KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kawasan
1. Ketersediaan Produk
Kerajinan MEP menghasilkan produk perhiasan yang terdiri dari mutiara, emas, perak atau kombinasi. Material emas dan perak digunakan sebagai bahan ikatan untuk merangkai mutiara menjadi produk perhiasan yang biaanya terdiri dari : 1) emas 18 karat atau 75% dan emas 22 karat atau 92% dan 2) perak 925, yaitu campuran perak murni dan tembaga dengan persentase 92.5% perak + 7.5% tembaga. Adanya perhiasan mutiara tersebut, membuat pusat kerajinan perhiasan Sekarbela sekarang lebih di kenal masyarakat sebagai pusat kerajinan mutiara di Lombok. Peminat jenis perhiasan mutiara asli budidaya dari Lombok (South Sea Pearl) adalah wisatawan domestic dan mancanegara. Desain perhiasan mulai dari kalung, cincin, anting, giwang, gelang, bros, maupun asesoris lainnya yang paling disukai pembeli adalah yang memiliki ciri khas Lombok, yaitu desain yang dikombinasikan dengan mutiara. Mutiara yang tersedia, selain dibedakan dari jenis budidayanya, juga terdapat beragam warna, putih, kuning keemasan, coklat, dan hitam. Mutiara air laut memiliki tekstur yang berbeda dari mutiara air tawar. Warnanya lebih creamy atau lebih keemasan.
Bentuk-bentuk mutiara dapat dilihat pada gambar 10 berikut ini :
Gambar 9. Bentuk - bentuk Mutiara
Selain mutiara juga terdapat material dan jenis lain yang berasal dari kulit atau cangkang kerang mutiara seperti pada gambar 11. berikut :
Gambar 10. Material dan Jenis Lain Produk 2. Fasilitas Pendukung
Ketiadaan sarana parkir untuk kendaraan bermotor juga ditambah dengan kehadiran cidomo (cikar, dokar, dan mobil alias kereta kuda khas Lombok,) yang berhenti atau mangkal mengakibatkan kendaraan tersebut memenuhi hampir seluruh bahu jalan di jalan utama yang relatif tidak terlalu lebar itu pada titik lokasi kawasan belanja tersebut serta masih belum optimalnya fungsi bangunan di koridor jalan wisata belanja MEP. Dari aspek kemanan juga belum adanya pos keamanan di lokasi wisata serta tempat istirahat dan a tau makan wisatawan yang memadai.
3. Aksesibilitas
Aksesibilitas pendukung terutama bagi pejalan kaki masih kurang memadai. Di jalan utama kawasan wisata belanja, yaitu jalan Sultan Kaharudin tidak terdapat pedestrian untuk para pejalan kaki. Sedangkan kondisi jalan-jalan kecil seperti gang-gang kondisinya juga kurang baik.
Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa klaster industri Mutiara Emas Perak (MEP) di kelurahan tersebut masih belum layak sebagai kawasan wisata belanja. Dari ketiga komponen pendukung kawasan wisata belanja, hanya satu komponen yang terpenuhi yaitu ketersediaan produk sedangkan untuk komponen lain belum
terpenuhi secara optimal. Dari potensi yang dimiliki, klaster industri MEP dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata belanja.
Upaya pengembangan klaster industri kerajinan MEP di kelurahan Karang Pule sebagai kawasan wisata belanja berdasarkan analisis SWOT adalah sebagai berikut :
1. Ketersediaan Produk
Pengembangan terhadap komponen ketersediaan produk lebih ditekankan pada peningkatan hasil produksi dan inovasi dari hasil kerajinan MEP di klaster industri, yaitu dengan : 1) meningkatkan jumlah produksi kerajinan MEP untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan permintaan, 2) mencari pemasok bahan baku dari tempat lain ataupun mengembangan kawasan budidaya khusus untuk memasok bahan baku dan 3) inovasi untuk meningkatkan daya saing produk kerajinan MEP dengan tren terbaru namun tetap mempertahankan ciri khas dengan memanfaatkan para pengerajin yang memiliki keterampilan dan keahlian.
2. Fasilitas
Pengembangan fasilitas untuk meningkatkan fasilitas dalam menunjang kegiatan wisata belanja, yaitu :1) mendesain koridor jalan Sultan Kaharudin sebagai koridor wisata belanja dan wisata industri dengan konsep
shopping street, 2) melakukan refungsi bangunan yang kurang menunjang aktifitas wisata di koridor tersebut, 3) mengoptimalkan keberadaan ruang terbuka dilengkapi dengan penataan street furniture yang menunjang aktifitas wisata, 4) pengadaan fasilitas pendukung, seperti : pos keamanan, tempat parkir, tempat istirahat dan atau tempat makan yang menyajikan kuliner khas Lombok sehingga pengunjung juga bisa berwisata kuliner, 5) melibatkan masyarakat untuk mendukung dan memelihara kelengkapan fasiitas yang ada demi kenyamanan dan keamanan wisatawan dan 6) melakukan pembagian blok pengembangan berdasarkan fungsi kawasan untuk memudahkan pengembangan industri MEP. Blok pengembangan tersebut terbagi menjadi 4 (empat) kawasan blok pengembangan seperti yang terdapat pada peta di bawah ini.
Gambar 11. Rencana Pembagian Blok Pengembangan
Kawasan pengembangan tersebut, antara lain : 1) Kawasan perdagangan, sebagai tempat pengembangan lokasi pemasaran kerajinan MEP berupa pertokoan, 2) Kawasan Campuran, untuk permukiman dan workshop para pengerajin, 3) Kawasan pendukung kegiatan industri dan wisata belanja, seperti rumah makan, ataupun tempat penginapan dan 4) Kawasan pengembangan permukiman, dengan relokasi permukiman sebagai upaya penataan dan peningkatan kualitas hunian yang tidak layak .
Pengembangan Klaster Industri Kerajinan Mutiara, Emas, Perak (MEP) Sebagai Kawasan Pariwisata Belanja Di Kelurahan
ISBN : 978-602-73463-1-4 151
http://pasca.unand.ac.id/id/prosiding-seminar-nasional-perencanaan-pembangunan-inklusif-desa-kota
3. Aksesibilitas
Pengembangan aksesibilitas dilakukan dengan meningkatkan aksesibilitas kawasan , yaitu : 1) peningkatan kualitas jalan, khususnya di koridor utama wisata belanja dan 2) peningkatan kualitas sirkulasi pejalan kaki pada koridor jalan utama, sirkulasi utamanya berupa area pedestrian yang nyaman dan aman bagi para penggunanya, yaitu : mampu mengakomodasi kebutuhan orang berkebutuhan khusus, adanya pembatas antara pejalan kaki dengan kendaraan dan jalur pedestrian yang memiliki keterikatan pada fasilitas-fasilitas wisata yang ada di koridor tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari peta pembagian kawasan potensial industri dan kawasan kelayakan permukiman tersebut dapat diketahui bahwa kawasan yang merupakan kawasan yang paling potensial untuk pengembangan kawasan industri juga merupakan kawasan permukiman yang tidak layak. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan industri kerajinan Mutiara Emas Perak yang sudah ada sejak dulu mempengaruhi kawasan terutama dalam hal lingkungan dan memiliki potensi untuk dikembangkan karena adanya keterkaitan antara klaster industri dan permukiman
2. Berdasarkan pemenuhan komponen-komponen pendukung kawasan wisata belanja, hanya satu komponen yang terpenuhi yaitu ketersediaan produk sedangkan untuk komponen lain seperti fasilitas pendukung dan aksesibilitas masih belum terpenuhi secara maksimal.
3. Upaya pengembangan berdasarkan analisis SWOT, adalah : 1) ketersediaan produk lebih ditekankan pada peningkatan hasil produksi dan inovasi, 2) kelengkapan fasilitas dengan peningkatan fasilitas pendukung wisata belanja dan pembagian blok pengembangan berdasarkan fungsi kawasan untuk memudahkan pengembangan Industri MEP dan 3) aksesibilitas lebih ditekankan pada peningkatan peningkatan kualitas jalan, pengadaan pedestrian dan parkir yang memadai.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan kerjasama semua pihak untuk mengembangkan kawasan pariwisata belanja MEP ini sehingga dapat mengoptimalkan potensi kawasan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anonim, Keputusan Walikota Mataram Nomor 526/X/2009 tentang Penetapan Klaster Industri Kecil Unggulan Kota Mataram
[2] Anonim, Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Mataram tahun 2011 – 2031
[3] R.Sushanti. Pengaruh Keberadaan Industri terhadap Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kota Mataram. Jurnal Sosial Ekonomi Humaniora. Universitas Mataram, Vol.1 No.1. 2015
[4] Anonim, Undang - Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian [5] Anonim, Undang - Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
[6] ] M.A. Medlik S, and Middleton. The Product Formulation In Tourism, Association Internationale d‟Experts
du Tourism (AIEST). 1973
[7] Singarimbun. Metode Penelitian Survei. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta. 2008
[8] M.E. Porter. Competitive Strategy : Techniques For Analyzing Industries and Competitors. The Free Press, New York.1980
[9] Rangkuti. Analisis SWOT Teknik Membedah Kaus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta . 2004 [10] H.Albanjari 2012. Analisis Rantai Nilai Kerajinan Mutiara, Emas dan Perak di Kota Mataram, NTB. GIZ
Perkembangan Wisata Berbasis Sosial Media Dan Pengaruhnya Terhadap Penyediaan Infrastruktur Perdesaan
ISBN : 978-602-73463-1-4 153
http://pasca.unand.ac.id/id/prosiding-seminar-nasional-perencanaan-pembangunan-inklusif-desa-kota