Abstrak
Pengembangan industri kakao di Indonesia masih menemui banyak permasalahan. Kondisi di sektor hulu (kebun kakao), perdagangan, hingga industri pengolahan masih banyak mengalami hambatan. Kebijakan dari berbagai sektor telah digulirkan untuk memperbaiki keadaan dan mempercepat peningkatan nilai tambah bagi perekonomian. Namun, perkembangan industri belum mencapai besaran yang dikehendaki. Penelitian pada bagian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebijakan perkakaoan Indonesia. Metode Analisis Kebijakan digunakan untuk memperoleh rumusan masalah dan pemahaman yang mendalam akan kebijakan perkakaoan. Hasil analisis menunjukkan bahwa permasalahan utama perkakaoan Indonesia di antaranya: produktivitas kebun masih rendah, mutu biji belum standar, konsumsi coklat rendah, dukungan infrastruktur jalan dan pasokan energi untuk industri. Kebijakan sektor keuangan masih mendominasi peranan sektor dalam pengembangan idnsutri kakao.
Kata kunci: permasalahan kebijakan, pengembangan industri, kakao Pendahuluan
Indonesia merupakan negara produsen utama kakao dunia. Luas areal tanaman kakao Indonesia tercatat 1.4 juta hektar dengan produksi kurang lebih 500 ribu ton pertahun, menempatkan Indonesia sebagai negara produsen terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Pantai Gading, dengan luas area 1.6 juta Ha produksinya sebesar 1.5 juta ton per tahun, sedangkan Ghana sebesar 1 juta ton per tahun dengan luas area yang sama (ICCO 2011).
Dari perbandingan di atas terlihat kesenjangan yang nyata dalam produktivitas antara kebun kakao Indonesia dan Ghana maupun Pantai Gading. Menurut Kementerian Pertanian produktivitas kebun kakao Indonesia relatif rendah yaitu 630 kg/Ha/tahun, karena berbagai hal seperti: penyakit CPB (Cocoa Pod Borer), tanaman sudah tua, kecilnya penguasaan lahan rata-rata petani, kurangnya perawatan lahan dan kebun, kurangnya varietas (klon) unggul yang dikembangkan (Ditjenbun 2010).
Permasalahan juga dialami sektor hilir yaitu masih rendahnya kapasitas industri pengolahan kakao Indonesia yang mengakibatkan rendahnya nilai tambah yang bisa diambil dari komoditas potensial ini bagi perekonomian. Guna peningkatan nilai tambah kakao, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan serangkaian kebijakan mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari kebijakan di sektor budidaya kakao, pasca panen, perdagangan, hingga sektor industri hilir kakao. Selain itu, untuk „memayungi‟ berbagai program yang direncanakan pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pada tataran makro seperti: pajak ekspor, standarisasi, Kebijakan Industri Nasional (Perpres 2008) dan kebijakan klaster
industri (Deperind 2009a). Walaupun demikian, serangkaian kebijakan yang telah dikeluarkan belum efektif mendukung pengembangan industri kakao.
Bagian ini bertujuan untuk mengurai permasalahan perkakaoan dan kebijakan yang menyertainya agar dapat dipahami secara mendalam permasalahan yang dihadapi dan kemana arah kebijakan perkakaoan Indonesia. Memahami masalah sangat penting karena para analis kebijakan lebih sering gagal memecahkan masalah yang salah daripada memperoleh solusi yang salah terhadap masalah yang tepat (Dunn 1999). Selain itu, dapat diketahui kebijakan sektor apa saja yang berpengaruh dan memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan industri kakao Indonesia.
Metode Penelitian Kerangka penelitian
Pada dasarnya suatu kebijakan merupakan sebuah sistem yang mencakup tiga elemen yaitu kebijakan publik itu sendiri, lingkungan kebijakan, dan pelaku kebijakan (Dunn 1999). Dalam penelitian ini, kebijakan publik adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai sektor (pemerintah) berkenaan dengan dukungan atau pengaturan dalam rangka pengembangan industri kakao. Sementara untuk elemen lingkungan dan pelaku dalam kerangka penelitian ini akan disatukan pembahasannya karena interaksinya sulit untuk dipisahkan (Gambar 4).
Gambar 4 Kerangka pikir penelitian
Kondisi input faktor Kondisi aktivitas budidaya Kondisi pasokan energi Kondisi infrastruktur Tujuan pengembangan industri kakao Kebijakan berbagai sektor Kondisi aktivitas pascapanen Kondisi aktivitas perdagangan Kondisi aktivitas Industri pengolahan Perkembangan industri kakao Ragam kebijakan Permasalahan
Dengan demikian, analisis dibagi menjadi dua bagian: pertama, analisis permasalahan (lingkungan kebijakan) tentang kondisi pada setiap aktivitas agroindustri (pelaku kebijakan) untuk menghasilkan rumusan masalah, dan kedua, mengidentifikasi ragam kebijakan yang menjawab permasalahan perkakaoan. Sumber data
Dalam mengurai permasalahan dan kebijakan perkakaoan Indonesia menggunakan data sekunder dan primer. Data sekunder diambil dari studi literatur yang relevan, statistik dan laporan lembaga-lembaga yang berkompeten. Sementara untuk data primer diperoleh dengan observasi dan survey lapangan (wawancara) dengan para pelaku usaha di bidang perkakaoan.
Metode analisis
Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memahami permasalahan diambil dari tahapan perumusan masalah dalam analisis kebijakan Dunn (1999). Adapun tahapan perumusan masalah menurut Dunn (1999) adalah: 1) Pengenalan masalah yang digali dari literatur yang relevan; 2) pencarian masalah, diperoleh dari survey dan observasi lapangan; 3) Pendefinisian masalah; 4) Spesifikasi masalah, diperoleh dari diskusi dan wawancara (Gambar 5).
Gambar 5 Tahapan perumusan masalah
Berdasarkan tahapan perumusan masalah pada Gambar 5, analisis yang dilakukan dalam penelitian pada bagian ini terdiri dari dua hal. Pertama, uraian tentang permasalahan perkakaoan Indonesia. Kedua, uraian kebijakan dari sektor- sektor yang terkait dengan pengembangan industri kakao.
Meta Masalah Situasi Masalah Masalah Substantif Masalah Formal Pencarian Masalah Pendefinisian Masalah Spesifikasi Masalah Pengenalan Masalah
Hasil dan Pembahasan Permasalahan Perkakaoan Indonesia
Proses pengembangan industri kakao secara umum mengikuti tahapan agorindustri mulai dari hulu sampai hilir. Demikian juga permasalahan yang dihadapi dapat diuraikan mengikuti tahapan agroindustri tersebut mulai dari permasalahan di sektor hulu hingga sektor hilir.
Permasalahan di Sektor Hulu
Di sektor hulu (di kebun kakao) permasalahan yang dihadapi sebagaimana dilaporkan oleh Kementerian Pertanian di antaranya: Produktivitas rendah yaitu 0.63ton/ha/tahun, padahal potensinya bisa mencapai 1.5ton/ha/tahun. Hal ini karena berbagai hal seperti: Penyakit CPB (Cocoa Pod Borer), tanaman sudah tua, kecilnya penguasaan lahan rata-rata petani, kurangnya perawatan lahan dan kebun, kurangnya varietas (klon) unggul yang dikembangkan. Selain itu, budidaya kakao belum berkembang karena kurangnya penyuluhan, pemahaman nilai ekonomi komoditas yang kurang, pendidikan rendah, kurangnya sarana pertanian dan permodalan budidaya, dan kurangnya peran lembaga keuangan formal (Ditjenbun 2010).
Sebenarnya, setelah krisis ekonomi tahun 1998 berlangsung, terutama pada periode tahun 1999–2003 (selama 4 tahun) pernah terjadi kenaikan produktivitas, dan puncaknya pada tahun 2000. Pada saat itu, produktivitas kebun kakao rakyat mencapai 1.466 ton/ha/tahun atau 1.4 kali produktivitas yang dicapai pada tahun 1998. Hal ini karena sejak krisis ekonomi antusias petani dalam mengusahakan tanaman kakao meningkat sangat pesat karena harga kakao meningkat tajam.
Namun demikian, pada akhir 2004 sampai dengan 2009 gairah petani dalam mengusahakan tanaman kakao mulai menurun, karena: produktivitas tanaman turun drastis terutama akibat tanaman tua serta serangan hama dan penyakit (terutama hama PBK dan penyakit VSD). Kemudian, pada tahun 2007 pemerintah meluncurkan program Revitalisasi Perkebunan (Revitbun) yang didukung Permentan No.33/Permentan/OT.140/7/2006 serta Permenkeu No.117/PMK.06/ 2006, tetapi realisasi kredit investasi perbankan untuk membiayai perluasan; peremajaan; dan rehabilitasi kebun kakao masih sangat rendah. Hal ini karena kebijakan penyaluran kredit perbankan bagi petani baru bersifat anjuran dan himbauan (Peraturan BI No.3/2/PBI/2001). Padahal petani memerlukan kredit investasi untuk pembangunan kebun baru dan/atau rehabilitasi kebun tua/rusak, serta dan kredit operasional untuk pemeliharaan kebun produktif (menghasilkan). Selain itu, tidak adanya jaminan sertifikat dan asuransi pertanian sering dijadikan alasan perbankan untuk tidak menyalurkan kredit kepada petani (Hasil FGD, Maret 2010).
Bahkan pada tahun 2008 produktivitas kakao tersebut hanya mencapai 0.498ton/ha/tahun atau hanya 34% dari puncak produksi yang pernah dicapai pada tahun 2000.
Sumber: Ditjenbun Kementerian Pertanian (2013)
Gambar 6 Produktivitas perkebunan kakao rakyat
Mengacu pada data statistik perkebunan, sebagaimana tertera pada Gambar 6, rendahnya produktivitas kebun kakao rakyat berkaitan dengan kondisi kebun yang tua dan/atau rusak. Permasalahan di sektor hulu ini masih berlanjut hingga saat ini, meskipun telah dilaksanakan program Gernas mulai tahun 2009 hingga 2011, terlihat produksi pada tahun 2011 justru mengalami penurunan (Gambar 7). Hal ini disebabkan antara lain umur tanaman kakao yang telah tua, kondisi tanaman yang rusak, tanaman kakao terkena penyakit pembuluh kayu kakao atau vascular streak dieback (VSD) serta beberapa jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) kakao lainnya. Di samping itu, kondisi iklim dimana terjadi hujan lebih lama dibanding tahun 2010 menyebabkan penurunan produksi kakao (BKF- PKPN 2012).
Sumber: Ditjenbun Kementerian Pertanian (2013)
Gambar 7 Luas lahan dan produksi biji kakao (ribu ton/ha) Krisis Ekonomi Program Revitbun Program Gernas Iklim Ekstrim Harga kakao melonjak Program Revitbun Program Gernas
Sejalan dengan itu, hasil observasi lapangan mengungkapkan bahwa penurunan produktivitas kebun kakao petani yang tajam dan terus menerus terjadi sejak tanaman semakin tua yang disertai dengan semakin tingginya intensitas serangan hama Penggerek Buah Kakao atau Cocoa Pod Borer (CPB). Serangan hama tersebut semakin lama semakin ganas sehingga para petani semakin sulit menanggulanginya. Akibat lebih lanjut dari kondisi tersebut, para petani merasa putus asa dan mereka enggan memelihara kebunnya karena usaha yang mereka lakukan akan sia-sia. Di samping itu, bibit SE dari program Gernas yang ditanam tahun 2010 baru panen 3-5 tahun kemudian.
Melihat data dan observasi yang ada permasalahan kakao pada sektor hulu yang utama adalah produktivitas yang semakin menurun. Rendahnya produktivitas tanaman kakao merupakan masalah klasik yang hingga kini masih sering dihadapi. Secara umum, rata-rata produktivitas kakao Indonesia sebesar 900 kg/ha/tahun. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata potensi yang diharapkan, yakni sebesar 2 ton/ha/tahun. Di antara faktor penyebab rendahnya produktivitas tanaman kakao mayoritas disebabkan oleh penggunaan bahan tanam yang kurang baik, teknologi budi daya yang kurang optimal, umur tanaman, serta masalah serangan hama dan penyakit. Penelitian ini melihat bahwa faktor umur menjadi penyebab utama, karena sebelumnya saat umur tanaman masih muda, tanaman tersebut memiliki produktivitas yang baik.
Tidak hanya di kebun, di luar kebunpun permasalahan yang dihadapi cukup rumit, misalnya: akses pendanaan perawatan kebun petani yang kurang; perilaku petani yang lebih cenderung menghasilkan biji kakao non fermentasi karena harga yang diterima tidak signifikan bedanya dengan yang fermentasi (berkisar Rp1000- 1500); dicampurnya mutu biji kakao untuk mengejar volume; tidak adanya insentif petani untuk memperbaiki mutu (Sa‟id 2009).
Permasalahan tersebut merupakan interaksi petani dengan pihak di luar kebun baik di sisi penyediaan input produksi (misal: pupuk, bibit, jasa penyuluhan) maupun pada tahap pascapanen sampai perdagangan. Permasalahan pada rantai perdagangan kakao muncul karena struktur pasar oligopsoni1 (Elizabet 2008). Selain itu, tersebar luasnya sentra produksi di berbagai pelosok, informasi harga yang belum merata menyebabkan banyaknya distorsi yang terjadi (Panlibuton dan Lusby 2006).
Sejalan dengan itu, berdasar hasil wawancara mengungkapkan bahwa permasalahan utama di sektor hulu di luar kebun adalah hambatan perdagangan, rendahnya mutu biji kakao yang diperdagangkan. Rute perdagangan kakao yang jauh menjadikan tingginya risiko terhambat karena berbagai kondisi seperti: kondisi jalan poros yang sedang pengerjaan pelebaran, kondisi jalan desa dan jalan kebun di sentra produksi kakao umumnya kurang baik. Akibatnya pilihan moda angkutan yang dipakai juga harus menyesuaikan. Selama ini untuk di jalan desa hanya bisa menggunakan truk kecil (maksimal 7 ton) bahkan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan hanya bisa menggunakan sepeda motor. Oleh sebab itu, di sentra produksi yang letaknya jauh, petani memperoleh harga (harga tingkat
1 Oligopsoni, adalah keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan
atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar komoditas.
2 Dasar hukum penerapan BK adalah UU No. 1 Tahun 2006 tentang Kepabeanan dan PP No 55 tentang
petani) yang lebih rendah karena biaya transportasi menjadi lebih mahal. Keadaan ini menunjukkan tidak efisiennya rantai pasok yang ada.
Di samping kondisi jalan, masih berlakunya pungutan resmi maupun tidak resmi di sepanjang jalan tersebut. Pungutan tidak resmi yang berkembang umumnya pungutan di perjalanan, mulai dari lokasi petani sampai pelabuhan. Pengalaman dari para pedagang di Luwu Utara Sulsel mengungkapkan bahwa pada saat mereka membawa biji kakao ke Makasar paling tidak menemui lebih dari empat jembatan timbang dan belasan tempat pemberhentian yang memberlakukan pungutan (cek point retribusi, dinas perhubungan, pos polisi, preman, dll) (Wawancara, 12 Maret 2010).
Selain itu, untuk angkutan hasil bumi di beberapa daerah masih memberlakukan pungutan resmi berupa pajak hasil bumi, retribusi, atau sumbangan pihak ketiga mekipun tidak ada standar tarif resmi yang seragam di semua kabupaten. Pada observasi di Kabupaten Luwu Utara didapatkan informasi besar retibusi sebesar Rp30/kg; di Bone 1% dari harga jual; dan di Bulukumba Rp100/kg (Wawancara, 1-28 Maret 2010).
Rendahnya mutu kakao rakyat tidak hanya disebabkan kurang baiknya proses pasca panen tetapi juga kondisi kebun yang kurang baik. Kondisi kebun dan/atau teknis budidaya yang berkaitan dengan mutu biji kakao adalah: jenis klon tanaman, input produksi, pengendalian hama dan penyakit. Kondisi tersebut lebih lanjut akan berkaitan dengan indikator mutu biji berikut : jumlah biji/100 gr, jumlah biji hampa, jumlah biji dempet, insek hidup, dan residu pestisida. Sementara itu, proses pasca panen (handling) yang dilakukan petani akan berkaitan dengan indikator mutu berikut : kadar air, kadar jamur, kadar kotoran dan benda asing.
Secara teknis, sebenarnya biji kakao fermentasi diperlukan kalangan industri hilir kakao untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi. Biji kakao yang tidak difermentasi menyebabkan produk yang dihasilkan tidak memiliki cita rasa khas coklat karena didominasi oleh rasa sepat dan pahit. Namun demikian, biji kakao non fermentasi tidak dipermasalahkan oleh pasar USA, mereka hanya mempermasalah-kan good quality clean bean. Hal ini terjadi karena industri coklat di USA memiliki formulasi produk makanan chocolate yang dirancang menggunakan biji kakao unfermented dengan porsi tertentu. Padahal USA merupakan salah satu pasar kakao Indonesia yang besar.
Permasalahan di Sektor Hilir
Kategori industri hilir kakao dalam kancah global terbagi menjadi tiga jenis, yaitu industri pengolahan kakao setengah jadi (grinding), industri kakao untuk industri (coverture) dan industri coklat konsumsi (makanan, minuman, confectionery, dll). Pangsa pasar global untuk produk pengolahan kakao setengah jadi (grinding) cenderung sangat terkonsentrasi dan didominasi oleh perusahaan- perusahaan multinasional (UNCTAD 2008).
Isu yang berkembang tentang industri kakao Indonesia secara umum adalah masih rendahnya daya serap industri. Masa kejayaan industri kakao Indonesia terjadi antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Pada tahun 2000 terdapat 40 pabrik dengan kapasitas sekitar 300 ribu ton/tahun. Sebaliknya, pada tahun 2008 produk olahan Indonesia hanya sekitar 130 ribu ton per tahun. Penurunan tersebut
terjadi sebagai akumulasi berbagai kebijakan dan keadaan berikut: 1) dilaksanakannya kebijakan PPN (Pajak Penambahan Nilai) atas transaksi bahan baku kakao; 2) tingginya tarif bea masuk di negara tujuan ekspor (6-30%); 3) diskriminasi tarif bea masuk kakao olahan di beberapa Negara tujuan ekspor produk olahan (di Eropa: Indonesia 6% sedangkan Afrika 0%, di China: Indonesia 15% sedangkan Malaysia dan Singapore 0%); 4) krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 dan 2009 terutama di Amerika dan Eropa yang merupakan pasar kakao utama Indonesia; 5) harga biji kakao melambung hingga 100% dan bea masuk kakao olahan di Eropa menjadi semakin tinggi (sekitar US$500/ton) .
Sebenarnya pemerintah Indonesia telah memperbaiki berbagai kebijakan yang dianggap menghambat pengembangan industri kakao. Pada tahun 2007 PPN dicabut, bea masuk kakao olahan di Indonesia dinaikkan dan bea masuk kakao olahan di China diturunkan menjadi 0%. Walaupun demikian, ternyata hanya beberapa industri kakao yang mampu bangkit kembali sedangkan yang lainnya masih tetap berada pada kondisi yang sama. Sebagian besar industri yang beraliansi multinasional, masih berproduksi dengan kapasitas produksi normal, sedangkan beberapa industri lain yang mengalami hambatan (modal dan pasar) belum dapat berpoduksi normal atau bahkan belum berproduksi lagi. Dari 17 pabrik industri pengolahan, hanya 4 pabrik yang bekerja dekat dengan kapasitas terpasangnya, sedangkan 9 pabrik lainnya berproduksi kurang dari 50% kapasitas terpasang, bahkan 4 pabrik lannya samasekali tidak berproduksi.
Pengembangan industri kakao masih terbuka luas mengingat banyaknya produk turunan yang bisa dihasilkan dari buah kakao. Di samping itu, dengan konsumsi kakao perkapita Indonesia yang sudah tumbuh secara signifikan yaitu 250gram/kapita/tahun (Kemenperin 2011), seharusnya memicu pengembangan industri kakao Indonesia untuk memenuhi potensi pasar tersebut.
Kebijakan perkakaoan dapat dikelompokkan menurut rangkaian proses agroindustri mulai dari hulu hingga hilir. Keterkaitan antara kegiatan agroindustri dengan pelaku/sasaran kebijakan membentuk suatu matriks sebagaimana Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh proses agroindustri telah ada kebijakan yang mengaturnya.
Tabel 4 Kebijakan perkakaoan berdasarkan pelaku dan proses agroindustri
Pelaku / Sasaran
Proses Agroindustri
Kebijakan Peraturan/Sumber Acuan Penyuluh
Pertanian Penyuluhan Percontohan
Penyuluhan pertanian
Kebun percontohan
UU 16/2006 Sistem Penyuluhan Penyedia Input
Pertanian Pengemasan Pengiriman
Subsidi pupuk
Distribusi pupuk
Perpres No 77 Tahun 2005 tentang penetapan pupuk bersubsidi.
Permendag No. 21/M-DAG/ PER/6/2008 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk
bersubsidi.
Permentan No. 42/Permentan /OT.140/09/2008 Petani/ Kelompok Tani Budidaya Pascapanen Revitalisasi kebun Gernas Kakao Fermentasi Teknologi Pasca Panen
SNI Biji kakao
Teknologi Budidaya
Permentan No. 33/Permentan /OT.140/7/2006 tetnag Revitbun dan Permenkeu No. 117/PMK.06/ 2006
Bimbingan Teknis Penerapan Pasca Panen Kementan
BSN No 86/KEP/ BSN/9/2008 tentang SNI biji kakao
Pedagang Pengumpul (perusahaan pengering kakao) Pengeringan Quality Control Pengemasan Penyimpanan Pengiriman
SNI Biji kakao
Kebijakan Perdagangan (kab/prop) Penurunan tarif THC (Terminal Handling Cost) UU 102/2000 tentang SNI
Perda perdagangan antar daerah
Penurunan tarif THC, CHC dan
Surcharge melalui Kepmenhub
PR.302/3/18-PHB 2008 Eksportir dan Perusahaan transportasi / Pengapalan Pengemasan Pemuatan Pemeriksaan Pengiriman Pembongkaran Penyimpanan Teknologi Pasca Panen Bea Keluar Kawasan perdagangan dan industri
Bimbingan Teknis Pasca Panen Kakao oleh Kementan
Permenkeu
No.67/PMK.011/2010
Keppres Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kaw Industri
Pemasok bahan pendukung Industri Kakao/Coklat Pengemasan Pengiriman Penyimpanan
SNI produk olahan kakao
Kebijakan Perdagangan LN (Ekspor)
Permenperin 157/M.IND/ PER/11 /2009 penerapan SNI bubuk kakao
Permendag No.27/M- DAG/PER/6/2010 ttg pembatalan L/C Industri Kakao Sortasi
Kendali mutu Pemrosesan Pengemasan Penyimpanan Pembangunan dan perluasan Bantuan Mesin Pengolahan skala kecil
SNI Bubuk & produk olahan kakao
Pembebasa bea masuk
APBN (Anggaran Kemenperin)
UU 102/2000 tentang SN
PP 52/2011 ttg Tax allowance
Tax Allowance untuk Bidang- Bidang Usaha Tertentu
PMK76/2012 Pembebasan Bea Masuk Impor Barang Modal Distributor Sistem distribusi Kebijakan
Perdagangan
Peraturan Perdagangan/Perda
Permendag no.27/M-
DAG/PER/6/2010) pembatalan L/C termasuk kakao
Konusmen Konsumsi produk akhir
Kampanye konsumsi coklat
Sektor-Sektor yang Terkait Pengembangan Industri Kakao Indonesia
Sektor yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dalam pegembangan industri hilir kakao di Indonesia adalah: sektor perindustrian, sektor keuangan, sektor pekerjaan umum, sektor perhubungan dan telekomunikasi, sektor pertanian, sektor perdagangan, dan sektor energi. Secara keseluruhan program dan kegiatan sektor yang berkaitan dengan pengembangan industri hilir kakao dikoordinasikan oleh sebuah kementerian koordinator.
Sektor Perindustrian
Pada sektor perindustrian, kebijakan pengembangan industri kakao meliputi kebijakan makro dan mikro. Pada kebijakan makro pengembagan industri kakao diatur dan diarahkan oleh Kebijakan Industri Nasional (Perpres, 2008) dan Kebijakan Klaster Industri (Deperind, 2009b). Dalam Kebijakan Nasional disebutkan tentang industri-industri andalan masa depan, meliputi: Industri Agro, Industri Alat Angkut, dan Industri Telematika. Industri kakao termasuk dalam Industri Agro yaitu meliputi industri pengolahan kakao dan coklat.
Kebijakan jangka menengah yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian adalah: Meningkatkan jaminan pasokan bahan baku; Melakukan diversifikasi produk kakao dan coklat olahan; Melakukan optimalisasi kapasitas industri kakao dalam negeri; Meningkatkan mutu biji kakao fermentasi dan produk kakao (Good Manufacturing Practices (GMP), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan Sertifikasi Halal) dan penerapan sertifikasi produk (SNI); Meningkatkan kerjasama internasional (pasar, teknologi, promosi dan investasi); Mengembangkan teknologi pengolahan kakao; Meningkatkan kompetensi SDM.
Kebijakan jangka panjang meliputi: Mengembangkan produk-produk kakao non pangan; Membangun pusat-pusat pengembangan industri kakao di sentra- sentra produksi; Mempromosikan industri hilir/turunan dari produk kakao. Sementara itu, dalam menjalankan strateginya, Menteri Perindustrian menyusun dan menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas. Klaster industri adalah sekelompok industri inti yang terkonsentrasi secara regional maupun global yang saling berhubungan atau berinteraksi sosial secara dinamis, baik dengan industri terkait, industri pendukung maupun jasa penunjang, infrastruktur ekonomi dan lembaga terkait dalam meningkatkan efisiensi, menciptakan aset secara kolektif dan mendorong terciptanya inovasi sehingga tercipta keunggulan kompetitif. Industri Inti adalah industri yang menjadi basis dalam pengembangan klaster industri nasional. Industri Penunjang adalah industri yang berperan sebagai pendukung serta penunjang dalam pengembangan industri inti secara integratif dan komprehensif.
Industri Prioritas adalah klaster industri yang memiliki prospek tinggi untuk dikembangkan berdasarkan kemampuannya bersaing di pasar internasional, dan industri yang faktor-faktor produksi untuk bersaingnya tersedia dengan cukup di Indonesia.
Melalui kebijakan industri nasional, industri kakao ditempatkan sebagai salah satu industri prioritas tinggi karena dianggap memiliki prospek tinggi untuk dikembangkan berdasarkan kemampuannya bersaing di pasar internasional dan faktor-faktor produksinya tersedia di Indonesia. Konsekuensinya adalah industri
kakao dapat memperoleh fasilitas berupa insentif fiskal, insentif non fiskal dan kemudahan lainnya dari pemerintah. Dalam road map yang disusun oleh Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, Kementerian Perindustrian, sasaran pengembangan industri kakao dalam kurun waktu (2010-2014) adalah sebagai