8 PEMBAHASAN UMUM
KINERJA DRIVER RANTAI PASOK
Existing dan Ideal Rumusan Kebijakan Penelusuran kinerja Rantai Pasok Industri
Rumusan Kebijakan
Teknik ISM
Identifikasi hubungan kontekstual antar kebijakan
Kebjakan belum terstruktur Rumusan Masalah Sifat dukungan kebijakan Hambatan aliran Pola ideal Rumusan Kebijakan Pendukung Pengembangan Industri Kakao Prioritas Faktor penggerak yg signifikan dlm pengembangan IK Faktor penggerak
(driver) kinerja rantai pasok kakao Diver Kuesioner Sub driver Analisis Penilaian/ Pengukuran Pengelolaan Kebijakan Konfirmasi Penguatan / penegasan Sanggahan
Validasi hasil rumusan
Me tri k ki n e rj a Pe rmu d a h p e ma h a ma n Me n g u ra n g i a b st ra ksi Kebijakan Pemerintah Kebijakan Perusahaan Relasi antar kebijakan Penstrukturan kebijakan BAB 4 BAB 5 BAB 6
PERMASALAHAN DAN KEBIJAKAN PERKAKAOAN INDONESIA
ANALISIS RANTAI PASOK KAKAO
kakao di dalam negeri, namun di sisi lain menekan harga di tingkat petani karena banyaknya pasokan. Dampak berikutnya adalah petani kurang mendapatkan insentif untuk memperbaiki budidayanya sehingga baik produksi maupun mutu menjadi tertekan. Ditambah lagi dampak perubahan iklim berakibat pada penurunan produksi akibat perubahan pola curah hujan dan kejadian iklim ekstrim (Balitbangtan 2011).
Dari banyak kebijakan pengembangan industri kakao yang diambil oleh pemerintah Indonesia, terlihat pemerintah lebih fokus pada pasokan bahan baku. Sementara menurut Barghouti et al. (1993) justru ada lima kelemahan yang dihadapi industri kakao di negara penghasil kakao, yaitu: sumber bahan baku terbatas dari satu sumber; biaya pengolahan yang lebih mahal dibanding pabrik- pabrik di Eropa; jauhnya jarak ke konsumen; penggunaan biji kakao tidak bermutu; dan kurangnya jaminan pasokan biji kakao. Indonesia masih lebih berfokus pada salah satu hal yaitu jaminan pasokan bahan baku. Sementara, aspek teknologi industri agar lebih efisien yang menjadi kelemahan negara sedang berkembang justru belum tertangani dengan baik. Lebih lanjut Barghouti et al. (1993) merinci kendala spesifik yang harus diperhatikan adalah: biaya operasional yang lebih tinggi dalam hal energi (harga perkilowatt dua kali lebih mahal di bandingkan negara-negara di Eropa), tingkat suku bunga yang tinggi dan kepabeanan.
Sektor-sektor yang terkait dengan pegembangan industri hilir kakao di Indonesia meliputi: sektor perindustrian, sektor keuangan, sektor pekerjaan umum, sektor perhubungan dan telekomunikasi, sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor energi. Permasalahan umum yang dihadapi adalah sulitnya mensinergikan kebijakan, sehingga perlu mendorong sinergi kebijakan dari sektor-sektor pembangunan yang lain dalam mendukung pembangunan industri nasional (Kemenperin 2010). Secara umum keseluruhan sektor tersebut dikoordinasikan oleh sebuah kementerian koordinator.
Ditinjau dari sisi kebijakan, sektor keuangan melalui kebijakan fiskalnya sangat mendominasi perkembangan industri kakao. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari perkembangan industri kakao secara kronologis mengikuti runtutan waktu dikeluarkannya kebijakan fiskal. Sebaliknya justru peranan sektor inti (sektor perindustrian) yang banyak berpengaruh adalah kebijakan pada tataran makro berupa Kebijakan Industri Nasional. Sementara kebijakan yang mengarah pada fasilitasi penguatan teknologi industri pada industri kakao skala besar belum berkembang.
Kebijakan yang berskala mikro lebih banyak di sektor hulu. Program berdana besar seperti Gernas Kakao tahun 2009-2011 merupakan contoh implementasi perkuatan budidaya dan pascapanen kakao. Sungguhpun demikian, berhadapan dengan perubahan iklim yang sedang melanda kawasan asia, usaha tersebut hanya mampu mempertahankan tingkat produksi kakao Indonesia pada kisaran 500 ribu ton pertahun dari tahun 2010-2012. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan kompleksitas permasalahan pengembangan industri baik yang dihadapi oleh perusahaan/industri maupun pemerintah dalam mengkoordinasi kebijakan antar lembaga yang belum sinergi. Kompleksitas tersebut membuat tidak mudahnya merumuskan kebijakan yang efektif.
Dalam menguraikan kompleksitas permasalahan yang dihadapi, penelitian ini mengambil sistem rantai pasok sebagai kerangka analisis untuk mengkaji karakteristik pelaku yang terlibat, struktur dan mekanisme hubungan antar pelaku.
Analisis rantai pasok ini mengambil kasus pengembangan industri kakao di Sulawesi Selatan yang merupakan provinsi penghasil biji kakao terbesar di Indonesia. Posisi Sulawesi Selatan terhadap Indonesia memiliki kesamaan dengan posisi Indonesia terhadap dunia. Sulawesi Selatan saat ini belum memperoleh nilai tambah yang layak karena sebagian besar kakao diekspor ke industri pengolahan di Pulau Jawa. Diharapkan dengan mengambil pelajaran dari kasus pengembangan industri kakao di Sulawesi Selatan dapat dijadikan landasan pengembangan industri kakao di Indonesia.
Hasil telaah literatur tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan industri kakao (Suprihatini 2004; Arsyad et al. 2011) diketahui bahwa rantai pasok menjadi faktor penting. Hal ini sejalan dengan Beckett (2011) yang menunjukkan bahwa kunci masalah dan tantangan pada pengembangan industri kakao meliputi kualitas, keamanan pangan, traceability dan keberlanjutan yang semuanya merupakan elemen penting dalam rantai pasok.
Hasil analisis rantai pasok kakao Sulawesi Selatan menyimpulkan bahwa pengembangan industri kakao perlu membangun jaringan kemitraan dengan petani atau koperasi/kelompok tani. Kemitraan yang dijalin untuk mengakomodir konsep integratif yang berarti secara bersama mengatasi dan memberdayakan pelaku pada jaringan yang terlemah. Metode pembentukan demplot di sentra produksi disertai penyediaan penyuluh lapangan terbukti memberikan hasil biji kakao berkualitas yang mendukung keberlanjutan (kuantitas dan kualitas) pasokan biji kakao industri.
Selain itu, mekanisme perdagangan yang adil dan lancar perlu didukung kebijakan dalam hal: standar timbangan (metrologi), pengawasan perdagangan, dan pembinaan perilaku pedagang, perbaikan infrastruktur jalan di sentra produksi dan menderegulasi kebijakan pungutan/retribusi. Dukungan akses permodalan bisa dikombinasikan dalam kemitraan dengan industri/eksportir, atau dengan mendorong lembaga keuangan atau perbankan membuka akses kredit bagi petani kakao.
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus Sulawesi Selatan adalah bahwa perluasan kemitraan memiliki peran strategis yang dapat memenuhi tuntutan baik di sisi petani maupun industri. Meskipun demikian, ada sisi yang terkorbankan yaitu pelaku perdagangan yang akan mengalami pengurangan pasar jika kemitraan berlaku luas. Hal ini serupa dengan kebijakan BK yang memiliki dampak positif terhadap industri karena pasokan melimpah, namun memiliki dampak negatif tekanan harga di tingkat petani dan banyaknya eksportir yang harus menutup usahanya karena tingginya biaya yang ditanggung jika mengekspor biji kakao.
Berkaca dari hasil analisis rantai pasok dalam aspek perdagangan, seharusnya kemitraan yang diterapkan industri kakao dapat melibatkan para pelaku lain pada pola perdagangan umum. Namun hal ini perlu prasyarat bahwa kebijakan perbaikan di sektor perdagangan dapat berjalan dan program di sektor hulu secara konsisten dapat diteruskan oleh pemerintah. Karena dengan luas lahan kakao yang bertambah (menjadi 1.6 juta Ha tahun 2012), produktivitas yang masih rendah (820kg/Ha tahun 2012) akan terbuka peluang peningkatan produksi sebagaimana target pemerintah menjadikan Indonesia penghasil biji kakao terbesar di dunia pada tahun 2014.
Dari identifikasi kebijakan sektoral bidang perkakaoan menunjukkan bahwa meskipun telah dikoordinasi oleh suatu kementerian koordinator namun masih sulit mensinergikan program agar tujuan pengembangan industri kakao tercapai.
Penelitian ini mengajukan suatu tinjauan dari sudut pandang industri yaitu rantai pasok sebagai pertimbangan penting bagi industri untuk berkembang (dalam hal ini menambah kapasitas pabrik atau investasi pembangunan pabrik baru). Berdasarkan logika tersebut dalam pengembangan industri kakao, kinerja rantai pasok (sebagai ukuran dari manajemen rantai pasok) seharusnya „mewarnai‟
rumusan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah agar ada kesesuaian antara harapan dengan pemenuhan.
Pemahaman tentang pentingnya rantai pasok dalam pengembangan industri kakao selanjutnya diperdalam dan diperkaya melalui studi identifikasi dan dekomposisi driver kinerja rantai pasok. Penelitian pada bagian ini memfokuskan pada faktor penggerak kinerja efisiensi dan responsivitas rantai pasok pada industri kakao. Hal ini karena keputusan suatu perusahaan untuk mencapai daya saingnya dilakukan dengan menentukan titik keseimbangan (trade off) antara responsivitas dan efisiensi (Chopra dan Meindl 2007). Keputusan tersebut merupakan suatu strategi yang paling sesuai dengan tujuan perusahaan dalam menghadapi kondisi internal dan eksternal. Industri kakao sebagaimana industri pada umumnya menggunakan strategi tersebut untuk mencapai daya saing yang tinggi. Produk yang dihasilkan industri kakao termasuk produk inovatif karena prosesnya yang membutuhkan kontrol yang ketat berdasarkan beragam kriteria. Penyesuaian terhadap variasi jenis bahan baku, orientasi tujuan akhir pengolahan kakao (minuman, makanan, dll), tuntutan selera konsumen, dan variasi pilihan teknologi serta kapasitasnya merupakan area kontrol yang harus diantisipasi oleh industri kakao. Oleh karena itu kemampuan respon terhadap faktor eksternal sangat dibutuhkan. Di samping itu, persaingan di pasar global yang tidak terhindarkan menuntut efisiensi yang tinggi untuk memenangi persaingan itu.
Melalui kajian literatur secara komprehensif, telah dapat diidentifikasi driver dan sub driver dengan meninjau relevansinya dengan industri kakao. Hasilnya diperoleh masing-masing 5 driver untuk aspek efisiensi dan responsivitas. Kelima `driver tersebut adalah fasilitas, persediaan, transportasi, sourcing, dan informasi. Sedangkan sub-driver yang berhasil diuraikan sebanyak 35 peubah untuk aspek efisiensi dan 27 peubah sub driver untuk aspek respsonsivitas. Hasil dekomposisi telah direview oleh pakar di bidang industri perkebunan untuk selanjutnya dijadikan instrumen untuk mengukur kinerja rantai pasok industri kakao dan instrumen penilaian bobot kepentingan driver dan sub driver.
Instrumen pengukuran selanjutnya digunakan untuk pengukuran kinerja rantai pasok industri kakao. Pengumpulan data dilakukan dengan survei ke pabrik- pabrik pengolahan kakao, yang diisi oleh pihak yang memahami rantai pasok perusahaan. Di sisi lain dengan metode AHP dilakukan proses akuisisi penilaian pakar untuk menentukan bobot kepentingan aspek (efisiensi dan responsivitas), driver dan sub-driver kinerja rantai pasok. Perhitungan Weighted Scoring Model yang merupakan perkalian skor penilaian industri dikalikan bobot driver dan sub driver menghasilkan Indeks Kinerja Rantai Pasok Efisiensi dan Responsivitas Industri Kakao.
Hasil analisis kecenderungan terhadap pencapaian kinerja rantai pasok menunjukkan bahwa untuk driver fasilitas, inventori dan sourcing industri kakao cenderung mengutamakan responsivitas. Sedang untuk driver transportasi dan informasi industri kakao lebih cenderung mengutamakan efisiensi.
Indeks kinerja rantai pasok total industri kakao menunjukkan kesenjangan yang hampir merata pada seluruh driver rantai pasok. Sementara itu, dari Analisis Gap diperoleh nilai indeks total kinerja rantai pasok sebesar 29.75 masih jauh dari nilai ideal 45.00 yang mengindikasikan perlunya pembenahan atau perbaikan segera pada seluruh driver. Secara berurutan kondisi indeks kinerja driver dari yang kesenjangannya paling besar yaitu: fasilitas, inventori, informasi, transportasi, dan sourcing. Gap yang terjadi pada setiap driver juga mengindikasi prioritas penanganan atau pembenahan terhadap kelemahan yang ada.
Dari hasil penelusuran terhadap driver dan sub driver yang berkinerja rendah (dalam hal ini skor kurang dari 5) dapat disusun suatu kebijakan internal industri itu sendiri dan kebijakan pemerintah. Hasil rumusan kebijakan dapat dirangkum menjadi tigabelas kebijakan pengembangan industri kakao. Ketigabelas kebijakan tersebut mencakup sektor hulu sampai hilir, sehingga dalam implementasi tetap diperlukan koordinasi dan sinergi untuk efektivitasnya.
Untuk dapat melakukan koodinasi secara sistematis dengan tujuan mensinergikan kebijakan, perlu diketahui relasi antar kebijakan. Dengan analisis relasi akan diketahui karakteristik, struktur dan keterkaitan antar kebijakan untuk mencapai efektivitas kebijakan. Menurut Hoogerwerf (1983) akurasi rumusan kebijakan dan kelengkapan informasi yang dimiliki, serta dukungan publik terhadap kebijakan yang dikembangkan menjadi penentu efektivitas kebijakan.
Untuk memetakan relasi dan mempertajam akurasi rumusan kebijakan digunakan teknik ISM (Intepretive Structural Modelling). Kebijakan pengembangan industri kakao yang sebelumnya tidak diketahui peta hubungannya dapat dirumuskan menjadi kebijakan yang memiliki struktur keterkaitan atau ketergantungan yang jelas. Dengan rechability matrix dapat ditentukan rangking alternatif kebijakan yang ada sehingga diketahui kebijakan-kebijakan apa yang menjadi kunci keberhasilan program.
Dari model perumusan kebijakan dalam penelitian ini diperoleh rumusan kebijakan pengembangan industri kakao yang berbasis pada kinerja driver rantai pasok. Dengan teknik ISM, alternatif kebijakan pengembangan industri kakao yang sebelumnya tidak diketahui strukturnya dapat dirumuskan menjadi kebijakan yang memiliki struktur keterkaitan atau ketergantungan yang jelas.
Dari hasil strukturisasi rumusan kebijakan didapatkan delapan level dimana kebijakan pemerintah Pemberian insentif fiskal untuk pengembangan industri, Perluasan penerapan Wajib SNI biji kakao, Perluasan jaringan telekomunikasi, dan kebijakan Penghapusan hambatan perdagangan antar daerah merupakan empat kebijakan yang berada pada level pertama. Artinya kebijakan tersebut adalah kebijakan yang keberadaannya sangat tergantung pada kebijakan lainnya.
Dalam konteks kebijakan pengembangan industri kakao posisi kebijakan insentif fiskal adalah kebijakan penentu akhir berhasilnya pengembangan industri kakao. Hal ini sejalan dengan maksud dari kebijakan fiskal yaitu mendukung kebijakan perekonomian nasional.
Hasil pemetaan kebijakan menunjukkan bahwa seluruh rumusan kebijakan memiliki keterkaitan hubungan. Terdapat tiga kebijakan yang memiliki relasi menarik dalam konteks pengembangan industri kakao, yaitu relasi kebijakan 6, 5, dan 11. Keberhasilan kebijakan peningkatan produktivitas kebun kakao (kebijakan 5) sangat membutuhkan dukungan/dorongan kerjasama yang sinergi dengan industri (kebijakan 11) dalam memberdayakan petani kakao hingga dihasilkan
kebun kakao yang produktif dan bermutu sesuai tuntutan industri/ekspor. Selanjutnya keberhasilan kebijakan kerjasama penyuluhan dan peningkatan produktivitas diharapkan dapat mendorong revitalisasi lembaga penyuluhan pemerintah (kebijakan 6) yang kondisinya masih lemah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan perbaikan infrastruktur jalan merupakan kebijakan yang paling dasar yang akan memberikan dorongan dan dukungan pada kebijakan-kebijakan lainnya dalam pengembangan industri kakao. Bersama-sama dengan kelompok kebijakan di bidang infrastruktur yaitu perbaikan infrastruktur jalan (termasuk jembatan), perbaikan infrastruktur dan manajemen pelabuhan, dan pemenuhan pasokan infrastruktur energi (listrik dan gas) diharapkan menjadi penghela kebijakan lainnya dalam pengembangan industri kakao. Kebijakan tersebut tidak hanya berupa pembangunan fisik infrastruktur, namun juga non fisik yang lebih mendorong penguatan dan pemberdayaan pemasok kakao yaitu petani kakao.
Dengan tata cara yang sama strukturisasi rumusan kebijakan perusahaan untuk pengembangan industri kakao (Lampiran 9-11) menunjukkan bahwa kebijakan penerapan teknologi informasi dalam perencanaan (kebijakan perusahaan ke-6) merupakan kebijakan yang berada di puncak dari struktur kebijakan perusahaan untuk meningkatkan kinerja rantai pasok. Kebijakan ini keberhasilannya sangat ditentukan oleh kebijakan-kebijakan perusahaan yang berada di level bawahnya. Sementara kebijakan peningkatan kemampuan pemasok (kebijakan perusahaan ke-9) merupakan kebijakan dasaruntuk dapat mendukung kebijakan-kebijakan perusahaan yang lainnya dalam meningkatkan kinerja rantai pasok.
Berdasarkan validasi hasil rumusan kebijakan menunjukkan bahwa kebijakan tersebut dapat diterima sebagai upaya pengembangan industri kakao dengan penekanan pada peningkatan kinerja rantai pasok dan daya saing industri kakao.