BAB II PROSEDUR PENDAFTARAN OBJEK JAMINAN FIDUSIA
A. Tinjauan Umum tentang Notaris
2. Kewenangan, Kewajiban dan Larangan Notaris
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari kata wewenang adalah hak dan kekuasaan untuk bertindak. Sedangkan definisi dari kata
kewenangan adalah hak dan kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu.70 Wewenang notaris pada prinsipnya merupakan wewenang yang bersifat umum.
Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuat akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikeculikan kepada pejabat atau orang lain.
Mendasarkan pada nilai moral dan etik notaris, maka pengembanan jabatan notaris adalah pelayanan kepada masyarakat (klien) secara mandiri dan tidak memihak dalam bidang kenotariatan yang pengembangannya dihayati sebagai panggilan hidup bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama manusia demi kepentingan umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan martabat notaris pada khususnya.71
Dengan demikian notaris merupakan suatu jabatan (publik) yang mempunyai karakteristik, yaitu :72
1. Sebagai jabatan
UUJN merupakan unifikasi di bidang pengaturan jabatan notaris, artinya satu-satunya aturan hukum dalam bentuk undang-undang yang mengatur jabatan
70 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia¸ hlm. 1128
71 Herlien Budiono, Notaris dan Kode Etiknya, (Medan : Upgrading & Refresyhing Course Nasional Ikatan Notaris Indonesia, 30 Maret 2007), hlm. 3
72 Habib Adjie, Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) Sebagai Unifikasi Hukum Pengaturan Notaris, RENVOI, Nomor 28 Tahun III, 3 September 2005, hlm. 38
notaris di Indonesia, sehingga segala hal yang berkaitan notaris di Indonesia harus mengacu kepada UUJN.
Jabatan notaris merupakan suatu lembaga yang diciptakan oleh Negara.
Menempatkan notaris sebagai jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu (kewenangan tertentu) serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.
2. Notaris mempunyai kewenangan tertentu
Setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus ada aturan hukumnya sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik, dan tidak bertabrakan dengan wewenang jabatan lainnya. Dengan demikian jika seorang pejabat (notaris) melakukan suatu tindakan diluar wewenang yang telah ditentukan, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar wewenang. Wewenang notaris hanya dicantumkan dalam Pasal 15 ayat (1), (2) dan (3) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 Jo Nomor 2 Tahun 2014.
Diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah
Pasal 2 UUJN Nomor 02 Tahun 2014 menentukan bahwa notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, dalam hal ini menteri yang membidangi kenotariatan (Pasal 1 ayat (14) UUJN Nomor 02 Tahun 2014). Notaris meskipun secara administratif diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, tidak berarti notaris menjadi subordinasi (bawahan) dari yang mengangkatnya, yaitu pemerintah. Dengan demikian, notaris dalam menjalankan jabatannya : a. Bersifat mandiri (autonomous)
b. Tidak memihak siapa pun (impartial)
c. Tidak tergantung kepada siapapun (independent), yang berarti dalam menjalankan tugas jabatannya tidak dapat dicampuri oleh pihak yang mengangkatnya atau oleh pihak lain
4. Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya.
Notaris meskipun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tetapi tidak menerima gaji maupun uang pensiun dari pemerintah. Notaris hanya menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau dapat memberikan pelayanan cuma-cuma untuk mereka yang tidak mampu.
5. Akuntabilitas atas pekerjaannya kepada masyarakat
Kehadiran notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan dokumen hukum (akta) otentik dalam bidang hukum perdata, sehingga notaris mempunyai tanggung jawab untuk melayani masyarakat, masyarakat dapat menggugat secara perdata notaris, dan menuntut biaya, ganti dan bunga jika ternyata akta tersebut dapat dibuktikan, dibuat tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, hal ini merupakan bentuk akuntabilitas notaris kepada masyarakat . Sebagai pejabat umum, notaris :
(a) Berjiwa Pancasila,
(b) Taat kepada hukum, sumpah jabatan, kode etik notaris (c) berbahasa Indonesia yang baik.
Setiap perbuatan pemerintahan diisyaratkan harus bertumpu pada kewenangan yang sah. Tanpa ada kewenangan yang sah seorang pejabat ataupun Badan tata usaha negara tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan pemerintahan.
Oleh karena itu kewenagan yang sah merupakan atribut bagi pejabat ataupun bagi setiap badan.73
Berdasarkan UUJN tersebut ternyata notaris sebagai pejabat Umum memperoleh kewenangan secara atribusi, karena kewenangan tersebut diciptakan dan diberikan oleh UUJN sendiri. Jadi kewenangan yang diperoleh Notaris bukan berasal dari lembaga lain, misalnya dari Departemen Hukum dan HAM.74 Jadi, Notaris memiliki legalitas untuk melakukan perbuatan hukum membuat akta otentik.
Di dalam UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014 tugas dan wewenang notaris secara umum diatur dalam Pasal 1 angka 1, Pasal 15 ayat (1), (2) dan ayat (3). Pasal 1 angka 1 UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014 menyebutkan bahwa, “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya”. Pasal 15 ayat (1) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014, “Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”. Kewenangan notaris dalam hal ini yaitu
73 Lutfi Effendi, Pokok-Pokok Hukum Administrasi, (Malang : Bayumedia Publishing, 2004), hlm.77
74Habib Adjie, Op.Cit, hlm.78
membuat akta jaminan fidusia berdasarkan perjanjian kredit yang di buat oleh kreditur. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat 1 yang berbunyi :
“Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia”.
Ada beberapa akta otentik yang merupakan kewenangan Notaris dan juga menjadi kewenangan pejabat atau instansi lain, yaitu :
1) Akta pengakuan anak di luar kawin (pasal 281 BW)
2) Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (pasal 1227 BW)75;
3) Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (pasal 1405 dan 1406 BW);
4) Akta protes wesel dan cek (pasal 143 dan 218 WvK)
5) Surat kuasa membebankan hak tanggungan (SKMHT) (pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.);
6) Membuat akta risalah lelang76
Kewajiban notaris merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh notaris yang jika tidak dilakukan atau dilanggar, maka atas pelanggaran tersebut akan dikenakan sanksi terhadap notaris. Kewajiban notaris diatur dalam Pasal 16 :77
1. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum
75 Ketentuan pasal 1227 BW tersebut terdapat dalam buku II BW. Menurut pasal 29 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, ketentuan mengenai hipotik dinyatakan tidak berlaku.
76 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 338/KMK.01/2000, tanggal 18 agustus 2000, terdapat dalam pasal 7 ayat (3).
77Pasal 16 ayat 1 UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014
2. Membuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris
3. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta
4. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali pada alasan untuk menolaknya
5. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah / janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain
6. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam satu buku, atka tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku dan mencatat jumlah minuta akta, bulan dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku
7. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga
8. Membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan
9. Mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam nomor 8 atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya
10. Mencatat dalam reportorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap
akhir bulan
11. Mempunyai cap/stempel yang memuat lambang negara Republik Indonesia pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan dan tempat kedudukan yang bersangkutan
12. Membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap saksi, dan notaris
13. Menerima magang calon notaris.
Menyimpan Minuta Akta sebagaimana dimaksud huruf b tidak berlaku, dalam hal notaris mengeluarkan akta dalam bentuk originali. Pengecualian terhadap kewajiban pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada huruf I tidak wajib dilakukan sebagaimana tertera pada Pasal 16 ayat (7) UUJN, jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan, karena para penghadap telah membaca sendiri, mengetahui dan memahami isinya, dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman Minuta Akta diparaf oleh penghadap, saksi dan notaris. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, maka berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (8) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014, akta yang bersangkutan hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan.
Sehubungan dengan kewajiban serta kekuatan pembuktian dari akta otentik yang dibuat oleh atau dihadapan notaris tersebut diatas, maka habib adjie menyimpulkan 2 (dua) hal sebagai berikut :
1. Tugas jabatan notaris adalah memformulasikan keinginan/tindakan para pihak dalam akta otentik, dengan memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku.
2. Akta notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, sehingga tidak perlu dibuktikan atau ditambah dengan alat bukti lainnya jika ada orang/pihak yang menilai atau meyatakan bahwa akta tersebut tidak benar, maka orang/pihak yang menilai atau menyatakan tidak benar tersebut, wajib membuktikan penilaian atau pernyataannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kekuatan pembuktian akta notaris ini berhubungan dengan sifat publik dari jabatan notaris.78
Notaris berkewajiban pula untuk memberikan bantuan Cuma-Cuma kepada mereka yang disebutkan dalam pasal 37 UUJN. Ada hal-hal lain dimana Notaris wajib menolak memberikan bantuannya yaitu dalam hal pembuatan akta yang isinya bertentangan dengan ketertiban umum atau kesusilaan. Juga dalam hal pembuatan akta dimana tidak ada saksi-saksi yang tidak dapat dikenal oleh notaris ataupun tidak dapat diperkenalkan kepadanya.
Notaris berkewajiban untuk membuat dokumen atau akta yang diminta masyarakat. Ia tidak hanya menolak permohonan tersebut, seorang notaris dapat dituntut jika menolak untuk membuat akta tanpa alasan yang jelas karena kewajiban membuat dokumen diamanatkan oleh undang-undang. Jika terjadi penolakan berarti si notaris melanggar undang-undang. Berdasarkan ketentuan Pasal 7 PJN seorang notaris tidak diperbolehkan menolak untuk memberikan bantuan, bila hal tersebut diminta kepadanya, kecuali bisa terdapat alasan yang mendasar. Bila notaris berpendapat bahwa terdapat alasan yang mendasar untuk menolak, maka hal itu ia beritahukan secara tertulis kepada yang meminta bantuannya itu.
Berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf d UUJN Nomor 30 Tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 Tahun 2014, dalam keadaan tertentu notaris dapat
78Habib Adjie,Op.Cit, hlm.35
menolak untuk memberikan pelayanan dengan alasan-alasan tertentu. Dalam penjelasan pasal ini, ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan “alasan untuk menolaknya” adalah alasan yang mengakibatkan notaris berpihak, seperti adanya hubungan darah atau semenda dengan notaris sendiri atau dengan suami / istrinya, salah satu pihak tidak mempunyai kemampuan bertindak untuk melakukan perbuatan, para pihak tidak dikenal oleh notaris, para pihak tidak bisa mengungkapkan keinginannya, atau hal lain yang tidak boleh oleh undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum.
Dalam pasal 17 UUJN mengatur tentang larangan notaris yang dimaksudkan untuk menjamin kepentingan dan memberi kepastian hukum kepada masyarakat yang memerlukan jasa notaris serta sekaligus mencegah terjadinya persaingan tidak sehat antara notaris dalam menjalankan jabatannya. Adapun larangan tersebut antara lain :
a. Menjalankan jabatan diluar wilayah jabatannya;
b. Meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang sah;
c. Merangkap sebagai pegawai negeri;
d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara;
e. Merangkap jabatan sebagai advokat
f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah atau badan usaha swasta;
g. Merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah diluar wilayah jabatan notaris;
h. Menjadi Notaris Pengganti; atau
i. Melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat jabatan notaris.
Dalam Pasal 52 UUJN tentang jabatan Notaris menyatakan :
a. Notaris tidak diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang lain yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris baik karena perkawinan maupun hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke
bawah dan/atau keatas tanpa pembatasan derajat, serta dalam garis kesamping sampai dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untuk diri sendiri, maupun dalam suatu kedudukan ataupun dengan perantara kuasa.
b. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku, apabila orang tersebut pada ayat (1) kecuali notaris sendiri,menjadi penghadap dalam penjualan dimuka umum, sepanjang penjualan itu dapat dilakukan dihadapan notaris, persewaan umum, atau pemborongan umum, atau menjadi anggota rapat yang risalahnya dibuat oleh notaris.
c. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berakibat akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan apabila akta itu ditandatangani oleh penghadap, tanpa mengurangi kewajiban notaris yang membuat akta itu untuk membayar biaya,ganti rugi dan bunga kepada yang bersangkutan.
Pasal 53 UUJN menyatakan bahwa akta notaris tidak boleh membuat penetapan atau ketentuan yang memberikan sesuatu hak dan keuntungan bagi : a. Notaris, istri atau suami notaris;
b. Saksi, istri atau suami saksi; atau
c. Orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Notaris atau orang saksi, baik hubungan darah dalam garis lurus keatas atau kebawah tanpa pembatasan dengan derajat maupun hubungan perkawinan sampai dengan derajat ketiga.
Pasal 53 UUJN tersebut dimaksudkan untuk membatasi wewenang notaris sebagai pejabat umum sekaligus untuk mencegah terjadinya konspirasi/kolusi antara notaris dengan keluarganya, baik istri, suami dan pihak lain yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan notaris atau saksi. Hal ini mengingat bahwa hubungan kekeluargaan berpotensi untuk melahirkan perbuatan nepotisme yang cenderung bertentangan dengan hukum yang berlaku dan cenderung menguntungkan notaris, saksi dan keluarganya tersebut.