http://www.bps.go.id
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
105
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Arah Kebijakan yang Dilakukan Pemerintah dan BI di Tahun 2014
D
inamika perekonomian dunia selalu dipengaruhi oleh kondisi negara-negara di dunia dan sebaliknya. Saat kondisi perekonomian global kondusif tentu akan memberikan sentimen positif terhadap suatu negara. Kinerja perekonomian Indonesia tahun 2014 juga tidak terlepas dari pengaruh perubahan pola siklus yang mewarnai dinamika ekonomi global. Dinamika perekonomian global tersebut menjadi faktor eksternal yang memengaruhi kinerja perekonomian dalam negeri yang tidak saja melalui jalur perdagangan, namun juga melalui jalur pasar keuangan.Di samping pengaruh global, faktor internal dari dalam negeri sendiri juga menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi perekonomian kita. Salah satunya adalah tingginya inflasi yang terjadi selama tahun 2014 dimana laju inflasi tahun kalender 2014 secara tahunan tercatat hingga sebesar 8,36 persen.
Berlangsungnya proses penyesuaian ekonomi ke arah yang lebih seimbang serta terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, merupakan hasil dari penerapan kebijakan yang konsisten dari Pemerintah dan Bank Indonesia. Respon kebijakan Bank Indonesia secara konsisten ditetapkan untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5+1 persen pada 2014 dan 4+1 persen pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat. Untuk itu, dengan mempertimbangkan kondisi terkini, serta prospek dan risiko perekonomian ke depan, selama triwulan III-2014 Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 7,50 persen. Sementara suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility dipertahankan tetap pada level 7,50 persen dan 5,75 persen. Dalam operasionalisasinya, Bank Indonesia menjaga keseimbangan likuiditas di pasar uang rupiah dan pasar valuta asing. Hal ini dilakukan agar perbankan dapat memenuhi likuiditas pada tingkat suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight yang wajar dan stabil.
Terhadap pengelolaan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia menetapkan kebijakan yang secara konsisten diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya. Untuk mendukung hal tersebut, pada triwulan III-2014 Bank Indonesia meningkatkan keragaman instrumen penempatan valas berbasis syariah dengan menerbitkan instrumen Term Deposit (TD) Valas Syariah. Selain itu, belajar dari pengalaman krisis keuangan 1997-1998, Bank Indonesia mendorong agar pelaku ekonomi melakukan lindung nilai terhadap transaksi valasnya, termasuk oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Untuk itu, Bank Indonesia menyempurnakan ketentuan transaksi swap lindung nilai kepada Bank Indonesia dan ketentuan swap lindung nilai kepada bank. Untuk lebih memperkuat payung hukum transaksi lindung nilai, Bank Indonesia bersama dengan penegak hukum, auditor, dan lembaga terkait lainnya telah menyepakati Pedoman Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) Kegiatan Lindung Nilai sebagai pedoman teknis transaksi lindung nilai BUMN.
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
7
106 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan akan lebih tinggi, yaitu tumbuh pada kisaran 5,3 – 5,8 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama akan ditopang oleh ekspansi investasi pemerintah sejalan dengan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastuktur. Di sisi lain, inflasi akan terus membaik dan diperkirakan berada dalam kisaran 4±1 persen pada tahun 2015 didukung oleh terkendalinya inflasi inti, menurun harga minyak dunia dan membaiknya pasokan bahan pangan. Begitu pula kesimbangan eksternal defisit transaksi berjalan diperkirakan relatif terkendali dengan struktur yang lebih baik.
Dalam menghadapi perkembangan perekonomian yang terjadi BI dan Pemerintah akan terus mencermati beberapa resiko perekonomian domestik, meskipun sebagian resiko tersebut dapat diminimalisir dengan berbagai langkah reformasi struktural. Dari sisi global terkait dengan recana normalisasi The Fed sebagian dapat diimbangi dengan rencana respon kebijakan stimulus moneter Eropa yang diharapkan dapat mendorong arus modal ke Indonesia.
Selain itu struktur fiskal 2015 yang lebih baik dan berkualitas juga menjadi faktor pendorong masuknya arus modal asing. Dengan demikian, tekanan terhadap keseimbangan eksternal relatif terjaga, khususnya dengan percepatan proyek infrastruktur dan perbaikan iklim investasi serta kebijakan nilai tukar yang bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya sehingga dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia.
Dengan mempertimbangkan kondisi terkini, serta prospek dan resiko perekonomian ke depan BI dan Pemerintah memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 25 bps menajdi 7,50 persen dengan suku bunga Deposite facility turun 25 bps menjadi 5,50 persen dan lending facility tetap pada level 8,00 persen. Kebijakan tersebut diambil dengan keyakinan bahwa inflasi akan tetap terkendali dan rendah sehingga berada pada kisaran 4±1 persen pada tahun 2015. Kebijakan ini masih sejalan dengan upaya untuk mengendalikan defisit transasksi berjalan pada tingkat yang lebih sehat. Ke depan Bank Indonesia dan pemerintah akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta meningkatkan koordinasi untuk memastikan bahwa inflasi akan tetap rendah dan defisit transaksi berjalan terjaga pada tingkat yang sehat.
Kinerja Stabilitas Keuangan
Jumlah uang tunai yang beredar selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2013, pertumbuhan uang beredar M1 meningkat rata-rata sebesar 0,48 persen per bulan. Peningkatan ini lebih rendah dibanding tahun 2012 yang meningkat rata-rata sebesar 1,32 persen per bulan. Peningkatan komponen M1 selama tahun 2013 yang terjadi pada uang kartal adalah sebesar 13,13 persen dimana volumenya bertambah sebesar Rp 40,90 triliun, sedangkan uang giral mengalami peningkatan hanya sebesar 9,75 persen dengan volume peningkatan sebesar Rp 43,58 triliun. Pada Bulan Desember 2013 volume M1 yang beredar adalah yang tertinggi disepanjang tahun 2012-2013 yaitu mencapai Rp 887,06 triliun atau naik 5,39 persen dibanding tahun sebelumnya.
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
107
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Selama tahun 2014 terjadi penurunan peredaran M1 rata-rata sebesar 2,16 persen setiap triwulannya. Pada Triwulan I 2014 terjadi penurunan M1 sebesar 3,17 persen dibanding Triwulan IV 2013, penurunan tersebut disebabkan karena peredaran uang kartal mengalami penurunan sebesar 1,23 persen. Peningkatan tertinggi peredaran M1 terjadi pada Triwulan II yakni naik sebesar 7,99 persen dibanding Triwulan I, atau meningkat sebesar Rp 67,40 triliun, dari Rp 843,66 triliun menjadi Rp 910,97 triliun. Peningkatan
Tabel 7.1 Perkembangan Uang Beredar (miliar rupiah), Tahun 2013–Triwulan I 2015
Akhir Uang Kartal Uang Giral Jumlah
2013
Januari 326 829 461 031 787 860 2 470 101 10 829 2 480 929
Februari 321 483 465 065 786 549 2 483 011 10 861 2 493 872
Maret 331 169 478 886 810 055 2 500 342 12 132 2 512 474
September 360 079 507 636 867 715 2 691 972 24 394 2 716 366
TW3 367 809 500 019 867 828 2 642 031 21 166 2 663 197
Oktober 363 797 492 374 856 171 2 697 734 22 965 2 720 698
Nopember 375 823 494 632 870 455 2 719 372 24 692 2 744 064
Desember 399 589 487 475 887 064 2 817 826 22 805 2 840 632
TW4 379 736 491 494 871 230 2 744 977 23 487 2 768 465
Februari 387 889 539 958 927 848 3 278 945 11 331 3 290 275
Maret 382 001 575 576 957 576 3 275 425 13 282 3 288 708
TW1 387 049 547 453 934 501 3 262 750 15 826 3 278 576
Sumber : Bank Indonesia
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
7
108 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
ini disokong oleh peningkatan penggunaan uang giral yang naik sebesar 13,72 persen dari Rp 468,52 triliun pada Triwulan I menjadi Rp 532,82 triliun di Triwulan II. Sedangkan untuk peredaran uang kartal, peningkatan tertinggi terjadi pada Triwulan III yang naik sebesar 9,95 persen yaitu dari Rp 378,15 triliun pada triwulan II menjadi Rp 415,76 triliun di triwulan III.
Jumlah M1 tertinggi terjadi pada triwulan IV dimana M1 mencapai Rp 946,01 triliun. Peningkatan jumlah tersebut terjadi karena adanya peningkatan penggunaan uang giral yang mencapai Rp 539,01 triliun atau terjadi kenaikan 6,64 persen dibanding triwulan sebelumnya, sedangkan tren penggunaan uang kartal menunjukkan penurunan, dimana pada triwulan IV terjadi penurunan penggunaan uang kuartal sebesar 2,11 persen.
Seperti tahun-tahun sebelumnya siklus peningkatan penggunaan uang kartal terjadi menjelang perayaan hari raya Idul Fitri dan Natal, awal tahun pendidikan dan musim libur akhir tahun. Peningkatan penggunaan uang kartal terjadi pada bulan Juli, dimana mengalami kenaikan sebesar 18,64 persen atau mencapai Rp 452,77 triliun dibanding bulan Juni, Bulan Juli, karena banyaknya permintaan/kebutuhan masyarakat menjelang awal tahun ajaran baru dibidang pendidikan dan persiapan masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri, dan pada bulan Juli ini adalah yang tertinggi peredaran uang kartal di tahun 2014. Di akhir tahun, bulan Desember juga terjadi peningkatan penggunaan uang kartal sebesar 3,32 persen dibanding bulan sebelumnya yaitu dari Rp 405,71 triliun naik menjadi Rp 419,18 triliun dimana masyarakat lebih banyak menggunakan uangnya untuk liburan akhir tahun.
Penggunaan uang giral sebagai alat transaksi pembayaran ternyata tidak mengikuti perilaku penggunaan uang kartal. Hal ini dapat dilihat dari tingkat penggunaan uang giral selama tahun 2014. Penggunaan uang giral cenderung meningkat, dimana pada triwulan II terjadi peningkatan penggunaan uang giral yang cukup tinggi. Pada bulan April 2014 terjadi peningkatan penggunaan uang giral sebesar 6,74 persen dibanding bulan
0
2010 2011 2012 2013 2014
Kartal Giral Kuasi
Gambar 7.1 Jumlah Uang Beredar (miliar rupiah), Tahun 2010–2014
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
109
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
sebelumnya. Peningkatan penggunaan uang giral terus berlanjut di bulan Mei hingga Juni 2014, peningkatan di bulan Mei sebesar 3,57 persen dan pada bulan Juni sebesar 7,19 persen menjadi Rp 564,08 triliun dan di bulan Juni yang merupakan penggunaan uang giral tertinggi pada tahun 2014. Posisi uang giral pada bulan Juli dan menjelang akhir tahun jumlah uang giral yang beredar justru berlawanan dengan peredaran uang kartal, dimana penggunaan uang giral cenderung mengalami penurunan.
Selama tahun 2014 peredaran uang giral tercatat tetap lebih besar dibandingkan dengan peredaran uang kartal, dimana komposisi jumlah uang giral yang beredar rata-rata sebesar 58,24 persen setiap bulannya dan uang kartal rata hanya 41,76. Pertumbuhan uang beredar M2 meningkat rata-rata sebesar 0,99 persen dengan volume M2 diakhir tahun bertambah sebesar Rp 443,94 triliun. Pada Desember 2014 volume M2 yang beredar mencapai Rp 3.715,31 triliun atau naik 12,43 persen dibanding tahun sebelumnya.
Uang kuasi yang merupakan komponen terbesar dibandingkan komponen lainnya pada M2 dimana jumlahnya mencapai 76 persen Uang kuasi tumbuh rata-rata 1,09 persen setiap bulannya selama tahun 2014 Peningkatan peredaran uang kuasi terbesar selama tahun 2014 terjadi pada akhir Triwulan IV 2014 dimana peningkatan yang terjadi sebesar 3,48 persen, dari Rp 3.098,96 triliun pada November menjadi Rp 3.206,96 triliun di bulan Desember 2014 Kondisi tersebut juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dimana peningkatan tertinggi uang kuasi terjadi disetiap akhir tahun. Hal ini dikarenakan masyarakat menginvestasikan sebagian dari pendapatannya baik dalam bentuk deposito maupun tabungan dalam rupiah dan valuta asing.
Memasuki awal tahun atau triwulan I 2015 seperti tahun-tahun sebelumnya, seiring berakhirnya musim libur maka peredaran M1 selalu mengalami penurunan dimana pada triwulan I 2015 penurunan peredaran M1 tercatat sebesar 1,22 persen atau secara absolut mencapai Rp 934,50 triliun.
Sebaliknya M2 yang beredar mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar 4,27 persen atau secara absolut mencapai Rp 3.278,58 triliun.
Pengaruh Inflasi dan Faktor Musiman Terhadap Peredaran Uang Kartal
Meningkatnya kegiatan perekonomian di dunia usaha, faktor musiman yaitu kalender pendidikan dan hari raya keagamaan serta hari libur nasional lainnya, sangat mempengaruhi peredaran uang kartal di dalam negeri. Ini terlihat dari fluktuasi peredaran uang kartal yang berkaitan erat dengan periode waktu tersebut. Pada waktu-waktu tersebut jumlah uang kartal yang beredar meningkat dikarenakan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan tersebut, pengguna uang sebagai alat pembayaran tunai dalam transaksi perdagangan masih cukup tinggi di masyarakat.
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
7
110 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Uang kartal masih memainkan peran penting khususnya untuk transaksi bernilai kecil. Dalam masyarakat modern sekarang ini, pemakaian alat pembayaran tunai seperti uang kartal memang cenderung lebih kecil dibanding uang giral. Namun patut diketahui bahwa pemakaian uang kartal memiliki kendala dalam hal efisiensi. Hal itu bisa terjadi karena biaya pengadaan dan pengelolaan terbilang mahal, selain itu juga faktor keamanan. Hal ini juga harus memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran, sementara bila melakukan transaski dalam jumlah besar juga mengundang resiko pencurian, perampokan dan pemalsuan uang.
Komponen pendukung M1 yaitu uang kartal yang beredar di masyarakat di awal tahun 2014 (Triwulan I) mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya, umumnya masyarakat pada awal tahun selalu berhati-hati dalam memakai/membelanjakan uangnya atau sementara menyimpan uangnya di bank. Penurunan uang kartal yang beredar sejauh ini dapat menurunkan tekanan inflasi. Pemerintah berupaya untuk dapat mengendalikan inflasi, agar dapat menurunkan tekanan inflasi terutama dari kelompok makanan. Angka inflasi awal tahun cukup terkendali, meskipun salah satu harga bahan makanan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi namun tidak mempengaruhi harga bahan makanan lainnya yang tetap stabil. Bahkan di bulan Maret 2014 sempat mengalami deflasi.
Uang kartal yang diedarkan pada triwulan II-2014 terus meningkat mencapai rata-rata Rp 378,2 triliun atau meningkat sebesar 0,83 persen dibanding triwulan sebelumnya. Sedangkan inflasi tetap terkendali dan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, ini terutama didorong oleh kelompok bahan makanan yang pada bulan April dan Mei 2014 mengalami deflasi.
Peredaran uang kartal di triwulan III 2014 kembali meningkat, rata-rata mencapai Rp 415,8 triliun. Peningkatan penggunaan uang kartal terjadi pada bulan Juli 2014 merupakan peningkatan tertinggi. Walaupun demikian tidak menyebabkan tingkat inflasi pada bulan tersebut menjadi tinggi, inflasi pada bulan Juli 2014 sebesar 0,93 persen. Hal ini, dikarenakan oleh penurunan harga komoditas global, permintaan yang moderat dan ekspektasi inflasi yang terjaga. Seperti biasa setelah perayaan keagamaan dan libur hari raya terjadi penurunan konsumsi masyarakat yang diikuti dengan penurunan volume uang kartal yang beredar. Hal ini juga terjadi pada bulan Agustus dimana uang kartal yang beredar turun hingga 11,82 persen menjadi Rp 399,23 triliun dengan tingkat inflasi yang terjadi hanya sebesar 0,47 persen.
Uang kartal yang beredar di masyarakat pada akhir Triwulan IV, yaitu pada bulan Desember 2014 mencapai Rp 419,19 triliun atau naik 3,22 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan pengaruh lonjakan harga dan juga menjelang perayaan hari keagamaan yaitu Natal dan tahun baru serta masyarakat yang akan berlibur akhir tahun. Perkembangan angka inflasi di triwulan IV-2014 masih stabil, termasuk komponen bahan makanan. Sementara memasuki bulan November-Desember 2014 sejalan dengan menguatnya kegiatan ekonomi, dari sisi harga terjadi gejolak harga yang mengakibatkan laju
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
111
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
inflasi menunjukkan peningkatan terutama akibat kenaikan harga kelompok bahan pangan (volatile foods) yang rentan terhadap gangguan/perubahan iklim dan gangguan distribusi serta pengaruh hari besar keagamaan. Inflasi yang terjadi di bulan Desember 2014 karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks seluruh kelompok pengeluaran, dan secara keseluruhan inflasi di bulan Desember adalah inflasi yang tertinggi di tahun 2014 yaitu sebesar 2,46 persen.
Memasuki awal tahun 2015, pada Triwulan I uang kartal yang beredar mengalami penurunan rata-rata sebesar 4,90 persen dibanding Triwulan IV tahun 2014. Penurunan peredaran uang kartal di awal tahun disebabkan masa libur telah usai, dimana transaksi pembayaran tunai, konsumsi rumah tangga lebih sedikit, masyarakat mungkin menyimpan atau menabung kembali uangnya dan biasanya di awal tahun masyarakat penuh kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya. Terlihat pada bulan Januari-Maret 2015 uang kartal yang beredar mengalami penurunan setiap bulannya masing-masing turun 6,66 persen, 0,86 persen dan 1,52 persen dengan jumlah yang beredar sebanyak Rp 391,26 triliun, Rp 387,89 dan Rp 382,00 triliun.
Uang primer adalah uang kartal di masyarakat (uang kertas dan uang logam yang berlaku), cadangan bank komersial umum (BKU) di Bank Indonesia (BI) (terdiri atas kas dan giro BKU), serta giro swasta bukan bank (penduduk) pada BI. Peredaran uang primer pada triwulan I-2014 rata-rata peredarannya mencapai Rp 769,34 triliun atau naik 0,06 persen dari triwulan IV-2013.
Sebagian uang yang beredar di masyarakat juga terserap melalui komponen SBI yang naik sebesar 11,31 persen menjadi Rp 67,86 triliun dibandingkan triwulan IV-2013. Memasuki triwulan II 2014, semakin membaiknya kondisi perekonomian dunia, mendapat respon positif yang ditandai dengan peredaran uang primer yang mencapai Rp 787,37 triliun. Uang primer yang beredar di Bulan April 2014 menunjukkan peningkatan sebesar 0,94 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya. Selanjutnya di bulan Mei dan Juni 2014 masing masing naik sebesar 1,30 persen dan 0,77 persen.
Rata-rata uang primer yang beredar pada triwulan III 2014 mencapai Rp 844,24 triliun atau meningkat 7,22 persen. Tren peningkatan terus berlanjut hingga bulan Juli 2014 naik sebesar 12,25 persen menjadi Rp 892,15 triliun dibanding bulan sebelumnya. Pada bulan Agustus-September 2014 peredaran uang primer kembali mengalami penurunan yaitu masing-masing sebesar 7,71 persen dan 0,74 persen. Volume terbesar penyumbang peningkatan uang primer pada triwulan ini ada pada komponen uang kartal yang meningkat sebesar 9,95 persen menjadi Rp 415,76 triliun.
Uang primer yang beredar di triwulan IV-2014 rata-rata mencapai Rp 874,47 triliun atau meningkat sebesar 3,58 persen dari triwulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didukung oleh Giro Bank yang meningkat 1,83 persen menjadi Rp 281,08 triliun, diikuti Giro Perusahaan dan Perorangan meningkat cukup tinggi yaitu 71,11 persen menjadi Rp 1,39 triliun, begitu pula dengan SBI meningkat sebesar 54,97 persen menjadi Rp 96,45 triliun. Sementara,
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
7
112 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Tabel 7.2 Perkembangan Uang Primer (miliar rupiah), Tahun 2013–Triwulan I 2015
Akhir
Januari 326 829 68 187 232 591 318 36 083 664 007
Februari 321 483 66 195 229 284 317 38 207 655 486
Maret 331 169 63 653 230 860 77 39 176 664 935
Agustus 359 417 77 679 236 711 390 39 251 713 448
September 360 079 74 602 240 163 657 40 161 715 662
TRIW 3 367 809 80 623 237 429 493 40 164 726 519
Oktober 363 797 74 280 240 904 429 54 856 734 266
Nopember 375 823 70 568 243 493 230 60 477 750 592
Desember 399 589 100 431 253 655 451 67 552 821 679
TRIW 4 379 736 81 760 246 017 370 60 962 768 846
2014
Januari 380 074 78 549 256 170 139 66 569 781 500
Februari 367 651 74 831 248 006 449 64 230 755 167
Maret 377 433 70 930 249 988 243 72 771 771 365
TRIW 1 375 053 74 770 251 388 277 67 856 769 344
April 372 334 77 091 254 640 792 73 724 778 580
Mei 380 472 79 908 255 312 555 72 477 788 723
Juni 381 644 83 225 258 843 848 70 234 794 794
TRIW 2 378 150 80 075 256 265 732 72 145 787 366
Juli 452 769 111 755 266 783 864 59 975 892 146
Agustus 399 272 77 867 290 298 727 55 176 823 341
September 395 234 78 743 270 998 703 71 551 817 230
TRIW 3 415 758 89 455 276 026 765 62 234 844 239
Oktober 396 114 81 467 277 864 1 391 93 105 849 940
Nopember 405 706 75 047 277 903 1 140 95 232 855 029
Desember 419 185 109 365 287 484 1 397 101 002 918 434
TRIW 4 407 002 88 626 281 084 1 309 96 446 874 468
2015
Januari 391 256 80 648 292 186 880 89 541 854 510
Februari 387 889 77 721 285 038 244 100 241 851 132
Maret 384 892 77 721 285 976 32 99 720 848 341
TRIW 1 388 012 78 697 287 733 385 96 500 851 328
Catatan : 1 SBI yang digunakan untuk pemenuhan GWM Sekunder dan diperhitungkan sebagai komponen Uang Primer
Sumber : Bank Indonesia
pada triwulan ini uang kartal yang beredar mengalami penurunan sekitar 2,11 persen menjadi Rp 407,00 triliun. Kas Bank menurun 0,93 persen menjadi Rp 88,63 triliun.
Salah satu komponen pendukung uang primer adalah Giro Perusahaan dan Perorangan, meskipun sangat kecil sumbangannya dibanding komponen lain dalam peredaran uang primer yang berada pada angka 3 digit, namun
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
113
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
tetap diperhitungkan untuk peredaran uang primer. Sepanjang tahun 2014, perkembangan Giro Perusahaan dan perorangan sangat berfluktuatif.
Peningkatan terus berlanjut hingga triwulan IV 2014 tercatat sebesar 71,15 persen menjadi Rp 1.309 miliar. Sedangkan Volume tertinggi Giro perusahaan dan Perorangan terjadi pada Akhir tahun yaitu di bulan Desember 2014 dengan nilai sebesar Rp 1.397 miliar atau naik 22,54 persen dari bulan sebelumnya.
Memasuki Triwulan IV-2014 nilai giro perusahaan dan perorangan sudah menembus angka Rp 1 triliun, walaupun sempat mengalami sedikit penurunan di bulan November 2014 dan meningkat kembali di bulan Desember 2014.
Namun memasuki tahun 2015 dari bulan Januari – Maret nilai giro perusahaan dan perorangan terus mengalami penurunan. Bahkan pada bulan Maret 2015 nilai giro mencapai titik terendah selama Juni 2013 – Maret 2015, tercatat hanya sebesar Rp 32 miliar saja.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terus terjadi di sepanjang tahun 2014. Pada Triwulan I-2014 rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS rata-rata 1,88 persen pada level Rp 11.928. Penguatan rupiah terjadi sejak Februari 2014 sejalan dengan meningkatnya aliran masuk modal asing.
Namun penguatan rupiah sedikit terkoreksi pada bulan Mei 2014 dipengaruhi kekhawatiran atas perlambatan ekonomi Tiongkok, dan eskalasi ketegangan geopolitik di perbatasan Ukraina-Rusia. Pada April 2014, rupiah ditutup di level Rp 11.520 per dolar AS, melemah 0,71 persen dibandingkan dengan April 2014.
Tekanan terhadap rupiah terus melemah hingga bulan September triwulan III-2014 dimana posisi rupiah kembali berada di level Rp 11.858. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya aliran modal asing.
Rupiah mengalami pelemahan akibat pengaruh sentimen global. Pada triwulan III 2014, secara rata-rata rupiah melemah sebesar 1,11 persen (q to q) ke level Rp 11.746 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh
Gambar 7.2 Perkembangan Nilai Tukar Mata Uang Asing, Tahun 2014–Triwulan I 2015
98
Kinerja Sektor Moneter
7
114 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
faktor eksternal, yaitu kekhawatiran terhadap normalisasi kebijakan The Fed, dinamika geopolitik, dan perlambatan ekonomi global. Sementara dari faktor internal, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh perilaku investor yang menunggu pembentukan kabinet baru dan program kerja pemerintah ke depan. Tekanan terhadap rupiah juga berlanjut di bulan Oktober 2014, rupiah secara rata-rata melemah 2,53 persen ke level Rp 12.157 per dolar AS.
Pengumuman bank sentral AS untuk mengurangi quantitative easing menunjukkan bahwa tanda-tanda pemulihan ekonomi AS semakin membaik.
Kebijakan ini menyebabkan investor mulai menjual aset-asetnya di negara berkembang untuk menghindari mata uang berisiko. Laju US$ yang terus naik membuat pelaku pasar cenderung mentransaksikan dolar dibanding mata uang lain. Sementara itu, dari sisi domestik, depresiasi nilai tukar dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ekspor sehingga nilai ekspor semakin menurun sedangkan komoditas impor semakin meningkat menyebabkan ketidakseimbangan di pasar valuta asing domestik dan defisit neraca transaksi berjalan serta meningkatnya ekspektasi depresiasi rupiah Kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah dan tingginya permintaan valas oleh nasabah korporasi atau ritel untuk membayar repatriasi dividen dan hasil investasi juga turut andil dalam pelemahan rupiah.
Pada triwulan IV-2014 rupiah terus mengalami tekanan dan menyentuh harga Rp 12.257 atau turun 4,35 persen. Bahkan di akhir Desember 2014 dolar sudah menyentuh angka Rp 12.455. Jika dibandingkan Desember 2014 terhadap Desember 2013 rupiah mengalami tekanan atau terdepresiasi hingga 3,38 persen terhadap US$. Semakin membaiknya perekonomian Amerika
Tabel. 7.3. Perkembangan Nilai Tukar Mata Uang Asing terhadap Rupiah di Pasaran Jakarta, Tahun 2013–Triwulan I 2015
Periode 2013 2014 2015
US $ Yen Euro US $ Yen Euro US $ Yen Euro
Januari 9 820,80 111,60 13 038,60 12 173,88 117,00 16 574,13 12 593,96 106,50 14 679,69 Februari 9 691,75 104,63 12 931,25 12 168,75 117,00 16 338,00 12 745,42 107,31 14 537,08 Maret 9 710,50 103,13 12 597,50 11 443,13 112,13 15 834,88 13 064,38 108,25 14 396,25 TW1 9 741,02 106,45 12 855,78 11 928,58 115,38 16 249,00 12 801,25 107,35 14 537,67 April 9 724,75 99,75 12 640,50 11 439,30 111,60 15 815,40
Mei 9 763,40 97,00 12 677,80 11 519,88 113,75 15 851,38 Juni 9 935,50 101,63 13 121,25 11 893,25 116,25 16 165,88 TW2 9 807,88 99,46 12 813,18 11 617,48 113,87 15 944,22 Juli 10 149,60 101,60 13 281,60 11 689,00 115,38 15 894,50 Agustus 10 916,33 111,83 14 580,00 11 692,63 114,13 15 604,25 September 11 553,50 116,25 15 379,00 11 857,50 111,00 15 382,63 TW3 10 873,14 109,89 14 413,53 11 746,38 113,50 15 627,13 Oktober 11 427,50 116,75 15 531,00 12 157,40 112,50 15 399,80 Nopember 11 651,00 116,50 15 738,00 12 153,54 104,88 15 209,79 Desember 12 048,33 117,00 16 503,00 12 455,83 105,13 15 399,90 TW4 11 708,94 116,75 15 924,00 12 255,59 107,50 15 336,50 Sumber : Indikator Ekonomi, BPS
http://www.bps.go.id
Kinerja Sektor Moneter
115
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Serikat membuat Federal Reserve akan mengurangi stimulus moneternya.
Hal inilah yang menjadi faktor utama penyebab nilai tukar rupiah terhadap US$ melemah sepanjang tahun 2014, bahkan berlanjut hingga triwulan I-2015.
Depresiasi rupiah terhadap US$ yang diperkirakan akan terus terjadi hingga Triwulan I-2015 disebabkan kebutuhan US$ di dalam negeri sangat besar dimana perusahaan-perusahaan swasta harus siap membayar utang-utangnya yang sudah jatuh tempo dalam bentuk dolar pada pertengahan tahun serta
Depresiasi rupiah terhadap US$ yang diperkirakan akan terus terjadi hingga Triwulan I-2015 disebabkan kebutuhan US$ di dalam negeri sangat besar dimana perusahaan-perusahaan swasta harus siap membayar utang-utangnya yang sudah jatuh tempo dalam bentuk dolar pada pertengahan tahun serta