DAFTAR PUSTAKA
A. Kuantifikasi Keragaan Usahatani Konservasi
Secara umum keragaan konservasi tanah di wilayah studi ditentukan oleh jenis komoditas utama yang dibudidayakan, kondisi lereng dan sifat fisik tanah (khususnya tekstur dan struktur). Fenomena ini dapat dijelaskan melalui social judgment theory (Pareira 2011). Asumsi teori tersebut adalah bahwa alternatif yang dipilih petani ditentukan oleh persepsi. Persepsi tersebut dibentuk oleh kondisi lingkungan serta pengalaman petani. Wujud aktual bentuk konservasi tanah yang diaplikasikan dilapangan menggambarkan perilaku petani.
Berdasarkan hasil inventarisasi dan pengamatan lapangan sistem usahatani di DTA Danau Tondano, dapat dibedakan dalam 3 bentuk yaitu (1) usahatani tanaman semusim berteras (hortikultura dan palawija), (2) usahatani tanaman perkebunan campuran (cengkeh+pangan+buah-buahan) dan (3) usahatani tanaman kayu-kayuan (hutan rakyat).
Hasil analisis keragaan rentang nilai keragaan maksimum bernilai 80 dan minimum bernilai 27,9. Nilai Indeks keragaan maksimum bila pada suatu unit usahatani dari aspek konservasi secara mekanis menerapkan terasering yang sesuai, pengolahan tanah minimal, dan dari aspek vegetatif/agronomis penggunaan lahan sesuai lereng (perbandingan tanaman semusim dan tanaman permanen (pohon), terdapat pengaturan tanaman yang ideal serta ada upaya pemeliharaan kesuburan tanah seperti
Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi…….
Hengki Djemie Walangitan penggunaan pupuk organik dan anorganik yang berimbang dan penggunaan mulsa alamiah.
Nilai skor minimum adalah kondisi sebaliknya, dimana usahatani yang dilakukan tanpa terasering, penggunaan lahan tidak sesuai lereng, pengaturan tanaman dalam ruang lahan tidak teratur serta tidak ada upaya pemeliharaan kesuburan tanah (pemberian mulsa dan bahan organik), walaupun terdapat penanaman pepohonan di lahan milik.
Nilai keragaan konservasi tanah selanjutnya diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan persamaan (4) yaitu keragaan Baik (Indeks
>75.96), Keragaan sedang (indeks 52 - 75.96), dan keragaan jelek (indeks < 52 ).
Tabel 3. Keragaan Konservasi Tanah Menurut Wilayah sub DTA Kategori
Selanjutnya dilakukan analisis Chi-Square untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai keragaan konservasi tanah pada setiap sub DTA.
Hasil uji Pearson Chi-Square (Tabel 4) didapatkan nilai X2 hitung > X2 tabel 4
(005) dengan probabilitas (p 0.00 < 0.05) dengan berarti bahwa terdapat perbedaan sangat signifikan tingkat persepsi masyarakat di 3 (tiga) wilayah sub DTA.
Tabel 4. Hasil analisis Chi-Square perbedaan keragaan usahatani konservasi tanah menurut wilayah sub DTA.
Statistik uji Nilai df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 28.505a 4 .000
Likelihood Ratio 27.367 4 .000
N of Valid Cases 70
a. 5 cells (55.6%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .57.
Kualitas konservasi secara mekanis dalam bentuk terasering ada hubungannya dengan jenis tanaman yang dibudidayakan, kondisi lereng, tekstur dan kedalaman tanah. DTA Selatan didominasi tanah tekstur lempung berpasir dengan kedalaman tanah >100 cm dengan lereng landai hingga agak curam, sangat cocok untuk budidaya tanaman palawija dan
72| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
hortikultura. Petani di sub DTA Selatan telah menerapkan sistem terasering guludan kategori cukup baik pada usahatani palawija (jagung dan kacang-kacangan) demikian juga pada usahatani hortikultura.
Sebaliknya di DTA Barat lahan berlereng didominasi oleh tekstur tanah liat berbatu halus sampai kasar. Kondisi fisik tanah tersebut membatasi pilihan jenis tanaman yang dibudidayakan serta memiliki kendala dalam mengembangkan sistem teras yang lebih baik. Tanaman yang banyak dibudidayakan di DTA Barat adalah jagung dan kacang tanah dengan sistem terasering sederhana dengan kategori jelek.
Gambar 18. Perbedaan keragaan usahatani konservasi pada setiap wilayah Sub DTA
Unsur pohon sebagai tanaman permanen merupakan komponen penting dalam sistem usahatani konservasi karena berpengaruh pada proses biofisik dan biokimia tanah dan sangat menentukan kesehatan tanah (Subhrenduand Mercer, 1996). Keputusan petani menanam pohon memiliki tujuan sederhana. Umumnya berorientasi pada tujuan ekonomi, estetika dan tujuan lingkungan (pengendalian erosi dan peneduh). Di sub DTA bagian barat, pohon ditanam sebagai tanaman tepi dan sebagian besar adalah ditanam untuk kebutuhan kayu bakar seperti gamal (Glirisidia sp.) dan jeunjing (Caliandra sp.), sedangkan di sub DTA Selatan, pohon ditanam lebih teratur baik sebagai pohon peneduh, penyubur tanah juga untuk tujuan ekonomi yaitu untuk kayu bangunan dan kayu bakar. Sebaliknya di sub DTA Timur, pohon untuk penghasil kayu perkakas seperti nantu (Palaqium sp.) dan cempaka (Magnolia campaca) sebagian besar ditanam sebagai sisipan di antara tanaman cengkeh atau dalam bentuk hutan tanaman monokultur (hutan rakyat).
Penanaman pohon sebagai bagian dari sistem usahatani yang bertujuan agar kesuburan tanah tetap terjaga telah dipahami secara baik oleh petani hortikultura di DTA Selatan khususnya di daerah lahan kering
Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi…….
Hengki Djemie Walangitan berlereng (Desa Tumaratas, Toure dan Noongan). Berdasarkan hasil wawancara petani secara sengaja menanam pohon kanonang (Cordia blancoi) diantara tanaman hortikultura (tomat) untuk tujuan peneduh sekaligus konservasi tanah khususnya terkait dengan bahan organik tanah.
Pohon kanonang pada dasarnya memiliki kualitas kayu yang tidak cocok untuk dijadikan bahan bangunan, namun tumbuh subur dan tahan pangkas. Pohon tersebut ditanam dengan jarak sekitar 10 x 10 m dan pada saat telah tumbuh dipangkas secara periodik mengikuti pola rotasi tanam.
Pada saat tanaman akan diolah kembali untuk penanaman pada rotasi berikutnya pohon tersebut dipangkas dan hasil pangkasan dibiarkan selama beberapa hari hingga daun rotok kemudian kayunya diambil sebagai kayu bakar.
Inovasi agroteknologi petani di DTA selatan tergolong maju, tingkat adopsi teknologi produksi pertanian terlihat dari penggunaan pupuk anorganik dan organik yang diaplikasikan lewat daun, penggunaan pestisida, herbisida serta teknik konservasi tanah sistem teras dengan konstruksi tergolong baik. Bahkan petani melakukan eksperimen untuk mencoba hal-hal baru (mencampur berbagai pupuk yang tidak direkomendasikan secara umum) untuk mendapatkan produksi tertinggi walaupun secara ekonomi merugikan. Sebaliknya di DTA Timur dan Barat inovasi teknologi relatif lambat dilihat dari jenis komoditas yang terbatas pada budidaya tanaman jagung dan cengkeh yang merupakan komoditas tradisional di wilayah tersebut.
Pilihan jenis pohon yang ditanam dalam kaitan dengan rehabilitasi lahan di DTA Danau Tondano juga dipengaruhi oleh aspek sosial budaya.
Walangitan (2007) melakukan wawancara terhadap 250 responden dalam rangka monitoring dan evaluasi aspek sosial ekonomi dan budaya pengelolaan DAS Tondano. Hasil survey (Tabel 5), diperoleh informasi bahwa tanaman yang paling disukai petani sebagai pohon penghijauan adalah cempaka (Magnolia campaca) yaitu sebesar 45,16 % dari responden, diikuti tanaman mahoni (Switenia macrophyla) sebesar 29,03 % dan nantu (Palaqium sp.) sebesar 11,69 %.
Tabel 5. Jenis-jenis pohon yang disukai masyarakat untuk kegiatan penghijauan dan reboisasi di DAS Tondano
Jenis Pohon Jumlah responden Persentase (%)
Cempaka (M. campaca) 112 45,16
Mahoni (S. macrophllya) 72 29,03
Nantu (Palaqium sp.) 29 11,69
74| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Jenis Pohon Jumlah responden Persentase (%)
Buah-buahan 21 8,67
Rotan (Calamus sp.) 1 0,40
Aren (Arenga pinnata) 2 0,80
Jati (Tectona grandis) 3 1,20
Jenis lainnya 9 3,62
Jumlah 248 100
Penerapan usahatani konservasi dengan teras guludan dengan kualitas sedang sampai baik , dijumpai pada usahatani hortikultura di Kecamatan Langowan dan Tompaso (sub DTA bagian Selatan). Lahan dengan kemiringan lereng > 25 % ditanami sayur-sayuran dan bedengannya dibuat searah kontur dengan lebar bedeng bervariasi tergantung kemiringan lahan.
Namun demikian, aplikasi terasering tersebut belum dilengkapi dengan saluran pembuangan, sehingga erosi dan runoff yang terjadi masih cukup besar.
Teras tradisional adalah bentuk teras paling umum diaplikasikan petani terutama dalam usahatani jagung pada lereng > 8 %. Bentuk teras sederhana terbentuk karena pengolahan tanah yang menggunakan cangkul rumput ditimbun membentuk teras searah garis kontur dengan jarak 50-75 cm atau dengan membajak searah garis kontur sehingga membentuk terasering sederhana. Tanaman jagung ditanam di antara barisan teras tersebut dan pada saat penyiangan guludan tersebut dipindahkan sebagai bumbunan di bawah barisan tanaman jagung.
Kebiasaan jenis alat pertanian yang digunakan diduga mempengaruhi bentuk teras. Petani di DTA Selatan menggunakan tembilang (sekop) dalam mengolah tanah dan merupakan ciri khas petani di wilayah Selatan.
Sebaliknya petani di wilayah DTA Timur dan sub DTA Barat menggunakan cangkul. Perbedaan alat yang digunakan berimplikasi pada cara mengolah tanah. Husain dkk. (2006) melaporkan bahwa cara pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul dalam pembuatan teras pada usahatani hortikultura di areal model mikro DAS Rurukan mengakibatkan terjadi tillage erosion yaitu tanah bagian lereng atas suatu unit usahatani berpindah ke bagian bawah. Dengan demikian permukaan tanah di lereng bagian atas mengalami degradasi baik fisik maupun kimia tanah.
Penggunaan tembilang (sekop) sebagai alat pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman hortikultura oleh petani di DTA Selatan tidak menyebabkan tillage erosion karena tanah hanya di bolak-balik pada areal
Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi…….
Hengki Djemie Walangitan olah. Hasil wawancara diperoleh informasi bahwa petani sadar bahwa sisa tanaman dan gulma bila telah dibenamkan akan menjadi sumber hara dan dapat mempertahankan kesuburan tanah. Praktek sistem usahatani konservasi tersebut menguntungkan baik dalam pengendalian erosi, juga dalam pengelolaan bahan organik tanah yang berasal dari humifikasi gulma yang dibenamkan dalam tanah pada saat pemeliharaan tanaman.
Hasil wawancara diperoleh informasi bahwa menunjukkan bahwa 98 % responden sudah mengaplikasikan sistem terasering dalam sistem usahatani. Teras tradisional umumnya diaplikasikan pada usahatani jagung.
Bentuk teras tersebut dijumpai pada lahan datar hingga curam. Sedangkan teras guludan diaplikasikan pada usahatani sayuran serta usahatani kacang tanah.
Tabel 6. Hasil wawancara bentuk konservasi tanah secara mekanis diaplikasikan responden Di DTA Danau Tondano
Bentuk Konservasi tanah mekanis Jumlah responden Persentase (%)
Teras Tradisional 68 70.10
Teras Bangku 4 4.12
Terasering guludan 23 23.71
Tanpa teras 2 2.00
Jumlah 97 100
Sumber : Hasil survey 2011
B. Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Keragaan