• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teoti Interaksi

2.2.3. Teori Resistensi

James C. Scott (2000) mejelaskan secara gamblang mengenai perlawanan terhadap eksploitasi penguasa oleh kelompok marginal dan lemah. Bentuk perlawanan secara de facto merupakan perlawanan secara terbuka. Hasil dari perlawanan lebih nyata dan terasa, diantaranya adalah dengan berpura-pura bodoh. Petani menggunakan cara ini untuk mengalahkan dominasi orang-orang kaya yang mencoba menyerobot pekerjaan, sewa, makanan dan bunga pinjaman dari mereka yang lemah. Beberapa bentuk perlawanan model ini adalah dengan upaya memperlambat pekerjaan, melarikan diri, pencurian, sabotase dan sebagainya. Perlawanan model tersebut biasanya tidak terkoordinir dan tidak terencana. Cara-cara seperti ini terbukti efektif dalam jangka panjang justru terbukti paling efektif. Bentuk perlawanan tersebut merupakan upaya untuk menyatakan kehadiran politis kaum lemah dan tertindas. Lebih lanjut James Scoot menjelaskan bahwa perlawanan yang terjadi didominasi oleh pertarungan antar kelas dan ideologis. Pertarungan antar kelas kaya dan miskin merupakan

pertarungan simbol tentang pemaknaan terhadap masa lalu dan masa kini, bukan sebatas pertarungan tentang pekerjaan, hak milik, dan uang.

Resistensi kaum buruh dalam keseharian menjadi bermakna kultural karena merupakan manivestasi terhadap kesewang-wenangan yang dilakukan oleh pihak lain yang dianggap kuat. Perlawanan merupakan serangkaian tindakan dari anggota kelompok kelas subordinat yang ditunjukan untuk mengurangi atau menolak suatu klaim (seperti sewa, pajak, atau prestise) dari kelas subordinat (pemilik lahan, petani kaya, atau negara) atau ditunjukan untuk meningkatkan kelas sosialnya sendiri dalam kerja, tanah, sumbangan, atau rasa hormat (Scott (1990:36). Kelas sosial yang lemah atau kalah dalam menghadapi kelompok yang kuat cenderung kurang tertarik untuk melakukan perlawanan terbuka, karena mengandung risiko. Perlawanan kelas petani akan mengikuti aturan main dan sistem yang ada serta minimalisasi kerugian diri. Hal ini merupakan kritik atas model perlawanan terbuka, konfrontatif dan revolusioner.

1.3. Pola Komunikasi Collector dengan Nasabah

Pola komunikasi merupakan hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan dengan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah, 2004:1). Pola komunikasi Collecktor menentukan keberhasilan proses penagihan terhadap debitur. Dalam komunikasi collector-debiturtersebut terjadi pertukaran simbol-simbol. Karena tingginya angka piutang yang berisiko menunggak maka melahirkan profesi collector.

Selain menggunakan jasa collector, terdapat alternatif yaitu melalui pengadilan.

Sayangnya hal ini bukan menjadi pr namun selain memerlukan waktu yang panjang, juga ada biaya tambahan yangharoritas karena memerlukan waktu yang lama dan biaya tambahan yang mungkin tidak sebanding dengan hasilnya.

Sebagai contoh kode etik collector pada Bank X dalam melaksanakan tugas penagihan adalah:

1. Selalu menggunakan bahasa positif, tidak boleh memaki, menghina, menggunakan kata-kata kasar, pelecehan dan SARA.

2. Memastikan nomor telepon debitur yang dituju benar.

3. Berhati-hati dalam melakukan penagihan terhadap debitur public expose, tinggal di komplek instansi pemerintah, perumahan mewah, mempunyai jabatan penting, dan nasabah prioritas Bank X.

4. Mencatatn informasi hasil tindak lanjut secara ringkas dan jelas dalam sistem.

Tidak menulis informasi apapun di permanent message.

5. Tidak melakukan intimidasi terhadap informan kontak darurat, atasan dll.

6. Tidak melakukan pembayaran melalui rekening pribadi.

7. Tidak membocorkan data-data yang berkaitan dengan penagihan.

Tahapan penagihan berdasar SOP-Micro Collection Departmen Bank X”

ada 5 tahap yaitu:

1. Servicing: Upaya untuk mengingatkan nasabah melalui panggilan telepon.

2. Locating: Kegiatan kunjungan ke rumah debitur atau alamat lain yang tertera untuk mendapatkan informasi.

3. Contacting: Upaya melakukan kontak kembali setelah nasabah ingkar janji mengacu pada janji yang dibuat sebelumnya.

4. Selling: Upaya meyakinkan debitur untuk melakukan pembayaran setelah adanya kesepakatan.

5. Tekanan Hukum (Legal enforcement): Merupakan tindakan hukum dan menjadi jalan terakhir ketika semua upaya penagihan sebelumnya mengalami kegagalan.

Secara umum kegagalan proses penagihan disebabkan lemahnya proses komunikasi yang digunakan oleh collector. Kegagalan komunikasi terjadi karena pada dasarnya collector menghendaki pembayaran tagihan yang maksimal, sedangkan debitur menghendaki adanya pengertian dari collector dengan kesusahan dan kondisi debitur.

1.4. Konsep Kredit dalam Perbankan

Kredit merupakan penyediaan uang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya dalam jangka waktu tertentu, termasuk jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah sebagai berikut : “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

2.4.1 Manfaat dan Prinsip Kredit

Menurut Pudjo Mulyono (1996 : 207) manfaat kredit adalah :

1) Sumber pendapatan berupa bunga. Karena adanya pendapatan bunga maka setiap bank dapat mengembangkan usahanya.

2) Menjaga solvabilitas. Dengan kredit yang lancar dapat digunakan untuk pembayaran kembali dana dan bunga yang dipinjamkan dari nasabah.

3) Sebagai alat pemasaran produk dan jasa bank yang lain.

4) Pengembangan staf bank untuk mengenal dunia bisnis yang lain.

Martono (2002) prinsip perkreditan disebut juga sebagai konsep 6C yaitu:

1) Character.

Penilaian kepribadian calon debitur dalam hal tingkat kejujuran dan tekad baik dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya.

2) Capacity.

Penilaian terhadap kapasitas untuk melunasi kewajibannya melalui kegiatan usaha yang dibiayai dengan kredit dari bank.

3) Capital,

Penilaian terhadap modal dan penempatan distribusi modal calon debitur.

4) Collateral.

Merupakan jaminan fisik berupa harta benda yang bernilai, mempunyai nilai harga stabil dan mudah dijual.

5) Condition of Economy,

Merupakan situasi ekonomi dan politik, sosial, serta kondisi sektor usaha calon debitur.

6) Constraint.

Penilaian atas kebiasaan atau budaya yang menghambat seseorang melakukan bisnis di suatu tempat.

2.4.2 Penggolongan Kolektibilitas Kredit

Kolektibilitas adalah suatu pembayaran pokok atau bunga pinjaman oleh nasabah sebagaimana terlihat tata usaha bank berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (BI) No. 32/268/KEP/DIR tanggal 27 Pebruari 1998, maka kredit dapat dibedakan menjadi :

1) Kredit lancar, Kredit lancar yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya tepat waktu, perkembangan rekening baik dan tidak ada tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit.

Kredit lancar mempunyai kriteria sebagai berikut :

a) Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu.

b) Memiliki mutasi rekening yang aktif.

c) Bagian dari kredit yang dijamin dengan uang tunai.

2) Kredit kurang lancar Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman atau pembayaran bunganya terdapat tunggakan telah melampaui 90 hari sampai 180 hari dari waktu yang telah disepakati. Kredit kurang lancar mempunyai kriteria sebagai berikut :

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari.

b) Frekuensi mutasi rendah.

c) Terjadi pelnggaran terhadap kontrak yang telah dijanjikan lebih dari 90 hari.

d) Terjadi mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.

e) Dokumentasi pinjaman lemah.

3) Kredit diragukan Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya terdapat tunggakan yang telah melampaui 180 hari sampai 270 hari dari waktu yang disepakati. Kredit diragukan memiliki kriteria sebagai berikut :

a) Terdapat tunggakan angusran pokok atau bunga yang telah melampaui 180 hari.

b) Terjadinya wanprestasi lebih dari 180 hari.

c) Terjadi cerukan yang bersifat permanen.

d) Terjadi kapitalisasi bunga.

e) Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun pengikat pinjaman.

4) Kredit macet Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya terdapat tunggakan telah melampaui 270 hari.

Kredit macet mempunyai kriteria sebagai berikut :

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampaui 270 hari.

b) Kerugian operasional dituntut dengan pinjaman baru.

c) Jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar, baik dari segi hukum maupun dari segi kondisi pasar.

Terdapat beberapa kasus kredit macet dengan nilai cukup fantastis di Indonesia, di antaranya adalah kasus yang terjadi di Kejati Jawa Timur pada 2014.

Berdasarkan beritajatim.com, “Yudi Setiawan, Direktur PT Cipta Inti Parmindo, terbelit kasus dugaan korupsi (kredit macet) di Bank Jatim cabang HR Muhammad Rp 52,3 miliar dan BJB cabang Surabaya Rp 58,2 miliar. Di kasus yang pertama dia sudah divonis majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya 17 tahun penjara. Sementara di kasus kedua dia dituntut JPU Kejati 10 tahun penjara.

Adapun Eddy, Direktur PT SBA, terbelit kasus korupsi (kredit macet) di Bank X Rp 172 miliar”. Kasus kredit macet dengan nilai besar tersebut melibatkan pengusaha besar. Penyebab kredit macet tersebut adalah pengelolaan yang tidak tepat atas kredit yang diberikan serta itikad baik untuk melakukan pelunasan, bukan dari tingkat ekonomi nasabah.

Berdasarkan TEMPO.co pada Juni 2015 terjadi peristiwa penagihan yang telah menewaskan nasabah di Makassar. Kasus tersebut memang tidak melibatkan uang dengan nilai yang tinggi, yang terjadi karena ketidakmampuan nasabah untuk melunasi kreditnya. Selain faktor yang disebabkan oleh nasabah dan juga pihak bank, kasus kredit macet dapat juga disebabkan oleh karena adanya bencana alam. Misalnya adalah banjir Manado pada Januari 2014, sebanyak 357.597

debitur Bank BRI dengan total pinjaman mencapai Rp 18,2 triliun kehilangan harta bendanya sehingga menyembabkan kredit macet.

Sutoyo (2008:25) “Sebuah bank yang dirongrong oleh kredit bermasalah dalam jumlah besar cenderung menurun profitabilitasnya, Return on Assets (ROA) yaitu salah satu tolok ukur profitabilitas akan menurun, dengan akibat nilai kesehatan operasi di masyarakat dan di dunia perbankan pada khususnya akan ikut menurun”. Kredit bermasalah dan Kualitas aktiva produktif akan berdampak pada tingkat kemampuan bank untuk memperoleh profitabilitas.

Akan tetapi beberapa penelitian berpandapat bahwa kredit macet/bermasalah (NPL) hanya mempengaruhi tingkat Solvabilitas serta Profitabilitas perbankan saja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Andi Priyo Utomo, ST. Rasio likuiditas (Quick Ratio, Asset to Loan Ratio, Cash Ratio, dan LDR) tidak dipengaruhi oleh NPL, hal ini disebabkan karena bank selalu menjaga tingkat likuiditas demi menjaga kepercayaan masyarakat.

2.5 Faktor-Faktor Penyebab Pembiayaan Bermasalah

Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan kredit bermasalah yaitu:

2.5.1 CharacterBuruk Debitur

Debitur berkarakter buruk senantiasa berupaya untuk menunda pembayaran bahkan dengan sengaja melakukan pemalsudan dokumen pengajuan kredit. Debitur yang baik selalu berusaha untuk melakukan pembayaran sebelum jatuh tempo termasuk diantaranya adalah dengan menjual agunan demi reputasi dan kelancaran pembayaran kredit.

2.5.2 CapacityRendah

Rendahnya kapasitas terkait dengan keadaan keuangandebituruntuk melakukan pembayaran kreditnya pada saat jatuh tempo. Kemampuan membayar tersebut didasarkan pada prospek usaha yang dikaitkan dengan kemampuan menjalankan usahadenganbaiksehinggamemperolehlaba. Selanjutnya dari laba tersebut disisihkanuntukmembayarhutangkepadabank.

2.5.3 Collateral TidakMencukupi

Beberapa bank membuat syarat agunan sebesar 125% dari pembiayaan yang diberikan, dengan harapan ketika debitur mengalami gagal bayar

tigakaliberturut-turut,makabankdapatmenjualagunanyangadauntukmenutupsisahutang kepada bank. Selain agunan dalam bentuk fisik, ada jaminan non fisik seperti personal garansi. Seseorang yang teruji kejujuran dan ketaatan dapat mengajukan pembiayaan tanpa agunan. Jika collateral tidak mencukupi akan mempengaruhikesungguhandebiturdalam menyelesaikan kewajiban pembayaran.

2.5.4 Capital TidakMemadahi

Capital merupakan keseluruhan modal nasabah baik yang ada didalam usaha maupun diluar dana bank yang diperolehnya. Dalam menjalankan usahanya bank dan debitur pada dasarnya melakukan penggabungan modal. Jika modal nasabah terlalu kecil (tidak mencapai 20%) akan berpengaruh kepada kesungguhannya untuk mengelola usaha. Hal ini disebabkan karena debitur tidak mengkhawatirkanjika terjadi kerugian usaha.

2.5.5 Condition of Economy yang TidakMendukung

Conditionofeconomymerupakansalah satu yang dapat menyebabkan gagal bayar diluarfaktor dari debitur, misalnya adanya krisis ekonomi. Selain itu ada juga faktor perubahan pola konsumsi infra struktur serta perubahan teknologi.

2.6 Konsep Penelitian

Konsep penelitian dalam penelitian ini lebih memfokuskan pada teori konsep interaksi sosial antara penagih dan debitur dalam ekonomi kredit mikro.

Peneliti berusaha memahami dinamika sosial yang terjadi antara debitur dan penagih, mulai dari pemberian kredit, sampai pada tahap penagihan. Peneliti berusaha menggali pola-pola pendekatan yang digunakan oleh bank, dalam hal ini penagih (collection) dalam sebuah sistem perbankan, baik yang tertulis maupun yang nyata dalam praktik sosial dalam sebuah kajian sosiologi.

Pola ini diinterpretasikan dalam instrumen sosial sebagai fakta sosial sebagai satu kesatuan dalam memahami dinamikan sosial, misalnya bentuk

perlawanan yang sering dilakukan oleh debitur dalam interaksi. Bentuk-bentuk resistensi mengacu pada pemikiran James Scott. Bentuk-bentuk resistensi ini dipahami dari sudut pandang sosiologi ekonomi sebagai satu kesatuan antara debitur dengan penagih (bank). Selain itu, peneliti memahami hubungan antara debitur dan kreditur sebagai hubungan dominasi kekuasaan kapitalisme ekonomi yang mempunyai sistem sebagai berikut.

Gambar 2.1. konsep Penelitian Debitur Lancar

Terbuka tertutup

Debitur Macet Interaksi

Sosial

Debitur Macet

Bentuk Resistensi Bank Penagih

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan pendekatan sosiologi ekonomi, khusus debitur lancar dan tidak lancar yang berinteraksi dengan collector yang bermasalah dengan kredit. Berbagai alasan dikemukakan menjadi analisis peneliti untuk dipetakan sebagai resistensi dengan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif dianggap peneliti dapat digunakan dalam penelitian ini.

Metode kualitatif dapat mengungkapkan sifat pengalaman seseorang dengan fenomena tertentu, serta untuk mengungkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang sedikit pun belum diketahui, juga untuk mendapatkan wawasan tentang sesuatu yang baru sedikit diketahui (Strauss dan Corbin, 2003).

Metode kualitatif ini bersifat terbuka dan dinamis sehingga memungkinkan informan untuk mengungkapkan pengalamannya dengan terbuka.

Selain itu, dalam metode kualitatif ini diperlukan kemampuan peneliti untuk menangkap sudut pandang informan berkaitan tentang bentuk-bentuk resistensi dan strategi dalam menyelesaikan setiap permasalah antara debitur dan penagih.

3.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Bank X Kota Medan, khususnya Kredit Mikro NPL. Penelitian ini dengan melakukan pemetaan terhadap setiap permasalahan dari setiap cabang di wilayah kota Medan. Peneliti mengikuti perkembangan dari memilih beberapa orang menjadi kunci informan, terutama nasabah yang pernah mengalami penyitaan asset, dan juga memberikan perlawanan.

3.3. Informan Penelitian

Objek penelitian dalam para nasabah (debitur) yang pernah bermasalah dalam membayarkan sangkutan kredit dari pihak Bank X. Peneliti juga mengadakan wawancara dengan manager bagian collector untuk mengetahui

resistensi-resistensi yang sering dilakukan oleh nasabah mulai dari awal sampai penyitaan asset.

Informan dalam penelitian ini dengan menggunakan purposive sampling secara structural adalah manager collector, sekretaris, pengawai collector, dan debitur lancar dan bermasalah, dan pihak-pihak yang terkait dalam pihak kredit di Bank X.

Penetuan informan dengan mengacu pada data yang dimiliki oleh collector, terutama pada debitur lancar dan tidak lancar. Para awal penelitian, peneliti mewawancarai informan (debitur yang lancar), terutama menggali informan strategi pembayaran utang, dan mengapa bisa dilunasi, serta kendala-kendala yang dihadapi sebagai debitur di Bank X. Peneliti juga menggali informasi lebih mendalam kepada debitur yang tidak lancar, terutama alasan belum membayar cicilan, dan berbagai kendala-kendala lainnya. Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti juga mewawancarai collector dan manager devisi ekonomi kredit mikro, untuk memahami pola-pola interaksi dengan debitur. Pada akhirnya, peneliti juga mewawancarai beberapa narasumber yang mempunyai pengetahuan atau pengalaman terkait dengan bank, terutama dari pihak bank swasta di Kota Medan. Ini berkaitan dengan implementasi kebijakan perbankan dalam memperlakukan debitur dari aspek sosial.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan tiga cara pengumpulan data: teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang akan diuraikan sebagai berikut.

3.4.1. Observasi

Penelitian ini menggunakan tiga cara pengumpulan data: teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi Selain itu dalam observasi ini akan diamati juga asset yang dijadikan agun, surat-surat peringatan dan lain sebagainya.

3.4.2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang yaitu pewancara (interviewer) yang memberikan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan pertanyaan tersebut (Moleong, 1991:135).

Wawancara dalam melakukan penelitian ini adalah wawancara mendalam, yaitu peneliti dan informan berinteraksi satu sama lain dengan waktu yang relatif lama sehingga peneliti dapat membangun rapport dengan informan.

Wawancara ini bisa dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan tentang kejelasan masalah yang diteliti, dan cara yang dilakukan dengan tidak menggunakan struktur yang ketat dan formal, sehingga informasi yang terkumpul memiliki kedalaman yang cukup. Hal ini akan terasa lebih longgar bagi informan, sehingga informasi yang diharapkan sesuai dengan yang sebenarnya. Dalam melakukan wawancara ini peneliti juga menggunakan pedoman wawancara agar dalam pelaksanaannya dapat terstruktur dengan baik sehingga memudahkan dalam mencari informasi yang dibutuhkan.

Wawancara dilakukan dengan waktu dan tempat yang disepakati oleh peneliti dengan informan. Untuk menjaga agar wawancara tetap pada fokus penelitian, peneliti akan menggunakan interview guide sehingga pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan tetap terarah dan tidak lari dari fokus penelitian.

Selain menggunakan interview guide, peneliti juga akan menggunakan recorder untuk merekam proses wawancara informan untuk memperkuat akurasi data.

Penelitian ini juga akan menyiapkan dokumentasi, seperti bahan-bahan dari data yang berkaitan serta foto-foto momen yang mendukung penelitian.

3.4.3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen dari lembaga atau instansi yang terkait. Juga bisa berbentuk sebuah foto atau sebuah rekaman video yang relevan dengan penelitian ini. Pada bagian ini perlu diperhatikan laporan NPL, Kendala-kendala yang dihadapi oleh Bank.

Berbagai dokumen yang sangat penting dalam kajian ini adalah surat perjanjian kontrak kredit antara bank dengan debitur, surat peringatan pertama dan

ketiga yang diberikan kepada debitur, serta berbagai dokumen analisis terkait dengan data-data debitur NPL.

Dokumen ini dianalisis dan diinterpretasikan dalam hubungannya dengan temuan-temuan di lapangan, terutama dalam budaya sistem perbankan. Ini menjadi acuan untuk melihat gejala-gejala sosial sebagai fakta sosial yang diwujudnyatakan dalam praktik sosial. Analisis ini akan mempermudah menemukan pola-pola interaksi sosial, sehingga mekanisme dalam perbankan berjalan dengan baik.

3.5. Analisis Data

Setelah semua data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Proses analisis adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar. Sebelum analisis data diolah terlebih dahulu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi editing dan koding.

Editing dilakukan dengan memeriksa daftar pertanyaan-pertanyaan yang telah dikembangkan oleh responden, yang bertujuan untuk mengurangi kesalahan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah dilakukan. Sedangkan koding dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban-jawaban informan kedalam kategori-kategori. Berdasarkan jenis data kualitatif kata-kata dibangun dari hasil wawancara atau pengamatan terhadap data yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan dan dirangkum (Patilima, 2005:88).

Adapun kegiatan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan lapangan (Patilima, 2005:98). Dalam tahapan tersebut reduksi data merupakan bagian dari analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan dan mengorganisasikan data dengan sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan di verifikasi.

Penyajian data yang dimaksud adalah dengan menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan diseleksi atau konfigurasi yang sudah dipahami. Penarikan kesimpulan didasarkan pada konsep

dan alat yang diperoleh oleh peneliti dari lapangan. Data-data tersebut sebelumnya telah melalui proses verifikasi atau proses pembuktian kembali yang dimaksudkan untuk mencari pembenaran dan persetujuan sehingga validitas dapat tercapai.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1. Deskripsi Umum Tentang Bank X 4.1.1. Perkembangan Bank X

Bank X merupakan bagian dari program restrukturisasi perbankan oleh Pemerintah Indonesia yaitu dengan meleburkan Bank Ekspor Impor Indonesia, Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, dan Bank Pembangunan Indonesia pada Juli 1999 (Laporan Tahunan Bank X, 2018). Tahun 2003 Bank X melakukan Initial Public Offering (IPO). 2005 Menjadi tahun titik balik dengan mencanangkan Transformasi Tahap 1 sampai dengan 2010, untuk menjadi Bank yang unggul di tingkat regional (regional champion). Transformasi dilakukan dengan 4 (empat) strategi utama, yaitu implementasi budaya, pengendalian non-performance loan secara agresif, meningkatkan pertumbuhan bisnis yang melebihi rata-rata pertumbuhan pasar, serta pengembangan dan pengelolaan program aliansi antar-direktorat

Tahun 2006-2007, Bank X menjalankan Program Transformasi “Back on Track”. Tahun 2010 menjadi tahap terakhir dalam rangkaian transformasi

“Shaping the end game” yang sudah dijalankan sejak 2005, dimana Bank X menargetkan untuk menjadi bank regional terdepan melalui konsolidasi dari bisnis jasa keuangan dan lebih mengutamakan peluang strategi pertumbuhan non-organik. Melalui proses transformasi tersebut, Bank X secara konsisten berhasil meningkatkan kinerjanya yang tercermin dari peningkatan di berbagai indikator finansial. 2011 pada tahun ini Bank X melakukan right issue dengan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham dengan harga Rp5.000 per lembar saham. (Laporan Tahunan Bank X 2018).

Periode 2008 Bank X mengimplementasikan Tahap 2 Program Transformasi “Outperform the Market” yang berfokus pada ekspansi bisnis untuk menjamin pertumbuhan yang signifikan di berbagai segmen usaha dan mencapai level profit yang melampaui target rata-rata pasar. Pada tahun 2011 Bank X melakukan right issue dengan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham dengan harga Rp 5.000 per lembar saham. Tahun ini sekaligus menjadi tahap awal

pelaksanaan Transformasi Lanjutan tahun 2010-2014, dimana Bank X telah melakukan revitalisasi visi nya menjadi “Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”. 2012 Transformasi lanjutan di tahun 2012 dilakukan melalui Transformasi Bisnis, yang berfokus pada 3 (tiga) area utama,

pelaksanaan Transformasi Lanjutan tahun 2010-2014, dimana Bank X telah melakukan revitalisasi visi nya menjadi “Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif”. 2012 Transformasi lanjutan di tahun 2012 dilakukan melalui Transformasi Bisnis, yang berfokus pada 3 (tiga) area utama,

Dokumen terkait