• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdagangan Luar Negeri Ekspor

Ekspor luar negeri Jabagtim mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 10,5% (yoy) pada triwulan II 2014, dipicu oleh menurunnya volume ekspor hasil olahan logam, sebagai dampak dari implementasi UU Minerba, dan industri makanan minuman (Grafik III.1.7). Upaya diversifikasi negara tujuan mulai membuahkan hasil dengan meningkatnya ekspor ke Afrika dan Timur Tengah, meskipun

masih belum mampu mengimbangi proporsi ekspor ke negara mitra dagang utama (Jepang dan AS). Lebih dalamnya penurunan kinerja ekspor dibandingkan dengan impor menyebabkan defisit neraca perdagangan mencapai USD142,2 juta (Grafik III.1.8).

Pada triwulan III 2014, kinerja ekspor luar negeri Jabagtim diperkirakan tumbuh membaik, seiring meningkatnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Komoditas ekspor yang diperdagangkan umumnya adalah hasil olahan industri makanan, minuman dan tembakau, perhiasan, alas kaki dan furniture.

Grafik III.1.7. Kinerja Perdagangan LN & DN Grafik III.1.8. Neraca Perdagangan Ekspor LN

Grafik III.1.9. Negara Utama Tujuan Ekspor Grafik III.1.10. Bongkar Muat Ekspor DN (Tj.Perak)

Impor

Kinerja impor pada Triwulan II 2014 mengalami penurunan, sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik III.1.8. Impor Jabagtim, yang sebagian besar didominasi oleh bahan baku dan barang modal, mencirikan karakter ekonomi Jabagtim sebagai daerah industri. Perlambatan impor periode ini lebih disebabkan oleh menurunnya impor barang konsumsi, sedangkan impor barang modal dan bahan baku masih mengalami peningkatan. Berdasarkan klasifikasi HS (harmonized system) 2 digit, komposisi impor Jabagtim pada triwulan II 2014 masih didominasi oleh komoditas mesin industri (14,8% dari total impor) serta plastik (7,1%).

Tren perlambatan pertumbuhan impor Jabagtim diperkirakan masih berlanjut pada triwulan III 2014. Pertumbuhan impor Jabagtim diperkirakan masih berada pada level 4%. Impor yang juga diperkirakan

-15 -10 -5 0 5 10 -1,500,000 -1,000,000 -500,000 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000

I II III IV I II III IV I II III IV I II*

2011 2012 2013 2014

Net Ekspor LN gEkspor LN-Skala Kanan gImpor LN-Skala Kanan

L a p o r a n N u s a n t a r a | 5 3 masih akan didominasi oleh impor barang modal guna memenuhi kebutuhan proses transisi industri Jabagtim menuju semi otomasi. Selain itu, impor barang konsumsi umumnya mengalami peningkatan di saat perayaan Lebaran untuk kelompok barang tahan lama (durable goods).

Perdagangan Antar Daerah

Di tengah melambatnya ekspor Jabagtim ke daerah lain, kondisi neraca perdagangan antardaerah masih mencatatkan angka surplus sebesar USD 0,29 juta. Ekspor antardaerah Jabagtim tumbuh melambat dari 17,4% (yoy) pada triwulan I 2014 menjadi 14,2% pada triwulan II 2014. Perlambatan performa ekspor perdagangan antardaerah Jabagtim terutama didorong oleh menurunnya permintaan barang impor kendaraan industri sebagai akibat melambatnya kinerja sektor pertambangan pasca-pemberlakuan UU Minerba. Impor dari daerah lain relatif tumbuh stabil sekitar 10% (yoy), seiring dengan stabilnya kinerja sektor industri pengolahan di Jabagtim (Grafik III.1.8).

Berdasarkan data, impor Jabagtim dari daerah lain didominasi oleh kelompok bahan baku industri, diantaranya aneka kayu dan makanan laut. Sementara itu, impor barang logam menurun tajam pasca pemberlakuan UU Minerba di awal tahun 2014. Transaksi perdagangan antar daerah yang lebih rendah terindikasi pada data volume barang yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak (Grafik III.1.10). Memasuki triwulan III 2014, kinerja perdagangan antardaerah diperkirakan membaik, seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat KTI pada saat momentum Lebaran. Ekspor Jabagtim yang diperkirakan meningkat adalah kelompok barang bahan makanan dan industri mamin. Transaksi impor antardaerah pun diperkirakan mengalami peningkatan seiring prakiraan kenaikan kapasitas produksi sektor industri guna memenuhi permintaan ekspor luar negeri Jabagtim.

Kinerja Sektor Utama Daerah

Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)

Kinerja sektor PHR pada triwulan II 2014 menunjukkan perbaikan. Meningkatnya pertumbuhan PHR disebabkan oleh kenaikan transaksi perdagangan besar Jabagtim, khususnya penjualan retail, seiring masih tingginya daya beli masyarakat. Kian maraknya kegiatan MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions) dan keberadaan Kota Surabaya sebagai kota dagang, juga mendorong kinerja sektor

PHR. Di sisi lain, terjadi sedikit penurunan pada jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah Jabagtim (Grafik III.1.12).

Grafik III.1.11. Konsumsi Listrik Bisnis Grafik III.1.12. Indikator Subsektor Hotel

0% 20% 40% 60% 80%

100% TPK Hotel Berbintang Jatim

gJumlah Wisman Melalui Juanda

% 0% 20% 40% 60% 80%

100% TPK Hotel Berbintang Jatim

gJumlah Wisman Melalui Juanda

Perbaikan kinerja di subsektor perhotelan dan restoran diperkirakan terus berlanjut pada triwulan III 2014, sebagai pengaruh dari kegiatan mudik, yang dilanjutkan dengan rangkaian libur Lebaran dan tahun ajaran baru. Pelaksanaan kegiatan Jember Fashion Carnival (JFC) di Jember juga turut mendukung kenaikan kinerja sektor PHR. Selain itu, kenaikan transaksi perdagangan antarpulau saat masa puasa dan Lebaran berpotensi meningkatkan pertumbuhan sektor PHR di Jabagtim.

Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan pada triwulan II 2014 masih mampu tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan sektor industri pengolahan tercatat sebesar 6,81% (yoy), relatif stabil jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Masih tingginya pertumbuhan sektor industri pengolahan didorong oleh masih tingginya aktivitas di industri semen dan barang galian, industri makanan, minuman dan tembakau, industri tekstil, serta industri barang dari kayu dan hasil hutan lainnya. Sementara itu, kinerja industri alat angkut mesin dan peralatannya, industri logam dasar, serta industri kertas menurun. Penurunan kinerja pada industri-industri tersebut menyebabkan tertahannya laju pertumbuhan sektor industri pengolahan.

Berdasarkan hasil liaison, dampak Pemilu Presiden pada tahun ini cenderung terbatas. Tidak seperti pola Pemilu sebelumnya, yang mempu mendongkara omset penjualan, dampak pemilu tahun 2014 tidak memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan omset penjualan. Peningkatan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk perusahaan yang go public dan industri besar yang mulai berlaku pada awal Juli 2014 masih direspons terbatas oleh dunia usaha di Jabagtim. Namun, kenaikan biaya energi, yang menambah biaya operasional perusahaan sekitar 20% tersebut, berpotensi meningkatkan harga jual ke konsumen.

Pada triwulan III 2014, kinerja sektor industri pengolahan diperkirakan masih terjaga stabil. Proses produksi yang mulai mengarah kepada sistem semi otomasi akan meningkatkan produktivitas sektor industri di tengah. Meski demikian perkembangan sektor industri pengolahan masih dibayangi penurunan kinerja subsektor industri tembakau dan belum pulihnya permintaan industri alat angkut dan peralatannya ke wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI), terkait dengan belum adanya perbaikan yang berarti di sektor pertambangan.

Sektor Pertanian

Kinerja sektor pertanian pada triwulan II 2014 mengalami penurunan, yang didorong oleh melambatnya pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan dan peternakan. Dinas pertanian Jabagtim mengonfirmasi bahwa salah satu penyebab perlambatan sektor pertanian adalah terjadinya peningkatan biaya usaha tani. Keterbatasan jumlah pupuk bersubsidi mendorong sebagian petani beralih ke pupuk nonsubsidi. Peningkatan biaya juga didorong oleh naiknya biaya tenaga kerja. Pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut tidak sebanding dengan harga jual produk pertanian yang cenderung stabil dan bahkan menurun pada komoditas cabai.

Penurunan kinerja subsektor tanaman bahan makanan juga disebabkan oleh penurunan luas panen padi dan jagung pada triwulan II 2014. Penurunan luas panen tersebut disebabkan karena tanaman padi sedang berada pada masa tanam sehingga panen menurun signifikan, jika dibandingkan dengan triwulan I 2014. Sementara itu, beberapa tanaman hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit dan tomat sayur di wilayah Kediri mengalami pergeseran panen sebagai dampak dari erupsi Gunung Kelud sehingga replanting dilakukan pada Maret hingga April 2014.

Grafik III.1.13. Indeks Produksi & Kapasitas Industri Grafik III.1.14. Konsumsi Listrik Industri

Grafik III.1.15. Perkembangan Kinerja Pertanian Grafik III.1.16. Luas Lahan Tanam dan Panen Padi

Pada triwulan III 2014, kinerja sektor pertanian diprediksi meningkat seiring dengan dimulainya masa panen tanaman bahan makanan (tabama). Sementara itu, di sektor peternakan, permintaan daging sapi, daging ayam dan telur ayam yang tinggi pada lebaran turut berkontribusi pada peningkatan sektor ini. Risiko yang perlu diwaspadai adalah keterbatasan pasokan pupuk bersubsidi dan kebijakan pembatasan penggunaan solar bersubsidi yang berpengaruh pada aktivitas penangkapan ikan. Di sisi lain, juga terdapat dampak atas kebijakan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% pada penjualan produk pertanian ke industri pengolahan.

PERKEMBANGAN INFLASI

Inflasi Jabagtim hingga Juli 2014 mencapai 4,01% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 4,53% (Grafik III.1.17). Inflasi pada periode ini telah kembali kepada pola normalnya. Dampak base effect inflasi akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2013 telah hilang. Berdasarkan disagregasinya, inflasi Jabagtim terutama disebabkan oleh peningkatan harga di kelompok administered prices, sebagai akibat dari kenaikan tarif transportasi, penyesuaian tarif listrik dan kenaikan harga rokok kretek filter. Sementara itu, masih berlanjutnya persepsi masyarakan akan kenaikan harga barang-barang (ekspektasi harga masyarakat) dan peningkatan transaksi ekonomi mendorong kenaikan harga pada kelompok inflasi inti. Di sisi lain, deflasi harga pada kelompok volatile

food menjadi penahan laju inflasi periode laporan. Penurunan harga kelompok volatile food banyak

disumbang oleh kelompok bumbu-bumbuan dan buah-buahan.

(60) (40) (20) -20 40 60 80 100 120 140 160 -100 200 300 400 500 600 700 800 900 1,000

I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II

2010 2011 2012 2013 2014

Luas Panen Padi (Ha) Luas Tanam Padi (Ha) gLuas Panen Padi (%) (Skala kanan) gLuas Tanam Padi (%) (Skala kanan)

Sumber : Dinas Pertanian Prov. Jatim (diolah)

%

Pada triwulan III 2014, inflasi di Jabagtim diperkirakan akan meningkat. Penyumbang inflasi terbesar masih pada kelompok administered prices dan inflasi inti. Potensi tekanan inflasi kelompok

administered prices berasal dari kenaikan tarif tenaga listrik rumah tangga per 1 Juli 2014, kebijakan

pembatasan penjualan BBM bersubsidi sebesar 46 juta KL, yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014, serta pemberlakuan pajak tembakau. Selanjutnya, meningkatnya tekanan inflasi inti didorong oleh masih tingginya ekspektasi masyarakat sebagai respons atas berbagai kebijakan pemerintah, serta potensi kenaikan harga pada kelompok pendidikan seiring tibanya tahun ajaran baru. Dari sisi eksternal, pergerakan nilai tukar rupiah dan fluktuasi harga komoditas internasional diperkirakan masih memengaruhi level harga di Jabagtim khususnya untuk sisi tradable. Dari kelompok volatile foods, potensi tekanan kenaikan harga bersumber dari meningkatnya permintaan masyarakat pada periode puasa dan Lebaran, meskipun sebagian tanaman bahan makanan mengalami panen gadu. Secara keseluruhan 2014, inflasi Jabagtim diperkirakan akan berada di kisaran 4,3% - 4,6% (yoy), masih sejalan dengan target inflasi nasional di kisaran 4,5% + 1%.

Grafik III.1.17. Perkembangan Inflasi Tw I 2014 Grafik III.1.18. Disagregasi Inflasi Tw I 2014

Koordinasi Pengendalian Inflasi

Strategi TPID di seluruh wilayah Jabagtim diarahkan pada lima strategi utama, yaitu 1) penguatan kelembagaan, 2) penguatan strategi produksi, distribusi & konektivitas, 3) regulasi dan monitoring, 4) kajian dan rekomendasi, dan 5) upaya pengendalian ekspektasi. Strategi penguatan kelembagaan dilaksanakan dengan mendorong pembentukan TPID di tingkat Kabupaten/Kota. Saat ini telah terbentuk 35 TPID Kab/Kota, sedangkan 3 lainnya masih dalam proses pembentukan. Selama Ramadhan, kegiatan TPID banyak difokuskan pada pelaksanaan operasi pasar melalui pemberian subsidi untuk biaya produksi komoditas strategis, kerjasama mendukung kelancaran distribusi, pengawasan barang beredar dan menjaga ekspektasi masyarakat terkait kecukupan stok pangan menjelang Ramadhan dan Lebaran.

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN

Ketahanan Sektor Korporasi

Perkembangan kinerja bank umum di Jabagtim sampai dengan triwulan II 2014 menunjukkan pertumbuhan yang melambat. Perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit bank umum terjadi baik berdasarkan lokasi bank pelapor maupun lokasi proyek. Jumlah kredit berdasarkan lokasi bank pelapor di Jabagtim mencapai Rp 325,45 triliun atau tumbuh 18,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan

triwulan I 2014 (23,2%). Sementara itu, kredit berdasarkan lokasi proyek yang disalurkan bank umum di Jabagtim mencapai Rp 369,96 triliun, atau tumbuh sebesar 19,1% (yoy), juga melambat jika dibandingkan dengan triwulan I 2014. Selain karena pertimbangan dari sisi industri perbankan yang cenderung mengetatkan target penyaluran kredit di daerah, perlambatan ekspansi kredit perbankan tersebut juga terkait dengan menurunnya kinerja perekonomian Jabagtim.

Rasio penyaluran kredit perbankan terhadap DPK (dana pihak ketiga) di Jabagtim relatif tinggi, yaitu hingga mencapai 90,8% (berdasarkan lokasi bank) dan 103,5% (berdasarkan lokasi proyek). Meski demikian, tingginya rasio tersebut masih ditopang oleh terjaganya risiko kredit pada level yang cukup rendah. Risiko kredit, yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL), pada triwulan II 2014 tercatat stabil pada level yang relatif rendah yaitu 2,1% .

Penyaluran pembiayaan kepada sektor utama di Jabagtim memiliki kecenderungan yang sejalan dengan struktur sektoral perekonomian Jabagtim. Penyaluran kredit di Jabagtim didominasi oleh tiga sektor ekonomi utama yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran, serta sektor pertanian. Kredit ke sektor industri pengolahan memiliki proporsi terbesar yaitu 28,3% atau sebesar Rp 90,2 triliun yang diikuti oleh kredit di sektor perdagangan besar dan eceran dengan porsi sebesar 26,4% atau mencapai Rp 83,9 triliun. Sementara itu, kredit di sektor pertanian memiliki porsi 2,8% atau sebesar Rp 10,2 triliun. Rendahnya porsi pembiayaan ke sektor pertanian disebabkan oleh masih tingginya risiko kredit (NPL) yang mencapai 4,9%. Di sisi lain, NPL di sektor industri pengolahan dan perdagangan relatif rendah yaitu 2%, menjadi faktor pendukung masih tingginya penyaluran kredit pada kedua sektor tersebut.

Grafik III.1.19. Penyaluran Kredit Grafik III.1.20. Penyaluran Kredit Sektor Utama

Ketahanan Sektor Rumah Tangga

Pertumbuhan penyaluran kredit rumah tangga di Jabagtim pada triwulan II 2014 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan I 2014. Relatif masih kuatnya pertumbuhan ekonomi Jabagtim pada triwulan II 2014 mendorong kuatnya daya beli konsumen Jabagtim. Masih tingginya kebutuhan rumah masyarakat akan rumah dan kelancaran mobilitas, yang didukung dengan daya beli yang memadai, menyebabkan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) terus meningkat. Penyaluran KPR mencapai Rp 27,83 triliun, atau mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu 26,4% (yoy). KPR terbesar diperuntukan bagi pembelian rumah dengan tipe 22 sampai dengan 70, mencapai 44,2% dari total KPR yang disalurkan, atau mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 30,6% (yoy). Ekspansi kredit KPR untuk rumah tipe 22-70

diperkirakan masih akan berlanjut, mengingat risiko kredit pada segmen ini relatif rendah, bahkan cenderung turun.

Grafik III.1.21. Penyaluran Kredit Grafik III.1.22. Penyaluran Kredit Sektor Utama

Grafik III.1.23.Penyaluran Kredit UMKM Grafik III.1.24. NPL Kredit UMKM

Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Sampai dengan triwulan II 2014, jumlah kredit UMKM yang disalurkan mencapai Rp 92,3 triliun atau tumbuh 15,9% (yoy). Walaupun lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 19,12% (yoy), kinerja kredit UMKM masih searah dengan arah perekonomian Jabagtim. Penyaluran kredit UMKM oleh perbankan di Jabagtim pada masa mendatang diperkirakan masih akan tumbuh positif seiring membaiknya kinerja perekonomian. Namun, masih terbatasnya pertumbuhan sektor riil akan berdampak pada prospek pembiayaan investasi dan modal kerja untuk UMKM.

Kinerja Sistem Pembayaran

Pada Triwulan II 2014, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran dengan menggunakan sistem RTGS dan kliring di Jabagtim tumbuh meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Tercatat transaksi kliring secara nominal mencapai Rp 47,21 triliun dengan jumlah warkat kliring sebanyak 1,2 juta lembar. Jumlah tersebut meningkat 5,97% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, transaksi RTGS mencapai Rp 466,6 triliun dengan volume sebanyak 239.220 transaksi. Peningkatan transaksi sistem pembayaran nontunai periode ini terkait dengan adanya momen tahun ajaran baru, puasa dan menjelang lebaran.

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 I II III IV I II III IV I II 2012 2013 2014

%

NPL UMKM

Kinerja Pengelolaan Uang Tunai

Pada triwulan II 2014, jumlah aliran uang kartal dari dan ke Bank Indonesia di wilayah Jabagtim kembali menunjukkan posisi net inflow (Rp. 1,39 Triliun), lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya Rp. 9,05 Triliun. Net inflow yang terjadi terkait dengan kembali normalnya aktivitas ekonomi masyarakat dan kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan dana simpanannya di perbankan menjelang libur tahun ajaran baru, Ramadhan dan lebaran.

Grafik III.1.25. Transaksi RTGS Grafik III.1.26. Transaksi Kliring

Grafik III.1.27. Temuan UPAL Grafik III.1.28. Perkembangan Netflow

PROSPEK PEREKONOMIAN

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Secara keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Jabagtim diprakirakan mencapai 6,0% - 6,4% (yoy), cenderung melambat dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 6,5%. Perlambatan ekonomi disebabkan oleh menurunnya kinerja dua sektor unggulan, yaitu sektor pertanian dan PHR. Namun, ekspektasi membaiknya daya saing sektor industri pasca-proses transisi ke sistem semi otomasi diharapkan menjadi faktor pendorong peningkatan pertumbuhan di sektor industri.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan tahun 2014. Dampak Pemilu terbesar terjadi pada triwulan II yaitu pada saat pelaksanaan Pilpres 2014. Sementara itu, masih berlangsungnya aksi wait and see pelaku investasi diperkirakan berlangsung hingga triwulan III 2014. Hal ini menyebabkan terkoreksinya pertumbuhan, khususnya di investasi bangunan. Kinerja investasi nonbangunan diprediksi mengalami peningkatan, yang tercermin dari

kenaikan kebutuhan impor mesin dan suku cadang, sejalan dengan proses transisi semi otomasi pada sektor industri manufaktur. Perlambatan sektor pertambangan KTI yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun, memengaruhi kenerja ekonomi Jabagtim, terutama pada kinerja perdagangan antardaerah. Perlambatan ekspor ke wilayah KTI lebih didominasi oleh menurunnya permintaan mesin dan alat berat.

Prospek Inflasi

Pada akhir tahun 2014, inflasi Jabagtim diproyeksikan berada di kisaran 5,0% - 5,4%, masih mendukung pencapai sasaran inflasi nasional yang sebesar 4,5% + 1%. Rendahnya tekanan inflasi kelompok

administered prices disebabkan oleh pengaruh base effect dari kenaikan harga BBM tahun 2013. Selain

itu, kebijakan kenaikan tarif listrik secara bertahap dapat meminimalkan dampak pada kenaikan harga komoditas industri. Namun, masih terdapat beberapa risiko yang patut dicermati yaitu dampak dari kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi, rencana penyesuaian harga bahan bakar rumah tangga serta berlanjutnya kenaikan tarif cukai rokok kretek.

Tabel III.3.1. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Jawa Bagian Timur

Pertumbuhan

Ekonomi dan Inflasi Wilayah I II III IV Total I II IIIp IVp Totalp

PDRB (%,yoy) 7.2 7.3 6.7 6.9 6.5 6.2 6.5 6.4 5.9 6.2 6.0 - 6.4 6.0 - 6.4

Sisi Permintaan

Konsumsi 6.6 5.6 6.3 6.6 7.1 7.7 6.9 7.9 7.2 8.1 7.4 - 7.8 6.9 - 7.3

Konsumsi swasta 7.2 6.1 6.8 6.9 7.5 8.2 7.4 8.2 8.7 8.7 8.1 - 8.5 7.7 - 8.1

Konsumsi Pemerintah 1.3 0.2 0.3 2.8 2.5 2.9 2.3 2.6 (9.1) 8.2 0.2 - 0.6 (1.4) - (0.8)

Pembentukan Modal Tetap Bruto 9.7 5.4 6.1 6.3 6.5 7.7 6.7 7.5 5.1 4.9 5.1 - 5.5 5.8 - 6.2

Ekspor 11.1 11.6 8.5 6.9 5.5 5.2 6.5 9.2 3.1 4.9 4.8 - 5.2 5.0 - 5.4

Impor 7.6 9.8 5.6 5.0 4.9 6.0 5.4 7.4 4.3 4.0 3.3 - 3.7 4.7 - 5.1

Sisi Produksi

Sektor pertanian 2.5 3.5 2.0 1.5 1.8 1.7 1.6 1.8 0.5 1.6 1.0 - 1.4 1.1 - 1.5

Sektor pertambangan & penggalian 6.1 2.1 2.7 2.6 4.9 3.2 3.3 4.6 2.9 2.1 2.9 - 3.3 2.8 - 3.2

Industri pengolahan 6.1 6.3 5.2 6.6 5.4 5.3 5.6 6.8 6.8 6.5 6.0 - 6.4 6.4 - 6.8

Listrik, gas & air bersih 6.3 6.2 5.3 4.6 4.6 4.2 4.7 4.9 7.4 6.2 5.7 - 6.1 5.8 - 6.2

Bangunan 9.1 7.1 8.3 10.5 8.5 9.0 9.1 9.5 7.9 5.4 5.1 - 5.5 6.7 - 7.1

Perdagangan, hotel & restoran 9.8 10.1 9.4 8.9 8.5 7.7 8.6 6.8 7.4 7.8 7.6 - 8.0 7.2 - 7.6

Pengangkutan & komunikasi 11.4 9.7 11.0 10.0 10.7 10.1 10.4 9.5 7.5 8.0 7.0 - 7.4 7.7 - 8.1

Keuangan, persewaan dan jasa perush. 8.2 8.0 8.5 7.8 7.4 6.7 7.7 7.7 7.4 7.1 7.1 - 7.5 7.1 - 7.5

Jasa-jasa 5.1 5.1 5.7 5.7 5.0 5.0 5.3 8.4 4.0 5.8 5.8 - 6.2 5.7 - 6.1

Inflasi IHK (%,yoy) 4.27 4.50 6.75 5.93 7.78 7.59 7.59 6.58 6.66 4.41 5.1 - 5.5 5.0 - 5.4

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah p proyeksi Bank Indonesia

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi Jawa Bagian Tengah (Jabagteng) pada triwulan II 2014 sedikit melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Ekonomi melambat dari 5,3% (yoy) pada triwulan I 20141 menjadi 5,2% (yoy). Namun, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Nasional 5,12%. Secara spasial, perekonomian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tumbuh melambat. Sumber utama perlambatan ekonomi Jabagteng yaitu melemahnya kinerja ekspor yang dibarengi dengan melambatnya konsumsi dan investasi. Perlambatan konsumsi utamanya disebabkan oleh konsumsi pemerintah yang melambat cukup dalam. Secara sektoral, sektor pertanian terkontraksi sehingga mendorong ke bawah pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran menjadi penahan perlambatan perekonomian lebih dalam.

Pada triwulan III 2014 perekonomian wilayah Jabagteng diperkirakan tumbuh meningkat. Secara spasial, perbaikan terjadi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Perkembangan berbagai indikator ekonomi terakhir mengindikasikan perbaikan terutama didorong oleh kenaikan ekspor baik luar negeri maupun ke daerah lain. Hal ini sejalan dengan optimisme pelaku usaha dalam memandang kondisi perekonomian ke depan.

Secara sektoral, perbaikan ekonomi didukung oleh meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Membaiknya sektor industri pengolahan utamanya diperkirakan didorong oleh meningkatnya kinerja industri migas. Kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan masih kuatnya konsumsi swasta.

Konsumsi

Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi rumah tangga Wilayah Jawa bagian tengah (Jabagteng) pada triwulan II 2014 meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga mencatat pertumbuhan sebesar 5,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 5,2% (yoy). Secara spasial, meningkatnya konsumsi rumah tangga Jabagteng tersebut lebih didorong oleh konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah, yang mencatat pertumbuhan yang meningkat, sementara di DI Yogyakarta, konsumsi rumah tangga justru melambat.

Konsumsi swasta nirlaba, yang meningkat tajam, ikut mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Konsumsi swasta nirlaba mengalami peningkatan hingga 15,1% (yoy), terkait dengan persiapan penyelenggaraan Pemilu Presiden tahun 2014. Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut juga terkonfirmasi dari indeks penjualan eceran dan likert penjualan eceran yang lebih tinggi (Grafik III.2.2) serta pertumbuhan triwulanan impor barang konsumsi yang meningkat (Grafik III.2.4).

Perkembangan berbagai indikator terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2014 tetap kuat, tumbuh relatif stabil dibandingkan dengan triwulan II 2014. Adanya momen Hari Raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru mendorong konsumsi masyarakat tetap tinggi. Hasil Survei Konsumen memperlihatkan masih tingginya optimisme rumah tangga. Semua indeks komponen survei konsumen berada pada level optimis, terutama ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan. Indeks tendensi konsumen berdasarkan hasil survei BPS juga mencerminkan kondisi yang lebih optimis pada triwulan III 2014 dibandingkan dengan periode sebelumnya (Grafik III.2.1.). Optimisme yang sama juga ditunjukkan oleh hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan pada beberapa pelaku usaha perdagangan besar dan eceran (Grafik III.2.2). Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit konsumsi stabil pada level yang tinggi. Meski demikian, perlu mendapat perhatian bahwa perkiraan akan adanya penurunan produksi pertanian, berpotensi menurunkan daya beli masyarakat Jabagteng, yang mayoritas bermata pencaharian di sektor pertanian. Selain itu, konsumsi swasta nirlaba diperkirakan akan menurun, seiring dengan usainya Pemilu tahun 2014.

Grafik III. 2. 1 Indeks Keyakinan Konsumen Grafik III. 2. 2 Indeks Penjualan Eceran serta Likert Scale Perdagangan Besar dan Eceran

Grafik III. 2. 3 Penyaluran Kredit Konsumsi Grafik III.2.4 Konsumsi Rumah Tangga qtq dan

Impor Barang Konsumsi

Konsumsi Pemerintah

Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2014 melambat sangat dalam. Konsumsi pemerintah hanya tumbuh 1,5% (yoy), setelah sebelumnya tumbuh 5,1% (yoy). Perlambatan pertumbuhan konsumsi

80 90 100 110 120 130 140

I II III IV I II III IV I II III*

2012 2013 2014 Indeks