BAB IV KONDISI AFDEELING SIBOLGA SELAMA TAHUN 1906-
4.4 Infrastruktur
4.4.1 Pembangunan Jalan
Sebelum adanya fasilitas jalan yang menhubungkan antara wilayah Sibolga dan wilayah sekitar lainnya seperti ke Padang Sidempoean, ke Baros dan lainnya.
Sibolga hanya dapat dilewati dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, seperti orang-orang Silindung dari dataran tinggi Toba yang ingin datang ke Sibolga, umunya mereka masuk melalui Dolok sanggul terus ke arah Barus. Kemudian ada rute perjalanan yang ditempuh oleh orang Toba melalui Andian Koting, Rampah, Poriaha, selanjutnya melalui Bonan Dolok dan Mela dan sampai ke Sibolga.
Sementara ada juga yang melalui jalur sungai yaitu para pedagang dari daerah Pak-pak (Dairi) yang menelusuri Sungai Simpang kanan maupun Simpang Kiri kemudian masuk ke sekitar Singkel, dari Singkel baru melanjutkan perjalan ke Sibolga. Satu lagi orang-orang dari Padang Sidempuan bisa melalui jalur sungai di Batang Toroe kemudian berlanjut dengan berjalan kaki hingga ke Sibolga.
Sejak Belanda berkuasa di Sibolga dan menempatkan Resident di Sibolga, pengawasan terhadap ekonomi semakin ketat oleh Pemerintah. Sarana transportasi antara Sibolga dan daerah pedalaman diambil alih oleh pemerintahan dengan menggunakan roda empat biasanya angkutan yang beroperasi adalah kuda beban.
Pemerintah menguasai daerah pedalaman sebagai sumber produksi komoditi dan mejadikan Afdeeling Sibolga sebagai agen tunggal pembelian dan aktivitas ekpot-impot di Tapanoeli. Melihat perlu adanya sarana penghubung disetiap wilayah pemerintahan, Belanda mulai membangun fasilitas-fasilitas jalan raya.
Pada tahun 1850 Belanda membangun jalan dari Sibolga menuju Barus, serta Singkel hal ini dilakukan kolonial Belanda untuk mempermudah segala urusan pemerintahan baik dalam bidang ekonomi dan perluasan wilayah. Terbukanya jalan dari Singkel dan Barus menuju Sibolga, dari utara ke Sibolga, dari timur ke Sibolga, dari selatan ke Sibolga, dan dari barat ke Sibolga mengakibatkan semakin ramainya orang berdatangan ke Sibolga, seperti dari Aceh, Nias, Cina, Penang, dan daerah lainnya. Banyak orang Nias yang melepaskan perbudakan di Pulau Nias dan mereka pindah ke Sibolga. Dalam pembangunan jalan tersebut pemerintahan Belanda memperkerjakan tahanan. Para tahanan ini disebutkan adalah orang-orang Bugis yang
mulanya mereka didatangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai serdadu untuk berperang, dan ada juga tahanan kolonial, dan tahanan kolonial inilah yang membangun jalan. Setelah bekerja, para tahanan dikembalikan ke penjara.90
Untuk mendukung segala aktivitas ekonomi Afdeeling Sibolga, dimana wilayah Padang Sidempoean yang merupakan wilayah perkebunan dan penghasil komoditi kopi dan juga karet serta komoditi lainnya dibangun jalan darat menuju pelabuhan Sibolga, berupa jalan darat yang belum diaspal hanya tanah saja yang dalam perkembangannya jalan tersebut akan diaspal. Dari Padang Sidempoean tersebut akan melewati wilayah Batang Toroe yang merupakan penghasil komoditi karet terbesar di Tapanoeli. Maka untuk mengangkut hasil komodiiti tersebut di Batang Toroe pada tahun 1915 jembatan Batang Toroe ditingkatkan menjadi jembatan yang lebih kuat dengan dibangun jembatan besi (Lihat Gambar 6 Lampiran VI) yang lebih permanen yang sebelumnya terbuat dari rotan/kabel telegraf.91
Perkembangan jalan di Afdeeling Sibolga ini pun semakin pesat. Pada tahun 1920 mulai ada mobil yang beroperasi dari Sibolga ke Batangtoru, Padangsidempuan, Tarutung, Siborong-borong, dan Balige, yang bermerk dinding “ATOS” (Auto Transports Onderneming Sumatra).
90 Muhammad Nur. Op.Cit, hal 199
91 Tapanuli Selatan Dalam Angka. Jembatan Batang Toru : Air Mengalir Sejak Tempoe Doeloe. http://akhirmh.blogspot.com/2013/07/jembatan-batang-toru-air-mengalir-sejak. Diakses pada tanggal 1 Desember 2020. Lihat juga Bataviaasch handelsblad, 04-08-1875.
Tabel 13
Trayek Mobil ATOS Pada Tahun 1920
Dari Tujuan Jarak Ongkos
Kelas I
Ongkos Kelas II
Sibolga Batang toroe 57 km f. 4,- f. 2,2,-
Sibolga Padangsidempuan 89 km f. 6,25,- f. 3,45,-
Sibolga Tarutung 66 km f. 4,6,- f. 2,55,-
Sibolga Siborong-borong 92 km f. 6,4- f. 3,55,-
Sibolga Balige 114 km f. 8,- f. 4,45,-
Sumber : Hindia Sepakat, Penjokong dan Pembantoe Kemadjoean Jang Lajak Bagi Keoetamaannja Bangsa Dengan Pendoedoek, Koran, 7 Desember 1920, No.29.
Sibolga: N.V.H. Mij Boekhandel en Drukkerij Kemadjoean Bangsa, hal. 1.
Selain transportasi Mobil ATOS diatas, untuk menunjang segala segala aktivitas dari pedalaman menuju pelabuhan sibolga sebagai sentral perdagangan seperti pengangkutan barang komoditi, maka diperlukan sarana transportasi berupa mobil truk. Adapun jenis dari sarana transportasi darat, yaitu :
1. Truk sebanyak 20 2. Bis-bis sebanyak 105
3. Mobil penumpang sebanyak 103 4. Sepeda motor sebanyak 40
Selain dari sarana transportasi darat ada juga sarana transportasi sungai berupa Kano (Lihat Gambar 7 Lampiran VII)yang merupakan sarana untuk mengangkut
barang-barang dari Baros menuju Sibolga. Tidak seperti transportasi darat, Kano tidak begitu banyak digunakan oleh penduduk atau pemerintah kolonial Belanda, hanya dilakukan pada hari pasar di Sungai Kolang dan Sorkam.
Dari tahun 1928 Keresidenan Tapanoeli fokus dalam perbaikan dan pembuatan jalan, baik jalan raya maupun jalan lintas menuju daerah pedalaman, seperti daerah Baroes, Sorkam, Singkel, Taroetoeng serta ke Padang Sidempoeang dan wilayah lainnya. Seperti pada tahun 1928 perbaikan jalan dari Baroes menuju Sorkam (29 km) dengan biaya f 500.000.92 Perbaikan yang dilakukan pemerintahan Kolonial Belanda adalah dengan mengaspal jalan.
Kemudian pada tahun 1930 pemerintahan Belanda di Sibolga kembali melakukan perbaikan untuk jalan dari Sibolga menuju Baroes dari km 15-16 dan km31-32 jalan Sibolga-Baroes. Dalam perbaikan jalan tersebut, juga diperlukan dana sebesar f 4.300.93 Dari jalan Baroesweg ini lah wilayah Sorkam menuju Sibolga dapat dilalui dengan jarak dari Sibolga ke Sorkam 35 km.
Bukan hanya perbaikan jalan menuju Baroes saja, pembukaan jalan ke wilayah Taroetoeng juga dilakukan(Lihat Gambar 8 Lampiran VIII). Menurut sumber yang diperoleh, pembukaan jalan menuju Taroetoeng sangatlah memerlukan tenaga para buruh pekerja atau tenaga rodi, sebab dalam pembukaan jalan tersebut para pekerja harus membongkar bukit batu diwilayah ini karena pemerintahan Belanda menginginkan jalan menuju Taroetoeng melewati lobang Batu ini.
92Memorie Van Overgave Betreffende de Residentie Tapanoeli. Op.Cit, hal 15
93 Burgerlijke Openbare Werken GB 1854-1933. No. 8501
Pembukaan jalan Sibolga-Taroetong ini diperkirakan pada tahun 1900, dimana mulai dilakukan pembongkaran bukit batu. Banyak tenaga buruh yang meniggal akibat pembukaan jalan Taroetoeng ini. Hingga saat ini Bukit batu itu disebut dengan „Goa Belanda”(Lihat Gambar 9 Lampiran IX). Jarak jalan dari Sibolga ke Taroetong sekitar 66 km,94 dari jalan ini juga dari Sibolga dapat melewati Medan.