STRATEGIS PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA AIR TERJUN DLUNDUNG TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO
1) Persepsi Wisatawan Terhadap Obyek Wisata Air Terjun Dlundung
Persepsi adalah suatu proses aktifitas seseorang dalam memberikan penilaian, kesan, pendapat, merasakan, dan menginterprestasikan sesuatu berdasarkan dari sumber yang didapat (9Poerwanto, 2004). Dari hasil persepsi wisatawan diperoleh suatu hasil yang dapat menjadi masukan untuk pengembangan dan penataan obyek wisata Air Terjun Dlundung. Analisis persepsi yang digunakan pada tahap ini adalah analisis persepsi wisatawan tentang daya tarik wisata, aksesbilitas, kondisi fasilitas pendukung, dan promosi obyek wisata. Pada analisis persepsi wisatawan tentang daya tarik wisata diperoleh aspek kenyamanan dan ketenangan serta pemandangan alam mendapatkan bobot paling tinggi dari wisatawan, sedangkan aspek pameran pergelaran bantengan dan penataan ruang memiliki bobot paling rendah karena belum adanya tempat pertunjukan untuk pergelaran bantengan dan kurangnya penataan ruang pada objek wisata Air Terjun Dlundung tersebut.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
AKS 1 AKS2 AKS 3
Kondisi jalan
Angkutan umum
Tarif Angkutan
Gambar 4. Bobot Persepsi wisatawan tentang kondisi Daya Tarik
Gambar 5. Bobot Persepsi wisatawan tentang Aksesbilitas obyek wisata
0 20 40 60 80 100 120 140 DT1 DT2 DT3 DT4 DT5 DT6 Pemandangan alam Kenyamanan lokasi wisata Lokasi bumi perkemahan Taman Pameran pergelaran bantengan Penataan ruang Keterangan :
DT 1 : Daya Tarik 1 (Pemandangan Alam), DT 2 : Daya Tarik 2 (Kenyamanan Lokasi Wisata), DT 3 : (Lokasi Bumi Perkemahan), DT 4 : Daya Tarik 4 (Taman), DT 5 : Daya Tarik 5 (Pameran Pergelaran Bantengan), DT 6 : Daya Tarik 6 ( Penataan Ruang).
AKS 1 : Aksesbilitas 1 (Kondisi Jalan), AKS 2 : Aksesbilitas 2 ( Angkutan Umum), AKS 3 : Aksesbilitas 3 ( Tarif Angkutan ).
Pada analisis persepsi wisatawan tentang aksesbilitas obyek wisata diperoleh aspek angkutan umum yang melewati lokasi wisata mendapatkan bobot paling rendah, sedangkan kondisi jalan menuju lokasi obyek wisata mendapatkan bobot paling tinggi karena kondisi jalan di lokasi sudah bagus dan beraspal.
Pada analisis persepsi wisatawan tentang kondisi fasilitas pendukung diperoleh aspek kondisi area parkir memiliki bobot paling tinggi yang artinya aspek tersebut sudah mencukupi kebutuhan wisatawan, sedangkan aspek tempat souvenir dan tempat atraksi memilki bobot paling rendah itu tandanya lokasi wisata ini perlu pengembangan dan penataan karena kedua aspek tersebut merupakan faktor penunjang kemajuan suatu obyek wisata.
Analisis persepsi wisatawan yang terakhir yaitu tentang promosi obyek wisata. Pada analisis ini diperoleh kegiatan promosi yang ada di obyek wisata Air Terjun ini sudah baik dan banyak dari wisatawan yang mengingikan agar kawasan ini menjadi destinasi wisata para wisatawan nasional maupun mancanegara dengan nilai 51%, namun lebih di tingkatkan lagi karena kegiatan promosi menjadi faktor penting pada suatu wisata. 1) Strategis Pengembangan kawasan obyek wisata Air Terjun Dlundung
World Tourism Organization (WTO) yang dikutif Kamino (2015) dalam Gunawan [4]) menggariskan kebijakan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) ada tiga hal, yaitu berkelanjutan ekonomi, sosial dan budaya, sertaalam. Konsep ini sangat sesuai dengan pembangunan pariwisata di Indonesia yang mensinergikan sektor pariwisata dengan keindahan alam dan keanekaragaman sosial budaya.Dalam merumuskan strategi pengembangan dan penataan kawasan obyek wisata air terjun dlundung, menggunakan teknik analisis SWOT.
Analisis TOSW adalah metode untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi Threats, Opportunities, Strengths, dan Weaknesses dalam permasalahan. Teknik ini pertama kali dikemukanan oleh Albert Humphrey pada tahun 1960-an sampai dengan 1970-an, memimpin proyek riset di Universitas Stanford [10]
Berdasarkan hasil dari analisis SWOT diperoleh strategi stabilisasi / Turn Around pada kuadran tiga dengan nilai x = -0,1 dan y = 0,25. Maka strategi yang dapat dikembangkan adalah mengkonsep strategi dengan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluangyang ada [11]. antara lain dengan mengadakan kerjasama antar pemerintah, masyarakat sekitar, swasta dan untuk pengembangan untuk pengembangan obyek wisata Air Terjun Dlundung dengan menyediakan angkutan umum serta memperbaiki dan menambah fasilitas di objek wisata terutama tempat souvenir dan pujasera sebagai tempat wisata kuliner, tempat atraksi, toilet, serta ruang pendopo untuk atraksi budaya.
Strategis – strategis yang akan digunakan dalam rangka pengembangan kawasan Wisata Alam Air Terjun Dlundung Trawas kabupaten Mojoker to dengan pendekatan matriks SWOT adalah :
Strategis Pengembangan Kawasan Wisata Air Terjun Dlundung Trawas Kabupaten Mojokerto
ISBN : 978-602-73463-1-4 41
http://pasca.unand.ac.id/id/prosiding-seminar-nasional-perencanaan-pembangunan-inklusif-desa-kota
1. Strategi S – O
Strategi ini dibuat dengan memanfaatkan kekuatan pada obyek wisata sertamenggunakan peluang yang ada sebesar – besarnya :
a. Mengembangkan potensi local berupa sosial budaya dan aneka makanan serta a lam menjadi suatu atraksi yang diagendakan tiap bulan dalam paket wisata.
b. Mengadakan paket wisata dan memberikan souvenir dan aneka kerajinan yang khas daerah mojokerto kepada para pengunjung kawasan wisata.
c. Memberlakukan pembayaran tiket sekali masuk dengan penawaran paket wisata sosial dan budaya sertaaneka kuliner juga keindahan alam dan kenyamanan serta keasrian.
d. Adanya pengawasan dan pengendalian jumlah wisatawan yang masuk agar kerusakan lingkungan akibat perilaku wisatawan dapat dihindari.
e. Menarik masyarakat diluar desa Ketapanrame untuk mengisi acara bulanan atau tahunan berupa atraksi wisata seperti perkemahan dan lomba lintas alam di lokasi wisata.
2. Strategis S – T
Ini adalah strategis dalam menggunakan kekuatan yang dimiliku utk mengatasi ancaman :
a. Melakukan edukasi melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang konsep wisata alam berkelanjutan. b. Menjadikan agenda wisata sebagai alternative penambahan income masyarakat yang dapat
dirangkaikan dengan wisata budaya dan modern yang ada di kota Mojokerto.
c. Melakukan pengelolaan manajemen yang terpadu antara apparat pemerintahan dengan masyarakat sekitar kawasan wisata yang lebih baik untuk berberlanjutan kawasan wisata air terjun Dlundung. d. Penyediaan pemandu wisata, asuransi kesehatan dan keselamatan, spot - spot yang indah, tempat
penyimpanan barang dan sebagainya. e. Pemetaan Kawasan Kawasan berbahaya.
f. Melakukan penanaman pohon di sekitar lokasi longsor dengan menanam tanaman tanaman pengikat tanah yang menarik dan memperindah lokasi kawasan wisata.
3. Strategis W – O
Strategi memanfaatan peluang yang ada dengan meminimalisir kelemahan yang ada : a. Mengadakan regulasiantara pemerintahan, masyarakat, dan praktisi.
b. Menyediakan lahan perkemahan untuk wisatawan yang ingin melakukan kegiatan berkemah untuk menambah atraksi wisata yang ditawarkan.
c. Melakukan promosi wisata yang menarik melalui media online maupun offline dengan penawaran penawaran yang lebih bervariasi sehingga dapat memacu wisatawan yang datang bukan hanya pada akhir pekan tetapi melakukan kunjungan merata setiap harinya.
d. Menyediakan fasilitas utama dan pendukung kawasan wisata alam seperti pondok peristirahatan, pendopo, panggung pertunjukkan, ruang ganti beserta toilet, sarana peribadatan, pujasera serta menyediakan jalur tracking yang bisa digunakan oleh wisata keluarga.
e. Melakukan pengelolaan manajemen secara professional dan terstruktur.
f. Melakukan kegiatan pembersihan terhadap coretan – coretan dan sampah yang mengganggu estetika lingkungan kawasan wisata serta membuat papan himbauan yang bersifat mendidik.
g. Melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada tokoh – tokoh masyarakat sekitar kawasan wisata mengenai pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan sehingga dapat menguntungkan yang dirasakan tidak hanya untuk pengelolah kawasan wisata tetapi juga bagi masyarakat.
4. Strategis W – T
Strategi ini didasari pada kegiatan yang bersifat bertahan a tau defensive dengan berusaha meminimalisir kelemahan yang ada serta menghindari ancaman :
a. Pembentukan Kader Lingkungan.
b. Meningkatkan promosi baik online maupun offline serta penataan dengan rancangan yang menarik di kawasan wisata air terjun Dlundung.
c. Menambah minat pengunjung dan daya tarik wisata dengan melakukan pengembangan kawasan agar sesuai dengan konsep wisata keluarga.
d. Pembuatan lokasi Camping Ground di tempat yang interaktif dana man jauh dari bencana alam. e. Pengelolaan manajemen yang memerlukan kepandaian khusus tentang pariwisata.
KESIMPULAN
Investasi keindahan alam sebagai kawasan wisata alam, akhir – akhir ini menjadi trend keberadaannya, sehingga perlu disikapi secara arif dan professional melalui arahan – arahan yang tegas dan bijaksana dari para pengambil keputusan (pemerintah) dan kesadaran yang tinggi dari para pengelola kawasan wisata agar fungsi ekologis dan ekonomis tetap terjaga dan terjamin. Penetapan harga pada kawasan wisata harus melibatkan pemerintah karena hal ini berdampak luas terhadap kelestarian lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Subsidi berupa dana harga masuk maupun bantuan masih sangat diperlukan untuk menarik investasi di wisata alam Indonesia. Dalam hal pengembangan wisata alam yang terpenting harus mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar [12]
Simpulan yang diperoleh: 1. Potensi yang ada di kawasan adalah potensi alam dan juga potensi budaya masyarakat berupa kesenian dan kuliner, sedangkan permasalahan yang ada adalah sarana dan prasarana yang belum cukup dalam menunjang aktivitas wisata.2. berdasarkan persepsi wisatawan tentang keinginan pengembangan potensi dan sarana dan prasarana kawasan wisata mendapatkan nilai yang tinggi yaitu 51%, sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengembangan str ategi yang lebih baik pada kawasan wisata air terjun Dlundung Trawas Mojokerto. 3. Berdasarkan hasil analisis SWOT, Kawasan Wisata air terjun Dlundung berada pada Kuadran 3 matriks SWOT yang merupakan posisi turn around / stabilisasi dimana kawasan wisata Air Terjun Dlundung dalam strategisnya memanfaatkan peluang yang ada dengan maksimal dengan meminimalkan kelemahan yang ada. Posisi ini memungkinkan kawasan wisata air terjun Dlundung untuk diterapkannya strategis stabilisasi dan regulasi dengan memperbaiki manajemen pengelolaan dan pemerintah daerah.