KESIMPULAN DAN SARAN
B. Keterbatasan penelitian
Penulis menyadari bahwa masih banyak keterbatasan dan kesulitasn yang dialami, antara lain:
1. Peneliti menyadari bahwa kontribusi kepemimpinan transformasional sangat kecil dan sisanya dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
2. Dalam penelitian ini terdapat responden yang mengisi atau mengerjakan kuesioner secara bersama-sama sehingga jawaban responden satu dengan yang lain sama.
3. Dalam penyebaran lembar kuesioner peneliti bersikap terbuka, dengan kata lain lembar kuesioner tidak dimasukan di dalam amplop sehingga baik kepala sekolah maupun guru mengetahui jawaban guru satu sama lain. 4. Dalam penelitian ini ada kemungkinan responden dalam menjawab butir
pertanyaan kuesioner yang baik-baik, hal ini bisa dikarenakan karena responden merasa segan atau tidak enak terhadap kepala sekolah maupun sesama rekan guru.
C.Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan diatas, ada beberapa saran yang dikemukakan penulis bagi kepala sekolah, guru dan juga bagi peneliti selanjutnya. Saran yang dikemukakan penulis adalah sebagai berikut:
1. Bagi kepala sekolah
Kepala sekolah diharapkan lebih menghargai hasil kerja dan memberikan penghargaan atas prestasi bawahan sehingga bawahan akan termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi, lebih meningkatkan perhatian bawahan secara individual sesuai dengan dengan karakter, latar belakang dan kebutuhan, memberikan kesempatan lebih banyak kepada guru untuk mengutarakan pendapatnya dan diharapkan seorang kepala sekolah lebih mau bekerjasama dengan guru-guru dan karyawan.
2. Bagi Guru
Guru diharapkan untuk lebih meningkatkan lagi kepercayaan maupun kerjasama baik kepada sesama guru maupun kepada para staf dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
3. Bagi Peneliti Lain
a. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti variabel-variabel lainnya yang memberikan kontribusi terhadap efikasi kolektif guru. Pujukan sosial oleh Kanesan (TT)
b. Bagi penelitian selanjutnya alangkah baiknya jika dalam menyebarkan kuesioner, lembar kuesioner dalam kondisi tertutup. Sehingga memberikan
rasa aman dan nyaman bagi guru yang akan menjawab pertanyaan dalam kuesioner tersebut.
c. Bagi peneliti selanjutnya alangkah baiknya melakukan observasi terlebih dahulu sebelum melakukan penelitian dan pada saat penelitian peneliti dapat mengunakan teknik wawancara dan membagikan kuesioner.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. (1998). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, edisi revisi VBandung: PT Rineka Cipta.
Azwar, S. (1992). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W. H. Freeman and Company.
Feist, J. dan Feist, G.J. (2010). “Teori Kepribadian (edisi ketujuh)” Theories of Personality. Jakarta: Salemba Humanika.
Gudono. (2011). Analisis Data Multivariat. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. Hadi, S. (1987). Analisis Regresi. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Hasan, I. (2002). Pokok-pokok Materi Metedologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Ghalia
Indriantoro, Nur dan Supomo (1999). “ Metedologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen”BPFE Yogyakarta.
Janawi. (2011). Kompetensi Guru ( Citra Guru Profesional). Bandung: Alpabeta.
Johnson Burk, Larry Chirstensen (2008). “Educational Research” : Quantitative, Qualitative, and Mixed Approaches, Third Edition. California: Sage Publication,Inc.
Kanesan, A.G. Pengaruh Kepemimpinan Pentadbir Sekolah terhadap pembelajaran pelajar: peranan efikasi kolektif guru sebagai mediator. Di unduh pada tanggal 10 maret 2015. Tersedia:
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&v ed=0CCEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.iab.edu.my%2Fsn19%2FKe rtasFinal%2FGanesan_Anandan.pdf&ei=tvphVcHXJ5eIuASsm4KwBQ&us
g=AFQjCNE6_Pbk76oN-IofVH7UXgZv5tp4QA&bvm=bv.93990622,d.c2E
Kutu Kuliah: Penelitian Eksplanatori. Diunduh pada tanggal 10 Oktober 2015. Tersedia:http://kutukuliah.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-penelitian-eksplanatori-adalah.html
Leithwood, K. (1994) “Leadership For School Restructuring”. Educational Administration Quarterly.30,(4),507.
Northouse, P. (2013). Kepemimpinan: Teori dan Praktik (edisi keenam). Jakarta: PT. Indeks.
Rachmaa, D. (2015). Library and Information Science: Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Diunduh pada 11 Oktober 2015. Tersedia:
http://dhyrachmaa.wordpress.com/tag/tujuan-penelitian-eksplanatif/ Rivai. V, Bachtiar, And Amar, B.R. (2013). Pemimpin dan kepemimpinan dalam
Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta. Siti, N.S. Kasmadi, SST. (2013). Panduan Modern Penelitian Kuantitatif.
Bandung: PT. ALFABETA, cv.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: PT. Alfabeta, cv.
Supardi. (2013). Kinerja Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Suprapto, A. (2007). Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dalam
Manajemen Konflik Dengan Pendekatan Kecerdasan Emosionla Pada Satuan Pendidikan Dasar. [On-line]. Tersedia:
http://www.infodiknas.com/wp-content/uploads/2014/12/KEPEMIMPINAN- TRANSFORMASIONAL-KEPALA-SEKOLAH-DALAM-MANAJEMEN-KONFLIK-DENGAN-PENDEKATAN-KECERDASAN-EMOSIONAL-PADA-SATUAN-PENDIDIKAN-DASAR.pdf di unduh [ 11 Agustus 2015].
Ucu, K.R. (2015, 29 Maret). Sleman Kekurangan Guru.Republika Online [Online]. Tersedia: http//www. Sleman Kekurangan Guru_Republika.htm. Diunduh pada : 29 Maret 2015.
Wahjosumidjo, (2007). Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Winarsunu, T. (2004). Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan.
Malang:UMM Press
Wirawan. (2013). Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Pers.
Yusof,N. Osman,R. (2010), Hubungan Kualiti Penyeliaan Pengajaran Dan Pembelajaran Di Bilik Darjah Dengan Efikasi Guru. Asia Pasific of Educational and Education. 25: 53-71, Diunduh pada: 6 Maret 2016. Tersedia:
http//web.usm.my/education/publication/APJEE_25_04_Nurahimah%20(53 -71), pdf
Tabel 3.3 Kisi-kisi Variabel Penelitian Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah
Variabel Dimensi Indikator Item Pertanyaan
Positif Negatif
Kepemimpinan Transformasional
Kepala Sekolah
1. Visi bersama Menginspirasi orang lain dengan visinya
1. Menggugah semangat kami dengan visi tentang apa yang dapat kami capai apabila kami bekerja secara bersama untuk mengubah praktik atau program kami. Mengartikulasikan visi
kepada para staf
14.Memberi kami gambaran tentang tujuan secara keseluruhan sekolah. 24.Membantu mengklarifikasi makna khusus dari visi sekolah terkait dengan implikasi praktisnya pada program-program dan pengajaran.
37.Mengkomunikasikan misi sekolah kepada staf dan para siswa.
hubungan antara visi sekolah dan badan atau lembaga yang mendukung sekolah, misalnya Departemen Pendidikan. 2. Membangun konsensus sekolah Membangun konsensus tentang tujuan sekolah
11.Menyediakan fasilitas bagi para staf dalam proses untuk menentukan tujuan-tujuan sekolah. Berkomitmen pada
konsensus bersama yang telah dibuat
49. Dalam membuat prioritas-prioritas yang terkait dengan tujuan-tujuan sekolah, bekerja sesuai dengan konsensus yang dibuat bersama dengan seluruh staf
33. Jarang mengacu pada tujuan sekolah ketika kami membuat keputusan-keputusan yang terkait dengan perubahan dalam program-program atau kegiatan-kegiatan. 3. Ekspektasi kinerja yang
tinggi
memiliki ekspektasi kinerja tinggi terhadap bawahan
9. Memiliki ekspektasi yang tinggi kepada kami sebagai profesional. 47. Membuat simbol-simbol yang melambangkan kesuksesan dan pencapaian dalam
Mempunyai harapan bahwa guru melakukan pengembangan diri dan inovasi 26.Mengharapkan kami melakukan pengembangan diri yang berkelanjutan khususnya terkait dengan profesi kami. 30.Mengharapkan kami
menjadi inovator-inovator yang efektif. 4. Menjadi model Menjadi contoh bagi
guru, staf dan siswa
4. Memimpin lebih dengan „tindakan nyata‟ dibandingkan dengan „kata-kata‟.
12.Sebagai sumber ide-ide baru bagi pembelajaran profesional saya. 45.Menjadikan teknik”
problem solving”
sebagai model yang dapat saya pakai untuk pekerjaan bersama dengan para kolega dan siswa. Menjadi panutan bagi
guru, staf dan siswa
10.Menunjukkan sikap rendah hati.
13.Memiliki ekspektasi yang tinggi kepada para siswa. 20. Melakukan
usaha-siswa, misalnya dengan cara mengunjungi kelas-kelas dan mengakui usaha-usaha mereka. 21. Dalam berinteraksi
dengan para siswa menunjukkan sikap menghargai. 27. Menunjukkan semangat dan antusiasme dalam pekerjaannya. 50. Dalam berhadapan
dengan para staf dan siswa menunjukkan sikap terbuka dan apa adanya.
5. Dukungan individual Memberikan dukungan bagi pengembangan profesionalitas guru 5. Menyediakan sumber daya untuk mendukung perkembangan profesional saya. 22. Mendorong saya untuk mencapai tujuan yang saya miliki demi pembelajaran profesional. 32. Memberi dorongan
kepada saya untuk
mencoba-praktik-Menunjukkan rasa hormat (respek) kepada para guru 16. Menghormati dan menghargai staf dengan memperlakukan kami sebagai profesional 42.Menyediakan tingkat otonomi yang tepat bagi kami dalam pengambilan keputusan kami. Menghargai para saf 43.Menyediakan
dukungan moral dengan cara membuat saya merasa dihargai terkait dengan kontribusi saya pada sekolah. 28. Kurang menyadari adanya kebutuhan dan keahlian unik saya. 6. Memberi stimulasi intelektual
Mendorong para saf untuk melakukan evaluasi atas praktik yang ada di kelas dan di sekolah secara umum
2. Secara teratur mendorong kami untuk melakukan evaluasi atas kemajuan kami dalam mencapai tujuan sekolah. 6. Mendorong saya untuk menguji kembali asumsi-asumsi dasar yang saya miliki berkaitan
17. Memberikan dorongan kepada saya untuk berpikir tentang apa yang saya lakukan bagi para siswa. 25.Mendorong kami untuk mengembangkan dan mengkaji kembali tujuan-tujuan profesional individual sesuai dengan tujuan dan prioritas sekolah. 29.Mendorong kami
untuk melakukan evaluasi atas praktik-praktik yang kami lakukan dan memperbaikinya bila diperlukan. Menunjukkan kesediaan untuk melakukan perubahan 31. Menunjukkan kesediaan untuk mengubah praktik-praktik yang dilakukan sesuai dengan pemahaman baru. 34. Menstimulasi terjadinya diskusi tentang ide-ide baru yang sesuai dengan
7. Membangun kultur sekolah Membangun norma sekolah
7. Memberikan prioritas yang tinggi bagi pengembangan serangkaian nilai, keyakinan, dan sikap yang disebarkan dalam sekolah tentang pengajaran dan pembelajaran. 19.Mendukung struktur organisasi yang efektif bagi pengambilan keputusan. 38.Mendorong perkembangan norma-norma sekolah yang mendukung keterbukaan terhadap perubahan. 48.Mendukung “status quo” yang ada dengan resiko mengorbankan perubahan pendidikan. Menciptakan suasana saling percaya dan perhatian
35.Menfasilitasi terjadinya komunikasi yang efektif di antara staf sekolah.
40.Menyediakan peluang bagi staf untuk belajar satu sama lain.
46. Memperkembangkan atmosfer kerja yang saling perhatian dan
39. Menunjukkan favoritism terhadap individu-individu atau kelompok-kelompok tertentu.
8. Menciptakan struktur kolaboratif Menerapkan kepemimpinan partisipatif 8. Mendistribusikan kepemimpinan secara luas di antara staf yang
mereprensentasikan berbagai sudut pandang dalam posisi kepemimpinan. 15.Mempertimbangkan
pendapat saya dalam menjalankan program-program baru yang mempengaruhi pekerjaan saya. 18.Memastikan bahwa kami mempunyai keterlibatan yang memadai dalam pengambilan keputusan terkait dengan program-program dan pengajaran. 3. Jarang mempertimbang kan pendapat kami dalam membuat keputusan
berkelanjutan di antara para guru demi implementasi praktik-praktik dan program-program baru. yang menghalangi terjadinya kolaborasi di antara staf dalam perencanaan dan perkembangan profesionalitas 41.Mendukung isolasi bagi guru-guru yang memiliki keahlian khusus
Tabel 3.4 Kisi-kisi Variabel Penelitian Efikasi Kolektif Guru
Variabel Dimensi Indikator Item pertanyaan
Positif Negatif
Efikasi Kolektif Guru
Analisis Tugas Guru
Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung tugas guru
19.Kualitas sarana dan peralatan di sekolah ini sungguh-sungguh mendukung proses belajar mengajar.
18. Ketiadaan bahan dan perlengkapan mengajar menyebabkan kegiatan mengajar menjadi sangat sulit. Konteks siswa 5. Para siswa di sekolah ini datang
ke sekolah siap untuk belajar 16.Para siswa di sini datang dengan
banyak kelebihan yang membuat mereka siap untuk belajar.
10. Apabila siswa tidak ingin belajar, guru-guru di sekolah ini bersikap menyerah
20. Para siswa di sini tidak termotivasi untuk belajar. Lingkungan sosial 6. Belajar menjadi lebih sulit di
sekolah ini karena para siswa mengkhawatirkan keselamatan mereka
13. Penyalahgunaan obat dan alkohol dalam komunitas (masyarakat) menyebabkan siswa sulit dalam belajar
21. Kesempatan berada dalam sekolah ini membantu saya menyakini bahwa siswa dalam belajar
Assesmen terhadap
Para guru percaya dan merasa mampu memotivasi
1. Para guru di sekolah ini percaya diri bahwa mereka dapat
7. Para guru di sekolah ini tidak memiliki keahlian untuk
kompetensi yang diperlukan agar siswa belajar.
3. Para guru di sekolah ini sungguh percaya bahwa setiap anak mampu belajar.
4. Para guru di sekolah ini mempunyai kemampuan untuk menghadapi siswa-siswa „sulit‟
(bermasalah).
14.Apabila seorang anak tidak memahami ketika dijelaskan untuk yang pertama kali, para guru akan mencoba cara lain dalam menjelaskan.
17.Para guru di sekolah ini menguasai sejumlah metode mengajar.
11. karena metode mengajar yang buruk., penjelasan guru seringkali tidak bisa dipahami oleh para siswa
15.Para guru di sini berpikir bahwa di sekolah ini ada beberapa siswa yang tidak ada seorang guru pun yang mampu mendampinginya.
Guru meyakini akan kemampuannya dalam mengelola kelas
12. Para guru di sini membutuhkan lebih banyak pelatihan agar tahu bagaimana menghadapi para siswa di sini.
9. Para guru di sekolah ini mempunyai keahlian untuk menghadapi masalah-masalah kedisiplinan siswa.