• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah

DAFTAR PUSTAKA

G. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah

Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu, menyeluruh, fleksibel, efisien, dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola DAS secara berkelanjutan masih lemah . Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar wilayah adalah :

1. Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan

Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional.

Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial.

Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir, dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya.

Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan DAS…….

Kristian Mairi, Iwanuddin dan Isdomo Yuliantoro Masalah ketidakmerataan dan ketidakefisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik.

Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait, sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi, ekologis, dan sosial budaya. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing.

Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA, sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil.

Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2, UU No. 22/1999).

Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah, maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Provinsi.

Apabila kerjasama antar Provinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. Kewenangan provinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota, maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Provinsi.

58| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014 2. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat

Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : a. Adanya Undang-undang, keputusan presiden, atau produk hukum lainnya

yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan.

b. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah c. Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan

dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan.

Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam, seperti lahan, air, udara, mineral, hutan dan lanskap alam. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan.

Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan, penguasaan, pengusahaan, pemeliharaan, perlindungan, rehabilitasi, pemberian sanksi, penyelesaian konflik dan sebagainya, dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS.

3. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS.

Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks, rumit, dan abstrak yang mencakup ideologi, hukum, adat istiadat, aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, institusi adalah

Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan DAS…….

Kristian Mairi, Iwanuddin dan Isdomo Yuliantoro instrumen yang mengatur antar individu. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo et al., 2000).

Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya, batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya, dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya, apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya.

Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, bahkan Thailand.

Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan, sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada.

Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program; seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda.

Duplikasi program akan menyebabkan ketidakefisienan anggaran berupa pemborosan dan mark-up, ketidaksinambungan pembinaan program, serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan

60| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014

prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik, sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. Prinsip one riverone plan belum diimplementasikan secara menyeluruh.

4. Meningkatkan Kualitas SDM

Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan di seluruh daerah otonom.

Kemampuan petani, perencana pengelolaan DAS, pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan.

Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. Para penyuluh pun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Pejabat yang berwenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS.

Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Bentuk kelembagaan yang paling sesuai dalam pengelolaan DAS lintas kabupaten saat ini adalah kelembagaan kolaboratif baik itu berupa Forum DAS atau Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS (LK-PDAS).

Anggota lembaga ini adalah pimpinan instansi di daerah/SKPD.

Lembaga ini bersifat non struktural dan bertanggung jawab langsung ke Gubernur sebagai pemegang otoritas kebijakan. Forum DAS/LK-PDAS berfungsi sebagai wadah komunikasi, konsultasi dan koordinasi antar para pihak terkait untuk membantu Gubernur merumuskan kebijakan pengelolaan DAS lintas kabupaten.

2. Forum/Lembaga Koordinasi DAS bukan lembaga eksekutif pengelolaan DAS karena pelaksanaan pengelolaan DAS tetap dilakukan oleh lembaga atau instansi teknis kementerian dan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) sesuai kewenangan dan tupoksinya masing-masing.

Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan DAS…….

Kristian Mairi, Iwanuddin dan Isdomo Yuliantoro 3. Perencanaan pengelolaan DAS terpadu yang telah disusun harus masuk

dalam tahapan dan mekanisme penyusunan rencana pembangunan nasional sesuai dengan UU. No.25 tahun 2004 yaitu melalui MUSRENBANGDA.

4. Program pengelolaan DAS terpadu mau tidak mau harus masuk dalam program pembangunan nasional jangka panjang dan menengah (RPJP

& RPJM) sehingga dapat dijalankan di level kabupaten maupun provinsi (sikron dengan RKPD) dan disyahkan oleh pejabat yang berotoritas tinggi agar mendapat legitimasi yang kuat dan dapat diikuti instansi SKPD dan instansi vertikal kementerian teknis.

5. Optimalisasi peran dan fungsi Forum DAS atau LK-PDAS sangat ditentukan oleh dukungan intansi pemerintah terutama soal kebijakan dan pendanaannya.

6. Sumber perdanaan pengelolan DAS terpadu untuk SKPD adalah APBD dan dana tugas pembantuan dari pusat berupa DAK serta pihak ketiga/lembaga donor, sedangkan UPT kementerian bersumber dari APBN.

7. Semua sumber pendanaan untuk pengelolaan DAS dikoordinasikan melalui forum DAS atau LK-PDAS untuk mensinkronkan dengan kegiatan agar prinsip one river, one plan, multi manajemen bisa terealisasi.

8. Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA; (b) membangun sistem legislasi yang kuat;

dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training).

B. Saran

1. Keterpaduan pengelolaan DAS akan jelas terlihat bila program dan perencanaan pengelolaan DAS terpadu dapat diimplementasikan ditingkat tapak. Untuk itu dukungan penganggaran yang jelas dan kontinyu dari institusi yang terlibat merupakan kebutuhan mutlak sebagai motor penggerak kelembagaan pengelolaan DAS terpadu.

2. Perlu ada suatu pilot project implementasi pengelolaan DAS terpadu dimana dalam satu DAS prioritas tertentu semua unsur terkait terlibat melaksanakan kegiatan pengelolaan DAS secara bersama-sama sesuai

62| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014

dengan tupoksi dan rencana kerjanya dalam satu bingkai rencana untuk membuktikan sejauh mana keterpaduan seperti dalam konsep pengelolaan DAS terpadu dapat diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bryson, J,M. 2003. ”what to do when stakeholder matter; a guide to stakeholder identification and analysis techniques. University of minnoseta

Kementerian Kehutanan. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ditjen RLPS Dit. RLKT.

Kementerian Kehutanan –a. 2001. Eksekuitf. Data Strategis Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan. Jakarta.

Kementerian Kehutanan –b. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. DitJen. RLPS. Dit. RLKT. Jakarta.

Kementerian Kehutanan dan Perkebunan RI. 2000. Pedoman Survey Sosial Ekonomi Kehutanan Indonesia (PSSEKI). P2SE. Bogor

Kartodihardjo, H., K. Murtilaksono, H.S. Pasaribu, U. Sudadi, dan N. Nuryantono.

2000. Kajian Institusi Pengelolaan DAS danKonservasi Tanah. K3SB. Bogor.

Kartodihardjo, H., K. Murtilaksono, dan U. Sudadi. 2004. Institusi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Konsep dan Pengantar Analisis Kebijakan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Kerr, John. 2007. “Watershed management; Lessons from common property theory”.

International Journal of The Commons 1(1):89-109. publisher: Igitur Utrecht Publishing & Archiving Services For IASC.

Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri; Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum, No.19 tahun 1984 – No.059/Kpts-II/1984 – No.124/Kpts/1984 tanggal 4 April 1984, tentang Penanganan Konservasi Tanah dalam Rangka Pengamanan Daerah Aliran Sungai Prioritas.

Yudono, H. dan Iwanuddin. 2008. Kelembagaan dan nilai air DAS: Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini (Pengalaman dari Sub DAS Mararin, DAS Saddang, Tana Toraja). Prosiding Penelitian Puslit Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi…….

Hengki Djemie Walangitan

Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah ( RLKT ) Berbasis Perilaku Petani

(Studi Kasus RLKT pada Lahan Kering Berlereng di DTA Tondano)1

Hengki Djemie Walangitan2

ABSTRAK

Perilaku petani sebagai faktor non ekonomi seringkali diabaikan dalam perumusan kebijakan akibatnya program rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) tidak sepenuhnya diadopsi dan terimplementasi secara berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan keragaan usahatani konservasi serta menganalisis kebijakan RLKT yang bersesuaian dengan perilaku petani di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Tondano. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77 % keragaan usahatani konservasi di DTA Danau Tondano tergolong kategori sedang hingga baik.

Keragaan tersebut dipengaruhi oleh faktor umur, persepsi, dan luas aset lahan kering dan sawah yang dikuasai. Keragaan konservasi tanah juga berbeda secara signifikan antar wilayah sub DTA. Berdasarkan analisis perilaku tersebut maka strategi perbaikan kualitas konservasi tanah dilakukan dengan pendekatan sub DTA sebagai berikut : (1) sub DTA bagian timur adalah pengembangan sistem agroforestry tertata dengan tanaman cengkeh sebagai komoditas basis, (2) di sub DTA bagian barat adalah pengembangan sistem usahatani konservasi berbasis pangan dan ternak sapi (jagung-strip rumput hijauan ternak), dan (3) di sub DTA selatan dirancang dalam sistem agroforestry basis tanaman hortikultura. Penanaman pohon penghasil serasah/bahan organik untuk menjamin kesehatan tanah dalam jangka panjang.

Kata kunci: perilaku, keragaan, agroforestry

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano memiliki peran vital dan strategis bagi perekonomian wilayah. Fungsi ekonomi dan ekologis tersebut telah memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara, melalui manfaat langsung (tangible) dan tidak langsung

1 Makalah ini disampaikan dalam Seminar Rehabilitasi dan Restorasi Kawasan Hutan Menyongsong 50 Tahun Sulawesi Utara, diselenggarakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manado, Manado 9 Oktober 2014.

2 Program Studi Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Unsrat Manado; Jln. Kampus Unsrat Kleak Manado 95115 phone 0431-862768 fax 0431-86278; Email: hengki [email protected].

64| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014

(intangible). Kebijakan pemerintah untuk mempertahankan eksistensi ekosistem DAS Tondano khususnya pada wilayah DTA Danau Tondano dilakukan dengan menetapkan DAS Tondano sebagai satu diantara 22 DAS prioritas di Indonesia pada Tahun 1984, selanjutnya pada tahun 2012 pemerintah mempertegas status DAS Tondano sebagai DAS strategis nasional.

Upaya pengelolaan DAS Tondano telah dimulai jauh sebelum negara Indonesia merdeka yaitu melalui kegiatan relokasi penduduk di sekitar danau ke wilayah baru dalam program kolonisasi sekitar tahun 1930-an.

Rehabilitasi lahan telah dilakukan sejak Repelita I, melalui program penyelamatan tanah dan air (Inpres Reboisasi dan Penghijauan Tahun 1976–1998) hingga program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) tahun 2003–2009. Realisasi program GNRHL di wilayah DAS Tondano sejak tahun 2003 hingga tahun 2005 meliputi 93 lokasi hutan rakyat dan 37 lokasi reboisasi (BPDAS Tondano, 2008).

Sasaran rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada kawasan budidaya DAS Tondano tercantum dalam dokumen Rencana Pengelolaan DAS Terpadu (RPDAST) Tahun 2008 adalah sebagai berikut : (1) memperbaiki kualitas lahan (kesuburan biologis dan kimia) dalam mendukung produktivitas pertanian berkelanjutan, (2) menurunnya laju erosi tanah pada lahan pertanian hingga pada kategori sangat ringan, (3) meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam upaya mengimplementasikan konservasi dan rehabilitasi lahan dalam sistem usaha tani, dan (4) terwujudnya sistem pemanfaatan lahan pertanian berdasarkan kemampuan lahan untuk mendukung pemanfaatan lahan yang lestari (BPDAS Tondano, 2008).

Lebih lanjut diuraikan bahwa kebijakan yang berkaitan dengan konservasi tanah dan air dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan DAS terpadu adalah sebagai berikut : (1) mengintegrasikan sistem konservasi tanah dan air dalam program revitalisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah, (2) mengembangkan sistem usahatani ramah lingkungan seperti pertanian organik dan usahatani konservasi, (3) revitalisasi peran penyuluh pertanian, (4) membatasi konversi lahan pertanian produktif untuk tujuan non produksi pertanian, dan (5) menciptakan nilai tambah produk pertanian dengan mengembangkan industri-industri yang berbasis hasil pertanian.

Menurut Soemarno (2004), terdapat dua sub sistem yang harus dipelajari dalam rangka pengembangan kebijakan RLKT secara

Pengembangan Kebijakan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi…….

Hengki Djemie Walangitan berkelanjutan yaitu : (a) sosio-sistem, ditelusuri melalui pola hidup masyarakat, tingkat pengetahuan dan pendidikan, kesehatan, pendapatan perkapita dan tingkat kepedulian terhadap potensi sumberdaya alam dan lingkungannya, serta (b) tekno-sistem, ditelusuri berdasarkan aspek penggunaan tanah baik untuk penerapan teknologi budidaya, industri, maupun pemanfaatan lainnya yang erat kaitannya dengan konservasi tanah.

Kebijakan yang tepat untuk mendorong terimplementasinya konservasi tanah pada tingkat usahatani secara berkesinambungan, hanya dapat dikembangkan jika didukung oleh informasi yang lengkap terutama berkaitan dengan perilaku sosial ekonomi dan budaya konservasi masyarakat suatu wilayah. Pagiola (1998) mengatakan bahwa tanpa pemahaman yang jelas mengenai alasan petani mengadopsi konservasi tanah dalam sistem penggunaan lahan tidak mungkin membuat kebijakan yang tepat bagi terlaksananya sistem usahatani konservasi secara berkelanjutan.

Perilaku petani sebagai faktor non ekonomi dalam farming sistem telah menjadi bahan kajian yang menarik pada beberapa tahun terakhir. Hal ini terkait dengan fenomena adanya perbedaan yang sangat mencolok produktivitas lahan antara negara maju dan negara berkembang. Demikian juga dalam konteks lokal, sering dijumpai perbedaan produktivitas dan kesejahteraan petani pada suatu agroekosistem yang sama. Kajian perilaku usahatani konservasi berkaitan dengan apa yang dilakukan pada masa lalu, masa sekarang dan apa yang mereka rencanakan untuk dilakukan pada masa yang akan datang. Menurut Silalahi (2010) kajian perilaku mempertanyakan siapa mengerjakan apa, kapan, dimana dan mengapa.

Wujud aktual sistem usahatani termasuk teknik konservasi tanah yang diterapkan petani pada suatu wilayah dan waktu tertentu dapat menjadi gambaran perilaku petani.

Studi keragaan usahatani konservasi sebagai potret perilaku petani umumnya menggunakan pendekatan logit atau probit (Pereira, 2010).

Model logit dan probit pada prinsipnya hanya menilai keragaan konservasi tanah dengan melihat apakah petani mengadopsi atau tidak mengadopsi (adopters or non-adopters) terutama teknik konservasi mekanis. Pada kenyataannya berbagai penelitian menyimpulkan bahwa tingkat adopsi teknologi konservasi sangat bervariasi baik mekanis maupun vegetatif. Oleh sebab itu penilaian tingkat adopsi harusnya yang mencakup semua parameter konservasi tanah dalam model intensitas adopsi yang dinyatakan

66| Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014

dalam bentuk nilai indeks keragaan tidak hanya dalam model logit dan probit.

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi keragaan usahatani konservasi pada lahan kering berlereng di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Tondano sebagai wujud aktual perilaku petani dan menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan perbaikan kualitas konservasi tanah dan air untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan.