Berdasarkan analisis data yang dilakukan terhadap pemanfaatan tumbuhan obat di klaster produksi, klaster layanan kesehatan dan klaster industri dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.1. Para pihak yang terlibat dalam pemanfaatan tumbuhan obat terdiri atas bermacam-macam profesi baik yang berada di pemerintahan, swasta, asosiasi, rumah tangga, petani dan lain-lain. Para pihak tersebut bersifat sangat dinamis sehingga dapat berpindah-pindah posisi tergantung pada kepentingan mereka dalam pemanfaatan tumbuhan obat. Terkait dengan kelestarian pemanfaatan tumbuhan obat, para pihak yang terdapat pada posisi key player lebih mudah diajak terlibat dibandingkan para pihak yang terdapat pada posisi subject, context setter maupun crowd. Hal ini karena para pihak yang terdapat pada posisi subject cenderung mengambil posisi menentang dibandingkan bekerja sama, sedangkan yang terletak pada posisi context setter cenderung mengikuti kepentingannya sendiri dan tergantung dengan situasi yang ada. Untuk para pihak yang terletak pada posisi crowd dapat diabaikan dan dikeluarkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan kelestarian pemanfaatan tumbuhan obat secara berkelanjutan karena tidak memiliki komitmen pada pemanfaatan tumbuhan obat.
1.2. Dalam pemetaan aspek kepentingan dan pengaruh yang dimiliki oleh para pihak terlihat bahwa para pihak masih tersebar pada posisi key players, subject, context setter dan crowd kecuali para pihak yang terdapat pada klaster industri karena memiliki kepentingan dan pengaruh yang amat kuat terhadap pemanfaatan tumbuhan obat. Peranan masing-masing pihak dapat dilihat melalui pemetaan tersebut dimana BTN Meru Betiri dan LSM KAIL merupakan pihak dominan karena dapat mempengaruhi situasi pengelolaan bahan baku tumbuhan obat di hutan alam. Tetapi, keberadaan Borek Kayu di TN Meru Betiri justru akan mendorong keluarnya sumber daya tumbuhan
obat potensial di masa depan yang terdapat pada kayu-kayu komersial, sehingga keberadaannya harus dikelola secara serius karena dapat merusak hutan. Pada klaster layanan kesehatan, peranan pengobat tradisional merupakan pihak dominan karena memiliki kemampuan untuk melayani pasien lebih banyak dibandingkan layanan komplementer di rumah sakit atau puskesmas. Pada klaster industri, peranan Balai POM sangat penting karena berfungsi mengendalikan tindakan ilegal pada bahan makanan dan obat- obatan yang beredar di masyarakat sehingga perlu diperkuat peranannya. 1.3. Sehubungan dengan teori akses, para pihak yang terdapat pada klaster industri
memiliki peluang lebih banyak mengendalikan permintaan terhadap pemanfaatan tumbuhan obat dibandingkan para pihak yang terdapat pada klaster yang lain. Hal ini terjadi karena para pihak yang terdapat pada klaster industri menguasai akses terhadap kapital yang berhubungan dengan tingkat kesejahteraan dan kemampuan untuk membeli produk tumbuhan obat yang ditawarkan oleh pihak lain.
1.4. Jenis biaya transaksi yang terdapat pada masing-masing klaster bersifat lump sum dan ad valorem dimana pada klaster produksi sifat ad valorem dan biaya transaksi tersebut digunakan untuk pembiayaan ilegal dibandingkan legal. Pada kedua klaster yang lain, transaksi lump sum dan ad valorem bersifat legal. Hal ini berarti, pada klaster produksi masih dijumpai adanya inefisiensi dalam pemanfaatan bahan baku tumbuhan obat sehingga diperlukan adanya penataan yang lebih baik pada aspek kelembagaan dan tata niaganya. Dengan adanya penataan terhadap kelembagan dan tata niaganya diharapkan harga tumbuhan obat yang diterima oleh pendarung dan petani menjadi lebih baik sehingga kualitas terhadap bahan bakunya juga dapat ditingkatkan.
1.5. Sehubungan dengan fungsi tabungan, keberadaan jaring pengaman (safety net) dan batu tangga (stepping stone) dapat membantu terjadinya perubahan arah motivasi para pihak dari penghambat kelestarian tumbuhan obat menjadi pendukung kelestarian tumbuhan obat. Tetapi keberadaan fungsi tabungan yang bersifat jaring pengaman dan bernilai sangat besar apabila tidak
dikendalikan cenderung mendorong terjadinya monopoli atas sumberdaya tumbuhan obat karena informasi pasar yang dikuasainya cenderung tidak dibuka kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, para pihak yang terdapat pada masing-masing klaster pada umumnya belum memiliki fungsi tabungan sehingga meningkatkan kerentanan para pihak dalam pemanfaatan tumbuhan obat.
2. Implikasi
2.1. Terkait dengan pemetaan para pihak dalam pemanfaatan tumbuhan obat, keterlibatan pendarung dan kelompok tani dalam pemanfaatan zona rehabilitasi seluas 2.733.5 hektar untuk pengembangan budidaya tumbuhan obat hutan sangat diperlukan. Hal ini berguna untuk mendukung kebutuhan bahan baku obat tradisional pada klaster layanan kesehatan dan klaster industri secara berkelanjutan.
2.2. Pemanfatan tumbuhan obat pada zona rehabilitasi di TNMB memerlukan adanya kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) antara BTN Meru Betiri, BPOM, LSM KAIL, Puskesmas/Rumah Sakit, Koperasi Jamu, industri jamu, GP Jamu dan klinik pengobatan tradisional yang terdapat pada klaster produksi, layanan kesehatan dan industri untuk memberikan kepastian pasokan bahan baku tumbuhan obat, khususnya yang sudah mulai langka seperti pulasari dan kedawung, secara legal sehingga mengurangi pengambilan oleh pendarung dari hutan secara langsung.
2.3. Informasi asimetris yang terjadi pada masing-masing klaster harus dipecahkan dengan mengembangkan sistem informasi pasar yang terkait dengan harga dan standar keamanan bahan baku tumbuhan obat mulai dari klaster produksi sampai dengan klaster industri dan layanan kesehatan.
2.4. Sehubungan dengan aspek sosial dan ekonomi diperlukan adanya penelitian pelengkap yang berhubungan dengan penawaran dan permintaan tumbuhan obat untuk mengetahui jaminan kelestarian tumbuhan obat.
2.5. Diperlukan adanya tindakan konservasi terhadap tumbuhan obat yang aktif dimanfaatkan oleh para pihak menggunakan teknologi pemuliaan tanaman yang digunakan untuk produksi tanaman obat agar produksi bibit dapat dihasilkan secara cepat dengan kualitas yang baik.
3. Rekomendasi
Beberapa rekomendasi yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu:
3.1. Pembenahan terhadap klaster layanan kesehatan dan produksi harus dilakukan dengan serius karena berfungsi meningkatkan pendapatan ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar hutan. Pembenahan tersebut dapat dilakukan dengan cara menerbitkan undang-undang yang berhubungan dengan pemanfaatan tumbuhan obat sebagai bahan baku jamu.
3.2. Dalam membenahi klaster layanan kesehatan dan produksi, pemerintah perlu membangun industrinya sendiri untuk memproduksi bahan baku obat tradisional yang aman, murah dan berbasis ilmiah. Tugas tersebut dapat dibebankan pada BUMD/BUMN agar menjamin pasokan bahan baku obat tradisional yang berkualitas untuk rumah sakit milik pemerintah. Hal ini karena industri jamu tradisional milik swasta tidak mampu menyediakan fasilitas tersebut karena memiliki kepentingan yang berbeda secara ekonomi. 3.3. Perlunya dibentuk satuan tenaga ahli yang memiliki kecakapan untuk
meningkatkan kemampuan para pihak pada sektor produksi yang terdiri atas lintas keahlian sehingga akses para pihak terhadap teknologi, kapital dan pasar semakin baik.
3.4. Diperlukan adanya kebijakan Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya untuk pengamanan Taman Nasional bagi tanaman obat dalam bentuk kegiatan patroli rutin pada kawasan budidaya tanaman obat yang terdapat pada zona rehabilitasi karena bahan baku tersebut bernilai ekonomi tinggi dan rawan terhadap pencurian.
3.5. Kementerian Koordinator Perekonomian perlu mengakomodir pembagian tugas dan target pengembangan tanaman obat di mana tugas tersebut harus dilaporkan kepada Presiden secara berkala sehingga Presiden dapat
mengeluarkan kebijakan untuk menyatukan berbagai kegiatan penelitian yang berhubungan dengan pemanfaatan tumbuhan obat ke dalam satu lembaga yang menaungi kegiatan tersebut.
3.6. Diperlukan adanya penelitian yang lebih lanjut mengenai kondisi sebenarnya dari permintaan dan penawaran tumbuhan obat di Indonesia, mengetahui klaster mana yang memiliki permintaan yang besar terhadap tumbuhan obat dan siapa yang seharusnya mengkoordinir pemanfaatan tumbuhan obat tersebut
3.7. Jenis tumbuhan obat yang dapat dikembangkan sebagai rekomendasi dari penelitian ini sesuai dengan hasil analisis para pihak terdiri atas campuran jenis jahe, kencur dan temulawak serta jenis-jenis yang sudah langka seperti kedawung dan pulasari. Kesumba keling dapat digunakan menarik minat para pihak untuk menanam sebagai cadangan pendapatan mengingat pasarnya terbuka lebar.