• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keteguhan otoritas-Nya

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 81-88)

Judul: Keteguhan otoritas-Nya

Tindakan Yesus membereskan Bait Allah dan menghentikan segala aktivitas komersial yang ada di dalamnya, tentu mengejutkan para pejabat dan pekerja di Bait Allah. Karena itu para

pemimpin agama mempertanyakan otoritas yang membuat Yesus merasa berhak melakukan semua tindakan itu. Pertanyaan mereka merupakan jebakan dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengajukan Yesus ke pengadilan agama. Namun trik itu ditangkis Yesus dengan memberikan pertanyaan yang dilematis bagi mereka.

Baptisan Yohanes merupakan sesuatu yang berbeda. Para imam memang sering melakukan pekerjaan penyucian di bait suci. Namun Yohanes bukan imam, tetapi ia membaptis orang di sungai atau di tempat di mana ia bisa mendapatkan cukup air. Karena ini merupakan sesuatu yang baru, pembaptisan Yohanes menimbulkan pertanyaan mengenai otoritas apa yang membuat baptisan Yohanes sah. Jelas akan ada dua pilihan, otoritas Allah atau manusia. Mereka kemudian sadar bahwa jawaban mereka akan menjadi dilema, bagai makan buah simalakama. Mereka tahu apa pun jawaban mereka, mereka akan terjebak. Karena itu mereka memilih untuk menjawab, "Kami tidak tahu" (33). Meski demikian, jawaban ini pun memperlihatkan ketidaktertarikan mereka pada kebenaran.

Banyak juga orang Kristen masa kini yang meragukan otoritas Yesus. Orang lebih yakin pada kemampuan teknologi atau kuasa manusia daripada percaya otoritas Yesus. Banyak juga orang Kristen yang beralih kepercayaan karena meragukan kuasa mutlak Yesus.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita yakin bahwa Yesus berotoritas untuk menguatkan, menghibur, menolong, dan memulihkan kita? Percayakah kita pada kuasa Yesus, yang sudah terbukti dapat mengalahkan Iblis, menyembuhkan orang yang dirasuki Iblis, menyembuhkan orang kusta, menyembuhkan orang lumpuh, mengampuni dosa, meredakan angin ribut, memberi makan ribuan orang, dan banyak lagi yang lain? Kiranya Tuhan meneguhkan iman kita.

Diskusi renungan ini di Facebook:

82 Jumat, 9 Maret 2012

Bacaan : Markus 12:1-12

(9-3-2012)

Markus 12:1-12

Berani karena salah?

Judul: Berani karena salah?

"Berani karena benar" tentu bukan slogan yang asing. Namun di zaman yang sinis ini, kita melihat bahwa orang lebih banyak "Berani karena salah". Kepentingan diri lebih patut diutamakan, bagaimana pun cara mencapainya. Bahkan bagi sebagian orang, untung karena berbuat salah lebih sedap ketimbang keuntungan yang diraih secara lurus dan benar.

Para pemimpin agama (Mrk. 11:27) tak bisa menyangkal bahwa Yohanes Pembaptis dan juga Yesus datang "dari sorga" (Mrk. 11:31). Perumpamaan yang disampaikan Yesus di perikop ini pun benar, karena memang merangkumkan karya Allah di dalam Israel dan interaksi-Nya dengan para pemimpin umat yang tidak setia kepada-Nya serta tidak jujur di hadapan umat yang

mestinya mereka layani. Tak hanya itu, perumpamaan ini pun secara pedas menjawab pertanyaan mereka di Mrk. 11:28: Yesus datang dari Allah sendiri. Mereka mestinya tersindir dan meminta ampun kepada Allah. Namun mereka justru tersinggung, dan mulai "berusaha untuk menangkap Yesus" (12:12).

Perumpamaan ini menggarisbawahi kesabaran sekaligus ketegasan Allah menghukum dosa serta kekurangajaran para pemimpin Israel yang melanggar kepercayaan dan bahkan membunuh si "ahli waris." Peningkatan permusuhan para pemimpin agama justru menegaskan nubuat Yesus tentang masa sengsara-Nya (Mrk. 8:31, 9:31, 10:33) dan tentang kemuliaan ajaib yang mengikuti masa sengsara itu: kebangkitan-Nya, yang tadinya dibuang, tetapi kemudian menempati tempat terhormat sebagai Sang Batu Penjuru.

"Keberanian" para pemimpin Yahudi merupakan pelajaran yang bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, kita mesti meniru teladan Yesus yang berani mengkritik dan memvonis "keberanian" para pemimpin Yahudi di dalam melawan Allah. Di saat para pemimpin yang jahat makin

"berani" menolak Allah, kita pun mestinya makin berani menyatakan kebenaran dan keadilan Allah. Di sisi lain, kita sekali lagi memperoleh janji Allah bahwa dosa yang dilakukan para pemimpin niscaya akan dijatuhi hukuman setimpal.

Diskusi renungan ini di Facebook:

83 Sabtu, 10 Maret 2012

Bacaan : Markus 12:13-17

(10-3-2012)

Markus 12:13-17

Memilih untuk taat

Judul: Memilih untuk taat

Kaum Farisi biasanya alergi membayar pajak kepada penjajah Romawi, dan menganggap mereka yang patuh sebagai pengkhianat atau bahkan penyembah berhala. Sebaliknya, kaum Herodian justru menganggap setoran pajak kepada penguasa Romawi sebagai keharusan. Walaupun begitu, mereka bekerja sama untuk menjebak Yesus di dalam posisi serba salah: jika Ia menjawab "Ya, " itu berarti Yesus adalah pengkhianat, bahkan mendukung penyembahan berhala; jika "Tidak, " Yesus pantas ditangkap pihak berwajib sebagai provokator.

Namun Yesus mengetahui kemunafikan mereka (15). Tindakan-Nya yang meminta sekeping uang dinar justru meningkatkan posisi Yesus di hadapan para pendengar-Nya: Yesus tak

membawa uang dan tak bergantung pada uang yang berlogo gambar Kaisar (15b-16). Tak hanya itu, jawaban Yesus atas pertanyaan jebakan tadi juga tak seperti yang mereka harapkan. Yesus tak berkata "Ya" atau "Tidak", tetapi memberikan prinsip yang mesti dijabarkan oleh orang yang mau mengikuti perkataan-Nya. Mereka mesti menjabarkan mana yang menjadi hak Allah dan mana hak Kaisar (17). Kaisar Romawi tak hanya menuntut kepatuhan total. Ia tak hanya menjadi Pontifex Maximus, imam tertinggi agama Romawi, tetapi untuk orang non-Yahudi, kaisar juga adalah dewa yang menuntut penyembahan. Kata-kata Yesus menempatkan Kaisar dan Allah bersisian, dan di posisi ini orang Kristen mesti tahu siapa yang mesti didahulukan, yaitu Allah! Tak hanya itu, prinsip Yesus ini membongkar lebih dalam kemunafikan kaum Herodian dan Farisi ini karena mereka sebenarnya lebih peduli pada posisi politis masing-masing ketimbang kebenaran Allah.

Di dalam kehidupan sebagai warga negara, kita dipanggil untuk menjabarkan kewajiban kita kepada Allah dan kepada pemerintah. Idealnya, kita mesti taat kepada pemerintah karena itu bagian dari ketaatan kepada Allah. Namun jika terjadi pertentangan di antara keduanya, kita memperoleh peluang untuk taat karena betapa pun besarnya tekanan pemerintah, kita harus lebih siap untuk taat kepada Allah.

Diskusi renungan ini di Facebook:

84 Senin, 12 Maret 2012 Bacaan : Markus 12:18-27

(12-3-2012)

Markus 12:18-27

Arti kesesatan

Judul: Arti kesesatan

Setelah para "imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua" (Mrk. 11:27), "orang Farisi dan Herodian" (Mrk. 12:13), kini giliran perwakilan dari kaum Saduki (Mrk. 12:18). Mereka hendak menjebak Yesus berdasarkan kekhasan doktrin yang mereka pegang, mereka menolak kebangkitan dan hendak merusak popularitas Yesus di hadapan orang banyak.

Namun respons Yesus justru membongkar kesesatan mereka (24). Pertama, bagi Yesus, keberatan mereka tidak relevan karena kebangkitan melampaui urusan seksualitas (24-25). Kedua, Yesus mengutip kisah dari Taurat, yang otoritasnya juga diakui oleh kaum Saduki, bahwa Allah adalah "Allah orang hidup" (27). Artinya, walaupun Abraham, Ishak, dan Yakub, para bapak leluhur Israel telah mati, tetapi karena Allah adalah Allah atas orang hidup, maka itu berarti kehidupan adalah tujuan akhir mereka, karena mereka akan bangkit kembali.

Kisah ini membawa kita pada signifikansi. Fungsi utama doktrin ini bukanlah pembeda identitas, entah sebagai orang Saduki, orang Farisi, bahkan kalau perlu orang Calvinis, orang Lutheran, orang Pentakosta, dlsb. Fungsi doktrin kebangkitan jelas tidak sedangkal itu. Fungsi doktrin ini adalah menjelaskan sejauh mana keterlibatan Allah di dalam hidup orang Kristen, dan apa tujuan serta makna final hidup kita, yaitu menikmati persekutuan kekal dengan Allah yang hidup. Ketidakmengertian dan ketidakmauan untuk mengakui janji Allah sama saja dengan tidak mengerti "Kitab Suci maupun kuasa Allah" (24).

Karena itulah di dalam kehidupan bergereja, kebaktian kedukaan dan penghiburan bukanlah sesuatu yang ditujukan bagi sang almarhum/almarhumah, tetapi justru bagi mereka yang berduka, baik itu keluarga dekat maupun jemaat setempat. Semua itu bukanlah sekadar terapi psikologis di mana kita bisa meluapkan kesedihan, tetapi merupakan wadah untuk mengakui dukacita kita di hadapan Allah dan menyerahkan semua itu kepada-Nya, sekaligus mengingat dan menaruh percaya akan janji Allah Tritunggal, bahwa dia yang meninggal dan juga kita yang berduka, kelak akan bersama-sama menjalani kehidupan yang baru di dalam kebangkitan kelak.

Diskusi renungan ini di Facebook:

85 Selasa, 13 Maret 2012

Bacaan : Markus 12:28-34

(13-3-2012)

Markus 12:28-34

Berapa roti ada padamu?

Judul: Dilandasi satu hal penting

Tak seperti tokoh-tokoh lain yang merespons Yesus secara negatif, si ahli Taurat ini, disebut Yesus sebagai "tidak jauh dari Kerajaan Allah"; artinya ia mengakui Allah di dalam

kehidupannya sebagai Sang Raja yang berkuasa atas segala sendi kehidupannya.

Hukum yang pertama yang ditekankan Yesus bersangkutan dengan Allah: Allah itu Esa adanya dan kita mesti mengasihi Dia dengan segenap keberadaan kita. Di sini Yesus pertama-tama mengutip Ul. 6:4-5, sambil menambahkan frasa "dengan segenap akal budimu". Nas ini menegaskan kembali bahwa entah itu doktrin, ritus agama, politik dan kedudukan, atau yang lainnya, semua itu hanyalah wadah bagi kita untuk menyembah, memuliakan, dan mengasihi Allah. Tidak ada yang lebih utama dari mengasihi Dia. Sebagai contoh, jika dalam beribadah kita lebih antusias dengan posisi/kehormatan sosial yang kita tempati atau pertunjukkan di sana, dan bukan dengan kerinduan untuk mengungkapkan rasa kasih dan bersekutu dengan Dia, maka tampak jelas bahwa ibadah kita itu munafik.

Nas dari Ul. 6:4-5 itu dikombinasikan-Nya dengan Im. 19:18. Hukum tentang mengasihi Allah tidak lengkap tanpa hukum tentang mengasihi sesama. Dari penempatan hukum kedua ini, bisa kita simpulkan bahwa seseorang tidak mungkin bisa mengasihi Allah jika ia tak bisa mengasihi sesamanya. Kasih kepada sesama merupakan bagian yang penting dan integral dari ibadah kepada Allah.

Ternyata, seluruh kehidupan kita mestinya dilandasi oleh satu hal penting, yaitu mengasihi Allah dan dengan demikian, mengasihi sesama. Nas ini menginsyafkan kita untuk terus menelisik dan mencermati segala motivasi dari ibadah, perbuatan baik, bahkan doktrin yang kita percayai: apakah itu semua didasari oleh mengasihi Allah dan sesama, ataukah justru karena alasan yang sama sekali berbeda? Jika yang disebut terakhir, artinya kita mesti bertobat dan meminta Roh-Nya untuk mengajar kita tentang bagaimana sejatinya cara mengasihi Dia dan sesama. Jika yang disebut pertama, sepatutnya kita terus bersyukur dalam doa kepada-Nya.

Diskusi renungan ini di Facebook:

86 Rabu, 14 Maret 2012

Bacaan : Markus 12:35-37

(14-3-2012)

Markus 12:35-37

Kini giliran Yesus

Judul: Kini giliran Yesus

Pertanyaan, �Siapa Mesias sebenarnya?� memang menjadi salah satu sorotan utama Injil Markus. Injil Markus memang sejak awal menegaskan Yesus adalah Sang Mesias, Sang Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1). Lalu gelar Anak Daud hanya muncul di dalam dua nas: sebutan yang diutarakan si Bartimeus, pengemis buta, bagi Yesus (Mrk. 10:46-52), dan juga nas ini. Wajar jika waktu itu ada sebagian orang yang menyerang status Yesus sebagai Mesias karena menganggap diri-Nya bukan keturunan Daud. Gugatan ini bahkan muncul di masa pelayanan Yesus, sehingga respons Yesus itu kemudian dicatat oleh Markus. Yang agak mirip dengan gugatan seperti ini adalah pemahaman bahwa Mesias memang keturunan Daud. Namun karena Mesias adalah keturunan Daud, maka Ia tidak lebih tinggi dari Daud dan segala tradisi tentangnya. Penampilan adegan ini di dalam Injil Markus merupakan jawaban atas gugatan seperti itu. Setelah beberapa kali diserang sebelumnya, kini giliran Yesus menyerang pandangan para lawan-Nya. Poin penting yang ditekankan nas ini adalah, keturunan Daud atau bukan, yang paling penting justru posisi Mesias lebih penting dan lebih tinggi dari Daud. Gelar "Anak Daud" saja tidak memadai bagi Yesus, walau bukan berarti gelar tersebut keliru jika diaplikasikan pada diri-Nya. Ia memang Mesias dan keturunan Daud, tetapi bukan hanya itu. Ia adalah Kristus, Sang "Anak Allah" sekaligus "Anak Manusia" ala Daniel 7:9-14 yang telah menerima kuasa dan kerajaan langsung dari Allah sendiri.

Kosuke Koyama, seorang teolog asal Jepang, pernah menulis buku berjudul "Tidak Ada Gagang pada Salib." Maksudnya, salib Yesus Kristus tak bisa kita ubah menjadi sesuatu yang bergagang, mudah dibawa-bawa sesuka hati kita. Demikian juga pemahaman tentang Yesus Kristus. Kita tak bisa mengatur-atur siapa Kristus dan apa tugas-Nya: jika Yesus adalah Kristus, maka mestinya Ia memberi kita keinginan kita, doa kita, dst. Doktrin konyol seperti ini mesti kita buang jauh-jauh. Yesus dari Nazaret adalah Kristus, Tuhan kita, dan dengan demikian menuntut agar kita taat, dan tidak dituntut mesti mengabulkan hasrat hati kita.

Diskusi renungan ini di Facebook:

87 Kamis, 15 Maret 2012

Bacaan : Markus 12:38-40

(15-3-2012)

Markus 12:38-40

"Kesalehan" yang menindas

Judul: "Kesalehan" yang menindas

Kesalehan rupanya tak lepas dari rambahan komersialisasi. Jika pada zaman tertentu dan di waktu tertentu kesalehan identik dengan kehidupan sederhana yang bahkan asketis, kini tak jarang seseorang dipandang saleh jika mengenakan atribut-atribut kesalehan tertentu, pernah melakukan perjalanan ke tempat jauh tertentu yang dianggap suci, kosakatanya dibumbui dengan kata-kata rohani, dan memiliki banyak barang sebagai tanda bahwa dirinya diberkati Allah lebih dari orang lain. Moralitas dan wawasan teologis sebagai dasarnya justru dianggap tak begitu penting. Paling tidak, moralitas dan wawasan teologis diperlukan sejauh itu bersesuaian dengan pemahaman atas kesalehan yang cenderung materialis ini.

Kesalehan seperti ini juga dikecam oleh Yesus. Kesalehan bagi si ahli Taurat rupanya tak lebih dari status dan atribut: mulai dari pakaian, posisi terhormat, hingga bahkan doa yang "panjang-panjang" (38-40a). Namun Yesus menandaskan bahwa semua dilakukan sementara di saat yang sama si ahli Taurat juga melakukan penindasan dan "menelan rumah janda-janda" (40a).

Kesalehan dengan tanda kutip ini rupanya sejalan dengan penindasan. Pendeknya, itu adalah kesalehan yang munafik, yang menindas. Dan semua ini takkan luput dari keadilan Sang Hakim Agung (40b).

Ada dua hal penting yang mesti kita camkan. Pertama, kita diperingatkan agar menjauhkan diri dari apa yang dilakukan oleh si ahli Taurat. Kemunafikan dan penindasan, meski "diperindah" dengan kesalehan, tetap merupakan sesuatu yang menjijikkan Allah dan bertabrakan dengan nilai-nilai Kerajaan. Kedua, seperti Yesus, kita juga mesti meminta hikmat dan penyertaan Roh Kudus agar berani menyatakan apa yang dinyatakan Tuhan. Hal Ini sulit untuk kita lakukan. Kemungkinan besar, kita tak hanya menyaksikan terjadinya kesalehan yang menindas; bisa saja kita jadi salah satu korbannya. Namun lewat doa, kesaksian, dan tindakan nyata kita, nilai serta aksi Kerajaan Allah mesti dibiarkan menjalar dan mempengaruhi semua yang ada di sekitar kita, para anasir dan agen Kerajaan itu.

Diskusi renungan ini di Facebook:

88 Jumat, 16 Maret 2012 Bacaan : Markus 12:41-44

(16-3-2012)

Markus 12:41-44

Dalam dokumen publikasi e-sh (Halaman 81-88)