• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Ketenagakerjaan

Dalam dokumen Katalog BPS: BADAN PUSAT STATISTIK (Halaman 178-200)

http://www.bps.go.id

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

161

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

P

embangunan di suatu negara dapat melingkupi banyak aspek, salah satunya adalah pembangunan pada bidang ketenagakerjaan atau sumber daya manusia (SDM). SDM merupakan sumber keunggulan kompetitif yang lebih menentukan keberlanjutan pembangunan di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sementara kualitas SDM di Indonesia masih rendah. Oleh karena itu, ketenagakerjaan merupakan salah satu persoalan yang sedang disorot, mengingat akan segera diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang membuat arus tenaga kerja asing bebas masuk ke Indonesia. Untuk mengantisipasi dampak negatif dari penerapan MEA, tenaga kerja Indonesia harus memiliki standar yang tinggi dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing yang masuk ke dalam negeri.

Rendahnya kualitas ketenagakerjaan di Indonesia dapat digambarkan dari rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing, yang secara tidak langsung mengindikasikan rendahnya daya saing. Daya saing yang rendah ini dapat tercermin oleh kurangnya kesempatan kerja sehingga pertumbuhan ekonomi belum mampu menyerap angkatan kerja masuk ke dalam pasar kerja. Dengan demikian, keterampilan angkatan kerja tidak dimanfaatkan dan dikembangkan sebaik-baiknya. Hal tersebut juga membuat jumlah pengangguran yang cukup besar. Selain itu, kualitas tenaga kerja juga dapat memengaruhi produktivitas tenaga kerja tersebut.

Dengan demikian, pemerintah perlu membuat terobosan atau kebijakan baru yang dapat menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan.

Dalam membuat kebijakan, pemerintah akan memerlukan informasi mengenai ketenagakerjaan. Indikator yang menggambarkan kesempatan kerja dapat digambarkan melalui tingkat kesempatan kerja atau tingkat pengangguran terbuka. Kemudian kualitas tenaga kerja dapat dilihat dari jumlah pekerja berdasarkan tingkat pendidikan terakhir dan pengalaman pelatihan kerja.

Angkatan Kerja

Jumlah angkatan kerja dapat menggambarkan ketersediaan pasokan bagi pasar tenaga kerja dan berpotensi untuk memproduksi barang dan jasa.

Selama periode 2011-2014, jumlah angkatan kerja di Indonesia terus mengalami peningkatan. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2011 sebanyak 116,09 juta orang, dan jumlah angkatan kerja pada tahun 2014 sebanyak 121,87 juta orang.

Hal tersebut menunjukkan pertumbuhan jumlah angkatan kerja rata-rata sebesar 1,63 persen setiap tahunnya. Menurut Bloom dan Freeman (1986), peningkatan ketersediaan angkatan kerja ini merupakan salah satu akibat dari pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia selama tahun 2011-2014 adalah sebesar 1,3 persen setiap tahunnya.

Angkatan kerja juga dapat diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin.

Angkatan kerja yang berjenis kelamin laki-laki mendominasi jumlah angkatan kerja di Indonesia (2011-2014). Pada tahun 2014, dari total keseluruhan angkatan kerja, sebanyak 62,22 persen adalah angkatan kerja berjenis kelamin

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

162 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

laki-laki, atau dengan perbandingan antara angkatan kerja laki-laki dan angkatan kerja perempuan adalah sebesar 6:4. Perbedaan jumlah angkatan kerja berdasarkan jenis kelamin berkaitan dengan rasio jenis kelamin yang mencapai 101,13, yang berarti setiap 100 wanita terdapat 101 sampai 102 laki-laki. Selain itu, lebih rendahnya penawaran kerja perempuan disebabkan oleh peran gender, dimana perempuan bertanggung jawab untuk mengurusi anak dan rumah (ibu rumah tangga).

Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 128,30 juta orang, dimana 94,19 persen diantaranya atau sekitar 120,85 juta orang memiliki pekerjaan. Pada tahun 2015 ini, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki (84,58 persen) lebih tinggi daripada tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (54,48 persen). Kemudian untuk jumlah penduduk yang bukan angkatan kerja ada sebanyak 56,3 juta orang, dimana 74,77 persen diantaranya adalah perempuan.

Kemudian jumlah angkatan kerja berdasarkan jenis kelamin juga terus mengalami peningkatan selama tahun 2011-2014. Jumlah angkatan kerja laki-laki meningkat rata-rata sebesar 1,4 persen setiap tahun. Sementara itu, pertumbuhan jumlah angkatan kerja perempuan lebih tinggi, yaitu rata-rata sebesar 2,02 persen setiap tahun.

Angkatan kerja terdiri dari penduduk yang aktif bekerja dan penduduk yang sedang mencari pekerjaan atau sering disebut pengangguran. Jumlah

Tabel 10.1. Jumlah Angkatan Kerja Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kelamin, Tahun 2011 2015

(Diolah dari Sakernas Februari dan Agustus)

Tahun Jenis Catatan: r Data 2011-2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

163

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

penduduk yang bekerja pada tahun 2011 sebanyak 107,41 juta orang, pada tahun 2012 meningkat menjadi 112,50 juta orang, kembali meningkat pada tahun 2013 menjadi 112,76 juta orang, dan pada tahun 2014 sebanyak 114,62 juta orang. Peningkatan yang terjadi selama tahun 2011-2014 tersebut rata-rata sebesar 2,19 persen setiap tahun.

Jika dilihat dari sisi jenis kelamin, sebagian besar pekerja di Indonesia adalah pekerja laki-laki. Selama tahun 2011-2014, sekitar 60 persen pekerja berjenis kelamin laki-laki. Selain itu, selama tahun tersebut, jumlah laki-laki yang bekerja juga mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 67,98 juta orang pada tahun 2011 menjadi 71,46 juta orang pada tahun 2014. Peningkatan jumlah pekerja laki-laki tahun 2011-2014 tersebut memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 1,72 persen setiap tahun. Di sisi lain, jumlah pekerja perempuan cenderung tidak stabil. Selama tahun 2011-2012, jumlah pekerja perempuan mengalami peningkatan, tetapi selama tahun 2012-2013, jumlah pekerja perempuan mengalami penurunan. Namun pada tahun 2013-2014, jumlah pekerja perempuan meningkat kembali yaitu dari 42,42 juta orang pada tahun 2013 menjadi 43,16 juta orang pada tahun 2014. Peningkatan pekerja perempuan selama periode 2011-2014 tersebut adalah rata-rata sebesar 2,98 persen setiap tahun.

Branch (1994) mengemukakan bahwa cepatnya peningkatan jumlah pekerja perempuan merupakan akibat dari seriusnya memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk hak untuk berpartisipasi dalam pasar kerja.

Selain itu, fakta tersebut juga merupakan salah satu bukti pencapaian dari kebijakan pemerintah yang responsif gender. Salah satu kebijakan tersebut adalah pembangunan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam RPJPN 2005-2025 dan RPJMN 2010-2014. Arah kebijakan RPJPN 2005-2025 yang menyangkut pembangunan pemberdayaan perempuan adalah peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan di berbagai bidang pembangunan. Kemudian, kebijakan yang meningkatkan kesetaraan gender dalam RPJMN 2010-2014, salah satunya adalah meningkatkan kualitas hidup di bidang ekonomi.

Peningkatan jumlah angkatan kerja akan membuat meningkatnya penawaran tenaga kerja. Jika peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan tenaga kerja, kecenderungan meningkatnya jumlah pengangguran akan semakin besar. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk kondisi ketenagakerjaan di Indonesia pada tahun 2012. Selama tahun 2011-2012 jumlah pengangguran mengalami penurunan sebesar 15,40 persen. Akan tetapi, jumlah pengangguran meningkat pada tahun 2012-2013, yaitu dari 7,34 juta orang pada tahun 2012 menjadi 7,41 juta orang pada tahun 2013. Kemudian keseriusan pemerintah dalam menanggulangi masalah pengangguran dapat membuahkan hasil. Pada tahun 2014, jumlah pengangguran di Indonesia dapat berkurang menjadi 7,24 juta orang, atau terjadi penurunan sebesar 2,24 persen.

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

164 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Tidak berbeda dengan jumlah pengangguran secara keseluruhan, jumlah pengangguran yang berjenis kelamin laki-laki juga mengalami penurunan di tahun 2011-2012, kemudian meningkat di tahun 2012-2013, dan menurun kembali pada tahun 2014. Sementara itu, selama tahun 2011-2014 jumlah pengangguran yang berjenis kelamin perempuan terus mengalami penurunan. Jumlah pengangguran yang berjenis kelamin perempuan terdapat sebanyak 3,84 juta orang pada tahun 2011 mejadi 2,88 juta orang pada tahun 2014. Hal tersebut menunjukkan penurunan rata-rata sebesar 9,14 persen setiap tahun. Penurunan jumlah pengangguran yang berjenis kelamin wanita membuktikan bahwa pemikiran persepsi stereotipe akan perbedaan gender sudah mulai memudar.

Perkembangan tenaga kerja di Indonesia juga dapat dilihat dari ketiga indikator pokok yaitu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), dan Tingkat Kesempatan Kerja (TKK). Ketiga indikator ketenagakerjaan tersebut dibedakan juga menurut daerah tempat tinggal yaitu perkotaan dan perdesaan. Indikator-indikator tersebut dapat menggambarkan kondisi ketenagakerjaan saat ini dan dapat menjadi penentu arah kebijakan.

TPAK dapat berguna untuk mengetahui besarnya persentase penduduk usia kerja yang berpotensi untuk aktif secara ekonomi. Selama tahun 2011-2014, TPAK di Indonesia cenderung stabil. TPAK mengalami penurunan dari 67,76 persen pada tahun 2012 menjadi 66,60 persen pada tahun 2014. Penurunan nilai TPAK menunjukkan bahwa semakin sedikit bagian dari penduduk usia kerja yang tersedia untuk aktif terlibat dalam memproduksi barang dan jasa.

Hal tersebut juga mengindikasikan berkurangnya penawaran tenaga kerja (labor supply). Namun demikian, TPAK pada Februari 2015 kembali meningkat menjadi 69,50 persen.

Kemudian jika dilihat dari sisi perbedaan daerah tempat tinggal, TPAK di perdesaan lebih besar daripada TPAK di perkotaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan penduduk yang berpotensi aktif secara ekonomi di

Tabel 10.2. Indikator Ketenagakerjaan Menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 20112015

(Diolah dari Sakernas Februari dan Agustus)

Daerah Tempat Tinggal 2011 r 2012 r 2013 r 2014 2015 Catatan : r Data 2011- 2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

165

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

perdesaan lebih besar dibandingkan di perkotaan. Perkembangan TPAK baik di perdesaan maupun di perkotaan tidak berbeda dengan perkembangan TPAK secara keseluruhan. TPAK di perkotaan sempat mengalami penurunan menjadi 64,20 persen pada tahun 2013 dibanding tahun 2012 yang mencapai 65,17 persen dan meningkat kembali menjadi 64,47 persen pada tahun 2014.

Peningkatan juga terus terjadi hingga Februari 2015, yaitu menjadi 68,02 persen. Kondisi yang sama juga terjadi untuk TPAK di perdesaan dari 70,42 persen pada tahun 2012 turun menjadi 69,42 persen pada tahun 2013 dan kembali menurun menjadi 68,80 persen pada tahun 2014. Akan tetapi, TPAK perdesaan kembali meningkat menjadi 71,43 persen pada Februari 2015.

Keberhasilan kebijakan pemerintah di bidang ketenagakerjaan juga dapat dilihat dari perubahan TPT dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011-2012, TPT di Indonesia mengalami penurunan yaitu dari 7,48 persen menjadi 6,13 persen. Pada tahun 2013, angka TPT nasional mengalami peningkatan menjadi 6,17 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2013 kemampuan pasar kerja dalam menyerap ketersediaan tenaga kerja semakin kecil. Namun demikian, TPT nasional tahun 2014 menurun kembali seperti tahun 2012 yaitu menjadi 5,94 persen dan terus menurun menjadi 5,81 persen pada Februari 2015. Penurunan TPT tersebut mengindikasikan bahwa usaha pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran sudah cukup berhasil.

Sementara itu, TPT perkotaan selama tahun 2011-2015 terus mengalami penurunan, yaitu dari 9,38 persen pada Agustus 2011 menjadi 7,02 persen pada Februari 2015. TPT yang terus menurun di daerah perkotaan menunjukkan bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan di daerah perkotaan cukup beragam.

Akan tetapi, di daerah perdesaan ketersediaan lapangan pekerjaan sangat terbatas.

TPT di daerah perdesaaan selalu lebih rendah daripada TPT di daerah perkotaan. Di daerah perdesaan, penyerapan tenaga kerja tertinggi terdapat pada lapangan usaha pertanian, perkebunan, dan perikanan. Pada tahun 2014, lapangan usaha tersebut menjadi lapangan usaha dengan pangsa tenaga kerja terbesar yaitu mencapai 34 persen pekerja. Model migrasi yang dikembangkan

Gambar 10.1 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Daerah Tempat Tinggal (persen), Tahun 20112015

9,4

2011(Agt) 2012(Agt) 2013(Agt) 2014(Agt) 2015(Feb)

Perkotaan

Perdesaan

Jumlah

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

166 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

oleh Todaro, menjelaskan bahwa perpindahan penduduk dari desa ke kota menjadi salah satu sebab munculnya pengangguran di kota. Menurut BPS, pada tahun 2010, angka urbanisasi di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu sebesar 49,8 persen. Oleh karena itu, kebijakan untuk menghilangkan faktor urbanisasi, seperti desentralisasi pembangunan dan modernisasi perdesaan sangat diperlukan untuk menekan pengangguran di perkotaan.

Angka TKK menggambarkan peluang penduduk yang termasuk angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Selama tahun 2011-2015, nilai TKK di Indonesia yang berada pada sekitar 92-94 persen berarti bahwa dari 100 penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja, 92 sampai 94 orang masuk ke dalam angkatan kerja yang memiliki pekerjaan. TKK tahun 2013 tercatat sebesar 93,83 persen, sedikit lebih rendah dari TKK tahun 2012 yang mencapai 93,87 persen. Kemudian TKK tahun 2014 meningkat kembali menjadi 94,06 persen dan mencapai 94,19 persen pada Februari 2015.

Jika diidentifikasi berdasarkan daerah tempat tinggal, TKK di daerah perkotaan selama tahun 2011-2014 selalu meningkat. Hal tersebut berarti bahwa kesempatan penduduk angkatan kerja untuk terserap ke dalam pasar kerja semakin besar. Sementara itu, TKK di daerah perdesaan mengalami naik turun. TKK perdesaan pada tahun 2012 adalah 95,41 persen, kemudian menurun menjadi 94,92 persen pada tahun 2013, dan terus meningkat dari 95,19 persen pada tahun 2014 menjadi 95,68 persen pada Februari 2015.

Indikator ketenagakerjaan juga dapat diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin. TPAK untuk jenis kelamin laki-laki selama periode 2011-2015 sudah di atas 83 persen, sedangkan TPAK perempuan baru di atas 49 persen. Pada tahun 2013, TPAK laki-laki tercatat 83,37 persen, lebih rendah dbanding tahun 2012 yang mencapai 84,21 persen. Angka TPAK kembali mengalami penurunan di tahun 2014 menjadi 83,05 persen, tetapi meningkat kembali menjadi 84,53 persen pada Februari 2015. Perkembangan TPAK perempuan juga tidak berbeda dengan TPAK laki-laki. Selama tahun 2011-2012, TPAK

Tabel 10.3. Indikator Ketenagakerjaan Menurut Jenis Kelamin, Tahun 20112015

(Diolah dari Sakernas Februari dan Agustus)

Jenis Kelamin 2011 r 2012 r 2013 r 2014 2015

Catatan : r Data 2011- 2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

167

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

perempuan meningkat dari 49,75 persen pada tahun 2011 menjadi 51,39 persen pada tahun 2012. Kemudian TPAK perempuan terus menurun, yaitu 50,26 persen pada tahun 2013 dan 50,22 persen pada tahun 2014. Akan tetapi TPAK perempuan meningkat tajam hingga 54,48 persen pada Februari 2015.

Kemudian, selama periode 2011-2015, TPT laki-laki selalu lebih rendah daripada perempuan. Hal tersebut menujukkan bahwa pasar tenaga kerja lebih cenderung menyerap tenaga kerja laki-laki dibandingkan tenaga kerja perempuan. Fakta tersebut membuktikan bahwa masih terdapat diskriminasi perempuan dalam pangsa pasar tenaga kerja. Jika dilihat perkembangannya, TPT laki-laki menurun dari 6,65 persen pada tahun 2011 menjadi 5,76 persen pada tahun 2012. Namun, pada tahun 2013 TPT laki-laki meningkat menjadi 6,02 persen, kemudian menurun kembali menjadi 5,75 persen pada tahun 2014 dan sedikit meningkat menjadi 5,76 persen pada Februari 2015. Untuk jenis kelamin perempuan, TPT selama tahun 2011-2015 selalu menurun, yaitu dari 8,86 persen pada Agustus 2011 menjadi 5,89 persen pada Februari 2015. Informasi di atas menunjukkan bahwa lambat laun, diskriminasi gender tersebut sudah mulai bisa dihilangkan, yang dibuktikan dengan menurunnya TPT perempuan selama tahun 2011-2014.

Sama dengan TPT, nilai TKK juga menunjukkan bahwa kesempatan kerja untuk laki-laki lebih besar dibandingkan kesempatan kerja untuk perempuan.

TKK laki laki pada tahun 2011 adalah 95,35 persen meningkat menjadi 96,34 persen pada tahun 2012, kemudian menurun menjadi 93,98 persen pada tahun 2013, dan meningkat kembali menjadi 94,25 persen pada tahun 2014, dan sedikit menurun menjadi 94,24 persen pada Februari 2015. Sementara itu, TKK perempuan selalu meningkat selama tahun 2011-2015, yaitu dari 91,14 persen pada Agustus 2011 menjadi 94,11 persen pada Februari 2015.

Jika dilihat berdasarkan provinsi, jumlah provinsi dengan TPAK di atas angka nasional ada sebanyak 14 provinsi pada tahun 2012, menurun menjadi 13 provinsi pada tahun 2013, kemudian meningkat menjadi 19 provinsi pada tahun 2014, dan terus meningkat menjadi 20 provinsi pada Februari 2015.

Kemudian, provinsi dengan TPAK tertinggi selama tahun 2011-2015 adalah

6,7

2011(Agt) 2012(Agt) 2013(Agt) 2014(Agt) 2015(Feb)

LakiͲlaki

Perempuan

Total

Gambar 10.2 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Jenis Kelamin (persen), Tahun 20112015

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

168 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Papua, dengan TPAK pada Februari 2015 sebesar 79,36 persen. Namun, Sulawesi Utara menjadi provinsi TPAK terendah selama tahun 2012-2014, dimana TPAK tahun 2014 sebesar 59,99 persen. Kemudia pada Februari 2015, TPAK terendah adalah Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sebesar 62,23 persen.

Untuk TKK, provinsi yang memiliki TKK tertinggi adalah Bali, yang memiliki TKK tertinggi selama tiga tahun berturut-turut (2012-2014). TKK Bali pada tahun 2014 sebesar 98,10 persen berarti 98 atau 99 angkatan kerja

Tabel 10.4. Indikator Ketenagakerjaan Menurut Provinsi, Tahun 20122015

(Diolah dari Sakernas Februari & Agustus)

Propinsi Aceh 61,72 62,24 63,06 66,37 90,94 89,88 90,98 92,27 9,06 10,12 9,02 7,73 Sumatera Utara 69,27 70,62 67,07 69,90 93,72 93,55 93,77 93,61 6,28 6,45 6,23 6,39 Sumatera Barat 64,42 62,92 65,19 68,73 93,35 92,98 93,50 94,01 6,65 7,02 6,50 5,99 Riau 62,52 63,44 63,31 68,85 95,63 94,52 93,44 93,28 4,37 5,48 6,56 6,72 Jambi 64,92 62,68 65,58 69,92 96,80 95,24 94,92 97,27 3,20 4,76 5,08 2,73 Sumatera Selatan 69,61 66,75 68,85 70,54 94,34 95,16 95,04 94,97 5,66 4,84 4,96 5,03 Bengkulu 70,14 67,59 68,28 73,24 96,38 95,39 96,53 96,79 3,62 4,61 3,47 3,21 Lampung 66,30 64,84 66,98 69,95 94,80 94,31 95,21 96,56 5,20 5,69 4,79 3,44 Kep.Bangka Belitung 65,58 65,38 65,45 70,20 96,57 96,35 94,86 96,65 3,43 3,65 5,14 3,35 Kepulauan Riau 66,92 65,92 65,94 66,16 94,92 94,37 93,31 90,95 5,08 5,63 6,69 9,05 DKI Jakarta 71,47 67,79 66,61 72,60 90,33 91,37 91,53 91,64 9,67 8,63 8,47 8,36 Jawa Barat 63,64 62,82 62,76 66,08 90,92 90,84 91,55 91,60 9,08 9,16 8,45 8,40 Jawa Tengah 71,26 70,43 69,68 72,19 94,39 93,99 94,32 94,69 5,61 6,01 5,68 5,31 D.I. Yogyakarta 71,37 69,29 71,05 73,10 96,10 96,76 96,67 95,93 3,90 3,24 3,33 4,07 Jawa Timur 69,60 69,78 68,12 69,58 95,89 95,70 95,81 95,69 4,11 4,30 4,19 4,31 Banten 65,17 63,55 63,83 67,28 90,06 90,46 90,93 91,42 9,94 9,54 9,07 8,58 Bali 76,58 74,93 74,90 78,86 97,90 98,17 98,10 98,63 2,10 1,83 1,90 1,37 Nusa Tenggara Barat 65,93 65,42 66,62 71,66 94,77 94,70 94,25 95,02 5,23 5,30 5,75 4,98 Nusa Tenggara Timur 69,98 68,15 68,91 72,95 96,96 96,75 96,74 96,88 3,04 3,25 3,26 3,12 Kalimantan Barat 71,40 69,53 69,92 70,73 96,46 96,01 95,96 95,22 3,54 3,99 4,04 4,78 Kalimantan Tengah 69,88 68,50 68,55 73,05 96,86 97,00 96,76 96,86 3,14 3,00 3,24 3,14 Kalimantan Selatan 71,95 69,31 69,46 73,21 94,81 96,34 96,20 95,17 5,19 3,66 3,80 4,83 Kalimantan Timur 66,37 63,50 64,10 67,81 90,98 92,05 92,62 92,83 9,02 7,95 7,38 7,17

Kalimantan Utara - - - 65,70 - - - 94,21 - - - 5,79

Sulawesi Utara 61,54 59,41 59,99 66,24 92,02 93,21 92,46 91,31 7,98 6,79 7,54 8,69 Sulawesi Tengah 65,92 65,56 66,76 70,21 96,05 95,81 96,32 97,01 3,95 4,19 3,68 2,99 Sulawesi Selatan 62,71 60,32 62,03 62,23 93,99 94,90 94,92 94,19 6,01 5,10 5,08 5,81 Sulawesi Tenggara 67,30 65,91 66,87 71,04 95,86 95,62 95,57 96,38 4,14 4,38 4,43 3,62 Gorontalo 62,57 61,46 62,83 66,37 95,53 95,85 95,82 96,94 4,47 4,15 4,18 3,06 Sulawesi Barat 71,71 66,83 71,05 74,74 97,84 97,65 97,92 98,19 2,16 2,35 2,08 1,81 Maluku 62,94 61,93 60,91 63,71 92,29 90,09 89,49 93,28 7,71 9,91 10,51 6,72 Maluku Utara 66,05 64,35 63,87 67,99 95,18 96,20 94,71 94,44 4,82 3,80 5,29 5,56 Papua Barat 67,20 66,69 68,29 68,81 94,58 95,60 94,98 95,39 5,42 4,40 5,02 4,61 Papua 78,18 77,70 78,66 79,26 96,29 96,85 96,56 96,28 3,71 3,15 3,44 3,72 Catatan : r Data 2012-2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

169

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

di Bali pada tahun 2014, memiliki pekerjaan. Ditahun 2014, lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Provinsi Bali adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan, yaitu sebesar 34,10 persen.

Sementara itu provinsi dengan TKK terendah pada tahun 2012 adalah Provinsi Banten dengan TKK mencapai 90,06 persen. Pada tahun 2013, provinsi dengan TKK terendah adalah Aceh, yaitu sebesar 89,88 persen. Kemudian, pada tahun 2014, Provinsi Maluku memiliki TKK terendah yaitu 89,49 persen.

Kesempatan kerja yang rendah ini membuktikan bahwa Provinsi Maluku belum mampu untuk menghadapi peningkatan TPAK dari sebesar 61,93 persen pada tahun 2013 menjadi 60,91 persen pada tahun 2014. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah Provinsi Maluku untuk menekankan angka pengangguran tersebut, salah satunya adalah pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB). Pembentukan DOB merupakan salah satu bentuk desentralisasi yang mampu mempercepat pembangunan sehingga jumlah pengangguran di Maluku dapat dikurangi.

Peningkatan pengangguran di Maluku ini juga dapat dilihat dari menurunnya kemampuan beberapa lapangan usaha dalam menyerap tenaga kerja. Tiga lapangan usaha yang mengalami penurunan jumlah tenaga kerja kerja terbesar selama 2013-2014 adalah pengadaan listrik dan gas (menurun 55,6 persen), pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang (menurun 32,1 persen), serta konstruksi (menurun 22,9 persen). Penyebab utama penurunan tenaga kerja di lapangan usaha pengadaan listrik yakni banyaknya kendala yang dihadapi perusahaan yang menyediakan sumber tenaga listrik. Kepala PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Muhammad Ikhsan Arsaad, mengutarakan masalah-masalah yang ditemukan terkait penyediaan tenaga listik, yaitu masalah lahan untuk pembangunan sumber tenaga listrik, biaya pengangkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup tinggi, serta masalah defisitnya keuangan PLN yang dikeluarkan sebagai biaya sewa mesin untuk mengatasi mesin yang usia tua dan rusak (Antaranews, 2014).

Potret Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan dan Sektor Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) adalah sumber yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara. SDM yang memiliki keunggulan kompetitif akan meningkatkan daya saing dari negara itu sendiri. Keterampilan tenaga kerja dapat ditingkatkan melalui pelatihan kerja atau kursus. Namun demikian, hanya 5,12 persen pekerja yang pernah mengikuti pelatihan kerja. Selain itu, kompetensi SDM juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang dimilikinya.

Tingkat pendidikan yang dimiliki pekerja dapat menggambarkan kualitas dari pekerja tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa.

Sebagian besar penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja memiliki tingkat pendidikan SD ke bawah, di atas 47 persen. Namun demikian, selama tahun 2011-2015 persentase pekerja yang tamat SD ke bawah perlahan mulai

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

170 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

menurun, yaitu dari 49,76 persen pada Agustus 2011 menjadi 45,19 persen pada Februari 2015. Hal tersebut berarti bahwa kualitas pekerja di Indonesia masih cukup rendah. Rendahnya kualitas pekerja ini dapat berakibat pada produktivitas tenaga kerja yang kurang memuaskan. Rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja ini masih terus menjadi masalah utama di Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan SDM supaya lebih berkualitas.

Sedangkan penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja dengan tingkat pendidikan SMA menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu dari 23,63 persen pada Agustus 2011 menjadi 26,15 persen pada Februari 2015.

Sementara itu, pekerja dengan tingkat pendidikan Diploma I/II/III memiliki persentase yang paling kecil, yaitu di bawah 3 persen selama tahun 2011-2015. Pekerja dengan tingkat pendidikan S1 kurang menujukkan peningkatan setiap tahun, di mana pada tahun 2011 baru sekitar 5,07 persen pekerja. Tiga tahun kemudian pekerja dengan tingkat pendidikan S1 ke atas sudah di atas 7 persen, tepatnya 7,21 persen pada Agustus 2014, bahkan hingga 8,29 persen pada Februari 2015.

Sebagian besar pekerja di Indonesia diserap pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa

Tabel 10.5. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan, Tahun 2011–2015

(Diolah dari Sakernas Februari dan Agustus)

Tingkat Pendidikan 2011 r 2012 r 2013 r 2014 2015 (Februari)

SD ke bawah 49,76 48,96 47,72 47,07 45,19

SMP 18,71 18,03 18,24 17,75 17,77

SMA 23,63 24,04 24,69 25,39 26,15

Diploma I/II/III 2,83 2,67 2,60 2,58 2,60

Universitas 5,07 6,30 6,75 7,21 8,29

Catatan : r Data 2011-2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

49,76 48,96 47,72 47,07 45,19

18,71 18,03 18,24 17,75 17,77 23,63 24,04 24,69 25,39 26,15

2,83 2,67 2,60 2,58 2,60

5,07 6,30 6,75 7,21 8,29

0

Gambar 10.3 Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan, Tahun 20112015

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

171

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

lapangan pekerjaan yang tersedia di pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan lebih banyak dibandingkan lapangan pekerjaan lainnya. Kemudian kategori yang banyak menyerap tenaga kerja selanjutnya adalah kategori perdagangan besar dan eceran, Reparasi mobil dan Sepeda Motor lalu kategori industri pengolahan.

Besarnya distribusi pekerja pada pertanian, kehutanan, dan perkebunan menunjukkan bahwa lapangan usaha tersebut merupakan andalan dalam penyerapan tenaga kerja. Tingginya penyerapan di lapangan usaha tersebut juga disebabkan oleh tidak adanya kualifikasi khusus. Selain itu, lapangan usaha tersebut merupakan penyumbang terbesar kedua untuk PDB di Indonesia.

Sejak tahun 2011 sampai tahun 2014, lebih dari 13 persen PDB di Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, dan perkebunan.

Tabel 10.6. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Tahun 20112014

(Diolah dari Sakernas Februari dan Agustus)

Lapangan Pekerjaan 2011 r 2012 r 2013 r 2014 2015 (Feb) A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 36,39 35,19 34,78 34,00 33,20

B. Pertambangan dan Penggalian 1,33 1,42 1,26 1,25 1,17

C. Industri Pengolahan 13,81 14,35 13,79 13,63 13,87

D. Pengadaan Listrik dan Gas 0,15 0,18 0,17 0,18 0,19

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 0,17 0,14 0,16 0,19 0,24

F. Konstruksi 5,83 6,09 5,63 6,35 6,38

G. Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 18,11 18,42 18,61 18,27 18,67 H. Transportasi dan Pergudangan 4,22 4,08 4,10 4,02 3,83 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 3,36 3,36 3,76 4,20 4,22

J. Informasi dan Komunikasi 0,52 0,48 0,48 0,50 0,50

K. Jasa Keuangan dan Asuransi 1,15 1,24 1,33 1,32 1,49

L. Real Estate 0,16 0,19 0,17 0,23 0,24

M,N. Jasa Perusahaan 1,08 1,00 1,09 1,11 1,30

O. Administrasi Pemerintahan,Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 3,57 3,19 3,24 3,20 3,34

P. Jasa Pendidikan 4,42 4,49 4,48 4,74 4,88

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,08 1,10 1,14 1,16 1,28

R,S,T,U. Jasa lainnya 4,63 5,08 5,79 5,66 5,20

Catatan : r Data 2011-2013 direvisi disesuaikan dengan angka proyeksi pertumbuhan penduduk yang terbaru

http://www.bps.go.id

Kondisi Ketenagakerjaan

10

172 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Upah Pekerja

Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, upah adalah hak bagi pekerja/buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja atas suatu pekerjaan dan jasa yang telah dilakukannya. Setiap pekerja/buruh berhak untuk mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu kebijakan pemerintah yang melindungi pekerja/buruh adalah upah minimum.

Upah minimum telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja

Upah minimum telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja

Dalam dokumen Katalog BPS: BADAN PUSAT STATISTIK (Halaman 178-200)

Dokumen terkait