http://www.bps.go.id
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
35
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengalami Perlambatan
D
alam lima tahun terakhir, perekonomian Indonesia cenderung tumbuh melambat. Perekonomian Indonesia diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB), dan pertumbuhan ekonomi dihitung dari pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan 2010. Tahun 2011, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 6,17 persen dan hingga tahun 2013 melambat di besaran 5,58 persen. Lambannya pertumbuhan ekonomi tahun 2013 disebabkan ketidakpastian ekonomi global dan adanya isu finansial seperti defisit transaksi berjalan, inflasi yang tinggi (kenaikan harga BBM bersubsidi pada Juni 2013) dan nilai tukar rupiah yang melemah.Secara umum, perekonomian nasional di tahun 2014 kembali mengalami perlambatan dan hanya mampu tumbuh sebesar 5,02 persen.
Angka ini lebih rendah dibandingkan target yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014 sebesar 5,5 persen. Bank Indonesia mematok kisaran antara 5,1-5,5 persen sementara Bappenas mengajukan rentang pertumbuhan 5,3-5,5 persen.
Perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa penurunan ekspor sebagai akibat dari penurunan permintaan dan harga komoditas global. Sementara itu, dari faktor internal perlambatan ekonomi disebabkan terbatasnya konsumsi pemerintah sebagai dampak dari program penghematan anggaran. Pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid (Bank Indonesia, 2015).
Jika dihitung atas dasar harga berlaku, nilai PDB Indonesia hanya bertambah sekitar 10-11 persen selama tahun 2011-2014. Peningkatan nilai tambah dari beberapa kategori yang cukup menggembirakan seperti kategori Informasi dan Komunikasi serta Jasa berhasil menopang ekonomi Indonesia hingga 5 persen. Sementara dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga yang masih solid dan mencapai lebih dari 50 persen dari total PDB ikut berkontribusi terhadap capaian pertumbuhan ini.
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2015 mencapai 5,7 persen berdasarkan RAPBN Perubahan 2015, sementara Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil dan akan meningkat di tahun 2016 mencapai 5,5 persen (Ahya Ichsan, ekonom Bank Dunia). Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini dipicu melemahnya perekonomian dunia yang mengakibatkan pelemahan investasi dan ekspor Indonesia. Masyta Crstaliin (ekonom Bank Dunia untuk Indonesia) menyebutkan bahwa pendapatan negara terus menurun sehingga diproyeksikan penerimaan PDB menurun hingga 13,9 persen di tahun 2019. Salah satu upaya yang dapat ditempuh yaitu meningkatkan pendapatan dari sektor pajak untuk menciptakan ruang fiskal
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
36 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
bagi pelaksanaan program-program pembangunan. Di samping itu, Indonesia dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi jika dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 5,4-5,8 persen yang didukung oleh konsumsi dan investasi pemerintah sejalan peningkatan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur. Namun demikian di tahun 2015, Indonesia juga dihadapkan dengan beberapa risiko antara lain melambannya perbaikan ekonomi global, penurunan harga komoditas ekspor, dan risiko terkait kemampuan pemerintah pusat maupun daerah untuk membangun infrastruktur. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun kegiatan eksplorasi dan eksploitasi masih berbiaya tinggi. Oleh sebab itu tak heran Indonesia menempati peringkat yang rendah dalam daya saing ekonomi karena belum mampu mencapai efisiensi kegiatan ekonomi. Global Competitiveness Index (GCI) 2014-2015 mengukur efisiensi Indonesia berada di peringkat 46 dari 144 negara. Pembangunan infrastruktur guna menopang konektivitas antar wilayah menjadi prioritas pemerintah untuk mendorong daya saing wilayah (Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Bank Indonesia, 2015).
PDB Menurut Lapangan Usaha
Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009, kegiatan ekonomi diklasifikasikan menjadi 21 kategori yang dapat disederhanakan menjadi 17 kategori. KBLI 2009 disusun untuk menyeragamkan pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis data statistik menurut kegiatan ekonomi. Dengan penyeragaman tersebut, data statistik kegiatan ekonomi dapat dibandingkan dengan format standar pada level internasional, nasional, maupun regional (Perka BPS No. 57 Tahun 2009).
Dari 17 kategori lapangan usaha yang ada di Indonesia, pertumbuhan PDB tertinggi ditunjukkan oleh kategori Informasi dan Komunikasi dengan laju pertumbuhan di atas 10 persen dalam empat tahun terakhir. Bahkan pada tahun 2012, lapangan usaha ini mampu tumbuh hingga 12,28 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan lapangan usaha lainnya.
Tingginya pertumbuhan lapangan usaha Informasi dan Komunikasi ini tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat akan informasi. Sekolah, perkantoran, dan industri membutuhkan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung informasi dan komunikasi seperti penyediaan PC, komputer, akses wifi, dsb.
Sejalan dengan kemudahan mendapat akses informasi dan komunikasi, saat ini banyak lokasi/fasilitas umum seperti restoran dan hotel yang menyediakan wifi gratis dan tempat penjualan alat komunikasi yang meningkat pesat. Hal inilah yang menjadi peluang besar bagi sektor Informasi dan Komunikasi untuk terus berkembang karena informasi dan komunikasi senantiasa mengikuti kemajuan peradaban manusia.
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
37
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Di peringkat kedua dan ketiga ada kategori Jasa Perusahaan dan Jasa Lainnya. Jasa Perusahaan tahun 2014 mengalami pertumbuhan 9,81 persen, diikuti Jasa Lainnya sebesar 8,92 persen. Kategori lain umumnya mengalami pasang surut pertumbuhan sejalan ketidakpastiaan perekonomian global yang melanda beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, tiga lapangan usaha dengan pertumbuhan PDB terendah yaitu Pertambangan dan Penggalian (B), Pengadaan Air (E), dan Administrasi Pemerintahan (O). Berbeda dengan Informasi dan Komunikasi, kategori Pertambangan dan Penggalian selama empat tahun terakhir mengalami penurunan yang signifikan, dimana laju pertumbuhan tahun 2011 sebesar 4,29 persen dan tahun 2014 hanya sebesar 0,55 persen. Pertambangan dan penggalian merupakan kategori yang paling terkena imbas kebijakan pemerintahan baru mengenai larangan ekspor bahan mineral mentah. Di samping itu, penurunan permintaan global dan harga komoditas di pasar internasional juga menyebabkan pertumbuhan lapangan usaha ini merosot tajam.
Struktur perekonomian Indonesia tahun 2014 masih didominasi tiga lapangan usaha utama yaitu Industri Pengolahan (21,02 persen); pertanian, kehutanan, dan perikanan (13,38 persen); serta perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor (13,38 persen). Secara bertahap, perekonomian Indonesia telah beralih dari negara agraris yang didominasi pertanian menjadi negara berbasis industri. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusi Industri Pengolahan selama 2010-2014 yang selalu berada di posisi puncak dengan persentase di atas 20 persen, mengalahkan kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
Industri Pengolahan memegang peranan yang strategis dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Pembangunan di sektor ini menjadi sangat penting karena kontribusinya yang tinggi terhadap PDB. Meskipun kontribusinya terhadap total PDB mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, peran Industri Pengolahan terhadap penciptaan lapangan kerja di Indonesia cukup
Gambar 3.1 Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2011–2014
0
hanan dan Jaminan Sosial Wa
2013
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
38 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Lapangan Usaha 2011 2012 2013 x 2014 xx
PDB Harga Berlaku (miliar rupiah) dan Distribusi PDB (%)
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1 058 245,3 1 152 262,1 1 275 048,4 1 410 657,1
13,51 13,37 13,39 13,38
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 6 208,8 6 603,8 7 154,9 7 703,6
0,08 0,08 0,08 0,07
F. Konstruksi 712 184,4 805 208,1 905 990,5 1 041 949,5
9,09 9,35 9,51 9,88
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 1 066 092,1 1 138 484,4 1 263 815,4 1 410 932,0
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 304 755,7 340 567,6 371 208,9 404 379,6
PDB Harga Konstan Tahun 2010 (miliar rupiah) dan Pertumbuhan PDB (%)
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 993 857,3 1 039 440,7 1 083 141,8 1 128 448,0
Tabel 3.1. Produk Domestik Bruto Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2011–2014
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
39
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
signifikan, meskipun masih lebih rendah dibanding tenaga kerja yang terserap di lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Hal ini tercermin dari tenaga kerja yang terserap di sektor ini sebesar lebih dari 10 juta jiwa.
Sepanjang tahun 2014, Industri Pengolahan tumbuh 4,63 persen dan yang semakin berkembang yaitu industri makanan dan minuman. Kemenperin meyebutkan target pertumbuhan Industri Pengolahan tahun 2015 sebesar 6,1 persen dengan sektor penyumbang terbesar yaitu makanan dan minuman.
Hal yang penting untuk mendukung pertumbuhan industri di Indonesia yaitu penyediaan energi dengan harga murah dan infrastruktur pendukung. Dalam RPJM 2015-2019, pemerintah berencana menambah jumlah industri besar dan sedang sebanyak 9 ribu unit dalam lima tahun mendatang dengan tenaga kerja yang diserap berkisar 3 juta orang. Dari jumlah tersebut, 50 persen diarahkan bisa tumbuh di luar Jawa. Industri kecil juga direncanakan bertambah 20 ribu unit selama 2015-2019.
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang 6 125,1 6 329,8 6 587,1 6 788,0
4,73 3,34 4,06 3,05
F. Konstruksi 683 421,9 728 226,4 772 719,6 826 615,6
9,02 6,56 6,11 6,97
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 1 013 199,6 1 067 911,5 1 118 207,0 1 172 362,6
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 276 336,8 282 235,3 288 963,3 296 145,0
NILAI TAMBAH BRUTO ATAS HARGA DASAR 7 142 634,2 7 560 262,8 7 954 509,4 8 353 989,4
6,87 5,85 5,21 5,02
PAJAK DIKURANG SUBSIDI ATAS PRODUK 145 001,1 166 820,6 203 684,3 214 126,2
-19,65 15,05 22,09 5,13
PRODUK DOMESTIK BRUTO 7 287 635,3 7 727 083,4 8158193,7 8 568 115,6
6,17 6,03 5,58 5,02
Catatan: x Angka sementara xx Angka sangat sementara Sumber : Badan Pusat Statistik
Lapangan Usaha 2011 2012 2013 x 2014 xx
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
40 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Dalam RAPBN Tahun 2015, kategori Industri Pengolahan diperkirakan tumbuh 5,6 persen seiring perbaikan ekonomi di negara maju serta kebijakan dan revitalisasi industri. Transformasi industri diarahkan kepada pembangunan kawasan industri, penambahan populasi industri dan pemerataan persebaran, serta peningkatan daya saing dan produktivitas industri. Pengembangan kawasan industri dititikberatkan di luar Pulau Jawa dan pengembangan industri kecil dan menengah di Indonesia Timur. Program industri unggulan berbasis teknologi didorong untuk peningkatan kinerja Industri Pengolahan.
Lapangan usaha dengan kontribusi tertinggi kedua terhadap total PDB tahun 2014 sebesar 13,38 persen yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
Kategori ini tahun 2015 diprediksi tumbuh 3,3 persen dengan subsektor tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan sebagai pendorong utama.
Kebijakan yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan lapangan usaha pertanian antara lain peningkatan produksi dan produktivitas hortikultura;
pemenuhan pangan ternak dan agribisnis peternakan; penyediaan sarana dan prasarana pertanian; dan pembinaan petani skala kecil.
Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor menjadi lapangan usaha ketiga dengan kontribusi tertinggi terhadap PDB. Perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan tumbuh 6 persen pada tahun 2015. Pemerintah berupaya meningkatkan perdagangan dengan pengembangan pasar di dalam dan luar negeri. Untuk peningkatan perdagangan dalam negeri, distribusi barang dagang utamanya bahan makanan diatur agar lebih efisien. Regulasi di bidang perdagangan disusun untuk memberi perlindungan baik terhadap konsumen melalui standarisasi produk maupun kepada produsen dengan peraturan perdagangan e-commerce. Sementara untuk perdagangan luar negeri, kebijakan yang ditempuh yaitu melalui pengembangan ekspor produk olahan nonmigas agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Kategori Transportasi dan Komunikasi tahun 2015 diprediksi mengalami pertumbuhan tertinggi dibanding kategori lainnya, yaitu sebesar 9,5 persen.
Kebutuhan telekomunikasi yang meningkat serta kebijakan tahun 2015 tentang konektivitas nasional mendukung kategori ini berkembang pesat.
Pembangunan jalan baru, rel kereta api jalur ganda, pembangunan pelabuhan Gambar 3.2 Kontribusi PDB Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2014
PerdaganganBes
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
41
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
di wilayah timur, dan penambahan sarana transportasi merupakan beberapa program yang disusun pemerintah sebagai upaya meningkatkan infrastruktur kategori Transportasi. Angkutan umum semakin gencar ditambah dan diperbaiki guna mendukung mobilitas penduduk dan mengurangi kemacetan lalu lintas akibat populasi kendaraan pribadi yang terus bertambah.
PDB Menurut Penggunaan
Ditinjau dari sisi penggunaan, komponen pembentuk PDB dengan pertumbuhan tertinggi tahun 2014 yaitu konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 12,43 persen, diikuti konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,14 persen, PMTB 4,12 persen, impor barang dan jasa 2,19 persen, konsumsi pemerintah 1,98 persen, dan ekspor barang dan jasa 1,02 persen.
Konsumsi LNPRT menyumbang kontribusi tertinggi karena ada pemilihan umum sejak dari persiapan hingga penyelenggaraan, sementara konsumsi rumah tangga relatif stabil meskipun harga BBM dan jumlah penduduk bertambah.
Satu-satunya komponen pembentuk PDB yang mengalami pertumbuhan signifikan yaitu konsumsi LNPRT yang mengalami peningkatan selama tahun 2011-2014, dari 5,54 persen pada tahun 2011 menjadi 12,43 persen pada tahun 2014.
Pertumbuhan Indonesia yang melambat dalam empat tahun terakhir diikuti dengan perlambatan pertumbuhan dari komponen-komponen pembentuk PDB seperti ekspor, impor, PMTB, dan konsumsi pemerintah.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga cenderung stabil di kisaran 5 persen karena dipengaruhi struktur demografi Indonesia yang didominasi penduduk usia produktif. Tingginya konsumsi rumah tangga didorong oleh aktivitas kampanye Pemilu legislatif sejak Januari 2014. Selain itu, juga didukung masih tingginya penjualan kendaraan bermotor, konsumsi listrik, kredit konsumsi, survei ritel, dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).
Gambar 3.3 Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan, Tahun 2011–2014 0
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
42 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Konsumsi pemerintah mencapai pertumbuhan terendah di tahun 2014 yang hanya sebesar 1,98 persen. Penurunan konsumsi pemerintah di tahun 2014 disebabkan kebijakan pemerintahan baru yang melarang pemborosan belanja negara untuk aparatur pemerintah.
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto mengalami pasang surut pertumbuhan selama tahun 2011-2014, tahun 2011 sebesar 8,86 persen, tahun 2012 meningkat menjadi 9,13 persen, dan tahun 2014 menurun menjadi 4,12 persen. Investasi kapital yang diindikasikan dengan pembentukan modal tetap domestik bruto merupakan salah satu faktor penentu pertumbuhan ekonomi.
Kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Indonesia menjadi cermin iklim usaha yang kondusif. Keberadaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk mempercepat dan mempermudah proses perizinan usaha dinilai menjadi salah satu poin yang akan meningkatkan jumlah investor di Indonesia.
Pemerintah juga memberikan keringanan pajak untuk investasi industri yang berorientasi ekspor, industri kereta api dan pengiriman, dan untuk penelitian dan pembangunan.
Sementara itu, ekspor barang dan jasa mengalami perlambatan pertumbuhan sejak 2011 sebesar 14,77 persen menjadi hanya 1,02 persen di tahun 2014. Perlambatan ini merupakan salah satu dampak kebijakan pelarangan ekspor bahan mineral mentah. Impor barang dan jasa mengalami penurunan pertumbuhan selama 2011-2013 dengan sedikit peningkatan laju pertumbuhan di tahun 2014. Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS menjadi salah satu sebab konsumsi impor semakin membesar.
Jika ditinjau berdasarkan kontribusi terhadap pembentukan PDB dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga merupakan komponen utama pembentuk PDB dengan kontribusi lebih dari 50 persen selama tahun 2011-2014. PDB tahun 2014 ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 56,07 persen, pembentukan modal tetap domestik bruto 32,57 persen, impor 24,48 persen, ekspor 23,72 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 9,54 persen, perubahan inventori 2,08 persen, dan pengeluaran konsumsi LNPRT 1,18 persen.
Gambar 3.4 Kontribusi PDB Menurut Penggunaan (persen), Tahun 2014
PerubahanInventori1,30%
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
43
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang diharapkan dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga. Upaya yang ditempuh antara lain dengan memperbaiki sistem distribusi dan logistik agar lebih efisien serta dari aspek kesehatan dan jaminan sosial dengan meningkatkan jumlah peserta jaminan sosial dan kesehatan. Di samping itu, pemenuhan infrastruktur dasar terutama di kantong-kantong kemiskinan seperti penyediaan air bersih dan sanitasi akan dilakukan. Segala upaya ini merupakan rencana pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahun 2015 sebesar 5,1 persen.
Lapangan Usaha 2011 2012 2013 x 2014 xx
PDB Harga Berlaku (miliar rupiah) dan Distribusi PDB (%)
1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 4 260 075,5 4 768 745,1 5 352 696,5 5 911 165,4
54,40 55,35 56,20 56,07
2. Pengeluaran Konsumsi LNPRT 80 529,9 89 585,8 103 929,6 124 509,0
1,03 1,04 1,09 1,18
3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 709 450,8 796 848,3 904 996,2 1 005 399,5
9,06 9,25 9,50 9,54
4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 2 451 914,0 2 819 026,5 3 059 780,5 3 434 124,6
31,31 32,72 32,12 32,57
PDB Harga Konstan (miliar rupiah) dan Pertumbuhan PDB (%)
1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 3 977 288,6 4 195 787,6 4 421 721,3 4 649 072,3
5,05 5,49 5,38 5,14
2. Pengeluaran Konsumsi LNPRT 76 790,3 81 918,6 88 617,5 99 636,3
5,54 6,68 8,18 12,43
3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 652 291,7 681 819,0 729 059,6 743 470,6
5,52 4,53 6,93 1,98
4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 2 316 359,1 2 527 728,8 2 661 311,1 2 770 963,4
8,86 9,13 5,28 4,12
Tabel 3.2. Produk Domestik Bruto Menurut Penggunaan, Tahun 2011–2014
Catatan: x Angka sementara xx Angka sangat sementara
1 Selisih PDB Lapangan Usaha dan PDB Pengeluaran Sumber: Badan Pusat Statistik
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
44 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Tahun 2015, pertumbuhan PMTB diperkirakan dipengaruhi faktor ekonomi global terutama ketatnya likuiditas yang berdampak pada suku bunga pinjaman modal usaha. Dari sisi domestik, risiko yang timbul antara lain terkait sistem perizinan, kebutuhan infrastruktur dan peningkatan akses kredit kepada investor. Beberapa upaya yang ditetapkan pemerintah seperti pembangunan infrastruktur, penyusunan regulasi terkait investasi dan usaha, penyederhanaan prosedur perizinan, dan pemberian insentif diharapkan mendorong PMTB dapat tumbuh 5,8 persen dengan kontribusi terhadap total PDB sebesar 1,4 persen pada tahun 2015.
Peningkatan kualitas anggaran pemerintah diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi pemerintah yang ditargetkan tumbuh 5,1 persen di tahun 2015. Masih berlanjutnya remunerasi Kementerian/Lembaga sebagai salah satu capaian Reformasi Birokrasi diperkirakan ikut mendorong kinerja konsumsi pemerintah.
Ekspor barang dan jasa sejak tiga tahun terakhir mengalami penurunan dengan selisih nilai negatif terhadap impor barang dan jasa. Indikasi ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu mewaspadai ketergantungan impor terhadap negara lain. Penurunan kinerja ekspor tahun 2014 merupakan salah satu dampak jangka pendek sejak diberlakukannya undang-undang mineral dan batubara serta penurunan permintaan global. Investasi juga masih relatif tetap dimana investor menunjukkan sikap wait and see terkait pelaksanaan Pemilu 2014. Ekspor impor tahun 2015 diperkirakan meningkat seiring pemulihan perekonomian global dan peningkatan volume perdagangan dunia serta harga komoditas global. Permintaan yang meningkat dari mitra dagang Indonesia turut meningkatkan kinerja ekspor. Terbentuknya MEA menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekspor di Indonesia dengan meningkatkan produksi nasional yang berorientasi ekspor. Sementara itu, impor juga diperkirakan meningkat seiring kebutuhan bahan bakar minyak, barang modal, maupun bahan baku. Peningkatan impor juga didukung peningkatan impor barang konsumsi sebagai akibat daya beli masyarakat yang juga meningkat. Tahun 2015, ekspor diperkirakan tumbuh 4,4 persen dan impor sebesar 3,2 persen (Nota Keuangan, 2015).
Pertumbuhan Ekonomi Spasial
Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berdampak secara spasial di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah yang paling tinggi mengalami pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 adalah Pulau Sulawesi yaitu mencapai 6,8 persen, dimana pertumbuhan ini lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 7,69 persen. Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami perlambatan paling kecil diantara pulau-pulau lainnya, yaitu sebesar 5,86 persen pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2013 sebesar 5,95 persen. Ekonomi di wilayah timur Indonesia (Maluku dan Papua) tumbuh dengan perlambatan paling signifikan, yaitu dari 7,36 persen pada tahun 2013 menjadi hanya 4,32 persen di tahun 2014.
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
45
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Pertumbuhan ekonomi regional yang melambat disebabkan penurunan kinerja ekspor dan investasi (BI, 2014). Ekonomi di luar Jawa tumbuh melambat sebagai akibat penurunan nilai ekspor komoditas bahan tambang dan pemberlakuan Undang-undang Minerba. Sementara untuk Pulau Jawa yang masih ditopang dari ekspor Industri Pengolahan masih belum menunjukkan peningkatan kinerja ekonomi karena perekonomian global yang belum pulih.
Pertumbuhan ekonomi yang melambat di Pulau Sumatra disebabkan penurunan kinerja lapangan usaha pertambangan dan industri. Pertambangan mengalami kontraksi terutama disebabkan penurunan produksi minyak dan gas di Provinsi Aceh, dengan berakhirnya pengoperasian lapangan gas alam Arun di Aceh yang telah beroperasi selama 36 tahun. Selain itu, penurunan lifting minyak di Riau akibat usia sumur produksi yang sudah tua juga turut memengaruhi kinerja pertambangan di Sumatra. Lapangan usaha Industri Pengolahan juga melambat sebagai akibat pelemahan investasi pada Industri Pengolahan hasil perkebunan. Permintaan dunia terhadap kelapa sawit dan karet yang terbatas juga memengaruhi perlambatan kinerja Industri Pengolahan.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia juga disebabkan penurunan kinerja lapangan usaha pertambangan dengan dua komoditas yang paling terkena dampaknya yaitu tembaga dan nikel. Larangan ekspor mineral dan barang tambang secara nyata berdampak pada wilayah penghasil komoditas ini, seperti Papua yang terkenal sebagai pengekspor tembaga dan Sulawesi Tenggara sebagai pengekspor nikel.
Perekonomian di Kalimantan sedikit mengalami perlambatan disebabkan penurunan kinerja ekspor batubara. Ekspor batubara menurun disebabkan permintaan ekspor dari Tiongkok yang melemah seiring perlambatan ekonomi di negara tersebut. Ekspor batubara Indonesia sebesar 28 persen dikirim ke
Wilayah Pulau 2012 2013 x 2014 xx
Sumatera 5,75 4,98 4,64
Jawa 6,37 6,07 5,59
Bali dan Nusa Tenggara 3,95 5,95 5,86
Kalimantan 5,72 3,93 3,19
Sulawesi 9,04 7,69 6,88
Maluku dan Papua 3,20 7,36 4,32
Indonesia 6,03 5,58 5,02
Catatan : x Angka sementara xx Angka sangat sementara Sumber : Badan Pusat Statistik
Tabel 3.3. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Wilayah (persen), Tahun 2012–2014
http://www.bps.go.id
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Regional
3
46 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Tiongkok, yang sebagian besar dipasok dari Kalimantan. Sumur minyak dan gas mengalami penurunan produktivitas, seperti di Blok Mahakam dan Sanga-sanga juga turut berkontribusi terhadap perekonomian Kalimantan Timur. Di lapangan usaha pertanian terjadi penurunan produksi tabama akibat gagal panen di sejumlah sentra produksi khususnya di Kalimatan Barat.
Perlambatan ekonomi di Jawa sangat memengaruhi perekonomian nasional dengan pangsa ekonomi mencapai lebih dari 50 persen. Perlambatan ini disebabkan menurunnya kinerja lapangan usaha pertanian dan bangunan. Di lapangan usaha pertanian, produksi padi mengalami penurunan akibat banjir. Sementara di lapangan usaha konstruksi, pelemahan investasi dan terbatasnya pembangunan infrastruktur menjadi kendala perlambatan ekonomi di kategori ini.
Struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Pulau Jawa dengan kontribusi lebih dari 50 persen dalam membentuk PDB nasional.
Bahkan dalam tiga tahun terakhir, Pulau Jawa terus mengalami peningkatan kontribusi, dari 56,69 persen pada tahun 2012 menjadi 57,38 persen pada tahun 2014. Diikuti oleh Pulau Sumatra, tahun 2012, kontribusi Pulau Sumatra terhadap PDB nasional sebesar 23,10 persen dan tahun 2014 sebesar 23,17 persen. Pulau di Indonesia yang mengalami peningkatan kontribusi meskipun nilainya kecil adalah Pulau Sulawesi dari 5,41 persen pada tahun 2012 menjadi 5,65 persen pada tahun 2014. Pulau Bali dan Nusa Tenggara berkontribusi sebesar 2,79 persen pada tahun 2012 menjadi 2,87 persen pada tahun 2014.
Pulau Kalimantan, Pulau Maluku dan Papua mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB nasional selama tahun 2012-2014. Tahun 2012, Kalimantan memberikan sumbangan PDRB sebesar 9,66 persen dan tahun 2014 menurun menjadi 8,71 persen. sementara itu, Pulau Maluku dan Papua merupakan Pulau di Indonesia dengan kontribusi yang paling kecil terhadap PDB nasional. Tahun 2012, peran Pulau Maluku dan Papua dalam membentuk PDB sebesar 2,35
Wilayah Pulau 2012 2013 x 2014 xx
Sumatera 23,10 23,08 23,17
Jawa 56,69 57,08 57,38
Bali dan Nusa Tenggara 2,79 2,80 2,87
Kalimantan 9,66 9,24 8,71
Sulawesi 5,41 5,49 5,65
Maluku dan Papua 2,35 2,31 2,22
Indonesia 100,0 100,0 100,0
Catatan : x Angka sementara xx Angka sangat sementara Sumber : Badan Pusat Statistik
Catatan : x Angka sementara xx Angka sangat sementara Sumber : Badan Pusat Statistik