ANALISIS DAMPAK PERTAMBANGAN PASIR
Boks 3. Kisah Kehidupan kasus Bapak YYT (52 Tahun)
Bapak YYT merupakan seorang warga Desa Mekarjaya yang berprofesi sebagai peternak ikan. Sebagai seseorang yang menggantungkan hidupnya pada hasil penjualan ikan, tentu pencemaran air yang diakibatkan oleh limbah pertambangan akan sangat mempengaruhi mata pencahariannya. Namun sebagai respons atas hal tersebut, bapak YYT memiliki caranya sendiri. Ditengah gegap gempita demonstrasi dan penolakan oleh masyarakat secara berbondong-bondong, bapak YYT lebih memilih “berdemo” dengan caranya sendiri. Beliau mendokumentasikan berbagai dampak yang diakibatkan pertambangan pasir dengan kamera telepon genggamnya. Dari air sungai yang keruh, hingga ikan-ikan mati yang berasal dari kolam berukuran 1.5 x 3 meter miliknya. Namun dari situ, beliau mulai dianggap sebagai “aktivis” yang turut memperjuangkan hak-hak masyarakat. Sampai pada akhirnya beliau juga dipanggil untuk berdiskusi langsung dengan pihak pemerintah hingga perwakilan tambang.
Pada saat ini mungkin kita masih dapat melihat tulisannya yang terpampang jelas di pinggir jalan utama Desa Mekarjaya, tulisan itu berbunyi “PEMERINTAH JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU TENTANG PENCEMARAN LIMBAH, KARENA KAMI SUDAH BERI TAHU!”. Emosi tulisan tersebut juga benar-benar tergambarkan ketika penulis sempat berdiskusi dengan beliau, “Air ini nafkah saya, untuk keluarga saya. Dan saya rela mati demi itu”.
justru manusia yang menjadi salah satu penyebab utama kerusakan tersebut. Terlebih dengan dalih “sudah faktor alam”, banyak manusia yang semakin acuh terhadap kelestarian lingkungan.
Cara pandang individu terhadap lingkungannya memang beragam, dan banyak faktor juga yang mempengaruhinya, dari pengetahuan, pola atau kebiasaan hingga kelembagaan. Namun pada dasarnya cara pandang tersebut lebih dikonstruksikan secara abstrak dan subjektif. Demikian halnya dengan masyarakat di Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku, dampak dari aktivitas pertambangan pasir tidak hanya telah menyentuh pada tataran fisik, namun juga jauh bahkan hingga cara pandang masyarakat terhadap lingkungannya. Dampak aktivitas pertambangan pasir dan kaitannya dengan persepsi terhadap cara pandang lingkungan dapat dilihat pada pada Tabel 12.
Tabel 12 Persepsi masyarakat Desa Mekarjaya dan Desa Rancapak terhadap cara pandang lingkungan
No. Pernyataan Presentase (%) Total (%) MKJ RCP S N TS S N TS MKJ RCP 1 Aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi acuh terhadap lingkungan 23.33 53.33 23.33 56.67 43.33 0.00 100.00 100.00 2 Aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi enggan untuk
melakukan kerja bakti
10.00 60.00 30.00 10.00 56.67 33.33 100.00 100.00 3 Aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi enggan untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah 40.00 43.33 16.67 36.67 46.67 16.67 100.00 100.00 4 Aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi lebih leluasa mencemari sungai, kolam, dsj. 6.67 23.33 70.00 40.00 36.67 23.33 100.00 100.00 5 Aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi lebih leluasa membuang sampah sembarangan
3.33 20.00 76.67 13.33 30.00 56.67 100.00 100.00
Sumber: Data primer. Keterangan: S = Setuju, N = Netral, TS = Tidak Setuju, MKJ = Desa Mekarjaya, RCP = Desa Rancapaku
Berikut adalah penjelasan dari hasil data di Tabel 12:
1. Masyarakat Desa Mekarjaya cenderung memilih posisi netral (dengan persentase sebesar 43.00–60.00 persen) dalam kaitannya dengan pernyataan dampak aktivitas pertambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi acuh terhadap lingkungan dan enggan untuk melakukan kerja bakti dan bersih-bersih rumah. Responden yang menjawab ini secara garis besar mengatakan bahwa pasca maraknya aktivitas pertambangan pasir di Desa, banyak rumah-rumah khususnya yang berada di daerah pinggir jalan kesulitan untuk membersihkan rumahnya dari debu-debu yang bertumpuk, sehingga pada akhirnya lebih memilih untuk mendiamkannya. Selain itu, pola atau kebiasaan masyarakat untuk melakukan kerja baki memang semakin memudar pasca masuknya modernisasi di Desa ini, bahkan menurut salah seorang responden, kerja bakti di Desa Mekarjaya hanya dilakukan hanya ketika ada acara seremonial atau menyambut hari kemerdekaan ataupun pejabat yang akan datang. Namun walaupun demikian, sebanyak 70.00 - 76.00 persen responden dari Desa Mekarjaya tidak setuju dengan pernyataan yang menyatakan aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi lebih leluasa mencemari atau membuang sampah sembarangan.
2. Respons yang berbeda dapat ditemui di mayoritas responden dari Desa Rancapaku. Terlihat dari sebesar 56.67 persen responden setuju dengan pernyataan yang menyatakan aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi acuh terhadap lingkungan. Pernyataan setuju sebesar 40.00 persen juga terdapat pada pernyataan lainnya, yakni aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi lebih leluasa mencemari sungai ataupun kolam. Hal tersebut menurut sebagian responden adalah wajar, karena pasca sungai Cikunir tercemar oleh limbah pertambangan, masyarakat jadi sama sekali tidak dapat memanfaatkan air tersebut. Bahkan hingga ke air selokan di tingkat Desa pun sudah tercemar oleh air-air limbah, sehingga bagi masyarakat, tidak akan ada pengaruhnya jika mereka juga turut mencemari air tersebut. Namun untuk pernyataan yang menyatakan aktivitas penambangan pasir menyebabkan masyarakat menjadi lebih leluasa membuang sampah sembarangan, mayoritas responden menjawabnya dengan tidak setuju sebesar 56.67 persen.
Baik masyarakat di Desa Mekarjaya maupun Desa Rancapaku telah mengalami cara pandang lingkungan yang berbeda dalam kaitannya dengan keberadaan peruahaan pertambangan pasir. Namun walaupun demikian, terkait dengan upaya mengelola sampah atau limbah rumah tangga di kedua Desa ini masih sangatlah minin. Baik di Desa Mekarjaya ataupun Desa Rancapaku hampir seluruh dusun atau kampungnya sama sekali tidak memiliki tempat sampah yang dikelola baik oleh pemerintah maupun secara kolektif. Masyarakat kedua Desa ini masih menggunakan cara konvensional, yakni dengan membakar sampah-sampah rumah tangganya. Bagi mereka
hal tersebut tidaklah salah, selain itu, sebagian besar responden juga memiliki kecenderungan membalikkan pernyataan tersebut dengan membandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh perusahaan pertambangan. Seperti halnya yang disebutkan oleh OTR (46 Tahun):
“Kalau sampah plastik, kertas, atau daun itu dibakar. Tapi kalau ada sisa makanan. nasi, lauk pauk itu kita lempar ke “balong” (kolam perorangan milik warga). Disini memang kebanyakan seperti itu, orang yang ngelola sampahnya juga tidak ada, ya jadi dikelola masing-masing. Tapi itu saja perusahaan tambang juga buang limbahnya sembarangan. Limbahnya juga lebih kotor, seharusnya itu yang lebih dulu diatur oleh pemerintah.”
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan jika pada dasarnya keberadaan perusahaan tambang mempengaruhi juga cara pandang masyarakatnya terhadap lingkungan. Khususnya untuk masyarakat Desa Rancapaku, apatisme masyarakat terhadap sungai Cikunir juga secara jelas ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang membuang sampah di aliran sungai ini. Karena menurut mereka sungai yang pada awalnya sangat jernih dan deras ini memang sudah rusak dan tidak dapat dimanfaatkan lagi pasca kehadiran perusahaan tambang. Sedangkan itu untuk Desa Mekarjaya, khususnya untuk yang bertempat tinggal di sekitar jalan utama yang juga dilewati truk pembawa material pasir, rasa ketidakpedulian juga setidaknya terdapat di sebagian warga, pasalnya truk yang hampir 24 jam berlalu lalang ini juga menibulkan debu-debu yang sangat tebal yang mengotori teras atau pekarangan rumah warga.
Dampak Ekonomi
Keberadaan industri skala sedang atau besar di Desa tentunya akan dapat berpengaruh kuat terhadap aktivitas ekonomi Desa secara umum. Selain diharapkan mampu menyerap tenaga kerja, keberadaan industri tersebut juga dianggap mampu memberikan dampak positif terhadap industri-industri kecil yang berada di lingkungan sekitarnya, seperti dengan adanya program kemitraan, program pemberdayaan, dan lain sebagainya. Namun pada dasarnya hal tersebut juga kembali pada pihak industri itu sendiri, dan tentunya peran serta pemerintah yang harus lebih dominan dan berpihak kepada masyarakat.
Secara garis besar, keberadaan aktivitas pertambangan pasir di Desa Mekarjaya juga dianggap sebagian masyarakatnya membawa dampak positif. Namun terdapat juga beberapa pihak yang justru merasa keberadaan perusahaan tambang tersebut tidak berarti apa-apa, bahkan justru dianggap sebagai penghambat aktivitas ekonomi Desa. Terlebih untuk sebagian besar masyarakat dari Desa Rancapaku, dimana pandangan mereka terhadap keberadaan perusahaan pertambangan lebih berkecenderungan negatif. Maka dari itu, berdasarkan penjabaran tersebut permasalahan aspek ekonomi yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan pasir di kawasan
Gunung Galunggung akan dibahas kedalam empat sub-bab yang juga akan merepresentasikan empat indikator, yaitu:
1. Tingkat Pendapatan
Indikator ini akan melihat ukuran besaran pendapatan yang didapat oleh masyarakat baik dari sektor pertanian maupun sektor non- pertanian.
2. Tingkat Kesempatan Bekerja
Indikator ini akan melihat persepsi masyarakat terhadap bagaimana peluang yang diperoleh masyarakat dalam kaitannya dengan berbagai pekerjaan baik yang berkaitan langsung dengan pertambangan ataupun tidak.
3. Tingkat Aktivitas Ekonomi Desa
Indikator ini akan melihat persepsi masyarakat terhadap interaksi dalam kegiatan ekonomi dan/atau jumlah aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi di Desa.
Secara spesifik, dampak ekonomi yang terjadi di Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku dapat dilihat pada pembahasan dan tabel-tabel dibawah ini.
Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan pada dasarnya merupakan suatu jumlah atau total uang yang diterima oleh responden yang diperoleh baik dari sektor pertanian maupun non-pertanian. Pendapatan tentunya berkaitan erat dengan profesi atau mata pencaharian masyarakat itu sendiri. Walaupun berdasarkan data pemerintah desa mayoritas mata pencaharian masyarakat di Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku adalah petani. Namun kondisi dilapangan justru menunjukkan kondisi dimana banyak warga yang berprofesi sebagai buruh, khususnya buruh kasar. Selain itu dari sudut pandang lain, keberadaan perusahaan pertambangan juga ternyata menimbulkan perubahan sosial yang berimplikasi terhadap mata pencaharian masyarakat, diantaranya dengan munculnya pola pekerjaan masyarakat yang bekerja merangkap sebagai petani dan buruh tambang, ataupun petani dan supir truk pasir.
Menurut masyarakat, transisi pekerjaan masyarakat pada saat ini diantaranya dikarenakan semakin sedikitnya lahan pertanian, selain itu banyaknya sawah milik masyarakat yang diperjualbelikan menyebabkan lahan sawah yang besar dan luas hanya cenderung dimiliki perorangan. Sehingga pada akhirnya mulai banyak warga baik di Desa Rancapaku maupun Desa Mekarjaya yang mau tidak mau beralih profesi menjadi buruh baik di dalam kota maupun luar kota. Berikut adalah grafik rata-rata pendapatan rumah tangga responden dari Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku:
Gambar 4 Rata-rata pendapatan rumah tangga responden Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku April 2013 – April 2014
Gambar 4 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat Desa Mekarjaya lebih besar daripada masyarakat di Desa Rancapaku. Dapat terlihat baik pada kategori pendapatan sedang dan juga tinggi masyarakat dari Desa Mekarjaya memiliki jumlah yang lebih besar. Walaupun nilai tersebut secara garis besar bukan merupakan kontribusi langsung dari sektor pertambangan, namun hal tersebut dipengaruhi juga oleh kontribusi secara tidak langsung dari keberadaan perusahaan tambang pasir, diantaranya peluang kerja dan wirausaha masyarakat di Desa Mekarjaya yang lebih besar dari masyarakat di Desa Rancapaku. Namun terdapat juga faktor lainnya, diantaranya adalah seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sebagian besar kampung atau dusun di Desa Rancapaku terlewati oleh aliran sungai Cikunir, demikian halnya dengan sawah milik warga, cukup banyak yang terletak tepat di pinggiran sungai Cikunir. Hal ini tentunya sangat mengancam mata pencaharian masyarakat, terlebih dengan penyusutan ukuran dan pengendapan yang dialami sungai Cikunir, ancaman banjir yang akan langsung merendam sawah masyarakat menjadi salah satu ancaman besar yang juga kerap mempengaruhi hasil produksi dan pendapatan masyarakat.
Permasalahan peluang kerja juga menjadi salah satu faktor yang berkaitan erat dengan tingkat pendapatan, dan untuk di Desa Mekarjaya memang secara kasat mata dapat terlihat jika banyak masyarakat yang berasal dari Desa Mekarjaya yang berjualan makanan atau usaha warung kelontong. Karena memang pada dasarnya kawasan Desa Mekarjaya merupakan salah satu kawasan strategis yang kerap dimanfaatkan oleh para supir-supir truk atau pekerja tambang untuk berisrirahat, selain itu jalan utama Desa yang juga menjadi salah satu jalan alternatif menuju kawasan
Rp15,800,000 Rp10,620,000 Rp7,447,059 Rp14,520,000 Rp10,425,000 Rp7,668,000 Rp- Rp2,000,000 Rp4,000,000 Rp6,000,000 Rp8,000,000 Rp10,000,000 Rp12,000,000 Rp14,000,000 Rp16,000,000 Rp18,000,000
Tinggi Sedang Rendah
Kategori