Judul: Pembalasan kepada orang jahat
Bolehkah kita meminta pembalasan terhadap orang yang berbuat jahat kepada kita? Doa Elie Wiesel, korban kekejaman Nazi di Auschwitz yang selamat adalah: "Allah yang rahmani, jangan karunai rahmat pada mereka yang melakukan kekejaman tersebut." Bolehkah kita menaikkan doa yang sama kalau kita, misalnya adalah korban tragedi kerusuhan Mei 98 yang lalu? Pemazmur meminta kepada Tuhan agar Tuhan menimpakan kejahatan para musuhnya kepada mereka sendiri, agar Tuhan membinasakan mereka. Permintaan pemazmur bukanlah pembalasan dendam. Permintaan pemazmur adalah agar keadilan Tuhan ditegakkan. Pemazmur meyakini keadilan Allah. Oleh karena itu, ia berani berseru meminta pertolongan dari mereka yang merencanakan kejahatan atasnya, dan agar Tuhan menghukum mereka. Dengan keyakinan seperti itu pemazmur menaikkan syukur kepada Tuhan berupa persembahan kurban (8). Pertanyaan di paragraf pembuka bisa direvisi: Bolehkah saya demi keadilan Allah meminta Tuhan menghukum pelaku kejahatan? Pertanyaan ini lahir dari motivasi serupa yang ada pada mazmur ini. Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena berdoa meminta keadilan Allah adalah sesuai dengan karakter Tuhan. Tidak, karena keadilan Allah sudah ditegakkan di dalam diri Tuhan Yesus. Dia telah menanggung dosa seisi dunia sehingga keadilan Allah sudah ditegakkan. Kalau begitu apa doa kita bagi pelaku kejahatan? Pertama, kita bisa berdoa minta belas kasih dan pengampunan Allah atas mereka. Ini sejalan dengan doa Tuhan Yesus yang memintakan ampun bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Di dalam doa ini pun nyata keadilan Allah. Yaitu, kalau mereka menolak bertobat, maka berita anugerah itu menjadi berita penghukuman. Kedua, kita bisa minta agar Tuhan menghajar para pelaku kejahatan agar mereka sadar bahwa dosa harus dihukum dan agar mereka bertobat.
Diskusi renungan ini di Facebook:
91 Senin, 19 Maret 2012
Bacaan : Markus 13:14-23
(19-3-2012)
Markus 13:14-23
Apakah salib Anda?
Judul: Akhir zaman atau zaman akhir?
Istilah akhir zaman dan zaman akhir kadang menimbulkan pemahaman yang rancu. Yang paling sering, nas-nas yang sebenarnya membahas tentang �zaman akhir� justru ditunjuk sebagai tanda-tanda persis akan tibanya �akhir zaman�.
Nas ini, seperti Markus 13 pada umumnya, tak menunjuk pada titik persis �akhir zaman� ketika kedatangan kedua kali Tuhan Yesus niscaya terjadi dalam waktu sangat dekat, tetapi pada �zaman akhir�, yaitu kurun waktu yang sebenarnya telah kita alami sekarang, tetapi yang akan diakhiri oleh kedatangan kedua Tuhan. Nas ini justru menunjuk kepada zaman akhir, persisnya awal dari zaman akhir itu. Kesalahkaprahan ini kadang berakibat kekonyolan dalam penafsiran: si pembaca jungkir-balik menyama-nyamakan berbagai unsur di dalam nas ini dengan kejadian kontemporer, lalu berkesimpulan bahwa hari kiamat terjadi tanggal sekian.
Seperti banyak bagian Alkitab lainnya, nas ini menunjuk pada zaman akhir, apa yang sedang dan akan terjadi di dalamnya, yaitu zaman yang di dalamnya kita ada sekarang. Ada dua penanda akhir zaman yang dibeberkan nas ini. Pertama, ketika si "Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya" (14). Ayat 14-20 kerap dikaitkan dengan penghancuran Yerusalem dan Bait Allah oleh Romawi di tahun 70 M. Namun yang terpenting, hal itu menjadi konteks bagi karya Allah untuk "orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya" (20). Siksaan berat tidak bisa
mencegah Allah berkarya bagi kebaikan umat-Nya. Tak hanya itu, tanda kedua dalam nas ini, yang menjadi sambungan dari peringatan di ayat 5-6, menyebut kemunculan para mesias palsu dan nabi palsu. Mereka berbahaya karena berupaya "sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan" (22). Para murid Yesus diperingatkan untuk waspada dan merespons secara tepat. Nas ini mengingatkan kita untuk bersikap secara pantas sebagai murid Tuhan. Bukan
menenggelamkan diri di dalam segala "berkat dan karunia", tetapi justru waspada di tengah pusaran arus zaman yang kian kejam dan menyesatkan. Yang paling penting, kita tetap yakin bahwa kita takkan pernah bisa dipisahkan dari kasih setia-Nya.
Diskusi renungan ini di Facebook:
92 Selasa, 20 Maret 2012
Bacaan : Markus 13:24-32
(20-3-2012)
Markus 13:24-32
Jangan sok tahu
Judul: Jangan sok tahu
Ada saja orang Kristen yang konyol: merasa diri bisa menentukan kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Salah satu nama yang menonjol di tahun 2011 adalah Harold Camping, yang mengumumkan bahwa Yesus akan datang kembali pada 21 Mei 2011, lalu kemudian
merevisinya menjadi 21 Oktober 2011. Pada saat naskah ini ditulis, revisi prediksi itu pun terbukti meleset, seperti juga prediksi yang ia lakukan sebelumnya pada 1994 dan 1995. Salah satu efek yang patut disayangkan dari prediksi-prediksi seperti ini adalah orang-orang yang mengorbankan banyak hal, mulai dari berhenti kerja, menjual harta, bahkan memutus relasi keluarga, lalu mengasingkan diri dalam doa karena yakin Tuhan Yesus akan datang pada tanggal dimaksud.
Seperti kita lihat sebelumnya, Markus 13 secara umum memberikan arahan kepada para murid dalam menyikapi arus zaman yang makin mengerikan. Para murid diminta waspada dan teguh menghadapi ancaman bahaya dan kekerasan. Nas hari ini memberikan beberapa wawasan baru. Pertama, di tengah kekacauan dan bencana, Anak Manusia tetap melindungi "orang-orang pilihan-Nya" (27). Nas ini juga menggarisbawahi kuasa Anak Manusia, baik untuk mengutus para malaikat maupun menghimpun semua orang percaya. Kedua, orang percaya diminta mencermati tanda-tanda zaman, terus waspada (28-29), serta mengandalkan firman-Nya (31). Ketiga, dalam konteks Injil Markus, kata-kata Yesus di ayat 30 menegaskan bahwa
penghukuman niscaya akan datang kepada "angkatan ini", yaitu orang Yahudi yang pernah menerima pelayanan dan pemberitaan-Nya, tetapi tetap keras kepala, tidak bertobat, bahkan akhirnya melawan Yesus (30, bdk. Mrk. 8:12). Terakhir, penentuan waktu kedatangan-Nya adalah hak Bapa saja (32).
Mestinya kita lebih waspada menghadapi zaman yang bergejolak dengan bertekun melakukan firman-Nya, bukan utak-atik mencari waktu kedatangan Tuhan. Panggilan kita sebagai murid Yesus justru membuktikan kata-kata Yesus, bahwa melalui karya, pelayanan, dan hidup kita, "perkataan-Ku tidak akan berlalu", walau bumi dan langit hancur sekalipun.
Diskusi renungan ini di Facebook:
93 Rabu, 21 Maret 2012
Bacaan : Markus 13:33-37