• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Komparasi Keseluruhan Kelembagaan Eksisting Setelah Penguatan

A.2 Deskripsi Sebaran Kategori Efektifitas untuk Keseluruhan Jenis Kelembagaan

B.1.7 Kelembagaan Monitoring dan Evaluasi Setelah Penguatan di Waduk Jatiluhur

IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI SEMENTARA

4.1 Kesimpulan

Untuk sementara dari tahapan kegiatan penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan penting, yaitu:

(1) Sebelum dilakukan inovasi penguatan kelembagaan, kelembagaan eksisting terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat secara umum Waduk Malahayu dan Jatiluhur termasuk dalam kategori kurang efektif (lemah), sedangkan Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah termasuk dalam kategori cukup efektif. Untuk Situ Panjalu, Kabupaten Ciamis Jawa Barat termasuk dalam kategori tidak efektif. Secara khusus, di Waduk Malahayu dan Waduk Jatiluhur terdapat empat jenis kelembagaan eksisting yang berada dalam kondisi kurang efektif (lemah) namun sebagian berbeda menurut jenisnya. Untuk Waduk Malahayu adalah: (1) Kelembagaan penyediaan sarana produksi perikanan; (2) Kelembagaan pembinaan dan penyuluhan; (3) Kelembagaan pemasaran hasil perikanan; dan (4) Kelembagaan monitoring dan evaluasi. Sementara untuk Waduk Jatiluhur adalah: (1) Kelembagaan pelaku utama; (2) Kelembagaan pembinaan dan penyuluhan; (3) Kelembagaan konservasi; dan (4) Kelembagaan monitoring dan evaluasi. Efektivitas kelembagaan di Waduk Gajah Mungkur menunjukkan terdapat dua kelembagaan yang termasuk kategori kuat, yaitu Kelembagaan pelaku utama dan Konservasi; Empat kelembagaan (sarana produksi, penyuluhan, pengawasan dan pemasaran) termasuk kategori sedang dan hanya satu kelembagaan (monitoring dan evaluasi) yang termasuk kategori lemah. Sedangkan untuk Situ Panjalu yaitu (1) Kelembagaan pelaku utama; (2) Kelembagaan pembinaan dan penyuluhan; (3) Kelembagaan konservasi; dan (4) Kelembagaan pengawasan, (5) kelembagaan pemasaran, dan (6) Kelembagaan monitoring dan evaluasi.

Selanjutnya bila kelembagaan eksisting dalam pemanfaatan dan pengolaan perairan waduk tersebut dilihat menurut dimensi aturan mainnya, maka semua (tujuh) jenis kelembagaan yang ada baik di Waduk Malahayu maupun Waduk Jatiluhur pada kondisi sebelum dilakukan inovasi penguatan kelembagan, sebagian dimensi aturan main tersebut memiliki kondisi yang lemah atau sangat lemah. Terdapat tiga dari tujuh dimensi aturan main yang secara konsisten berada dalam kondisi lemah untuk semua

Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 159

jenis kelembagaan yang ada, yaitu: (1) Kegiatan memonitor, (2) Pengorganisasian hak kepemilikan; dan (3) Pemberian sanksi. Sedangkan untuk dimensi aturan main lainnya hanya terjadi pada sebagian kecil kelembagaan yang ada, yaitu: (1) Prinsip batas; (2) Distribusi manfaat; (3) Pilihan kolektif dan (4) Mekanisme penyelesaian konflik. Sementara itu untuk Waduk Gajah Mungkur, terdapat dua dimensi aturan main yaitu kegiatan memonitor dan hak kepemilikan yang berada dalam kondisi lemah atau sangat lemah. Sementara untuk Situ Panjalu sebagian besar dimensi aturan main berada dalam kategori lemah atau sangat lemah. Untuk dimensi aturan main yang konsisten berada dalam kategori sangat lemah adalah dimensi aturan main kegiatan memonitor dan pemberian sanksi.

Setelah dilakukan inovasi penguatan kelembagaan, kelembagaan eksisting terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat secara umum menunjukkan hasil yang berbeda. Untuk Waduk Malahayu, inovasi penguatan kelembagaan tersebut memberikan dampak perubahan yang positif atau meningkat terhadap efektivitas kelembagaan yang ada dari rata-rata kategori lemah (kurang efektif) menjadi sedang (cukup efektif), sedangkan untuk Waduk Jatiluhur tidak berdampak terhadap perubahan efektivitas kelembagaan atau masih sama dengan kondisi sebelum dilakukan inovasi penguatan kelembagaan (lemah atau kurang efektif).

(2) Berdasarkan gambaran karakteristik sosial ekonomi masyarakat nelayan di Waduk Malahayu dan Waduk Jatiluhur sebagaimana tercerminkan dalam pola hubungan sosial, status sosial, strata sosial, jaringan sosial, jaminan ekonomi, jaminan sosial serta relasi antar aktor, terutama masyarakat nelayan dengan aktor lainnya dapat menunjukkan kecenderungan arah dukungan yang positif bagi kemungkinan dilakukannya upaya-upaya perubahan sosial ke arah yang lebih positif terutama berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan perairan kedua waduk tersebut ke depan.

(2) Berbagai opsi penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat nelayan dapat dilakukan sesuai dengan kepentingan untuk memperbaiki/memperkuat sistem kelembagaan yang ada khususnya berkaitan dengan upaya pemanfaatan dan pengelolaan perairan waduk. Penguatan kapasitas kelembagaan dalam bentuk pelatihan bagi masyarakat nelayan dengan memasukkan muatan peningkatan peran kelembagaan utama, kelembagaan

Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 160

pengawasan, kelembagaan konservasi dipandang efektif untuk mendukung keberlanjutan upaya pemanfaatan dan pengelolaan perairan waduk tersebut. Di samping penguatan kapsitas kelembagaan dalam bentuk pelatihan lainnya khususnya yang dipadukan dengan upaya menginisiasi pembentukan lembaga perkoperasian bagi masyakarat nelayan juga dpandang efektif untuk mendukung upaya keberlanjutan tersebut. Lembaga kopreasi ini diharapkan akan dapat membantu mengatasi kelemahan kelembagaan penyediaan sarana produksi perikanan dan kelembagaan pemasaran hasil perikanan.

(3) Terkait dengan pelaksanaan upaya inovasi penguatan kelembagaan, masyarakat nelayan di Waduk Malahayu cenderung lebih merespon secara positif terhadap materi pengembangan usaha dibandingkan materi pengembangan organisasi. Kecenderungan tersebut disebabkan karena menurut respon yang diberikan oleh masyarakat nelayan, materi yang berikatan dengan pengembangan usaha lebih mudah dipahami dan lebih memberikan manfaat dibandingkan dengan materi pengembangan organisasi. Sedangkan untuk masyarakat yang menjadi pelaku kegiatan usaha Unit Pembenihan Rakyat (UPR), secara keseluruhan dari enam aspek penerapan teknologi perbenihan ikan patin di sekitar Waduk Malahayu direspon secara berbeda. Untuk aspek pemahaman teknologi dan keuntungan dari penerapan teknologi mendapat respon yang lebih positif oleh para pelaku Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dibandingkan dengan empat aspek lainnya (penerapan teknologi, kerumitan teknologi, ketersediaan sarana prasarana, dan kecepatan memperoleh hasil).

Sementara untuk masyarakat nelayan di Waduk Jatiluhur cenderung jauh lebih merespon secara positif terhadap materi pengembangan usaha dibandingkan materi pengembangan organisasi. Kecenderungan tersebut disebabkan karena menurut respon yang diberikan oleh masyarakat nelayan, materi yang bermuatan pengembangan usaha jauh lebih mudah dipahami dan lebih memberikan manfaat dibandingkan dengan materi pengembangan organisasi. Sedangkan untuk masyarakat yang memiliki kegiatan usaha pada UPR, secara keseluruhan dari enam aspek penerapan teknologi perbenihan ikan patin di sekitar Waduk Jatiluhur direspon secara berbeda. Untuk aspek pemahaman teknologi, keuntungan dari penerapan teknologi dan kecepatan hasil mendapat respon yang lebih positif oleh para pelaku Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dibandingkan dengan ketiga aspek lainnya, (penerapan teknologi, kerumitan teknologi, dan ketersediaan sarana prasarana). Kerumitan teknologi mempunyai respon positif tapi tidak sebesar ketiga resepon tersebut.

Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 161

Materi inovasi penguatan kelembagaan terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perairan waduk yang secara garis besar meliputi aspek pengembangan organisasi, pengembangan usaha dan peningkatan kapasitas UPR ternyata direspon secara berbeda antara komunitas masyarakat nelayan yang berada di Waduk Malahayu dan Waduk Jatiluhur. Respon masyarakat nelayan di Waduk Malahayu relatif lebih baik atau positif mengenai ketiga materi inovasi penguatan kelembagaan tersebut dibandingkan dengan masyarakat nelayan di Waduk Jatiluhur. Kecenderungan ini diduga berhubungan dengan perbedaan aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik pada masyakarakt di kedua lokasi tersebut.