MODEL PENGELOLAAN PARIWISATA KOTA DENPASAR
3.1 POSISI KOTA DENPASAR DALAM KONTEKS PARIWISATA.
Dalam konteks ini, Denpasar menerima dampak paling besar dan kompleks, mulai dari distorsi budaya, kependudukan, ketersesakan, lingkungan, lalulintas, keamanan dan pembiayaan, bahkan branding.Dilematis dan memerlukan perhatian ekstra, karena sebagai titik sentral, keberagaman penduduk pendatang yang semakin besar membawa keragaman budaya, menyebabkan keterdesakan masyarakat dalam berkompetisi, ketersesakan ruang menimbulkan lingkungan kumuh dan berdampak terhadap kualitas lingkungan.
Sebagai ibukota Provinsi Bali yang sekaligus juga menjadi pusat perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan dan pusat pemerintahan, Denpasar harus memantapkan pos isinya sebagai Branding Bali dengan jalan mengokohkan budaya Bali sebagai landasan segala gerak dan langkah pembangunannya, sebagai pondasi menegakkan jati diri masyarakat Bali.Denpasar harus menjadi etalase budaya Bali, menjadi jendela adat dan tradisi Bali dengan menggali kembali, mengelola dengan teknologi kekinian budaya Bali, serta mempromosikannya.
Menjadikan masyarakat Kota Denpasar yang majemuk untuk tetap menghormati keragaman budaya dengan tetap menjaga budaya Bali, dengan cara re-intepretasi, re-integrasi, dan adaptasi terhadap kapasitas (capabilities) dan dukungan (supporting) untuk mendapatkan kemanfaatan bagi masyarakat (public value), yang kemudian kesemuanya menjadi landasan didalam setiap gerak dan langkah pembangunan.Persoalannya kemudian, ternyata didalam membangun kotanya, Denpasar tidak bisa sendirian, banyak faktor luar yang membutuhkan sinkronisasi dan kebersamaan, dari sisi kewenangan, didalam Kota Denpasar terdapat beberapa bagian yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemeri ntah Pusat, akselerasi dan sinkronisasi
konsep, kebijakan, strategi dan program pembangunan menjadi sangat penting, supaya tidak terjadi „tabrakan‟
atau bertentangan satu sama lain, harus ada pemahaman yang sama dan kesepahaman didalam menjalankannya.
Banyak contoh yang terjadi saat ini akibat perbedaan pemahaman dan ketidak sepahaman antara satu dengan lainnya, polemik berkepanjangan, substansi permasalahan tidak terurai dengan baik, dan ini bisa menjadi salah satu pemicu penyimpangan/bergesernya arah pembangunan, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang terjadi atau akan terjadi apabila tidak ada pengendalian yang baik.
3.2 KOTA DENPASAR DALAM KONTEKS PARIWISATA.
3.2.2 Denpasar dalam dimensi masa depan Pariwisata.
Dari hal ini tampak jelas bahwa arah pembangunan Denpasar yang paling tepat adalah yang mengacu pada kreativitas dan budaya. Karena itulah saya menggiatkan pembangunan Monumen Maya, bukan monumen fisik kota ini. Monumen maya itu ya sumber daya manusianya, heritage kebudayaannya s erta kantong-kantong kreativitasnya [2].
Sangat jelas bahwa untuk dapat menggerakkan pembangunan di Kota Denpasar, maka setiap penduduk di Kota Denpasar harus menjadi Monumen Maya, menjadi manusia unggul, dan tidak ada jalan lain untuk menjadi manusia unggul adalah kreatif, sedangkan kreatif itu sendiri sangat dinamis, oleh karena itu harus mampu melakukan re-intepretasi, re-integrasi dan adaptasi baik terhadap budaya lokal maupun budaya dari luar, terseleksi secara terukur dan menjadi identitas masyarakat urban kota denpasar. Intinya adalah bahwa masyarakat diharapkan untuk memliki semangat yang kreatif, terampil, berani mencoba, dan bertanggung jawab.
Kreativitas itu multi-dimensi sifatnya. Pemikiran Barat menyatakan bahwa salah satu dimensi kreativitas adalah economic creativity. Kreativitas ekonomi itu berdiri di atas tiga pilar penting, yaitu seni budaya, teknologi dan entrepreneurship atau ke-wirausahaan. Tampak jelas bahwa ada hubungan imbal-balik antara dimensi ekonomi, kreativitas, dan seni [2].
Teknologi menjadi faktor pendorong dalam membangun mindset baru bagi masyarakat Kota Denpasar, melalui teknologi terkini maka keberadaan insan-insan kreatif dan produk budaya unggul dapat dikenal oleh
dunia luar.Kedepan, paling tidak ada 4 isu yang harus dijaw ab oleh Kota Denpasar, yakni (1) bagaimana membangun masyarakat menjadi insan kreatif dan potensi budaya unggul menjadi komoditi pariwisata secara selektif; (2) bagaimana mem-branding potensi budaya unggul Kota Denpasar sebagai ikon Bali; (3) bagaimana mengembangkan kluster-kluster destinasi pariwisata secara tematik dengan infrastruktur yang memadai; (4) bagaimana mengelola pariwisata Kota Denpasar dengan manajemen profesional[3].
3.2.2 Potensi Pariwisata Denpasar berbasis Budaya Unggul.
Hasil penelitian mutakhir tahun 2009 oleh antropolog I Wayan Geriya, dkk menemukan, bahwa kegiatan kota kreatif perlu menjaga tiga prinsip keseimbangan. Keseimbangan antara pemuliaan jiwa kebudayaan yang menjadi inspirasi dengan pencarian raga yang berorientasi pasar dan materi; keseimbangan antara spirit revitalisasi untuk pelestarian dan semangat entrepreneur yang beorientasi bisnis; dan keseimbangan filosofi integrasi yang memuliakan unitas dengan wawasan multikultur yang menghormati keragaman.
Penelitian juga menginventori 66 unsur budaya unggulan dan 44 unsur budaya potensial sebagai basis andalan kota kreatif. Diantara 66 unsur budaya ungulan, 33,3% berorientasi spiritual-kultural, 16,7% berorientasi ekonomi-material, dan 50,0% berorientasi ganda, spiritual-kultural dan ekonomi-material [4].
Apabila dikaitkan dengan 16 komponen ekonomi kreatif yang ditetapkan di Indonesia, maka terlihat
betapa „kaya‟nya Kota Denpasar dengan bekal keunikan budayanya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
Kota Denpasar pada dasarnya memiliki potensi unggulan yang berasal dari budaya lokal, terungkap pula bahwa potensi tersebut memiliki muatan ekonomi yang cukup besar. Potensi inilah yang nantinya menjadi spesifik Kota Denpasar dan akan menjadi identitas Denpasar, menjadi branding Denpasar.
Pengelompokkan jenis dan sebaran potensi budaya unggulan tersebut akan membentuk kluster-kluster destinasi wisata yang tematik. Kluster-kluster destinasi wisata ini juga merupakan potensi yang dapat mendorong pergerakan waistawan dalam kota, apabila dapat dikelola secara profesional.
3.4 PENGEMBANGAN WISATA KOTA DENPASAR.
3.4.1 Konsep pengembangan
Landasan penyusunan konsep pengembangan pariwisata Kota Denpasar adalah Potensi Budaya Unggulan yang dimilikinya. Dasar pertimbangannya adalah kebijakan, pilihan-pilihan potensi yang akan dijadikan komoditi pariwisata, model pengelolaan, apakah keseluruhan manajemen kepariwisataan akan dikelola oleh Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pariwisata, ataukah disebar terkoneksi (secara manajemen terbagi ke dalam segmen-segmen tertentu, tetapi masih dalam satu pengendali).
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam penyusunan konsep pengembangan Pariwisata Kota Denpasar, antara lain : 1. Collecting and Structuring, data-data yang dimiliki, terutama 66 unsur potensi budaya unggulan, baik
terhadap jenis, jumlah, dan sebarannya, data ini akan mengelompokkan potensi budaya unggulan berdasarkan dominasi jenis dan jumlah didalam sebuah kawasan. Kelompok-kelompok ini akan menunjukkan tema-tema kawasan, lokasi kawasan, luasan kawasan, dan aksesibilitas kawasan. 2. Identifikasi potensi tiap kawasan, memilah dan mengelompokkan secara lebih rinci potensi kawasan,
menetapkan jenis dan sifat potensi kawasan.
3. Analisis spesifikasi tiap kawasan, menetapkan tema-tema kawasan, analisis potensi, menetapkan program pengembangan, analisis potensi organisasi lokal, analisis model pengelolaan kawasan. 4. Analisis struktur berdasarkan kawasan yang sudah terbentuk dengan tema-tema kawasannya,
menganalisa hubungan „link and match‟ antar kawasan dengan potensi unggulannya.
5. Menetapkan Struktur Pengembangan Pariwisata Kota Denpasar dengan menyusun skala prioritas program dan menyusun model pengelolaan pariwisata berdasarkan hasil kajian tiap kawasan.
Model Pengelolaan Pariwisata Kota Denpasar
ISBN : 978-602-73463-1-4 47
http://pasca.unand.ac.id/id/prosiding-seminar-nasional-perencanaan-pembangunan-inklusif-desa-kota
3.4.2 Pengelompokan dan Tematik
Apabila melihat kondisi kekinian, sebenarnya sudah terlihat adanya kawasan yang sudah mulai dikembangkan, sedang tumbuh menuju pengelolaan yang terintegrasi dan ada pula yang sudah ditetapkan namun belum tertangani dengan baik. Salah satu contoh :
Kawasan Subak Sembung di wilayah Peguyangan Kaja, sementara dikelola oleh Tim yang dibentuk melalui Subak dan Badan LH, Tema Kawasan sementara adalah Lingkungan Hidup, Pertanian Kota (Urban Farming), dengan model transport didalam kawasan adalah jalan kaki dan naik sepeda. Fasilitas yang ada, jalan setapak, wantilan dan parkir. Potensi budaya unggulan yang ada di kawasan tersebut masih belum ditangani secara terintegrasi, manajemen masih bersifat internal, belum ada upaya bersama untuk mempromosikannya. Sebagai langkah awal sudah memadai, tinggal pengembangan potensi budaya unggul, integrasi pengelolaan, dan fasilitas yang harus dikembangkan secara terpadu.
Kawasan Sanur, sebenarnya kawasan ini terbilang sudah maju, potensi budaya uggul sudah tergarap dengan baik, terintegrasi (walau lokal), fasilitas sudah memadai, tema yang muncul sastra, seni dan budaya, alam pantai, dan kreatif. Untuk jenis pengelolaan bahkan sudah terbentuk Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), persoalannya tinggal menetapkan alternatif jalur-jalur wisata yang variatif dan menarik.
Kawasan Pusat Kota, secara Kawasan sebenarnya sudah ditetapkan sebagai Heritage Old Town (Kota Tua), potensi heritage-nya cukup banyak dalam bentuk kawasan, bangun-bangunan dan ruang terbuka, seperti kawasan Jl. Gajahmada, Jl. Sulawesi, Jl. Kartini, Bangunan Bali Hotel, Kompleks Puri, Pasar, dsb, termasuk Lapangan Puputan Badung ( I Gst Made Agung), Setra Badung, Pura Desa/Puseh, Tambangan Badung, dsb.
Kawasan-kawasan lain yang masih belum tergarap, dapat dibangkitkan melalui partisipasi masyarakat. Masyarakat dilibatkan dalam menetapkan Tema Kawasan, produk-produk budaya unggul yang akan dikembangkan, penyusunan rencana zonasi dan model pengelolaannya.
3.4.3 Fasilitas Penunjang.
Fasilitas penunjang dimaksud meliputi (1) fisik seperti restoran, souvenir shop, kantor, km/wc, dsb tergantung kesepakatan bersama; (2) tenaga/jasa seperti pengelola dan guide internal (lokal); (3) pengaturan rute perjalanan dengan titik-titik singgah; (4) skala perjalanan/moda angkutan.Fungsi-fungsi penunjang fisik seperti restoran, souvebir shop, kantor, km/wc, dsb ditempatkan pada lokasi/zona tersendiri, kecuali pada titik- titik singgah dilengkapi minimal km/wc umum dan tempat beristirahat.Untuk kawasan yang sudah tergarap, fasilitas ini sudah tersedia dan dipandang perlu untuk menin gkatkan kelengkapannya. Namun pada kawasan- kawasan yang belum tergarap, perlu perencanaan zonasi untuk fasilitas penunjang dengan jenis, besaran dan luasannya.
Fasilitas jasa/tenaga baik pengelola maupun pemandu internal, secara potensi sebenarnya tidak kekurangan, tinggal pelatihan untuk memberikan wawasan dan substansi potensi. Seka Teruna Teruni adalah potensi sdm unggulan, baik sebagai pengelola maupun sebagai pemandu internal, dan untuk menjaga kesinambungan generasi, dapat dilakukan kursus dalam setia p tahunnya dengan bantuan kepada kegiatan kepemudaan.
Pengaturan rute perjalanan menjadi sangat penting dan akan menjadi daya tarik tersendiri dengan dilengkapi titik-titik singgah. Titik singgah dapat berperan sebagai area pemotretan disamping tempat beri stirahat, sehingga lokasinya juga mempertimbangkan sudut/angel yang baik untuk pengambilan foto dan dapat menjangkau seluruh kawasan. Rute ini dapat dibangun dalam beberapa alternatif, sehingga dapat menjadi pilihan-pilihan yang menarik dengan variasi potensi yang berbeda.
Skala perjalanan/moda angkutan akan menjadi spesifik dari masing-masing kawasan, karena disesuaikan dengan Tema dan rute. Seperti di Kawasan Subak Sembung, secara internal bisa dengan kendaraan sepeda atau joging. Sedangkan di Kawasan San ur bisa dengan sepeda pada beberapa rute, bisa joging atau kombinasi keduanya.Sedangkan di Kawasan Pusat Kota dengan angkutan khusus yang disiapkan untuk itu, dengan pengaturan rute, titik singgah dan jam layanannya/shift trayek.
Fasilitas penunjang ini harusnya dirancang lebih awal, termasuk perencanaan luasan kawasan dan zonasi, karena kondisi obyektif di lapangan sangat bervariasi. Pada kawasan yang sudah tersedia, belum tentu dapat mendukung karena tidak pada lokasi yang diharapkan, dilain pihak pada kawasan yang belum tersedia, dihadapkan pada lahan pada lokasi yang dirancang.
3.4.4 Pengelolaan.
Sementara ini tata kelola kepariwisataan Kota Denpasar berfokus pada bidang-bidang (a) promosi pariwisata yang mencakup analisa pasar, penyuluhan dan informasi; (b) obyek dan daya tarik wisata yang meliputi rekreasi dan hiburan umum serta obyek dan atraksi wisata; (c) usaha jasa dan sarana wisata yang meliputi usaha jasa dan akomodasi pariwisata serta usaha rumah makan, bar dan jasa boga.Dipahami bahwa pengelolaan pariwisata di daerah masih saling terkait dengan pemerintah atasan, baik itu provinsi maupun
pemerintah pusat, dengan pembagian kewenangan yang „samar‟ atau saling mengisi kalau tidak boleh dikatakan
saling tumpang tindih.
Diperlukan strategi dan kebijakan pengelolaan pariwisata, yang meliputi antara lain (a) strategi dan kebijakan yang mengatur alur kunjungan wisatawan dikaitkan dengan destinasi wisata, produk unggulan setempat; (b) strategi dan kebijakan yang mengatur model pengelolaan pariwisata setempat; (c) strategi dan kebijakan yang mengatur dan melindungi sdm setempat yang mampu dan profesional dalam mengelola pariwisata setempat; (d) strategi dan kebijakan yang mengatur model pengelolaan pariwisata, sehingga jelas lingkup pengelolaan yang dilaksanakan oleh pemerintah, serta pembagiannya mana yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Denpasar dituntut untuk mengembangkan model pengelolaan pariwisata secara kreatif dan inovatif sesuai dengan kewenangannya. Strategi dan kebijakan yang ditempuh antara lain (a) menata kembali destinasi wisata secara tematik dengan membagi seluruh bagian wilayah kota dalam kawasan-kawasan dengan spesifikasi unggulan masing-masing kawasan; (b) mengatur pola transportasi antar kawasan dan internal kawasan secara terpadu; (c) mengarahkan tupoksi Dinas Pariwisata Kota Denpasar pada strategi dan kebijakan pengelolaan, pembinaan masyarakat, manajemen data, dan promosi. Kalaupun toh masih terlibat didalam pengelolaan, hanya terbatas pada aset-aset pemerintah dan publik serta manajemen retribusi; (d) mengintegrasikan kegiatan- kegiatan di dalam kota baik yang insidentil maupun reguler kedalam kalender pariwisata; (e) mengelola potensi sdm lokal sebagai insan kreatif pariwisata Kota Denpasar yang un ggul.
KESIMPULAN DAN SARAN