20 40 60 80 100 120 140
I II III IV I II III IV I II III IV I
2011 2012 2013 2014
Rp Triliun RTGS gRTGS (Skala Kanan) %yoy
Grafik IV.1.25. Perkembangan RTGS Outgoing
-5 0 5 10 15 20 25 30 35 5 10 15 20 25 30
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
Rp Triliun
Kliring gKliring (Skala Kanan)
%yoy
Grafik IV.1.26. Perkembangan Perputaran Kliring
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Aliran uang kartal di berbagai daerah di Sumbagsel triwulan II 2014 mengalami net outflow, sesuai dengan pola normalnya. Net outflow ini terjadi di seluruh provinsi di Sumbagsel yang disebabkan oleh menurunnya inflow dan meningkatnya outflow. Net inflow di wilayah Sumbagsel mencapai Rp3,2 triliun rupiah. Di sisi lain, rasio pemusnahan uang lusuh terhadap uang kartal yang masuk ke kantor Bank Indonesia mengalami sedikit peningkatan sejalan dengan upaya untuk menjaga ketersediaan uang layak edar (clean money policy) bagi masyarakat luas. Pada triwulan ini, Kantor Perwakilan BI membuka kas titipan baru di Kota Prabumulih, untuk memperlancar distribusi uang kartal di wilayah Sumsel.
Menjelang Idul Fitri, kantor Bank Indonesia di wilayah Sumbagsel melayani penukaran uang di kantor BI dan juga bekerjasama dengan bank-bank komersial lainnya. Hal tersebut dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat dapat menjangkau lebih luas. Selanjutnya, seluruh kantor perwakilan BI juga senantiasa memberikan edukasi keaslian uang rupiah agar masyarakat juga dapat membedakan uang yang asli dan uang yang diragukan keasliannya, serta mengetahui mekanisme pelaporan jika menemukan uang yang diragukan keasliannya tersebut.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan EkonomiMencermati perkembangan terakhir, pertumbuhan ekonomi Sumbagsel untuk keseluruhan tahun 2014 diperkirakan revisi ke bawah, melambat dibandingkan periode 2013. Perubahan ke bawah diakibatkan oleh prospek perbaikan ekonomi global yang tidak secepat proyeksi sebelumnya, sehingga harga komoditas utama internasional juga belum menunjukkan perbaikan. Kondisi mitra dagang komoditas karet masih menunjukkan perlambatan, akibat melimpahnya pasokan di Tiongkok dan perlambatan industri otomotif di Amerika Serikat, serta meningkatnya pasokan karet dari negara produsen
nontradisional. Kebijakan Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara, yang mewajibkan penambang untuk terdaftar menjadi Eksportir Terdaftar Batubara sebelum melakukan ekspor yang akan mulai diberlakukan pada 1 September 2014 diperkirakan akan membuat tekanan yang bersifat sementara bagi para penambang batubara di Sumbagsel.
Seiring dengan kondisi global yang penuh ketidakpastian, beberapa tantangan perlu diperhatikan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Sumbagsel. Pemerintah Daerah, asosiasi, dan pelaku usaha perlu untuk meningkatkan daya saing, melalui peningkatan kualitas dan hilirisasi pengolahan komoditas Sumsel serta percepatan pembangunan infrastruktur. Menanggapi harga karet internasional yang masih belum mengalami perbaikan, Pemda dan asosiasi sudah melakukan langkah perbaikan dengan mencanangkan program bahan olahan karet (bokar) bersih.
Prospek Inflasi
Inflasi Sumbagsel pada tahun 2014 diperkirakan konsisten menurun dan kembali ke pola normalnya pasca kenaikan BBM di tahun 2013. Prospek terjaganya inflasi didukung oleh perkiraan pasokan pangan yang terjaga dengan koordinasi yang erat oleh TPID yang terus bertambah di setiap kota dan kabupaten. Selain itu, dengan bertambahnya TPID, ekspektasi inflasi dapat diminimalisasi dengan penambahan implementasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS).
Namun, masih terdapat potensi risiko yang membayangi kenaikan inflasi terutama kelompok
administered price antara lain kebijakan kenaikan harga listrik berkala untuk golongan industri besar dan
rumah tangga golongan 1300-5500 VA yang akan diberlakukan hingga akhir 2014, serta pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi melalui pembatasan penjualan solar dan penghapusan penjualan premium di jalan tol.
Tabel IV.1.3. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sumatera Bagian Selatan
I II III IV Total I II IIIp
IVp Totalp PDRB (%,yoy) 6.5 6.2 6 5.8 5.6 6.4 5.9 5.9 5.5 5.6 5.8-6.3 5.6-6.1 Sisi Permintaan Konsumsi 6.5 6.5 7.2 7.1 8.3 7.3 7.5 6.8 5.9 6.1 7.0-7.5 6.4-6.9 Konsumsi swasta 6.2 6.6 7.3 7.7 8.1 8.1 7.8 7 6 6.5 7.6-8.1 6.7-7.2 Konsumsi Pemerintah 7.9 5.5 6.1 3.1 9.3 3.9 5.5 5.4 5.2 3.7 3.8-4.3` 4.3-4.8 PMTB 11.6 11.4 8.7 7 4.3 7.5 6.8 6.3 5 5.4 4.0-4.5 5.0-5.5 Ekspor 17 3.5 10.5 7.3 5.7 11 8.6 10.1 7.2 7.1 4.0-4.5 6.8-7.3 Impor 25.8 7.5 11.9 15 12.6 31.3 18 19.7 16.1 16.1 3.5-4.0 13.0-13.5 Sisi Produksi Sektor pertanian 5.1 5.1 1.7 3.2 3.2 10 4.4 5.9 3.4 3.1 2.7-3.2 3.5-4.0
Sektor pertambangan & penggalian 3.1 0.8 1.4 2.5 1 1.9 1.7 1.7 1.2 0.9 0.4-0.9 0.8-1.3
Industri pengolahan 5.3 5.1 8.1 7 5.8 5.6 6.6 4.5 7.2 6.5 4.1-4.6 5.5-6.0
Listrik, gas & air bersih 8.7 8.7 7.3 8.3 8.8 7.4 8.3 6.2 5.5 5.7 4.6-5.1 5.6-6.1
Bangunan 11.6 8.4 10.2 8.7 7.2 4.2 7.5 5.9 6.6 7.9 8.5-9.0 7.0-7.5
Perdagangan, hotel & restoran 7.1 7.6 8.6 6.9 7.1 5 6.9 7 7.6 7.9 9.5-10.0 7.8-8.3
Pengangkutan & komunikasi 12.2 11.3 8.9 8.8 7.5 7.1 8 7.6 7.7 8.4 9.0-9.5 8.0-8.5
Keuangan, persewaan dan jasa perush. 8.1 10.5 10.9 8.8 9.3 7.3 9 9 7.9 8.1 10.4-10.9 8.8-9.3
Jasa-jasa 7.9 8.4 8.8 7.2 10.5 6.7 8.3 7.8 6.4 7.5 7.3-7.7 7.2-7.7
Inflasi IHK (%,yoy) 4 3.7 6.2 4.9 7.6 7.6 7.6 6.2 5.3 4.5 4.4-4.9 4.4-4.9
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) mengalami perlambatan cukup dalam dibandingkan dengan triwulan lalu. Berbeda dengan perkiraan sebelumnya, menurunnya kinerja ekspor komoditas pertanian, masih rendahnya investasi, serta penurunan lifting migas yang signifikan berdampak pada lebih rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi Sumbagteng. Pada triwulan II 2014 yang hanya tumbuh 4,5% (yoy), menurun dari 5,4% (yoy) pada triwulan I 2014. Penurunan kinerja ekspor disebabkan oleh melemahnya harga dan penurunan produksi CPO dan karet di sejumlah daerah di Sumbagteng. Sementara itu, faktor ketidakpastian politik di tahun pemilu menjadi penyebab investasi tumbuh rendah.
Berbagai indikator ekonomi terkini menunjukkan kinerja ekonomi Sumbagteng mengalami sedikit perbaikan pada triwulan III 2014. Pertumbuhan ekonomi, yang diprakirakan sebesar 4,6% (yoy), ditopang oleh kegiatan konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, dan investasi. Masih cukup kuatnya konsumsi yang ditopang oleh relatif terjaganya daya beli serta didukung oleh penyerapan anggaran belanja pemerintah daerah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2014. Sementara itu, kinerja investasi, baik swasta dan pemerintah, diprakirakan membaik pasca pemilu dan memasuki semester II 2014. Meningkatnya aktivitas konsumsi tersebut berdampak pada peningkatan sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR).Untuk keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Sumbagteng diprakirakan tumbuh di kisaran 4,6%-5,0% (yoy).
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Terjaganya daya beli masyarakat disertai penurunan laju inflasi berdampak pada meningkatnya konsumsi rumah tangga di triwulan II 2014. Peningkatan yang terjadi di seluruh provinsi di Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) tersebut juga berasal dari kenaikan konsumsi di bulan Ramadhan dan masa liburan sekolah. Selain itu, penyelenggaraan sejumlah kegiatan berskala nasional dan internasional seperti MTQ Nasional XXV dan Bintan Triathlon di Kepulauan Riau serta Tour de Singkarak di Sumatera Barat mampu mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh signifikan dari 6,1% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 7,3% (yoy) pada triwulan II 2014.
Perkembangan terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh kuat pada triwulan III 2014. Konsumsi makanan dan minuman serta produk dan jasa transportasi diperkirakan meningkat menjelang dan setelah hari raya Idul Fitri. Kenaikan konsumsi tersebut ditopang oleh daya beli yang masih kuat sebagaiaman terindikasi dari hasil Survei Konsumen yang menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada pada level yang tinggi. Keyakinan tersebut ditopang oleh optimisme pelaku usaha dan ketersediaan lapangan kerja seiring dengan stabilnya kondisi perekonomian (Grafik IV.2.1). Namun demikian, penguatan konsumsi diperkirakan relatif terbatas, tercermin dari pertumbuhan kredit konsumsi yang menurun (Grafik IV.2.2).
Grafik IV.2.1.Indeks Keyakinan Konsumen Grafik IV.2.2. Penyaluran Kredit Konsumsi
Konsumsi Pemerintah
Kenaikan belanja pemerintah mulai terlihat di triwulan II 2014. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi dari 1,9% (yoy) di triwulan I 2014 menjadi 4,2% (yoy) di triwulan II 2014. Telah selesainya pengesahan APBD di seluruh daerah berdampak pada meningkatnya kapasitas belanja pemda. Selain itu belanja barang mengalami kenaikan sejalan dengan telah berlangsungnya sejumlah proyek pengadaan barang.
Peningkatan konsumsi pemerintah diprakirakan terus berlanjut di triwulan III 2014 sesuai dengan pola historisnya. Kondisi ini sejalan dengan semakin besarnya nilai proyek pengadaan barang yang terealisasi dan adanya penyaluran gaji ke-13. Meningkatnya konsumsi didukung oleh kapasitas belanja yang besar dampak dari penyaluran DBH migas yang sempat tertunda di triwulan I 2014, terlihat dari simpanan dana milik pemda di perbankan yang meningkat signifikan pada triwulan II 2014 (Grafik IV.2.3).
Grafik IV.2.3. Perkembangan Simpanan Pemda di
Bank Umum
Grafik IV.2.4. Realisasi dan Perkiraan Investasi
Triwulan I 2014 (SKDU)
Investasi
Kinerja investasi pada triwulan II 2014 tumbuh melambat menjadi 5,6% dibanding 5,9% pada triwulan sebelumnya. Hal tersebut antara lain dipengaruhi oleh cenderung masih melemahnya harga komoditas dan preferensi pelaku usaha untuk melihat situasi hasil pelaksanaan Pemilu. Kondisi ini terlihat juga pada melambatnnya pertumbuhan kredit dan nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang sebagian besar investasi lebih diperuntukan untuk perawatan dan peremajaan mesin industri (Grafik IV.2.5 dan Grafik IV.2.6).
Investasi diprakirakan mulai tumbuh meningkat pasca pemilu di triwulan III 2014. Telah selesainya proses demokrasi yang berjalan lancar, memberikan kepastian bagi para pelaku usaha untuk mulai melakukan investasi. Optimisme tersebut terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang memperkirakan peningkatan investasi, terutama di sektor pertambangan (Grafik IV.2.4). Potensi membaiknya investasi ke depan juga terlihat dari peningkatan jumlah proyek PMA dan PMDN di triwulan II 2014. Selain dari sektor swasta, peningkatan investasi juga ditopang oleh aktivitas pemerintah dengan mulai bergeraknya proyek infrastruktur pemerintah pasca proses lelang.
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 0 50 100 150 200 250 300 I II III IV I II III IV I II 2012 2013 2014 PMDN PMA
PMDN (Miliar Rp)-skala kanan PMA ( Juta US$)-skala kanan
Jumlah Proyek Juta US$/Miliar Rp
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal
0 10 20 30 40 50 60 -10 20 30 40 50 60
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
Triliun Rp
Nominal Pertumbuhan-sisi kanan
%, yoy
Grafik IV.2.5.Investasi PMA dan PMDN Grafik IV.2.6.Penyaluran Kredit Investasi