang laut dibagi menjadi 2 bagian oleh aliran pegunungan tersebut hanya bagian Selatan, dengan jarak 800 m, sedangkan di bagian utara hanya

19 Huta Si Balga artinya kampung si orang tinggi besar

20 Sahat Simatupang.Op.Cit, hal 7

21 Tim Peneliti Dan Penulis Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Studi Pertumbuhan Dan Pemudaran Kota Pelabuhan · Kasus Barus Dan Si Bolga. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian Dan Pembinaan Nilai·Nilai Budaya Pusat. 1994, hal 14

22Aek Doras dalam artiannya merupakan air yang deras bahasa ini merupakan bahasa dari daerah Tapanuli selatan sekarang yaitu Padang Sidempuan . Lihat Dr. W. T. De Vogel. De Taak Van Den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst In Nederlandsch-Indië. 1917. Amsterdam : En Steendrukkerij, hal 36

(35)

ada satu kampung yaitu Si Mare-mare23 yang terdapat sebuah parit berukuran lebih besar berfungsi untuk menyalurkan air pegunungan yang melewati Sibolga mengalir ke laut melalui sungai Aek Doras.

Sungai-sungai yang ada di Sibolga merupakan sungai-sungai kecil yang disebabkan karena Sibolga berada di pesisir barat yang air sungainya begitu deras karena sungai-sungai yang mengalir di daerah kawasan barat umumnya pendek, kecil, berarir deras, dan dangkal hal ini disebabkan karena posisi pegunungan yang lebih dekat ke bibir pantai, topografi daerah yang berbukit-bukit dan struktur tanah yang curam sehingga sungai menjadi lebih dangkal dan kecil karena jarak antara hulu di daerah pegunungan dengan muara dikawasan pantai begitu dekat.24

Pada sebagian daerah sungai sangat berperan penting untuk menghubungkan wilayah hulu (wilayah pegunungan) dengan wilayah hilir (wilayah pantai) karena merupakan sarana transportasi utama di wilayah itu. Berbeda dengan Sibolga sungai hanya sebagai muara tempat berlabuh bagi kapal-kapal lokal yang ingin sekedar beristirahat dan mengisi persediaan air karena airnya jernih25, yang menjadi perhubung antara daerah pedalaman dan Pesisir Tapian Nauli hanyalah melalui jalan darat, dengan melewati jalan setapak, besar kemungkinan dari jalan setapak ini lah rombongan Ompu Hurinjom Hutagalung ini masuk ke kawasan Teluk Tapian Nauli

23 H. C. Gomperts. Bijdrage Tot De Kennis Der Nederlandsch-Indische Anophelinen, Amsterdam : S. L. Van Looy. 1934, hal 12

24 Gusti Asnan. Sungai dan Sejarah Sumatera. Yogyakarta. Ombak. 2016, hal 22

25 H. Bartstra. Memorie van Overgave van Den Controleur van Sibolga En Ommelanden, 1 Juni 1935, hal 1

(36)

yaitu jalan setapak parlanja sira26 ditengah semak belukar antara pantai barat dengan Toba. Disebutkan bahwa rombongan pertama datang dari Silindung dengan membawa rempah-rempah untuk kemudian ditukar dengan garam27, pulau Poncan Ketek yang menjadi cikal bakal Pemerintahan Sibolga yang memang dikenal sebagai daerah kaya akan penghasilan garam.

Kemudian pada tahun 1700 Ompu Hurinjom Hutagalung membangun sebuah bandar dengan bantuan penduduk setempat di Pulau Poncan Ketek, yang berada di depan Teluk Tapian Nauli Sibolga sekarang. Pada tahun 1700-an Inggris mulai tertarik untuk mengenspansi wilayah Pantai Barat Sumatera yaitu pada tahun 1772.

Di Pulau Poncan Ketek Inggris mendirikan pos dagang.28 Bandar di Pulau Poncan ini nantinya akan berkembang menjadi pusat jual beli dan persinggahan kapal-kapal dagang.

Pada perjalanan sejarahnya Inggris lebih unggul daripada Belanda dalam memasuki kawasan pantai barat Sumatera, tahun 1755 Inggris sudah memasuki wilayah teluk Tapian Nauli yang dianggap sangat strategis membangun benteng pertahanan sebagai tempat untuk memantau dan mengontrol perarairan dari gangguan

26 Pemikul garam, yang mana orang-orang Batak menyebutkannya Parlanja Sira karena mereka memikul barang bawaan mereka menuju pulang ke kampung halaman mereka.

27 Terlihat ketika Ompu Horinjom membuka kampung Sibolga ini, ia bersama dengan robongan lainnya yang menyusuri daerah Teluk Tapian Nauli hanya berjalan kaki dari daerah asalnya Silindung menuju Teluk Tapian Nauli, mereka bukan hanya membuka kampung di Sibolga saja tetapi dalam perjalanannya Ompu Horinjom beserta rombongannya juga tinggal menetap di perjalanannya, diantaranya Aek Raisan, Sitahuis dan Rampah. Pada awalnya Suku Batak dari Silindung ini hanya ingin berdagang saja di daerah Teluk Tapian Nauli. Mereka membawa hasil dari daerahnya untuk dibarterkan dengan barang-barang yang ada disekitar kawasan teluk. Barang-barang tersebut dibawa dengan cara dipikul sendiri. Memakai tandu atau dengan kuda beban menelusuri jalan setapak yang berkelok dan mendaki di pegunungan bukit barisan. Lihat H.A. Hamid Panggabean, dkk. Bunga Rampai Tapian Nauli Sibolga-Indonesia. Jakarta: Tapian Nauli-Tujuh Sekawan, 1995, hal. 55

28 Ibid hal 11

(37)

pihak lain. Hingga pada tanggal 17 Maret 1824 Inggris dan Belanda terikat dengan Traktat London yang dalam perjanjian itu Inggris diharuskan untuk meningglakan haknya di pantai barat Sumatera dan sebagai gantinya Belanda menyerahkan kekuasaannya di Singapura dan sekitar Semanjung Malaysia sekarang kepada Inggris.

Kemudian dengan perlahan Inggris menyerahkan Poncan Ketek kepada Belanda pada tahun 1825, termasuk Air Bangis dan Natal. Oleh karena wilayah pantai barat Sumatera berada dalam kekuasaan Belanda pada tahun 1825 ini pula Belanda melakukan reorganisasi pembagian wilayah administraitif yaitu Residentie van Padang en Onderhoorigheden menjadi tiga 29Afdeelingen yang salah satunya adalah Noordelijke Afdeeling (Afdeeling Utara) yang dimana Tapanoeli yaitu Pulau

29 Ketiga Afdeelingen itu adalah: 1. Zuidelijke Afdeeling (Afdeeling Selatan) yang meliputi kawasan mulai dari Ujung Masang hingga Indrapura. Ibu kotanya Padang. 2. Afdeeling Padangsche Bovelanden (Afdeeling Darek) yang mencakup kawasan Tanah Datar, Agam, dan LimaPuluh Kota. Ibu kota Afdeeling ini adalah Fort van Capellen. 3.Noordelijke Afdeeling (Afdeeling Utara), yang meliputi mulai kawasan dari Ujung Masang hingga Barus. Ibu kota dari Afdeeling ini adalah Tapanuli (Pulau Poncan). Pada tahun berikutnyatahun 1826 Resident H.J.J.L. de Stuers yang sebelumnya diangkat oleh van der Capellan, Struers melakukan perubahan penataan wilayah Sumatera Barat menjadi empat Afdeeling yaitu Afdeeling Padangsche Benedenlanden, Afdeeling Padangsche Bovelanden, Zuidelijke Afdeeling dan Noordelijke Afdeeling yang dibagi menjadi empat Onderafdeeling yaitu Barus, Tapanoeli, Natal, Air Bangis hingga pada tahun 1833 melukakan perubahan nama dan daerahnya saja yang bertujuan untuk mendukung perluasan kekuasaan serta melancarakan operasi militer. Pada reorganisasi selanjutnya pada tahun 1837 yang tujuannya bukan hanya sekedar perluasan kekuasaan akan tetapi lebih kepada tujuan demi pelaksanaan pemerintahan yang lebih baik agar rakyat daerah bisa menikmati untung yang banyak dari keberadaan pemerintah Hindia Belanda di daerah ini, karena dalam penataannya pembagian unit-unit pemerintahan semakin rinci, adapun perubahannya berdasarkan Besluit dari Gouvernement Commissaris Cochius tanggal 29 November 1837 diputuskan bahwa status Keresidenan Sumatera Barat ditingkatkan menjadi Gouvernement Van Sumatra’s Westkust yang dimana kedudukan Air bangis yang sebelumnya adalah Afdeeling berubah menjadi Residentie dengan nama Noordelijke Residentie bersama dengan Residentie van Padang. Lihat Gusti Asnan. Pemerintahan Sumatera Barat: Dari VOC Hingga Reformasi. Yogyakarta: Citra Pustaka.

2006, hal 37- 47

(38)

Poncan menjadi ibu kota Afdeeling ini Hingga pada tahun 1840 berdasarkan Besluit Merkus (Gouvernement-commissaris) tanggal 31 Agustus 1840 No. 289/599 (goedgekeurd bijGouvernements-besluit tanggal 11 Maret 1841 No.10) Tapanoeli menjadi Afdeeling Tapanoeli di bawah Residen Air Bangis.

Sebelumnya pada tahun 1837 Pemerintahan Belanda kembali melakukan perubahan yaitu dengan menaikkan status Keresidenan Sumatera Barat atau yang lebih dikenal dengan Sumatra’s Westkust menjadi sebuah Gouvernement dengan nama Gouvernement Sumatra’s Westkust berdasarkan Besluit dari Gouvernement Commissaris Cochius tanggal 29 November 1837. Kemudian pada tahun 1842 Sumatra’s Westkust kembali melakukan perubahan lewat Besluit No. 1 tertanggal 7 Desember 1842 yang menghapuskan Residentie Air bangis dan menjadikan Tapanoeli yang sebelumnya pada tahun 1840 adalah Afdeeling menjadi Keresidenan yaitu Keresidenan Tapanoeli yang akan ditempatkan di Sibolga yang sebelumnya di pulau Poncan Ketek.

Perubahan ini dilakukan untuk memperjelas batas-batas dan daerah-daerah yang disatukan ke dalam satu unit administratif yang sama yang mempertimbangkan aspek perbedaan etnis. Dalam perubahan ini menjadikan pembagian administratif Gouvernement Sumatra’s Westkust menjadi tiga yaitu, Keresidenan Padangsche Benedenlanden, Keresidenan Padangsche Bovenlanden, dan yang Keresidenan Tapanoeli yang terbagi lagi ke dalam tujuh Afdeeling dan beberapa unit pemerintahan yang lebih rendah seperti District, Onderafdeeling, Kuria dan Kampung. Ke-7 Afdeeling itu adalah :

(39)

1. Afdeeling Singkel 2. Afdeeling Barus 3. Afdeeling Sibolga 4. Afdeeling Ankola 5. Afdeeling Mandahiling 6. Afdeeling Natal

7. Afdeeling Pulau Nias30

Setelah terbentuknya Keresidenan Tapanoeli maka dengan itu juga Afdeeling Sibolga terbentuk yang terbagi dalam 8 Districten, yaitu Sibolga, Tapanoeli, Sibulang, Bediri, Saruduak, Kala-ang, Tuka dan said Nahuta. Pada tahun 1842 ini juga wilayah pulau Poncan Ketek yang merupakan awal dari Kerajaan Sibolga mulai di tinggalkan ke daerah Teluk Tapian Nauli yang akhirnya Sibolga dibangun diatas rawa-rawa yang ditimbun dan dibangun juga sebuah Pelabuhan yang akan menjadi sentral ekonomi bagi Pusat pemerintahan Sibolga yang baru yakni Keresidenan Tapanoeli sekaligus Afdeeling Sibolga.

Sejak tahun-tahun terakhir 1840-an yaitu perubahan yang terakhir tahun 1842, hampir tidak pernah dilakukan perubahan pemerintahan baik itu dalam segi wilayah ataupun pusat pemerintahan ditiap-tiap tingkat pemerintahan seperti Gouvernement, Residentie, ataupun Dictrict (Onderafdeeling) hingga permulaan tahun 1860-an. Hal ini dikarenakan, perhatian pemerintah Belanda terfokus pada penataan pemerintahan masyarakat bumiputera (Inlandsche Bestuur). Dan juga pada saat itu perubahan fokus

30 Ibid, hal 53-56

(40)

perhatian ini sangat berhubungan dengan dilaksanakannya Tanam Paksa Kopi oleh pemerintah Belanda di daerah Minangkabau sejak tahun 1847, yang tetera dalam surat keputusan Gubernur Micheals tetanggal 1 November 1847.31

Sibolga sebagai ibukota Keresidenan Tapanoeli dan juga sebagai wilayah dari Afdeeling Sibolga sangat mempengaruhi dalam administrasi di Sibolga karena dalam tugasnya seorang Resident ditempat kan di Sibolga yang dibantu dengan controloeur di masing-masing wialayah onderafdeeling di Sibolga. Pada tahun 1885 terjadi perubahan sedikit pada Keresidenan Sibolga yaitu perpindahan ibu kota Keresidenan Tapanoeli dari Sibolga ke Padang Sidempoean dari tahun 1885-1905 sehingga Resident ikut berpindah ke Padang Sidempoean. Pada tahun terakhir Sibolga berada dalam pemerintahan dibawah Sumatra‟s Weskust ini, Afdeeling Sibolga dibagi atas empat onderafdeeling, yaitu :32

1. Onderafdeeling Sibolga en Ommelanden (berpusat di Sibolga) 2. Onderafdeeling Batang Toro districten (berpusat di Batang Toro) 3. Onderafdeeling Baros (berpusat di Baros)

4. Onderafdeeling Nias (Berpusat di Gunungsitoli)

Selanjutnya pada tahun 1905 terjadi perubahan besar dalam pemerintahan Sumatera Barat, yakni dikeluarkannya Resident Tapanoeli dari Gouvernement Sumatra’s Westkustyang menjadikan Keresidenan Tapanoeli menjadi wilayah yang

31 Surat itu mengatakan setiap kelurga yang tinggal di daerah-daerah yang memiliki tanah dan iklim yang cocok untuk tanaman kopi sebanyak 150 batang. Semua kopi yang dihasilkan harus dibawa (dijual) ke gudang-gudang kopi yang telah disediakan di kota-kota terpenting di daerah penghasil kopi. Lihat Gusti Asnan, Op Cit, hal 56

32Regeering almanak tahun 1906

(41)

berdiri sendiri tanpa ikut campur tangan lagi oleh Sumatra Barat dalam setiap pengambilan keputusan dalam administrasi Tapanoeli dan wilayah bawahannya.

Dalam Staatsblad van Nederlandsche-Indie No. 418 tahun 1905 disebutkan pemisahan Keresidenan Tapanoeli disebabkan oleh diberlakukan otorisasi Kerajaan dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1906.

2.2 Penduduk

Sebelumnya sudah dikatakan bahwa yang membuka perkampungan di Sibolga ini adalah Rombongan orang Batak dari pedalaman Silindung yang dimana Silindung merupakan salah satu daerah pedalaman Tapanoeli yang didiami oleh orang Batak Toba, namun Sibolga Teluk Tapian Nauli memang sudah banyak didatangi oleh orang-orang dari pedalaman wilayah Sibolga seperti orang-orang Aceh serta orang- orang dari pesisir Pariaman dan Tiku33, mereka datang hanya untuk berdagang hasil komoditi dari daerahnya dan membawa pulang hasil dari daerah itu atau yang ditukarkan pada saat berdagang di Sibolga dan tidak menetap.

Gusti Asnan dalam bukunya “Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera”menjelaskan bahwa beberapa tanjung dan teluk yang terkenal memainkan peran penting dalam kegiatan ekonomi, dimana teluk biasa dijadikan sebagai pelabuhan laut.34 Salah satunya adalah pelabuhan Sibolga yang berfungsi sebagai kota transit barang perdagangan yang berada di teluk, menjadikannya sangat begitu beruntung, jadi tidaklah mengherankan kalau wilayah Sibolga ini banyak di kunjungi

33 Sahat Simatupang, Op Cit, hal 4,

34 Gusti Asnan. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta : Ombak. 2007, hal 25

(42)

oleh orang-orang dari pedalaman dan dari pesisir lainnya serta penduduk dari kawasan lain melakukan urbanisasi ke Sibolga sangat besar. Berbagai kelompok etnis seperti yang disebutkan sebelumnya seperti Toba, Aceh, Tiku, Pariaman bahkan etnis Nias, Angkola, Mandailing, bahkan Cina35 yang datang sebagai pedagang telah menambah kepadatan penduduk di Sibolga, hingga kedatangan Belanda ke Afdeeling Sibolga, perpindahan atau datangnya penduduk baru dari luar daerah Sibolga juga didukung karena pada tahun 1850 sudah ada jalan dari Sibolga ke Barus dan Singkel sehingga orang-orang Aceh, orang Nias yang melepaskan diri dari perbudakan, orang-orang Cina dari Penang serta orang-orang Angkola yang pindah karena tidak amannya situasi di daerah asalnya samasa perang Padri.36

Minimnya data mengenai penduduk Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1906, maka tidak ada data khusus mengenai berapa banyak jumlah penduduk di Afdeeling Sibolga baik penduduk asing maupun penduduk pribumi. Dalam laporan yang dituliskan oleh Resident Tapanoeli P.T.H Couperus menjelaskan bahwa Afdeeling Sibolga sebelum tahun 1851 jumlah peduduknya lebih banyak dari tahun pada 185137 hal ini dikarenakan wilayah Sibolga yang masih belum banyak dihuni, dijelaskan juga jalan menuju Sibolga ini hanya bisa digunakan oleh pejalan kaki dengan rute jalan yang sangat curam dengan pendakian dan penurunan yang sangat melelahkan bagi

35 Anonim. Sejarah Perkembangan Pemerintahan Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Medan : Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Tanpa Tahun Terbit, hal 130

36Ibid, hal 64

37 P.Th Couperus. De Residentie Tapanoeli (Sumtra’s Weskust) In 1852. Amsterdam : Koninklijk Instituut. 1852, hal 19

(43)

orang-orang yang datang ke Sibolga38. Namun Sibolga sebagai ibu kota Keresidenan Tapanoeli sehingga hal itu mempengaruhi jumlah penduduk Afdeeling Sibolga, maka dapat dilihat jumlah penduduk Tapanoeli pada tahun 1851 pada tabel berikut :

Tabel 1

Jumlah Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1851

Penduduk Laki-

laki

Perempuan Anak- anak

Jumlah

Penduduk Sumatera (Melayu, Batak, dll)

19.139 21.044 4.224 74.407

Penduduk Eropa dan keturunanya

34 9 25 68

Penduduk Cina 171 32 41 244

Penduduk Jawa dan Timur Asing

233 60 43 336

Pekerja yang terikat hutang

69 31 - 100

Budak 2.087 2.721 2.285 7.093

Total Penduduk 21.733 23.897 36.618 82.248 Sumber: P.Th. Couperus. De Residentie Tapanoeli (Sumatra’s Weskust) In 1852.

Amsterdam: Koninklijk Instituut. 1852, hal 19

38Ibid, hal 16

(44)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa penduduk asli jumlahnya lebih banyak dari penduduk Eropa, dalam hal ini orang-orang Eropa masih sedikit dibandingkan juga dengan etnis Cina. Etnis Cina adalah salah satu etnis yang paling populer, dikatakan populer karena disetiap wilayah yang ada di wilayah Nusantara bahkan dunia, pasti dihuni oleh Etnis Cina. Etnis Cina terkenal karena keuletannya dalam perdagangan. Sama hal nya di Afdeeling Sibolga Etnis Cina datang sebagai pedagang.

Dari data diatas jumlah penduduk Cina sebanyak 244 jiwa. Namun Seiring perkembangan etnis Cina dalam wilayah Sibolga, mereka sangat dekat dengan Pemerintahan Kolonial Belanda, hal ini menjadi sangat menonjol dikalangan penduduk pribumi. Kedekatan orang-orang Cina dengan Belanda sering kali membuat penduduk pribumi merasa iri, tak jarang juga pemerintahan Belanda mengistimewakan penduduk Cina dengan mendapatkan kemudahan fasilitas perdagangan dan terlebih lagi orang-orang Cina turut ikut campur dalam menggurusi masalah pajak masyarakat orang-orang. Bertolak belakang dengan orang-orang Cina, orang-orang pribumi sering mendapat kesulitan dari pemerintahan Hindia Belanda.

Kemudian karena perlakuan berbeda yang diberikan itu, memancing amarah penduduk pribumi sehingga pada tahun 1865 terjadi peristiwa terbakarnya dan rusaknya rumah-rumah orang Cina39 sehingga mengakibatkan terusirnya penduduk Cina dari Sibolga dan orang-orang Cina melarikan diri ke daerah Sumatera Westkust dan Sumatera Timur. Dengan itu Pemerintahan Kolonial Belanda menangkap orang- orang pribumi yang bersifat brutal.

39 Lihat Sahat Simatupang, Op.Cit, hal 38

(45)

Pembakaran dan kerusakan rumah orang-orang Cina di Sibolga yang terjadi pada tahun 1865 menghabiskan seluruh rumah orang-orang Cina, dan terlihat pada tahun 1890 belum ada pembangunan kembali rumah-rumah orang Cina, dan masih terlihat sepi dan tanah kosong beserta bekas puing-puing kebakaran. (Lihat Gambar 1 Lampiran I).

Ada lagi laporan dari J. Block, pada tahun 1857 penduduk Keresidenan Tapanoeli etnis Batak, Minangkabau, Aceh, Jawa, Bugis, Cina, Arab, dan Eropa.

Mereka tersebar di setiap Afdeeling, baik di pedalaman maupun di pesisir dan Pulau Nias. Umumnya sebagian besar diantara mereka tinggal di bandar Sibolga, baik sebagai pedagang maupun sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda. Mereka selalu menjaga hubungan baik dengan penduduk pedalaman dan pada suatu saat mencari barang dagangan ke sana. Pembagian penduduk Tapanoeli berdasarkan tempat tinggal dapat diperhatikan tabel berikut :40

40 J. Block. “ Algemeen Administratief Verslag van de Residentie Tapanoelie over het Jaar 1857, A Eerste Afdeeling Gewestelijk Bestur”. Arsip, Sumatra’s Weatkust, hal.5.

(46)

Tabel 2.

Penduduk Residentie Tapanoeli Tahun 1856 Menurut Tempat Tinggal

Wilayah Tempat Tinggal Jumlah Penduduk

Sibolga 8.402 jiwa

Natal 4.956 jiwa

Mandailing dan Angkola 64.934 jiwa

Barus 4.379 jiwa

Singkel 2.101 jiwa

Gunungsitoli 12.602 jiwa

Lagundi 7.474 jiwa

Total penduduk Tapanoeli Tahun 1856 104.484 jiwa Sumber : J. Block. “Algemeen Administratief Verslag van de Residentie Tapanoeliover het Jaar 1857, A Eerste Afdeeling Gewestelijk Bestur”. Arsip, Sumatra’s Westkust”, hal.5.

Dari tabel diatas terlihat bahwa penduduk yang berada di wilayah Sibolga pada masa pemerintahan Residen J. Block sebanyak 8.402 jiwa

Seiring perkembangannya, penduduk yang berada di Afdeeling Sibolga ini sangat beranekaragam suku etnis yang saling mengadakan interaksi, saling berhubungan baik dalam hal perdagangan maupun hubungan perkawinan. Pada tahun 1880 menjadi awal dimana kebudayaan yang akan berkembang dan menjadi dominan dalam perjalanan sejarah kebudayaan Sibolga, yaitu pada periode ini putra dari Kuria Sibolga menikah dengan putri Datuk Pasar yang diantara kedua pihak berbeda ada

(47)

istiadatnya. Kepala kuria adalah etnis Batak yang sudah beragama Islam sedangkan Datuk Pasar menganut adat Melayu Minangkabau. Atas pemufakatan keluarga kedua belah pihak diadakan suatu kesepakatan baru dengan melahirkan adat yang disebut Adat Sumando Kebudayaan Pesisir.41

2.3 Pemerintahan

Sibolga adalah wilayah pemerintahan yang berada di pesisir pantai yang awalnya berbentuk kampung. Pada pemegang kekuasaan yang tertinggi adalah seorang Raja yang diangkat oleh penduduk setempat, dianggap karena memiliki keistimewaan dan kekuaatan untuk dapat melindungi kampung beserta penduduknya.

Kerajaan Sibolga ini berdiri secara otonom dan bersifat Kerajaan tradisional yang dalam sistem pemerintahannya secara turun-temurun, hingga Belanda masuk ke wilayah Tapanoeli tahun 1824 sudah mulai melakukan perubahan pemerintahan.

Pada perkembangan selanjutnya tahun 1825 pemerintahan Hindia Belanda mengangkat Abdul Mutaholib sebagai Datuk Pasar Pertama di Tapanoeli. Datuk Pasar ini bertugas untuk memungut pajak dari usaha dan pajak lainnya yang ditetapkan oleh pemerintahan Belanda. Datuk Pasar juga bertanggung jawab kepada Assistent Residentie, oleh karena di Sibolga kaya akan berbagai etnis dan suku lainnya maka dalam mempermudah tugas Datuk Pasar, pemerintah Belanda

41 H.A. Hamid Panggabean, dkk. Op.Cit, hal 193

Referensi

Dokumen terkait

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun Anggaran, yang selanjutnya disingkat LPPD Akhir Tahun Anggaran adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun Anggaran yang selanjutnya disebut LPPD Akhir Tahun Anggaran adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa

bahwa untuk melaksanakan sebaik-baiknya tugas Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara dalam rangka mewujudkan tujuan nasional, dan dengan

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun Anggaran yang selanjutnya disebut LPPD Akhir Tahun Anggaran adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan urusan pemerintahan dalam bidang kelautan dan perikanan menurut UU No.23 Tahun

1) Hukum mengenai kekuasaan memerintah yang sekaligus dikaitkan dengan hukum mengenai peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pemerintahan atau dikenal dengan

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Akhir Tahun Anggaran yang selanjutnya disebut LPPDesa Akhir Tahun Anggaran adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada Bupati

Vertikal berarti kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan dalam suatu tertib ikatan pemerintahan negara.7 Faktor Penghambat dan Upaya Terhadap Pelaksanaan Peran Dan Fungsi Satuan