DAFTAR PUSTAKA
A. Pemanfaatan HHBK Oleh Masyarakat 1. Pengolahan Sagu
Sagu (Metroxylon sagoo) merupakan potensi HHBK yang menjadi primadona masyarakat Maluku sejak dahulu kala. Olahan makanan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat dari bahan dasar sagu antara lain popeda, roti sagu (sagu lempeng) dan berbagai jenis penganan tradisional Maluku Utara. Sagu menjadi bahan makanan pokok masyarakat Maluku Utara terutama bagi mereka yang bermukim di wilayah pedesaan. Menurut masyarakat bahwa meski mengkonsumsi banyak nasi namun hal tersebut tidak akan mengeyangkan seperti halnya ketika mengkonsumsi makanan dari olahan sagu. Jika tidak mengkonsumsi sagu masyarakat merasa tidak memiliki energi cukup untuk beraktivitas dan terasa lebih cepat lelah serta lemas ketika sedang bekerja. Dengan kata lain energi yang dihasilkan dari mengkonsumsi sagu lebih tinggi dibandingkan dengan bahan karbohidrat lainnya.
Selain dikonsumsi sendiri sagu dan produk olahannya juga dijual oleh masyarakat, 1 kg sagu tumang dijual dengan harga Rp. 24.000 dan untuk 5 buah sagu lempeng dijual seharga Rp. 7.500 – Rp. 10.000. Sagu umum ditemukan pada wilayah Maluku Utara khususnya pada Pulau Halmahera, sagu merupakan jenis penghuni habitat hutan rawa. Pada kawasan TNAL jenis ini biasanya ditemukan di sepanjang aliran sungai atau wilayah yang memiliki kandungan air berlebih. Sagu merupakan salah satu jenis HHBK yang intensif dipanen pada wilayah Tayawi, sebab sagu adalah makanan pokok bagi Suku Togutil dan masyarakat asli Pulau Halmahera lainnya.
Jasa Hasil Hutan Bukan Kayu dan Kebijakan…….
Lis Nurrani dan S. Tabba
Umumnya jenis ini tumbuh berumpun dengan stratum yang jelas dari anakan hingga tingkat yang lebih besar dan telah siap panen. Sagu termasuk jenis famili palem yang mudah untuk dibudidayakan dan dikembangbiakkan. Menurut Miftahorrachman et al. (1996) terdapat sedikitnya lima jenis sagu yang diketahui tumbuh di Kepulauan Maluku yaitu tuni, ihur, makanora, duri rotan dan molat.
Gambar 2. Sagu dan makanan tradisional olahannya
Sagu merupakan sumber karbohidrat dan bahan makanan tradisional suku asli Pulau Halmahera. Tanaman khas asal Maluku ini potensial untuk dikembangkan bukan hanya sebagai komoditi nasional tapi juga internasional. Menurut Rostiwati et al. (2008) sebaran terluas hutan alam sagu di Indonesia berada di Provinsi Papua dan Maluku, yang merupakan pusat keragaman tertinggi di dunia. Selain sebagai bahan pangan tradisional, sagu juga berpotensi sebagai bahan baku energi biomassa, dimana teknologi pengolahan bioethanol sagu telah banyak dan berhasil dikembangkan oleh berbagai pihak.
2. Pemanfaatan Daun Woka
Woka adalah sebutan lokalmasyarakat Maluku Utara untuk jenis Palem Serdang (Livistona rotundifolia Mart). Woka merupakan salah satu jenis palem dari famili Arecaceae dan masuk ke dalam ordo Arecales. Beberapa sinonim nama daerah Woka antara lain dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan Serdang dan pada komunitas masyarakat Ambon disebut Salbu. Secara morfologi woka dewasa nampak kokoh dengan batang lurus dan besar, berwarna coklat, serta memiliki pelepah yang jatuh seperti pada pelepah kelapa. Tinggi total bisa mencapai hingga 25-30 m, bentuk daun membulat dengan pelepah daun bagian tepi berduri kasar dan berada pada sisi-sisi pelepah tangkai daun. Woka umum ditemukan pada Kawasan TNAL,
14 | Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
jenis ini hidup diberbagai habitat dan tipe ekosistem dari hutan dataran tinggi hingga hutan dataran rendah.
Daun woka adalah HHBK yang sangat intensif dimanfaatkan dan lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Maluku Utara. Daun ini banyak dipergunakan untuk membungkus makanan, bahan dasar atap rumah ataupun untuk keperluan lainnya. Untuk membungkus makanan biasanya menggunakan daun muda karena pada kondisi tersebut daun masih sangat elastis dan anti lengket. Selain itu, daun woka juga dapat dibuat sebagai media tempat makan atau piring tradisional yang dipergunakan oleh petani pada saat berkebun ataupun pada saat masuk hutan.
Berdasarkan informasi dari Masyarakat Akejawi bahwa daun woka dipergunakan sebagai media tempat makan ketika pelaksanaan ritual adat budaya masyarakat di Maluku Utara. Selain itu daun woka yang telah dibentuk seperti mangkuk tersebut juga digunakan sebagai wadah untuk menyajikan berbagai hidangan makanan saat prosesi ritual adat berlangsung. Kondisi yang sama juga dapat dilihat ketika pelaksanaan hajatan besar seperti syukuran dan pesta resepsi pernikahan. Sedangkan pada masyarakat Desa Gosale daun woka biasanya dipergunakan sebagai media untuk mengangkut potongan daging satwa hasil buruan dari dalam hutan.
Gambar 3. Morfologi woka dan pemanfaatannya
Bagi Suku Togutil Tayawi daun woka memiliki peran vital dalam kehidupan sehari-hari, daun ini diperuntukkan sebagai atap rumah tradisional. Daun ini juga digunakan sebagai bahan dasar dinding, media untuk memasak, media makan, media minum dan sebagai media untuk mengangkut hasil buruan. Selain itu daun ini juga dapat digunakan sebagai payung tradisional untuk berlindung dari hujan ketika berada didalam hutan.
Jasa Hasil Hutan Bukan Kayu dan Kebijakan…….
Lis Nurrani dan S. Tabba
Daun Woka merupakan HHBK multiguna yang umum digunakan oleh masyarakat Sulawesi Utara sebagai pembungkus makanan khususnya jajanan nasi kuning dan kue dodol (Tabba dan Nurrani, 2012).
3. Talas
Talas termasuk kategori tumbuhan bawah yang umum ditemukan pada Desa-desa di sekitar zona peyangga TNAL. Tumbuhan ini bahkan dapat ditemukan tumbuh di sekitar pemukiman Masyarakat Akejawi dan Masyarakat Suku Togutil Tayawi. Terdapat dua jenis talas yang umum ditemukan pada wilayah TNAL yaitu Colocasia esculenta dan Xanthosoma sp. Talas digunakan sebagai bahan makanan tradisional pengganti karbohidrat seperti halnya sagu oleh masyarakat Pulau Halmahera. Biasa talas direbus dan disajikan sebagai makanan saat sarapan dan cemilan di sore hari, sedangkan bagi masyarakat Suku Togutil talas termasuk salah satu makanan pokok. Olahan lain dari talas yang menjadi kegemaran serta kebiasaan masyarakat yaitu dibuat kolak dan kripik.
Batang Talas Colocasia esculenta dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Duri di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan sebagai sayur, namun pengolahannya memiliki teknik khusus sebab jika salah mengolah maka sayur tersebut akan terasa gatal. Colocasia esculenta memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai bahan pangan alternatif, seperti di Wamena Papua digunakan sebagai bahan baku dalam pengolahan mie (Yulifianti dan Ginting, 2013).
4. Tumbuhan Obat Tradisional
Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi sebanyak 81 jenis tumbuhan hutan berkhasiat obat yang digunakan oleh masyarakat dalam pengobatan tradisional. Sebanyak 15 jenis ditemukan pada Desa Gosale, 20 jenis pada Desa Akejawi dan 46 jenis pada Dusun Tayawi (Nurrani et al., 2013).
Umumnya tumbuhan tersebut digunakan untuk pengobatan alergi dan luka ringan (29 jenis); penyakit dalam dan peningkatan stamina tubuh (47 jenis);
penyakit kronis (12 jenis); serta penyakit akibat kekuatan mistik (3 jenis).
5. Buah-Buahan dan Sayuran
Kawasan TNAL juga menjadi sumber penghasil buah-buahan dan sayuran bagi masyarakat. Sebagai tumbuhan penghasil protein nabati, sayuran digunakan untuk konsumsi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun tidak jarang beberapa jenis sayuran seperti rebung bambu (Bambusa sp.),
16 | Seminar Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2014
kangkung (Ipomoea reptans), daun kasbi (Mannihot utilisima), daun batatas (Ipomoea batatas) dan daun paku (Pterophyta sp.) diperjualbelikan oleh masyarakat. Beberapa pasar tempat memperjualbelikan sayuran tersebut yaitu pasar tradisional binagara di sekitar pemukiman Desa Akejawi dan pasar woda di sekitar pemukiman Masyarakat Tayawi.
Tumbuhan paku merupakan herba yang banyak tumbuh dalam kawasan hutan dan sangat sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai menu sayuran. Saat ini kebutuhan akan sayuran dari tumbuhan paku hanya dapat diperoleh dari habitat alaminya di hutan. Tingginya minat masyarakat terhadap sayuran tumbuhan paku sangat memungkinkan untuk segera mengkaji mengenai prilaku jenis ini di alam,. Sehingga nantinya tumbuhan paku dapat didomestikasi dan dikembangkan melalui teknik budidaya pada lahan-lahan masyarakat agar dalam pemanfaatannya tidak perlu lagi mengambil dari hutan (Oka dan Suhartono, 2014).
Masyarakat juga seringkali memanfaatkan buah-buahan seperti langsat (Lansium domesticum), rambutan (Nephelum lappaceum) dan matoa (Pometia pinnata) yang tumbuh pada daerah peyangga dan Kawasan Tayawi. Selain untuk dikonsumsi sendiri dalam skala rumah tangga, umumnya buah-buahan juga diperdagangkan pada pasar tradisional.
Gambar 4. Tumbuhan paku dan menu olahannya 6. Jenis HHBK Potensial Lainnya
Beberapa jenis HHBK yang sering kali dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu rotan (Calamus sp.), bambu (Bambusa spp.) dan pandan (Pandanus sp.). Rotan banyak dicari oleh masyarakat di tiga lokasi penelitian untuk digunakan sebagai tali pengikat rumah dan perabot rumah tangga lainnya.
Selain digunakan sebagai tali masyarakat juga biasa memanfaatkan batang rotan sebagai alat pemikul, karena jenis ini termasuk kategori keras namun cukup lentur serta dibuat keranjang pengangkut (bika). Bambu
Jasa Hasil Hutan Bukan Kayu dan Kebijakan…….
Lis Nurrani dan S. Tabba
dimanfaatkan untuk membuat kerajinan alat rumah tangga seperti penapis beras (susiru), ayakan untuk proses pembuatan sagu dan alat pengikat atap rumbia. Sedangkan daun pandan umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan, peyadan dan pembungkus makanan serta dianyam untuk keperluan atap rumah.
B. Nilai Ekonomi HHBK Bagi Masyarakat