DAFTAR SKEMA
D. Manfaat Penelitian 1.Bagi Sekolah 1.Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi kepala sekolah untuk mengevaluasi gaya kepemimpinan yang diterapkan apakah sudah sesuai dengan harapan dan keinginan para guru dalam memimpin serta membuat guru percaya dan termotivasi dalam melakukan tugas-tugasnya dalam kelompok, khususnya dalam mengembangkan efikasi kolektif guru.
2. Bagi Universitas
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan bagi mahasiswa atau pihak lain yang membutuhkan, khususnya mengenai kontribusi kepemimpinan transformasional dengan efikasi kolektif guru.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang berguna untuk penulis serta mampu menjadikan bekal untuk kedepannya jika penulis bekerja sebagai seorang kepala sekolah. Selain itu peneliti mampu menerapkan gaya kepemimpinan transformasional dan dapat menumbuhkan efikasi kolektif dari para guru untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama.
4. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dan evaluasi dalam melakukan penelitian selanjutnya, khususnya mengenai kontribusi gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan efikasi kolektif guru. E. Definisi Operasional
Untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas dan untuk menghindari kesalah pahaman pembaca, peneliti menyebutkan definisi dari setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Penjelasan ini akan membantu pembaca dalam memahami isi atau teori pada penelitian ini.
1. Kepemimpinan Transformasional
Menurut Burns (Northouse, 2013: 176) kepemimpinan transformasional adalah proses dimana orang terlibat dengan orang lain, dan menciptakan
hubungan yang meningkatkan motivasi dan moralitas dalam diri pemimpin dan pengikut. Indikator untuk menentukan perilaku kepemimpinan kepala sekolah menurut Leithwood (1994) sebagai berikut:
a. Mengembangakan visi bersama bagi sekolah
b. Membangun konsensus tentang tujuan prioritas sekolah c. Menciptakan ekspektasi kinerja yang tinggi
d. Menjadi panutan atau model e. Memberi support atau dukungan f. Menyediakan stimulasi intelektual g. Membangun kultur sekolah h. Membangun kultur Kolaboratif 2. Efikasi Kolektif
Efikasi kolektif adalah kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki guru-guru bahwa usaha mereka bersama akan membawa suatu pencapaian kelompok. Efikasi kolektif dalam suatu kelompok (guru) juga dipengaruhi oleh ketrampilan dan pengetahuan bahwa mereka mampu bekerja sama dengan baik dalam kelompok. Jadi untuk mencapai suatu tujuan dalam kelompok mereka harus berusaha bersama-sama untuk mencapai apa tujuan yang ingin mereka capai dalam suatu organisasi dan dalam hal ini adalah organisasi sekolah. Indikatornya adalah analisis terhadap tugas guru dan assesmen terhadap kompetensi guru.
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan proses dimana seseorang dapat mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan bisa terjadi didalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Banyak orang yang beranggapan bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu memngarahkan sekelompok individu untuk mencapai apa tujuan yang ingin dicapai dan mempunyai rasa disiplin yang tinggi terhadap pekerjaanya. Setiap organisasi diharapkan memiliki seorang pemimpin yang yang disiplin dalam bekerja dan bisa dijadikan panutan oleh pengikutnya untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan oleh suatu organisasi tersebut. Beberapa definisi kepemimpinan menurut para ahli, antara lain:
a. Kepemimpinan menurut Wirawan (2013: 7) adalah proses dimana seorang pemimpin menciptakan suatu visi dan melakukan interaksi dengan pengikutnya untuk mencapai visi yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut.
b. Definisi kepemimpinan menurut Northouse (2013: 6) mengatakan bahwa kempemimpinan adalah dimana seorang individu dapat mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama.
Sedangkan menurut Rivai, Bachtiar dan amar (2013: 3) mengatakan bahwa
memengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi, sehingga dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting
dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi”.
Dari definisi yang sudah disaimpaikan oleh ketiga ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan sangatlah penting di gunakan dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Seorang pemimpin sangatlah penting dalam mempengaruhi para anggotanya dalam mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai.
Wirawan (2013: 7) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses pemimpin menciptakan visi dan melakukan interaksi saling mempengaruhi dengan para pengikutnya untuk merealisasi visi, antara lain:
a. Proses. Kepemimpinan merupakan suatu proses, yang artinya bahwa kepemimpinan memerlukan waktu, bukan sesuatu yang terjadi seketika. Dimana suatu proses interaksi antara pemimpin dan pengikut memerlukan waktu yang tidak sebentar.Tabel 2.1 melukiskan proses kepemimpinan. b. Pemimpin. Inti daripada kepemimpinan adalah pemimpin yang memimpin
Tabel 2. 1 Kepemimpinan Sebagai Suatu Proses Sistem
Masukan Proses Keluaran 1. Pemimpin 2. Pengikut 3. Visi, Misi 4. Budaya Organisasi 5. Kekuasaan 6. Sumber-sumber 7. Lingkungan Internal dan Eksternal altar kepemimpinan
1. Interaksi sosial antara pemimpin dan para pengikut 2. Pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi 3. Pemimpin memberdayakan para pengikutnya 4. Proses Terjadinya perubahan 5. Upaya merealisasi visi 6. Memanajemeni Konflik 7. Memanajemeni kinerja 1. Pengikut terpengaruh atau tidak terpengaruh 2. Terjadi perubahan
atau tidak terjadi perubahan 3. Visi tercapai atau
tidak tercapai 4. Kehidupan anggota
sosial lebih baik atau buruk
Sumber: Wirawan,2013
1) Intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Bass mengatakan, seorang pemimpin menstimulasi para pengikut supaya kreatif dan inovatif. Pemimpin juga mendorong para pengikutnya supaya mereka menggunakan imajinasi mereka untuk melakukan sesuatu yang dapat diterima oleh sistem sosial.
2) Inspirational motivation (motivasi inspirasional). Pemimpin menciptakan gambaran yang jelas mengenai keadaan masa yang akan dating (visi) yang secara optimis mampu dicapai dan seorang pemimpin mampu mendorong para pengikut untuk mengikatkan diri kepada visi tersebut.
3) Idealized influence (pengaruh teridealisasi). Bass mengatakan, seorang pemimpin pemimpin harus mampu bertindak sebagai panutan (role model) bagi para pengikutnya. Seorang pemimpin harus mempunyai keteguhan hati, kemantapan dalam mencapai tujuan, mengambil tanggung jawab
sepenuhnya serta memberikan penghargaan kepada para pengikut yang berprestasi
a. Ciri-ciri Kepemimpinan Transformasional
1) Mengidentifikasi dirinya sebagai agen perubahan (pembaruan) 2) Memiliki sifat pemberani
3) Mempercayai orang lain
4) Bertindak atas dasar sistem nilai (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya) 5) Meningkatkan kemampuannya secara terus menerus;
6) Memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu
7) Memiliki visi kedepan b. Leithwood, 1994
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan Transformasional
Menurut (Northouse, 2013:181-183) terdapat empat faktor yang mempengaruhi kepemimpinan transformasional, yaitu:
1) Faktor pertama yaitu karisma atau pengaruh ideal. Yang artinya adalah seorang pemimpin yang bertindak sebagai seorang teladan bagi para pengikutnya. Hal yang utama dari karisma atau pengaruh ideal adalah seorang pemimpin yang memiliki moral dan standar yang tinggi untuk membuat orang lain mengikuti visi yang telah mereka sampaikan.
2) Faktor kedua adalah motivasi yang menginspirasi. Yang artinya adalah seorang pemimpin yang mengkomunikasikan atau menyampaikan harapan
yang tinggi kepada para pengikut, lalu menginspirasi mereka lewat motivasi agar para pengikut menjadi setia kepadanya.
3) Faktor ketiga adalah rangsangan intelektual. Yang artinya adalah seorang pemimpin yang merangsang para pengikut supaya bersikap inovatif dan kreatif, serta merangsang keyakinan dan nilai mereka sendiri.
4) Faktor keempat adalah pertimbangan yang diadopsi. Yang artinya adalah seorang pemimpin memberikan iklim kerja yang mendukung bagi para pengikut. Seorang pemimpin mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh pengikut dan seorang pemimpin bertindak sebagai pelatih dan penasehat serta membantu pengikut untuk mewujudkan apa yang diingikannya.
2. Dimensi Kepemimpinan Transformasional
Terkait dengan indikator kepemimpinan transformasional beberapa ahli mendeskripsikannya secara berbeda. Dimensi yang digunakan Leithwood(1994), untuk menentukan perilaku kepemimpinan transformasional menurut Leithwood dalam jurnal ( Leithwood, Vol 30, number 4, 507) sebagai berikut:
a. Mengembangakan visi bersama bagi sekolah
Kepala sekolah yang berupaya untuk mengembangkan dan menyalurkan visi kepada orang lain serta membuat mereka memahami dan terinspirasi untuk melakukan visi tersebut .
b. Membangun konsensus tentang tujuan prioritas sekolah
Kepala sekolah yang berupaya mendorong supaya para guru dan staf dapat bersatu dan bekerja sama serta membantu mereka dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan.
c. Menciptakan ekspektasi kinerja yang tinggi
Kepala sekolah yang menunjukkan ekspektasi yang tinggi terhadap guru dan karyawan supaya mampu bekerja secara inovatif, pekerja keras serta profesional.
d. Menjadi panutan atau model
Kepala sekolah dimana perilaku dan tindakannya bisa menjadi contoh bagi para guru dan karyawan.
e. Memberi support atau dukungan
Perilaku kepala sekolah yang mau mendengarkan ide dari para guru, memahami betul kemampuan dan ketertarikan mereka serta mencari tahu pemahaman para guru terhadap suatu masalah serta memberikan pujian atas kerja keras yang baik.
f. Menyediakan stimulasi intelektual
Perilaku kepala sekolah mendorong staf dan guru untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengajak guru dan staf untuk memikirkan dan mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi mengenai pekerjaan mereka dan apa yang akan dilakukan supaya asumsi itu bisa diwujudkan.
g. Membangun kultur sekolah
Perilaku kepala sekolah yang berusaha untuk membangun nilai, keyakinan dan norma sekolah, serta menciptakan suasana saling percaya dan perhatian satu dengan yang lain.
h. Membangun kultur Kolaboratif
Perilaku kepala sekolah dimana dia memberikan kesempatan kepada para guru dan staf untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan isu-isu mengenai diri mereka.