DAFTAR PUSTAKA
E. Nilai Ekonomi dari Berburu
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Kawasan TNAL mendukung potensi HHBK yang secara substansial memiliki peranan penting bagi kehidupan masyakat yang bermukim disekitarnya. Komoditi HHBK menjadi pilar utama dalam membangun perekonomian masyarakat lokal dan menjadi salah satu media untuk menjaga keutuhan dan kelestarian ekosistem kawasan. Sebab kelestarian kawasan juga ditentukan dari tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar yang senantiasa bergantung dan memperoleh manfaat dari keberadaan kawasan.
Dukungan institusi TNAL terkait pemanfaatan HHBK oleh masyarakat merupakan bentuk sinergi dalam pengelolaan kawasan secara arif dan bijaksana namun tetap berada dalam tatanan hukum dan ketentuan yang berlaku.
B. Saran
Meski telah mendapatkan metode kesepahaman pengelolaan kawasan dengan masyarakat namun kegiataan pemanfaatan HHBK harus senantiasa mendapatkan kontroling dan pengawasan secara periodik. Sebab perubahan pola prilaku masyarakat yang sulit diprediksi mengingat adanya cukong dan oknum yang senantiasa ingin memperoleh keuntungan besar dari hasil hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Miftahorrahman., H. Novarianto dan D. Allolerung. 1996. Identificatin of sago species and rehabilitation to increase productivity on sago (Metroxylon sp.) in Irian Jaya. Proceedings of Sixth International Sago Symposium Sago : The Future Source of food and feed. Pp 79-95. Pekanbaru Nurdjannah, N. 2007. Teknologi Pengolahan Pala. Balai Besar Penelitian Dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Karawang.
Nurrani, L. dan S. Tabba. 2011. Kearifan suku togutil dalam konservasi Taman Nasional Aketajawe di wilayah Hutan Tayawi Provinsi Maluku Utara.
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Manado. Hal (227-244).
Nurrani, L. dan S. Tabba. 2013. Persepsi dan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya alam Taman Nasional Aketajawe
26 | Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Lolobata di Provinsi Maluku Utara. Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi 30(1):227-244.
Nurrani, L., Halidah, S. Tabba dan S. N. Patandi. 2012. Karakteristik kualitatif tipe penggunaan lahan di zona peyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 1(2):227-244.
Nurrani, L., S. Tabba, S. Shabri, Y. Kafiar, H.S. Mokodompit dan R. Mamonto.
2013. Kajian Daya Dukung Hasil Hutan Bukan Kayu untuk Pengembangan Pemanfaatan Biodiversitas Secara Lestari di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Balai Penelitian Kehutanan Manado.
Laporan Hasil Penelitian (Tidak Dipublikasikan). Manado.
Oka, N.P. dan Suhartono. 2014. Keanekaragaman jenis dan sebaran tumbuhan paku (pteridophyta) di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin.
Makalah Presentasi pada Pertemuan Ilmiah Komunitas Manajemen Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Poulsen, Michael K., F.R. Lambert, dan Y. Cahyadin. 1999. Evaluasi Terhadap Usulan Taman Nasional Lalobata dan Aketajawe : dalam konteks prioritas konservasi keanekaragaman hayati di Halmahera. Kerjasama Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Bird Life International Indonesian Programme dan Loro Parque Fundacion. Bogor.
Prayitno, T.A. 2009. Peningkatan Nilai Tambah Hasil Hutan Bukan Kayu Melalui Pendekatan Teknologi. Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Rostiwati, T., Y. Lisnawati, S. Bustomi, B. Leksono, D. Wahyono, S. Pradjadinata, R. Bogidarmanti, D. Djaenudin, E. Sumadiwangsa, N. Haska. 2008. Sagu (Metroxylon spp.) sebagai Sumber Energi Bioetanol Potensial. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Litbang Hutan Tanaman. Bogor.
Sumarna, Yana. 2002. Budidaya Gaharu. PT. Niaga Swadaya. Jakarta.
Tabba, S. dan L. Nurrani. 2012. Jasa Hasil Hutan Non Kayu Daun Woka Bagi Masyarakat Sulawesi Utara. Majalah Silvika 71:227-244.
Tabba, S. dan L. Nurrani. 2014. Daya Dukung pemanfaatan getah Agathis dammara (lambert) L.rich terhadap masyarakat dan kelestarian Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Makalah Presentasi pada Pertemuan Ilmiah Komunitas Manajemen Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Yulifianti, R dan E. Ginting. 2013. Talas Wamena sebagai Bahan Baku Mie Basah.
Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang Dan Umbi. Disarikan dan Diedit oleh Eriyanto Yusnawan Ph.D. Malang.
Bioreklamasi Lahan Bekas Tambang:…….
Retno Prayudyaningsih
Bioreklamasi Lahan Bekas Tambang: “Aplikasi Fungi Mikoriza untuk Mempercepat Keberhasilan Revegetasi” 1
Retno Prayudyaningsih2
ABSTRAK
Kegiatan penambangan pada umumnya merupakan penambangan terbuka yang dilakukan melalui proses pembukaan lahan yang membersihkan seluruh vegetasi, pengikisan lapisan-lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Pada akhirnya kegiatan penambangan meninggalkan lahan dengan kondisi tanah tanpa lapisan top soil dan bahan organik. Ditinjau dari persyaratan pertumbuhan tanaman, faktor-faktor yang menjadi pembatas pada lahan tersebut adalah kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah rendah karena kandungan unsur hara tersedia rendah, tanah yang padat, suhu tanah tinggi, pH tanah yang ekstrim dan rendahnya diversitas mikroba tanah. Faktor-faktor tersebut merupakan masalah yang harus dihadapi dalam upaya pemulihan lahan bekas tambang. Salah satu alternatif untuk memulihkan unsur dan fungsi ekologi akibat kegiatan penambangan adalah melalui bioreklamasi yang memanfaatkan mikroba (fungi mikoriza). Fungi mikoriza adalah salah satu bagian komunitas mikroba yang mempunyai peran penting dalam keberhasilan pertumbuhan tanaman terutama pada kondisi lahan yang marginal seperti lahan bekas tambang. Aplikasi fungi mikoriza pada kegiatan reklamasi dapat mempercepat keberhasilan revegetasi, yang diharapkan akan mempercepat pula proses suksesi alami sehingga pada akhirnya pemulihan unsur dan fungsi ekologi akan tercapai.
Kata kunci: Lahan bekas tambang, mikoriza, revegetasi, bioreklamasi, suksesi
I. Pendahuluan
Sektor pertambangan merupakan salah satu sumber devisa bagi Indonesia. Setiap tahunnya usaha pertambangan menunjukkan
1 Makalah ini disampaikan dalam Seminar Rehabilitasi dan Restorasi Kawasan Hutan Menyongsong 50 Tahun Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado 9 Oktober 2014
2 Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16,5 Makassar, 90243, telp. (0411) 554049, fax. (0411) 554058; e-mail: [email protected]
28 | Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
pertumbuhan yang pesat. Saat ini lebih dari 1500 perusahaan pertambangan beroperasi di Indonesia (Mansur, 2011). Kegiatan penambangan umumnya dilakukan dengan cara pembukaan hutan yang dilanjutkan dengan pengikisan lapisan-lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan berupa menurunnya kualitas tanah, rusaknya habitat satwa dan hilangnya jenis-jenis flora/fauna endemik. Dengan demikian kegiatan penambangan mempunyai 2 dampak yang bertolak belakang. Dampak yang pertama adalah merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara, dan dampak yang kedua adalah kerusakan lingkungan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 tahun 2010 mengenai reklamasi dan pasca tambang dinyatakan bahwa setiap pemegang IUP (Ijin Usaha Penambangan) wajib melakukan reklamasi pada lahan bekas tambangnya. Selanjutnya sesuai Permenhut No. 4 tahun 2011 mengenai pedoman reklamasi hutan, dinyatakan bahwa kegiatan reklamasi lahan hutan bekas penambangan di antaranya adalah penataan lahan, pengisian kembali lubang di lahan-lahan bekas tambang, dan penaburan atau pengolahan top soil. Reklamasi lahan bekas penambangan dengan menimbun lahan bekas tambang menggunakan top soil dilakukan dalam rangka membentuk atau menyiapkan tapak aman sehingga mendukung perkembangan tumbuhan. Namun demikian, permasalahan timbul ketika penimbunan tidak mengunakan top soil. Hal tersebut terjadi karena jumlah material top soil tidak mencukupi kebutuhan penutupan lahan bekas tambang, sehingga penimbunan menggunakan material yang ada seperti limbah bahan galian ataupun limbah bekas olahan (tailing).
Lapisan permukaan tanah yang demikian tidak memenuhi persyaratan sebagai tapak yang mendukung kolonisasi tumbuhan dari beberapa aspek baik fisik, kimia dan biologi tanah. Secara fisik, tapak tidak mempunyai lapisan/horizon tanah yang jelas, rusaknya struktur tanah, dan terjadi pemadatan. Ditinjau dari aspek kimia, terjadi kekurangan bahan organik dan unsur hara esensial. Sedangkan dari aspek biologi, terjadi penurunan populasi dan tidak meratanya distribusi mikroba tanah.
Lahan yang mengalami kerusakan seperti lahan bekas tambang, secara alami dapat pulih melalui proses suksesi alami. Suksesi merupakan proses perubahan komunitas biotik yang saling menggantikan dan lingkungan fisik menjadi berubah selama periode waktu tertentu setelah terjadi gangguan (Krebs, 1972). Proses suksesi yang terjadi pada lahan bekas tambang merupakan suksesi primer, karena terjadi pada areal dengan permukaan
Bioreklamasi Lahan Bekas Tambang:…….
Retno Prayudyaningsih terbuka dan kekurangan bahan organik, serta belum terjadi perubahan oleh aktivitas organisme (Kimmin, 1997). Dengan demikian proses suksesi alami berjalan lambat, terlebih lagi dengan karakter lahan bekas tambang yang sangat ekstrim dan tidak mendukung perkembangan tumbuhan/komunitas biotik yang mengolonisasi lahan tersebut.
Pada sisi lain upaya kegiatan reklamasi lahan bekas tambang juga belum mencapai keberhasilan karena tidak disertai upaya untuk memperbaiki kualitas tapak sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.
Selain itu kegiatan reklamasi yang dilakukan tidak memperhatikan urutan komunitas biotiknya atau langsung menggunakan jenis-jenis tanaman dari komunitas akhir seperti mahoni, atau jati. Hal tersebut tentu saja tidak mendukung perkembangan komunitas biotik selanjutnya sehingga proses suksesi alamipun tidak berjalan dengan baik karena tidak terjadi pemulihan unsur dan fungsi ekologinya.
Salah satu alternatif untuk memulihkan unsur dan fungsi ekologi akibat kegiatan penambangan adalah melalui bioreklamasi. Bioreklamasi adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi melalui proses-proses biologi dalam kawasan hutan yang rusak akibat kegiatan penambangan agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya (Turjaman et al., 2009). Proses biologi yang dimaksud adalah memanfaatkan semaksimal mungkin kemampuan tumbuh vegetasi yang berasosiasi dengan mikroba. Menurut Weissenhorn et al. (1995), suksesi yang dipercepat dengan melibatkan mikroba dan jenis tumbuhan setempat yang terbukti cocok dengan kondisi lahan merupakan tantangan yang harus dijawab dalam mereklamasi lahan bekas tambang. Selanjutnya menurut Smith dan Read (2008), keberhasilan rekamasi lahan bergantung kepada pemahaman terhadap suksesi tanaman yang dipengaruhi oleh komponen tanah yang dinamis, misalnya bahan organik dan komunitas mikroba. Fungi mikoriza adalah salah satu bagian komunitas mikroba yang mempunyai peran penting dalam keberhasilan pertumbuhan tanaman dalam proses suksesi. Dengan demikian bioreklamasi lahan bekas tambang yang memanfaatkan fungi mikoriza untuk mempercepat keberhasilan revegetasi, diharapkan akan mempercepat pula proses suksesi alami yang terjadi sehingga pada akhirnya pemulihan fungsi ekologi akan tercapai.