• Tidak ada hasil yang ditemukan

Letak Geografis dan Keadaan Lingkungan

Kecamatan Padakembang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan luas wilayah 1809 ha dan penduduk yang mencapai 31.013 jiwa, Kecamatan Padakembang mencakup lima wilayah desa didalamnya, yakni Desa Padakembang, Desa Cisaruni, Desa Mekarjaya, Desa Rancapaku, dan Desa Cilampunghilir. Kecamatan yang berada di ketinggian 700 m di atas permukaan laut ini juga terletak tepat di kawasan kaki Gunung Galunggung. Kawasan Gunung Galunggung ini memiliki varian flora dan fauna yang beragam, pasalnya sebagaian besar kawasannya adalah hutan montane, atau hutan yang berada pada dataran rendah dimana rimbunnya pepohonan besar hingga hewan- hewan seperti kera mendominasi kawasan hutan ini. Selain itu aliran sungai besar, seperti Sungai Ciwulan dan Sungai Cikunir juga mengalir deras dari puncak Gunung Galunggung yang sering juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan mereka. Namun, Gunung Galunggung merupakan Gunung berapi yang masih aktif. Hal ini tentunya juga berpengaruh besar khususnya terkait dengan kondisi ekosistem di dalamnya. Apalagi letusan Gunung berapi merupakan salah satu bencana alam yang dapat berakibat fatal, dan dampaknya pun dapat bersifat permanen dan dapat dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Terhitung setidaknya Gunung Galunggung telah memuntahkan lahar panasnya sebanyak empat kali, berikut sejarah letusan Gunung Galunggung menurut tahunnya:

Tabel 2 Sejarah letusan Gunung galunggung

Tahun Keterangan

1882

1. Pada tanggal 8-12 Oktober 1882, letusan Galunggung menghasilkan hujan pasir panas berwarna kemerahan dan juga abu halus yang hampir menyelimuti secara merata wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

2. Selain itu, letusan juga mengalirkan lahar yang bergerak ke arah tenggara Gunung mengikuti aliran-aliran sungai yang telah ada, diantaranya adalah sungai Cikunir yang hulunya tepat berada di kawasan puncak Gunung Galunggung.

3. Letusan ini setidaknya menewaskan sekitar 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 Desa yang berada di kawasan Gunung Galunggung.

1894

1. Letusan kembali terjadi pada bulan Oktober 1894, namun aktivitas letusan ini lebih rendah dibandingkan dengan letusan pada tahun 1882.

2. Pada letusan ini aliran lahar dan hujan abu menghancurkan setidaknya 50 Desa. Namun tidak ada data yang menunjukkan adanya korban jiwa.

1918

1. Terjadi letusan yang selanjutnya membentuk kubah lava di dalam danau kawah Gunung Galunggung.

2. Letusan ini juga memuntahkan abu yang cukup tebal yang hampir tersebar merata di Jawa Barat.

1982

1. Aktivitas letusan ini dimulai pada pertengahan tahun 1982, dan aktivitas letusan baru berakhir pada bulan Januari 1983. 2. Merupakan letusan terbesar kedua setelah letusan tahun 1882 menurut cerita masyarakat. Bahkan ada warga yang menyebutnya sebagai letusan “siklus seratus tahun”.

3. Menewaskan setidaknya 18 orang dan puluhan Desa ditinggakan tanpa penghuni. Sebagian besar masyarakat mengungsi di kawasan Singaparna hingga kota Tasikmalaya. 4. Menyebabkan berubahnya peta wilayah dan batas-batas wilayah Desa (termasuk kepemilikan sawah dan tanah pekarangan masyarakat) yang diakibatkan aliran lahar serta timbunan pasir dan bebatuan.

Sumber: Data sekunder

Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat jika pada dasarnya masyarakat telah mengalami dampak yang cukup parah dengan letusan Gunung Galunggung yang telah terjadi sebanyak empat kali. Dari korban jiwa, hingga harta benda harus dikorbankan oleh masyarakat sebagai konsekuensi tinggal di kawasan Gunung berapi aktif yang harus dirasakan baik oleh masyarakat Desa Mekarjaya maupun Desa Rancapaku. Terlebih mengingat kedua desa tersebut merupakan desa yang dilalui oleh jalur aliran lahar, sehingga implikasi yang diakibatkan oleh letusan cukup masif dirasakan masyarakat kedua desa. Namun pasca letusan tahun 1982 tersebut, masyarakat Kecamatan Padakembang, khususnya Desa Mekarjya dan Desa Rancapaku juga disibukkan dengan pembuatan tanggul setinggi kurang lebih dua meter yang mengitari kawasan sungai Cikunir yang juga melewati kawasan kedua desa tersebut.

Pada pertengahahn tahun 2013 lalu, masyarakat kawasan Gunung Galunggung sempat kembali cemas karena adanya pemberitahuan tentang meningkatnya aktivitas Gunung Galunggung. Namun akhirnya tidak terjadi peningkatan aktivitas dan status Gunung Galunggung dapat kembali normal. Walaupun demikian, banyak masyarakat yang langsung meninggalkan desa untuk mengungsi dan mengantisipasi peningkatan aktivitas gunung yang berpotensi meletus tersebut selama beberapa minggu. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa masyarakat di kawasan Gunung Galungggung atau Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku khususnya, juga sangat bergantung dan dipengaruhi oleh kondisi dan keberadaaan aktivitas Gunung Galunggung.

Struktur Sosial dan Ekonomi

Secara spesifik baik Desa Mekarjaya maupun Desa Rancapaku, memiliki kondisi dan karakteristik sosial dan ekonomi yang kurang lebih

sama. Pasalnya Desa Mekarjaya merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Rancapaku yang dilakukan pada tahun 1978, dimana penduduknya bermata pencaharian beragam, mulai dari petani, peternak ikan, wiraswasta hingga buruh. Selain itu, mayoritas masyarakat di kedua desa mayoritasnya memiliki kolam ikan baik berukuran kecil, sedang atau besar yang terletak di sekitar pekarangan rumah. Umumnya kolam-kolam ini dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari, namun tidak jarang juga hasil dari kolam tersebut selanjutnya di jual di pasar desa atau warung atau pasar di luar desa.

Pada sektor pekerjaan yanng berbasis pada pertanian maupun peternakan, kedua desa memiliki memiliki basis wadah masyarakat yang berbentuk kelompok tani maupun kelompok pembenihan atau peternak ikan. Kelompok yang merupakan hasil kolektif masyarakat tersebut hingga pada saat ini masih tergolong aktif, namun minimnya program atau kegiatan bersama khususnya untuk kelompok tani tidak jarang menyebabkan kelompok ini hanya berfungsi aktif ketika adanya penyaluran bantuan- bantuan tani. Sedangkan untuk kelompok atau kelembagaan lainnya di kedua desa ini, terdapat juga karang taruna dan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), baik karang taruna maupun PKK juga pada akhirnya berkontribusi dalam meinginisiasi berbagai kegiatan warga, diantaranya adalah perlombaan olah raga hingga berbagai kegiatan keagamaan.

Berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat lainnya, pada pasca letusan pada tahun 1982 - 1983, baik masyarakat Desa Mekarjaya ataupun Desa Rancapaku banyak yang mengalami kerugian karena rumah yang hancur, hingga sawah dan kolam-kolam ikan yang tertimbun oleh pasir. Namun masyarakat yang semula merasa sangat dirugikan oleh letusan Gunung Galunggung, mulai berbalik menjadi diuntungkan dengan material pasir yang berlimpah hampir merata di seluruh desa. Sebetulnya material pasir telah tersedia sebelum tahun 1983 (yang berasal dari letusan gunung pada tahun sebelumnya), namun pada saat itu masyarakat belum memanfaatkannya secara serius dan hanya dimanfaatkan secara skala kecil untuk keperluan membangun rumah atau fasilitas desa lainnya. Namun baru pada pasca letusan tahun 1983, banyak masyarakat yang mulai lebih fokus melakukan penjualan pasir hingga keluar daerah, bahkan hingga ada yang masih bertahan dengan industrinya sampai saat ini.

Berdasarkan penjabaran tersebut, struktur penghidupan yang beragam yang dimiliki kedua desa ini juga dapat digolongkan menjadi basis pertambangan dan juga non-pertambangan. Namun pada dasarnya basis pertambangan hanya dimiliki oleh masyarakat yang berasal dari Desa Mekarjaya, berbeda dengan masyarakat yang berasal dari Desa Rancapaku, dimana menurut keterangan pihak pemerintah sama sekali tidak ada warganya yang bekerja di sektor pertambangan sejak beberapa tahun belakangan ini. Pola pekerjaan yang lebih bervariasi pada Desa Mekarjaya diantaranya dengan hadirnya warga yang bekerja sebagai petani – buruh tambang, ataupun petani – supir truk tambang, pada akhirnya juga memunculkan kondisi ekonomi dan sosial yang lebih kompleks. Banyak pihak yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada sektor pertambangan, baik pekerja atau buruh tambang itu sendiri ataupun pemilik warung makan yang dibuka di sekitar lokasi tambang. Namun walaupun

demikian, dapat dikatakan juga bahwa sebagian besar masyarakat Desa Mekarjaya masih tetap menggantungkan penghidupannya pada sektor pertanian pada skala prioritas, hal ini karena pekerjaan pada sektor pertambangan bukanlah pekerjaan yang bersifat mengikat, namun hanya temporer dan bersifat kontrak berkala saja.

Kondisi atau struktur penghidupan tersebut, pada akhirnya terepresentasi dalam kultur atau respons politik ekologi yang berbeda diantara kedua desa tersebut. Desa Mekarjaya cenderung lebih memiliki respons yang kompromistik, sedangkan untuk Desa Rancapaku cenderung memiliki respons yang lebih radikal terhadap keberadaan perusahaan pertambangan pasir. Hal ini diantaranya dikarenakan adanya ketergantungan ekonomi dan juga relasi atau kedekatan sosial dengan pihak perusahaan tambang pada masyarakat Desa Mekarjaya, sedangkan hal sebaliknya terjadi pada masayarakat Desa Rancapaku. Kondisi yang berbeda pada Desa Mekarjaya tersebut juga didukung oleh elite atau sesepuh desa yang juga tergolong tidak vokal dalam menyikapi keberadaan perusahaan pertambangan atas kerugian yang ditimbulkan di masyarakat.

Namun kondisi masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada sektor pertambangan lambat laun semakin berkurang seiring dengan masuknya industri pertambangan pasir, masyarakat Desa Mekarjaya khususnya, mau tidak mau harus mulai tersingkir akibat industri pertambangan pasir yang semakin kuat dan besar. Hal tersebut juga semakin diperparah dengan ketatnya persaingan dalam memperoleh pekerjaan, dengan jumlah penduduk sebanyak 7.604 jiwa di Desa Mekarjaya dan 9.185 jiwa untuk Desa Rancapaku, menjadikan persaingan dalam memperoleh pekerjaan di tingkat desa semakin sulit, dan tidak jarang sebagian masyarakat harus mencari pekerjaan hingga ke luar kota, diantaranya Garut, Bandung, atau bahkan hingga Jakarta. Sebagian besar warga kedua desa yang merantau tersebut bermata pencaharian sebagai buruh lepas dan juga usaha warung makanan atau warung kelontong. Namun migrasi warga tersebut juga berlaku sebaliknya, pasca masuknya industri serta perbaikan kawasan wisata3 Gunung Galunggung, banyak pendatang yang mulai melakukan wirausaha di kawasan ini dan sebagian diantaranya menjadi warga tetap, bahkan untuk Desa Mekarjaya sendiri terdapat dua orang warga negara Asing yaitu dari Singapura yang bertinggal di Desa Mekarjaya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat terlihat bahwa masyarakat baik di Desa Mekarjaya maupun Desa Rancapku sangat bergantung pada kondisi ekosistem di dalamnya. Terlebih bagi mata pencaharian masyarakat yang secara garis besar masih menggantungkan pada sektor pertanian dan perikanan, walaupun demikian, kehadiran perusahaan tambang pasir ternyata juga membawa perubahan sosial yang juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

3

Disamping “berkah” pasir yang menjadi berlimpah pasca erupsi Galunggung, tempat wisata pemandian air panas yang bernama Cipanas dan wisata kawah juga menjadi salah satu faktor pemikat wisatawan yang berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi warga

Kondisi Fisik

Berbagai perubahan secara nyata telah terjadi pasca terjadinya erupsi Gunung Galunggung pada tahun 1982 - 1983. Terlebih pada sebelum tahun 1982 masih banyak rumah warga yang merupakan rumah panggung, sehingga tidak jarang pada pasca erupsi ditemui rumah yang benar-benar hancur akibat tidak mampu menopang semburan abu dan pasir dari erupsi Gunung Galunggung. Demikian halnya dengan rumah yang beratap genting, walaupun tidak separah rumah panggung, namun sampai saat ini kita masih dapat melihat terdapat beberapa rumah warga yang fondasinya mengalami kemiringan. Karena memang menurut penuturan sebagian warga semburan abu dan pasir pada erupsi tahun 1982 - 1983 sangat tebal, sehingga memang perbaikan dan pembersihan lingkungan warga sampai harus menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan tahun.

Perbaikan dan pembersihan namun tidak hanya dilakukan oleh masyarakat, kondisi pasca erupsi Galunggung tersebut juga menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Rehabilitasi kawasan ini akhirnya selesai dan memakan waktu hampir satu tahun oleh pemerintah dengan bantuan masyarakat, cukup banyak fasilitas desa yang diperbaharui dan dibuat, diantaranya adalah jalan dan tanggul. Seiring dengan prosesnya kawasan Gunung Galunggung menjadi primadona bagi pebisnis, karena selain berlimpahnya material pasir di kawasan ini wisata kawah Gunung Galunggung dan pemandian air panas Cipanas yang mulai dibuka pasca rehabilitasi erupsi Gunung Galunggung juga sangat menarik wisatawan. Pada akhirnya berbagai jalan-jalan yang dipergunakan untuk jalur kendaraan bermotor berlalu lalang mulai dibuka dan dikembangkan yang juga didukung oleh sebagian warga, bahkan sempat pernah ada jalur rel kereta api yang menghubungkan kawasan Gunung Galunggung sampai dengan stasiun Indihiang yang dimanfaatkan untuk mengangkut berbagai material pasir. Namun pada saat ini, eksploitasi dan aktivitas penambangan pasir yang berlebihan dan terus menerus dilakukan semakin memperburuk berbagai fasilitias desa tersebut, jalan utama desa yang juga dimanfaatkan warga harus hancur hampir sepanjang 1.5 kilometer. Bahkan perbaikan jalan yang telah dilakukan berkali-kali pada saat ini tidak mampu terus menopang kendaraan pribadi khususnya kendaraan truk pengangkut material pasir yang terus berlalu lalang.

Disamping itu, fasilitas pendidikan maupun kesehatan di kedua desa dapat dikatakan cukup mumpuni. Dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) atau taman kanak-kanak (TK) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA) terdapat di kawasan ini, demikian halnya dengan Posyandu, pelayanan dan program dilaksanakan secara rutin, namun untuk Posyandu kelompok 08 di Desa Rancapaku pada saat ini belum memiliki bangunan sendiri, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu tidak jarang harus meminjam gedung PAUD yang berada tidak jauh dari rumah para kader posyandu. Selain itu, secara khusus di Desa Mekarjaya memiliki pasar ikan yang juga sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjual berbagai hasil dari ternak ikan, diantaranya seperti ikan mas, mujaer, nila, hingga gurami. Pasar ikan ini kerap dipergunakan warga di Kecamatan

Padakembang dan bahkan luar dari Kecamatan Padakembang untuk melakukan jual dan beli berbagai komoditas ikan tersebut. Namun walaupun demikian, tidak jarang banyak masyarakat yang lebih memilih menjual hasil ikan ternaknya ke tengkulak atau ke pasar Singaparna yang kurang lebih berjarak lima kilometer dari Desa.

Secara garis besar, masih banyak sarana dan prasarana baik di Desa Mekarjaya ataupun Desa Rancapaku yang harus lebih diperhatikan. Baik pihak masyarakat, swasta ataupun pemerintah seharusnya harus mampu saling bekerja sama untuk mewujudkannya. Terlebih kawasan ini telah menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tergolong besar bagi pihak swasta dan pemerintah, yang seharusnya juga disalurkan untuk kepentingan masyarakat.

Ikhtisar

Desa Mekarjaya dan Desa Rancapaku merupakan desa yang terletak tepat di kawasan kaki Gunung Galunggung. Pada dasarnya, Desa Mekarjaya merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Rancapaku yang dilakukan pada tahun 1978, sehingga baik kondisi fisik maupun sosial dan ekonominya memiliki cukup banyak kesamaan yang menonjol. Mayoritas mata pencaharian di kedua desa tersebut adalah petani, peternak ikan dan juga buruh. Masing-masing desa tersebut juga memiliki kelompok tani ataupun karang taruna yang cukup aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan desa. Namun terkait mata pencaharian, untuk Desa Mekarjaya sedikit memiliki perbedaan dimana terdapat juga pekerjaan atau mata pencaharian masyarakat yang berbasis pada sektor pertambangan, seperti buruh tambang dan supir truk penangkut pasir. Hal ini dikarenakan Desa Mekarjaya merupakan salah satu desa yang telah menjadi primadona sektor pertambangan sejak pasca letusan Gunung Galunggung yang terjadi pada tahun 1982 – 1983.

Keberadaan perusahaan tambang di kawasan Desa Mekarjaya pada akhirnya membawa suatu kondisi sosial dan ekonomi yang baru. Dimana muncul suatu “ketergantungan” ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kehadiran perusahaan tersebut, berbeda dengan masyarakat di Desa Rancapaku yang tidak ada satupun warganya yang bekerja di sektor pertambangan. Hal ini pada akhirnya berimplikasi terhadap respons ekologi politik yang berbeda antara kedua desa tersebut, dimana dalam menyikapi keberadaan serta dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan tambang, Desa Mekarjaya lebih memiliki respons yang cenderung kompromistik, berbeda dengan masyarakat dari Desa Rancapaku yang cenderung memiliki respons yang radikal dan terbuka. Berbagai faktor tersebut pada akhirnya menjadi gambaran kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di kedua desa yang memang bervariasi, tentunya disamping faktor geografis atau letak desa yang sejatinya memang saling berjauhan.

ANALISIS IDEOLOGI DAN PERAN AKTOR

Dokumen terkait