http://www.bps.go.id
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
123
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
P
ertumbuhan ekonomi diukur dari perubahan Produk Domestik Bruto (PDB), dimana salah satu komponen pembentuknya adalah investasi. Kenaikan investasi terjadi melalui mekanisme penanaman atau pembentukan modal. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran dengan kontribusi sebesar 2,00 persen pada tahun 2010 dan mengalami kenaikan di tahun 2012 menjadi 2,40 persen. Namun kontribusi PMTB menurun di tahun 2013 menjadi 1,15 persen.Investasi merupakan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan atau sering disebut penanaman modal (Laporan Perekonomian Indonesia, 2014). Investasi yang dibicarakan dalam bab ini merupakan bentuk investasi langsung yang dibedakan menjadi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Informasi mengenai investasi di Indonesia dikumpulkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melalui Laporan Keuangan Penanaman Modal (LKPM) yang dikirimkankan perusahaan. Investasi yang dicatat oleh BKPM merupakan keseluruhan nilai proyek yang direalisasikan dalam suatu periode dan tidak termasuk investasi di sektor migas, perbankan, dan lembaga keuangan lainnya. Investasi atau penanaman modal merupakan bagian penting dari penyelenggaraan ekonomi nasional yang dapat menyediakan lapangan kerja, menciptakan transfer teknologi, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan membuka akses ke pasar global.
BKPM telah menyusun target investasi dalam Strategic Planning BKPM 2010-2014 dan dilanjutkan dengan Strategic Planning BKPM 2015-2019. Tabel 8.1 menyajikan target dan realisasi investasi di Indonesia, yang diukur dalam satuan mata uang Rupiah. Dalam tiga tahun terakhir (2012-2014), realisasi investasi di Indonesia mampu melampaui target yang ditetapkan BKPM.
Capaian ini bukan tanpa tantangan, namun berhasil dilalui dengan baik melalui kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah, BKPM, pelaku usaha, dan pihak terkait lainnya.
Tabel 8.1. Target dan Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia (juta US$),
Tahun 2012–2015
Tahun 2012 2013 2014 20151
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
PMA 206,8 221,0 272,6 270,4 297,3 307,0 343,7 82,1 PMDN 76,7 92,2 117,7 128,2 159,3 156,1 175,8 42,5 Jumlah 283,5 313,2 390,3 398,6 456,6 463,1 519,5 124,6 Catatan : 1 Realisasi Triwulan I-2015
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
8
124 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Selama periode 2012-2014, target dan realisasi BKPM terus meningkat.
Tahun 2012, BKPM menargetkan investasi sebesar Rp 283,5 triliun dengan realisasi mencapai Rp 313,2 triliun yang terdiri dari PMA Rp 221,0 triliun (70,56 persen) dan PMDN Rp 92,2 triliun (29,44 persen). Target investasi tahun 2013 sebesar Rp 390,3 triliun dengan realisasi Rp 398,6 triliun atau tumbuh 27,27 persen dibanding tahun 2012. Realiasi investasi tahun 2013 terdiri dari PMA 67,84 persen dan PMDN 32,16 persen.
Jika dilihat secara total, realisasi investasi tahun 2013 sudah melebihi dari target pemerintah namun realisasi dari investasi asing yang masuk ke Indonesia sebesar Rp 270,4 triliun masih dibawah dari target pemerintah yang mematok sebesar Rp 272,6 triliun. Walaupun investasi PMA pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar 22,35 persen dibanding tahun 2012, sedangkan investasi PMDN mencapai Rp 128,2 triliun atau naik sebesar 39,05 persen dan nilai investasi tersebut jauh di atas target pemerintah yang mematok sebesar Rp 117,7 triliun.
Hal sebaliknya terjadi pada tahun 2014, dimana realisasi PMDN tercatat di bawah target yang ditetapkan, namun secara keseluruhan investasi di tahun 2014 masih malampaui target. Realisasi investasi tahun 2014 mencapai Rp 463,1 triliun atau tumbuh 16,18 persen dibandingkan tahun 2013. PMA berperan dominan sebesar 66,29 persen, sementara PMDN berperan 33,71 persen terhadap total investasi 2014. Jika dilihat kontribusi dari PMA dan PMDN terhadap total investasi di Indonesia, diketahui bahwa PMA masih berperan besar terhadap investasi di Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahunnya.
Investasi tumbuh melambat pada tahun 2014 seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Ketersediaan infrastruktur yang masih kurang memadai merupakan faktor penghambat utama investasi. Daya saing infrastruktur Indonesia berada di peringkat 56 menurut Global Competitiveness Index (GCI) 2014-2015, jauh di bawah peringkat negara ASEAN seperti Malaysia (peringkat 29), Thailand (peringkat 25), dan Singapura (peringkat 2).
Target investasi 2015 yang disusun dalam Strategic Planning BKPM 2015-2019 sebesar Rp 519,5 triliun yang terdiri dari Rp 343,7 triliun untuk PMA dan Rp 175,8 triliun untuk PMDN. Investasi di tahun 2015 diperkirakan masih didukung oleh sektor infrastruktur, pertanian, maritim, dan listrik. Realisasi investasi pada Januari-Maret 2015 sebesar Rp 124,6 triliun atau meningkat 16,89 persen dibandingkan triwulan I-2014 sebesar Rp 106,6 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari peningkatan PMDN sebesar 22,83 persen. Nilai investasi di triwulan pertama 2015 ini sudah mencatatkan 23,98 persen dari total investasi yang ditargetkan tahun 2015.
Pada triwulan pertama tahun 2015, investasi yang masuk berasal dari PMA sebesar Rp 82,1 triliun dan PMDN sebesar Rp 42,5 triliun. Lapangan usaha yang menyerap investasi terbesar yaitu Pertambangan dan Penggalian dengan nilai investasi sebesar Rp 15,0 triliun atau 12,04 persen dari total realisasi penanaman modal di triwulan I-2015. Peringkat kedua ditempati lapangan
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
125
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
usaha Industri Makanan dengan nilai investasi sebesar Rp 12,8 triliun (10,27 persen) dan peringkat ketiga yaitu Listrik, Gas, dan Air sebesar Rp 11,7 triliun atau 9,39 persen.
Investasi di bidang ketenagalistrikan semakin diperkuat dengan pembangunan sejumlah pembangkit listrik di Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sulawesi. Proyek pembangunan listrik 35 ribu Megawatt (MW) menjadi target yang dikejar pemerintah melalui tiga strategi yaitu memfasilitasi enam proyek listrik yang realisasinya terhambat, mendorong percepatan layanan perizinan sektor listrik, dan mendorong perusahaan listrik untuk melakukan ekspansi atau perluasan investasi.
Poin penting lain yang menjadi fokus perhatian pemerintah saat ini adalah pemerataan distribusi investasi di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa.
Pada triwulan I-2015, realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar Rp 69,9 triliun (56,1 persen) sedangkan di luar Pulau Jawa sebesar Rp 54,7 triliun (43,9 persen). Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2014, realisasi investasi di luar Pulau Jawa mengalami peningkatan.
Jika menilik dari target investasi tahun 2015 sebesar Rp 519,5 triliun, maka realisasi investasi di triwulan I-2015 sebesar Rp 124,6 triliun belum mencapai target karena kurang dari 25 persen dari total investasi yang diharapkan. Meskipun demikian, BKPM tetap optimis target investasi dapat tercapai, mengingat setiap tahunnya pola investasi di triwulan pertama selalu lebih kecil dibanding tiga triwulan berikutnya. Hal ini disebabkan investor masih menahan diri untuk menanamkan modalnya pada awal tahun.
Presiden Republik Indonesia dalam National Press Gathering (27 April 2015) mengumumkan bahwa pemerintah akan melakukan lima tahapan untuk mendorong Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Kelima tahapan tersebut mencakup : menyampaikan kepada investor mengenai potensi investasi di Indonesia, menggambarkan arah pembangunan di Indonesia, reformasi birokrasi terkait regulasi dan perizinan investasi di Indonesia, menciptakan stabilitas dan keamanan, dan pembangunan infrastruktur secara masiv.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyelenggarakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang merupakan layanan terintegrasi antara BKPM dengan beberapa Kementerian/Lembaga untuk memberikan layanan perizinan investasi secara cepat, sederhana, transparan, dan terintegrasi. Kebijakan ini diharapkan menunjang iklim investasi di Indonesia agar semakin kuat. Melalui implementasi PTSP, penyederhanaan perizinan, dan pembangunan infrastruktur, BKPM optimis target investasi tahun 2015 sebesar Rp 519,5 triliun akan tercapai.
Pembangunan infrastruktur berjalan seiring perbaikan ekonomi Indonesia. Hal ini ditujukan untuk akselerasi investasi di Indonesia. Di samping itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 2015 yang mengatur tentang kelonggaran pajak untuk investasi pada sektor bisnis tertentu dan/atau daerah tertentu. Fasilitas pengurangan pajak (tax allowance)
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
8
126 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
ditujukan untuk mendorong percepatan proyek investasi di Indonesia. Fasilits pajak ini diberikan untuk sepuluh bidang usaha yang masuk kategori investasi hijau (green investment). Sepuluh bidang usaha yang mendapat fasilitas tax allowance yaitu tenaga panas bumi, industri pemurnian dan pengolahan gas alam, industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian dan industri lampu tabung gas (LED), pembangkit tenaga listrik, pengadaan gas alam dan buatan, penampungan penjernihan dan penampungan air bersih, angkutan perkotaan yang ramah lingkungan, kawasan pariwisata, dan pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya. Pengembangan investasi hijau bukan tanpa kendala. Tantangan yang masih harus dihadapi yaitu masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), masih banyaknya industri yang menggunakan teknologi lama/tua dan terbatasnya industri yang mampu mengembangkan teknologi terkini. Selain keringanan pajak, pemerintah juga memberikan insentif fiskal berupa pembebasan pajak dalam periode tertentu atau tax holiday terhadap lima sektor industri pionir.
Penanaman Modal Asing (PMA)
PMA berperan besar dalam menopang investasi di Indonesia. Tabel 8.2 menyajikan data perkembangan PMA di Indonesia yang dinilai menggunakan mata uang US$ dengan nilai tukar terhadap Rupiah yang berbeda setiap tahunnya. Tahun 2013, realisasi PMA tercatat sebesar US$ 28,62 miliar atau meningkat 16,50 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar US$ 24,56 miliar.
Jumlah proyek yang dikerjakanpun meningkat hingga 109,91 persen, dari 4.579 proyek pada tahun 2012 menjadi 9.612 proyek di tahun 2013. Namun di tahun 2014, terjadi penurunan jumlah proyek maupun nilai PMA jika menggunakan satuan mata uang US$. BKPM mencatat bahwa pada tahun 2014, realisasi PMA sebesar US$ 28,53 miliar atau menurun 0,31 persen dibandingkan tahun 2013.
Jumlah proyek yang terserap juga mengalami penurunan sebesar 7,56 persen menjadi 8.885 proyek.
Pada triwulan I-2015, jumlah proyek yang dikerjakan melalui PMA yaitu sebanyak 3.143 proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 6,56 miliar.
Dari sejumlah proyek yang ada, 1.320 proyek (42,00 persen) ada di lapangan usaha Industri; 794 proyek (25,26 persen) di Perdagangan dan Reparasi, Hotel dan Restoran; 244 proyek (7,76 persen) di Jasa Lainnya; 235 proyek (7,48 persen) di Pertambangan; dan 550 proyek (17,50 persen) tersebar di kategori lapangan usaha lainnya. Dari total nilai PMA di triwulan I tahun 2015, 43,68 persen terserap di kategori Industri dengan nilai US$ 2,87 miliar; diikuti Pertambangan dengan kontribusi 17,30 persen atau US$ 1,14 miliar; dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 9,81 persen dengan nilai US$
0,64 miliar; sementara kategori lainnya berkontribusi di bawah 7 persen. Lima negara dengan PMA terbesar yaitu Singapura (US$ 1,2 miliar), Jepang (US$ 1,2 miliar), Korea Selatan (US$ 0,6 miliar), Inggris (US$ 0,4 miliar), dan Amerika Serikat (US$ 0,3 miliar).
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
127
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Ditinjau dari jumlah proyek dan nilai investasi yang terserap, kategori industri masih menjadi primadona bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Setiap tahun, nilai PMA di sektor industri berkontribusi di atas 40 persen terhadap total PMA keseluruhan dengan jumlah proyek yang terserap lebih dari 1.000 proyek. Bahkan di tahun 2013, investasi di industri mencapai US$ 15,86 miliar atau 55,42 persen dari total PMA yang terserap di tahun tersebut dan tersebar di 3.322 proyek. Namun di tahun 2014, penurunan realisasi PMA diikuti dengan penurunan investasi, kontribusi, dan jumlah proyek yang terserap di sektor industri. Nilai PMA sektor industri sebesar US$ 13,02 miliar atau turun 17,90 persen dibandingkan tahun 2013 dengan kontribusi juga menurun menjadi 45,63 persen. Jumlah proyek yang menyerap PMA pun juga ikut menurun menjadi 3.075 proyek.
Di peringkat kedua, sektor dengan kontribusi tertinggi terhadap PMA yaitu pertambangan. Tahun 2013, nilai PMA sektor pertambangan sebesar US$ 4,82 miliar atau tumbuh 13,18 persen dibandingkan tahun 2012 dengan jumlah proyek yang menyerap PMA meningkat hampir dua kali lipat. Sama seperti sektor industri, di tahun 2014 realisasi PMA dari sektor pertambangan juga menurun menjadi US$ 4,66 miliar dengan kontribusi 16,35 persen.
Tabel 8.2. Perkembangan Realisasi Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Menurut Sektor (juta rupiah), Tahun 2012–Triwulan I 2015
Sektor 2012 2013 2014 2015 Triwulan I
Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Pertanian, Kehutanan 322 1 677,6 647 1 655,5 425 2 326,2 182 643,6
dan Perikanan (6,83) (5,78) (8,15) (9,81)
Pertambangan 412 4 255,4 820 4 816,4 552 4 665,1 235 1 135,6
dan Komunikasi (11,43) (5,07) (10,52) (4,30)
Perumahan, Kawasan
Catatan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap jumlah Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
8
128 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi menempati peringkat ketiga dengan nilai realisasi PMA mencapai US$ 3,00 miliar. Nilai investasi tersebut adalah yang tertinggi selama tahun 2012-2014. Saat realisasi PMA mengalami penurunan di tahun 2014, investasi di sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi justru mengalami pertumbuhan 106,97 persen dengan kontribusi 10,52 persen. Namun di tahun 2013, PMA sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi mengalami penurunan hingga 48,34 persen menjadi US$ 1,45 miliar, meskipun jumlah proyek yang dikerjakan bertambah dua kali lipat.
Grafik perkembangan nilai PMA dari tahun 2012-2014 memperlihatkan bahwa terdapat kesenjangan investasi yang tinggi antara sektor industri dengan sektor-sektor lainnya. Sektor industri menjadi sektor yang paling diminati investor asing dengan nilai investasi di atas US$ 11,00 miliar setiap tahunnya. Sektor pertambangan menempati urutan realisasi PMA tertinggi kedua dengan nilai investasi di atas US$ 4,00 miliar, diikuti sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi.
Jika ditinjau secara spasial, Pulau Jawa memiliki peranan besar terhadap realisasi PMA, dengan kontribusi di atas 54 persen. Tahun 2013, realisasi PMA di Pulau Jawa sebesar US$ 17,33 miliar atau tumbuh 26,84 persen dibandingkan tahun 2012. Jumlah proyek yang dikerjakan juga meningkat dari 2.807 proyek di tahun 2012 menjadi 6.059 proyek di tahun 2013. Dengan nilai investasi tersebut, Pulau Jawa berkontribusi terhadap total PMA di tahun 2013 sebesar 60,54 persen. Realisasi PMA di Pulau Jawa tahun 2014 mengalami penurunan 10,91 persen dibandingkan tahun 2013 dengan kontribusi sebesar 54,11 persen terhadap total PMA. Proyek yang dikerjakan melalui pembiayaan PMA tahun 2014 di Pulau Jawa sebanyak 6.202 proyek.
Tahun 2013, Pulau Kalimantan menempati peringkat ketiga di bawah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, dengan nilai investasi US$ 2,77 miliar dan berkontribusi 9,69 persen terhadap total PMA. Namun di tahun 2014, nilai
Gambar 8.1. Nilai Investasi PMA yang Terealisasi Menurut Sektor (juta US$), Tahun 2012–2014
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
129
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
investasi asing di Pulau Kalimantan meningkat signifikan sebesar 68,52 persen menjadi US$ 4,67 miliar dan berhasil menjadi peringkat kedua mengalahkan Pulau Sumatra dengan kontribusi 16,38 persen.
Kinerja investasi pada triwulan IV tahun 2014 di Pulau Kalimantan mengalami perbaikan meskipun terbatas. Kondisi ini seiring pertumbuhan investasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yaitu pembangunan investasi smelter. Di sisi lain, produksi batubara di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan melemah karena rendahnya harga komoditas ekspor.
Penurunan produksi batubara juga berimbas pada penurunan investasi di sektor pendukung seperti transportasi dan jasa. Investor memilih untuk menunda berinvestasi alat-alat angkutan berat seperti truck, excavator, dan tongkang.
Kinerja investasi tahun 2014 di Pulau Kalimantan didukung oleh pembangunan sejumlah proyek berskala besar seperti flyover Banjarmasin, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan dan Pelabuhan Karingau di Balikpapan, Pelabuhan Palaran di Samarinda, perluasan dermaga Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin, dan PLTG Senipah di Kalimantan Timur. Kinerja investasi masih akan terus berlanjut hingga tahun 2015 seiring pembangunan infrastruktur pemerintah seperti KIPI Maloy di Kalimantan Timur, rel kereta api di Kalimantan Tengah, dan pembangunan pembangkit listrik di sejumlah lokasi di Kalimantan. Pelaku usaha bidang pertambangan mineral masih meneruskan konstruksi smelter. Hingga akhir athun 2014, tercatat ada enam smelter alumina di Kalimantan Barat dan tiga smelter besi di Kalimantan Selatan yang masih dalam proses pembangunan.
Realisasi PMA di Pulau Sumatra tahun 2013 sebesar US$ 3,40 miliar atau menurun 8,95 persen dibandingkan tahun 2012 dengan kontribusi yang
Tabel 8.3. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang Disetujui Pemerintah Menurut Pulau (juta US$), Tahun 2012–Triwulan I 2015
Pulau 2012 2013 2014 2015 Triwulan I
Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Sumatera 695 3 729,3 1 181 3 395,5 884 3 844,6 417 979,2
Catatan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap jumlah Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
8
130 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
juga ikut menurun menjadi 11,86 persen. Tahun 2014, realisasi investasi tumbuh 13,23 persen menjadi US$ 3,84 miliar dengan kontribusi 13,48 persen. Sementara itu, realisasi PMA dari Pulau-pulau lain seperti Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku dan Papua, jika dijumlahkan berkontribusi kurang dari seperlima dari total PMA di Indonesia.
Nilai PMA di Pulau Sumatra pada tahun 2014 masih kecil sebagai akibat rendahnya pertumbuhan investasi pasca Pemilihan Umum. Hingga akhir tahun 2014, pelaku usaha masih bersikap wait and see terhadap kebijakan reformasi energi lanjutan. Pada triwulan I-2015, iklim investasi di Pulau Sumatra sudah menunjukkan perbaikan. Rencana peningkatan kapasitas dilakukan beberapa perusahaan swasta seperti perluasan pabrik, penambahan mesin baru, dan peningkatan kapasitas pelabuhan di Lampung, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Secara keseluruhan, realisasi PMA tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012. Namun jika dilihat secara parsial, peningkatan realisasi nilai investasi asing hanya terjadi di Pulau Jawa, dan Pulau Maluku dan Papua. Sebaliknya yang terjadi pada tahun 2014, Pulau Jawa, Pulau Maluku dan Papua mengalami penurunan, sedangkan wilayah yang mengalami pertumbuhan realisasi PMA yaitu Pulau Sumatra, Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi. Gambar 8.2 memperlihatkan ketimpangan nilai PMA yang tinggi antara Pulau Jawa dengan pulau-pulau lain di luar Pulau Jawa. Kondisi ini merupakan cerminan bahwa Pulau Jawa masih memiliki daya tarik yang sangat besar terhadap investor asing.
Sementara itu investasi PMA yang masuk hingga triwulan I-2015, Pulau Jawa masih menjadi incaran investor asing sehingga mampu menyerap PMA terbesar dengan nilai investasi mencapai US$ 3,34 miliar (50,90 persen) yang tersebar di 2.155 proyek. Di peringkat kedua yaitu Pulau Kalimantan dengan nilai investasi yang terserap mencapai US$ 1,21 miliar (18,37 persen) yang tersebar di 214 proyek, diikuti Pulau Sumatra dengan nilai investasi US$ 0,98 miliar (14,92 persen) yang tersebar di 417 proyek. Pemerintah baru melakukan
0
Gambar 8.2. Nilai Investasi PMA yang Terealisasi Menurut Pulau (juta US$), Tahun 2012–2014
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
131
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
program pengurangan subsidi BBM dengan cara menaikkan harga BBM bersubsidi dan mengalihkan subsidi BBM ke pembangunan proyek seperti pebangunan desa, irigasi, dan waduk diperkirakan akan mendorong kegiatan investasi di tahun 2015.
Di Pulau Jawa, pelaku usaha tampaknya juga masih bersikap wait and see terhadap kebijakan pemerintah baru. Pada triwulan pertama tahun 2015, kinerja investasi masih belum menunjukkan perbaikan disebabkan belum pulihnya investasi sektor swasta dan permintaan ekspor luar negeri. Kenaikan biaya produksi seperti upah tenaga kerja, biaya listrik, dan pajak memberikan sentimen negatif terhadap iklim investasi di Pulau Jawa. Pelaku usaha mengeluhkan daya saing investasi yang rendah di Pulau Jawa dibandingkan negara ASEAN (Vietnam, Malaysia, Thailand) yang berimbas pada rendahnya rencana investasi perusahaan PMA dibandingkan PMDN.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
Kinerja investasi dalam negeri menunjukkan performa yang menggembirakan selama periode 2012-2014 dengan tren yang terus meningkat. Realisasi PMDN tahun 2014 tersebar di 1.652 proyek dengan nilai Rp 156,13 triliun atau meningkat 21,83 persen dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 128,15 triliun. Sementara jika dibandingkan dengan PMDN tahun 2012 sebesar Rp 92,18 triliun, realisasi PMDN tahun 2013 meningkat 39,02 persen. Jumlah proyek yang dikerjakan tahun 2013 juga meningkat 75,95 persen dibandingkan tahun 2012 dari 1.210 proyek menjadi 2.129 proyek.
Sektor dengan kontribusi tertinggi terhadap realisasi PMDN selama periode 2012-2014 yaitu sektor Industri. Realisasi PMDN sektor Industri mengalami pertumbuhan sepanjang tahun 2012-2014 meskipun kontribusinya semakin menurun. Tahun 2012, kontribusi PMDN dari sektor Industri sebesar 54,12 persen, tahun 2013 sebesar 39,93 persen, dan tahun 2014 sebesar 37,81 persen. Hal ini mungkin disebabkan nilai PMDN di beberapa sektor yang mengalami perkembangan signifikan, seperti Listrik, Gas, dan Air; Konstruksi;
dan Perumahan.
Tahun 2014, realisasi PMDN di sektor Industri sebesar Rp 59,03 triliun atau tumbuh 15,37 persen dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 51,17 triliun.
Sementara realisasi PMDN tahun 2013 tumbuh 2,57 persen dibandingkan tahun 2012. Seiring tingginya investasi yang terserap di sektor Industri, jumlah proyek yang dikerjakan di sektor ini pun lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya hingga mencapai 1.225 proyek di tahun 2013.
Iklim investasi dalam negeri yang dirasa masih kondusif mendorong minat investor domestik untuk tetap berinvestasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan PMDN secara signifikan.
Gambar 8.3 menunjukkan nilai investasi PMDN yang terealisasi menurut sektor dan ketimpangan yang cukup dalam antara sektor Industri dengan sektor-sektor lainnya. Sektor Industri masih menjadi primadona investasi dalam
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
8
132 Laporan Perekonomian Indonesia 2015
negeri dengan peningkatan realisasi investasi selama periode 2012-2014. Hal ini disebabkan Industri menjadi lapangan usaha yang akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Listrik, Gas, dan Air menjadi sektor dengan perkembangan paling menggembirakan. Tahun 2013, realisasi PMDN di sektor ini mencapai Rp 25,83 triliun atau tumbuh 580,34 persen dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp 3,80 triliun. Realisasi PMDN sektor Listrik, Gas, dan Air tahun 2014 masih tumbuh 40,51 persen dibandingkan tahun 2013. Hal ini tidak lepas dari pembangunan infrastruktur dan energi sebagai prioritas pembangunan Indonesia ke depan.
Sektor-sektor lain dengan peningkatan nilai PMDN selama 2012-2014 yaitu Konstruksi; Hotel dan Restoran; Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi; serta Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran. Realisasi PMDN sektor Konstruksi pada tahun 2014 sebesar Rp 12,10 triliun atau tumbuh 100,52 persen dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 6,03 triliun.
Jika dibandingkan dengan tahun 2012, realisasi PMDN tumbuh 31,54 persen.
Sektor Hotel dan Restoran berkontribusi sekitar 1,10 persen terhadap total PMDN tahun 2012-2014 dengan nilai investasi di kisaran Rp 1,02-1,73 triliun.
Tabel 8.4. Perkembangan Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Menurut Sektor (miliar rupiah), Tahun 2012–Triwulan I 2015
Sektor 2012 2013 2014 2015 Triwulan I
Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Proyek Investasi Pertanian, Kehutanan, 227 9 888,2 356 6 953,4 263 13 379,9 130 4 468,3
dan Perikanan (10,73) (5,43) (8,57) (10,51)
Pertambangan 39 10 480,9 88 18 762,2 50 3 140,7 36 770,2
Perdagangan dan Reparasi 35 1 030,4 87 2 204,9 99 518,5 72 234,6
(1,12) (1,72) (0,33) (0,55)
Hotel & Restoran 34 1 015,0 66 1 401,8 43 1 730,8 51 556,2
(1,10) (1,09) (1,11) (1,31)
Transportasi, Pergudangan 33 8 612,0 91 13 178,4 46 15 715,0 36 5 212,4
dan Komunikasi (9,34) (10,28) (10,07) (12,26)
Perumahan, Kawasan
Catatan : Angka dalam kurung menunjukkan persentase terhadap jumlah PMDN Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal
http://www.bps.go.id
Perkembangan Investasi dan Perdagangan Saham
133
Laporan Perekonomian Indonesia 2015
Meskipun nilai investasi di sektor ini masih kecil, pertumbuhan PMDN setiap tahun diharapkan dapat mendorong sektor Hotel dan Restoran semakin
Meskipun nilai investasi di sektor ini masih kecil, pertumbuhan PMDN setiap tahun diharapkan dapat mendorong sektor Hotel dan Restoran semakin