B. Komparasi Keseluruhan Kelembagaan Eksisting Setelah Penguatan
A.2 Deskripsi Sebaran Kategori Efektifitas untuk Keseluruhan Jenis Kelembagaan
B.1.7 Kelembagaan Monitoring dan Evaluasi Setelah Penguatan di Waduk Jatiluhur
3.3 Respon Masyarakat Nelayan
3.3.1 Respon Masyarakat Nelayan Berdasarkan Hasil Diskusi Kelompok Terfokus
Respon masyarakat nelayan yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah pendapat atau tanggapan masyarakat nelayan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan rencana inovasi kelembagaan yang akan diterapkan kepada mereka. Inovasi kelembagaan yang dimaksud tidak lain adalah perbaikan-perbaikan dan/atau pembentukan serta penyempurnaan yang dilakukan terhadap kelembagaan yang sudah ada, baik kelembagaan dalam arti organisasi atau aturan main. Respon masyarakat dalam hal ini didapatkan pada saat pelaksanaan diskusi kelompok terfokus (FGD).
Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 146
3.3.1.1 Respon Masyarakat Nelayan Berdasarkan Hasil FGD di Waduk Malahayu
Respon masyarakat nelayan di Waduk Malahayu yang dihimpun selanjutnya berasal dari hasil kegiatan diskusi kelompok terfokus (FGD). Kegiatan Diskusi Kelompok Terfokus/Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan terkait dengan rencana inovasi kelembagaan dalam kegiatan penelitian model pengembangan inovasi kelembagaan pengelolaan waduk dan situ dalam rangka meningkatkan produktivitas dan pendapatan nelayan telah dilakukan di Kabupaten Brebes. FGD tersebut dihadiri oleh sebanyak 30 orang yang terdiri komponen masyarakat nelayan Waduk Malahayu (12 orang), instansi terkait dengan pengelolaan dan pengelolaan Waduk Malahayu (14 orang), dan Peneliti Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (4 orang).
Kegiatan FGD ini pada awalnya dimaksudkan untuk mendapatakan masukan dan kesepakatan dari para peserta yang hadir mengenai: (1) Berbagai permasalahan baik teknis maupun non-teknis (ekonomi, sosial, budaya dan politik) berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah; (2) Berbagai usulan untuk mengenai permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pengelolaan waduk tersebut; dan (3) Rencana (kemungkinan dilakukannnya) inovasi kelembagaan melalui penerapan teknologi Culture Base Fisheries (CBF) menggunakan dorongan kegiatan penebaran kembali ikan (restocking) dan penambahan unit kapal pengawasan5. Adapun hasil dari FGD tersebut dapat dilihat pada Tabel 51.
Tabel 60. Topik dan Hasil Kesepakatan FGD Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, 2011
No TOPIK HASIL KESEPAKATAN FGD
A. KEGIATAN RESTOCKING
1. Jenis ikan untuk restoking Nila Hitam (nila best)
2. Saat/kapan dilakukan restoking Paling lambat akhir bulan april 2011
3. Lokasi/dimana dilakukan restoking (1) Lebak Salam; (2) Kracak; dan (3) Citamiang 4. Siapa yang terlibat restoking - Seluruh pengurus dan angggota kelompok nelayan
- Pemda dan DPRD - Muspika Banjarharjo
- Empat Kepala Desa sekitar Waduk Malahayu - BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dan LPM
5 Dalam perkembangannya rencana inovasi kelembagaan yang semula menggunakan dorongan restocking dan
penambahan kapal pengawasan, kemudian menjadi ditiadakan karena kebijakan kepala Balitbang KP yang tidak memperbolehkan Satker BBRSEKP untuk mengadakan bantuan teknis (BANTEK) dan dialihkan kepada satker lain yang bersifat teknis di lingkup Balitbang KP.
Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 147
(Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) masing- masing desa
- - Muspika Kecamatan Cibingbin - - Pemda Provinsi Jateng
- - KKP
- - BBWS Cimanuk-Cisanggarung B. SARANA PENGAWASAN (PERAHU JAGA)
Akan dilakukan study kelayakan (spesifikasi, proses pembuatan dan sebagainya) dengan dikordinasikan oleh DINAS KP KABUPATEN BREBES.
Sumber: Hasil FGD dengan Stakeholders (2011)
Berdasarkan Tabel 51, diketahui bahwa masyarakat nelayan menginginkan jenis ikan yang direstocking adalah jenis nila best, yang pelaksanaannya diharapkan dapat dilakukan pada akhir bulan April 2011. Adapaun lokasi yang disarankan untuk dilakukan restoking adalah Lebak Salam, Kracak dan Citamiang. Para peserta diskusi menginginkan berbagai pihak terlibat dalam kegiatan restoking ini, terutama seluruh pengurus dan anggota kelompok nelayan. Disamping itu, masyarakat nelayan juga menginginkan adanya keterlibatan Pemerintah daerah dan DPRD, termasuk Muspika Banjarharjo serta BPD dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di desa-desa terkait.
Selain kegiatan restoking, masyarakat nelayan juga mengharapkan adanya pengadaan sarana pengawasan berupa perahu jaga. Namun demikian, terkait dengan proses pengadaan tersebut masih perlu dilakukan studi kelayakan mencakup spesifikasi, proses pembuatan dan sebagainya yang dikoordinasikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Disamping kedua hal tersebut diatas, beberapa tanggapan yang dikemukakan oleh peserta diskusi antara lain adalah:
1. Dalam kegiatan restoking, diutamakan jenis ikan nila, sementara ikan mas dapat dijadikan alternatif.
2. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat nelayan, perlu dikembangkan warung serba ada (waserda) terutama kaitannya dengan pengadaan sarana produksi perikanan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat nelayan. Dalam hal ini ada usul waserda seyogyanya dapat dibiayai melalui skim PUMP (Pemberdayaan Usaha Masyarakat Perdesaan). 3. Perlu pengembangan unit pengolahan hasil perikanan, terutama diperlukan pada saat
Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 148
menyarankan pengolahan ikan hasil tangkapan melalui pembuatan produk olahan dalam bentuk abon dan nugget.
4. Untuk mendukung permodalan yang diperlukan masyarakat nelayan, sudah saatnya dibentuk koperasi yang berbadan hukum.
3.3.1.2 Respon Masyarakat Nelayan Hasil FGD di Waduk Jatiluhur
Respon masyarakat nelayan di Waduk Jatiluhur yang dihimpun selanjutnya berasal dari hasil kegiatan diskusi kelompok terfokus (FGD). Kegiatan Diskusi Kelompok Terfokus/ Focus Group Discussion (FGD) terkait dengan rencana inovasi kelembagaan dalam kegiatan penelitian model pengembangan inovasi kelembagaan pengelolaan waduk dan situ dalam rangka meningkatkan produktivitas dan pendapatan nelayan telah dilakukan di Kabupaten Purwakarta. FGD tersebut dihadiri oleh 30 orang yang terdiri komponen masyarakat nelayan Waduk Jatiluhur (12 orang), instansi terkait dengan pengelolaan dan pengelolaan Waduk Jatiluhur (12 orang), dan Peneliti Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (3 orang).
Kegiatan FGD ini pada awalnya dimaksudkan untuk mendapatakan masukan dan kesepakatan dari para peserta yang hadir mengenai: (1) Berbagai permasalahan baik teknis maupun non-teknis (ekonomi, sosial, budaya dan politik) berkaitan dengan pemanfaatan dan pengelolaan Waduk jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa barat; (2) Berbagai usulan untuk mengenai permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pengelolaan waduk tersebut; dan (3) Rencana (kemungkinan dilakukannnya) inovasi kelembagaan melalui penerapan teknologi Culture Base Fisheries (CBF) menggunakan dorongan kegiatan penebaran kembali ikan (restocking). Adapun hasil dari FGD tersebut dapat dilihat pada Tabel 52.
Tabel 61. Topik dan Hasil Kesepakatan FGD Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, 2011
No TOPIK HASIL KESEPAKATAN FGD
C. KEGIATAN RESTOCKING
1. Jenis ikan untuk restoking Nila Hitam (nila best)
2. Saat/kapan dilakukan restoking Paling lambat akhir bulan april 2011 3. Lokasi/dimana dilakukan restoking 2 lokasi
Model Pengembangan Inovasi Kelembagaan Waduk dan Situ 149
Lanjutan Tabel 52...
No TOPIK HASIL KESEPAKATAN FGD
D. KEGIATAN RESTOCKING
4. Siapa yang terlibat restoking - Seluruh pengurus dan angggota kelompok nelayan - Pemda dan DPRD
- BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dan LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) masing- masing desa
- - KKP
- - Perum Jasa Tirta II Sumber: Hasil FGD dengan Stakeholders (2011)
Berdasarkan Tabel 52, diketahui bahwa masyarakat nelayan menginginkan jenis ikan yang direstocking adalah jenis nila best, yang pelaksanaannya diharapkan dapat dilakukan pada akhir bulan April 2011. Adapun lokasi yang disarankan untuk dilakukan restoking adalah Panyindangan dan Galumpit. Para peserta diskusi menginginkan berbagai pihak terlibat dalam kegiatan restoking ini, terutama seluruh pengurus dan anggota kelompok nelayan. Disamping itu, masyarakat nelayan juga menginginkan adanya keterlibatan Pemerintah daerah, termasuk Muspika Kecamatan Sukatani dan Tegalwaru serta Perum Jasa Tirta II dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di desa-desa terkait.
3.3.2 Respon Masyarakat Nelayan Setelah Penguatan Kelembagaan