• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Hasil studi dalam kajian pengembangan masyarakat ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Berkaitan dengan kondisi modal sosial pada KBRT bahwa: (1) Dalam hal kepercayaan; pengurus dan anggota KBRT pada kedua KBRT yang dikaji memiliki rasa saling percaya dan kebersamaan yang cukup kuat dan baik. (2) Dalam hal norma; sistem nilai dan norma dalam KBRT telah diatur dalam kesepakatan norma/aturan tertulis namun belum terumuskan dan dijalankan dengan baik. Sistem nilai dan norma yang ada belum cukup kuat menciptakan keteraturan dan kedisiplinan anggota dalam menjalankan usaha KBRT. Pemberian pinjaman dana stimulus kepada anggota tidak sesuai ketentuan yang termuat dalam SOP tentang PSE, penerima dana stimulus KBRT hanya sebagian kecil yang memiliki usaha produktif. Demikian pula dalam hal tata perilaku dalam kelompok KBRT, anggota KBRT tidak mentaati norma/aturan yang berlaku. Sebagian anggota tidak melakukan penyetoran atau pengembalian pinjaman dana stimulus yang menyebabkan perputaran modal lambat dan usaha KBRT mengalami kemacetan. (3) Dalam hal jaringan; kerjasama antar anggota KBRT secara umum dalam aktivitas sosial sangat baik sebab memiliki tingkat kebersamaan yang tinggi, namun dalam aktivitas ekonomi kurang. Hubungan kerjasama antar KBRT di Desa Manemeng dan dengan KBRT yang lain tidak ada yang terjalin, sehingga berdampak pada kurangnya aktivitas sharing pengalaman, kurangnya pertukaran pengetahuan dan informasi untuk pengembangan usaha KBRT. Demikian pula dengan hubungan kerjasama antara KBRT dengan pemerintah daerah dan perbankan tidak mengalami perkembangan/kemajuan, pendampingan dan pembinaan terhadap KBRT belum dilakukan secara optimal.

2. Implementasi PSE dalam usaha produktif KBRT masih sangat kurang dan belum berhasil dengan baik. Pada kedua KBRT yang dikaji, hanya sebagian kecil anggota yang menggunakan dana stimulus KBRT untuk usaha produktif, sebagian besar anggota hanya terlibat dalam usaha simpan pinjam. Dalam pelaksanaannya, banyak anggota KBRT yang tidak melakukan pengembalian atas pinjaman modal sehingga KBRT menghadapi kendala dan masalah dalam perputaran modal. Pada KBRT Saling Raning RT 05 Dusun Buin Selamu masih aktif dan mampu berkembang dengan baik hingga Bulan Juli 2014 karena setelah itu mulai mengalami penurunan usaha akibat terkendala dalam perputaran modal. Kemudian pada KBRT Mega Mendung RT 02 Dusun Mura Baru gagal mengembangkan usaha dan mulai tidak aktif sejak tahun 2012 karena masalah dalam perputaran modal sehingga menghadapi kemacetan usaha. 3. KBRT memiliki keragaan dan belum optimal dalam mengembangkan usaha yang dilakukan. Dengan adanya keragaan kelembagaan tersebut, masing-masing KBRT memiliki keunggulan dan kelemahan dalam

proses pengembangan usaha dari dana stimulus yang diterima. Dalam hal pengelolaan dana stimulus, kedua KBRT yang dikaji dalam kajian ini memiliki pemupukan modal usaha yang terbatas dan belum mampu

berinteraksi dengan kelembagaan keuangan lain selain Bank Mu’amalat

yang merupakan Bank Pelaksana pencairan dana stimulus KBRT. Selain itu, perguliran dana kelompok tidak tertib sehingga menyebabkan sulitnya KBRT mengembangkan usaha. Dalam hal pelayanan, pada KBRT Saling Raning RT 05 Dusun Buin Selamu seluruh anggota memiliki kesempatan dalam melakukan pinjaman dan semuanya memanfaatkan kesempatan tersebut yang dilakukan secara musyawarah. SHU dibagikan kepada anggota dengan prinsip sama rasa sama rata dan informasi disampaikan secara langsung berkisar pada aktivitas usaha anggota dan peluang usaha. Kemudian pada KBRT Mega Mendung RT 02 Dusun Mura Baru, tidak semua anggota menggunakan kesempatan melakukan pinjaman dana KBRT dan anggota tidak pernah merasakan SHU. Pemberian informasi kepada anggota untuk meningkatkan usaha sangat terbatas.

Berkaitan dengan hasil kajian, penyusunan strategi pengembangan KBRT melalui modal sosial dilakukan secara partisipatif dengan memperhatikan potensi yang ada pada pengurus dan anggota. Adapun perancangan strategi (program aksi) yang dirumuskan adalah: 1) Penguatan kepercayaan dalam KBRT, yang terdiri dari tiga kegiatan yaitu; (a) sosialisasi perkoperasian dan upaya mempertahankan nilai-nilai sosial yang mendukung penguatan kepercayaan; (b) pelatihan kepemimpinan dan manajemen usaha koperasi; dan (c) mengaktifkan pertemuan rutin bulanan pengurus dan anggota KBRT. 2) Penguatan norma dalam KBRT, yang terdiri dari dua kegiatan yaitu; (a) mengevaluasi dan merumuskan norma atau aturan dalam KBRT; dan (b) mengevaluasi dan merumuskan proses seleksi anggota penerima dana stimulus KBRT yang lebih ketat. 3) Penguatan jaringan KBRT, yang terdiri dari dua kegiatan yaitu; (a) membentuk dan membangun usaha bersama antar anggota KBRT; dan (b) membentuk forum KBRT.

Rekomendasi

Dalam rangka mencapai keberhasilan pengembangan KBRT melalui modal sosial yang telah disusun secara bersama-sama dengan berbagai pihak dalam FGD, maka direkomendasikan kepada pihak-pihak terkait dalam program baik secara langsung maupun tidak langsung adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat

(1) Meninjau dan menyempurnakan peraturan atau SOP tentang PSE yang berkaitan dengan pemberian dana stimulus bagi KBRT, sehingga verifikasi menjadi lebih ketat dan pemberian dana stimulus selektif hanya bagi KBRT yang sukses berkembang dan memiliki usaha produktif;

(2) Bagi KBRT yang aktif dan berhasil mengembangkan usaha dari dana stimulus yang diberikan perlu dilakukan: (a) pembinaan melalui penguatan kapasitas tenaga pendamping sehingga diantaranya harus mampu mengenal modal sosial yang ada pada pengurus dan anggota KBRT, untuk selanjutnya modal sosial tersebut dapat dikembangkan mendukung dan memperkuat modal lainnya; (b) peningkatan program pelatihan pengurus dan anggota untuk meningkatkan kapasitasnya yang diantaranya dengan menampilkan contoh-contoh koperasi sukses yang dikelola sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip- prinsip koperasi; dan (c) upaya fasilitasi dalam rangka memperluas jaringan kerjasama baik antar KBRT maupun dengan kelembagaan lainnya, serta meningkatkan alokasi anggaran yang dapat diakses oleh KBRT tersebut untuk mengembangkan usaha;

(3) Bagi KBRT yang tidak aktif dan gagal mengembangkan usaha, hal- hal yang perlu dilakukan: (a) pembinaan menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang mampu mengembangkan usaha secara produktif dan berperan aktif dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penyediaan lapangan kerja baru; dan (b) upaya fasilitasi dalam rangka memperluas jaringan kerjasama dan kemitraan dengan kelembagaan lainnya, serta meningkatkan alokasi anggaran yang dapat diakses oleh kelompok usaha bersama tersebut untuk mengembangkan usaha;

(4) Meningkatkan keterlibatan dan peran serta masyarakat pada setiap pengambilan keputusan dalam merumuskan kebijakan program, pelaksanaan program dan evaluasi program.

2. Pemerintah Desa Manemeng

Meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Disperindagkop dan UMKM dalam rangka memfasilitasi dan mendukung berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha ekonomi produktif di Desa Manemeng.

3. Pengurus dan Anggota KBRT

(1) Pada KBRT yang aktif dan berhasil mengembangkan usaha:

(a) berperan aktif dalam setiap kegiatan pelatihan dan sosialisasi yang dilakukan oleh Disperindagkop dan UMKM yang berhubungan dengan nilai-nilai perkoperasian, pengembangan usaha koperasi dan hal-hal lain terkait pengembangan usaha produktif; (b) aktif menjalin komunikasi, koordinasi, atau konsultasi kepada tenaga pendamping berkaitan dengan pengetahuan dan informasi, serta hal-hal yang menyangkut cara penyelesaian masalah dan kendala yang dihadapi; dan (c) menjaga kebersamaan dan rasa saling percaya serta membangun kekompakkan dan keterbukaan agar dapat menjadi kekuatan bersama dalam mengembangkan usaha koperasi yang lebih baik, sehingga kelompok dapat menjadi sarana dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga anggotanya. (2) Pada KBRT yang tidak aktif dan gagal mengembangkan usaha:

(a) mengembangkan kebersamaan dan rasa saling percaya yang terbangun dalam aktivitas sosial untuk dikembangkan dalam aktivitas ekonomi serta membangun kekompakkan dan keterbukaan

agar dapat menjadi kekuatan bersama dalam mengembangkan kelompok usaha bersama yang lebih baik, sehingga kelompok dapat menjadi sarana dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga anggotanya; dan (b) khusus bagi pengurus dan anggota yang memiliki usaha produktif membentuk kelompok usaha bersama baru yang memiliki peluang prospektif sesuai kebutuhan dan potensi lokal, kemudian berusaha menjalin kerjasama dan kemitraan dengan koperasi atau KUD, pemerintah daerah dan kelembagaan lain sebagai sumber akses modal.

DAFTAR PUSTAKA

Alfiasari, Martianto D, Dharmawan AH. 2009. Modal Sosial dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kecamatan Tanah Sareal dan Kecamatan Bogor Timur. Sodality. 03(1):125-152.

BAPPEDA Kabupaten Sumbawa Barat. 2011. Laporan Kegiatan Fasilitasi dan Koordinasi Program Stimulus Ekonomi (PSE). Taliwang.

BPS, BAPPEDA Kabupaten Sumbawa Barat. 2012. Sumbawa Barat Dalam Angka. Taliwang.

Burt RS. 1992. Structural Holes: the Social Structure of Competition. Massachusetts: Edward Elgar Publishing Limited.

Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Sumbawa Barat. 2010. Standar Operasi dan Prosedur (SOP) tentang Program Stimulus Ekonomi untuk Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi Kerjasama Pemerintah KSB dan Perbankan. Taliwang.

Fukuyama F. 1995. Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity. New York: Free Press.

Hendar, Kusnadi. 2005. Ekonomi Koperasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Kolopaking LM, Agusta I. 2013. Pengembangan Kelembagaan dan Modal Sosial. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Krisnamurthi B. 1998. Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di Jawa Barat. Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Lawang RMZ. 2005. Kapital Sosial; Dalam Perspektif Sosiologik Suatu Pengantar. Depok: UI Press.

Mardikanto T, Soebiato P. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Miles MB, Huberman MA. 1984. Qualitative Data Analysis, A Sourccebook of New Methods. London: Sage Publications.

Mustofa S. 2008. Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga. Kerjasama Pemkab KSB dan LEGITIMID KSB. Taliwang.

Nasdian FT. 2014. Pengembangan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Pemerintah KSB. 2010. Peraturan Bupati Nomor 5 Tahun 2010 tentang Program Stimulus Ekonomi untuk Usaha Mikro Kecil, Menengah dan Koperasi Kerjasama Pemerintah Sumbawa Barat dengan Perbankan. Taliwang.

Pranadji. 2006. Penguatan Modal Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan dalam Pengelolaan Agroekosistem Lahan Kering. Agro Ekonomi. 24(2):178-206.

Putnam RD. 2000. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Cummunity. New York: Simon and Schuster Paperbacks.

Putnam RD. 2002. Democracies in Flux: The Evolution of Social Capital in Contemporary Society. Oxford University Press.

Republik Indonesia. 1992. Perkoperasian, (Lampiran Undang-undang No. 25 Tahun 1992). Jakarta.

Republik Indonesia. 2004. Pemerintah Daerah, (Lampiran Undang-undang No. 32 Tahun 2004). Jakarta.

Santosa RI. 2006. Penguatan Kelembagaan Koperasi Rukun Tetangga untuk Meningkatkan Keberdayaan Anggota; Kasus Desa Kudi Kecamatan Batuwarno Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Tesis Magister. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Sjafrizal. 2009. Teknik Praktis Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah. Jakarta: Baduose Media.

Soedjono I, Prawirokusumo S, Rahardjo MD, Soelarso, Ismawan B, Baridjambek MC, Lowe JC. 1997. Koperasi di Tengah Arus Liberalisasi Ekonomi. Jakarta: Yayasan Formasi.

Soedjono I, Swasono SE, Haq H, Utomo SB, Maryunani, Triyuwono I. 2003. Jatidiri Koperasi dan Nilai Ekonomi Islam untuk Keadilan Ekonomi. Jakarta: LSP2I.

Suandi. 2007. Modal Sosial dan Kesejahteraan Ekonomi Keluarga di Daerah Pedesaan Provinsi Jambi. Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Subandi. 2011. Ekonomi Koperasi; Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta. Sumodiningrat G. 1999. Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama.

Swasono SE. 2005. Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan; Mutualism & Brotherhood. Jakarta: UNJ Press.

Vipriyanti NU. 2011. Modal Sosial dan Pembangunan Wilayah: Mengkaji Succes Story Pembangunan di Bali. Malang: UB Press.

Woolcock M. 1998. Social Capital and Economic Development: Toward a Theoretical Synthesis and Policy Framework. Journal Theori and Society. 27(1):151-208.

Wrihatnolo RR, Dwidjowijoto RN. 2007. Manajemen Pemberdayaan; Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Lampiran 1: Riwayat hidup

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bima Nusa Tenggara Barat pada tanggal 25 September 1987 sebagai anak sulung dari pasangan M. Ali dan Kalisom. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, lulus pada tahun 2009. Pada tahun 2012, penulis berkesempatan melanjutkan studi ke program magister pada Program Studi Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Sekolah Pascasarjana IPB.

Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar pada Program Studi Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Cordova Indonesia sejak tahun 2009 dan sejak tahun 2013 ditugaskan sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan di Universitas Cordova Indonesia.

Dokumen terkait