DAFTAR PUSTAKA
B. Korelasi Indeks Nilai Penting dengan Biomasa
Analisis korelasi merupakan salah satu metode untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua peubah, besarnya diukur dengan sebuah bilangan yang disebut koefisien korelasi (r). Nilai koefisien korelasi ini berkisar antara 1 sampai 1, yang diartikan apabila nilai r mendekati 1 atau -1, dapat dikatakan hubungan antara dua peubah tersebut semakin kuat.
Sedangkan bila r mendekati 0, maka hubungan antara dua peubah semakin lemah. Koefisien positif atau negatif menunjukkan hubungan searah (bila X naik maka Y naik) dan terbalik (bila X naik maka Y turun) antara dua peubah (Walpole, 1982).
Hasil analisis korelasi antara INP dengan biomasa pohon menunjukkan INP berpengaruh nyata terhadap nilai biomasa (taraf nyata 0,01) dengan nilai korelasi sebesar 0,752 seperti tertera dalam Gambar 1 dan Tabel 3. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara INP dengan biomasa yang bernilai positif, yang berarti peningkatan INP sebanding dengan biomasa. Pada Gambar 1 terlihat sebagian besar data terkelompok di kiri bawah dan beberapa data terpencar menjauhi garis imajiner.
Sedangkan garis imajiner bernilai positif dengan kemiringan dari sudut kiri bawah ke kanan atas, yang berarti INP berasosiasi positif terhadap biomasa pohon.
122| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Gambar 1. Diagram pencar korelasi antara INP dengan biomasa pohon Meskipun menurut hasil perhitungan, pohon dengan INP dan biomasa tertinggi merupakan jenis berbeda. Lebih lanjut dapat ditelaah dari persamaan untuk menghitung biomasa pohon dan INP. Biomasa pohon dihitung menggunakan persamaan Brown (1997) , di mana Y adalah biomasa per pohon (kg) dan D merupakan diameter setinggi dada (cm). Sedangkan INP merupakan penjumlahan dari Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR).
Kerapatan menunjukkan jumlah individu yang ditemukan, frekuensi menunjukkan intensitas ditemukannya suatu jenis atau penyebaran jenis tersebut dan dominansi menunjukkan dominansi suatu jenis terhadap komunitas yang diamati.
Dari persamaan untuk menghitung INP dan biomasa pohon terdapat satu data yang sama, yaitu data diameter pohon. Dalam perhitungan INP, peubah diameter digunakan untuk menghitung dominansi dari luas bidang dasar (basal area) dengan persamaan . Penyusunan ulang data dengan mengurutkan DR dari nilai terbesar hingga terkecil
20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00
Biomasa (ton/ha)
INP (%)
Rata-rata biomasa (ton/ha)
Korelasi Indeks Nilai Penting terhadap Biomasa Pohon Nurlita Indah Wahyuni menunjukkan beberapa pohon memiliki DR yang berbanding lurus dengan INP dan biomasa. Jenis-jenis pohon tersebut antara lain Alangium javanicum, Meliosma nitida, Calophyllum soulattri, Myristica fatua dan Ardisia villosa.
Tabel 3. Korelasi Indeks Nilai Penting (INP) dengan biomasa pohon
INP Biomass
Spearman's rho INP Correlation Coefficient 1.000 .752**
Sig. (2-tailed) . .000
N 58 58
Biomass Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Total biomassa dan stok karbon yang tersimpan dalam ekosistem hutan sangat bervariasi di antara tipe dan kondisi hutan. Hasil kajian yang dilakukan oleh Krisnawati dkk (2012) menyebutkan pool karbon pada biomassa di atas permukaan tanah merepresentasikan proporsi terbesar dari total stok karbon, yaitu antara 53,6 % sampai dengan 70,6 %. Sedangkan pohon (DBH ≥ 10 cm) merupakan komponen yang memberikan kontribusi stok karbon terbesar
pada ekosistem hutan, yaitu dari 44 % sampai 65 %. Bervariasinya proporsi ini mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan komposisi jenis yang berkorelasi erat dengan kerapatan kayu, khususnya kerapatan kayu pohon-pohon besar dengan volume kayu yang besar.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Hasil analisis vegetasi menunjukkan jenis pohon dengan INP tertinggi sebesar 29,34 % adalah Alangium javanicum. Sedangkan jenis pohon dengan rata-rata biomasa terbesar adalah Calophyllum soulattri dengan biomasa sebesar 96,53 ton/ha. Analisis korelasi dengan taraf nyata 0,01 menunjukkan bahwa INP berpengaruh nyata terhadap nilai biomasa dengan nilai korelasi sebesar 0,752. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara INP dengan biomasa yang bernilai positif, yang berarti peningkatan INP sebanding dengan biomasa. Terdapat satu peubah yaitu diameter pohon yang sama-sama digunakan untuk menghitung biomasa dan
124| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
dominansi dalam INP. Sehingga besar biomasa secara tidak langsung berkorelasi dengan dominansi jenis pohon tersebut.
B. Saran
Kajian ini hanya dilakukan pada tingkat pohon yang berada pada tegakan hutan alam di SPTN III Maelang TN Bogani Nani Wartabone. Hasil analisis korelasi mungkin akan berbeda bila dilakukan kajian pada lokasi dan jenis tegakan yang lain serta penggunaan persamaan alometrik yang berbeda. Sedangkan untuk mengetahui struktur dan komposisi tumbuhan perlu dilakukan analisis vegetasi pada tiap fase pertumbuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. 2011. Standar Nasional Indonesia 7724:2011 tentang pengukuran dan penghitungan cadangan karbon – pengukuran lapangan untuk penaksiran cadangan karbon hutan (ground based forest carbon accounting)
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. 2006. Revisi Zonasi Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
Brown, S. 1997. Estimating biomass and biomass change of tropical forests: a Primer. FAO Forestry Paper – 134. FAO, Rome.
Hairiah K., S. Rahayu. 2007. Pengukuran „Karbon Tersimpan‟ di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor. World Agroforestry Centre – ICRAF, SEA Regional Office, University of Brawijaya, Indonesia. 77 p.
Irawan, A. 2011. Keterkaitan struktur dan komposisi vegetasi terhadap keberadaan anoa di kompleks Gunung Poniki Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara. Info Balai Penelitian Kehutanan Manado 1(1). Manado Krisnawati, H., W.C. Adinugroho, R. Imanuddin, dan S. Hutabarat. 2014. Pendugaan
Biomassa Hutan untuk Perhitungan Emisi CO2 di Kalimantan Tengah:
Pendekatan komprehensif dalam penentuan faktor emisi karbon hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Badan Penelitian dan Pengembangan.
Kehutanan, Bogor, Indonesia. Ruslandi. 2012. Penyempurnaan National Forest Inventory untuk Inventarisasi Stok dan Estimasi Emisi Karbon Hutan Tingkat Provinsi. Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, UN-REDD, FAO, UNDP dan UNEP. Jakarta.
Simon, H. 2007. Metode Inventore Hutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Sutaryo, D. 2009. Penghitungan biomasa: sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon. Wetlands International Indonesia Programme. Bogor.
Walpole, R.E. 1982. Pengantar Statistika Edisi ke-3. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Taksiran Genetik Pertumbuhan Uji Keturunan Nyatoh…
Jafred E. Halawane dan julianus Kinho
Taksiran Genetik Pertumbuhan Uji Keturunan Nyatoh (
Palaquium obtusifolium
Burck) Umur 6 Bulandi Bitung, Sulawesi Utara1
Jafred E. Halawane dan Julianus Kinho2
ABSTRAK
Nyatoh (Palaquium obtusifolium Burck) adalah salah satu jenis tanaman asli Indonesia bernilai ekonomi dan memiliki berbagi kegunaan. Jenis ini sudah banyak dikembangkan oleh masyarakat, namun sampai saat ini penggunaan benih berkualitas masih sangat minim sehingga tegakan yang dihasilkan memiliki produktivitas dan kualitas yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui taksiran awal parameter genetik sifat pertumbuhan tinggi dan diameter dari tanaman uji keturunan nyatoh di Hutan Penelitian Batuangus. Objek penelitian ini adalah tanaman uji keturunan nyatoh umur 6 bulan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Berblok yang terdiri atas 45 famili, 5 tree plot dan 5 blok. Jarak tanam yang digunakan 4 x 5 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara genetik faktor famili berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman nyatoh umur 6 bulan, taksiran nilai heritabilitas famili (h²f) pertumbuhan tinggi adalah 0,54 dan diameter 0,47. Taksiran nilai heritabilitas individu (h²i) pertumbuhan tinggi 0,28 dan diameter 0,21.
Korelasi genetik (rG) antara sifat pertumbuhan tinggi dan diameter adalah 0,74 dan korelasi fenotipe (rP) adalah 0,72.
Kata kunci : nyatoh, uji keturunan, heritabilitas dan korelasi genetik.
I. PENDAHULUAN
Nyatoh (Palaquium obtusifolium Burck) adalah salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang tumbuh pada tanah berawa dan pada tanah kering dengan ketinggian 20 - 500 m dpl. Jenis ini termasuk dalam famili Sapotaceae dan memiliki daerah sebaran di seluruh Indonesia. Kayu nyatoh dikenal dengan berbagai nama yang berbeda-beda di berbagai daerah di
1 Makalah ini disampaikan dalam Seminar Rehabilitasi dan Restorasi Kawasan Hutan Menyongsong 50 Tahun Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado 9 Oktober 2014
2Balai Penelitian Kehutanan Manado; Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas Kec. Mapanget, Manado, 95259, Sulawesi Utara. Tel. +62-431-3666683; Email : [email protected]
126| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
Indonesia seperti: balam, bengku, sau payo (Sumatera); Getah perca, jengkot, kawang dan tanjungan (Jawa); katiau, margetahan (Kalimantan);
nantu, kume, nato, sodu-sodu (Sulawesi); Siki, gofiri, arupa (Maluku) dan maneo keaaf (Nusa tenggara) Martawijaya dkk. (2005).
Nyatoh termasuk dalam klasifikasi klas kuat II dan klas awet IV sampai V, (Martawijaya dkk., 2005). Kayu nyatoh banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti: bahan baku konstruksi, papan, lantai dan panel. Menurut Mandang dan Suhendra (2003), kayu nyatoh dapat dijadikan alternatif bahan pembuatan pensil yang cukup potensial. Secara umum kayu nyatoh juga digunakan sebagai bahan veneer, meubelair, kertas bungkus (kraft paper) dan bahan konstruksi rumah (Samingan, 1982). Kayu nyatoh di Sulawesi Utara banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan rumah adat minahasa yang dikenal dengan sebutan rumah Woloan.
Pemenuhan kebutuhan kayu untuk pembuatan rumah Woloan sampai saat ini tidak hanya berasal dari hutan-hutan alam yang tersebar di Sulawesi Utara, tapi juga berasal dari hutan-hutan rakyat yang dikembangkan oleh masyarakat. Tegakan nyatoh banyak ditemukan hampir pada setiap hutan rakyat, kebun campuran dan hutan keluarga (hutan pasini) di kabupaten Minahasa Utara (Kema), Kabupaten Minahasa (Kaima, Kapataran, Tondano), Kabupaten Minahasa Selatan (Tareran, Kapoya), Kabupaten Bolaang Mongondow (Bantik, Otam), dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Molibagu). Namun demikian, sampai saat ini produktivitas kayu nyatoh yang berasal dari hutan alam dan hutan tanaman masih belum dapat mencukupi kebutuhan kayu untuk rumah Woloan secara khusus dan permintaan masyarakat di pasaran pada umumnya. Hal ini disebabkan karena permintaan kayu di pasaran dan permintaan kayu bagi industri rumah Woloan yang terus mengalami peningkatan, sementara potensi kayu nyatoh di hutan alam terus mengalami penurunan dan benih yang digunakan selama ini untuk mendukung tindakan budidaya lewat pembangunan hutan tanaman masih bersumber dari tegakan benih teridentifikasi, bahkan sebagian besar masih berasal dari hutan rakyat atau hutan alam yang kurang berkualitas sehingga produktivitas tegakan yang dihasilkan juga rendah.
Demplot kebun benih nyatoh yang telah dibangun merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka menyediakan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas hutan tanaman nyatoh yang akan dibangun.
Penggunaan benih unggul terutama benih hasil pemuliaan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman nyatoh. Menurut Zobel dan Talbert
Taksiran Genetik Pertumbuhan Uji Keturunan Nyatoh…
Jafred E. Halawane dan julianus Kinho (1984) menyebutkan bahwa kegiatan pemuliaan bertujuan untuk memaksimalkan perolehan genetik untuk sifat-sifat tertentu seperti persentase hidup tanaman, kecepatan pertumbuhan, bentuk batang, kemampuan adaptabilitas dan sifat-sifat lain yang diinginkan. Salah satu kegiatan pemuliaan yang dapat dilakukan adalah melalui uji keturunan yang selanjutnya diharapkan dapat dikonversi menjadi Kebun Benih Semai (KBS).
Dalam upaya tersebut, Balai Penelitian Kehutanan Manado pada tahun 2012 telah membangun uji keturunan nyatoh di Hutan Penelitian Batuangus, Bitung, Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui taksiran awal parameter genetik sifat pertumbuhan tinggi dan diameter dari tanaman uji keturunan nyatoh yang telah dibangun.
II. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan sejak Desember 2012 sampai Juni 2013 di Hutan Penelitian Batuangus, Kelurahan Kasawari, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung Sulawesi Utara seluas 2,5 ha.