• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Pendekatan Ekologi Politik

Bryant dan Bailey (1997) menyebutkan ada lima pendekatan yang digunakan dalam penelitian terkait dengan ekologi politik, khususnya kasus-kasus yang terjadi di negara berkembang, yaitu:

3.1. Penjelasan mengenai masalah lingkungan seperti banjir, erosi tanah, degradasi lahan dan polusi udara, deforestasi hutan tropis. Pendekatan ini menggunakan basis geografis untuk memahami dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan fisik.

3.2. Konsepsi yang berhubungan pada pertanyaan-pertanyaan mengenai ekologi politik. Pemikiran-pemikiran yang dibangun dan dipahami oleh aktor-aktor yang berbeda, diskursus yang menyertainya dikembangkan untuk memfasilitasi atau mengendalikan kepentingan aktor-aktor tertentu (Escobar 1996; Bryant & Bailey 1997).

3.3. Menguji hubungan antara masalah-masalah ekologi dan politik dalam konteks wilayah geografis tertentu. Ekologi politik berdasarkan wilayah geografis ini mencerminkan perhatian pada perbedaan lingkungan dan variasi spasial pada resiliensi dan sensitivitas lahan (Blaike & Brookfield 1987; Bryant & Bailey 1997).

3.4. Menggali pertanyaan-pertanyaan mengenai ekologi politik yang berhubungan dengan karakteristik sosial ekonomi seperti kelas, etnis atau gender.

3.5. Menekankan pada kepentingan, karakteristik dan tindakan dari aktor yang berbeda dalam memahami konflik-konflik ekologi politik. Pendekatan berorientasi aktor ini mencari pemahaman pada sejumlah konflik (termasuk kerjasama juga) sebagai hasil dari interaksi aktor- aktor yang berbeda terkait dengan tujuan dan kepentingan tertentu (Long & Long 1992; Bryant & Bailey 1997).

Mekanisme pendekatan ekologi politik menurut Bryant dan Bailey dapat dilihat pada Gambar 2.

Karakteristik sosial ekonomi:

- kelas, (Watts, 1983a) - etnis (Hong, 1987) - gender (Schroeder,

1993)

Masalah lingkungan: - Erosi tanah (Blaike, 1985) - Degradasi lahan (Blaike &

Brookfield, 1987) - Deforestasi (Hecht &

Gambar 2. Mekanisme Pendekatan Ekologi Politik di Negara Berkembang

Sumber: Bryant dan Bailey (1997)

Pendekatan ekologi politik menggunakan pendekatan aktor sebagai unit analisisnya, yaitu bagaimana interaksi para aktor dapat memengaruhi terjadinya perubahan lingkungan. Ada beberapa manfaat yang diperoleh melalui pendekatan aktor untuk analisis pemanfaatan tumbuhan obat, yaitu: a) Mampu memberikan informasi mengenai banyaknya para aktor pada tingkat lokal yang terlibat dalam perubahan kinerja tumbuhan obat. Pengurasan sumberdaya tumbuhan obat, langkanya jenis-jenis tertentu dan degradasi lingkungan menjadi gambaran situasi terjadinya perubahan lingkungan; b) Mampu memberikan alasan mengenai motivasi, kepentingan dan tindakan yang dilakukan para aktor hingga menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan tumbuhan obat. Kompleksitas yang terjadi diantara para aktor mempengaruhi relasinya terhadap aktor lain

Ekonomi politik Perubahan Lingkungan di Dunia Ketiga Aktor: - bisnis (Pearson, 1987) -pastoralist (Bessett, 1988) - negara (Guha, 1989; Peluso, 1992) Konsep: - Sustainable/green development (Redcliff, 1987; Adams, 1990) - Hazard, disaster, vulnerability (Blaike et al, 1994) - Forestry discourse (Jewitt, 1995)

Ekologi politik regional: -Afrika Barat (Franke &

Chasin, 1980) - Asia Tenggara (Bryant

et al, 1993) - Afrika Utara (Nile)

(Collins, 1990)

Menunjukkan interaksi yang kuat

khususnya dalam posisi politik. Aktor yang memiliki posisi politik lebih kuat akan mendominasi aktor lain yang posisi politiknya lebih lemah; c) Mampu memberikan pemahaman mengenai peranan dan interaksi para aktor terhadap konflik mengenai lingkungan. Konflik-konflik yang terjadi dalam pemanfaatan tumbuhan obat seringkali menyingkirkan aktor-aktor yang lebih lemah. Pertarungan tersebut ditujukan untuk menguasai sumberdaya tumbuhan obat. Hanya saja aktor-aktor yang “kalah” juga memiliki kekuatan untuk bertindak sesuai dengan kepentingannya sendiri (Bryant & Bailey 1997).

Para aktor memiliki kepentingan sendiri-sendiri terhadap sumberdaya tumbuhan obat yang sama sehingga proses negosiasi dan pengambilan keputusan terhadap penggunaan sumberdaya tersebut merupakan hal yang penting. Hanya saja “siapa yang memutuskan” merupakan persoalan tersendiri karena terdapat hak para aktor untuk memanfaatkan sumberdaya tumbuhan obat tersebut (Stenley et al. 2012; Borrow et al. 2002). Sebagian besar sumberdaya tumbuhan obat yang terdapat di hutan dimiliki dan dikuasai oleh Negara sehingga Negara memiliki hak untuk memutuskan kepada siapa sumberdaya tersebut dikelola. Dengan demikian, dalam pemanfaatan tumbuhan obat, Negara bersama dengan agennya adalah aktor dalam kegiatan tersebut. Ketika peran Negara sangat besar untuk menentukan kepada siapa hak pengelolaan tumbuhan obat diberikan, biasanya masyarakat di pedesaan dan komunitas pengelola tumbuhan obat akan tersingkir. Pertentangan kepentingan dalam perebutan sumberdaya yang sama akan terjadi. Sifat common pool resources tumbuhan obat berhadapan dengan berbagai kepentingan sehingga kelestarian pemanfaatannya akan terganggu (Ostrom et al. 1994). Ostrom (2005) menyebutkan empat tipe produk (goods) sebagai sumberdaya yang dimanfaatkan oleh manusia. Pembagian produk tersebut berdasarkan pada penggunaan dan potensi manfaat yang diperoleh, disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Empat Tipe Sumberdaya (goods)

Subtractability of Use

excluding potential beneficiaries

High Common pool resources:

groundwater basin, irrigation system, lakes, fisheries, forest, etc

Public goods: peace and security of a community, national defense, knowledge, fire protection, weather forecast, etc

Low Private goods: food, clothing,

automobiles, etc

Toll goods: theaters, private clubs, daycare centers

Sumber: Ostrom (2005)

Menurut Giddens (2011), kekuasaan dihasilkan dalam dan melalui reproduksi struktur-struktur dominasi. Sumber daya yang menyusun struktur dominasi terdiri atas dua jenis, yaitu sumberdaya alokatif dan sumberdaya otoritatif. Koordinasi apapun sistem sosial lintas ruang dan waktu pasti melibatkan gabungan dua jenis sumberdaya ini. Jenis sumberdaya alokatif dan sumberdaya otoritatif disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis Sumberdaya Alokatif dan Otoritatif

Sumberdaya alokatif Sumberdaya Otoritatif 1. Ciri lingkungan material (bahan

mentah, sumber kekuasaan materi)

Organisasi ruang-waktu sosial (penyusunan jalur dan kawasan secara temporal-spasial)

2. Alat produksi/reproduksi material (piranti produksi, teknologi)

Produksi dan reproduksi tubuh (organisasi dan hubungan kemanusiaan secara timbal balik)

3. Barang hasil produksi (artefak yang diciptakan oleh interaksi 1 dan 2)

Organisasi perubahan hidup (penyusunan kesempatan untuk pengembangan dan

pengungkapan diri)

Sumberdaya alokatif merupakan penyusun “adaptasi” dengan lingkungan yang dilakukan oleh para aktor dalam memperoleh kekuasaan dan memiliki sifat evolutif dan materi. Sedangkan sumberdaya otoritatif

merupakan “infrastruktur” penyusun kekuasaan dalam masyarakat yang

bersifat sosial. Penambahan sumberdaya alokatif yang bersifat material memiliki dasar yang kokoh untuk ekspansi kekuasaan, tetapi sumberdaya alokatif tidak dapat dikembangkan tanpa adanya transmutasi sumberdaya

otoritatif. Sumberdaya otoritatif merupakan “pengungkit” dalam perubahan sosial sama seperti sumberdaya alokatif (Giddens 2011).

Organisasi ruang waktu mengacu pada bentuk-bentuk regionalisasi dalam (dan lintas) masyarakat berdasarkan penyusunan jalur ruang-waktu kehidupan sehari-hari. Contoh yang dapat diberikan disini adalah masyarakat pemburu dan pengumpul memiliki kekhasan dalam organisasi ruang-waktu. Kepastian spasial-penekanan lokal-lokal pada “lingkungan yang dibangun” secara permanen, misalkan zona/kawasan produksi tumbuhan/tanaman obat (Giddens 2011).

Kategori produksi/reproduksi pada sumberdaya otoritatif tidak sama dengan yang dimaksudkan pada kategori kedua dari sumberdaya alokatif. Kategori ini mengacu pada adanya koordinasi terhadap sejumlah orang bersama-sama di suatu masyarakat dan reproduksinya disepanjang waktu merupakan jenis sumberdaya otoritatif yang sangat mendasar. Ukuran organisasi sistem benar-benar memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada penciptaan kekuasaan (Giddens 2011).

Kategori terakhir adalah kesempatan dalam kehidupan sebagai fenomena yang sangat tergantung pada produktivitas material suatu masyarakat. Di sini “kesempatan hidup” berarti peluang untuk melangsungkan kehidupan bagi manusia dalam berbagai bentuk dan kawasan masyarakat. Misalkan Weber menyebutkan “keaksaraan masal” dapat memobilisasi masyarakat dibandingkan mereka yang diam dalam tradisi lisan.

4. Aktor

Analisis aktor merupakan metode yang berasal dari pendekatan riset operasi (operation research) yang digunakan untuk analisis kebijakan. Tujuan analisis aktor adalah memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kebijakan publik yang terdefinisi dengan baik (Hermans & Thiesen 2008). Selanjutnya dikatakan bahwa analisis aktor dapat menyediakan sebuah pencerahan bagi para analis kebijakan mengenai proses multi aktor dalam kebijakan publik (Hermans & Thiesen 2008).

Menurut Hermans dan Thiesen (2008), ada empat dimensi untuk analisis aktor, yaitu:

1. Jaringan: Banyak atau sedikitnya bentuk-bentuk tetap dari relasi sosial antara aktor-aktor yang saling tergantung, kemudian membentuk permasalahan kebijakan dan atau program kebijakan (Hermans & Thiesen 2008). Konteks kelembagaan, terbatasnya aturan main dan struktur memungkinkan terjadinya jarak dari kegiatan-kegiatan tersebut (Ostrom et al. 1994);

2. Persepsi: Gambaran bahwa para aktor memiliki dunia mereka sendiri, baik diantara para aktor dan jaringannya serta karakter substantif dari masalah kebijakan (Scharpf 1997). Persepsi juga berarti label yang menjadi sebab kepercayaan, pemikiran, dan kerangka referensi. Persepsi di sini hanya mengacu pada teori “netral” mengenai bagaimana dunia berlangsung dan bukan pada kepercayaan normatif pada apa yang baik atau pada apa yang diinginkan;

3. Nilai: Memberikan arahan ke mana aktor akan bergerak, menggambarkan motivasi internal para aktor. Konsep-konsep yang berhubungan seperti norma, kepentingan, tujuan merupakan fungsi pada tingkat yang lebih abstrak di mana sasaran, tujuan dan target mencerminkan nilai dalam istilah yang lebih spesifik. Preferensi dan posisi menterjemahkan nilai pada sebuah preferensi (relatif) pada solusi-solusi tertentu dan hasil-hasil kebijakan. Variabel- variabel pada dimensi ini memiliki hubungan yang dekat dengan persepsi para aktor.

4. Sumberdaya: Makna praktis atau instrumen yang aktor miliki untuk mewujudkan tujuan mereka. Sumber daya merupakan sesuatu yang mampu dikendalikan oleh para aktor dan di mana mereka memiliki kepentingan terhadapnya (Coleman 1990). Sumber daya memungkinkan aktor mengendalikan dunia di sekeliling mereka termasuk menguasai aktor lain, relasi-relasi dan aturan-aturan di

dalam jaringan. Misalnya, sumber daya memiliki hubungan yang dekat dengan kekuasaan dan pengendalian (Thomson et al. 2003).

Hermans dan Thiesen (2008) menyebutkan bahwa metode analisis aktor memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut:

1. Menyediakan perbandingan pandangan dalam karakteristik para aktor yang terlibat di dalamnya;

2. Fokus pada satu atau lebih dimensi dari proses analisis kebijakan multi aktor (jaringan, nilai, persepsi, sumberdaya);

3. Mendeskripsikan analisis tindakan tertentu, dengan maksud bahwa metode atau penerapannya digambarkan cukup lengkap agar orang lain dapat merekonstruksi penggunannya;

4. Telah dibuktikan penggunaannya bagi analisis peranan aktor pada pembuatan kebijakan di dunia nyata;

5. Sudah diuji secara ilmiah melalui masukan-masukan para ahli dan dipublikasikan.

4.1. Analisis Para Pihak

Salah satu metode untuk analisis aktor yang terkenal adalah analisis para pihak (Hermans & Thiesen 2008). Menurut Reed et al. (2009), analisis para pihak merupakan sebuah proses yang mendefinisikan aspek- aspek dari sebuah fenomena sosial dan alam yang dipengaruhi oleh suatu keputusan dan tindakan, dilakukan oleh individu, kelompok dan organisasi yang dipengaruhi oleh atau dapat mempengaruhi sebagian dari fenomena tersebut (termasuk entitas bukan manusia, bukan benda hidup dan generasi mendatang) serta mendahulukan individu dan kelompok untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Menurut Hidayat et al. (2011), analisis para pihak ada yang memfokuskan pada pergerakan pelaku (actors movement), baik yang bersifat langsung misalnya Pemerintah Pusat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Propinsi (Dinas Kehutanan Propinsi) dan Pemerintah Daerah (Dinas Kehutanan Kabupaten) dan yang bersifat tidak langsung, misalnya aktifitas LSM baik lokal, nasional maupun internasional.

Menurut Reed et al. (2009) bahwa analisis para pihak memiliki beberapa pendekatan, yaitu deskriptif, normatif dan instrumental. Pendekatan normatif dan instrumental merupakan pendekatan yang paling sering digunakan untuk melihat relasi antar pihak dan fenomena tertentu. Secara khusus dikatakan bahwa pendekatan normatif sudah digunakan pada kebijakan, pengembangan dan pengelolaan sumber daya alam dengan penekanan pada legitimasi pelibatan dan pemberdayaan para pihak dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan normatif ini dikembangkan menggunakan teori Habermas tentang tindakan komunikasi (communicative action) di mana orang atau sekelompok orang berusaha mencapai pembagian pemahaman dan bekerja sama untuk memecahkan permasalahan bersama berdasarkan pembahasan dan konsensus. Hal ini berbeda dengan pendekatan instrumental yang bertujuan ‘pengendalian (control)’ dengan mengubah realitas.

Dalam pengelolaan sumberdaya alam biasanya berhubungan dengan pertarungan kepentingan dari berbagai pihak yaitu ketika mereka menggunakan sumber daya yang sama dengan tujuan yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut, pemahaman terhadap perspektif yang berbeda dari para aktor yang terlibat sangat penting. Analisis para pihak merupakan sebuah alat yang dapat digunakan atau berkonstribusi terhadap proses negosiasi atau pembelajaran di antara para pihak dalam memecahkan masalah bersama, tetapi bukan alat yang dapat menciptakan platform negosiasi. Analisis para pihak dapat memfasilitasi sebuah pendekatan konstruktivis pada partisipasi para pihak yang memerlukan

berbagai perspektif mengenai ‘kebenaran’ di mana realitas dikonstruksi

secara sosial. Justifikasi normatif dari analisis para pihak akan menuju pada hasil-hasil instrumental di mana para pihak harus terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan merasa memiliki tingkat kepemilikan yang sama dari proses tersebut. Hasil akhir yang diharapkan adalah timbulnya transformasi relasi, pengembangan rasa saling percaya dan pemahaman di antara para peserta (Reed et al. 2009).

Menurut Reed et al. (2009), pendekatan normatif dapat digunakan untuk a) mengidentifikasi para pihak; b) pembedaan di antara dan mengkategorisasi para pihak; dan c) menginvestigasi hubungan di antara para pihak. Dalam penelitian ini, topologi yang digunakan melalui pendekatan pembedaan di antara dan kategorisasi para pihak. Ada dua jenis metode ini yaitu: a) top-down “kategorisasi analitis”; b) bottom-up

“metode rekonstruktif” (Dryzek & Berejikian 1993; Reed et al. 2009).

Metode kategorisasi analitis (top-down) membagi stakeholder ke dalam matriks interest-influence. Pendekatan ini mengelompokan stakeholder ke

dalam 4 (empat) kategori, yaitu “Key players”, “Context setters”,

Subjects”, dan “Crowd”.

Key players. Merupakan pihak-pihak yang harus terlibat secara aktif karena memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi terhadap fenomena tertentu.

Context setter. Merupakan pihak-pihak yang memiliki pengaruh yang tinggi tetapi memiliki kepentingan yang sedikit karena memiliki resiko yang nyata sehingga harus dimonitor dan dikelola.

Subject. Merupakan pihak-pihak yang memiliki kepentingan yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah, selalu mendukung, kurang memiliki kapasitas terhadap dampak, tetapi dapat menjadi berkuasa dengan membentuk persekutuan di antara para pihak. Mereka seringkali merupakan pihak marginal di mana pengembangan proyek digunakan untuk pemberdayaan kategori ini.

Crowd. Merupakan pihak-pihak yang memiliki kepentingan atau pengaruh yang kecil terhadap hasil-hasil yang diinginkan dan sedikit perlu dipertimbangkan tentang keberadaan mereka atau perlu bertemu dengan mereka. Kepentingan dan pengaruhnya selalu berubah setiap saat sehingga dampak perubahan tersebut perlu dipertimbangkan dengan baik. Misalnya: para pihak dapat membentuk persekutuan untuk mendukung atau mengalahkan hasil-hasil tertentu.

Pendekatan kategorisasi para pihak ini dapat dikembangkan melalui penambahan atribut lain pada para pihak. Misalnya pihak-pihak yang

terletak pada matrik interest dan influence dapat diubah menggunakan

kategori “mendukung” (supportive) atau “tidak mendukung”

(unsupportive). Bentuk matriks interest-influence disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Matriks Interest-Influnce (Reed et al. 2009)

5. Teori akses

Kepentingan dan kekuasaan yang terdapat pada para aktor dalam menggunakan dan mempertahankan sumber daya yang digunakannya tergantung pada seberapa besar kemampuan para aktor dalam mengakses sumber daya tersebut. Semakin besar akses yang dimiliki, maka kemampuan aktor untuk memainkan kekuasaannya akan semakin besar pula. Ribot dan Peluso (2003) menyebutkan bahwa akses adalah kemampuan untuk memperoleh keuntungan dari sesuatu termasuk di dalamnya melalui obyek material, orang-orang, kelembagaan dan simbol- simbol. Perhatian utama teori akses mengenai “siapa” yang melakukan

High

Low

Low High

Subject Key players

Crowd Context setter

I N T E R E S T POWER

(siapa yang tidak) untuk mendapatkan sesuatu, dengan cara seperti apa, dan kapan dilakukan. “Menggunakan” dapat dilihat sebagai makna menikmati beberapa macam keuntungan ataupun mendapatkan aliran keuntungan (Hunt 1998; Ribot & Peluso 2003).

Pada sumber daya alam, akses berhubungan dengan rentang kekuasaan yang menempel di dalamnya dan telah diuji melalui berbagai mekanisme, proses serta relasi sosial yang kemudian mempengaruhi kemampuan seseorang atau masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari sumber daya tersebut. Kekuasaan ini mengatur material, budaya dan aspek ekonomi politik ke dalam “bundelan kekuasaan” dan “jaringan kekuasaan” dalam menyusun akses terhadap sumber daya alam.

Ribot dan Peluso (2003) menyebutkan ada 8 (delapan) jenis mekanisme untuk mendapatkan akses, yaitu:

Teknologi: Merupakan faktor yang dapat mempertahankan seseorang tetap mengendalikan sumber daya. Teknologi tersebut melambangkan atau mengkomunikasikan makna pada akses yang terbatas. Banyak sumber daya yang tidak dapat diekstraksi melalui penggunaan peralatan atau teknologi, sedangkan teknologi maju manfaatnya hanya didapatkan oleh orang-orang yang memiliki akses terhadapnya.

Capital: Merupakan faktor pembentuk yang secara jelas menggambarkan siapa yang memperoleh manfaat dari sumberdaya melalui pengendalian dan pengelolaan akses terhadap sumberdaya tersebut (Blaike 1985; Shipton & Goheen 1992). Akses pada capital umumnya digambarkan sebagai akses pada kekayaan dalam bentuk uang (finance) dan perlengkapan (equipment) yang dapat diletakan pada jasa dari ekstraksi, produksi, konversi, mobilisasi tenaga kerja, dan proses-proses lain yang berhubungan dengan manfaat turunan dari sesuatu dan orang. Akses pada capital dapat digunakan untuk mengendalikan (“control”) akses pada sumber daya melalui pembelian hak. Akses ini juga dapat digunakan

untuk mengelola (“maintain”) akses pada sumber daya ketika harus

untuk membeli kekuasaan pada orang-orang yang mengendalikan sumber daya.

Market: Merupakan kemampuan untuk memperoleh manfaat dari sumber daya dengan berbagai macam cara. Kemampuan memperoleh manfaat secara komersial dari sebuah sumber daya tergantung pada apakah pemiliknya memiliki akses yang lebih besar terhadap pasar dibandingkan orang lain (Ribot 1998-2000). Akses terhadap market dikendalikan melalui sejumlah besar struktur dan proses (Harriss 1984; Ribot 1998). Akses ini juga termasuk akses pada capital (equipment dan credit), struktur monopsoni, praktek-praktek eksklusif dan bentuk-bentuk kolusi di antara para pelaku pasar (market actors) atau dukungan melalui kebijakan Negara mengenai pembatasan akuisisi lisensi profesional dan biaya akses (Hecht & Cockburn 1989; Shipton and Goheen 1992).

Akses pada market merupakan kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk memperoleh manfaat, mengendalikan atau mengelola tambahan akses ke dalam pertukaran relasi. Market juga membentuk akses untuk memanfaatkan sesuatu pada skala yang berbeda dan pada berbagai cara yang cerdas serta melalui cara-cara yang tidak langsung. Nilai sumberdaya akan menjadi beragam ketika diperdagangkan atau ketika pengusaha-pengusaha nasional dan internasional atau agen- agen Negara mulai menambang sumber daya, sehingga akan mempengaruhi hak kepemilikan atas sumber daya tersebut (Appadurai 1986; Watts 1983; Runge et al. 2000).

Labor and labor opportunities: Seseorang atau sekelompok orang yang memiliki akses pada tenaga kerja dapat memperoleh manfaat dari sebuah sumber daya dalam berbagai tahapan di mana tenaga kerja selalu dibutuhkan selama komoditas yang dihasilkan dari sumber daya tersebut tetap ada. Pengendalian terhadap kesempatan kerja (misalnya: pekerjaan) dapat juga digunakan untuk memperoleh manfaat dari sumber daya tertentu. Siapa pun yang mampu mengendalikan kesempatan kerja dapat menempatkan mereka sebagai bagian dari hubungan patronase (Hart 1986; Peluso 1992). Mereka dapat mengendalikan posisi tawar yang

rendah ketika kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi langka (Shiva et al. 1982). Kelangkaan dan surplus tenaga kerja dapat mempengaruhi porsi relatif dari manfaat sumber daya yang dinikmati oleh mereka yang mampu mengendalikan tenaga kerja, mengendalikan akses pada kesempatan kerja dan keinginan untuk mengelola akses mereka terhadap kesempatan tersebut.

Akses pada kesempatan kerja mengikutkan kemampuan pada tenaga kerja itu sendiri dan mengelola akses pada tenaga kerja lainnya. Meskipun seseorang mungkin tidak memiliki akses pada sumber daya melalui hak kepemilikan dan juga modal untuk membeli teknologi dan pertukaran perdagangan, tetapi transaksi-transaksi memberinya hak pada sumber daya. Orang tersebut mungkin memperoleh akses pada sumber daya dengan masuk dalam hubungan pekerjaan bersama pengendali akses atas sumber daya, pemegang ijin atau mekanisme akses berbasis pasar lainnya. Para pekerja telah melakukan investasi dalam relasi sosial dengan pemilik atau pengelola sumber daya untuk mengelola akses pada kesempatan kerja dan sumber daya mereka sendiri (Berry 1993).

Pengetahuan: Merupakan komponen penting yang dapat membentuk siapa yang dapat memperoleh manfaat dari sumberdaya. Kepercayaan, kendali ideologi dan wacana yang dinegosiasikan sebagai sistem makna akan membentuk semua akses formal. Bagi beberapa sumber daya, akses mungkin dapat bertujuan lebih dari sekedar kepentingan ekonomi atau klaim moral pada substansi hak, yaitu dengan melayani kepentingan sosial, politik dan ritual sebagai perwujudan hadirnya empati, relasi kekuasaan dan harmoni ritual (Peluso 1996).

Wacana dan kemampuan membentuk istilah yang terkait dengan wacana merupakan kerangka kekuasaan yang sangat dalam dari akses terhadap sumber daya. Misalnya istilah “global commons”, LSM internasional yang dominan dan aktor lain menciptakan kategori dan naturalisasi universal mengenai intervensi mereka di seluruh dunia atas nama perlindungan lingkungan. Akses terhadap sumber daya dengan cara ini dibentuk oleh kekuasaan untuk menghasilkan kategori pengetahuan

(Foucault 1978). Beberapa hal yang terkait dengan akses ini yaitu: keahlian, pendidikan, derajat, gelar.

Otoritas: Merupakan kemampuan individu untuk memanfaatkan sumberdaya melalui hukum. Akses khusus yang dimiliki oleh individu atau organisasi dengan otoritas untuk membuat dan menerapkan hukum dapat menjadi kekuasaan yang sangat kuat bagi siapa saja untuk memanfaatkan sumber daya. Mobilisasi akses semacam ini dapat dilakukan melalui saluran legal, permohonan perijinan atau lobi pada saluran-saluran resmi. Akses legal dan ilegal pada Negara dan otoritas lainnya cenderung berhubungan dengan kepentingan ekonomi dan sosial. (Ribot 1993; Ribot 1995). Misalnya uang dibutuhkan untuk biaya komunikasi dengan agen dan pejabat Negara.

Identitas sosial: Akses ini mampu mempengaruhi distribusi manfaat dari sesuatu. Biasanya akses ini dimediasi oleh identitas sosial atau keanggotaan dari suatu komunitas tertentu termasuk di dalamnya pengelompokan melalui umur, gender, etnis, agama, status, profesi, tempat kelahiran, pendidikan yang sama atau atribut-atribut lain yang menegaskan identitas sosialnya (Shipton & Goheen 1992; Berry 1989; Li 2000; Peluso & Vandergeest 2001). Otoritas-otoritas yang tidak memiliki hubungan