• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Jasa Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan

Kinerja di sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan pada triwulan II 2014 terjaga pada level yang stabil. Kinerja perbankan mengalami penurunan cukup signifikan terkait dengan tren perlambatan kredit sebagai pengaruh tingkat suku bunga yang relatif tinggi. Hal ini berdampak pada melambatnya pertumbuhan nilai tambah bruto (NTB) perbankan secara kuartalan menjadi sebesar 0,6% (qtq) pada triwulan laporan, dari triwulan I 2014 sebesar 8,6% (qtq). Meskipun provisi dan komisi perbankan masih terjaga, penerimaan bunga menurun cukup signifikan. Kinerja lembaga keuangan nonperbankan khususnya perusahaan leasing juga tumbuh dalam level terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu tumbuh lebih tinggi pada triwulan II 2014 di tengah dinamika politik pada periode Pemilu dan adanya tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar.

Sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan di Jakarta pada triwulan III 2014 diproyeksikan tumbuh relatif stabil. Pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan juga akan stabil dengan dukungan terutama dari potensi peningkatan investasi. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi dan ekspansi bisnis yang terbatas akan menahan pertumbuhan kredit konsumsi dan modal kerja usaha. Adapun kinerja pasar modal diperkirakan akan mengalami peningkatan di awal triwulan III 2014, seiring dengan optimisme pasar terhadap hasil Pemilu. Namun, penguatan IHSG ini diprediksi terbatas dengan adanya proses judicial review hasil Pemilihan Presiden serta potensi kembali terjadinya defisit transaksi berjalan. Selain itu, terdapat pengaruh faktor global terutama dari penguatan ekonomi Amerika Serikat dan pengurangan stimulus moneter yang berpotensi mendorong arus dana modal keluar. Sementara itu, kinerja perusahaan real

estate dan jasa perusahaan diperkirakan tumbuh terbatas pasca-Pemilu 2014 terkait dengan masih adanya

kecenderungan menunda (wait and see) dari investor properti maupun pelaku bisnis.

Sumber : CEIC, diolah Sumber : CEIC, diolah

Grafik III.4.9. Perkembangan Indeks Pasar Keuangan Grafik III.4.10. Pertumbuhan Pasar Keuangan

Sektor Industri Pengolahan

Kinerja sektor industri pengolahan Jakarta pada triwulan II 2014 melambat menjadi 3,4% (yoy) setelah tumbuh sebesar 3,9% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan di sektor industri pengolahan ini terkait dengan terbatasnya permintaan, terutama di pasar domestik, sejalan dengan melambatnya perekonomian nasional. Meskipun produksi industri pengolahan tumbuh melambat, ekspor Jakarta

manufaktur tersebut berasal dari sisa produksi (stok) pada triwulan I 2014. Kondisi ini terkonfirmasi oleh data pendukung yang menunjukkan penurunan tajam indeks produksi industri dan impor bahan baku pada triwulan II 2014, setelah tumbuh signifikan pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan sektor industri pengolahan pada triwulan III 2014 diprediksi meningkat sebesar 3,6% (yoy) dengan dukungan peningkatan permintaan global pada ekspor produk manufaktur Jakarta. Ekspor produk manufaktur Jakarta diprediksi cukup kompetitif dengan kondisi nilai tukar saat ini. Adapun potensi peningkatan ekspor terutama pada industri kendaraan bermotor dan komponen yang telah melakukan ekspansi produksi dan memiliki pasar tujuan ekspor. Peluang diversifikasi ekspor juga terdapat pada produk bahan kimia dan farmasi. Dari sisi domestik, kinerja sektor industri didukung oleh permintaan Lebaran terutama pada produk makanan dan minuman. Adanya kenaikan tarif listrik untuk industri golongan R3 (nonpublik) dan pola konsumsi pasca-Lebaran yang cenderung melemah, berpotensi menahan kinerja sektor industri pengolahan untuk dapat tumbuh lebih tinggi.

Sumber : CEIC diolah

Grafik III.4.11. Perkembangan Ekspor Manufaktur

Sumber : Survei Industri Manufaktur – BPS DKI Jakarta

Grafik III.4.12. Impor Bahan Baku di Jakarta

Sektor Konstruksi

Pada triwulan II 2014, sektor konstruksi tumbuh relatif stabil sebesar 5,7% (yoy) dengan dukungan proyek pembangunan infrastruktur dan berlanjutnya proyek pembangunan properti komersial. Pertumbuhan sektor konstruksi yang relatif terbatas ini, tercermin dari konsumsi semen yang tumbuh dalam level moderat (Grafik III.4.13). Di sisi lain, data penjualan bahan konstruksi berupa logam dan tanah liat menunjukkan pertumbuhan penjualan yang meningkat (Grafik III.4.14). Hal ini ditengarai sebagai upaya untuk menyimpan bahan-bahan konstruksi sebagai stok untuk mengantisipasi peningkatan harga.

Kinerja sektor konstruksi pada triwulan III 2014 diperkirakan akan meningkat. Hal ini terkait dengan peningkatan intensitas beberapa proyek pembangunan infrastruktur skala besar, yakni proyek MRT tahap I dan pelabuhan Kalibaru (New Tanjung Priok Port). Intensitas proyek konstruksi MRT tahap I semakin meningkat dengan dimulainya pengerjaan bawah tanah. Sebagai dampak dari proyek MRT tersebut, juga dilakukan pembongkaran dan relokasi stadion Lebak Bulus serta prasarana maupun sarana lainnya. Konstruksi fisik pelabuhan Kalibaru juga diperkirakan akan semakin intensif pada triwulan III 2014, sejalan dengan target penyelesaian di akhir 2014. Di samping infrastruktur, proyek pembangunan properti komersial yang sudah dalam tahap konstruksi juga masih berlanjut dalam intensitas yang tidak terindikasi menurun. Hal ini ditengarai sebagai strategi pengembang untuk mengantisipasi membaiknya prospek sektor properti di Jakarta yang diprediksi terjadi pada akhir 2014.

90 95 100 105 110 115 120 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 Indeks Unit

Produksi Kedaraan Bermotor Indeks Produksi Industri (skala kanan)

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2011 2012 2013 2014

%

gImpor Bahan Baku

gProduksi Manufaktur Besar & Sedang gProduksi Industri Mikro & Kecil

Sumber : CEIC diolah

Grafik III.4.13. Konsumsi Semen di Jakarta Grafik III.4.14. Pertumbuhan Penjualan Bahan

Bangunan di Jakarta

PERKEMBANGAN INFLASI

Tekanan inflasi Jakarta hingga Juli 2014 menunjukkan tren yang menurun. Inflasi Juli 2014 tercatat sebesar 5,1% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada triwulan I 2014 sebesar 7,5% (yoy). Penurunan inflasi yang tajam tersebut terkait dengan faktor base effect dari kenaikan harga BBM bersubsidi pada Juli 2013 (Grafik III.4.15). Sepanjang triwulan II 2014, tekanan inflasi lebih banyak bersumber dari inflasi administered prices, sebagai dampak dari kebijakan kenaikan tarif listrik, angkutan udara, dan bahan bakar rumah tangga (LPG). Adapun tekanan inflasi pangan relatif tinggi pada triwulan II 2014, didorong terutama oleh komoditas daging dan telur ayam ras sebagai pengaruh kebijakan pengurangan pasokan day

old chicks (DOC) oleh Kementerian Perdagangan serta kenaikan permintaan memasuki bulan Ramadhan.

Tren penurunan laju inflasi diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan III 2014. Penurunan inflasi terkait dengan melemahnya permintaan pasca-Lebaran. Harga komoditas pangan diprediksi kembali normal dan bahkan sejumlah komoditas pangan berpotensi mengalami penurunan harga. Tekanan inflasi terbesar diperkirakan bersumber dari inflasi inti dan administered prices. Selain tren kenaikan harga emas yang masih terus berlanjut sebagai pengaruh faktor global, dampak penyesuaian tarif listrik per 1 Juli 2014 masih berpotensi memberikan kontribusi pada inflasi. Hal ini mengingat perhitungan tarif listrik pascabayar periode Juli 2014 baru dibukukan pada Agustus 2014. Di sisi lain, kebijakan pembatasan penjualan solar bersubsidi di Jakarta Pusat diprakirakan tidak memberikan dampak signifikan.

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Penguatan koordinasi pengendalian inflasi dilakukan baik di internal Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta maupun eksternal dengan TPID di daerah lain. Rakor Wilayah TPID Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten dilakukan pada bulan Juni 2014 untuk membahas isu peningkatan perdagangan antardaerah. Selain itu juga dilakukan koordinasi dalam menjaga kelancaran distribusi pangan dan stabilitas harga pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H. Pada Juli 2014, TPID Provinsi DKI Jakarta meluncurkan portal Pusat Informasi harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dinamakan Informasi Pangan Jakarta (http://infopangan.jakarta.go.id/). Portal informasi ini memuat informasi harga 34 komoditas pangan strategis di sebelas pasar tradisional dan dua pasar induk di Jakarta.

-40 -20 0 20 40 60 80 100 0 100 200 300 400 500 600 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014

Ribu Ton %, yoy

Konsumsi Semen (ribu ton) g.Konsumsi Semen (skala kanan)

-50 0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2013 2014 (%, yoy)

Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah

Grafik III.4.15. Perkembangan Inflasi Grafik III.4.16. Disagregasi Inflasi

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN

Ketahanan Sektor Korporasi

Kinerja di sektor jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan pada triwulan II 2014 terjaga pada level yang stabil. Penyaluran kredit di Jakarta tumbuh sebesar 18,8% pada triwulan II 2014, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 21,8%. Hal ini sejalan dengan kebijakan stabilisasi dan pengetatan moneter untuk menurunkan pertumbuhan kredit. Berdasarkan jenisnya, perlambatan kredit terutama terjadi pada kredit modal kerja, terkait terbatasnya ekspansi bisnis dan tren peningkatan suku bunga kredit. Sementara itu, kredit investasi dan konsumsi dalam tren tumbuh meningkat.

Grafik III.4.17. Kinerja Penyaluran Kredit

Perbankan

Grafik III.4.18. Penyaluran Jenis Kredit Perbankan

Berdasarkan sektoral, penyaluran kredit ke bidang jasa real estate, perdagangan besar dan eceran serta perantara keuangan mengalami penurunan. Penurunan kredit di bidang real estate sejalan dengan perlambatan sektor properti, sedangkan penurunan kredit di sektor perdagangan ditengarai sebagai pengaruh dari menurunnya kredit modal kerja. Terkait kredit di bidang real estate, perlambatan terjadi pada kredit peruntukan apartemen (KPA) dan kredit multiguna. Sementara itu, kredit untuk hunian dibawah tipe 21 dan kredit sepeda motor tumbuh meningkat. Walaupun kredit peruntukan apartemen

0 5 10 15 20 25 30 35 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 % yoy Triliun Rp Kredit gKredit (30) (20) (10) 0 10 20 30 40 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 % yoy

adanya kemampuan konsumen untuk melakukan pembelian secara tunai. Di sisi lain, kredit ke sektor industri pengolahan tumbuh meningkat sejalan dengan peningkatan aktivitas produksi.

Dari sisi risiko kredit, yang diindikasikan oleh porsi nonperforming loans (NPL) terhadap total kredit, terlihat adanya peningkatan porsi NPL untuk keseluruhan jenis kredit korporasi di Jakarta dari 1,4% pada Maret 2014 menjadi 1,5% pada Juni 2014. Porsi NPL tertinggi masih terjadi di sektor industri dan konstruksi sebesar masing-masing 2,4% dan 2,2% pada Juni 2014. Masih tingginya NPL pada kedua sektor tersebut tidak terlepas dari kinerja sektor industri dan konstruksi yang masih melambat pada triwulan II 2014. Sementara itu, kecenderungan peningkatan risiko kredit juga terlihat pada sektor perdagangan besar dan eceran yang ditengarai terkait dengan tingkat suku bunga.

Ketahanan Sektor Rumah Tangga

Kredit sektor rumah tangga, yang utamanya kredit konsumsi, dalam tren menurun pada triwulan II 2014 sebagai dampak tren kenaikan suku bunga. Secara umum, peningkatan suku bunga kredit lebih banyak terjadi pada kredit baru dan kredit bunga yang mengambang. Selain itu, pertumbuhan kredit, yang jumlahnya melampaui pertumbuhan DPK, serta meningkatnya LDR perbankan menyebabkan sejumlah bank mengurangi penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi. Berdasarkan jenisnya, perlambatan penyaluran kredit sektor rumah tangga terutama pada kredit pemilikan rumah (KPR) untuk hunian tipe di atas 70 meter persegi. Sementara pembiayaan kredit multiguna, KPR untuk hunian tipe 22 hingga 70 meter persegi dan kendaraan roda empat tercatat tumbuh sedikit meningkat pada triwulan II 2014. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya rumah tangga kelas menengah yang masih memiliki repayment capacity cukup memadai.

Secara umum, ketahanan sistem keuangan rumah tangga masih terjaga, meskipun terlihat adanya tren peningkatan porsi NPL pada sebagian kredit rumah tangga baik untuk keperluan multiguna, pembiayaan kendaraan bermotor maupun perumahan pada triwulan II 2014. Pada kredit subsektor perumahan, porsi NPL tertinggi terdapat pada KPA sampai dengan tipe 21 sebesar 3,2% pada Mei 2014. Meski demikian risiko kredit untuk rumah sampai dengan tipe 21 ini dalam tren menurun. Hal ini berbeda dengan risiko kredit untuk rumah tipe 22 - 70 dan rumah toko (ruko) serta rumah kantor (rukan) yang dalam tren meningkat semenjak awal 2014. Porsi NPL untuk KPR tipe 22-70 dan ruko/rukan masing-masing sebesar 2,4% di Mei

Grafik III.4.19. Kredit Bank berdasarkan Sektor

Ekonomi

Grafik III.4.20. Rasio NPL Kredit Sektor Utama Perbankan

(20) 0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 % yoy Industri Pengolahan Perdagangan Besar & Eceran Perantara Keuangan Real Estate 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 % Porsi NPL Industri Porsi NPL Perdagangan Porsi NPL Konstruksi

Grafik III.4.21.Perkembangan Kredit Perbankan ke Rumah Tangga

Grafik III.4.22. Kinerja Penyaluran Kredit LK NonPerbankan

Grafik III.4.23.Rasio NPL Kredit Rumah Tangga Grafik III.4.24.Rasio NPL Kredit Perumahan

Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Kredit sektor UMKM di Jakarta menunjukkan peningkatan pertumbuhan pada triwulan II 2014, yang disertai dengan peningkatan NPL pada level yang moderat. Kredit UMKM tercatat tumbuh sebesar 9% (yoy) pada akhir Mei 2014, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada akhir triwulan I 2014 sebesar 6,6% (yoy). Membaiknya iklim usaha, sebagai pengaruh dari terjaganya kondisi ekonomi makro dan adanya faktor belanja pemilu, ditengarai sebagai faktor yang mendorong pertumbuhan kredit UMKM di Jakarta. Selain itu, adanya ketentuan Otoritas Jasa Keuangan untuk mengalokasikan 15% kreditnya ke UMKM pada tahun 2015, mendorong perbankan mulai secara bertahap menyalurkan dana kredi ke UMKM. Risiko kredit UMKM di DKI Jakarta, walaupun mengalami kenaikan, masih tergolong rendah, yaitu sebesar 2,3% pada bulan Juni, apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Kenaikan tarif listrik dan pembatasan BBM bersubsidi yang berakibat pada kenaikan biaya produksi, merupakan salah satu faktor risiko bagi pembiayaan sektor UMKM pada triwulan III 2014.

Kinerja Sistem Pembayaran

Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jakarta, nilai transaksi melalui RTGS pada triwulan II 2014 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai transaksi RTGS pada triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp91,7 triliun atau sebanyak 24.087 transaksi per hari. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp82 triliun atau sebanyak 23.928

(80) (30) 20 70 120 170 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014

% yoy KPR Tipe 22 s.d. 70 KPR Tipe Diatas 70

Roda Empat Keperluan Multiguna

0 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 2014 %

Rasio NPL Sepeda Motor Rasio NPL Roda Empat Rasio NPL Keperluan Multiguna

-1 0 1 2 3 4 5 6 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2012 2013 2014 %

Rasio NPL KPRTipe 22 s.d.70 Rasio NPL Ruko/Rukan Rasio NPL KPA s.d.Tipe 21

transaksi per hari. Sementara itu, transaksi melalui kliring pada triwulan II 2014 mengalami peningkatan baik secara nilai maupun volume, yaitu tercatat sekitar Rp6,8 triliun dengan volume rata-rata sekitar 300.000 warkat. Hal ini diperkirakan terkait juga dengan adanya belanja Pemilu tahun 2014.

Kinerja Pengelolaan Uang Tunai

Berdasarkan data, Jakarta mengalami net outflow sebesar Rp 17,26 triliun pada triwulan II 2014. Peningkatan outflow yang tercatat lebih besar dibandingkan dengan inflow ditengarai terkait dengan kegiatan Pemilu 2014. Adapun temuan uang palsu di Jakarta tetap melanjutkan tren penurunan sejalan dengan semakin ketatnya pengawasan.

Grafik III.4.25. Transaksi Kliring Grafik III.4.26. Inflow - Outflow

PROSPEK PEREKONOMIAN

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Merujuk pada kondisi perekonomian saat ini dan mencermati prospek serta risiko ke depan, pertumbuhan ekonomi Jakarta untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan stabil dibandingkan dengan tahun 2013. Sesuai prakiraan awal, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jakarta masih pada kisaran 6,0% - 6,4% (yoy), meskipun terdapat kecenderungan bias ke bawah. Masih kuatnya daya beli dan konsumsi masyarakat menengah atas di Jakarta menjadi kunci pertumbuhan, di samping adanya potensi perbaikan investasi dan ekspor. Indeks keyakinan dan ekspektasi konsumen Jakarta terhadap kondisi perekonomian meningkat tajam semenjak awal triwulan II 2014. Adapun faktor yang mendasari sentimen positif dan optimisme terhadap kondisi perekonomian adalah berlangsungnya Pemilu secara baik.

Membaiknya investasi juga terkait dengan stabilitas ekonomi makro dengan dukungan kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil. Di samping itu, komitmen kuat dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk meningkatkan daya saing juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan investasi ke depan. Pemerintah Daerah telah berkomitmen dan memprioritaskan pengembangan infrastruktur fisik dan digital, perbaikan faktor enablers lain di Jakarta seperti kemudahan berusaha (PTSP DKI Jakarta) dan layanan publik, yang mencakup sistem transportasi, pendidikan dan kesehatan.

Peluang perbaikan ekspor didukung oleh berlanjutnya pemulihan perekonomian global secara bertahap. Selain itu, perbaikan ekspor didukung oleh peningkatan produktivitas industri manufaktur Jakarta di tengah semakin meningkatnya biaya produksi terkait dengan upah pekerja maupun tarif energi. Hal ini tercermin

dari tren peningkatan impor barang modal semenjak 2013. Peningkatan ekspor juga didukung oleh upaya perbaikan kinerja logistik, khususnya di pelabuhan Tanjung Priok.

Di sisi sektoral, prospek perbaikan kinerja diprakirakan terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor-sektor non-tradable, utamanya sektor-sektor bangunan serta sektor-sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Peningkatan kinerja sektor bangunan, selain didukung oleh pembangunan infrastruktur jangka panjang berskala besar, juga dipengaruhi oleh potensi perbaikan sektor properti di Jakarta terkait dengan peluang investasi pasca-implementasi MEA pada tahun 2015. Sementara itu, pertumbuhan subsektor pengangkutan didorong oleh peningkatan layanan transportasi publik termasuk pengoperasioan bandara Halim Perdanakusuma. Sejalan dengan peningkatan infrastruktur digital, kinerja subsektor telekomunikasi diyakini akan terus terakselerasi ke depan.

Prospek Inflasi

Tekanan inflasi Jakarta pada semester II 2014 diprakirakan terus menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013. Inflasi Jakarta untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan sebesar 5,6% (yoy). Adapun faktor risiko terbesar terkait dengan wacana perluasan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2014 untuk meningkatkan ruang fiskal dan menekan potensi defisit APBN yang lebih besar. Selain itu, dampak El Nino yang mengganggu pasokan pangan ke Jakarta juga masih menjadi risiko pada semester II 2014. Peningkatan kerjasama perdagangan antardaerah menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan strategis. Terkait dengan inflasi di kelompok inti, potensi peningkatan harga emas internasional sebagai akibat dari krisis global dan kenaikan harga properti serta sewa/kontrak rumah juga menjadi faktor risiko.

Tabel III.4.1.Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jakarta

I II III IV Total I II IIIp IVp Totalp

PDRB (%,yoy) 6.7 6.5 6.5 6.3 6.2 5.6 6.1 6.0 6.1 6.1 5.9-6.3 6.0-6.4

Sisi Permintaan

Konsumsi 6.2 5.8 5.3 5.6 6.2 5.6 5.7 6.4 5.7 6.0 5.7-6.1 5.9-6.3

Konsumsi swasta 6.2 6.3 5.7 5.9 6.0 5.7 5.8 6.1 6.1 6.1 5.8-6.2 6.0-6.4

Konsumsi Pemerintah 3.7 1.1 0.4 2.8 9.5 5.2 4.7 10.7 1.0 4.4 5.2-5.6 7.4-7.8

Pembentukan Modal Tetap Bruto 10.0 9.0 5.9 5.0 4.7 5.3 5.3 5.8 4.2 5.5 5.5-5.9 5.3-5.7

Ekspor 12.2 6.3 5.7 4.7 3.3 0.6 3.5 0.5 0.8 1.8 2.0-2.4 1.3-1.7

Impor 12.8 7.0 4.3 3.2 2.2 0.1 2.5 0.1 (1.1) 0.9 1.2-1.6 0.3-0.7

Sisi Produksi

Sektor pertanian 0.8 0.8 1.5 0.7 2.7 1.8 1.6 1.5 0.9 0.7 0.5-0.9 0.4-0.8

Sektor pertambangan & penggalian 8.6 (0.9) (0.4) (0.7) (1.0) (1.3) (0.8) (1.6) (1.6) (0.4) (-0.8) - (-0.4) (-0.6) - (-1.0)

Industri pengolahan 2.4 2.4 1.9 1.5 2.8 3.3 2.4 3.9 3.4 3.6 3.6-4.0 3.8-4.2

Listrik, gas & air bersih 4.0 4.5 3.8 2.6 1.7 2.5 2.9 2.1 2.6 3.0 3.9-4.3 4.0-4.4

Bangunan 7.9 6.9 6.5 6.3 5.7 6.1 5.7 5.8 5.7 6.0 5.8-6.2 6.1-6.5

Perdagangan, hotel & restoran 7.4 7.2 7.2 7.2 6.6 4.8 6.4 5.6 5.8 5.8 5.8-6.2 5.7-6.1

Pengangkutan & komunikasi 13.9 11.8 11.4 11.4 10.9 9.8 10.8 10.6 11.5 11.3 10.8-11.2 11.0-11.4

Keuangan, persewaan dan jasa perush. 5.0 5.4 5.7 5.4 5.0 4.6 5.2 4.6 4.6 4.6 4.7-5.1 4.7-5.1

Jasa-jasa 6.9 7.6 7.5 7.4 7.9 7.4 7.5 7.6 7.8 7.5 7.0-7.4 7.1-7.4

Inflasi IHK (%,yoy) 3.97 4.52 5.70 5.67 8.38 8.00 8.00 7.53 7.09 5.38 5.4-5.8 5.4-5.8

Sumber: Ba da n Pus a t Statis tik, di ol a h

p proyeks i Ba nk Indones i a

Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi

Wilayah 2011 2012

Perekonomian Sumatera mencatat pertumbuhan ekonomi yang melambat pada triwulan II 2014. Secara agregat, perekonomian Sumatera mencatat angka pertumbuhan sebesar 5,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,4% (yoy). Perlambatan terjadi hampir di seluruh daerah, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis produksi tambang dan juga perkebunan. Perlambatan terdalam di Sumatera tercatat terjadi di Provinsi Riau terkait penurunan kinerja lifting minyak dan gas (migas). Perlambatan juga terjadi di daerah-daerah berbasis perkebunan seperti Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Selatan, yang disebabkan oleh penurunan produksi dan pelemahan harga Crude Palm Oil (CPO) dan karet.

Memasuki triwulan III 2014, beberapa indikator perekonomian mengindikasikan perekonomian Sumatera relatif tumbuh stabil. Permintaan domestik yang masih cukup kuat disertai dengan peningkatan realisasi anggaran pemerintah diperkirakan turut menopang perekonomian Sumatera untuk tumbuh stabil, di tengah neraca perdagangan yang belum membaik. Hal tersebut didukung peningkatan konsumsi menjelang Hari Raya Idul Fitri dan libur sekolah serta ekspektasi konsumen yang masih terjaga. Konsumsi pemerintah yang meningkat terjadi pada belanja pegawai, yaitu penyaluran gaji ke-13 dan belanja barang. Sejalan dengan kenaikan belanja pemerintah, investasi pemerintah juga meningkat, ditopang oleh mulai bergeraknya proyek infrastruktur pemerintah pasca proses lelang. Investasi swasta juga diprakirakan akan menggeliat selepas pemilu presiden, yang sempat memberi faktor ketidakpastian berinvestasi bagi para pelaku usaha. Kapasitas perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi tertahan oleh melambatnya ekspor neto akibat tren penurunan harga komoditas ekspor utama CPO dan karet.

Di sisi harga, perkembangan inflasi Sumatera hingga Juli 2014 menunjukkan tren yang terus menurun. Melimpahnya pasokan bahan makanan, terutama komoditas bumbu-bumbuan, di sejumlah daerah di Sumatera mendorong koreksi harga pada periode tersebut. Selain itu, tekanan inflasi pada periode bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tidak setinggi pola historisnya. Hal ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengelolaan ekspektasi masyarakat melalui peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Hingga akhir triwulan III 2014, inflasi Kawasan Sumatera diprakirakan sedikit meningkat dibandingkan awal triwulan. Hal tersebut terutama bersumber dari inflasi administered prices terkait dengan perluasan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) rumah tangga dan industri mulai 1 Juli 2014. Selain itu, fenomena El Nino berpotensi menurunkan produksi dan kualitas hasil pertanian, yang selanjutnya berdampak pada ketersediaan pasokan bahan pangan.

Pertumbuhan kredit perbankan di Sumatera pada akhir triwulan II 2014 sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, seiring dengan perlambatan perekonomian. Kredit perbankan Sumatera tumbuh 15,2% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2014 yang mencapai 16,1% (yoy). Kendati, penyaluran kredit kepada sektor utama masih mengalami peningkatan, terdapat tren kenaikan kredit bermasalah (nonperforming loan/ NPL) dari 2,6% pada triwulan I 2014 menjadi 2,8% pada triwulan II 2014. Terus menurunnya harga komoditas ekspor utama mulai terlihat dampaknya pada tingkat kolektibilitas kredit perbankan. Berdasarkan penggunaan, hampir separuh kredit di kawasan Sumatera

disalurkan dalam bentuk kredit modal kerja. Di tengah perlambatan ekonomi Sumatera, kegiatan UMKM terindikasi masih menggeliat dengan pembiayaan kredit yang masih tinggi.

Di tengah perlambatan perekonomian Sumatera, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran RTGS dan kliring maupun aliran uang tunai melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Sumatera mengalami peningkatan. Pada triwulan II 2014 transaksi RTGS di Kawasan Sumatera tercatat sekitar Rp691,18 triliun, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp550,42 triliun. Sementara itu, aliran uang dari dan ke Sumatera tercatat mengalami net outflow sebesar Rp5,76 triliun. Sesuai pola historisnya, Sumatera kembali mengalami net outflow pada triwulan II 2014, seiring dengan peningkatan transaksi menjelang Idul Fitri dan masa libur sekolah.

Prospek perekonomian Sumatera pada tahun 2014 diprakirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tahun lalu. Perlambatan ekspor akibat tren penurunan harga jual komoditas utama dan penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor utama memberi pengaruh pada penurunan kinerja perekonomian Sumatera. Selain itu, permasalahan struktural terkait keberlangsungan produksi SDA