-10 20 30 40 50 60
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
Triliun Rp
Nominal Pertumbuhan-sisi kanan
%, yoy
Grafik IV.2.5.Investasi PMA dan PMDN Grafik IV.2.6.Penyaluran Kredit Investasi
Perdagangan Luar Negeri
EksporTren perlambatan ekspor terus berlangsung bahkan mengalami kontraksi terutama akibat pelemahan harga komoditas ekspor utama berbasis SDA. Terus menurunnya harga CPO di triwulan II 2014 berdampak pada melemahnya nilai ekspor Sumatera Barat dan Riau (Grafik IV.2.7). Selain itu masa tanam dan kebijakan replanting membuat hasil produksi CPO dalam tren menurun pasca puncak masa panen di akhir tahun 2013. Pelemahan harga juga terjadi pada komoditas karet yang berpengaruh signifikan pada perekonomian Jambi. Dengan berbagai permasalahan tersebut, ekspor mengalami kontraksi sebesar 0,7% (yoy) di triwulan II 2014 dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,9% (yoy). Kinerja ekspor diprakirakan membaik di triwulan III seiring dengan meningkatnya produksi dan permintaan komoditas ekspor utama. Di tengah penurunan harga CPO dan karet yang masih terjadi sampai dengan pertengahan triwulan III 2014, mulai masuknya masa panen CPO dan membaiknya permintaan akan karet mampu mendorong volume ekspor Sumbagteng. Kondisi tersebut ditopang oleh perbaikan ekonomi India sebagai negara tujuan ekspor utama CPO dan menurunnya persediaan karet di Tiongkok. Di luar komoditas berbasis SDA, berdasarkan liaison, ekspor elektronik dari Kepulauan Riau berpotensi meningkat seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi global.
(60) (30) 0 30 60 90 120 150 (40) (20) 0 20 40 60 80
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
Ekspor Non Migas Karet Mentah-skala kanan CPO-skala kanan
%, yoy %, yoy
Grafik IV.2.7.Perkembangan Nilai Ekspor
Nonmigas dan Komoditas Utama
Grafik IV.2.8.Pertumbuhan Nilai Impor Menurut
Kategori Barang
Impor
Kontraksi juga terjadi pada impor yang masuk ke wilayah Sumbagteng pada triwulan II 2014 seiring dengan depresiasi rupiah dan perlambatan kegiatan investasi. Pertumbuhan impor triwulan II 2014 di Sumbagteng tercatat sebesar -4,0% (yoy) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,1% (yoy). Melemahnya investasi di tahun pemilu berdampak pada kontraksi impor bahan baku yang semakin dalam (Grafik IV.2.8). Selain itu, nilai tukar rupiah yang terbilang lemah menghambat aktivitas impor karena relatif mahalnya harga barang impor .
Impor diprakirakan mulai tumbuh positif pada triwulan III 2014 sebagai dampak dari peningkatan kegiatan investasi dan penguatan nilai tukar rupiah. Realisasi beberapa proyek infrastruktur berskala besar, baik oleh pemerintah maupun swasta, diperkirakan berdampak pada kenaikan impor barang modal. Indikasi kenaikan impor barang sudah mulai terlihat pada di triwulan II 2014. Selain itu peningkatan konsumsi, yang ditopang oleh penguatan daya beli sebagai imbas dari apresiasi nilai tukar rupiah, juga mendorong naik impor barang konsumsi.
-200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 -200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 2011 2012 2013 2014
Harga TBS Harga CPO dunia - sisi kanan
Rp/kg USD/MT
Sumber: Dinas Pertanian dan Bloomberg
-100 200 300 400 500 600 700 -5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 2011 2012 2013 2014
Harga Bokar Harga Karet Dunia - skala kanan
Rp/kg USD cent/kg
Sumber: Dinas Pertanian dan Bloomberg
Grafik IV.2.9. Harga Tandan Buah Segar (TBS)
Kelapa Sawit dan CPO Dunia
Grafik IV.2.10.Harga Karet Mentah Domestik (Bokar) dan Karet Mentah Dunia
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertanian
Kinerja sektor pertanian mengalami perlambatan seiring dengan terus berlanjutnya penurunan harga komoditas perkebunan. Pada triwulan II 2014, sektor pertanian tumbuh sebesar 6,4% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 6,7% (yoy). Tren penurunan harga kelapa sawit dan karet
sebagai komoditas utama menjadi penyebab menurunnya nilai produk pertanian di Sumatera Barat dan Jambi (Grafik IV.2.9 dan Grafik IV.2.10). Perlambatan lebih dalam tertahan oleh kinerja produksi tanaman bahan makanan seiring masuknya musim panen beberapa komoditas pertanian, terutama beras. Hal ini juga didukung perbaikan harga gabah di Sumbar yang berimbas pada membaiknya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan II 2014 (Grafik IV.2.11 dan Grafik IV.2.12).
Melemahnya sektor pertanian diprakirakan masih akan berlanjut pada triwulan III 2014 akibat belum pulihnya harga komoditas perkebunan. Harga kelapa sawit dan karet yang terus menurun sampai dengan bulan Juli 2014 menghambat perbaikan di sektor pertanian. Produksi karet juga masih terbatas akibat implementasi rekomendasi Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) untuk mengurangi produksi karet yang berorientasi ekspor sebesar 10% sebagai upaya untuk meningkatkan harga karet mentah di pasar internasional. Selain itu juga terdapat risiko El Nino yang dapat berdampak negatif pada produktivitas perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain, terdapat potensi pemulihan harga karet seiring dengan mulai berkurangnya suplai karet di Tiongkok. .
94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 2011 2012 2013 2014 Indeks
NTP Umum NTP Perkebunan NTP Tanaman Pangan
Sumber: BPS, diolah -10 0 10 20 30 40 50 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 5.500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 2011 2012 2013 2014 %, yoy Rp/kg
Rata-rata Harga Gabah GKP Pertumbuhan-skala kanan
Sumber: BPS Sumbar
Grafik IV.2.11. Indeks Nilai Tukar Petani Umum dan
Sektor Perkebunan Sumbagteng
Grafik IV.2.12.Harga Gabah di Tingkat Penggilingan Sumbar
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi pada triwulan II 2014 akibat penurunan lifting migas. Terdapat tantangan struktural pada kinerja sektor pertambangan dan penggalian di Sumbagteng, yang terkontraksi 2,4% (yoy) pada triwulan II 2014 dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,9% (yoy). Hal tersebut terkait dengan keberlangsungan produksi SDA migas. Lifting minyak di Riau, yang memiliki kontribusi mencapai 88% terhadap sektor pertambangan dan penggalian di Sumbagteng, terus menurun sepanjang waktu (Grafik IV.2.13). Kondisi ini dikarenakan sulitnya menjaga konsistensi produktivitas sumur-sumur minyak tua, minimnya penemuan sumur baru, dan kurang efektifnya penggunaan teknologi yang lebih modern di sumur tua.
Sektor pertambangan dan penggalian diprakirakan masih mengalami kontraksi di triwulan III 2014. Berdasarkan perkembangan terkini, tren penurunan lifting minyak di Riau terus berlanjut di bulan Juli 2014. Meskipun demikian, terdapat indikasi sejumlah perusahaan pertambangan masih melakukan investasi untuk menahan laju penurunan lifting migas tercermin dari meningkatnya pertumbuhan kredit di Sumbagteng dan investasi PMDN di Riau (Grafik IV.2.14 dan Grafik IV.2.5). Kondisi ini diharapkan mampu menahan penurunan lifting migas yang lebih besar ke depan.
-60 -50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 0 50 100 150 200 250 300 350 400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 2012 2013 2014
Lifting Pertumbuhan-skala kanan
Ribu barel/hari % yoy
Sumber: Kementerian ESDM
27,5% 29,0% -60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
Nominal Sumbagteng Pertumbuhan-skala kanan Pertumbuhan Riau-skala kanan
Triliun Rp yoy
Grafik IV.2.13. Lifting Minyak Riau Grafik IV.2.14.Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan mencatat perbaikan di seluruh provinsi di Sumbagteng ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga di triwulan II 2014. Perbaikan daya beli, masuknya masa libur sekolah, dan periode bulan Ramadhan serta peningkatan jumlah wisatawan akibat pelaksanaan beberapa kegiatan berskala besar dan internasional mampu mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan dari 5,1% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 5,9% (yoy) di triwulan II 2014.
Perbaikan sektor industri pengolahan diprakirakan berlanjut hingga triwulan III 2014 ditopang oleh masih tingginya konsumsi domestik. Peningkatan pembelian produk makanan dan minuman pada hari raya Idul Fitri serta kuatnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama pendorong kinerja sektor tersebut. Di sisi eksternal, permintaan terhadap produk elektronik dari Kepulauan Riau memasuki puncaknya di triwulan III 2014 sebagaimana pola historisnya. Perbaikan sektor industri pengolahan juga terkonfirmasi dari perkiraan kegiatan usaha mendatang dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) (Grafik IV.2.15).
-5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% Realisasi Perkiraan
Triwulan II 2014 Triwulan III 2014
Jasa Keuangan Angkutan&Komunikasi PHR Bangunan Listrik,Gas&Air Bersih Ind. Pengolahan Pertambangan Pertanian SBT (20) 0 20 40 60 80 100 0 100 200 300 400 500 600 700 800
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II
2010 2011 2012 2013 2014
Nilai Ekspor Produk Elektronik g.Ekspor Brg. Elektronik-sisi kanan
Juta US$ % yoy
Grafik IV.2.15. Realisasi dan Perkiraan Kegiatan
Usaha Triwulan II 2014 (SKDU)
Grafik IV.2.16.Nilai Ekspor Produk Elektronik
PERKEMBANGAN INFLASI
Penurunan laju inflasi Sumbagteng hingga Juli 2014 terus berlanjut dan menunjukkan perbaikan ke sasaran target inflasi nasional sebesar 4,5±1%. Inflasi Sumbagteng tercatat sebesar 4,95% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2014 yang mencapai 7,93% (yoy) (Grafik IV.2.17). Masih tingginya pasokan bahan makanan seiring berlanjutnya musim panen di triwulan II menjadi faktor berkurangnya tekanan inflasi. Dampak tingginya permintaan pada saat musim liburan sekolah dan hari raya Idul Fitri
yang tidak setinggi pola historisnya, mendorong inflasi Sumbagteng terus ke bawah. Kondisi tersebut didukung dengan stabilnya inflasi kelompok inti seiring dengan permintaan masyarakat yang moderat (Grafik IV.2.18). Selain itu, minimnya kebijakan harga di kelompok administered prices pada triwulan II mendorong penurunan inflasi lebih lanjut.
Dengan perkembangan tersebut, tekanan inflasi secara tahunan diprakirakan cenderung meningkat pada triwulan III 2014. Resiko anomali cuaca yang dapat mengganggu musim tanam serta potensi adanya musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan kabut asap di Riau dapat mengganggu jalur distribusi dan terganggunya suplai bahan pangan pada kelompok volatile foods. Kenaikan tarif listrik industri dan rumah tangga secara bertahap mulai bulan Juli 2014 memberikan tekanan inflasi pada kelompok
administered prices. Di sisi lain, relatif stabilnya inflasi inti terlihat ekspektasi masyarakat yang terjaga.
0 2 4 6 8 10 12 1 2 34 5 67 8 9 10 11 12 1 2 34 5 67 8 9 10 11 12 1 2 34 5 67 2012 2013 2014
Sumbagteng Nasional Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi %, yoy
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
-5 0 5 10 15 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 2012 2013 2014
Umum Volatile Foods Adm. Price Core %, yoy
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Grafik IV.2.17. Perkembangan Inflasi Sumbagteng
dan Nasional
Grafik IV.2.18.Disagregasi Inflasi Sumbagteng
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Berbagai langkah untuk menjaga kemungkinan gejolak inflasi telah ditempuh di daerah khususnya sebagai antisipasi selama Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Langkah antisipasi tersebut ditempuh melalui koordinasi TPID baik di Tingkat Provinsi maupun Kabupaten/kota di Sumatera Bagian Tengah. Berbagai langkah antisipasi tersebut dibagi menjadi 4 (empat) aspek, yaitu : (i) aspek pengendalian ketersediaan pasokan, seperti kunjungan langsung dan survei lapangan ke sentra produksi, dan koordinasi dengan instansi strategis untuk memastikan kecukupan pasokan menjelang Idul Fitri, (ii) aspek keterjangkauan harga, dengan melakukan operasi pasar/ pasar murah, bazar, dan penyaluran raskin, serta pengawasan tarif angkutan pada H-7 dan H+7 Idul Fitri, (iii) aspek kelancaran distribusi, melalui pengaturan jalur distribusi komoditas oleh Dishub dengan aturan pembatasan angkutan barang, koordinasi bersama Polda dan Dishub terkait keamanan dan kelancaran pasokan bahan makanan menjelang Idul Fitri serta, (iv) aspek pengelolaan ekspektasi masyarakat, melalui pembuatan iklan layanan masyarakat, dialog interaktif melalui radio dan televisi, pelaksanaan press conference bersama instansi terkait dalam menjaga gejolak konsumsi masyarakat menjelang Idul Fitri.