• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintahan

Dalam dokumen AFDEELING SIBOLGA TAHUN (Halaman 47-54)

BAB II AFDEELING SIBOLGA SEBELUM TAHUN 1906

2.3 Pemerintahan

Sibolga adalah wilayah pemerintahan yang berada di pesisir pantai yang awalnya berbentuk kampung. Pada pemegang kekuasaan yang tertinggi adalah seorang Raja yang diangkat oleh penduduk setempat, dianggap karena memiliki keistimewaan dan kekuaatan untuk dapat melindungi kampung beserta penduduknya.

Kerajaan Sibolga ini berdiri secara otonom dan bersifat Kerajaan tradisional yang dalam sistem pemerintahannya secara turun-temurun, hingga Belanda masuk ke wilayah Tapanoeli tahun 1824 sudah mulai melakukan perubahan pemerintahan.

Pada perkembangan selanjutnya tahun 1825 pemerintahan Hindia Belanda mengangkat Abdul Mutaholib sebagai Datuk Pasar Pertama di Tapanoeli. Datuk Pasar ini bertugas untuk memungut pajak dari usaha dan pajak lainnya yang ditetapkan oleh pemerintahan Belanda. Datuk Pasar juga bertanggung jawab kepada Assistent Residentie, oleh karena di Sibolga kaya akan berbagai etnis dan suku lainnya maka dalam mempermudah tugas Datuk Pasar, pemerintah Belanda

41 H.A. Hamid Panggabean, dkk. Op.Cit, hal 193

mengangkat beberapa orang dari setiap masing-masing suku yang ada di Sibolga yang disebut dengan Penghulu42.

Perubahan-perubahan yang dilakukan Belanda juga turut mempengaruhi Kerajaan Sibolga, yang mana pada tahun 1826 berdasarkan Staatsblad No.69 Tahun 1826, Belanda secara sepihak menghapus istilah Raja dengan menggantinya dengan sebutan Kepala Kuria atau Koeriahoofd. Dengan penghapusan ini Belanda memberikan santunan atau honor kepada raja-raja sebagai ganti rugi hak-hak dan kekuasaannya yang diambil alih oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Adapun daftar nama Raja-raja di Tapanoeli yang diberikan uang ganti rugi atau uang pensuinan :43

1. Radja Mamoeloe, Hoofd van Siebogha f 180,-

2. Semong, Hoofd van Tappanoullie f 180,-

3. Datoe Moeda Roda f 120,-

4. Datoe Radja Alam f 120,-

5. Datoe Pansah f 60,-

6. Datoe Sie Jaogoh ( Niasser?) f 60,-

7. Radja Ahiaah f 120,-

8. Radja Boendah f 120,-

9. Radja Goentong Allam f 120,-

10. Radja Ambatjang f 100,-

42 Penghulu dalam artiannya berarti bertugas sebagai Kepala Lingkungan disetiap wilayah-wilayah di setiap suku yang ada di Sibolga yang mana batas-batasnya telah diatur dalam UU Keresidenan. Lihat Sahat Simatupang, Op. Cit, hal 25.

43H. Bartstra. Op.Cit, hal 8

11. Radja Sie Alland f 100,-

Dalam tugasnya Kepala Kuria dianggap oleh Belanda sebagai perwakilan Hindia Belanda khususnya di bidang perdagangan di wilayah Kerajaan Sibolga.44 Dari sistem pemerintahan yang berangsur-angsur di ubah oleh pemerintah Hindia Belanda terlihat hubungan erat antara Kepala Kuria dengan Datuk Pasar, yang mana sebelumnya di jelaskan bahwa Datuk Pasar bertanggung jawab terhadap pemasukan keuangan lewat pemungutan pajak sedangkan Kepala Kuria mengurus adat dan kekuasaan dalam negeri. Keduanya sama-sama terlibat dalam urusan pemerintahan di Tapanoeli.

Pada tahun 1837 Tapanoeli salah satu Afdeeling di Residentie Air Bangis dipimpin oleh seorang Controleur kelas 3. Jabatan Controleur merupakan jabatan penting karena Controleur banyak berhubungan dengan masyarakat bumiputera.45 Pada 1842 Belanda secara sah menjadikan Sibolga sebagai wilayah kekuasaanya dengan mendirikan serta memindahkan Pusat Pemerintahan Sibolga ke wilayah tepat dihadapan pulau Poncan, pusat pemerintahan yang dimaksud adalah Keresidenan Tapanoeli yang didalamnya ada Afdeeling Sibolga dengan masing-masing wilayah

44 Dalam hal ini Belanda melakukan perubahan Raja menjadi Kepala Kuria semata-mata untuk mempermudah Belanda dalam menguasai wilayah-wilayah lain yang berada di Sibolga yang di pimpin oleh raja-raja yang berada di kawasan teluk Sibolga. Sebab ketika Belanda mulai menguasai wilayah Sibolga, raja-raja setempat telah melakukan perlawanan. Mereka melakukan penyerangan terhadap Belanda. Akan tetapi disini Belanda tidak mencampuri urusan adat, sehingga walaupun secara de jure Belanda telah menghapuskan istilah Raja menjadi Kepala Kuria namun secara de facto kekuasaan Kerajaan Sibolga baru berakhir pada tahun 1842 dan bagi penduduk Kerajaan Sibolga sebutan itu Raja masih tetap ada dan eksis hingga secara sah 1842 pemerintahan Sibolga dipegang oleh Belanda lewat Keresidenan Tapanoeli. Lihat Anonim, Op. Cit, hal 128, lihat juga ibid, 32-33

45 Gusti Asnan, Loc. Cit

dan tingkat wilayah di pimpin oleh orang Eropa. Keresidenan Tapanoeli sendiri dipimpin oleh seorang Resident yang pada saat itu tahun 1842 oleh Resident.

Sejak awal pembentukan Afdeeling Sibolga salah satu wilayah dari Keresidenan Tapanoeli telah dipimpin oleh seorang Controleur. Ada beberapa yang menyebabkan hal ini hal ini. Pertama, karena wilayah Sibolga sebagai pusat dari Keresidenan Tapanoeli maka pimpinan tertinggi wilayah ini yaitu Resident berada di Sibolga dan langsung membawahi Controleur di Afdeeling Sibolga. Kemudian dalam membantu tugas dari Resident untuk mengawasi wilayah lainnya di Tapanoeli maka Resident dibantu oleh seorang Assistent Resident yang berada di Padang Sidempoean Afdeeling Mandailing en Angkola. Kedua, harus di ingat bahwa wilayah Sibolga merupakan wilayah yang kecil dari pada wilayah Afdeeling lainnya yang berada di Tapanoeli. Resident sendiri adalah orang-orang Eropa yang mana pada saat itu yang menjadi Resident adalah Luit. Col. Alezander van der Hart.

Pada tahun 1878 terajdi Perlawanan Sisingamangaraja dalam penolakan kristenisasi di daerah Tapanoeli bagian Utara, kristenisasi ini juga dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk mempermudah perluasan kekuasaanya di wilayah Tapanoeli bagian utara seperti dataran tinggi Toba, sekitaran Bakkara dan Dairi.46 Dimana wilayah bagian utara belum dapat dikuasai oleh Belanda. Dalam perlawan Sisingamangaraja melakukan penyerangan terhadap Pemerintahan Belanda yang dikenal dengan nama Perang Batak. Pada masa perang itu, Sibolga dijadikan

46 Anonim, Loc.Cit

sebagai pusat pertahanan militer melawan serangan dari utara. Sehingga dalam melakukan tugas administrasi dalam pemerintahan Afdeeling Sibolga ikut terhambat.

Pada perkembangan selanjutnya, akibat keberhasilan pemerintahan Belanda dalam menguasai wilayah Tapanoeli bagian utara pemerintahan Belanda melakukan perubahan batas dan pusat pemerintahan. Pada tahun 1885 pemerintahan Belanda kembali menguasai daerah lainnya, maka berdasarkan pertimbangan letak yang lebih strategis, terjadi reorganisasi dalam pemerintahan Tapanoeli, dimana Padang Sidempoean Afdeeling Mandailing en Angkola menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Tapanoeli, sehingga terjadi tukar tempat yakni pemerintahan sipil dalam Tapanoeli. Karena telah menjadi pusat pemerintahan maka Resident berada di Padang Sidempoean sedangkan di Afdeeling Sibolga status Controleur ditingkatkan menjadi Assistent Resident. Selama pusat pemerintahan Keresidenan Tapanoeli berada di Padang Sidempoean, peran pemerintahan di Sibolga tidak terlalu terlihat, karena pada saat itu pejabat pemerintahan hanya berfokus di Padang Sidempoean dan wilayah utara yang baru ditaklukan serta juga berfokus pada perluasan pemerintahan ke wilayah lainnya. Pada Regeering Almanak tahun 1906 disebutkan bahwa Assistent Resident Afdeeling Sibolga adalah E. F. L. J. H. Van Eelders.47

Pemerintahan Assistent Resident di Afdeeling Sibolga tidak berlangsung begitu lama, sebab pada tahun 1906 terjadi perubahan besar dalam pemerintahan Tapanoeli. Pusat pemerintahan kembali lagi ditempatkan di Sibolga dengan kekuatan yang lebih besar, dimana dalam pemerintahannya Keresidenan Tapanoeli berdiri

47 Regeering Almanak tahun 1906

sendiri, keluar dari wilayah kekuasaan Sumatra’s Weskust. Kemudian dengan ini, Resident ditempatkan lagi di Sibolga, dan status Assistent Resident di Afdeeling Sibolga dihapuskan dengan Controleur yang memimpin di Afdeeling Sibolga.

Dengan perubahan ini menjadikan nama Afdeeling Sibolga berubah menjadi Afdeeling Sibolga en Batang Toroe-districten, dengan Controleur bernama H. K.

Manuppasan.

BAB III

LATAR BELAKANG SIBOLGA DIJADIKAN AFDEELING PADA TAHUN 1906

Pada suatu wilayah administrasi yang dibentuk oleh Pemerintahan Kolonial Belanda, pastilah didukung oleh beberapa alasan dijadikan suatu wilayah adaministrasi. Sama halnya Afdeeling Sibolga. Pada bab ini akan dijelaskan bagaimana latar belakang Sibolga dijadikan Afdeeling yang sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Afdeeling Sibolga ini sudah ada sejak tahun 1842.

Sibolga yang sebelumnya tidak begitu dilirik oleh Belanda pada awal masuknya pemerintahan Belanda di Tapanoeli, terutama ketika pusat pemerintahan Sibolga masih berada di Pulau Poncan Ketek. Kemudian pusat pemerintahan Sibolga dipindahkan ke seberang Pulau Poncan Ketek yaitu daerah Kota Baringin. Pada Perkembangan selanjutnya menjadikan Sibolga sebagai wilayah administrasi Pemerintahannya yang akan mendukung perluasan kekuasaan Hindia Belanda sehingga mejadikan Sibolga sebagai pintu masuk bagi kegiatan ekonomi dan serta sebagai wilayah untuk memantau wilayah-wilayah pedalaman atau pulau yang berada di kawasan Sibolga, yang merupakan Ibu kota Keresidenan Tapanoeli. Hal ini juga didukung oleh sebuah bandar yang ada di Pulau Poncan Ketek yang nantinya dalam perjalanannya menjadi pelabuhan penting yang ada di kawasan Tapanoeli.

Dalam dokumen AFDEELING SIBOLGA TAHUN (Halaman 47-54)

Dokumen terkait