BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1.2. Kode Etik Collection
Sistem perbankan Bank X memiliki kode etik yang harus dipegang teguh oleh pihak penagih/collection dan diketahui oleh pihak RRCC Maneger Bank X dan ditandatangani oleh pihak Collection diatas materai enam ribu rupiah yang memperlihatkan komitmen Bank X untuk menghindari segala bentuk penyelewengan kode etik collection sebagai berikut.
1) Melakukan aktivitas kunjungan di luar kantor, wajib membawa surat tugas yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dan menggunakan kartu identitas resmi yang dikeluarkan oleh PT Bank X (Persero) Tbk yang dilengkapi dengan foto diri;
2) Bersikap jujur dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diterima dan hasil pembayaran kewajiban debitur;
3) Berpenampilan rapi dan bersikap sopan pada waktu melakukan penagihan.
4) Melakukan kunjungan pada pukul 08.00 s.d. 20.00 waktu setempat. Di luar waktu tersebut, dapat dilakukan atas persetujuan debitur atau dengan sepengetahuan atasan.
5) Dilarang menerima segala bentuk pemberian dari pihak Debitur selain dari pembayaran kewajiban kredit Debitur;
6) Dilarang mengambil keputusan sepihak diluar tugas dan kewenangannya;
7) Dilarang memberikan data debitur kepada pihak lain (perorangan maupun istitusi) yang tidak berkepentingan
8 Dilarang melakukan kerjasama/hubungan dengan Debitur diluar hubungan pekerjaan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan.
Bahwa saya sebagai Petugas Penagihan/collectormenyatakan telah membaca dan memahami Kode Etik ini. Jika saya melanggar Kode Etik ini, maka saya bersedia dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan PT Bank X (Persero) Tbk maupun ketentuan perundangan-undangan yang berlaku dan bersedia mengganti/menanggung semua kerugian yang timbul kepada PT Bank X (Persero) Tbk.
4.1.3. Sistem Kerja Devisi Collection
Sistem kerja devisi Collection/penagihan di Bank X Retail Credit Collection (RCC) adalah devisi yang menangani kredit bermasalah di Bank X.
Yang mana penaganan yang dilakukan adalah melalui tunggakan 1 bulan (30 hari) sampai kepada pelelangan asset debitur. Biasanya nasabah yang masih menunggak 1 bulan itu hanya dilakukan melalui desk call atau penagihan melalui telp kepada debitur,untuk 2 bulan sampai 3 bulan juga masih melalui telp dan kunjungan ke tempat debitur melalui pegawai yang mengelola debitur-debitur yang ada di cabang dan unit masing masing.
Untuk kredit bermasalah atau NPL, pegawai yang menagani kredit tersebut juga diberikan pekerjaan berdasarkan unit atau cabang kelolaan masing masing yang telah ditentukan berdasarkan pembagian kerja oleh atasan. Hasil dari pekerjaan sebagai collection ini yang menentukan hasil dari pekerjaannya.
Status kepegawaian collection di Retai Credit Collection. Untuk status kepegawaian di collection mandiri yaitu ada yang status sebagai pegawai mandiri dan ada sebagai pegawai pihak ke 3 atau melalui tenaga kontrakkan. Yang mana perubahan status ini dapat berubah apabila hasil dari pekerjaannya sebagai collection mendapatkan target, sehingga pihak manajemen dapat mengangkat pegawai tersebut berubah alih status menjadi pegawai tetap, bahkan sampai kejenjang atas, dan ini dilihat dari hasil kinerja.
Penetapan kualitas kredit hanya dapat didasarkan pada ketepatan pembayaran berikut :
1. Lancar (Kolektibilas 1): apabila tidak terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/bunga.
2. Dalam perhatian khusus (kolektibilitas 2): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/bunga sampai 90 hari.
3. Kurang lancar (kolektibilitas 3): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan /bunga sampai dengan 120 hari.
4. Diragukan (kolektibilitas 4): apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga sampai dengan 180 hari.
5. Macet (kolektibilitas 5) apabila terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga diatas 180 hari.
Kredit yang akan digolongkan bermasalah (Non Performing Loan/NPL), apabila telah masuk dalam kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. Tujuan klasifikasi tersebut antara lain untuk menetapkan tingkat cadangan potensi kerugian akibat kredit bermasalah, dan inilah yang menyebabkan keadaan suatu bank yang di nilai apakah kondisi bank tersebut sehat atau tidak melalui besarnya kredit macet suatu perbankan.
4.1.4. Deskripsi Jabatan PT. Bank X
Deskripsi Jabatan adalah dimana bagaimana sebuah jabatan dideskripsikan yang mempunyai tugas, fungsi dan menjelaskan kegiatan-kegiatan dari sebuah jabatan tertentu. Berikut dibawah ini adalah struktur yang menggambarkan beberapa posisi yang ada di kantor pusat PT Bank X.
PT. Bank X meliputi layanan nasabah yang berupa pinjaman kredit yang berasal dari luar daerah atau berjarak sekitar 20 km maka nasabah tersebut akan diproses di cabang PT Bank X terdekat.
Di PT. Bank X terdapat beberapa posisi atau jabatan yang bertugas sesuai dengan fungsinya, diantaranya yaitu:
1. Kepala Cabang Bank X bertugas sebagai pimpinan cabang dan bertanggung jawab atas semua fungsi Bank X tersebut.
2. Customer Service Officer CSO terdapat tiga(3) posisi sebagai Customer Service bertugas melayani nasabah bila ada complain, mutasi buku,buka rekening,dan lain-lain.
3. Head Teller adalah bertugas sebagai pengawas teller-teller yang melayani nasabah dan bertanggung jawab terhadap penyetoran modal yang masuk.
4. Teller adalah yang bertugas melayani nasabah yang melakukan setoran rekening, transfer,dan lain-lain.
5. General Affair adalah bertugas melayani dan bertanggung jawab atas tamu-tamu penting yang akan datang,keamanan Bank selain itu juga dapat bertanggung jawab atas nasabah Bank X.
6. Mikro Credit adalah yang bertanggung jawab atas nasabah yang akan memohon bantuan kredit,dan mencari database yang menjadi calon nasabah yang akan melakukan perkreditan.
4.1.5.Aspek Kegiatan Perusahaan
Aspek kegiatan PT Bank X yang utama adalah perkreditan perkreditan makro (Rp 350.000.000,00 - Rp 10.000.000.000,00) dan perkreditan mikro dengan nilai pinjaman (Rp 1.000.000,00-Rp 350.000.000,00). Selain itu ada juga kegiatan lainnya untuk menambah para nasabah baru, peningkatan transaksi, kartu kredit dan pembayaran tagihan listrik, telefon, dan lain-lain. Kegiatan tersebut berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, pengembangan sumber daya professional, manfaat yang maksimal bagi stakeholder, manajemen terbuka, dan kepedulian pada masyarakat sekitar.
4.1.6. Fungsi Bank X:
Berikut adalah fungsi Bank X dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, yaitu:
1. Bank X menawarkan jasa-jasa bisnis terpadu dengan nilai, bekualitas, aman dan nyaman bagi nasabah, baik individu maupun korporasi.
2. Bank X senantiasa berpijak pada idealisme dan falsafah yang telah dianutnya selama ini.
3. Bank X sebagai Universal Banking yang menawarkan beragam produk dan layanan prima kepada para nasabahnya.
4.1.7. Tugas Bank X
Berikut adalah tugas-tugas Bank X dalam dunia perbankan di Indonesia, diantaranya:
1. Bank X mengembangkan sistem teknologi informasinya secara berkesinambungan dalam memenangkan persaingan dimasa depan.
2. Bank X berupaya meningkatkan pelayanan kepada nasabah dengan berbagai pilihan produk.
3. Bank X bertugas mengembangkan kualitas pegawainya dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para pegawainya.
4. Bank X berupaya mempromosikan budaya perusahaan yaitu profesionalisme, kerjasama, komitmen , dan inisiatif.
4.1.8. JumlahDebitur
Jumlah debitur untuk bulan Juni 2019 adalah 285 orang. Jumlah debitur ini diklasifikasikan menurut jatuh tempoh pembayarannya.Pertama status normal, artinya tidak pernah telat dalam membayar angsuran. Kedua status debitur dinyatakan non-performance loan (NPL)jika mengalamiketertalambatanpembayaranangsuranselamatigakali.Penagihandebitu r NPL dilakukan oleh firstcollection.Ketiga, status debitur dinyatakan write off (WO) apabila debitur tidak membayar 5 kali angsuran, penanganan penagihan ini diserahkan kepada first collection.
4.1.9. Jenis Produk Kredit Mikro
Sejalan dengan perkembangan bisnis mikro, maka terdapat beberapa penyesuaian terhadap manual produk kredit mikro nomor 005/KRD/MRB.MBD/2017 tanggal 28 Agustus 2017 sebagai berikut yang diatur dalam tabel 5.2. Pengintegrasian Memorandum prosedur ke Manual Produk Kredit Mikro.
Dalam hal pengikatan agunan diputuskan beberapa hal yang menjadi produk dari kredit Mikro.
1) Pengikatan Agunan
a) Agunan berupa tanah/tanah dan bangunan dengan bukti kepemilikan SHM/SHGB/SHGU/hak milik atas satuan rumah susun dengan limit dilakukan pengikatan dengan:
Limit > Rp 25 Juta s.d Rp 50 Juta, dilakukan pengikatan dengan agunan kuasa membebankan hak surat kuasa, membebankan hak tanggungan (SKMHT).
Limit > Rp 50 juta dilakukan pengikatan hak tangggungan (HT).
b) Kendaraan bermotor dilakukan pengikatan dengan fidusia notariil dan
didaftarkan untuk limit kredit > Rp 100 juta.
4.2. Karakteristik Informan
Berikut merupakankarakteristik informan dalam penelitian ini:
4.2.1. Karakteristik Debitur
Metode pendekatan dengan masyarakat memerlukan pola-pola dan berbagai cara untuk bisa diterima dalam komunitas yang berbeda. Apalagi bila tujuan pendekatan itu sudah menyangkut kewajiban masyarakat yang didekati, maka sering sekali terjadi resistensi. Kredit perbankan adalah “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.
Pemahaman istilah “kredit” sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh informan N. Batubara (manager bagian penagihan NPL) sebagai berikut.
Kredit mikro yang kita berikan kepada debitur adalah kepercayaan. Kita percaya bahwa debitur bisa bertanggungjawab terhadap kepercayaan yang kita berikan dalam bentuk uang. Atas kepercayaan itu, debitur terikat dengan kewajiban untuk membayar bunga sesuai yang sudah ditetapkan. Maka pola yang sering kita terapkan adalah pola pendekatan 5 nilai budaya (trust, integrity, profesionalism, customer focus, dan excellence). Itu sebabnya, kami tidak diperkenankan melakukan kekerasaan atau pemaksaan kepada debitur. Pelayanan harus berlandaskan kemanusiaan.
Keterangan dari informan di Bank X, awalnya tidak sependapat karena berbagai kasus kekerasan diberbagai lokasi yang dilakukan oleh collector terhadap debitur yang bermasalah, artinya tidak mampu mencicil kredit pada waktu yang sudah ditetapkan. Pendapat ini dibantah oleh meneger collector yang sudah lama bekerja di Bank X, ia melanjutkan pernyataannya sebagai berikut:
Dalam sistem pelayanan kita kepada debitur atau nasabah, tidak diperkenankan sesekali menggunakan kekerasan. Jika itu terjadi, maka pihak managemen bank, bisa melakukan pemecatan terhadap oknum atau pegawai yang melakukan kekerasan kepada debitur dan bahkan sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan sebelum mengadakan kontrak kerja dengan pihak managemen bank. Saya kira kejadian itu terjadi, sebagian besar dari bank swasta yang sering menggunakan jasa debt collector. Inilah bedanya dengan bank BUMN, kita tidak diperkenankan menggunakan pihak ketiga dalam urusan penagihan kepada debitur, sementara swasta tak jarang memakai jasa debt collector.
Menanggapi hal tersebut, peneliti melakukan wawancara dengan salah satu pegawai bank swasata di Kota Medan, bagian debt Collection yang sudah bekerja selama lima (5) tahun di Bank tersebut.
Selama ini bang, dapat kasus tertentu, kita menggunakan debt collector terhadap debitur yang bermasalah, pada awalnya kita tidak menggunakan itu, tetapi karena debitur tidak punya niat baik untuk membayar cicilan kreditnya, malah ia pernah menggunakan preman untuk mengusir kami. Ya, akhirnya kita mencari ormas setempat/OKP untuk meminta bantuan dengan perjanjian akan membayar jasanya, apabila debitur itu melunasi uang tersebut. Kalau kita tidak menggunakan debt collector maka sangat sulit dilunasin, kalau kita hanya menunggu dan menunggu, kita mendapatkan tekanan dari kantor.
Inilah cara bertahan hidup bang.
Beberapa langkah yang harus dipahami oleh pihak first collection, pertama adalah memahami karakteristik debitur. E.B. Tylor (1871), memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai berikut (terjemahanya):
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain
kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Berdasarkan pengertiankebudayaantersebut, terdapat hubunganantara karakteristik dengan kebudayaan. Misalnya karakter orang Jawa sangatlah berbeda dengan orang Batak. Ada debitur yang benar-benar bertanggungjawab, mempunyaiitikadbaikuntuk menyelesaikantagihan. Ada pula debitur yang memang tidak mau menyelesaikan kredit macetnya.
Kegagalan pembayaran tagihan
hutangdikarenakanpadaawalmelakukanpeminjamantidakada agunan. Karena tidak adanya agunan debitur menganggaptidaklah akan ada kerugian jika dilakukan penyitaan aset karena tidak diatur di awal perjanjian. Situasi demikian merugikan pihak bank karena di anggap tidak berhasilmengelolakeuangan.Bagi debiturberisikomendapatcatatankredit macet diBankIndonesia(BI)sehinggaakan kesulitanmendapatkanpinjaman dibeberapa bank.
Berikut wawancara dengansalah satu staffBankIndonesia dalammonitoring di Bank XAreaMedan:
“Kredit atau pembiayaan yang diberikan oleh bank, baik dengan system konfensional ataupun syari’ah, keduanya berakar pada suatu perjanjian yang merujuk pada ketentuan yang di atur dalam buku III KUH perdata. Berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yangmewajibkanpihakpeminjamuntukmelunasiuangnyasetelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Ketika debitur tidakmelakukanangsuransesuaikesepakatanawalmakadebitur
dinyatakan melakukan pengingkaran janji maka yang dilakukan pihak bank yang bekerja sama dengan bank Indonesia (BI) melakukan pemblokiran sehingga debitur tidak bisa melakukan peminjaman di banyakbank”.
Temuan ini dapat dipahami bahwa interaksi sosial dalam sistem perbankan tetap memperhatikan aspek sosial dengan berbagai pendekatan komunikasi yang
baik dengan pihak debitur. Pada dasarnya, tindakan kekerasan yang sering terjadi antara debitur dengan debt collector “pihak penagih”, karena menyalahi prosedur yang sudah ditetapkan oleh pihak bank dalam hal ini “oknum penagih”. Artinya, penagih harus mampu memahami karakteristik debitur tanpa menggunakan pihak ketiga.
Character debitur Bank X dalam memenuhi kewajiban mempunyai kaitan agama untuk berperilaku lebih baik. Weber dalam bukunya, The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism, berkesimpulan adanya keterkaitan antara agama dengan perilaku berekonomi. Perkembangan kapitalisme modern di Eropa Barat dan Amerika merupakan akibat dari etika protestan (Calvinisme) yang melahirkan nilai-nilai mendasar baru. Hal ini mendorong usaha-usaha untuk menggiatkan ekonomi. Salah satu nilai baru tersebut adalah sikap berperilaku rasional yang dapat dihubungkan dengan kepatuhan membayar hutang sehingga menghasilkan citra dirinya yang positif. Penilaian positif tersebut membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan bank untuk mendapatkan kredit lebih besar dalam mengembangkan usahanya (Siregar, 2013:77).
Berikut adalah jenis-jenis usaha yang dimiliki debitur Bank X yaitu:
Tabel 5.1
Daftar Jenis Usaha Debitur tahun 2019
No Jenis Usaha Jumlah
1 Kedai/grosir 105
2 Foto copi dan warnet 45
3 Bengkel kendaraan 55
4 Jual Pakaian 50
5 Lain-Lain 30
Berdasarkan tabeltersebut bahwa jumlahtotaldebiturdi bulan Juni 2019 ada 285orang. Selanjutnya jenis pekerjaan tersebut dikategorikan sebagai jenis usaha peracangan yaitu sebuah bentuk usaha yang menyediakan keperluan rumah tangga seperti beras, gula, sabun, sikat gigi, minyak, dan sumbu kompor dan lain-lain. Selanjutnya terdapat jenis usaha yang tidak masuk
kriteria dalam pengajuan kredit yaitu seperti penjualan minuman keras, usaha kredit barang. Untuk jenis usaha yang sudah mempunyai paten merk berpeluang mendapatkan pembiayaan lebih besar dari bank.
Sebagai pertimbangan peminjaman di Bank X wilayah Medan, bahwa usaha adalah salah satu faktor utama untuk diberikannya syarat pinjaman kredit, terutama usaha yang sudah berjalan di atas 3 tahun.
Berikutpernyataanseorang debitur nama samaran Suparmiyaitu:
“Saya bersama suami saya sudah 5 tahun mempunyai usaha benkel sepeda motor dan 1 tahun yang lalu saya meminjam uang di Bank X wilayah Medan dengan tambahan modal tersebut saya bisa menambah barang isi bengkel seperti jual oli, atauaksesorissepedamotor.Kalausayatidakmendapatpinjaman
uangdaribanksayamaupinjamsama siapalagi.Dengancarapinjaman di bank inilah saya bisa mengembangkan usaha saya, meski saya kadangterlambatmembayarangsuran,yaemanguangnyadibuat beli barang-barangbengkel”.
Usaha yang masih baru sama- sekali belum bisa mengajukan pinjaman di Bank X, untukpengajuanpinjamansetidaknya usahanya sudah berjalan 3tahun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko kredit macet akibat kegagalan dalam berusaha. Karena pada prinsipnya bagi pihak bank bahwa usaha yang sudah berjalan lama membuktikan bahwa debitur sudah dapat mengatur perputaran keuangan dari usahanya.
4.2.2. Karakteristik Penagih Utang (Collector)
Bank BUMN, secara khusus Bank X pada dasarnya menggunakan collector (penagih hutang), bukan debt collector. Menurut salah satu pengawai Bank di bagian Kredit Mikro tentang perbedaan debt collector dan collector sebagai berikut.
Bank milik BUMN tidak dikenal istilah debt collector (penagih utang), kami mempunyai devisi pegawai yang bekerja dibagian penagihan yang mana pegawai tersebut ada yang sudah diangkat
sebagai pegawai maupun menggunakan pihak ketiga yang belum pegawai yang bekerja untuk melakukan penagihan utang kepada debitur, dimana mereka bekerja harus sesuai dengan prosedur tata kerja dan persyaratan yang telah ditentukan oleh perusahaan. Yang mana cara kerja untuk menagih utang tanpa ada kekerasan dan diskriminasi. Kalau ada collector yang melanggar ketetapan itu, bisa saja mendapat teguran dari Bank milik BUMN (wawancara dengan salah satu meneger kredit mikro, 24 April 2019).
Temuan tersebut dikonfirmasi oleh salah satu pimpinan devisi kredit mikro bank swasta, ia menegaskan bahwa ada kalanya kita menggunakan debt collector, bahkan itu diperkenankan oleh peraturan bank. Penggunaan debt collector ini terutama menghadapi debitur yang bermasalah, bisa pemuda setempat atau orang yang dianggap punya “modal fisik” dan lain sebagainya. Berikut hasil kutipan wawancara dengan pimpinan devisi kredit Bank Swasta di Kota Medan:
Debt collector merupakan bagian salah satu stuktural dalam sistem perbankan yang kami jalankan selama ini. Mereka mendapatkan upah sesuai ketentuan, dan jika mereka memenuhi target,collector mendapatkan gaji bonus. Apalagi dalam situasi khusus terhadap debitur yang sudah kena surat peringatan dan mendapatkan teguran beberapa kali karena menunggak (Wawancara dengan nama samaran Kasinudin, 5 April 2019).
Secara umum karakteristikcollector sebagai penagih hutang digambarkan mempunyai fisik yang sehat, tegap dan berpenampilan gagah.Selain itu juga diharus mempunyai karakter mental kuat, tegas namun mampu merendahkan diri di hadapandebitur.
“Modal untuk menjadi seorang collector harus berani dalam melakukan penagihan terhadap debitur dan harus mempunyai kecakapan komunikasi karena debitur sekarang sudah pintar-pintar maksudnya pintar merayu dan bernegosiasi kalau jadicollector tidak berani maka jangan jadicollector” (Wawancara dengan nama samaran N. , 24 April 2019).
Dalam penjelasan oleh supervisor collectoryang mengatakani, bahwa pekerjaancollectorsangatlah menantang adrenalin karena pekerjaan ini beresiko tinggi dan dibutuhkan kerja keras. Di Bank X jumlah collectorada 6 orang yang dibagi menjadi 2 yaitu desk collection dan field collection. Untuk posisi desk collection bertugas untuk mengigatkan setiap jatuh tempo nasabah yang sudah telat pembayarannya melalui telepon agar segera membayar tunggakan utangnya. Dan ini terus dilakukan kepada semua debitur yang menunggak. Sedangkan untuk posisi field collectionmereka bertugas sebagai orang lapangan yang langsung menjumpai atau berkunjung ke rumah debitur dan bertatap muka dengan debitur yang menunggak atau bermasalah terhadap kreditnya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi.
Untuk debitur yang mengalami jatuhtempo pembayaranyang sampai pada kredit NPL atau non performing loan maka akan dilakukan penagihan oleh fieldcollection. Tahap awal tugas field collectionadalah mencari informasi mengapa debitur mengalamitelatpembayaran, hal ini dilakukan pagi sebelum melakukan penagihan. Berikut wawancara dengan field collection:
“Bekerjadibanksekilasdilihatenakdanmendapatuangyang banyakdalampandanganyangadadimasyarakat,tapisebetulnya dalam posisi saya sebagai field collectionsebagai pekerja lapangan yang tiap harinya mendatangi rumah-rumah debitur untukmengambiluangmemerlukantenagaextradansabardalam
menghadapi bermacam-macam karakter dari debitur Bank X, saya sudah 5 tahun bekerja di sini, suka dan duka pernah saya alami semua itu saya anggap sebagai pengalaman hidup dan saya percaya semua itupastiadahikmahnya.Dalammelakukanpenagihankadangkita sebagaifield collectionmendapatcaciandanjanji-janjiyangmanis dari debitur dan adapula yang baik dengan sambutan keramahtamahan dari debitur dan bahkan juga menyambut dengan perasaan takut akan kedatangan field collectiondengan cara sembunyi dan tidak menampakkandirinya.” (Wawancara dengan nama samaran Sitami, 24 April 2019)
Dari hasil wawancara dengan Sitami selakucollector dapatkitapahamikarakteryangadadalamdiricollector. Dengan sikap dan karekter collector tersebut saat dilakukan penagihan debiturtidakmerasatakut atau menghindar. collector harus bisa memahami karakter debitur serta kelihaian untuk membuat trik agar debitur mau melakukan pembayaran.
“Kalaukitasebagaicollectorharusmempunyaitrikyang
bagusuntukmenghadapidebitursepertihalnyadebituryangtidak mau melakukan pembayaran dan mempunyai niatan yang tidak mau membayar kita biasanya memakai trik mempermalukan ke tetangganya dengan melakukan pelaporan ke RT atau bisa ke saudara atau orang tuanya bahwa debitur tersebut mempunyai utang. Bahkan juga pernah saya menuliskan dipintunya bahwa rumah sudah menjadi asset Bank X semua itu kita lakukan
untukmenekandebituragarmaumelakukanpembayaran (Wawancara dengan nama samaran Beni, 5 Mei 2019).
Dalam suatu proses penagihan oleh collector, terdapat peristiwa ketika debiturdebiturberusaha menghindar ketika mengetahui keberadaancollector. Setelah dikejar dan bisa bertemu dengan debitur, dan berikut perikan wawancaranya.
“Saya tadi sebetulnya tidak berusaha menghindar tapi saya mau mengisi bensin, sebetulnya saya mempunyai tanggungan untuk membayar di bank btpn sebesar dua juta tiga ratus ribudan saya sudah sepakat mau menyelesaikan tagihan hutang saya yang akan saya bayarkan tiga kali angsuran, saya sekarang tidak mempunyai uang pada pembayaran yang kedua ini, uangnyasayabuat membayarkan anak sayasekolah”.
4.2.3. Karakteristik Karyawan di Bank X.
Jumlah karyawan yang ada di Bank X wilayah Medan di devisi NPL ada 16 orang. Adapun komposisi struktural timnya adalah sebagai berikut, pertama Brand Manager (BM) yang bertanggungjawabatas kegiatan operasional di wilayahkantorMedan.Tanggung jawab tersebut meliputi
perolehan debitur juga keberhasilan penagihan pinjaman debitur.KeduaOperationalOfficermerupakanwakilBrand Manager dalam mengelola anggaran dan supervisi keberhasilan penagihan hutang. nal seminimalmungkinagarkondisikeuangankantortetapstabil.
KetigaCostumerService(CS)bertugasuntuk memeberikan pelayanan kepada nasabah dalam menabung maupun pembayaran kredit. Costumer service juga bertanggungjawab untuk memantau pembayaran kredit juga penagihanhutangmelaluitelepon dan mengingatkantangaljatuh tempo pembayarandebitur.Keempat Credit Admin (CA) bertanggungjawab untuk input datacalon debitur, menerima agunan, menjelaskan kepada debitur terkait perjanjian kredit. Kelima Credit Officer (CO) bertanggungjawab untuk melakukan survei, membuat kalkulasi penghasilan usaha, nilai agunan calon debituruntuk dilaporkan dan mendapat persetujuanBrand Manager, apakah akan diterima atau ditolak.
Keenam Relation admin (RA) yang juga adalahdebt collectoryang melakukan penagihan ke debitur. Ketujuh Relation Officer (RO) yang bertanggungjawab mencari calon debitur. Kedelapan First Collection (FC) yang bertanggungjawab melakukan penagihan hutang, eksekusi jaminan atau agunan. Kesembilan adalahsecurity (SEC) yang bertanggungjawab atas keamanankantor.
4.3.Hasil dan Pembahasan
Menambah modal usaha sangatlah sulit jika meminjam kepada tetangga atau keluarga, maka pilihan yang tepat adalah mengajukan permohonan kredit di Bank. Proses pengajuan tersebut menciptakan interaksi sosial yang bersifat
Menambah modal usaha sangatlah sulit jika meminjam kepada tetangga atau keluarga, maka pilihan yang tepat adalah mengajukan permohonan kredit di Bank. Proses pengajuan tersebut menciptakan interaksi sosial yang bersifat